Kuroshitsuji punya Yana Toboso.

Tapi karya aneh ini punya saya. Oke fix~

.

Mr. Jealousy

.

.

.

Bel istirahat berbunyi, Ciel tetap termenung menatap luar jendela. Beberapa teman-teman sekelasnya memandangnya khawatir, memang Ciel itu pendiam tapi biasanya seharian itu penuh dengan makian Ciel karena hal sepele, entah karena temannya menyenggol mejanya, atau suara kelas yang berisik menganggu tidurnya. Tapi sejak tadi Ciel terdiam, ini sudah sebulan Sebastian tidak ada kabar. Pesan-pesannya hanya disampaikan oleh Tanaka ketika ia bangun dari tidurnya. Semua itu membuat Ciel marah.

"Lizzy, kau kan suka padanya. Coba ajak bicara. Dia terlihat depresi, mungkin karena orang tuanya meninggal beberapa hari yang lalu."

"Yee...kau kan juga. Aku tidak berani, dia terlalu galak." Jawab gadis berambut blonde itu takut. Tapi karena dukungan temannya, ia mencoba mendekati Ciel.

Ciel yang dari tadi menatap luar jendela mendengar bisik-bisik yang membicarakan dirinya. Ia menghela nafas, kenapa orang-orang selalu ingin tau sih? Nanti ketika mereka sudah tau pasti mereka akan meninggalkannya. Manusia itu makhluk yang tidak bisa di percaya kan? Ah ada! Sebastian….ia sekarang hanya percaya pada Sebastian. Ciel berpikir, mungkin benar bahwa ia menyukai kakaknya itu sampai-sampai hal sepele saja diingat. Grrr...karena mengingat itu, dia jadi kesal sendiri karena Sebastian belum menghubunginya sama sekali.

"Ci-ciel. Boleh aku duduk disini?" Tanya seorang gadis. Ah..itu gadis yang tadi membicarakannya. Ciel hanya menatapnya sebentar dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela lagi. Gadis berambut blonde itu duduk di bangku depan Ciel.

"Kau siapa?"

"Eh?" Gadis itu sedikit kaget, Ciel sama sekali tidak mengenalnya? Padahal ia sudah sekelas dengannya lebih dari 5 tahun! Mulai TK, SD, bahkan sekarang di kelas 2 SMP. "Aku Elizabeth. Tapi kau boleh memanggilku Lizzy."

"Kau mau kerumahku?"

Setelah itu, Ciel dan Lizzy sering terlihat main bersama. Menurut Lizzy, sifat Ciel di sekolah dan di rumah sangat berbeda. Di sekolah dia galaknya minta ampun, sedangkan di rumannya ia tampak seperti pangeran, dia baik hati dan lebih manis. Lizzy semakin jatuh hati pada Ciel.

Sabtu pagi Sebastian sama sekali tidak pergi ke kantor ataupun berkuliah. Dia merindukan adiknya yang sangat ia sayang, ia menyesal mengambil pekerjaan yang sangat banyak. Tapi jika tidak begitu, pekerjaan ayahnya yang ditinggalkan semakin menumpuk. Jadi ia memilih untuk membereskan dulu itu semua baru mengambil santai pada saat weekend.

Ia tersenyum melihat adiknya yang masih tertidur sambil membawa troli berisi kue dan teh sebelum makan pagi. Sebastian duduk di pinggir kasurnya sambil mengelus pipi Ciel yang mulus sayang. Ia sangat merindukan Ciel, selama bekerja dan kuliah ia tidak bisa menggunakan HP untuk berkominukasi. Tapi karena pekerjaan menumpuk kemarin sudah selesai, mulai hari ini ia bisa pulang kerja sesukanya sebelum kuliah malam. Sebastian senang bisa menghabiskan waktunya lagi bersama Ciel.

"Ciel, bangun. Kau harus sekolah." Kata Sebastian sambil mengusap-usap pipi Ciel. Ciel yang merasa geli membuka matanya. Ia menatap Sebastian kesal.

"Mana Tanaka?"

"Hei, kenapa mencari Tanaka? Kan aku disini."

