persiapan festifal
Setiap tahunnya, Akademi Utaunoda akan mengadakan festifal musik. Sebuah perlombaan untuk mencari para pemusik yang terbaik akan diadakan dalam waktu dekat. Dan sudah keharusan bagi semua murid Utaunoda untuk ikut berpartisipasi.
Sama halnya dengan Mikagane Len, salah seorang yang mampu memainkan bass dengan skill yang tidak biasa. Dia mampu memainkan seluruh lagu hanya dalam sekali dengar. Kemampuannya mungkin bisa dikatakan berasal dari gen keluarga Kagamine yang dimiliki oleh Ibunya yang kembar dengan Ayah Kagamine Rin.
Banyak orang yang sudah merekrut Len untuk menjadi anggotanya, tapi kelihatannya sang sepupu sudah membuat perjanjian terlebih dahulu dengannya.
"Kita akan membuat grup untuk festifal musik tahun depan! Kau akan memegang bass sedangkan aku gitar melodi! Masalah siapa yang memainkan rhytem, drum, dan vocal kita urus nanti!"
Itu adalah ucapan di bulan Januari ketika salju turun dari langit dan Len baru saja keluar dari kamarnya, masih tergulung oleh selimut yang luar biasa tebalnya.
Len memang tidak mengiyakan atau menolak pernyataan Rin saat itu, tapi tentu saja sang gadis yang luar biasa keras kepala itu pasti sudah menetapkan hal itu.
Apapun yang terjadi, Len akan tergabung dalam grup bentukan Rin untuk festifal sekolah bulan April.
Sekarang, minggu terakhir bulan Maret dan gadis berbando putih itu, siapa lagi kalau bukan Kagamine Rin, duduk tepat di hadapan Len, menatapnya dengan ekspresi serius.
"Kita harus cari vocalist secepatnya."
"Ambil dari anggota paduan suara saja, tapi kurasa kau harus cepat, Rin, kalau tidak mau dapat sisa tentu saja."
"Aku? Bukan aku yang harus mencarinya, tapi kau!"
Dan akhirnya, Len menghela napas di sisi luar pintu klub paduan suara. Iris biru langitnya menatap koridor sepi di depannya. Seharusnya dia sudah bisa pulang dan membaca komik Jump favoritnya yang baru dia beli kemarin, tapi ini adalah titah Ratu Rin yang harus dia patuhi.
Dan akhirnya Len mengetuk pintu ruangan klub paduan suara dan menemukan geng tiga orang yang terkenal di angkatannya.
Kurokawa Miki, Iroha Nekomura, dan Suzuna Lily. Tiga orang yang selalu bersama sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki mereka di Utaunoda. Ketiganya terkenal sebagai maskot dari klub paduan suara, tapi menurut Len, yang memiliki suara paling bagus adalah Miki.
"Hai," sapa Len dengan senyuman gugup. "Aku ingin bicara sesuatu padamu, Kurokawa-san. Ada waktu?"
"Len mau nembak Miki-chan?"
Len melirih Iroha Nekomura, anak kelas sebelah yang memiliki tubuh mungil dan rambut merah panjang yang selalu dikuncir satu ke belakang. Seluruh penampilannya mengingatkan Len pada karakter kucing, dan bahkan seisi sekolah sudah tahu kalau Iroha memiliki obsesi berlebihan pada hewan mamalia itu.
"Nggak. Aku mau ngajak Kurokawa-san untuk main di satu grup denganku."
"Hee... Jangan gunakan alasan klise seperti itu untuk mendekati seorang gadis, Mikagane-kun!" sahut sosok pirang yang duduk dengan wajah ditutupi majalah mode terbaru. Rambut pirangnya menjuntai ke sisi bahunya sementara tangannya terlipat rapi di depan dadanya.
"Lily-chan! Iroha-chan! Berhentilah menggodaku!"
Si pirang akhirnya menyingkirkan majalah dari wajahnya dan tersenyum jahil pada sahabatnya. Len tahu bahwa sosok Suzuna Lily adalah sosok yang paling mengikuti mode jaman ini. Dia bahkan tidak menggunakan seragam dengan rapi karena menurutnya itu kuno. Sebaliknnya, dia bahkan menambahkan beberapa aksesoris disana-sini, termasuk juga dengan dua tindikan di telinganya.
"Habisnya kau cantik, Miki-chan! Aku yakin setiap orang di dunia ini akan menganggapmu manis!"
