Yosh~ chapternya update lagi~

Ujian buat kepala stress. Apa lagi syntax, oh Tuhan~

Tapi karena minggu pertama ujian sudah selesai, minggu kedua bisa santai meskipun paper syntax dan 2 matkul belum selesai. Setidaknya udah santai! *ngotot mau santai*

Kuroshitsuji belongs to Yana toboso,

But the story is mine!

Typo maybe happen~

Don't like so don't read. But if you like it, review please. m(_ _)m

.

Mr. Misunderstanding

.

.

.

"Apa kau puas sekarang?"

Bocah bermata sapphire itu menatap tak percaya kakaknya mengeluarkan air mata. Tapi ia kemudian tertawa, membuat pria bermata ruby itu semakin kesal.

"Aku baru tau kalau kau itu cengeng!" Ciel tertawa. "Aku hanya membuatmu cemburu sekali tapi kamu sudah menangis seperti ini?"

"Jangan tertawa! Gadis itu menyukaimu, aku takut kau di rebut. Kalau kamu menyukainya, aku tidak tau harus bagaimana!"

"Ho~ tapi dia orangnya asik sih. Baik pula." Ucap Ciel, ia tau kakaknya akan semakin cemburu.

"Oh gitu~ oke kalo gitu." Sebastian mengusap air matanya. "Aduh tanganku bau bawang, sampe nangis gini kepedesan. Aku mau cuci tangan." Kata Sebastian sambil mencium tangannya sendiri yang memang berbau bawang. Ciel yang tadi tertawa hanya bisa cengo ternyata Sebastian bukan menangis karena dirinya. Dia heran kenapa bisa ada bawang dikamar Sebastian. *Author juga gak tau lho! XD*

Sebastian berjalan menuju kamar mandi dan tertawa cekikikan tanpa suara ketika Ciel berlari keluar kamarnya. Memang sih Sebastian itu kesel dan cemburu banget, tapi cuma karena gitu nangis? Enak aja! Sebastian itu orang paling sabar di dunia! Tapi soal kamar itu sih emang bener, itu pelampiasannya. Sudah melakukan itu terus tidur sebentar juga langsung mood-nya oke lagi. Kalo Sebastian cuma masalah begini aja udah cengeng, mungkin ia sudah bunuh diri ketika ibunya meninggal. Ciel~ Ciel~ mau buat cemburu Sebastian gak semudah itu. Ckckckck…

*09*

Senin pagi di kota London modern sangat ramai dengan orang-orang yang buru-buru ke kantor ataupun sekolah. Ciel dan Sebastian juga sudah sibuk masing-masing dengan pekerjaannya, tapi hari itu berbeda. Sebastian mengurus kerjaannya dirumah ditemani oleh secangkir kopi dan bocah manis yang duduk tak jauh dari tempatnya. Tak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir mereka berdua, semuanya hening. Si bocah manis itu? Oh dia sedang libur sekolah karena seniornya sedang menghadapi ujian kelulusan. Ruang kerja itu sangat hening.

TOK TOK TOK…

"Come in~"

Meyrin membuka pintu perlahan lalu membungkuk, "Go-goshujinsama, Nona Hannah Anafeloz sudah datang."

"Suruh ia masuk.."

"Baik, goshujinsama." Meyrin membungkuk lagi sebelum ia meninggalkan ruangan itu.

"Oh ya, buatkan teh juga dan bawa beberapa kue kemari untuk Hannah." Meyrin mengangguk mengerti dan meninggalkan ruangan.

Ciel yang dari tadi tidak mengerti hanya bisa penasaran siapa Hannah itu. Tamu dari relasinya kah? Rasa penasaran Ciel terbayar ketika seorang wanita sexy berkulit eksotis berwajah cantik memasuki ruangan sambil membawa dokumen. Itukah Hannah? Siapa itu?

"Oh Hannah!" Sebastian berdiri dan menghampiri Hannah. "Kau bawa dokumennya?"

