Prompt: Broken
Tittle: Love Hurts
Genre: drama, romance
.
.
Udara di ruangan itu terasa lebih berat dari biasanya. Kamar apartemen yang berukuran sempit itu terasa semakin penuh dengan adanya tiga orang dewasa di dalam kamar itu. Ketiganya terduduk di lantai, dibatasi meja pendek sebagai penghalang. Ketiganya masih belum mengatakan apa-apa.
Wanita itu berambut gelap dan berkulit pucat. Kulitnya sangat pucat sehingga sulit baginya untuk menyembunyikan semburat merah di wajahnya saat itu. Ia menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya. Ia tahu, saat ini pun wanita di hadapannya itu masih menatapnya dengan tatapan tajam matanya yang berwarna hijau botol.
Pakaian yang dikenakan wanita berambut panjang itu berantakan dan kusut begitu juga dengan rambut panjangnya yang berkilau. Sakura mendengus sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dari wanita yang jelas-jelas menghindari tatapannya itu.
Di sebelah wanita itu seorang pria muda juga nampak salah tingkah. Wajahnya pucat pasi dan ia pun menghindari tatapan mata wanita dihadapannya itu. Matanya menatap salah satu sudut meja di hadapannya. Ia hanya mengenakan celana pendek, yang tadi disambarnya buru-buru. Rambut pirangnya tampak lebih berantakan dari biasanya.
"Jadi, siapa namamu?"
Wanita berambut panjang itu terkejut. Ia tahu pertanyaan itu ditujukan padanya. Mau tidak mau, akhirnya ia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan itu.
"Hyuga Hinata..."
Sakura menghela napas, "apa kau menyukai Naruto?"
Ia terdiam sejenak sebelum lalu mengangguk.
"Kau tahu bahwa Naruto sudah memiliki kekasih kan?"
Ia mengangguk, "Naruto-senpai sering bercerita tentangmu."
Bibir Sakura membentuk sebuah senyuman meskipun matanya tidak tersenyum sedikitpun, "oh ya? Pasti ia menjelek-jelekan aku."
"Ti-tidak sama sekali," Hinata buru-buru menjelaskan, "senpai bercerita bahwa anda selalu membantunya, juga bahwa andalah yang menanggung kebutuhan finansial senpai selama ini."
"Dan meskipun kau tahu dia sudah memiliki kekasih, kamu masih tidur dengannya?" Sakura terdengar tenang, namun itu cukup untuk membuat Hinata bergidik mendengarnya, "aku yakin ini bukan yang pertama kalinya kalian melakukannya di belakangku. Ya kan?"
Pertanyaan itu Sakura tujukan untuk kedua orang di hadapannya itu namun tidak satu pun dari keduanya yang berani menjawabnya. Sakura tidak butuh jawaban. Ia bisa melihatnya.
Sebenarnya ia tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi. Meskipun ia dan Naruto telah bersama selama tujuh tahun namun belakangan ini ia bisa merasakan bahwa perlahan-lahan jarak di antara mereka semakin lebar. Hal seperti ini tidak bisa ia hindari.
"Biar kuduga," Sakura kembali memecah keheningan, "kau terpesona padanya karena mimpi-mimpinya. Harus kuakui, laki-laki dengan mimpi sepertinya memiliki daya tarik tersendiri. Apa ia juga menulis lagu untukmu? Memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu yang ia ciptakan untukmu, menceritakan mimpi-mimpinya padamu, dan kau pikir kau istimewa di matanya?"
Hinata tiba-tiba saja berdiri dan berlari meninggalkan ruangan dengan wajah memerah. Ia tidak bisa berada di ruangan itu lebih lama lagi. Kata-kata dan tatapan Sakura yang ditujukan padanya terlalu menyakitinya. Terlebih lagi, semua yang ia katakan tentang dirinya adalah benar.
Ia berlari menuju taman yang tidak jauh dari apartemen Naruto. Napasnya terengah-engah namun ia tidak peduli. Ia duduk di bangku taman dan mencoba untuk mengatur napasnya. Sejak awal ia tahu bahwa hal seperti ini pasti akan terjadi. Jatuh cinta pada pria yang telah memiliki kekasih... Ia tahu resikonya akan jadi seperti ini.
"Di sini kau rupanya."
Hinata mengangkat wajahnya. Di hadapannya berdiri Naruto yang juga tampak terengah-engah pakaian yang dikenakannya tampak berantakan. Ia duduk di sebelah wanita itu bahkan sebelum Hinata mengatakan apa-apa.
"Kau meninggalkanku sendirian bersama Sakura, itu mengerikan... Aku segera pergi begitu kau meninggalkan kamar."
Hinata tertawa getir, "kalau kau saja ketakutan, bagaimana denganku?"
Naruto menghela napas, "aku tidak tahu harus berkata apa. Maaf tadi aku tidak membelamu."
"Sudahlah," gumam Hinata, "seharusnya tadi kau meminta maaf padanya..."
Naruto menggelengkan kepalanya, "nah, lupakan. Hubungan kami memang sudah tidak terselamatkan. Kami berpacaran sejak kelas dua SMA, sampai sekarang, namun aku rasa ia tidak benar-benar mencintaiku."
Hinata tersenyum, "ia selalu memberikanmu uang kan?"
