Jeongmal Mianhae Hyung

Cast: Henry Lau (Cho henry), Cho kyuhyun, Tan Han Geng, other cast nyusul

Pairing: HanKyu, Hanry, other pairing nyusul

Genre: Hurt/Comport, Romance (Mungkin)

Note: Mianhae jika storynya nggak sesuai dengan judul dan genrenya. Soalnya story buatan yiyi suka ngelenceng dari judulnya. Jadi di maklumi aja ya. Di story ini henry dan kyuhyun jadi uke, sedangkan hangeng menjadi seme.

.

DON'T LIKE? DON'T READ

Selamat Membaca

.
.

Perivous Chapter

"ahh.. sepertinya ada orang 'asing' disini.. naneun choi siwon imnida.." ucap siwon seraya medudukan dirinya di sebelah changmin dan berhadapan langsung dengan hankyu

"ah, kau rupanya yang bernama choi siwon. My chagi sudah bercerita 'sedikit' tentangmu kepadaku" ucap hangeng dengan tatapan dinginnya

"ne, kamsahamnida sudah mengingatku.. kyuhyun-ah~, kau apa kabar? Gwenchana?" ucap siwon membuat kyuhyun tersentak dan situasi menegangkan pun terjadi diantara keempatnya yang membuat ketiga dari sana meneguk ludahnya gugup.

"apakah kau merindukanku

.

.

.

.

.

.

.

Babykyu~" ujar siwon dengan mata yang menatap kyuhyun intens.

Normal story

Changmin dan hangeng tersentak mendengar 'panggilan' siwon untuk kyuhyun. Suasana tegang pun tak dapat dihindari. Tanpa sadar, mereka berdua menoleh cemas kearah kyuhyun yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Dan siwon yang melihat hal itu hanya tersenyum, karena merasa 'rencana' yang dibuatnya berhasil. Dia sangat mengharapkan wajah ketakutan dari kyuhyun yang menurutnya amat manis tersebut. Namun, ketika kyuhyun mendongakkan kepalanya, harapan siwon tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. Kyuhyun bukan menatapnya dengan tatapan takut melainkan menatapnya dengan tatapan 'angkuh' seorang cho kyuhyun. Dan hal tersebut adalah sesuatu yang sangat siwon benci.

"apa maksudmu memanggilku dengan sebutan 'laknat' itu. Aku punya namaku sendiri, jangan pernah kau ubah itu. Tuan choi" Ujar kyuhyun dengan angkuh membuat siwon geram.

"mianhe, kyuhyun-ssi karena kelancangan saya ini. Saya mendengar kau bertunangan dengannya jadi saya bermaksud untuk bercanda saja tadi." lirik siwon sinis pada hangeng yang menatapnya tajam. 'tapi tidak akan kubiarkan kau menikahinya, babykyu'

"gwenchana, siwon-ssi. Aku bisa memakluminya. Lain kali jaga sikapmu itu. Saya takut banyak orang yang akan salah paham dengan hubungan kita jika anda memanggil saya dengan panggilan seperti itu" terang kyuhyun lembut namun menusuk.

"sekali lagi, mianhae" ucap siwon sambil berpura-pura memasang wajah bersalah yang membuat hangeng dan changmin menatap takjub atas akting dari pemuda choi ini.

"tidak apa-apa, siwon-ssi. Ahh, sebentar lagi kami akan pergi. Apakah anda ingin tetap berada disini?"usir kyuhyun secara halus.

Siwon yang merasa bahwa tidak ada lagi yang harus dibicarakan akhirnya memutuskan untuk undur diri. Jika dilihat dari pandangan orang biasa maka mereka akan mengira jika siwon merupakan pemuda yang baik dan ramah. Namun, tidak untuk kyuhyun. Dia mengenal watak siwon yang sebenarnya. Sangat malah. Jujur saja, sebenarnya sedari tadi tangannya tak berhenti bergetar menahan ketakutannya. Tapi, dia tidak ingin memperlihatkannya pada siwon karena dia akan semakin senang jika mengetahui ketakutannya. Maka dari itu, dia berlagak tenang dihadapan siwon.

Greppp

Tangan kyuhyun yang gemetar itu tiba-tiba saja digenggam oleh sepasang tangan dari namja disebelahnya. Namja itu tersenyum lembut membuat tangan kyuhyun berhernti gemetar. Entah kenapa pandangan dari namja itu membuat hati kyuhyun yang tadi gundah menjadi sedikit tenang. Kyuhyun pun membalas genggaman namja itu.

