HakuneAn : Keren apanya? 0.0
.
Curcol bentar yak. XD
Beberapa hari ini saya dikejutkan oleh bau bangkai yang tidak tau dari mana sumber itu berasal. Dan ternyata, kalian tahu? Tetangga rumah sudah meninggal dirumahnya sendirian. Mayatnya udah berumur 5 hari. Uuhhhh…itulah kenapa bau sekali. _
Oh my~~ mayatnya sudah tidak berbentuk orang lagi karena sudah mengalami pembusukan. Dan saya menulis cerita ini ditemani rasa takut dan aroma kematian. XD
.
Kuroshitsuji punya eneng Yana Toboso,
But the story is mine. (~o)~
Typo maybe happen~
.
Mr. Busy
.
.
.
Rumah kediaman Phantomhive sedang diselimuti duka dengan kepergian Vincent dan Rachel yang sangat tiba-tiba dan tragis. Yang paling menyedihkan, mereka murni mengalami kecelakaan, bukan faktor kesengajaan. Jasad mereka sama sekali tidak ditemukan karena pesawat mereka meledak di udara. Potongan daging mereka pun pasti sudah dimakan oleh ikan, menemukan mereka sudah sangat mustahil.
Ciel dan Sebastian sudah sejak pagi menyiapkan acara pemakaman untuk mengubur 1 stel baju kesukaan ayah dan ibu mereka beserta barang kesukaan mereka sebagai pengganti jasad. Aneh memang tradisi ini, ini hanya membuat penuh pemakaman dengan peti kosong bukan? Tapi menurut mereka, sesuatu seperti ini cukup menggantikan peran mayat yang tidak ada.
Selama pemakaman, Ciel hanya menatap peti mati untuk ibunya dengan tatapan kosong. Beberapa relasi saling berbisik karena tak satu pun anak keluarga Phantomhive itu menangis, kelihatan sedih pun tidak. Mereka berpikir kedua anak ini menahan kesedihannya dengan topeng yang mereka kenakan, atau mungkin tidak peduli sama sekali?
"Akhirnya selesai juga. Sampai malam begini mengurus macam-macam." Ciel membanting tubuhnya ke kasurnya. Ia merasa sangat lelah setelah seharian ini mengurus pemakaman yang membuatnya harus bekerja keras, padahal dia baru saja sembuh. "Tumben jam segini Sebastian tidak menjemput makan malam."
Ciel beranjak dari tempat tidurnya, menerka-nerka apa yang dilakukan Sebastian sampai ia tidak menjemput Ciel ke ruang makan. Apa dia menghabiskan waktunya menangis dikamar? Itu tidak mungkin, Sebastian orang yang sangat kuat, dia tidak pernah menangis selama Ciel bersama Sebastian. Padahal dulu Sebastian sering sekali di pukul ayahnya, entah itu kesalahan ringan atau yang lain tapi dia tidak pernah menangis. Seumur-umur Ciel baru melihat Sebastian sedih ketika ia memaki Sebastian karena menyatakan cintanya. Itu saja dia tidak menangis. Apa mungkin dia sedang merayakan kematian ayahnya dan ibunya?
Karena penasaran, Ciel mencoba mencari Sebastian. Tapi itu percuma, ia tidak menemukannya. Entah itu di kamarnya, perpustakaan, dapur atau pun duduk santai di taman. Lalu Ciel teringat satu hal, ia pasti di ruang kerja ayahnya, bagaimana pun ia pewaris sah Phantomhive. Dengan kematian ayahnya, secara otomatis semua pekerjaan akan diambil alih Sebastian. Ciel pun melangkahkan kakinya menuju ruang kerja ayahnya, membuka pintu tanpa permisi.
"Sebastian aku sudah mencarimu kemana-man—" Perkataan Ciel terputus dan ia terkejut melihat Sebastian tertidur di meja kerja Vincent. Perlahan ia mendekati Sebastian yang tidur. "Ternyata kalau tidur, wajahmu terlihat sangat tam— Tidak! Apa yang ku pikirkan?"
Ciel menjauh sedikit dengan wajah merona, melihat Sebastian terdiam dalam tidur, ia kembali mendekatinya lagi. Dengan ragu Ciel menggerakan tangannya ke kepala Sebastian, mengusap rambutnya lalu berhenti di pipinya. Ia sedikit kaget dan mencoba menyentuhnya lagi. Sebastian…demam!
"Se-sebastian! Ayo tidur dikamar, kalau disini nanti masuk angin!"
"Ng?" Sebastian membuka sedikit matanya setelah mendengar namanya dipanggil dengan keras. Ia mendapatkan Ciel sedang marah-marah menyuruhnya tidur di kamar. "Ya nanti. Aku sedang mengerjakan tugas."
Sebastian terbangun dan membentulkan posisinya menjadi duduk rapi sambil membereskan berkas-berkas yang agak berantakan karena ia tiduri tadi. Perkataan Ciel yang dari tadi mengomel hanya ia tanggapi dengan anggukan, itu malah membuat Ciel semakin kesal. Akhirnya Sebastian menuruti permintaan Ciel. Mereka menghabiskan waktu makan malam dulu sebelum tidur.
Setelah makan, Ciel terus mengomel pada Sebastian tanpa berhenti. Entah itu karena ketularan sakitnya kemarinlah, kurang tidurlah, atau karena Sebastian teerlalu banyak tertawa *oke Sebastian pun tidak mengerti apa hubungan tertawa dengan demam* Hari ini Ciel berisik sekali, pikir Sebastian. Sesampainya di kamar Sebastian pun Ciel masih mengomel seperti ibu-ibu, tapi Sebastian diam tak membantah dan membuka bajunya.
