Author: Kokoro Rikihito/ Akihito Kouyoshima
Rating: T/ PG-15
Genre: Romance, Drama, School-life
Cast: vistlip, alice nine, Versailles
Disclaimer: Not mine x3
Chapter: 2/?


Tidak mendapat jawaban, Yuh pun mendapat bad feeling. Ia pun tanpa melepas sepatu segera berlari menuju ruang makan. Di sana ia dapat melihat makanan sudah tertata rapi di atas meja. Tidak menemukan orang yang dicarinya, Yuh pun segera berlari mengitari rumah. Dan menemukan Tohya telungkup di lantai kamarnya, bersama pil-pil obat yang berserakan.

"TOHYAAA!"


==Douzo==

Yuh duduk dengan gelisah di salah satu bangku yang ada di ruangan itu. Wajahnya agak pucat menunjukkan ia sangat ketakutan. Baru satu jam yang lalu ia menemukan sepupu yang hobi ngusilin orang itu terbaring lemah di kamar. Yuh berharap Tohya tidak keracunan, over dosis, atau mengalami something yang mengerikan.

'KLEK'

Dari celah pintu yang dibuka, munculah pria berumur dua puluh lima tahunan memakai jas putih. Yuh menoleh. Dengan sigap ia berdiri, siap melontarkan 'wawancara' kecil dengan dokter itu.

"Masuklah dulu." Ajak dokter berparas cantik itu.

Yuh pun mengatupkan mulutnya dan menurut masuk ke ruangan serba putih yang ada di balik pintu. Tepat di atas ranjang, Tohya dengan mata terbuka tersenyum manis padanya. Pemuda itu sudah terlihat lebih baik. Tidak terlalu pucat seperti tadi ia temukan. Dan yang penting, ia sudah sadar dan siap menjahili Yuh lagi.

"Yuh!" panggilnya riang sambil melambaikan tangan.

"Kau… Baik-baik saja?" balas Yuh khawatir.

"Ya ^^ Daijobu~~"

Yuh menghela nafas lega. Dokter yang sedari tadi berdiri di samping ranjang mengisyaratkan Yuh untuk duduk di kursi.

"Tohya-kun hanya terlalu capek. Dia bilang saat akan meminum obat pereda sakit kepala ia sudah ambruk duluan. Ia kurang tenaga, dan kesehatannya juga sedikit memburuk." Jelas dokter itu tenang.

Yuh melirik tajam pada Tohya yang cengengesan sendiri. Yuh berdiri dan mencubit kedua pipi tembem Tohya dengan ganas.

"Baka! Kau sih pulang malam terus!" sentak Yuh.

"FUWAAA HITTEEE (Itte)! Ahu han hudah hilangh haloh ahu herja hambilan (Aku kan sudah bilang kalau aku kerja sambilan)!" elak Tohya berusaha melepaskan cubitan di pipinya yang mulai terasa sakit.

"Kerja apa? Kau ini ditanya berapa kali pun tidak menjawab, makan malam pun sedikit. Sarapan juga.. Kau ini kenapa?" tanya Yuh dengan nada merendah.

"Gomen Yuh…"

"Aku serius Tohya… Ibuku tiap bulan mengirimi uang yang lebih untuk kita, biaya sekolah juga kita tidak perlu pusing membayarnya.. Apa ada sesuatu yang kau inginkan?"

"…" Tohya tidak menjawab, mengulur waktu untuk berpikir bagaimana ia bisa menjelaskan semuanya pada teman masa kecil yang sangat disayanginya ini.

"Begini saja, setelah aku keluar dari rumah sakit… Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Di sana kau akan tahu segalanya, Yuh." Ucap Tohya tersenyum penuh arti. Yuh membuang muka dan bergumam meski ia setuju.

"Ah~ Yuhchan~ Jangan ngamuk dong… Yuhchan 'kan cakep!~ Rights?~ Rights?~ Piiponn piiponn!" goda Tohya menowel pipi Yuh.

"A, AAA URUSAAII." Yuh yang paling tidak kuat dibegitukan hanya bisa menjerit kesal.

Dokter tadi menerangkan bahwa paling tidak Tohya harus di rawat selama tiga hari. Selama itu ia akan disuplai nutrisi lewat infuse dan suplemen. Yuh mengangguk setuju dan meninggalkan Tohya sendirian untuk mengurus administrasi.

==SKIP~==

"Tohya, aku berangkat sekolah dulu!" pamit Yuh keluar kamar rawat.

"Haii! Itterashai!" balas Tohya riang.