"minnie. Tenanglah, aku masih bisa menghadapinya. Gwencana" bisik kyuhyun

"arraseo. Tapi jangan memaksakan dirimu ne. Nanti penyakitmu kambuh lagi. Kalau itu sampai terjadi, aku akan langsung membunuh si tuan choi itu" ancam changmin

Entah sudah sejak kapan changmin duduk disebelah kyuhyun. Yang penting sekarang ini dia sangatlah khawatir terhadap kyuhyun. Dia tau betul bagaimana kondisi kyuhyun sekarang. Sangat tak mungkin baginya untuk bersikap acuh terhadap namja disampingnya itu. Changmin tau kalau kyuhyun sedang berbohong sekarang. Bila kyuhyun berkata gwencana, maka ucapannya itu adalah kebalikaan dari kondisinya saat ini.

Kyuhyun hanya diam terpaku ditempat. Sepertinya dia tak tau harus berekspresi seperti apa sekarang. semuanya bercampur menjadi satu. Kedatangan siwon benar-benar berpengaruh besar untuk kyuhyun. Jujur saja, jika disampingnya tidak ada hangeng dan changmin. Entah apa yang akan dilakukannya. Tiba-tiba, pandangan kyuhyun menggelap dan tidak lama kemudian dia terjatuh kearah changmin yang disampingnya membuat kedua pria tersebut terkejut. Terlihat kecemasan diwajah changmin melihat kondisi kyuhyun sekarang. Hatinya mencelos dan merasa amat bersalah pada kyuhyun. Dia merasa ini semua adalah salahnya. Dengan segenap tenaga dia membopong kyuhyun pergi dari sana meninggalkan hangeng yang melihat mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

"apakah yang kulakukan ini sudah benar ?"

.

.

.

Beralih ke sebuah ruang yang serba putih itu, disana terbaring seorang namja tampan yang didampingi namja tampan lainnya yang menatapnya sendu. Terdengar lenguhan dari namja yang terbaring itu, sontak membuat namja tampan itu sedikit terkejut.

"Eughhh.." erang kyuhyun

"kau sudah sadar kyu?" tanya changmin

"ne, ini dimana minnie?" tanyanya

"ini di RS kyu. Kau kambuh lagi. Apa kubilang, kau jangan memaksakan dirimu! Lihat sekarang! Kau nge-drop lagi! Dan aku sudah tidak tahan lagi, sesudah ini aku akan membunuh si tuan choi itu!" ucap changmin

"jangan minnie"

"kau tau kan kalau aku tak akan pernah mengingkari ucapanku kecuali ada suatu alasan yang logis untuk membatalkannya"

"tapi minnie..."

"tak ada tapi-tapian kyunnie"

"ahhh.. arraseo.. lakukanlah minnie.. tapi ingat, bila kau melakukannya.. siap-siaplah kau kubenci dengan segenap hatiku.." ancam kyuhyun secara halus namun dapat membuat changmin berpikir lebih keras untuk itu

"mwooo! Ya! Jangan seperti itu kyunnie! Kalau kau membenciku maka secara tak langsung kau membunuhku"

"memang itu tujuanku"

"ya! Kyunnie! Kau tega sekali~"

"makanya jangan memikirkan hal yang tidak-tidak seperti itu"

"hahhhh. Baiklah.."

"minnie~ aku ingin pulang.."

"tap.."

"kau taukan aku tidak suka suasana RS. Ayolah minnie~"

"ne.. aku tau.. tapi ini semua demi kebaikanmu juga kyunnie. Bersabarlah sebentar. Paling tidak bertahan disini selama 3 hari penuh saja. Arra?"

"mwoo? 3 hari? Yang benar saja.. ayolah minnie~ bawa aku pulang ya ya ya" ucap kyuhyun sambil mengeluarkan puppy-eyes nya yang sangat imut itu

"ani.. tak boleh.."

"minnie~..."

"hhh.. memang susah berhadapan dengan si evil kyeopta satu ini. Ya sudah, kita pulang sekarang. Tapi..."

"tapi apa minnie-ah?"

"poppo~"

"aishh kau ini.. ya sudah.."

Chu

"Sudah.. palliwa minnie.." rengek kyuhyun sembari menyembunyikan rona merah yang sudah bertebaran diwajahnya.