Len memutar bola matanya. Dengan kemampuan jeniusnya, dia bisa menebak bahwa obrolan ini tidak akan membawanya kemana pun. "Suzuna-san, aku serius dan kalau kau mau tahu siapa rekanku yang lain, mungkin kau bisa mendapatkan gambaran tentang seseorang yang egois dan keras kepala."
"Kagamine Rin?" Lily berdecih beberapa saat kemudian. "Cewek iblis!"
Iroha tertawa mendengarnya. "Mantan musuhmu!"
Len tentu saja tahu hal itu mengingat Rin hampir selalu memberitahu perkembangan hubungan jeleknya dengan Lily. Sebenarnya penyebab percekcokan mereka tidak pernah selalu jelas, tapi kadang situasi menjadikannya teralu berlebihan.
"Kuharap kau mau mempertimbangkan keputusan untuk menjadi vocalist grup kami, Kurokawa-san!"
"Tentu saja, Mikagane-kun." Miki tersenyum lebar. "Aku akan sangat senang membantu kalian."
"Kau bercanda, Miki!"
Miki segera berdiri dari tempatnya dan berjalan menggiring Len ke pintu klub. "Aku akan mengatasi hal itu, kau tenang saja, Mikagane-san."
Len bisa melihat wajah cantik teman sekelasnya itu. Miki terlahir sebagai gadis ceria dengan rambut coklat panjang sepinggang. Iris coklatnya selalu terlihat berbinar dengan senyuman lebarnya. Gadis manis yang mampu melelehkan hati siapa pun.
"Ya... terima kasih banyak, Kurokawa-san."
Miki mengedipkan sebelah matanya dan menutup pintu klub. Dari luar, Len masih bisa mendengar gerutuan panjang Lily mengenai Rin.
Pemuda pirang itu menghela napas lega. Setidaknya satu masalahnya sudah lewat.
Len kemudian berjalan santai menuju ruang loker sepatu. Sekolah sudah sepi saat itu, jam pulang sekolah sudah lewat satu jam yang lalu. Yang masih ada di sekolah hanyalah anak-anak yang ingin bermain di klubnya.
Ketika Len sudah mengambil sepatu dan siap memasangnya, aktifitasnya terhenti ketika dia melihat salah satu anggota klub membaca yang terdiam di depan loker sepatunya dengan wajah memerah.
Len mengenalnya sebagai Kojima Gumi, teman sekelas Rin yang tidak banyak bicara. Rambut hijaunya terlihat menutupi bagian wajahnya yang memerah entah karena apa. Jemari mungilnya memegang selembar surat dengan amplop berwarna merah muda.
Alis Len naik sebelah. Surat cinta.
Sepertinya musim semi sedang berkembang dimana-mana.
"Len!" teriakan dari sepupunya memecah konsentrasi Len dan membuat sang pemuda pirang mengalihkan matanya dari gadis pendiam itu menuju gadis penuh ocehan.
"Aku dapat drummernya!"
Bagus. Dengan begitu, Len tidak perlu melakukan apapun lagi.
"Dapat vocal—hei, Gumi-san, apa yang kau lakukan disini?"
Si gadis hijau menoleh dengan cepat dan seketika matanya melebar penuh kepanikan. "Eh—etoo—umm... siang, Rin-san." Dia tersenyum memaksa dan berjalan mundur ke belakang. Suratnya dia masukkan paksa ke dalam saku roknya. "Aku duluan."
Rin hanya mengangkat bahunya dan kembali bicara pada Len. "Aku dapat Kaito, si ketua klub musik itu."
"Kaito? Shion Kaito? Anak kelas tiga itu?"
"Yap. Aku juga tidak tahu, tapi begitu kukatakan kalau aku Kagamine Rin, anak kelas 2-B, dia langsung setuju. Apa mungkin dia fansku?"
Len memutar bola matanya. "Aku meragukan soal itu."
"Apa?"
"Kurokawa-san bilang dia bersedia menjadi vocalistnya. Sekarang tinggal masalah gitar melodinya..."
"Aku sudah dapat!"
"Hah?"
"Kasane Teto yang akan memainkannya!"
Bagus. Apakah Rin sedang mencoba mengaitkan hubungan Ayah-Anak antara Kasane Tedd dan Kasane Teto sebenarnya?
Dan ngomong-ngomong, memangnya Teto mau melakukannya?
