kalor
Kagamine Rin tidak pernah diabaikan sebelumnya. Tidak pernah dan seharusnya tidak pernah. Dia adalah gadis dengan tempramen tinggi dan selalu bersikap tidak sabaran. Anggap saja dia adalah seseorang di masa pertumbuhan labilnya.
Tidak teralu pintar dalam berpikir, tapi jelas, dia termasuk seseorang yang pintar dalam mengambil tindakan cepat. Anggap saja kalau dia memiliki sikap sigap yang patut diacungi jempol.
Termasuk ketika harus menghadapi murid baru dingin yang duduk tepat di sebelahnya.
Menyerah jelas bukanlah kata yang bisa menggambarkan diri Rin. Kata tak bersemangat seperti 'menyerah' adalah sesuatu yang amat dibenci Rin. Salahkan cara pasangan Kagamine yang membesarkannya dengan cara seperti itu, jangan salahkan keperibadian Rin yang selalu bersikap seenaknya.
Karena itulah, wajar bukan kalau gadis mungil itu tiba-tiba berteriak di tengah berlangsungnya pelajaran Megurine Luka, wali kelasnya, sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya?
Dan tentu saja, wajar baginya untuk mendapat respon berupa tatapan seluruh orang di ruangan kelasnya itu.
Termasuk teguran dari guru fisikanya yang cantik. "Rin-san, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba berteriak?"
Rin melirik sosok Teto yang terkejut karena ulahnya yang tidak terduga. Tanpa menjelaskan apapun, gadis manis itu hanya tersenyum seolah tidak ada sesuatu yang salah. "Tidak ada apa-apa, sensei."
Megurine Luka mengangguk pelan kemudian melanjutkan kembali materi yang baru saja disampaikannya.
"Kalor adalah suatu energi yang mudah diterima dan mudah sekali dilepaskan sehingga dapat mengubah temperatur zat tersebut menjadi naik atau turun."
"Tahu nggak?" Rin mulai bicara lagi. Dia tersenyum lebar. "Ucapan seseorang itu bisa juga disebut kalor."
Yang ada di pikiran Kasane Teto sekarang adalah: betapa gilanya teman sebangkunya ini!
"Hah?" Alis Teto terangkat, tanda dia sama sekali tidak mengerti apa maksud gadis pirang di sebelahnya? Seriuskah ataukah...
"Karena ucapan seseorang dapat mengubah temperatur emosi seseorang menjadi naik atau turun." Rin mengedipkan sebelah matanya kemudian mulai mencatat sesuatu di buku catatannya. "Karena itulah, Teto-chan, kita berteman."
Dan tolong jangan salahkan pasangan Kagamine karena anak yang mereka besarkan tidak dilahirkan untuk membuat suatu logika logis yang berhubungan.
