Kasane Teto
"Kau dengar soal murid pindahan itu?"
Kagamine Rin menajamkan semua indera pendengarannya untuk mendengar percakapan itu secara lengkap dan jelas. Jangan anggap menguping adalah hobi terpendamnya, tapi jelas, dia butuh tahu informasi seperti itu secepatnya.
"Ah... aku sudah lihat sekilas! Yang rambutnya merah kan?"
"Itu benar, itu benar!"
"Akan masuk kelas berapa?"
"Aku tidak tahu pasti, tapi kulihat tadi dia sedang bersama Megurine-sensei."
"Megurine-sensei? Hmm, artinya akan masuk kelas 2-B ya?"
Senyuman terbentuk di bibir gadis dengan rambut pirang sebahu itu. Iris biru mudanya melebar dengan perasaan senang merasuk ke dalam hatinya. Akan ada murid baru tepat di kelasnya. Bukankah itu terdengar menyenangkan?
"Tapi, bukankah itu agak aneh? Masuk di pertengahan semester seperti ini di Akademi Utaunoda... rasanya hampir tidak pernah ada dalam sepanjang sejarah!"
"Kau teralu berlebihan, Neko-chan!"
"Tapi, memang itu kenyataannya, Lily!"
Suara tawa terdengar di depan Rin. Dia mengenal suaranya sebagai suara khas Miki, anak perempuan dari kelas sebelah yang terkenal dengan suara merdunya di angkatannya.
"Yah, kurasa murid baru itu memang bisa dibilang spesial sih..."
"Eh, benarkah itu, Miki?"
"Yap. Dia anak dari composer terkenal kalau tidak salah."
Diam-diam, otak Rin mulai bekerja, mengingat nama-nama composer lagu favoritnya. Soal yang satu ini, jelas, arsip ingatan Rin tersusun dengan amat sangat rapi. Dia cinta musik. Amat cinta dengan musik. Karena itulah, rasa cintanya itu dapat membangkitkan bakat terpendamnya yaitu kemampuannya dalam mengingat apapun yang berhubungan dengan musik.
Apakah Rin semacam pahlawan dalam kisah heroik? Tidak. Dia hanya gadis biasa dengan kemampuan bermusik yang biasa saja. Jangan salahkan gen yang diturunkan secara turun temurun dari keluarga Kagamine kalau misalnya pita suaranya tidak mampu menghasilkan nada yang selaras atau jemarinya yang tidak mampu bergerak cepat saat memainkan alat instrumen.
"Memangnya apa nama keluarganya?"
"Namanya..."
.
.
.
"Kasane Teto."
Rin mengerjapkan kedua iris biru mudanya dengan cepat, seakan tidak percaya dengan sosok yang berdiri tepat di depan kelasnya. Gadis itu—Kasane Teto—memasang ekspresi datar tanpa senyum di wajahnya yang imut. Rambut merahnya digelung secara sempurna di kedua sisi kepalanya. Seragamnya berbeda dengan yang dikenakan Rin—sebuah kemeja dengan lengan menggembung dan rok warna hitam, mungkin itu seragamnya di sekolah yang lama.
"Hanya itu saja?" Sosok wanita dewasa yang berdiri tepat di sebelah gadis itu tersenyum. "Apa kau tidak mau mengatakan hal lainnya kepada teman-teman barumu?"
Kasane Teto menatap wali kelasnya yang baru, seorang wanita muda yang cantik jelita, Megurine Luka, dengan tatapan datar. Kemudian dia menganggukkan kepalanya seolah mengerti. "Senang bertemu dengan kalian semua."
Hanya itu?
Bukankah sebaiknya kau memberitahu hal-hal tentang dari mana asalmu? Kenapa kau pindah? Atau hal-hal lainnya?
"Kau sudah selesai?" Si wali kelas mencoba memastikan.
Gadis dengan bola mata merah itu mengangguk pelan. "Ya, sensei. Sekarang, bisakah aku tahu dimana aku harus duduk di kelas ini?"
Wali kelas mereka yang cantik jelita menunjuk bangku tepat di sebelah Rin. "Silahkan duduk di sebelah sana."
Rin tersenyum lebar ketika mengetahui murid baru itu akan duduk tepat di sebelahnya. Dia memasang wajahnya yang ceria, melebarkan kedua iris birunya dengan bersemangat, dan menyahut pelan ketika sosok Kasane Teto sudah berdiri tepat di sebelah mejanya.
"Hai, aku Rin. Kagamine Rin!"
Kasane Teto melirik gadis pirang yang duduk tepat di sebelahnya dengan mata datar, tanpa rasa ketertarikan sedikit pun. Ekspresinya tenang, seolah dia sama sekali tidak mendengar seseorang berbicara dengannya. Dia duduk dengan anggunnya tanpa memberikan respon sama sekali, baik itu berupa anggukkan kepala atau apapun.
"Hei," panggil Rin, masih tak menyerah. "Bolehkah aku memanggilmu Teto-chan? Manis sekali kan? Ah ya! Tentu saja kau boleh memanggilku Rin! Aku ingin kita menjadi teman dekat, bagaimana?"
Teto masih diam. Gadis itu mengeluarkan buku pelajaran serta pulpen dari dalam tasnya dan mulai menulis seuatu persis seperti apa yang dituliskan gurunya di papan tulis.
"Hei, kau dengar aku kan?"
Iris merah itu tiba-tiba bertemu dengan iris indah sebiru langit saat gadis dengan rambut merah digelung itu menoleh. "Aku tidak peduli kau siapa, tapi tolong jangan ganggu aku! Aku tidak suka dengan anak yang banyak omong sepertimu!"
Dan Rin benar-benar tidak tahu apa yang harus dia katakan selanjutnya.