"Seperti yang Anda lihat, Mr. Sebastian." Kata Hannah sambil menyodorkan dokumen yang ia bawa. Sebastian mengambilnya dan duduk di kursinya kembali sambil mempersilahkan Hannah duduk di kursi sebelah Sebastian. "Anda harus menandatangani semua itu untuk jadwal hari ini."

"Ayolah Hannah~ Jangan meledekku." Hannah dan Sebastian tertawa. Ciel yang dari tadi duduk sama sekali tidak di anggap hanya bisa manyun sambil mengutuki kakaknya yang menyebalkan itu. "Ciel, kenalkan. Ini Hannah, sekretarisku, juga teman kecilku. Beda kan sama gadismu yang masih bocah itu?"

"Dia bukan gadisku!"

Sebastian yang tak menghiraukan Ciel mulai berbincang-bincang dengan Hannah soal pekerjaan, mereka sangat dekat. Hannah menempelkan dagunya pada pundak Sebastian yang sedang membaca dokumen dan tampaknya Sebastian tidak keberatan. Itu kah sekretaris? Teman kecil juga tak seharusnya bermanja-manja, bagaimana pun ia juga sekretaris kan? Ciel yang kesal masih bertahan disana menjadi pengawas dua makhluk kopi susu itu.

"Sebby~ begini caramu memperlakukan tamu? Aku haus."

Se-sebby?, jerit Ciel dalam hati.

"Si Meyrin ini."

"Sudahlah, aku ingin sekali dilayani olehmu. Kue dan teh mungkin?" Pinta Hannah.

"Tapi…aku sibuk. Gimana dong?" Canda Sebastian.

"Ayolah~ masa buatku saja kau pelit?"

Sebastian mengangguk dan meminta Hannah duduk menemani Ciel lalu menuju dapur. Diruangan itu Ciel benar-benar merasa sangat gerah, padahal tadi sepertinya AC sudah dinyalakan dan baju yang ia gunakan tidak terlalu panas. Belum lagi rasa panas itu makin terasa ketika ia melihat Hannah. Padahal Hannah hanya diam melihat-lihat dokumen yang baru ditandatangani setengah oleh Sebastian.

HP Sebastian berbunyi, Hannah menengok kearah sumber suara dan melihat nama yang tertera di HP itu dan menggeleng. Deringan itu mati, kemudian berbunyi lagi.

"Fansnya lagi kah? Ya ampun~" Ujar Hannah.

Fans? Ciel ingat ketika ikut ke kampus Sebastian, teman-teman wanita yang di sapa kakaknya senyum-senyum sendiri seperti habis disapa pangeran. Tapi ia tidak menyangka ada wanita yang sampai meneleponnya. Eh? Bagaimana Hannah tau itu fans kakaknya?

Beberapa jam kemudian, Sebastian membawa Chocolate gateau—kue kesukaan Ciel—dan 2 cangkir Chamomile tea. 2 Cangkir? Ciel melotot pada 2 cangkir itu, ia tahu bahwa Sebastian tidak memberikan surga itu pada Ciel. Sebastian ingin membuatnya tersiksa!

"A-aku…"

"Kenapa Ciel?" Tanya Sebastian dengan senyuman maut yang buat author klepek-klepek—skip!

"T-tidak! Aku mau ke kamar!"

Ciel beranjak dari kursinya sambil mencuri-curi pandang pada Chocolate gateau itu. Oh Shit! Ciel yang sebenarnya sudah ngiler dari tadi menelan ludah lalu menguatkan diri pergi ke kamarnya. Sebastian terkekeh pelan.

Aku ingin sekali kue itu!

Ciel benar-benar kesal sekali dengan pria laknat itu. Bisa-bisanya ia membuatkan kue kesukaannya untuk gadis lain! Huh katanya dia mencintainya tapi mana?! Ah! Ciel memberhentikan langkahnya, ia teringat jika HP-nya tertinggal di kursi yang tadi ia duduki. Dengan berat hati, ia memutar langkahnya kembali. Ia lebih baik kembali sebentar dari pada ia mati bosan di kamar tanpa HP-nya yang membuatnya senang dengan game.

"Sebby ini memalukan!" Sayup-sayup Ciel mendengar suara dari ruangan yang berisi kakaknya dan Hannah. "Sebby~sakit! Hentikan!"