"Justru itu," Naruto menyandarkan punggungnya, "ia selalu memberiku uang, ia telah lulus dari universitas ternama dan memiliki pekerjaan tetap. Aku hanyalah seorang pekerja paruh waktu yang masih berharap bahwa suatu waktu lagu yang kutulis akan jadi terkenal. Baginya, membiayaiku adalah sebuah kewajiban."
Hinata mendengarkan tanpa mengatakan apa-apa. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar ini dari Naruto namun setiap kali ia hanya akan diam dan mendengarkannya.
"Aku tidak memiliki apa-apa selain mimpiku. Sakura memandang rendah diriku. Ia tidak pernah mengatakan apa-apa tapi dari tatapan matanya, aku tahu..." Kata-kata Naruto terputus saat ia merasakan Hinata menyandarkan kepalanya di pundaknya. Untuk beberapa detik Naruto terdiam sebelum kembali membuka mulutnya, "hey, apa yang tadi kau katakan itu benar? Kau menyukaiku?"
Hinata mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kau mau berpacaran denganku mulai sekarang?"
Hinata mengangkat wajahnya dan menatap Naruto, "kau yakin?"
Naruto mengangkat kedua bahunya, "setelah kejadian tadi apa kau pikir Sakura akan memaafkanku?"
Hinata menggelengkan kepalanya.
Pria muda itu tersenyum. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada Hinata, "baiklah ayo kembali ke kamarku, seharusnya Sakura telah pergi dari tadi."
Hinata menyambut uluran tangan Naruto sambil balas tersenyum.
Ia telah lama menyukai Naruto. Tujuh tahun, ah tidak, mungkin lebih dari itu. Sejak pertama bertemu dengan Naruto di upacara masuk SMA, saat itu pula ia telah jatuh cinta. Namun saat itu pun Naruto telah berkencan dengan Sakura. Sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya bahwa Naruto akan memilih dirinya...
Saat mereka kembali ke kamar Naruto, keduanya terdiam sejenak.
Sakura sudah tidak ada di kamar itu namun kondisi kamar itu sudah berubah total. Semua barang di kamar itu telah dihancurkan. Buku-buku yang berisi lagu yang selama ini Naruto tulis lembar demi lembarnya berhamburan di lantai. Pecahan asbak berserakan di lantai. Namun ada satu benda yang menarik perhatian Hinata.
"Senpai, lihat itu..."
Di atas tempat tidur tergeletak gitar akustik milik Naruto, tampak tidak rusak sedikit pun. Di sela-sela senarnya terselip beberapa lembar uang sepuluh ribu yen.
Namun Naruto tampaknya tidak mendengar kata-kata Hinata. Matanya tertuju ke atas meja pendek di dekat tempat tidurnya. Ia berjalan ke arah meja itu dan mengambil kunci yang tergeletak di atas meja itu.
"Senpai?" Panggil Hinata lagi, kali ini ia menunjukan gitar yang diambilnya dari atas tempat tidur itu, "uang ini, ditinggalkan Sakura-san..."
Naruto hanya menatap gitar itu tanpa mengatakan apa-apa.
Hinata menghela napas.
Ia mengerti.
Ia selalu mendengarkan Naruto selama ini, karena itu ia mengerti.
"Senpai, sebaiknya kau mengejar Sakura-san sekarang."
Naruto menatap Hinata dan menghela napas sebelum menggeleng, "sudah terlambat... Kami sudah..."
"Kau tahu," potong Hinata, "kalau aku berada di posisi Sakura-san, benda yang pertama kali akan kuhancurkan adalah gitar ini. Gitar ini adalah benda yang paling berharga untukmu, Sakura-san tahu itu. Dan kau..." Hinata menunjuk ke arah kunci di tangan Naruto, "yang pertama kali kau lihat di tengah kekacauan ini bukanlah gitar kesayanganmu atau uang yang terselip di sini, yang kau lihat hanyalah kunci kamar ini yang sebelumnya kau berikan pada Sakura-san, yang ia kembalikan..."
Naruto menatap kunci di tangannya dengan perasaan campur aduk.
Kunci itu telah dipegang Sakura sejak awal ia pindah ke apartemen itu.
"Kurasa, Sakura-san benar-benar mencintai Senpai. Ia membiayai Senpai, memang karena ia mencintai Senpai..."
Tentu saja sebenarnya Naruto mengetahui hal itu. Sakura tidak pernah memandang rendah mimpinya. Mungkin, ia sendirilah yang merasa ketakutan, kalau suatu saat nanti Sakura akan merasa lelah menyokongnya dan kemudian meninggalkannya.
Ia tahu itu.
"Senpai, sekarang belum terlambat bagi Senpai untuk mengejar Sakura-san."
Hinata berkata pada udara di hadapannya. Naruto telah berlari meninggalkan ruangan itu masih dengan menggenggam kunci itu di tangannya beberapa saat yang lalu. Hinata tahu kemana Naruto pergi.
Ia menghela napas.
"Paling tidak dengarkan aku sampai selesai..."
Sejak awal ia sudah tahu. Sejak tujuh tahun yang lalu.
Cintanya tidak pernah terbalas.
.
*author's note*
Lagi2 terinspirasi dari manga -w-)