"Ka-kau! Kenapa buka baju?" Tanya Ciel panik.
"Ini kamarku, kenapa tidak boleh? Lagi pula pakai jas itu panas, aku mau menggantinya dengan piyama." Ucap Sebastian sambil mengganti bajunya lalu berbaring di kasurnya.
"Oh…"
"Kenapa? Kecewa?" Sebastian tertawa. Ciel terkejut ketika Sebastian menariknya tidur dikasurnya. "Aku tidak bisa menciummu karena sedang tidak enak badan. Jadi aku akan memelukmu saja."
Sebastian memeluk Ciel yang masih memakai baju pemakaman dengan erat tanpa memperdulikan Ciel yang sibuk meronta.
"Hei bodoh! Lepaskan! Aku kepanasan!" Sebastian tidak merespon karena tertidur. Ciel hanya bisa menghela nafas panjang menahan gerah. "Ya sudahlah. Nanti AC nya juga buat dingin sendiri." Dan mereka terlelap tidur.
*09*
Ciel terbangun dan tidak melihat siapapun di kamar Sebastian. Ia juga melihat pakaiannya telah berubah menjadi pakaian tidur. Kemudian beberapa kali ia memanggil Sebastian namun tak ada jawaban sampai Tanaka datang untuk membantu Ciel mempersiapkan jadwalnya hari ini. Sepertinya Ciel sudah dengan cepat melupakan orang tuanya, malah tampaknya ia tidak memikirkan mereka dari hari setelah pemakaman. Mungkin kata-kata Sebstian sudah ia terapkan.
"Sebastian kemana?"
"Goshujinsama sudah pergi pagi-pagi sekali ke kantor." Ucap Tanaka dengan mendapat respon anggukan dari Ciel. Setelah semua siap, Ciel pun berangkat sekolah.
Disekolah, Ciel tidak pernah bersosialisasi. Dia lebih suka duduk dikursinya sambil memandang keluar jendela, entah apa yang ia lihat disana. Tatapannya selalu kosong tidak berminat dengan sekolah. Apa lebih baik meminta Sebastian supaya ia homeschooling saja? Tapi pasti Sebastian tidak setuju. Ah…andai saja Sebastian guru di sekolah. Pasti ia tidak akan bosan dan paling disayang.
Ciel membayangkan jika Sebastian adalah guru, dia lebih cocok jadi guru apa? Biologi? Oh tidak, itu akan membuatnya lebih mesum. Olahraga? Tidak juga, pasti dia jadi jelek karena terkena sinar matahari terus. Matematika? Oh my~ Sebastian itu galak sekali jika mengajar matematika. Sastra? Well~ itu lumayan, dia pandai bermain kata-kata sih. Kemudian ia memakai kemeja dengan dasi, celana hitam panjang kemudian memakai kacamata dan menyelipkan rambut kirinya di sela telinga. Oh! Dia tampan!
Eh? Ciel shock dengan otaknya yang memikirkan Sebastian lebih dari biasanya. Ini semua salah Sebastian! Setelah melakukan semua tindakan itu, hari ini ia meninggalkannya sendirian. Dia tidak membangunkan, membuat kue, menelepon, bahkan mengirim pesan pun tidak! Itu membuat Ciel semakin memikirkan Sebastian.
"Tuan Phantomhive, tolong dengarkan saya menjelaskan." Ucap seorang guru yang sejak tadi Ciel acuhkan karena melamun. Mau tidak mau mau ia memperhatikan gurunya mengajar.
Setelah pulang sekolah, Ciel mencari sosok Sebastian yang biasanya sudah pulang kuliah. Tapi ia sama sekali tidak menemukannya. Ia menjadi geram sendiri, bagaimana bisa Sebastian meninggalkannya tanpa sepatah kata pun?
"Sebastian kemana?" Tanya Ciel pada Tanaka.
"Goshujinsama masih berada di kantor, lalu ia melanjutkan kuliah dan baru sampai dirumah malam hari." Jawab Tanaka.
"Apa? Si sialan itu memang. Tch!"
Ciel yang marah pergi menuju kamarnya, membanting tas dan melempar vas bunga yang berdiri indah di mejanya ke tembok. Ciel terdiam, kenapa ia harus semarah itu? Ya…dia tidak mengerti kenapa ia semarah itu ketika Sebastian tidak mengabarinya sama sekali. Ia mulai menyadari jika ia merasa kesepian, Sebastian yang selalu membuatnya marah atau Sebastian yang menelepon walau cuma sebentar untuk menanyakan kabarnya itu sudah mengisi hari-harinya.
"Apa dia sudah sembuh ya?"
*09*
Dan apa yang Sebastian lakukan itu tidak hanya hari itu saja, ini sudah hampir seminggu! Sudah pergi pagi-pagi sekali, pulang tengah malam, tidak ada kabar, kue juga tidak ada. Benar-benar kelewatan si Sebastian itu! Setelah mencuri hatinya yang dilakukannya begitu?
"Awas kau Sebastian! Kau akan membayar lebih dari ini!"
.
.
.
Okay~ Chapter gaje kali ini juga gaje. XD
Ciel emang anak durhaka udah lupa sama orang tua. *dilempar bom*
Dan apa yang dilakukan Sebby ke Ciel itu pengalaman pribadi lho. Yah ampun kesel banget dah.
