.
.
Disclaimer: EXO punya SM dan diri mereka masing-masing.
Pair: SeKai or KaiHun (KaixSehun)
WARNING!: kata kasar n makian yang bertebaran, tsundere!Sehun, Shounen-ai, OOC sangat, miss typo(s), AU, dll.
Rate: M untuk beberapa makian dan umpatan
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
Pagi hari yang cerah, tapi sayang sekali tidak secerah hati si bungsu keluarga Oh yang kini tengah sibuk ngedumel sambil memakai sepatunya. Setelah selesai, dia bangkit dan meraih tasnya, tanpa mempedulikan Luhan yang sedari tadi berdiam menunggu untuk mengantar adik kecilnya ke sekolah.
"Jangan ikuti aku! Aku bukan anak TK yang harus diantar ke sekolah!" ujarnya ketus pada sosok Luhan yang hanya mengangkat bahu tidak mempedulikan ocehan adiknya. Mandat dari ibunya, antar Sehun sampai ke sekolah karena sepertinya suasana hati si bungsu itu sedang buruk.
Merasa Luhan tidak akan menyerah begitu saja, Sehun berdecih kesal lalu meraih gagang pintu dan membukanya. Sedetik kemudian ketika pintu baru setengah terbuka-
BLAM!
-dia langsung menutupnya lagi dengan suara yang keras. Tangannya memegang gagang pintu dengan erat.
Sialan! Kenapa juga si idiot itu ada di depan rumahnya? Dan apa tadi? Dia memakai seragam kuning mencolok yang sama dengannya. Yang benar saja! Manusia idiot seperti dia mana mungkin bisa masuk ke sana.
"Kenapa ditutup lagi?"
"Bukan apa-apa. Aku ingin berangkat dari pintu belakang saja!" ujarnya berniat masuk kembali ke rumah, tapi Luhan langsung menahan belakang kerah bajunya dan kembali membuka pintu. Menampilkan sosok namja yang berdiri menyandar sambil bersidekap itu.
"Annyeong... Kim Jongin imnida. Yang baru pindah di rumah sebelah."
"Oh Luhan imnida. Dan ini Sehun, adik kecilku!"
"Aku tidak kecil, brengsek!"
"Jaga bicaramu, Sehun! Ha-ha-ha... maafkan dia memang seperti itu ya!" Luhan tertawa dipaksakan karena merasa tidak enak akan mulut tajam adiknya pada si tetangga baru. Namja tan bermarga Kim itu hanya tersenyum simpul membalasnya.
"Aku melihat seragam Sehun-ssi kemarin, dan kupikir kita akan satu sekolah jadi aku kemari berniat menjemputnya," Jongin kini berdiri tegak sambil menunjuk ke arah Sehun.
"Aku tidak sudi dijemput olehmu. Pergi sana! Aku bisa berangkat sendiri!" jawab Sehun dengan sinis, berusaha melepaskan diri dari Luhan. "Lu, lepaskan aku!"
"A-a-aa~ perbaiki dulu kosa katamu, Sehunnie..."
Sehun melotot menatap kakaknya itu tajam. Aiish~ kenapa juga harus Luhan yang dilahirkan lebih dulu? Kenapa bukan dia yang jadi seorang kakak? "H-hyuung~ lepaskan aku, ne?" Sehun tahu akibatnya dia menggunakan aegyo pada hyungnya ini.
"Nah, sekarang kau berangkatlah dengan Jongin-ssi. Hati-hati ya~"
"Kalau begitu cepat lepaskan aku!" ujarnya kembali kesal karena bukannya melepaskan, Luhan kini justru mulai menciumi wajahnya. Yaiks... dia tidak mau harinya dimulai dengan liur Luhan di seluruh wajahnya.
"Oke oke, tolong jaga adik kecilku ini Jongin-ssi. Dan... psst, dia agak nakal memang."
Setelah itu Luhan kembali masuk ke dalam rumah, menghindari amukan Sehun yang mungkin saja akan lebih ganas dari singa betina. Sehun sendiri membenarkan letak seragamnya sambil menggeram marah dan mulai melangkah tanpa menghiraukan keberadaan Jongin. Langkahnya dia buat lebar agar si hitam itu tertinggal.
"Jangan cepat-cepat...!"
Tubuhnya menegang saat sebuah tarikan membuatnya kini berjalan lebih pelan. Oh, Shit! Besok-besok dia harus berguru untuk mematahkan ilmu hipnotis dan sejenisnya. Dia tidak bisa terus-terusan diam saat Jongin malah merangkulnya dekat seperti ini.
Kepalanya menunduk dalam, merasa muak melihat wajah jelek yang tidak tampan sama sekali ini. Dia tidak perlu melihat ramalan cuaca hari ini, karena dia yakin hari ini pasti udara akan sangat panas sehingga membuat wajahnya juga ikut memanas sekarang.
