Mr. Medicine
.
.
.
Kala itu, Ciel yang mengurung diri di kamar merasa tidak enak karena telah membuat kakaknya seperti itu. Itu kali pertamanya dia melihat kakaknya begitu sedih dengan ucapannya yang kasar. Hatinya bimbang diantara apa ia mau meminta maaf atau tetap pada pendiriannya. Mungkin kata-kata Sebasitian membuatnya shock, tapi dia seharusnya lebih tenang menghadapinya. Tapi…itulah yang membuatnya heran. Kenapa di depan Sebastian, dirinya tidak bisa tenang seperti biasanya. Ciel berpikir Sebastian sok tau seakan-akan tau kesedihannya. Bagaimana mungkin orang yang selalu tertawa, banyak bicara, punya banyak teman dan memiliki segalanya merasakan kesepian yang dia alami? Cinta? Dia sudah menutup hatinya. Bahkan dia sudah lupa bagaimana rasa dicintai.
"Bagaimana bisa laki-laki mencintai laki-laki juga?"
Ciel berpikir keras mengenai itu. Dengan wanita saja Ciel belum pernah merasakan cinta. Apa lagi dengan sesama laki-laki? Tapi ada hal yang Ciel mengerti soal cinta. Cinta itu gila. Ya gila…dan cinta hanya membuatmu terluka. Dia pernah terluka. Itu membuatnya mengeluarkan ingatannya yang akhirnya meluap.
"Daddy mencintaimu, nak."
"Apa ini yang dia bilang mencintaku, mom? Setelah dia tidak pernah pulang dan meninggalkan aku dengan julukan 'anak haram', lalu kita harus kerumahnya? Dan aku punya kakak dari istri dahulunya?" Ciel menatap ibunya dengan penuh luka. "Apa ini yang dibilang cinta setelah dia menghancurkan perasaanku berkeping-keping?"
"Tapi—"
"Sudahlah, mom. Aku mengikutimu jika itu membuamu senang, tapi, jangan berharap aku bisa mencintai orang itu seperti mom."
SHESSHHH….
"Eh? Hujan?"
Ciel membuka jendela kamarnya, dan membiarkan dirinya basah terkena hujan. Air matanya yang sudah mengering diwakili oleh hujan. Sakit….tapi perasaan itu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Karena percuma, tidak ada yang mengerti sakitnya. Sekilas Ciel menyunggingkan senyum terlukanya pada langit malam bercahaya bulan itu. Dia merasa cinta itu tidak ada. Benarkah?
"Lepaskan adikku! Atau kau akan mati, sialan!" Sebuah pistol Sebastian ambil dari kantongnya.
"Hooo…ternyata hanya seorang Romeo yang datang? Mana orang tuamu? Dia seharusnya membawa tebusan. Bukannya anak kecil yang sok berani memegang pistol."
"Orang tua kami terlalu sibuk mengurusi sampah sepertimu." Kata Sebastian dengan wajah tak berekspresi. "Lepaskan adikku. Sekarang! Kalau tidak…"
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak…" Sebastian menggerakan pistolnya dan menembak salah satu pengikut penculik itu tepat di kepala.
"Itu sudah lama, tapi kenapa aku mengingatnya?!"
"Ciel, mau kue? Aku baru membuatkannya. Kau suka makanan manis kan? Aku khusus membuatkannya untuk adikku yang manis!"
"Itu bukan cinta kan? Itu hanya tugas seorang kakak." Ciel menyangkal pikirannya.
"Tapi aku mencintaimu!"
Ciel tidak memberi penyangkalan lagi. Pikirannya melayang sampai ia menyadari jika itu semua hanya kebohongan. Selama ini yang membuatnya bertahan menanggung beban adalah rasa bencinya. Yang membuatnya terus melangkah meskipun terluka, meskipun lukanya secara perlahan menggerogoti jiwanya. Membenci memang melelahkan, tapi jika hanya terpuruk menerima keadaan, dia akan menjadi orang cengeng. Dan itu merupakan kelemahan. Ciel hanya ingin jika orang-orang yang pernah menjatuhkannya melihat jika tanpa mereka, dia bisa berdiri sendiri.