Hari kedua Tohya dirawat, Yuh selalu datang tiap pagi dan pulang sekolah. Ia baru pulang ke rumahnya sekitar pukul delapan malam, tepat ketika jam besuk sudah usai. Baru esoknya ia akan mengulangi hal yang sama.

'KRUYUK'

Yuh menghentikan larinya. Ia memegang perut yang selama dua hari ini hanya diisi roti, susu, dan ramen. Kembali pemuda cantik itu menghela nafas berat. Selama tidak ada Tohya, selama itu pula ia akan menyantap masakan cepat saji. Setelah puas menghela nafas, Yuh memekik horror menatap arloji hitam yang melingkar di tangannya.

"SHIMATTAAAAA!" teriaknya sambil berlari sekencang mungkin.

"S, sial! Tidak ada waktu mengkhawatirkan perut! AKU TERLAMBAT!" rutuknya.

Meski rumahnya tidak terlalu jauh bila ditempuh berjalan kaki, tetap saja Yuh terlambat lima menit.

"Yah! Gerbangnya sudah ditutup! Sial!" umpat Yuh kesal saat melihat gerbang kokoh sekolahnya tak membuka jalan untuknya.

Yuh pun berniat membolos dan berjalan ke samping gerbang. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan menyita perhatiannya. Sesosok pemuda dengan seragam yang sama dengannya melompat ke atas tembok di sebelah Yuh. Pemuda itu menoleh ke arah Yuh dan mengulurkan tangan padanya.

"Ayo, masih bisa." Gumamnya. Yuh yang menyadari bahwa pemuda ini adalah Umi, orang yang sempat menari-nari di kepalanya semalaman, menatapnya heran.

Kenapa murid teladan sepertinya malah terlambat? Batin Yuh penuh sanksi.

"Lama." Komentar Umi menarik paksa tangan Yuh, membuat pemuda itu mau tak mau ikut melompat .

Mereka mendarat dengan mulus di atas tanah. Oke, tidak terlalu mulus sih… Umi sekali lagi menglurkan tangan pada Yuh yang mendarat dengan posisi duduk. Yuh pun menerima uluran itu dan membersihkan seragamnya yang kotor.

"A, arigato." Ucapnya malu.

"Tak masalah." Balas Umi singkat.

Ketika Yuh akan melangkah lagi, sebuah tangan menahannya di tempat. Dan tangan lainnya bergerak kearah rambutnya yang berada di sekitar pipi kiri. Yuh menahan nafas seketika saat dirasakannya tangan besar dari seorang pemain basket menyentuh rambutnya.

"Ada daun tadi." Dusta Umi melepas tangannya.

"Eh? Terima kasih!" balas Yuh menyembunyikan detak jantungnya yang rasanya ingin meledak.

"Hm..~ Ayo cepat kita masuk. Leda-sensei memang baik, tapi kita juga harus tahu diri." Ajaknya.

Yuh mengangguk cepat dan mengeekor di belakang Umi. Mereka berjalan dalam diam menuju kelas. Tinggal beberapa meter lagi mereka akan sampai. Dan tetap saja keduanya bungkam.

'GREEK'

"Sumimasen." Ucap keduanya bersamaan. Leda-sensei menoleh dan mendapati dua murid yang belum dua hari kenal padanya.

"Ah, Yuh-san dan Umi-san ya?" tanyanya memastikan. Yuh dan Umi mengangguk memastikan Leda bahwa mereka adalah orang yang dimaksud.

"Lain kali jangan terlambat lagi ya. Saya hanya mentoleransi keterlambatan tiga kali selama satu semester. Selebihnya kalian tidak boleh ikut pelajaran saya." Peringatnya tegas.

"Baik sensei, maafkan kami."

Setelah itu, Leda mempersilahkan mereka untuk duduk. Seperti biasa, Yuh mengambil tempat kosong di bangku paling belakang. Sementara Umi duduk di deret ketiga yang berjarak dua bangku darinya. Yuh mengeluarkan alat tulis dan buku catatannya. Sementara Leda menjelaskan materi bab pertama fisika tentang dimensi dengan telaten. Yuh memakai kacamata yang tadi dikeluarkannya.

SKIP~

'KRIIIIINGGG'

Helaan nafas lega dari siswa satu sekolah tak terelakan bagi mereka, jam makan siang adalah jam yang paling menyenangkan. Rasanya mendengar bel berbunyi membuat perut mereka langsung berontak minta diisi. Berhubung Yuh sendiri melarang Tohya untuk membuatkan bekal, ia terpaksa jajan di kantin.

'U, uangku tinggal sedikit.. Beli roti dan susu saja deh.' Batin Yuh menatap sejumlah uang dalam tangannya.

