Kurshitsuji punya Yana Toboso

Tapi hak cerita punya saya. wkwkkw.


Mr. Sadness

.

.

.

"Tapi aku mencintaimu!"

Kata terakhir Sebastian cukup membuat Ciel terdiam. Sambil menatap mata Sebastian, Ciel mencari sebuah kesalahan untuk memakinya lagi karena Sebastian berbohong. Tapi tidak ada keraguan dalam mata merah darahnya. Saat itu juga wajah Ciel memanas, jantungnya terasa sesak, dan ingin rasanya Ciel membalikan waktu supaya ia tidak bertanya soal teman jika ujungnya begini.

*09*

Sebastian dan Ciel sudah sampai di rumah kediaman mereka. Dengan buru-buru dan kasar, Ciel membanting pintu mobil. Sebastian yang merasa kesal dengan sikap Ciel pun mengejar dan mencengkram tangan Ciel. Tapi Sebastian hanya ingin Ciel menjelaskan kenapa dia begitu marah hanya gara-gara dia menyatakan cintanya?

"Lepaskan aku,bodoh!" Ciel meronta-ronta.

"Apa karena aku bilang mencintaimu, kamu jadi marah? Apa itu sebabnya?"

Ciel menatap Sebastian yang sangat serius ingin tau. Ingin tau yang mana? Pernyataan cintanya ataukah kenapa dia marah kepadanya? Ciel benar-benar tidak ingin menjawabnya karena memang dia merasa tidak ada yang menyukainya. Apa lagi mencintainya.

"Iya. Jangan pernah ucapkan itu padaku lagi karena aku tidak mungkin mencintaimu, bodoh! Kau itu menyebalkan, pervert, pedofil dan juga…" Ciel tidak bisa mengatakannya karena pelayannya satu-persatu datang karena mendengar ribut-ribut. "…dan juga…Argh! Lepaskan aku! Kau gila!"

Ciel melihat tatapan sedih atau lebih tepatnya tatapan terluka kakaknya. Entah kenapa hati Ciel pun sakit ketika mengucapkan itu. Kata-kata Ciel pun membuat Sebasian melonggarkan cengkramannya, dan itu tidak di sia-siakan Ciel. Ciel melepaskan tangannya dan berlari kekamarnya. Si mata ruby hanya melihat punggung bocah kecil itu dengan hati bergemuruh.

Si pria berambut hitam pekat dengan langkah gontai pergi kekamarnya, membanting tubuh jangkungnya ke kasur, dan memejamkan matanya. Semua memori Sebastian pun terputar di kepalanya.

Sejak ia lahir, ia belum sempat mendapatkan kasih sayang ayahnya. Semua pikiran ayahnya tertuju pada pekerjaannya saja. Bahkan, ketika kecil dimana saat-saatnya seorang anak kecil ingin dibanggakan ayahnya dengan prestasi, ayahnya sama sekali tidak menunjukan senyumnya. Sebastian ingat benar, ketika SD, dia selalu jadi nomor 1 disekolah. Bahkan dia mendapatkan piala untuk prestasinya. Tapi semuanya terasa sia-sia ketika ayahnya tidak pernah sekalipun datang ke acara sekolah untuk melihatnya mendapatkan piala itu. Lebih sia-sia lagi ketika ia dengan bangga menunjukan itu kepada ayahnya, ayahnya sama sekali tidak menggubris perkataannya. Ucapan selamat pun tidak pernah. Tapi saat itu ada ibunya yang menyemangatinya.

'Angel, daddy tidak bangga.'

'Tenang, nak. Mama bangga padamu.'

Angel merupakan panggilan sayang Sebastian pada ibunya. Bukan karena namanya Angelina, tapi lebih kepada menganggap ibunya seperti malaikat. Bagaimana tidak? Ibunya sangat baik dan mencintainya. Tidak seperti ayahnya. Tapi meskipun begitu, orang dingin itu tetap ayahnya. Meskipun Sebastian kecewa, tapi dia tetap mempunyai kewajiban menyayangi ayahnya.

Bukan hanya itu yang membuat Sebastian kecewa. Dia juga ingat betul ketika ibunya menangis. Dan tau kenapa? Meskipun ibunya tidak bilang, Sebastian tau jika ayahnya mempunyai selingkuhan. Terlebih lagi selingkuhannya itu adalah orang yang sangat dicintai ayahnya. Apa lagi ini? Setelah jadi anak yang tidak diinginkan, ayahnya juga menyakiti perasaan Angel-nya. Ayahnya juga tidak tanggung-tanggung memaksanya mempelajari bisnis waktu kecil supaya Sebastian menjadi penerus sempurna. Sedih? Tentu saja! Mana ada anak yang bahagia ketika ayahnya, super hero yang dijadikan panutan, tidak memandangnya sama sekali? Sakit? Sangat!

Karena tekanan yang berat mengingat ibunya yang menikah dengan ayahnya karena perjodohan dan mencintai ayahnya tapi bertepuk sebelah tangan, ibu yang sangat dicintai dan mencintainya pun sakit-sakitan. Selama itu Sebastian sangat rajin menemani ibunya yang tidak bisa bangun untuk berjalan. Dia mencurahkan semua cintanya untuk Angel tercintanya. Tapi kesehatan ibunya semakin memburuk. Tapi Sebastian tetap mengingat pesan ibunya disaat sekarat.