Itulah perbedaan Ciel dengan Sebastian. Sebastian melangkah dengan bijak sehingga Ciel tak pernah tau kesedihan terpendam seorang Sebastian. Sedangkan Ciel melangkah dijalan kegelapan dan membuatnya terlihat jelas dia menderita. Dengan begini, siapa yang harus disalahkan?
*09*
Hari sudah menjelang siang ketika bocah berusia 13 tahun itu belum terbangun juga dari tidurnya. Tidak seperti biasanya Ciel bangun sangat siang. Padahal, jadwal hari itu sudah menumpuk. Berulang kali Sebastian, membangunkannya. Dan berulang kali juga bocah itu mengabaikannya. Sebastian tahu bahwa adiknya ini memang sangat lelah. Tapi tetap saja, ini bukan alasan mengapa bocah itu masih tidur sampai saat ini. Dia harus sekolah!
"Ciel sudah waktunya bangun. Ciel?"
"Ya ya ya, aku bangun Sebastian."
Bocah berambut grayish itu mencoba bangun dari tempat tidurnya. Tapi dia merasa begitu lemas dan berat untuk bangun. Melihat keadaan Ciel, Sebastian mendekat perlahan dan menempelkan keningnya pada kening Ciel. Saat itu Ciel yang terhentak kaget karena tindakan spontan dari kakaknya, mendorong dada Sebastian dengan tangan kecilnya. Seketika wajahnya merona dan sangat panas. Sebastian hanya tertawa menggoda.
"A-Apa yang kau lakukan?!"
"Sepertinya kau harus istirahat total hari ini. Kamu demam. Lihat wajahmu sudah sangat merah." Ciel menata kembali harga dirinya yang tadi sempat melemah. "Kalau begitu, sarapan dulu, baru kembali beristirahat." Ciel mengangguk. "Nih aku bawain Chocolate cake dan…."
"Aku mau susu dengan madu saja."
"Ah…begitu. Maaf aku tidak sempat. Nanti aku bertiahu Meyrin untuk membuatkannya. Kamu istirahat ya. Kuenya aku letakan di kulkas. Kalau mau, ambill saja." Sebastian membawa kembali kue dan teh yang tidak dimakan.
Ciel menarik kembali selimutnya. 'Dia sudah seperti biasa lagi. Syukurlah.' Batin Ciel. Eh? Syukurlah? Ciel terkejut dengan ucapannya tadi. Itu terdengar seperti…senang kan? Apa yang harus disenangkan dari sikap Sebastian yang kembali seperti biasa? Ciel mengacak-acak rambutnya mencoba untuk membuang pikirannya. Namun ia mencoba bersikap wajar ketika pintu kamarnya di ketuk seseorang.
Orang itu Meyrin, pelayan keluarga Phantomhive yang ceroboh. Terlihat dari cara ia memegang nampan dengan gemetar ke kamar Ciel. Ciel hanya menghela nafas.
"Taruh disitu saja." Meyrin meletakan nampan berisi teko susu, madu, cangkir, air putih dan obat di meja dekat tempat tidur Ciel.
"Ba-baik, Bocchan."
"Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu." Ciel mencoba duduk dan mengambil susu madu yang Meyrin letakan di meja kamarnya.
"Ah ya, Bocchan, jangan lupa minum obatnya. Semoga lekas sembuh."
"Ya."