"khkhkkhkhkhk... ne.. geure.. kita pulang kerumah"

Disaat yang bersamaan pula hangeng tengah berjalan menuju yeojwa stream. Sesekali ia mengamati pemandangan yang tersedia di sana. 'Indah' pikirnya. Dan bertambah indah pula pemandangan itu ketika sorot mata hangeng menemukan sesosok namja yang dia rindukan. Sudah lama semenjak hari itu dia tidak lagi merasakan kelembutan dan kasih sayang yang diberikan oleh namja itu. Air mata hangeng pun menetes keluar ketika henry memainkan violinnya. Dia teringat akan pertemuan pertama mereka yang juga hampir sama dengan situasi saat ini. Dia langsung jatuh hati kepada namja berpipi menggemaskan itu dan langsung mengejarnya, berhasrat untuk memilikinya. Namun sekarang, betapa sesak hati hangeng melihat sosok itu sekarang bukan miliknya lagi.

"mochi~"lirih hangeng saat melihat sesosok namja lain tiba-tiba memeluk namja yang dikasihinya dari belakang.

Hangkyung POV

Mochi.. kenapa kau bersamanya.. itulah yang kau pilih untuk kebahagianmu.. apakah tempatku sudah digantikan olehnya.. benarkah kau telah mengikhlaskanku?...

"mochi~" lirihku menahan sesak melihat namja yang amat kusayang itu.

Henry menolehkan kepalanya melihatku dan terkejut akan kehadiranku. Matanya membelalak dan dengan cepat dia melepaskan pelukan namja itu. Wajahnya seketika pucat dan diam terpaku.

"hyung? Sedang apa hyung disini?" tanyanya dengan kaku

"aku hanya ingin refreshing saja. Kalian sedang kencan ya?" tanya ku dengan nada yang menggoda dan mungkin sedikit ada kesan paksaan disana.

"ti.. tidak hyung.. kami sama sepertimu hyung, refreshing" ucapnya dengan kaku dan kikuk.

"oh, baguslah kalau seperti itu. Bisakah kau memainkan lagi violin itu?" tanyaku

"ne.. tak apakan mimi ge?" tanyanya kepada zoumi. Sejak kapan ia memanggil zoumi dengan panggil manis itu?

SESAK

Dadaku sesak saat melihatnya meminta izin kepada zoumi sembari memberikan tatapannya yang setahuku hanya untukku seorang. Tapi sekarang, tatapan itu bukan hanya untukku saja, melainkan untuk semuanya. Kau sudah berubah mochi. Dan semua itu sama persis dengan permohonanmu waktu 'itu'

"ne, tak apa. Tapi, sepertinya aku tak bisa berlama-lama lagi. Aku masih ada urusan dikantor. Tak apakan kau hanya berdua dengan hangeng hyung disini?" tanya zoumi memamerkan senyum mautnya

"a.. tak apa mimi ge.. hati-hati ya mimi ge.."

Cup

Deg deg deg...

Ini.. ini tak dapat kupercaya..

bibirnya..

.

.

Mochiku..

.

.

mencium zoumi.. yah, walaupun hanya dipipi.. tapi.. ini sangat.. sangat...

"ne.. kau juga.. telpon gege saja bila kau ingin pulang. Aku akan menjemputmu. Oh ya hangeng ge, titip henry dulu ya.."

"ya! Ge.. aku bukan anak kecil lagi"

"geure.. Jangan nakal ne, henly-ah" ucap zoumi sambil melenggang pergi entah kemana. Ekspresi kecewa terlukis jelas diwajahnya. Seperti anak kecil yang dititipkan ibunya ke tempat penitipan anak. Hah.. mengapa dia kecewa ya? Masa iya sih ditinggal zoumi aja di langsung kecewa.. atau karena aku yang diibaratkan seperti tempat penampungan anak? Aish.. sungguh, aku sangat benci dengan ekspresinya sekarang.

"hyung.. kau mau aku memainkan lagu apa?" tanyanya padaku.

Chakamman..

Sejak kapan dia memanggilku hyung?

.

.

Ah... aku ingat sekarang. Sejak dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, dia mulai memanggilku dengan panggilan formal itu. betapa hancurnya perasaanku waktu itu. bahkan dia juga menyuruhku untuk memanggilnya saeng. Cih.. mana mungkin aku akan menurutinya. Sampai sekarang pun aku tetap memanggilnya mochi.

