Prompt: Home

Tittle: Bitter Marriage

Note: Prequel dari serial Bittersweet Marriage :)

"Cukup! Aku berangkat sekarang!"

Pagi itu saat Naruto meninggalkan rumah, dadanya terasa sesak karena penuh dengan amarah. Pagi ini lagi-lagi ia awali dengan pertengkaran tidak berarti dengan istrinya. Ia tidak tahu sampai kapan mereka akan seperti ini, ia mulai merasa jenuh dan lelah.

Pernikahan mereka ini bukanlah apa yang sebenarnya mereka inginkan. Naruto sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan saat ia melamar Sakura saat itu dan apa yang Sakura pikirkan saat akhirnya menyetujui lamarannya itu karena sesungguhnya mereka tidak saling mencintai sama sekali. Pernikahan yang seperti ini... Apa baik kalau harus diteruskan?

Setiap pagi, Naruto selalu mengawali harinya dengan pertengkaran di meja makan dengan istrinya. Ia hampir tidak pernah memulai pertengkaran, karena ia memang tidak menginginkannya, tapi sebaliknya, sepertinya Sakura selalu saja berpikir bahwa semua yang Naruto perbuat adalah salah. Ia selalu saja mendapatkan alasan untuk mencerca suami yang sudah beberapa bulan dinikahinya itu. Naruto termasuk orang yang sabar namun bahkan ia pun memiliki batas kesabaran.

Pagi ini pertengkaran mereka diawali dengan hal sepele, Naruto menemukan tumpukan baju yang belum disetrika, termasuk di antaranya adalah pakaian kerjanya. Sakura hanya mengibaskan tangannya dan mengatakan bahwa ia bukan robot atau pun pembantu yang harus bekerja dua puluh empat jam namun Naruto menegaskan bahwa ini adalah tugasnya sebagai seorang istri. Tentu saja, pertengkaran ini berlanjut dengan lontaran-lontaran kata-kata yang menyakitkan dari keduanya sampai Naruto memutuskan untuk berangkat kerja dengan keadaan marah.

"Uzumaki-sensei, berapa kali saya harus mengatakannya? Anda adalah seorang guru, panutan para siswa di sini... Bagaimana mungkin anda bisa datang ke sekolah dengan pakaian yang kusut seperti ini?"

"Maafkan saya..."

Naruto menunduk, ia merasa malu karena kepala sekolah sampai harus memanggilnya ke ruangannya hanya karena hal ini.

Pria yang berusia lebih tua dari Naruto itu menghela napas, "saya akan maklum kalau anda masih lajang, tapi bukankah anda sudah menikah? Ada istri yang seharusnya mengurus anda..."

"Ah, sebenarnya istri saya sedang mengandung... Kondisinya cukup lemah sehingga ia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah. Saya pun harus merawatnya jadi ada banyak hal yang harus saya kerjakan di rumah."

Naruto merasa kesal. Ini adalah hal yang memalukan baginya. Selama ini ia dikenal sebagai guru yang berprestasi namun hal seperti ini mencoreng reputasinya. Semua ini karena gadis yang dinikahinya menolak melakukan tugasnya sebagai seorang istri.

Ia tahu bahwa Sakura membencinya. Ia tahu bahwa ada orang lain yang sebenarnya Sakura cintai. Ia tahu bahwa Sakura bersedia membayar berapa pun untuk bisa mengakhiri pernikahan mereka.

Mungkin itu yang seharusnya mereka lakukan, bercerai. Seharusnya mereka tidak perlu memaksakan hal yang mereka tahu hanya akan berakhir sia-sia.

Di perjalanan pulang sore itu, Naruto kembali mempertimbangkannya, mungkin mereka harus bercerai sesudah bayi itu lahir. Ia tentu saja akan membiayai anak itu namun mereka tidak perlu hidup bersama.

Ia akan mengirimkan uang setiap bulan untuk bayinya. Ia juga akan menemui anaknya dengan rutin. Ia akan datang ke perayaan ulang tahun anaknya atau acara pertemuan orang tua dan guru di sekolah anaknya, kalau Sakura mengijinkan tentu saja...

Hanya membayangkannya saja dada Naruto terasa sesak. Tidak, ia tidak ingin seperti itu. Ia tidak sungguh-sungguh ingin bercerai. Seberapa kesalnya pun ia pada Sakura...

Naruto menghentikan langkah di depan pintu apartemennya.

Kali ini pun, ia pulang. Ia berangkat dalam kondisi marah namun pada akhirnya ia tetap kembali ke tempat ini. Ke rumah mereka berdua.

Ia menghela napas. Mungkin mereka akan terus bertengkar setiap hari, saling menyakiti perasaan satu sama lain, namun pada akhirnya Sakura tidak pernah pergi meninggalkan rumah itu dan Naruto selalu pulang kembali.

Mereka hanya butuh waktu.

"Aku pulang!"

"... ... ... ... Selamat datang."

.

.

.

Author's Note:

Sebelumnya aku minta maaf kalau update ficku yang lainnya berikutnya akan lama karena aku harus mengerjakan tesisku. :( kalau kalian bantu dengan doa biar tesisku lancar dan profesorku tidak mempersulit proses pengerjaannya, mungkin bisa lebih cepat selesai. Wish me luck!