Vanila lathelo : Hehehe….Sebastian memang pedo. #plaaakkk

Koutaniwavian: Vian, kamu juga ngepos lah~~ tenang aku lanjutin

HakuneAn: masa? Aduh makasih. :') aku terharu deh~

Kuroshitsuji punya Yana Toboso

Tapi cerita nista dan ancur ini karya saya. T_T

Typo maybe happen. 0.0

Mr. Checkmate

.

.

.

Ciel tertidur pulas setelah makan malam dan meninum obat, dengan sayang Sebastian menarik selimut Ciel sampai ke leher dan meninggalkannya tidur sambil membawa troli bekas makanan tadi ke dapur lalu menyerahkan piring kotor pada Meyrin. Kemudian ia pergi ke kamarnya sendiri, merebahkan tubuhnya yang lelah pada kasurnya yang besar dan lembut. Wajahnya memerah dan tersenyum mengingat tadi akhirnya ia merasakan bibir mungil adiknya, ia tahu bahwa adiknya mempunyai perasaan juga kepadanya karena awalnya menolak, namun ia menyambut ciumannya juga meskipun ada telpon yang membuatnya memberhentikan ciumannya. Sebastian ingin melanjutkan perjuangannya meraih cinta Ciel yang telah ia lakukan sejak ia masih kecil, meskipun ia tahu resiko dari perbuatannya yang bukan hanya akan membuatnya kehilangan harta namun juga dibuang dan di penjara mungkin? Ia memejamkan mata untuk berpikir sampai tak terasa ia belum tidur juga hingga tengah malam.

Namun pikiranya buyar ketika ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Sebastian melangkah menuju pintu dan mendapati Tanaka, kepala pelayan rumah mereka, dengan wajah serius. Sebastian tahu bahwa itu bukanlah kabar baik yang akan disampaikan.

"Goshujinsama…maaf mengganggu." Tanaka merunduk.

"Tidak apa-apa. Ada hal penting yang ingin kau bicarakan kan? Ayo masuk." Sebastian mempersilahkan Tanaka masuk, lalu Sebastian duduk di pinggiran kasurnya. "Jadi ada apa?"

"Begini, goshujinsama, pesawat yang ditumpangi Vincent-sama dan Rachel-sama…kecelakan."

Sebastian terdiam, hatinya shock mendengar kabar buruk tersebut. Mungkin Sebastian suka kesal dengan ayahnya, tapi ia tetap menyayangi ayahnya yang masih baik tidak membuangnya meskipun dia tidak menginginkan Sebastian. Makanya ini adalah berita yang sangat mengejutkan! Hanya saja, entah mengapa rasanya berbeda ketika ia di tinggal ibunya dulu? Mungkin ia sudah terbiasa dengan kematian…. Tapi bagaimana dengan Ciel?

"Ciel….Ciel sudah tau?!" Tanya Sebastian panik.

"Ya, goshujinsama. Bocchan sudah di beritahu oleh saya."

"Terus bagaimana?"

"Bocchan sekarang sedang menyendiri dikamarnya."

"Begitu…" Sebastian terdiam. "Tanaka, tolong urus kasus ini. Apa yang menjadi penyebab pesawat itu bisa kecelakaan. Kalau memang ada unsur kesengajaan, bunuh mereka yang membuat semua ini. Jika mereka berkeliaran, bisa jadi Ciel akan menjadi target selanjutnya."

"Baik, goshujinsama."

Tanaka membungkuk kemudian pergi keluar. Beberapa menit setelah Tanaka pergi, Sebastian memutuskan untuk pergi ke kamar Ciel lagi, ia tidak tahu bagaimana perasaan Ciel sekarang sebelum melihatnya. Diketuknya pintu kamar Ciel namun tak ada jawaban, Sebastian berinisiatif membuka pintu. Ia menemukan Ciel sedang mojok (?) dalam kegelapan dekat jendela. Melihat itu, Sebastian mengambil selimut dan menghampiri Ciel lalu menyelimutinya.

"Ciel?" Ciel tak menjawab sepatah kata pun sambil terus memandang langit dari jendela yang ia buka. "Kau pasti sangat sedih daddy dan mom…" Sebastian tak meneruskan kalimat itu. "Tapi ada aku disini, apapun yang terjadi, aku akan melindungimu."

Ciel menengok ke arah Sebastian dengan pandangan dingin seperti biasanya. Tatapan matanya masih sama seperti biasa, tak ada ke khawatiran ataupun bekas menangis.