"terserah kau saja mochi. Bisakah kau memanggilku seperti dulu mochi?" pintaku. Awalnya dia sedikit terkejut atas pertanyaan bodoh ku itu. Tapi tak lama kemudian dia tersenyum. Senyum yang amat aku rindukan.

"ani hyung. Aku tak bisa. Aku akan memulai permainan violinku" ucapnya yang sedikit membuat dadaku sesak kembali. Kenapa semua seperti. Apakah ini yang kudapat atas semua yang telah kuperbuat saat 'itu'.

"ne, tak apa. Kau bisa memulainya sekarang"

Henry pun mulai menggesekkan (?) violinnya, mengalunkan nada-nada yang mnenggugah (?) hati. Sungguh, ini mengingatkanku pada saat pertama kali kami bertemu. Air mataku keluar dengan sendiri. Menikmati permainannya yang sekian lama tak kudengar. Menangis dalam diam, itulah yang kulakukan. Andai aku bisa memutar waktu, ingin rasanya kembali kemasa-masa itu. Masa yang sangat membahagiakan untuk kami.

Permainannya sudah berhenti beberapa menit yang lalu, tapi tetap saja air mataku keluar dengan sendirinya. Sungguh memalukan, seorang namja tengah menangis di musim yang indah ini.

"hyung, gwencanayo?" tanyanya

Ingin sekali aku menjawab pertanyaan itu. Tapi tak tau kenapa sekarang lidahku keluh untuk mengucapkan kalimat itu. Aku terus saja menangis sampai dia memeluk tubuhku memberikan ketenangan agar aku berhenti terisak.

"hyung .. uljima.. tapi bila kau sedang ada masalah, menangislah. Sampai hatimu lega. Memang menangis bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah, tapi dengan menangis setidaknya dapat mengurangi beban yang ada dipundakmu dan kesan lege di hatimu. Tenang saja hyung, aku akan selalu ada disaat kau membutuhku hyung..."

Mochi.. kau selalu tau apa yang aku inginkan.. kau sangat perhatian mochi.. tapi mengapa perhatianmu itu membuatku tambah merasa bersalah. Aku tau mochi, semua yang kau ucapkan bukankah selalu terjadi padamu. Dan aku sangat tau kalau akulah yang menyebabkanmu menderita.

"Bukankah sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga? Jadi, kau tak perlu sungkan kepadaku" lanjutnya

Keluarga? Ah.. aku lupa.. beberapa minggu lagi aku akan menikah dengan kyuhyun.. semoga, 'rencana' kami akan berhasil.. tunggu saja mochi..

"gomawo mochi.. gomawo.. jeongmal gomawo..." ucapku tulus.

Tes..

Tes..

Tes..

Dapat kurasakan beberapa tetes air jatuh kepundakku. Bisaku kutebak kalau henry juga menangis saat ini. Apakah henry juga memiliki beban sepertiku? Apakah semua ini salahku sehingga membuatmu menjadi seperti ini? Jangan menangis seperti ini henly-ah.. kau membuatku bersalah akan keputusan yang aku ambil.. Masih dapat kuingat saat terakhir kali kau menangis tersedu-sedu pada hari 'itu'.

Flashback on

Setelah permainan TOD, kami pun pergi kekamar masing-masing untuk melepas rasa lelah setelah seharian penuh tenaga kami terkuras. Tapi sebelum aku kekamarku, aku lebih memilih ketaman belakang villa sekedar menghirup udara segar. Hah, memang sangat berbeda dengan dengan di kota.

"hiks.. hiks.. hiks.. hiks.."

Suara tangisan? Aneh, masa sih masih ada orang yang menangis malam-malam. Penasaran dengan siapa yang menangis tersebut, aku pun berjalan ke sumber suara. Dapat kulihat wajahnya samar-samar karena penyinaran di taman ini sangatlah minim. Semakin kupasati wajah, semakin sakit pula hatiku saat mengetahui siapa orang yang menangis itu.

.

.

.

'Mochi.. Kenapa kau menangis?'

.

.

.

TBC

.

.

.

emm, buat readers sekalian.. ne ff di publish ulang.. oleh saya tentunya.. dan ini asli punya saya.. berhubung ffn saya yang satunya nggak bisa dibuka, maka saya republish ff ini.. yah semoga kalian tak kecewa..

Don't Be Silent Readers ne...