Sisa perjalanan tidak seperti yang kalian perkirakan akan ada banyak celotehan, sebagian besar hanya berisi keheningan dan sesekali jawaban singkat dari Sehun jika Jongin bertanya sesuatu seperti sekolahnya, kelasnya, dan lain-lain.
.
.
.
Jongin menyangga dagunya dan menatap papan tulis hijau yang penuh dengan tulisan. Tapi pikirannya melayang jauh saat ini. Senyum kecil tersungging di bibirnya sesekali saat mengingat dua hari belakangan setelah kepindahannya ini.
Sehun...
Namja itu lucu, dan manis... mulutnya selalu tajam tapi disitulah menariknya. Dia suka saat membuat Sehun terdiam hanya dengan sentuhannya. Yah... memang tidak akan ada yang bisa menolak pesona seorang Kim Jongin sih.
Sehun mungkin termasuk salah satunya. Ha-ha... terlalu narsis kau, Kim.
Tapi dia ingat wajah manis Sehun yang memerah kemarin saat dia bertanya khawatir karena Sehun tiba-tiba menjedukkan kepalanya sendiri. Atau saat dia menggoda Sehun yang datang ke rumahnya membawa kue. Pipi apel itu kadang membuatnya gemas ingin mengecupnya berkali-kali.
Dan tadi pagi... dia tidak tahu Sehun punya sisi lemahnya pada hyungnya sendiri. Melakukan aegyo hanya untuk melepaskan diri. Wajah namja itu lucu sekali saat menatap hyungnya dengan memelas.
Kalau diumpamakan, Sehun itu seperti anak kucing lucu dengan bulu putih yang lembut dan mata bulat yang berkaca-kaca lucu. Sekarang dia penasaran bagaimana rupa Sehun saat punya telinga neko di kepalanya.
"Hey, jangan melamun terus!"
"Eh? Oh─" Jongin tergagap saat sosok tinggi tegap tiba-tiba saja berdiri dihadapannya. Dia melirik sekelilingnya, dimana beberapa kursi yang kosong. Oh, apa dia sudah melamun selama itu?
"Eh-oh apanya? Ayo ke kantin, kau tidak lapar?"
Jongin bangkit berdiri dan mengikuti langkah namja tinggi dengan suara baritone khasnya itu. Yah, sayang sekali dia tidak sekelas dengan Sehun. Mungkin akan menyenangkan jika bisa terus bersama Sehun.
Di kantin, kepalanya menoleh kesana-kemari, berharap bisa menemukan Sehun diantara siswa-siswi di sana. Dan ketemu, duduk sendiri di pojokan sibuk dengan makanannya.
"Hey, Chanyeol... ayo kemari!" ujarnya mengajak teman barunya itu untuk menemui Sehun. Tapi langkahnya terhenti saat Chanyeol menahan pundaknya.
"Jangan dengan namja itu deh, bisa-bisa kau disemprot oleh serentetan kalimat tidak senonoh yang menohok hati. Masih banyak bangku kosong."
Jongin terkekeh kecil mendengarnya, dia sudah mendapatkan yang seperti itu sejak pertama bertemu Sehun. "Ya sudah kau cari saja tempat lain, aku akan menemuinya. Sampai nanti~"
"Oey─"
Jongin hanya melambai sekilas tanpa membalikkan badannya pada Chanyeol. Dia tahu apa yang temannya itu maksudkan, tapi melihat Sehun duduk sendirian seperti itu seolah mengundangnya untuk berduaan. Haha...
.
.
Sehun memakan lahap bekal yang dibuat Mamanya, ingin cepat habis dan kembali ke kelasnya. Makan sendirian seperti ini sudah terbiasa baginya, yah... dia tidak benar-benar tidak memiliki teman. Semua orang yang dia kenal menganggap dirinya teman.
Hanya saja, menurutnya mereka terlalu idiot hanya untuk berteman dengannya. Yah, siapa juga yang butuh teman jika bisa melakukan semuanya sendirian. Mereka semua hanya orang-orang dengan otak dungu yang tidak bisa apa-apa tanpa bantuan orang lain yang mereka sebut 'teman'.
Bruuk!
"UHUK!" Sehun memukul-mukul dadanya yang sesak karena tersedak, tangannya segera meraih botol minumnya dan meneggaknya rakus. Dia mengelap bibinya setelah air minumnya sudah tandas kemudian menatap tajam pada sosok yang kini terduduk di sampingnya.
"Ya! Siapa yang suruh kau duduk di sini, hah?!" ujarnya kesal menunjuk Jongin yang hanya tersenyum kecil sambil menyangga dagunya terlihat sok keren sekali.
"Lanjutkan saja makanmu..." sahut Jongin dengan nada santai. Dan suasana kantin yang tadinya ribut kini berubah hening, sangat hening malah hingga dia yakin bisa mendengar suara detik jam di dinding.
