This is the last chapter, minna~
Terlalu lama cerita akan membuat bosan, makanya saya harus menyelesaikannya! (*_*)9 Why? Because, I have a new idea to make a new story. Kalau cerita ini belum selesai, saya tidak bisa fokus. XD
Soalnya saya bukan tipe yang bisa berpikir bercabang-cabang.
Please enjoy the last story.
Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso.
But the story is mine!
Typo maybe happen~
Don't like so don't read. But if you like it, review please. m(_ _)m
.
Mr. Winner
.
.
.
"Mau apa kau menyentuhku?" Celetukan dingin keluar dari bibir bocah bermata laut itu lalu menepis tangan Sebastian. Orang yang ditanya hanya terdiam.
"Lizzy tadi menelepon…"
"Lancang sekali kau mengangkat telpon milikku!" Ciel bangun dari tidurnya. Sebastian tidak peduli dengan tatapan tajam dari Ciel dan berusaha menyelesaikan kata-katanya.
"Dia juga mengatakan bahwa ia menyukaimu. Dan….kalau kau menyukainya juga…aku coba untuk mengikhlaskanmu."
DEG!
Jantung Ciel seakan menerima bom nuklir *oke lebay* mendengar pernyataan Sebastian tadi. Rasa sakit dan sesak itu muncul kembali. Ciel memejamkan matanya dan mencoba menyetel kembali perkataan Sebastian di pikirannya. Dengan mengeluarkan semua harga dirinya, Ciel mengangkat dagunya dan memandang Sebastian dengan angkuh.
"Kau mengatakan itu karena kau menyukai wanita sexy tadi kan? Yang kau bilang bahwa kau mencintaiku itu bohong kan? Oh~ aku tahu, kau sama seperti yang lainnya. Mulutmu itu tidak bisa dipercaya. Setelah mengangkat tinggi harapan orang lain lalu mengehempaskannya."
"Bukan begitu…."
"Ah! Kalau bukan begitu, berarti kau menggunakanku sebagai pelampiasan?"
"Bukan begitu! Aku hanya…"
"Sudah cukup. Aku tidak mau mendengar omong kosongmu lagi. Aku benar-benar mengutuki diriku karena telah percaya padamu. Oh ya…jangan melakukan 'itu' lagi di ruang kerja ayah. Itu menjijikan." Sebastian tidak mengerti apa yang Ciel ucapkan barusan. Itu? Itu apa?
"Maksudmu?"
"Kau kira aku tidak melihat kau sedang berciuman dengan wanita itu? Mana mengeluarkan suara menjijikan pula." Ciel mengatakan itu dengan jijik, tapi hatinya merasa sakit mengungkit itu.
Sebastian mencoba mengingat kapan itu terjadi, lalu ia tertawa keras. Ciel menatap Sebastian terheran-heran entah kenapa kakaknya seperti kehabisan obat. Ciel kesal sekali, disaat serius, kakaknya malah tertawa! Oke Sebastian memang kurang ajar, tapi untuk situasi ini tidak seharusnya ia tertawa 'kan?
"Apa yang kau tertawakan?!"
"Kau yakin ingin tau?" Kata Sebastian sambil menutup mulutnya menahan tawa. Ciel mengangguk ragu. "Yang kau lihat itu aku sedang membersihkan wajah Hannah. Dia itu walaupun kelihatan dewasa, tapi kalau makan kue pasti belepotan. Dengan tangan, bukan mulut lho!"
"Bohong. Masa cuma karena itu bilang 'memalukan' sama 'sakit'?" Tanya Ciel tak percaya.
"Ah itu, dia bilang memalukan karena aku melap cokelat di pinggir bibirnya. Dia bilang sakit karena aku membersihkannya dengan mencubit pipinya." Jelas Sebastian.
"Oh akrab sekali." Jawab Ciel ketus. Apa memang segampang itu?
"Jadi kau kesal soal itu?"
"Tidak!"
Sebastian membuka mulutnya seakan mengatakan 'ah' setelah mendengar jawaban Ciel. Tawanya kini memudar di gantikan oleh senyuman kecut yang terukir dibibir tipis sang pemilik mata ruby. Mata itu memandang dengan penuh kesedihan mata sebiru laut milik Ciel, ya…jawaban itu membuatnya sedih. Memang sepertinya ia harus merelakan Ciel untuk gadis itu.
Cukup lama Sebastian menatap mata Ciel, akhirnya ia membalikan badan. Ia ingin pergi menenangkan diri di kamarnya. Tapi langkahnya terhenti ketika Ciel berkata….
"Aku cemburu. Bukan kesal."