Setelah meminum susu, Ciel kembali tertidur. Di sisi lain, Sebastian yang sedang berkuliah ingin cepat pulang. Dari tadi dia melihat jam tangannya seperti orang sibuk itu membuat risih teman dekatnya, Agni. Agni tahu jika adik temannya itu sedang sakit. Sebenarnya wajar kalau dia khawatir. Hanya saja….Sebastian seperti seorang ayah yang khawatir anak perempuannya sedang sakit. Tapi ini berbeda, jadi kata lebih tepat adalah brother complex!
Pelajaran selesai, Sebastian buru-buru membereskan bukunya dan dengan cepat ia berjalan. Agni menarik tas Sebastian supaya ia tidak buru-buru pulang.
"Hei, santai saja kawan. Jadi kau tidak masuk pelajaran selanjutnya?"
"Tidak. Tolong bilang kalau aku izin." Sebastian berlari menuju parkiran untuk mengambil mobil. Ia langsung melesat pergi.
*09*
Sebastian akhirnya sampai dirumah. Dia langsung berlari ke dapur, rencananya sih untuk memasak. Bard sang koki keluarga Phantomhive agak kaget melihat tuannya sudah pulang dan terlihat buru-buru karena tak biasanya jam segini tuannya itu pulang.
"Ciel sudah makan?"
"1 jam yang lalu sudah, tuan."
Karena Ciel sudah makan, Sebastian mengurungkan niatnya untuk memasak kemudian menuju kamar Ciel. Ia tersenyum melihat Ciel yang tertidur. Ternyata dia tidak apa-apa. Sepertinya dia terlalu mengkhawatikan adiknya. Padahal dia tau adiknya itu kuat.
"Obatnya tidak di minum? Selalu susah disuruh minum obat." Ciel terbangun dari tidurnya dan mendapati Sebastian duduk di sampingnya. "Gimana keadaanmu?" Ciel diam tak menjawab. "Obat belum diminum bagaimana bisa sembuh? Ayo minum dulu." Pinta Sebastian.
"Tidak. Obat itu tidak enak."
"Kau mau sembuh tanpa minum obat?"
" Memangnya ada?" Jawab Ciel kesal.
"Kalo gitu tularin sakitmu padaku."
"Bodoh!" Ciel membuang muka dari Sebastian. Wajah yang manis ketika kesal membuat Sebastian tertawa sambil mendekati Ciel.
"Hei siapa yang mengizinkanmu naik ketempat tidurku?!"
"Aku hanya ingin menyembuhkanmu."
Sebastian terus mendekati Ciel yang terbaring, menatap sejenak wajah manis yang kelihatan marah sambil tersenyum lalu mencium bibir Ciel. Tapi ciuman itu tidak disambut baik oleh Ciel dengan mendorong Sebastian menjauh dan meronta, tapi karena sakit kekuatannya lemah, tapi Sebastian memperdalam ciumannya, menjilat bibir Ciel karena Ciel tidak membuka mulutnya.
Ciel yang meronta-ronta sekarang hanya bisa diam kehabisan udara. Sebastian menghentikan ciumannya sebentar, melihat Ciel mengap-mengap (?) Sebastian tersenyum dan menciumnya lagi. Kali ini ia memasukan lidahnya dan menyerang lidah Ciel.
Tepat Sebastian menghentikan ciumannya, handphonenya berdering. Ia bangun dari kasur Ciel dan menjauh sedikit untuk menjawab telpon tanpa tau sekarang wajah Ciel memerah. Suhu tubuhnya yang panas menjadi lebih panas setelah kejadian tadi. Apanya yang menyembuhkan? Justru demamnya semakin naik. Nafasnya pun masih tersengal-sengal.
KRIIINNNGGGG...
"Ah maaf tadi ada telpon dari perusahaan." Ciel tidak merespon pernyataan Sebastian. "Ciel?"
"Kau bodoh! Mana mungkin itu bisa menyembuhkan?! Bilang saja kau mencari kesempatan!"
"Ara~ ketahuan." Sebastian tertawa. "Tapi lihat saja nanti. Kau pasti sembuh."
