.

Chapter II: On Your Mark, Get Set, Go!

©avamura.

Pinguins of Madagascar © Nickelodeon and DreamWorks

.

TERETETETETETETET!

Matahari bahkan masih belum resmi menampakkan diri di garis horizon, ketika Skipper sudah ribut membunyikan alarm roll call, alias berkumpul. Di atap markas sirene merah berkedip-kedip—membuat ketiga anggota Penguin Commando yang tadinya masih meringkuk nyaman di ranjang pun terlonjak kaget, dan langsung pasang kuda-kuda jujitsu.

"A-a-apa? Ada apa?"

"Apel pagi, Prajurit!"

"Hah? Apel?" Kowalski pun langsung tanggap mengecek jam tangannya—meski entah sejak kapan ia pakai jam tangan. "Err... apa sekarang kita pakai sistem zona waktu Mid-Atlantic, Skipper? Karena menurut perhitungan jam atomku, di United States sekarang masih pagi buta..."

"Rawr!"

"Memang masih gelap kok, Rico. Hoaaaahm," timpal Private sambil menguap—setelah akhirnya menyadari kalau ternyata ini mungkin cuma bagian dari kurikulum latihan, dan bukannya karena mendadak muncul Skorca raksasa di langit. "Apa ini tidak terlalu awal untuk bertugas, Skippah?"

Rico-Kowalski mengangguk setuju. Dan kalau sang komandan tidak keburu menyambit kepala mereka dengan gulungan kertas, mungkin mereka masih akan menggerutu soal kantung mata dan masker mentimun sampai setengah jam ke depan.

"Cih! Apakah aku mencium bau insubordinasi di sini? Kalian adalah prajurit terpilih, tidak sepantasnya bersikap manja seperti anak gadis!" bentak Skipper, membuat ketiga pinguin yang lain langsung sigap berbaris dengan sikap sempurna. "Dimengerti?"

"Yes—hoaaaahmm—Sir!"

"Bagus. Letnan, beri aku laporan."

"Yes, Sir!"

Kowalski menguap sekali lagi, lalu meraih clipboard di meja. Ia membolak-balik kertas yang ada di sana, sebelum kemudian balik menatap ke sang kapten dengan bingung. "Eh, Skipper... maaf, kita sedang membicarakan laporan yang mana, ya? Operasi pemanfaatan septic tank Central Park Zoo sebagai sumber gas metana? Laporan pembuatan roket lemur menuju Jupiter? Antidot wabah Korean fever? Operation Moon-eye plan?"

"Bukan." Skipper mendengus. "Op-Aphro."

"...Oh."

Ketiga pinguin pun saling bertukar pandang. Operation Aphrodite? Astaga, jadi Skipper membangunkan mereka pagi-pagi begini cuma untuk ini? Bukannya kemarin dia masih ogah-ogahan menandatangani proposal misi... tapi kenapa sekarang malah dia yang jadi paling antusias?

Mereka baru saja mau protes, tapi berhubung mendadak ruangan itu jadi dipenuhi aura-aura gelap, tidak ada satu pun dari mereka yang berani buka mulut. Dan setelah tiga menit penuh sikut-sikutan dengan Private, akhirnya Kowalski-lah yang mengalah dengan memulai pembicaraan. Ia mengetuk-ngetukkan pensil ke papan yang dibawanya.

"Baiklah, baiklah," ujarnya, "Begini, Skipper. Aku telah mengadakan observasi singkat—dan hasilnya sudah clear. Analisa perilaku, golongan darah ABO dan sampel DNA dari lapisan mukosa hidung menunjukkan bahwa Marlene cocok dengan jantan tipe Alpha. Nilai toleransi kesalahan, kurang dari 6,35 persen."

Skipper mengangguk-angguk sambil mengusap dagu. "Klarifikasi."

"Golongan Alpha, yaitu tipe pria koleris, bossy, posesif... mungkin juga sedikit otoriter dan agak pemaksa."

Mendengar itu, Skipper langsung membusungkan dada. Ditatapnya anggota Penguin Commando yang lain dengan alis terangkat sebelah plus seringai narsis. Ehm... walaupun sebenarnya kata sifat 'otoriter' dan 'pemaksa' itu sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai pujian, sih.