Ciel penasaran dengan suara itu mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Mata sapphire itu mebelalak ketika kakaknya sedang berhadapan dengan Hannah, tidak terlihat jelas apa yang sedang mereka lakukan dari celah pintu, hanya saja itu seperti…ciuman?

Ciel merasakan debaran di dadanya, hanya saja kali ini sangat sakit. Hatinya benar-benar terluka. Bocah kelabu itu berlari ke kamarnya dan membanting pintu. Dadanya terasa sesak, sesekali tangan mungil itu meremas baju yang membalut di dadanya sambil menutup mata menahan gejolak kepedihan didadanya. Apa yang dikatakan Sebastian bahwa ia mencintainya adalah bohong? Setelah semua kata-kata cintanya dipercaya oleh bocah kecil itu lalu Sebastian mengkhianatinya? Ketika pikirannya mulai dipenuhi oleh semua perbuatan Sebastian, lalu ia menghancurkannya? Apa Sebastian membalas dendam perbuatannya yang ia lakukan tempo hari? Ciel ingin sekali membenci pemuda itu, tetapi ketika ia mengatakan 'benci' dadanya semakin sakit. Tak terasa ujung matanya mengeluarkan air.

"Hei, kenapa ini?" Ujar Ciel sambil menyeka air itu, semakin diseka, air itu semakin deras keluar. Begitu pun dadanya semakin menyesak. "Kenapa semakin sakit? Tidak mungkin kan aku mencintai Sebastian?" dadanya bereaksi sakit kembali ketika mengatakan 'mencintai', apa itu tandanya ia benar-benar mencintai kakaknya? "Terima kasih untuk semua luka yang kau beri, sialan."

*09*

Hari sudah sangat sore ketika Sebastian menyelesaikan pekerjaannya, Hannah pun sudah pulang dari tadi. Ia mengerjakan semua itu sampai lupa lunch, ia bertanya-tanya apa Ciel sudah makan apa belum. Anak itu tidak kelihatan sama sekali.

Sebastian membereskan dokumen-dokumennya, ia mendengar deringan HP yang ia yakini bukan miliknya karena nada deringnya berbeda. Pria bermata ruby itu menghampiri HP yang tergeletak di kursi tempat Ciel tadi pagi duduk.

"Elizabeth?" Sebastian membaca layar dan kemudian mengangkatnya.

"Ciel!" Suara ini…."Hei Ciel, bagaimana liburanmu? Aku ingin sekali bermain kerumahmu lagi. Tapi kakakmu sepertinya tidak menyukaiku. Well itu tak masalah karena yang sangat kusuka itu kamu." Oh yeah, dia membencimu.

Sebastian menaikkan alisnya, ia tahu siapa yang menelepon. Itu pasti gadis sialan yang mau mencoba merebut Ciel tercintanya. Dengan kesal, ia mematikan HP itu dan membantingnya di kursi. Sebastian benar-benar naik darah.

Sebastian membuka kasar pintu kamar Ciel dan bersiap-siap untuk protes. Hanya saja ia mengurungkan niatnya ketika melihat tubuh ringkih adiknya dibalut oleh selimut. Sebastian mendekati Ciel dan mengusap pipi Ciel yang mulus dan selembut sutra itu dengan senyuman. Tapi senyuman itu berubah mengingat telpon tadi. Ia tahu gadis itu sangat manis dan terlihat cocok dengan pribadi Ciel yang agak suram. Sebastian memikirkan kembali perjuangan cintanya. Akhirnya ia menguatkan hati untuk merelakan Ciel, yah…bagaimana pun kebahagiaan Ciel merupakan kebahagiaannya juga. Munafik memang, tapi apa salahnya merelakan yang memang bukan milikmu meskipun sudah berjuang keras? Setidaknya ia tidak menyesal karena telah berusaha sebelumnya. Sakit? Pasti…tapi senyuman Ciel yang tidak pernah Sebastian lupakan ketika bersama Lizzy…mungkin Lizzy itu lebih baik dan memang benar tepat.

TBC