Ciel beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Apa Ciel marah karena ia tidak memberi kabar? *Author: iya begooo! Makanya baca part sebelumnya, Sebby!*

*09*

Sebastian mengantar Ciel ke sekolah menggunakan mobil hitamnya. Selama perjalanan, Ciel sama sekali tidak mau berbicara pada Sebastian meskipun ia telah meminta maaf berulang kali. Come on~ apa dengan maaf masalah akan selesai? Terus bagaimana dengan pencuri? Apa dia minta maaf dia tidak jadi di hukum? Jadi apa yang harus dilakukan Ciel? Tentu balas dendam. Membuat Sebastian menangis, dan barulah ia akan memaafkan Sebastian. Dan Ciel sudah mendapatkan bahan untuk membuat balas dendam. Benar! Itu Lizzy. Ciel tau resikonya, tapi ia tetap ingin menjalankan misinya.

Mereka sampai di sekolahan. Dari kejauhan, Lizzy sudah memanggil Ciel dan berlari menghampirinya. Sebastian betanya-tanya siapa gadis itu? Ciel tidak punya teman kan?

"Ciel! Aku sudah menunggumu dari tadi." Ucap Lizzy dengan menggandeng tangan Ciel, membuat Sebastian semakin terbelalak.

"Iya maaf, tadi Sebastian menyetir mobil terlalu lama." Ciel tersenyum. Senyuman yang Sebastian tidak pernah lihat sebelumnya. Itu membuatnya…sedih.

"Nanti aku main lagi ya kerumahmu."

Main? Dirumah? Sejak kapan? Batin Sebastian.

"Oh ya, kakak pasti kakaknya Ciel kan? Sebastian Phantomhive?" Tanya Lizzy. Sebastian mengangguk. "Aku Lizzy teman Ciel. Salam kenal."

"Ayo Lizzy kita masuk. Biarkan saja Sebastian."

Ciel dan Lizzy meninggalkan Sebastian yang masih tidak mengerti. Sedangkan Ciel tersenyum menang.

*09*

"Itu pacarnya kah? Tidak mungkin! Dia tidak pernah punya pacar, apa lagi teman. Kemudian tiba-tiba ia memiliki teman? Hanya 1 orang? Ini aneh."

Sebastian mondar mandir seperti seterikaan untuk memecahkan kasus (?) 'Siapa teman Ciel itu?' Ia penasaran kenapa sebenarnya yang terjadi. Sebastian juga sudah bertanya pada Tanaka sejak kapan gadis sialan itu keluar masuk rumahnya. Sudah sebulan hubungan mereka seperti itu. Sebastian takut Ciel direbut oleh gadis itu setelah perjuangannya bertahun-tahun. Itu tidak boleh terjadi! Kalau memang Ciel ingin balas dendam dan Lizzy adalah bahan balas dendamnya, Sebastian seharusnya tidak perlu takut. Tapi gadis itu terlihat benar-benar menyukai Ciel, itu sebabnya Sebastian sangat takut jika Lizzy menang.

Suara mobil terdengar dari jendela kamarnya, ia buru-buru menuju ruang utama untuk melihat Ciel yang sudah pulang. Ia menghentikan langkahnya di tangga karena matanya mendapatkan Lizzy sedang bersama Ciel. Hatinya benar-benar panas. Sebastian sudah mengorbankan waktunya supaya ia bisa bersama Ciel lagi, tapi kenyataannya Ciel malah bermain-main dengan gadis itu.

"Sebastian." Panggil Ciel dari kejauhan. "Tolong buatkan kue ya, antar ke taman lho. Oh ya teh sekalian."

Eh? Bocah itu setelah membuatnya panas sekarang minta dibuatkan kue dan teh? Sopan sekali anak itu! Dengan berat hati, ia tetap memenuhi permintaan adiknya membuat kue dan teh lalu mengantarkannya ke taman. Di taman, ia melihat Ciel dan Lizzy sedang bersenda gurau dengan akrabnya. Sebastian sangat cemburu, seharusnya ia yang berada di posisi itu.

Ia menghampiri Ciel dan Lizzy dengan wajah yang sangat bête meskipun Ciel tersenyum manis melihat kue dan teh yang datang. Tapi Sebastian menaruh kue dan teh itu dengan kasar. Ciel terlihat marah dengan kelakuan Sebastian yang tidak sopan.