"Riiiight." Kowalski memutar mata—lalu membalik catatannya, menunjukkan dua sketsa wajah pada ketiga rekannya. "Tapi sayang sekali, kelihatannya kau punya saingan, Kapten. Hasil survey menunjukkan bahwa ada dua pria Alpha di Central Park: kau, dan King Julien XXIII. Dan apakah perlu kuingatkan, bahwa menurut Ensiklopedi National Geographic, dalam semua spesies ada semacam pertarungan untuk mendapatkan pasangan?"

Menanggapi pertanyaan retoris itu, Skipper cuma memutar mata sambil tertawa sarkastis. "Well, dengar, anak-anak—kalau aku sudah terbukti bisa mengalahkan mamalia tingkat rendah seperti si ekor cincin dalam kompetisi sederhana semacam mengumpulkan bendera, bagaimana kalian bisa berpikir dia bisa lebih baik dariku dalam hal manly machismo?"

Kowalski pun manggut- manggut, diikuti Rico dan Private. Ia mengeker Skipper dengan pensil dari kejauhan, kemudian mengusap dagu dengan pose ilmiahnya yang biasa. "Affirmative. Dilihat dari segi fisik berdasarkan perbandingan Fibonacci, estimasi kasar rankingmu juga masih jauh di atas Julien. Tapi di luar itu, kurasa masih ada satu masalah, Skipper..."

Sang kapten mengangkat sebelah alis. "Dan... apa itu, tepatnya?"

"Kau kalah start," ujar Kowalski, "Menurut sebuah sumber anonim, Marlene adalah... ehm... pacar resmi Julien."

Rico dan Private menampakkan ekspresi kaget yang sangat eksplisit, akan tetapi Skipper masih bertahan dengan muka stoicnya—dan cuma merespon dengan kata "Jadi?"

"Apa maksudmu dengan 'jadi', hah? Skipper, menurut hukum internasional edisi amandemen, melanggar undang-undang hak milik termasuk pelanggaran kode etik sains! Jadi solusi terbaiknya kurasa... kita harus minta izin dulu pada... pemiliknya?" tanya Kowalski, yang segera disepakati oleh Rico. Skipper mengerutkan dahi.

"Aku. Tidak. SUDI."

"Kalau begitu maaf, aku mengundurkan diri dari operasi ini. Aku tidak bisa mengkhianati ilmu pengetahuan, Skipper..."

Sang Kapten menepuk dahi. Astaga, Kowalski ini benar-benar punya tendensi untuk jadi merepotkan di saat-saat tidak tepat seperti ini! Untuk sesaat, Skipper masih berusaha untuk mempertahankan harga dirinya atas Julien—tapi berhubung dua orang sisanya sama-sama sepakat bahwa tanpa sang planner, misi mereka akan sama sia-sianya dengan berenang tanpa sirip...

"Baiklah, baiklah... kali ini kita ikuti caramu, Ilmuwan," titah Skipper, yang segera dibalas dengan hormat sikap sempurna oleh Kowalski. "Dan oh ya, Private—naikkan level misi ini menjadi operasi penyelamatan, kita tidak bisa membiarkan Si Cantik terus bersama Si Buruk Rupa. Setidaknya tidak, kalau Si Buruk Rupa tidak bisa berubah jadi pangeran tampan."

"Yes, Sire!" Si pinguin kecil menjawab dengan patuh. "Tapi... kalau Julien menolak bagaimana, Skippah?"

"Kalau begitu kita beralih ke Operation Fech Du: Lemur Annihilation! Eksekusinya bisa dengan granat, bom bau, meriam, rudal kendali atau Tsar Bomba, tergantung pada mana yang lebih dulu dimuntahkan Rico."

"Heh—?"

Private tersedak (ia menyesal sudah bertanya), sementara Kowalski mencatat sambil mengernyit. Rico mulai mengira-ngira apakah Pangkalan Udara Rusia berada di daftar isi perutnya. Tapi berhubung wajah sang kapten sudah kelewat bengis, apa boleh buat, ketiga pinguin itu tidak berani membantah. Mereka hanya berdoa Julien bisa diajak kerja sama, atau Central Park Zoo-lah yang jadi taruhannya...