Yuh memang keras dengan Tohya kalau masalah kesehatan. Yuh tidak ingin Tohya berakhir di rumah sakit seperti sekarang. Ia sangat menjaga sepupu yang sudah tinggal dengannya sejak SD itu. Yuh melenggang pergi, menghampiri bangku Shou yang tidak jauh darinya.

"Yo!" sapa Shou ringan.

"Ikut aku yuk ke kantin." Ajak Yuh menarik-narik lengan baju Shou.

"He? Memangnya Tohya tidak membuatkanmu makanan?" Tanyanya bingung.

"Nanti kujelaskan. Sudahlah, aku lapar~" Jawab Yuh seenaknya.

Shou mengangkat bahu. Pemuda dengan rambut merah tembaga itu berdiri dari bangkunya. Yuh segera merangkul leher Shou dan menggeretnya keluar kelas supaya Shou tidak bisa kabur. Shou tentu saja protes. Jadilah adu mulut kecil di antara mereka yang justru membuat nuansa akrab. Tanpa keduanya sadari, Umi memandangi dua sahabat yang sedang geret-geretan itu dengan tatapan menusuk.

==Kantin==

"Oi Yuh, lepasin! Entar kalo Saga-senpai lihat dia bakal cemburu!" sergah Shou berusaha melepaskan rangkulan Yuh.

"Alah, biarin~ Kan senpai sudah biasa lihat kita begini =3=" balas Yuh tidak mau kalah.

Akhirnya tanpa ada jalan tengah dari perdebatan tak berguna itu, mereka masuk ke areal kantin yang ternyata penuh. Yuh dan Shou menganga. Bel baru saja selesai berdering lima menit yang lalu, dan sekarang mereka akan jadi ikan pindang di tengah lautan orang.

"Nah. Kita mau beli apa coba?" tanya Shou sinis.

"Roti dan susu." Jawab Yuh titik tanpa koma.

Dengan kemampuan nyempil tingkat dewa, Shou dan Yuh berhasil melewati lautan manusia itu dan mengambil tempat di depan vending machine yang menjual susu. Setelah memasukkan uang, ia memencet gambar susu cokelat. Dan dalam hitungan detik sebuah bunyi benda jatuh yang diyakini sebagai susu terdengar. Ia dengan enteng mengambil susu yang dibelinya. Dan keduanya beranjak menuju konter makanan yang tidak terlalu ramai.

"Kutraktir deh." Ucap Yuh menepuk bahu Shou.

"Oke. Roti nanas. DOUBLE." Balas Shou ketus, pura-pura ngambek.

"Ano, Roti melonnya tiga dan Roti nanasnya satu."

Shou memandangi sahabatnya yang satu ini. Ia heran, nafsu makan Yuh yang besar tidak berubah sejak pertama kali mereka bertemu. Dan ang masih menjadi pertanyaan dalam benak Shou saat ini adalah: dikemanakan semua makanan itu? Yuh memiliki tubuh yang ramping, tidak menunjukkan kalau ia suka makan. Yah… Suatu misteri tersendiri dari Yuh~

Setelah Yuh mengutarakan pesananya, datanglah seorang wanita paruh baya bertubuh tambun memberikan pesanan Yuh. Setelah menerimanya, Yuh memberikan selembar uang pada wanita itu. Wanita itu tersenyum manis, mimic wajahnya menunjukkan ia wanita baik-baik yang bekerja di kantin itu.

"Wah, anak baru?" tanyanya.

"Ya. Aku baru sekali ini ke kantin." Jawab Yuh memberikan roti nanas ke Shou.

"Salam kenal! Semua orang di sini memanggilku Riko." Ucap wanita itu.

"Aku Yuh. Salam kenal Riko-san~ Kurasa aku akan sering ke sini." Balas Yuh tersenyum

Setelah menerima semua pesanan dan menjadikannya satu dalam kantung, Yuh dan Shou keluar kantin dengna sukses. Tentu saja dengan jurus nyempil tingkat tinggi yang diajarkan Tohya ke Shou dan Yuh. Sepanjang jalan menuju kelas, Shou tidak berhenti mengomel. Ia terus mengomel soal kejadian di kantin tadi.

"Oke oke, berhentilah mengomel Shou! Kau jadi mirip Tohya." Keluh Yuh menutup telinganya. Shou yang tadinya mau membalas membulatkan mata. Ia baru ingat sesuatu.

"AH! Jelaskan dulu soal Tohya!" pekiknya.

'BRUK!'

"Ittai.." rintih pemuda cantik yang baru saja Shou tabrak.

"Ah, gomen!" ucap Shou membantunya berdiri.