Sebastian membalikan badannya lagi dan menatap Ciel tak percaya. Ia merasa pendengarannya memang sedang buruk atau apa, tapi ia yakin itu benar ketika ia mencubit tangannya. Ini bukan mimpi ataupun pendengarannya yang rusak!
"I-itu berarti….kau mencintaiku?" Tanya Sebastian penuh harap.
"Apa aku perlu mengatakan itu, bodoh?"
"Ya kau harus! Aku ingin mendengarnya!"
"A-apa?!"
Sebastian hanya menatap Ciel penuh harap. Ciel yang tidak tega melihat wajah tampan itu menatapnya penuh harap membuat Ciel menghela nafas.
"Aku…mencintaimu."
Tanpa aba-aba, Sebastian memeluk Ciel yang merona merah ketika mengatakan kata-kata memalukan yang ia tidak sangka akan di keluarkannya. Wajah Ciel semakin memerah dan jantungnya berdebar hanya dengan di peluk. Itu seperti ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhmu, hanya saja kau tidak akan mati, kau hanya akan merasakan kenyamanan yang luar biasa. Sebastian melepaskan pelukannya.
"Aku juga sangat mencintaimu. Selalu…" Wajah Ciel kembali merona. "Aku akan memberikanmu sesuatu, kali ini dari hatiku yang paling dalam."
Sebastian mendekatkan wajah manis Ciel, semakin dekat sampai tak ada jarak lagi diantara mereka. Ia mencium Ciel dengan lembut, lalu lidahnya bergerak meminta masuk ke dalam. Kali ini Sebastian tidak perlu susah-susah untuk memasuki rongga mulut Ciel, karena ia telah mendapat izin langsung dari sang empunya. Mereka saling menukar saliva, mengulum dan mereka tampak sangat bergairah.
Tangan kecil Ciel melingkar di leher Sebastian, menikmati setiap sapuan lidah Sebastian didalam mulutnya. Ciuman Sebastian begitu bergairah membuat Ciel tak kuat menahan badannya yang selalu terdorong, ia terbaring di tempat tidurnya. Tentunya Sebastian pun menindihnya karena tangan Ciel masih melingkar di lehernya, tapi itu tidak membuatnya melepaskan ciumannya.
Ciel hampir tidak bisa bernafas akibat ciuman Sebastian yang tidak ada hentinya. Sebastian mengerti itu dan melepaskan ciumannya. Ciel yang tersengal-sengal mendapat senyuman dari Sebastian yang masih kuat (?). Sebastian memutuskan mencium leher Ciel, menjilatnya kemudian 'menandai' bahwa Ciel adalah miliknya sekarang. Ciel hanya pasrah dan menahan gejolak di dadanya agar tidak mengeluarkan suara memalukan seperti dulu ketika pertama kali Sebastian melakukan itu padanya.
Pria berambut pekat itu selesai denegan aktivitasnya lalu meniduri tubuhnya di sebelah Ciel sembari tersenyum. Oh ya ampun, makhluk ringkih itu manis sekali dengan wajahnya yang merona. Rasanya ia tidak ingin kehilangan momen itu. Dipeluknyalah tubuh Ciel dan Sebastian senang sekali cintanya selama ini membawakan hasil, hasil yang ia tunggu bertahun-tahun lamanya. Sebastian juga senang kesalah pahaman itu telah selesai.
"Hei…kau punya fans, ya?"
"Apa itu penting ketika aku memilikimu?" Tanya Sebastian yang membuat wajah Ciel merona kembali.
"Hannah…"
"Kenapa dengan Hannah?"
"Nothing. It's not important anymore."
Sebastian tertawa. Sebenarnya Ciel ingin sekali menyingkirkan Hannah. Tapi jika ia mengatakan hanya Hannah, jangan-jangan Sebastian memiliki banyak teman dekat. Oh tidak! Itu akan membuatnya panas!
"Boleh aku minta satu hal?"
"Tentu. Apa yang kau inginkan? Ciuman lagi?" Tanya Sebastian menggoda.
"Bodoh! Bukan itu. Aku…tidak suka kau dekat dengan orang lain. Kau adalah milikku." Ucap Ciel dengan malu-malu. Sebastian hanya tersenyum.
"Tentu, aku akan melakukannya jika kau melakukan hal yang sama. Deal?"
"Deal."
Kemudian Ciel dan Sebastian hidup bahagia dengan status mereka yang baru, yaitu sepasang kekasih. Karena Ciel masih anak dibawah umur, tidak mungkin 'kan Sebastian langsung melamar?
.
.
FIN
Fyuhh~ oke mungkin saya tidak akan berani membaca chapter 4,5 dan 9. Yang ada saya ketawa sendiri. =,=