'Sebby sayang. Kalau nanti mama sudah tidak ada, ingat baik-baik. Jadilah anak baik meskipun daddy tidak mendengarkanmu, kamu harus tetap mendengarkannya. Meskipun dia tidak menyayangimu, kamu harus tetap menyayanginya. Karena, meskipun dia bersikap buruk padamu, daddy tetaplah daddy kamu. Kamu boleh kecewa, kamu boleh marah, kamu juga boleh menangis. Tapi ingat, dia tetap ayahmu, tidak akan berubah meskipun dia mati sekalipun. Jadi jangan pernah membencinya. Ingat apa yang diajarkan Tuhan? Tidak boleh marah lebih dari matahari terbenam. Kau pasti bisa melakukannya, karena kamu kuat.'

Kematian ibunya menjadi pukulan berat bagi Sebastian. Kesedihan dan kekecewaannya bertambah hari demi hari. Tapi ia mencoba terus menerapkan ajaran ibunya karena itu memang benar. Cobaan membuatnya menjadi seseorang yang kuat. Hanya saja, itu semua berdampak pada kehidupannya yang lain. Sejak saat itu Sebastian berhenti menangis, menutup hatinya pada cinta untuk orang lain. Terutama pada wanita karena semua cintanya pada wanita sudah dibawa ibunya. Sebastian juga hampir ingin menyakiti dirinya dengan alkohol, narkoba kalau saja dia tidak ingat itu hal sia-sia dan jauh dari harapan ibunya, dia memilih melampiaskan kesedihannya dengan tidur atau memasak.

Sebastian mulai menata hidupnya dengan menanggulangi kesepiannya dengan memasak, belajar, bergaul, dan mendapatkan prestasi yang lebih. Karena, ada kesenangan melakukan itu dan mendapatkan cinta sekelilingnya. Namun suatu hari dia dikenalkan oleh ibu baru dan adik baru. Saat pertama melihat Ciel, dia tau anak itu punya hal berat sama sepertinya. Dia menyayanginya karena anak itu pasti tidak merasa disayang siapapun. Kemudian melihatnya disayang ayah, hati Sebastian seperti tergores ribuan pisau. Sakit. Dia ingat jika dia merupakan anak yang tidak diinginkan. Tapi itu tidak penting lagi, dia ingin sekali berteman dengan adik barunya itu. Tapi rencananya tidak seperti yang dibayangkan. Ciel merupakan anak yang dingin dan berharga diri tinggi.

"Hei pendek, mau mencoba masakanku?"

"AP-APPPPAAAA? Kau bilang apa?! Ayo coba katakan lagi!"

"Errrr….mau mencoba masakanku?" Sebastian mencoba mengulang pertanyaannya lagi dengan tidak lengkap seperti yang disuruh bocah kelabu itu.

"Tidak! Tidak! Yang sebelumnya!" Perintah Ciel.

"Hei?"

"Kau ini bodoh, ya? Sesudah hei tadi apa kau bilang?" Tanya Ciel naik darah.

"Ah! Eh?" Sebastian terdiam mengingat kata-katanya barusan. "Pe-pen…dek?"

"Ya itu! Jangan mengtang-mentang kau itu jangkung jadi seenaknya memanggilku pendek! Ingat itu!" Maki Ciel.

Sebastian merasa adiknya ini sangat manis. Dia pun lucu ketika dibuat kesal karena cepatnya dia naik darah. Sebastian tidak pernah marah pada Ciel, kalau ada pun itu Cuma karena Ciel tidak menghabiskan makanan atau ketika dia menjadi pemberontak pada orang tua. Tapi selebihnya dia menyayangi Ciel. Sangat! Itu membuatnya makin hari semakin menyukai Ciel. Namun suatu hari dia menyadari bahwa perasaannya itu bukan lagi sayang terhadap adik. Tetapi lebih dari itu.

Hampir tiap hari ia mengutuki diri sendiri karena dia mencintai anak kesayangan ayah. Dia menerka-nerka apa jadinya dia jika ketahuan punya kelainan menyukai sesama jenis, adiknya, bahkan adiknya itu anak kecil. Dia pasti diusir dari rumah karena menyebarkan virus sesat. Padahal kalo boleh memilih, dia juga tidak mau. Tapi semakin ingin dilupakan, Ciel semakin masuk kedalah hatinya. Tapi melihat adiknya yang merasa tidak disayang orang lain, itu membuat Sebastian tidak sengaja menyatakan cintanya. Mungkin Sebastian bisa mengerti jika Ciel menolaknya dengan cara lain. Kemudian…itulah kesakitan ke-3 dari mencintai seseorang. Dan bagaimana pun dia tidak bisa berhenti mencintai orang yang menyakitinya. Mungkin terdengar bodoh. Tapi lebih bodoh lagi jika Sebastian membenci dan menyalahkan mereka. Karena jika larut kedalamnya, Sebastian pasti akan melakukan hal yang lebih bodoh lagi. Sebastian percaya, jika ia terus mencintai orang yang dia cinta dengan tulus, mereka akan lumer. Dan cinta akan membawanya dalam kebahagiaan yang mewarnai hidupnya. Entah berapa lama ia harus menanti.


Gaya bahasanya lama2 mulai beda ya...

ya sudahlah~