"Daijobu… Tidak luka kok.." balasnya tersenyum halus. Pemuda itu menepuk-nepuk pantatnya yang sedikit kotor dan kembali berjalan menjauh.

"Kamu sih, ngomel melulu." Ejek Yuh.

"Shut up. Btw, itu tadi siapa ya? Kayak pernah liat." Bisik Shou menyenggol lengan Yuh.

"Oh, itu Rui Takahashi. Ituloh, adiknya Minami-senpai."

"Minami-senpai? Siapa?"

"Walah, sudah lupa dengan kapten team basket cewek SMP kita?" sindir Yuh.

"EEEHHH?! A, adiknya Takamina-senpai?!" seru Shou tidak percaya.

"Iya! Rui kan tiap latihan minggu selalu menjemput Takamina-senpai. Sekarang sih Takamina-senpai sekolah di SMA putri di sebelah kita."

Shou mengangguk-angguk mengerti meski wajahnya masih tampak kaget. Yuh memasang wajah datar namun cukup untuk mewakili kalimat 'kemana aja bro?'. Akhirnya daripada berdebat lebih jauh dengan Shou, Yuh berjalan menuju kelas sambil menenteng tas plastic berisi roti dan susunya. Hidup tanpa Tohya memang tidak enak. Pulang nanti pun Yuh masih harus membuat makan malam untuk dirinya sendiri.

Yuh melangkah masuk ke dalam kelas yang sudah cukup ramai itu, meninggalkan jejak berupa bisikan dari cewek-cewek tukang gossip di belakangnya. Yuh berusaha keras menyembunyikan tawanya yang hampir meledak saat melihat Shou merengut iri.

'BRUK'

Bangku yang beruntung. Dengan santainya ia menjatuhkan diri di atas si bangku beruntung tersebut. Lalu tangannya bergerak membuka bungkus roti yang tadi di belinya. Susu dan roti, kombinasi pas untuk mengisi perutnya siang itu.

==hospital==

.

.

.

"YO!" sapa Shou melambaikan tangan pada Tohya.

"Konnichiwa, Shou-kun~" balas Tohya sumingrah.

"Kudengar kau kolaps kemarin, jadi aku menjenguk saja."

"Eh? Bagaimana dengan Saga-senpai?"

Shou menunjuk ke belakang kearah Saga yang asyik berbincang dengan salah seorang dokter di sana. Mereka terlihat cukup akrab, dan itu menimbulkan pertanyaan mendalam di benak Yuh.

"Gini, gini. Ayah Saga itu direktur rumah sakit ini. Nah orang itu asistennya Sakamoto-san." Jelas Shou yang dibalas anggukan mengerti dari Yuh da Tohya.

"Wow~ Aku tidak menyangka Saga-senpai termasuk orang elit." Ucap Yuh asal ceplos.

"Hihihi, yang aku heran… Bagaimana ia bisa jatuh cinta padaku yang orang biasa ini.." balas Shou dengan pipi bersemu.

"Entahlah, karena kau cantik?" timpal sebuah suara.

Shou menoleh dan mendapati Saga sudah merangkul dirinya di depan Tohya dan Yuh. Wajah Shou makin memerah, Saga tertawa dan mencubit pipi Shou gemas. Tohya dan Yuh berasa obat nyamuk di sini merasa ada aura lopek-lopek di sekitar keduanya.

"Yamette. Kalian menjijikan." Ujar Yuh ketus.

"Ih, Yuh iri! Makanya Yuh, buruan cari SEME dong~" ejek Shou.

"EH ENAK AJA! Yang bener cari UKE! Aku ini SEME~." Balasnya tidak terima.

"Maa, maa, kita ke sini untuk menjenguk Tohya kan?" lerai Saga.

"Khehehe, aku senang kalian ke sini." Kata Tohya tertawa kecil.

Yuh dengan wajah cemberut memeluk Tohya. Yap, kalau Tohya sudah berubah imut begitu Yuh jadi tidak tahan untuk manja-manja. Setelah tiga jam menjenguk Tohya, Saga dan Shou undur diri untuk pulang karena hari sudah sore.

"Oi, besok kau kan keluar dari sini… Jangan lupa janjimu!" ujar Yuh.

Tohya tersenyum penuh arti. Ia mengangguk setuju dan menepuk kepala Yuh lembut. Sisa hari itu Yuh gunakan untuk tetap berada di sisi Tohya. Ia menolak pulang meski Tohya mendesaknya. Ia bilang kalau pulang sama saja ia akan sendirian, dan itu lebih buruk daripada berada di rumah sakit dengan Tohya.

─ ━ ─ TBC─ ━ ─