"Jangan bercanda. Aku tidak sedih seperti yang kau pikirkan."

Sebastian terdiam. Ia tahu adiknya sebenarnya punya perasaan sedih sedikit, hanya saja ia tidak mengerti kenapa adiknya itu menyembunyikannya. Apa salahnya sedikit terlihat lemah di depannya? Bagaimana pun juga ia adalah kakaknya, juga orang yang mencintainya. Sebastian justru berharap Ciel mau berbagi kesedihannya.

"Baiklah." Sebastian tersenyum. "Kamu masih sakit, membuka jendela akan membuatmu kedinginan dan malah membuat penyakitmu kambuh, apa tuh yang dari batuk-batuk terus muntah?"

"Berisik. Aku malas mengingatnya." *padahal authornya yang lupa. ==*

"Begitu. Yaudah ayo tidur." Sebastian mengangkat Ciel ala bridal style, untuk pertama kalinya Ciel tidak mengamuk untuk disentuh malah dia melingkarkan tangannya di leher Sebastian dengan erat.

Sebastian lalu merebahkan Ciel di kasurnya dan menyelimutinya lagi. Kemudian berjalan ke arah jendela untuk menutupnya.

"Berjanjilah, jangan pernah meninggalkanku ataupun mengkhianatiku! Karena…hanya kau yang kumiliki sekarang." Ucap Ciel tanpa ekspresi sambil memejamkan matanya.

"Tentu. Aku sudah bilang bukan, jika aku mencintaimu? Tentu itu sudah menjadi tugasku."

"Tch…" Ciel kesal mendapat jawaban seperti itu. "Temani aku tidur. Aku….takut." Ciel mengatakan 'aku takut' nyaris tak terdengar. Ia berharap Sebastian tidak mendengar kata-kata itu.

Sebastian tersenyum lalu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Ia juga merebahkan tubuhnya di kasur sambil menghadap Ciel yang cepat sekali tertidur, menatap Ciel yang semakin manis jika tidur. Hanya saja kali ini berbeda, Ciel terlihat sedih ketika tidur seolah-olah ia sedang bermimpi buruk. Sebastian pun memeluk Ciel penuh sayang.

"Aku disini, di sisimu. Dan aku tidak akan pergi kemana pun."

*09*

Matahari semakin terang, sinar-sinar terang mereka mulai memasuki celah-celah jendela, burung-burung pun mulai bernyanyi menandakan mereka bahagia. Ciel membuka mata perlahan ketika ia merasakan tubuhnya begitu hangat, ia tau itu bukan suhu tubuhnya. Ciel terperanjat melihat Sebastian yang tidur memeluk tubuhnya, ia mendorong tubuh Sebastian hingga terjatuh.

Sebastian terbangun dan meringis kesakitan. Ia terkejut tindakan Ciel yang berani membuatnya terjatuh. Well, yeah….Ciel memang berani melawan kan ya? Sebastian ingin sekali mengomel pada Ciel tapi ia urungkan ketika melihat Ciel yang terduduk kaget dengan wajah merona.

"Apa yang kau lakukan hah?! Aku memintamu menemaniku, bukan memelukku, bodoh!" Teriak Ciel yang malah membuat Sebastian tertawa geli. Ciel malah heran kenapa Sebastian tertawa, apa mungkin Sebastian adalah seorang masochist? "Hei! Kenapa tertawa?!"

"Kau itu semakin manis ketika marah. Aku pernah bilang kan?" Sebastian melanjutkan tawanya. Wajah Ciel semakin merona, ia membuang muka dari Sebastian agar kakaknya yang maso itu tidak melihatnya.

"Tch…"

"Ciee….wajahmu itu merona. Kau mulai mencintaiku kan?"

"Diam!"

"Jujurlah~" Ucap Sebastian sambil mendekat. "Kalau tidak jujur…kau akan merasakan akibatnya lho~"

Sebastian semakin mendekat dan menindih Ciel, mereka saling menatap. Meskipun tatapan Ciel kelihatan bahwa ia merinding, Sebastian malah sebaliknya, ia tersenyum menang. Ciel yang menahan jantungnya yang berdebar membuang muka kembali, tangannya yang mungil mendorong pundak Sebastian supaya menjauh. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Sebastian yang melihat leher Ciel yang pucat dan mulus itu terekpos. Seperti melihat hidangan lezat, Sebastian menjilat bibirnya sendiri sebelum akhirnya ia menjilat leher Ciel. Tangan bocah berambut grayish itu mencengkram baju Sebastian, memejamkan matanya takut dan berharap kakaknya itu cepat menjauh karena jantungnya sudah sangat berdebar seakan ini meloncat keluar.