"Log pertama: pergi ke Habitat Lemur dan merayu—ralat, MEMAKSA— si ekor cincin meminjamkan Marlene. Laksanakan, anak-anak!"

.

.

.

Dan dalam hitungan detik, keempat pinguin itu sudah meluncur menuju Area X—habitat buatan tiga lemur beda spesies yang dihiasi gunung api palsu. Sesampainya di sana, mereka pun langsung disambut oleh pemandangan standar kerajaan Julien: seekor lemur berbulu abu-abu yang sedang tiduran di singgasananya, lengkap dengan aye-aye dan si Mata Sedih yang memegang kipas daun besar. Tidak perlu dikatakan, dia sedang melakukan ritual sakral kerajaan—mengupil.

Ups,maaf, sudah terkatakan, ya?

"Hell-o, Kepala Datar," sapa Julien, yang belum apa-apa sudah membuat Skipper naik darah. "Apa yang kaulakukan pada pagi yang cerah ini di kerajaanku? Apa kau sudah cek paspor dan pengasapan anti flu burung?"

"Hei juga, Kepala Kosong," sapa Skipper balik, sepenuhnya mengabaikan kalimat tidak masuk akal yang barusan. "Angkat tulang belakang malasmu dari kursi, karena kami sudah jauh-jauh datang untuk membuat kesepakatan. Ada sebuah hipotesa yang perlu kami uji dengan salah satu propertimu." Lebih tepatnya, hipotesa dari episode yang lalu—tentang apa Skipper benar-benar jatuh cinta pada Marlene atau tidak.

Dan 'pagi hari yang katanya cerah' itu pun mendadak langsung berubah gelap, dengan efek badai dan sambaran petir. Hei, siapa ini yang mengganti background dan menyalakan sound effect tanpa seizin produser?

. . .

"APAAAA?! Kau mau meminjam pacarku untuk hari Sabtu besok? NO-O-O-O. Tidak bisa, tentu saja tidak bisa, pinguin!—eh, tunggu dulu. Siapa sih 'pacarku' yang sedang kita bicarakan ini?"

Keempat aves yang hadir di sana serentak menepuk dahi.

"Kowalski! Sudah kuduga Marlene memang tidak punya pacar!" sentak Skipper, "Dan kalaupun punya, seleranya tidak mungkin semengerikan... makhluk ini. Ck, sudah kubilang untuk tidak mempercayai informan anonim!"

"Skippah, sudahlah—"

"Marlene? Pacarku?" gumam Julien sambil melirik kearah lemur pendek abu-abu, yang kemudian mengangguk mengiyakan. "Benarkah? Tapi kenapa mereka bisa tahu dan aku tidak tahu? Oh, oh, aku tahu! Marlene adalah pacar rahasiaku yang mana aku tidak tahu bahwa dia adalah pacarku, karena itu adalah rahasia! Sementara para pinguin itu adalah agen mata-mata—jadi mereka tahu semua rahasia termasuk rahasiaku yang ini! Itu benar kan, Maurice?"

Facepalm berjamaah, lagi. You don't say...

"Tapi... kalau aku adalah raja, berarti Marlene adalah ratu, kan? Dan bukankah kekosongan pemerintahan adalah sebuah tindakan kriminal yang tidak bisa ditoleransi, Maurice?"

Yang diajak bicara mengangguk malas. "Iya sih, Yang Mulia. Tapi kalau cuma sebenatar saja, kurasa tidak apa-apa. Lagipula mereka bilang ini hanya sebuah... percobaan... untuk membuktikan sebuah... hippopotamus."

"Tentu saja apa-apa, Maurice! Aku adalah raja, akulah yang menentukan apakah sesuatu itu apa-apa atau tidak! Jawabanku masih tetap sama—tidak boleh!"

"Yeah, yeah. Terserah apa katamu sajalah, Yang Mulia."

Sampai sini, Skipper pun melancarkan jurus Tatapan Kematian yang Mengerikan—tapi tampaknya aksi itu tidak mempan pada mamalia yang mengalami retardasi mental macam Julien. Dan untung saja Private segera menepuk-nepuk bahu Skipper, sebelum dia keburu menekan tombol kendali peluncur bom nuklir luar angkasa. "Kami cuma perlu dengannya sehari saja, memang apa masalahnya, hah!? Kau beruntung kami tidak melakukan cara kekerasan! Dan kau tidak bisa terus-terusan memonopoli Marlene, Ekor Cincin!"