"Kau! Begini yang namanya sopan, hah?"

"Ho~ bocah yang tidak sopan bisa-bisanya bilang apa yang aku lakukan itu tidak sopan? Menyuruh kakakmu seperti pelayan itu kau sebut sopan?" Sebastian pun marah juga.

"Kan aku sudah bilang tolong! Apa itu kurang sopan?!"

"Iya itu kurang sopan! Terus pake acara bawa pacar lagi kerumah tanpa bilang-bilang!"

"Memangnya perlu aku selalu laporan? Lagi pula dia bukan pacarku!"

Ciel pun semakin naik darah. Lizzy yang melihatnya jadi merasa tidak enak dan meminta Ciel menyudahi pertengkarannya. Namun tampaknya itu sia-sia. Mereka masih saja beradu mulut. Tanaka mengambil inisiatif memanggil Finny untuk mengantar Lizzy pulang karena jika kedua tuannya jika sudah marah, ia tidak akan berhenti sampai puas. Sebastian yang sangat jarang marah pun sangat mengerikan jika marah. Tanaka ingat dulu, ketika Sebastian marah besar, kamar Sebastian pun jadi mengerikan. Kapas-kapas dari tempat tidur, bantal dan guling semuanya berhamburan. Vas bunga pecah, buku-bukunya bertebaran dimana-mana, pisau lipat yang masih menancap pada bantalnya dan Sebastian mojok di pinggir jendela menutupi wajahnya. Tapi besoknya ia dalam mood yang bagus lagi.

"Sudah! Aku malas bertengkar denganmu, pendek!" Sebastian berjalan menuju kamarnya.

"Pendek?!" Ciel ingin rasanya menghajar kakaknya, ia ingin mengikuti Sebastian kekamarnya namun di tahan oleh Tanaka.

"Bocchan, jangan ikuti goshujinsama sekarang. Anda boleh mengikuti kekamarnya setelah 1 jam dari sekarang."

"Kenapa?"

"Nanti Anda akan melihatnya sendiri."

1 jam berlalu, sesuai intruksi, ia berjalan menuju kamar Sebastian. Kamar yang tidak pernah ia datangi sewaktu ia masih kecil, baru-baru ini saja ia pergi kekamar Sebastian. Dibukanya pintu kamar Sebastian pelan-pelan, jantungnya berdebar takut. Ciel melihat kamar Sebastian sangat mengerikan, ia tak percaya Sebastian yang melakukan ini semua. Diseluruh kamarnya yang berantakan, Ciel menemukan Sebastian di pojokan menekuk lututnya dan mengenggelamkan wajahnya disana. Apa ia menangis?

"Sebastian?"

Ciel memberanikan diri masuk kedalam kamar Sebastian, melewati pecahan vas, kapas-kapas yang berserakan seluruh kamarnya. Ciel sedikit shock ketika menendang pisau di lantai. Ia heran, baru juga sekali di buat cemburu, tapi segini besar dampaknya. Padahal kakaknya itu orang paling sabar di dunia. Masa iya cuma sekali aja begini?

"Sebastian?" Ciel mendongakkan kepala Sebastian dengan takut. "Eh? Tidur?! Kupikir ia menangis!"

"Kau ingin aku menangis?"

Ciel yang kaget mundur beberapa langkah, ia berpikir Sebastian tidur ternyata ia mendengar apa yang Ciel katakan. Sebastian berdiri dan membersihkan kapas-kapas yang ada di kepala dan bajunya. Ia mendekati Ciel yang selalu mundur ketika ia maju mendekat. Sebastian yang kesal menarik kerah baju Ciel dan tiba-tiba air mata keluar dari ujung mata pria berambut hitam pekat itu.

"Apa kau puas sekarang?"

.

.

.

Sebby sebenernya bisa nahan keselnya. Tapi karena Ciel pengen Sebby nangis, ditunjukin deh. XD

Oke 2 Chaper udah di update. Alurnya pun suka-suka dan gak jelas. _

Errr~ maybe chapter selanjutnya agak telat ya~ Soalnya lagi mau UTS dulu. XD

Oke oke? Jaa~ see you latter minna~