Vocaloid © Crypton

.

My Beautiful Butler © Djokroe

Warning : Gaje, OOC, OOT, TYPO, KEPO, GA-NYAM, Typo's, Gender Bender.

.

.

Chapter 3

.

.

.

.

Angin kembali berhembus

Menerbangkan beberapa dedaunan, membuat helaian rambut blonde itu terangkat

Sedangkan si pemilik hanya tersenyum sambil menatap telapak tanganya

.

.

.

-Rin POV- Len Mansion 07.00-

Hari ini, Kamisemua harusbekerja keras, kenapa ? karna, tadi pagi Len secara tiba-tiba memberitahukan bahwa ia akan pergi liburan mulai hari ini, dan tentu saja permintaanya yang sangat tiba-tiba itu membuat Kamiharus kerja ekstra sekarang.

'Benar-benar orang yang merepotkan' Batinku.

Tapi, sebenarnya aku senang juga (Sangat senang) kalau Len pergi liburan, karna itu berarti… Aku takkan melihat dirinya sementara waktu, ah Senangnya.

….

..

.

"Ehem perhatian!" kata Len memulai pembicaraanya, aku tersentak dari lamunanku, dan melihat ke arah pemuda berambut kuning tai-ralat, pirang maksudku, yang sedang duduk diatas sofa miliknya.

"Sepertinya saat liburan nanti aku akan membawa salah satu dari kalian untuk menemaniku selama di sana yah, untuk berjaga-jaga"- tarik nafas-

Dan, keputusan itu ku serahkan pada….." Len menghentikan ucapannya, ia melihat kami satu persatu.

"-Rei, kau saja yang tentukan"

…..

..

.

Rei menatap aku dan Rinto, biar bagaimanapun juga kami bertiga sama-sama tidak mau menemani Len pergi Liburan, siapa sih yang mau menemani orang seperti dia? Yah, Kau tahu maksudku kan.

"Biar adil kita undi saja" usul Rinto dengan bodohnya.

Rei tersenyum, agaknya ia menerima usulan dari Rinto, ia merobek kertas menjadi kecil dan menuliskan nama kita bertiga, ia memasukanya kedalam toples kecil, mengocoknya lalu mengambil salah satu dari tiga gulungan tersebut.

"Jadi yang akan ikut liburan bersamaku adalah-" Len memotong ucapanya dan membuka gulungan kertas itu.

Aku meneguk ludah, semoga gulungan itu bukan berisi-

"Rin"

-namaku.

.

.

Aku memasukan baju-bajuku kedalam ransel milikku, baju-bajuku tidak banya mungkin beberapa setel jas dan kemeja, stagen, dan yah.. um..baju dalam wanita.

Aku melangkah keluar kamar dan mengunci kamarku, siapa tahu ada yang masuk dan mengobrak-abrik kamarku selagi aku pergi.

Setelah berpamitan dengan Rei dan Rinto, aku-pun berjalan mengikuti Len yang sedang menenteng koper miliknya.

"Perlu saya bantu ?" tawarku mencoba setengah mati sopan padanya.

"Bawel" gumanya kecil.

Aku menatapnya dengan sinis, seakan aku bisa menyakitinya dengan tatapan itu.

.

Aku melangkah masuk dalam pesawat yang akan kutumpangi, bersama Len, sekedar info, tadi aku sempat terpisah denganya (baca : tersesat sebentar), kembali lagi..aku mencari-cari tempat dudukku dan perkiraanku benar, O yeah, sangat benar dengan penekanan di kata 'Sangat'….

Aku duduk di samping Len.

Kulihat seorang bocah kuning sedang mengunyah pisang dengan sangat bahagia (?) , sesekali ia bersenandung kecil, menyanyikan lagu tentang pisang-nya (?) yang kuyakini ia karang sendiri.

"Pisangku ada limaa..~~" dia berhenti sebentar saat melihatku yang melihatnya dengan tatapan aneh.

"Eh ? Rin ! , duduk-duduk !" katanya menepuk-nepuk kursi kosong di sebelah kursinya dengan wajah gembira ria (?).

Aku tak bisa percaya bahwa orang yang sedang duduk disampingku adalah Len, kukira Len itu jahat, pendiam, dingin, dan egois, tapi saat ini dia cuma seperti bocah kecil yang sangat menyukai pisang.

"Kau lama sekali" katanya menggerutu sambil mengunyah pisang-nya lagi.

"Maafkan saya tuan muda" kataku dengan wajah yang dibuat-buat menyesal, hanya dibuat-buat, sebenarnya aku sedang menahan tawaku, melihat Len yang berubah jadi seperti 'ini'.

Rasa capek menjalar di seluruh tubuhku, aku menutup mataku sejenak, sebelum pesawat Take off.

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

.

Pesawatpun lepas landas dari bandara Narita menuju tempat-liburan-Len-yang aku-tidak- tahu-tempatnya.

"Rin" panggil Len padaku setelah pesawat agak seimbang.

"Ada apa tuan muda ?" tanyaku sambil menghela nafas.