"Aku tidak suka main monopoli, Burung-yang-tidak-bisa-terbang—dan jangan mengalihkan topik pembicaraan!" tukas Julien sambil menggerak-gerakkan telunjuknya. "Aku rela menyerahkan apapun yang kupunya demi mempertahankan Marlene—"

Rico memuntahkan TNT.

"—apapun, kecuali ketampananku, kerajaanku, aku, singgasanaku, mahkotaku, harga diriku, aku, kerajaanku... dan eh, apa tadi aku sudah menyebutkan 'ketampananku'?"

"T-tunggu, tunggu!" sela Private seraya mendorong mundur sang kapten—yang sudah pasang pose kokutsu-dachi siap serang—dan menendang peledak Rico keluar scene. Ah, kalau soal negosiasi, prajurit yang satu ini memang paling bisa diandalkan—mana hadiah Nobel untuk perdamaian? "Skippah, biar aku saja yang tangani ini, oke?"

Dan sementara Kowalski dan Rico berusaha menahan Skipper yang nyaris ngamuk , Private maju selangkah ke depan si raja lemur. Julien pun bersedekap sambil membuang muka. "Pendirianku seteguh karang di lautan, Pinguin Kecil."

"Err... bagaimana kalau sebagai gantinya, kami akan memberimu jaminan perlindungan seumur hidup dari ancaman serbuan makhluk Mars?"

Maurice tampak membisikkan sesuatu ke arah telinga rajanya dengan tampang mencurigakan. Sejurus kemudian, kedua lemur itu lalu menggeleng bersama-sama. "Tidak tertarik."

"Kami akan menyadap seluruh siaran televisi New York, dan menggantinya dengan Talk Show 24 jam bersama Raja Julien."

"Tidak."

"Kami akan menuliskan namamu di bulan."

"Tidak."

"Di Uranus, kalau begitu."

"Di anus? Tidak, terima kasih."

"Kalau begitu, dengan berat hati kami akan... memberikan padamu... seluruh stok ikan salmon impor kualitas terbaik yang kami simpan untuk musim dingin. Hiks."

(Sementara itu di latar belakang, sekarang Kowalski kalang kabut—karena bukan cuma Skipper, tapi mendadak Rico juga ikutan histeris... dan memuntahkan benda-benda random yang atas beberapa pertimbangan, sebaiknya tidak disebutkan di sini. Galileo Galilei! )

"Tidak. Baunya pasti lebih amis daripada toilet pria." Sepasang lemur itu menggeleng lagi, membuat Private nyaris putus asa. Tapi misi tetaplah misi, dan ini harus berlanjut apapun yang terjadi! Ia pun mulai mendaftar berbagai perabot markas yang bisa diberi kecupan selamat tinggal—ah, setidaknya sampai Julien berceletuk.

"Err... aku punya ide. Bagaimana kalau segelas smoothie dingin saja, pinguin? Berdebat denganmu membuatku sedikit haus..."

Dan Private pun langsung sujud syukur—sebelum kemudian bergegas menjabat tangan Julien erat-erat.

"Deal."

.

.

"YANG MULIAAAAAA! SEDIKIT LAGI KITA BISA MENDEPATKAN ALAT UNTUK MENGENDALIKAN SELURUH DUNIA, DAN DEMI APA—KAU HANYA MEMINTA... JUS BUAH!?"

.

.

~To be continued~

.

Reply Anon Review: Kuro. Iya, mereka emang alay nih, apa-apa dikit langsung dijadiin misi. Haha. Oke, ini udah lanjut. Catty-cat-cat. Halo juga, Cat. Kalo di fandom ini mah saya juga masih baru, meski udah nonton kartunnya dari lama :3 Yuk, ramein fandom PoMI lagi! Amxdepp. Hah? Apanya? ('_')a

A/N: Kayaknya kalau didiemin lebih lama lagi di archive, fic ini bakalan berjamur *A* saya apdet seadanya dulu aja, ya. Heheu. Kapter depan, Skippah beneran ketemu Marlene, deh . Btw kalau ada yang kurang dimengerti di fic ini, silakan tanya saya :)