"Ayo katakan." Ucap Sebastian. Karena tak mendengar jawaban Ciel, ia melanjutkan bermain dengan leher Ciel. Mengecupnya dan memberikan kissmark disana membuat Ciel semakin mencengkram baju Sebastian.

"Ngh…lepas..kan."

"Akui jika kamu mencintaiku, aku pasti akan melepaskan." Sebastian membuat banyak kissmark disana menunggu jawaban Ciel yang sudah lama ia nanti.

"A-aku…ah…Sebas,,,hentikan!" Sebastian menghentikan akivitasnya dan menunggu. "Hemph…" Ciel menghela nafas panjang, ia berat mengucapkannya tapi jika tidak, ia tahu bahwa ia dalam posisi akan menguntungkan kakaknya yang mesum. "Aku mencintaimu."

"Ulangi. Kau harus menyatakannya dengan lembut dan sepenuh hati. Atau…"

"Iya iya!"

Ciel menatap kesal Sebastian dan wajahnya merona. Seumur-umur didalam hidupnya, ia mana pernah mengungkapkan cinta. Pada ibunya pun tidak pernah meskipun ia menyayangi ibunya. Sebastian juga bodoh, baru semalam mereka mendengar kabar buruk tentang kedua orang tua mereka, sekarang malah melakukan itu. Apa Sebastian sengaja melakukan itu untuk menghiburnya? Tapi kalau benar, ini benar-benar keterlaluan! Tapi kalau tidak…kenapa dia melakukan ini?

"Sebelumnya aku ingin bertanya." Sebastian mengangguk menyetujui untuk ditanyai Ciel meskipun ia sedikit bingung. "Kenapa kamu melakukan ini? Padahal keluarga kita masih dalam suasa duka."

"Kau sedih atas kematian orang tua kita?"

"Apa kau tidak?" Jawab Ciel dengan cepat.

"Jelas sedih."

Sebastian berhenti bermain dengan Ciel. Buru-buru Ciel menutup lehernya ketika Sebastian memanglingkan wajahnya dari Ciel.

"Tapi karena dulu Angel mati. Aku berpikir jika semua orang pasti akan mati, untuk apa terus bersedih? Sama seperti catur. Ketika raja kehilangan banyak tentaranya, meskipun sedih ia harus tetap berjuang mempertahankan hidupnya. Kau dan aku adalah rajanya dalam permainan hidup kita. Jangan sampai lawan membuat kita checkmate."

"Lawan? Ah…benar. Kita banyak musuh ya."

Sebastian membalikan wajahnya pada Ciel kembali dengean wajah kesal. Ia sudah dari tadi menunggu jawaban! Aura hitam keluar dari tubuh Sebastian, membuat Ciel sedikit ngeri dan menarik selimut menutupi tubuhnya sampai hidung karena ketakutan melihat Sebastian menghampirinya.

"A-aku tidak tau cinta itu apa." Jawab Ciel ragu.

"Cinta itu ketika kamu…."

Sebastian membuka selimut Ciel, menarik kerah piyamanya dan mencium bibir kecil Ciel yang ranum itu lembut. Ciel menutup matanya takut. Jantung mereka berdua berdebar seakan meronta ingin keluar dari rongga dada mereka. Sebastian menekan kepala Ciel dan memperdalam ciuman mereka. Ciel merasakan sensasi aneh ketika berciuman dengan kakaknya, itu seperti…ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasanya ingin lagi dan lagi. Ciel mulai menikmati ciuman Sebastian yang gentle, perlahan ia mengikuti permainan lidah Sebastian. Sebastian tersenyum kemudian melepaskan ciumannya dan melihat Ciel dengan wajah meronanya tersengal-sengal.

"Cinta itu ketika kamu…menikmati ciuman dariku."

"Bodoh…" Ciel masih tersengal-sengal menanggapi celotehan Sebastian yang menang telak ats dirinya.

"Checkmate!"

Oi, minna…

Rasanya kurang oke ya?

Saya kurang bisa menggambarkan sebuah ciuman #plaakkkk

Meskipun saya juga mesum *ngaku* untuk menggambarkannya susah karena saya jadi deg2an sendiri. #plaakkkk

Alur gak jelas? Emang…authornya aja juga gak jelas. _