"Tolong jangan panggil aku 'tuan muda' kau bisa memanggilku Len kok" tawarnya dengan ramah.

" Memang ada yang aneh kalau aku memanggilmu tuan muda?"

"Kau tidak lihat, dari tadi orang melihat kita dengan tatapan aneh ?"

" Eeh- umm baiklah er- Len, kalau begitu, kau boleh memanggilku Rin" jawabku agak canggung.

"Dan, bla bla bla bla" sahut Len panjang Lebar.

Aku tak mendengarkan lagi omongan Len, rasa capek di tubuhku berganti rasa kantuk yang kuat, di dukung ac dingin dan kursi pesawat yang sangaaat empuk.

Aku menyenderkan tubuhku ke kursi empuk ini, menikmati angin yang bertiup dan perlahan menutup mataku.

Ah semuanya gelap.

.

.

.

.

Len POV

"Dan, selama disana kau harus mengikutiku kemanapun ak-

Omonganku terhenti saat melihat Rin sedang tidur, dia sangat …. imut, bulu mata yang panjang, bibir merah, dan kulit putih yang halus.

Memikirkan Rin membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Astaga Len apa yang kau bicarakan! Rin itu laki-laki dia bukan perempuan!

"Kenapa sih ? kau harus terlahir sebagai laki-laki ?"tanyaku sambil menatap wajahnya yang benar-benar polos.

Hening, tak ada jawaban, aku terdiam, membisu.

Bahkan jika Rin bangun iapun juga tak tahu jawaban pertanyaanku tadi.

.

Konyol, sepertinya sekarang aku malah menyukai seorang laki-laki yang parasnya hampir sama denganku.

Ya, sepertinya aku mulai 'suka' pada Rin.

Entah sejak kapan berada di dekatnya membuat aku senang- nyaman lebih tepatnya.

Bukan hanya itu, setiap di dekat Rin, aku selalu menjadi diriku, aku tidak bisa memakai 'topeng' yang selalu kugunakan saat bertemu orang-orang.

'Ah, sepertinya ini hanya perasaan seorang terhadap sahabat-tidak lebih' pikirku tegas, dan sedikit kecewa.

Aku mengusap kepala Rin, bau sesuatu tercium dari rambutnya, ini..bau jeruk?

"Ngh…Len"

Suara lembut itu mengagetkan aktivitasku barusan, tanganku terasa kaku, jantungku seperti berpacu, dan, aku bisa merasakan ada sesuatu yang aneh di mukaku.

Rin mengerjap-ngerjapkan matanya, ia melihatku dengan bingung.

"Len, kenapa wajahmu merah?"tanyanya dengan suara agak serak, dan mata setengah terbuka.

Ugh, kenapa dia terlihat begitu –menggoda sekali?

Aku memalingkan mukaku ke arah jendela pesawat.

"A…Ano, aku kepanasan" ujarku berusaha normal seratus persen, meski aku tahu itu jawaban paling tidak logis.

"Panas? Disini-kan dingin, ah sudahlah, Len, sebenarnya kita mau liburan kemana sih? Berapa hari? Menginap Dimana?" Tanya Rin bertubi-tubi.

O.. iya, aku lupa memberitahu Rin tentang semua itu, pantas saja ia jadi KEPO secara mendadak.

Aku meghela nafas sejenak.

"Pertama, kita itu akan ke Indonesia, ke daerah bogor lebih tepatnya, kedua, kita disana sekitar seminggu, dan kita menginap di villaku" jawabku bertubi-tubi pula (?).

….

.

Pesawat mendarat dengan mulusnya di suatu tempat bernama Bandara Soekarno Hatta, akupun mengajak Rin turun dari pesawat dan mencari seseorang yang akan menjemput kami di bandara.

Setelah beberapa menit, aku menemukan seorang pemuda berambut silver, dengan jambul khatulistiwa(?) ralat ahoge berbentuk huruf p.

Dan, saat aku dan pemuda itu bertemu pandang, sesuatu yang sangat-tidak kuinginkan terjadi…

To be continue

.

.

A/N : Aduh, author udah lama banget gak update nih, tadinya author pingin nih gak dilanjut, tapi, author jadi merasa bersalah banget nih, author jadi merasa kalau misalnya author baca cerita seru tapi akhir-akhirna discontinued trus author jadi merasa kecewa banget tuh /pundung, maaf kalau ceritanya kurang memuaskan, Review ditunggu ya,

o. iya author baru nyadar, setiap ending, cerita ini selalu gantung heheehe XD

jujur ya, djo seneng banget pas chapter 3 udah selesai, rasanya pingin deh peluk cium kalian satu-satu/ditabok

menurut kalian gaya nulis author berubah lagi ngga?

Author bakal uusahain update cepet, yah nggak janji sih/ ditabok

Habis Author lagi kecanduan belajar/gayamulu *_*,

Author baru kepikiran, kayaknya waktu pesawatnya Take off, itu lebay banget ya, udah kaya roket yang mau kebulan aja XD hehe.

Review ditunggu

.

.

.