melodi, ketukan, simfoni nada
Kasane Teto tahu, dia dibesarkan dengan berbagai macam simfoni nada dan ketukan berirama. Dia tahu berbagai macam kunci not balok yang mampu membantunya mengetahui berbagai macam hal di dunia ini.
Hanya dengan mendengar satu alunan nada, dia jelas tahu persis mana nada yang sempurna dan mana nada yang sumbang. Karena itulah, dari jarak yang jauh pun, telinga Teto sudah terlatih untuk menangkap suara nada.
Tepat seperti pagi dimana dia datang ke kelasnya pagi-pagi sekali dan melewati ruang musik, suara sumbang itu mulai merasuk ke syaraf pendengarannya, menyadarkannya atas sebuah nada yang dimainkan secara sembarangan.
Tanpa pikir panjang lagi, Teto segera meraih kenop pintu dan menariknya hingga terbuka. Sosok pirang yang ada di dalam sana terkejut bukan mainnya dan hampir saja menjatuhkan gitar akustik yang duduk rapi di pangkuannya.
Iris biru itu kembali bertemu dengan iris merah yang melebar marah.
"Nadamu payah sekali! Bisa main gitar nggak sih?"
Kemudian semuanya datar. Tanpa ekspresi. Seolah tanpa emosi. Kemudian diam.
Rin mengerjap pelan saat menghadapi teman sebangkunya itu. Sudahkah Teto bicara? Atau gadis dengan rambut digelung itu ingin diam sebentar sebelum akhirnya melanjutkan lagi percakapan mereka?
Namun, si rambut merah sama sekali tidak berniat melanjutkannya. Gadis itu justru diam sendiri karena teralu syok dengan sikapnya yang teralu tiba-tiba seperti ini.
Teto mengigit bibir bawahnya, menyesali ucapannya barusan. Bukan karena dia mengatakan sesuatu yang kasar, tapi lebih karena dia menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan nada.
Nada. Ketukan. Simfoni. Musik.
Dan segalanya mulai berputar lagi di kepala Teto bagaikan kaset rusak.
Alunan lirik lembut yang dibuat khusus untuknya.
Petikan gitar serta alunan melodi klasik mengiringi setiap gambaran yang muncul di kepalanya.
Merah. Lembut. Cinta.
Teto mengerjapkan matanya pelan dan terhuyung mundur ke belakang.
Segalanya yang berhubungan dengan musik adalah hal yang paling dibenci olehnya.
Karena segala hal tentang musik akan menguak emosi terdalam Teto... membuat gambaran itu muncul lagi tanpa bisa dihentikan...
Tanpa mengatakan apapun, Teto segera membalikkan badannya dan berjalan keluar dari ruangan musik itu meninggalkan si gadis pirang terdiam sendirian disana.
Tapi, bukan Kagamine Rin namanya kalau dia diam saja setelah dibilang seperti itu dan dibiarkan pergi. Tanpa pikir panjang, Rin segera melompat berdiri, meletakkan gitar kuning akustiknya di atas meja, dan berlari menyusul Teto yang tengah menuruni tangga menuju lantai dasar.
"Teto-chan!" Suaranya melengking tinggi, beradu dengan dinding sekitarnya, baru kemudian dipantulkan lagi hingga menghasilkan gema. "Apa maksudmu barusan, bodoh?"
Sosok merah itu berhenti dan membalikkan tubuhnya. Teto menatap Rin dengan tenang dan ekspresi datarnya yang tidak berubah sama sekali.
Si pirang mengerjap pelan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya. Barusan, di ruangan musik, dia baru saja bertemu dengan Teto yang berekspresi, yang mengatakan sesuatu dengan melibatkan emosi, bukannya diam datar tanpa esensi satu pun.
"Hah?" Bibir Rin terbuka tidak percaya. "Kau barusan tadi masuk ke ruangan musik dan mengatakan sesuatu padaku kan?"
Teto balas menatap Rin. "Ya, lalu?"
"Lalu apa yang coba kau katakan tadi?"
"Permainanmu jelek sekali. Pernah coba berhenti main musik? Mungkin itu akan menjadi sebuah langkah terbaik dalam hidupmu." Tanpa menunggu apa-apa lagi, gadis dengan rambut digelung itu berbalik dan menuruni tangga lagi, meninggalkan sosok pirang di belakangnya dengan dahi berkerut.