"Pergi kau, idiot!" tangan Sehun berusaha mendorong Jongin agar pergi, tapi namja tan itu masih tetap tidak bergeming di tempatnya, tidak berniat pergi sama sekali. "Aku bilang pergi! Kau─"
Perkataan Sehun terhenti saat merasakan tepukan di kepalanya lembut. Dia terdiam melihat tatapan Jongin kepadanya. A-aiish~ salah memang jika sudah berurusan dengan si Jongin ahli hipnotis ini.
"'Aku' apa? Kau harus menjaga perkataanmu, ne!"
Dorongan tangannya terasa melemah saat Jongin membisikkan itu dengan nada rendah di telinganya. Menggigit bibirnya keras berusaha untuk sadar kembali, Sehun mendengus keras dan kembali melanjutkan makannya. Kepalanya menunduk dalam berusaha menghiraukan suara-suara heboh di kantin itu.
Gerakan tangannya yang memegang sumpit terhenti di udara saat tangan Jongin menangkap pergelangan tangannya. Dia menatap namja itu tajam sekali lagi. "Apa lagi, hah?!"
"Aku lapar..."
"Peduli setan denganmu!"
"Suapi aku...!"
"Ogah!"
"Sehunnie..."
"Jangan panggil aku seperti itu!"
"Sehunnie...?"
"Stop! Itu menjijikkan!"
"Sehunni─"
"Kau itu tuli apa bodoh─"
"Suapi aku...!"
Khe! Lagi-lagi tatapan itu yang Jongin gunakan. Tatapan yang seolah melumpuhkan semua persendiannya. Sialan kau Kim Jongin! Dengan berat hati, Sehun mengarahkan sumpitnya ke mulut Jongin sambil membuang muka ke arah lain, bukannya malu tapi dia hanya muak saja melihat wajah itu.
Dan kantin sekali lagi dipenuhi sorak sorai karena sekali lagi Kim Jongin berhasil meluluhkan Oh Sehun yang galak itu.
.
.
.
"Ajari aku ajari aku ajari aku, ne?"
Jongin menghela napas melihat Chanyeol yang tengah memohon padanya ini. Mana mau dia mengajari Chanyeol bagaimana meluluhkan hati Oh Sehun yang keras seperti baja itu.
"Kau membuat telingaku berdenging, yeol! Pulang sana!" ujarnya mengusir temannya ini. Tapi Chanyeol sepertinya tidak mau menyerah.
"Ayolah... sekarang kau menjadi bahan perbincangan satu sekolah karena bisa membuat Sehun diam dan menurut padamu di kantin tadi siang."
"Oke oke... Sehun itu terkadang tidak menyaring perkataannya terlebih dulu, tapi bukan berarti dia benar-benar jahat. Aku yakin, dia melakukannya untuk meyakinkan dirinya sendiri."
"Heeeeh? Aku tidak paham."
"Kenapa dia sendirian di kantin? Apa dia selalu duduk sendirian seperti itu?"
"Ya. Dia selalu berkata kasar, makanya..."
"Itu memang sifatnya. Kata-katanya memang terdengar kejam, tapi dia bukanlah orang sejahat itu."
"Jadi...?" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya bingung dengan apa yang tengah Jongin bicarakan ini.
"Jangan dengarkan apa yang dia katakan, dia berkata begitu hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri agar tidak kesepian, kalau kau ingin berteman dengannya... dekati dia perlahan-lahan!" ujar Jongin sok bijak, Chanyeol hanya manggut-manggut menanggapi setiap kata yang Jongin lontarkan.
"Tapi saat ada yang mendekatinya, dia akan memakinya."
"Lalu setelah sekali mencoba kalian menjauhinya, itulah yang membuatnya menjadi lebih kejam dalam berkosa kata dan─ oh, itu dia! Sehun-ah!" Jongin melambai pada sosok Sehun yang tengah menundukkan kepalanya sambil memegang tasnya erat dan berjalan agak tergesa ke arah keduanya.
Jongin hanya tersenyum maklum mendapati Sehun yang berjalan memepet di gerbang agak jauh darinya dan melewatinya begitu saja. Kentara sekali namja itu berusaha menjauhinya.
"Ha-ha... oke, sampai besok, Yeol!" ujarnya dan segera menyusul Sehun yang sepertinya sudah bersiap akan berlari.
Sebelum Sehun benar-benar berlari, dia menangkap pergelangan tangan itu cepat membuat langkah Sehun terhenti. Namja itu masih menunduk terlihat enggan untuk menatapnya.
"Hey, ada apa?" tanyanya meraih dagu Sehun, mengangkat wajah yang menunduk itu untuk menatapnya, tapi tangannya langsung ditampik kasar membuatnya mengerutkan dahi bingung.
"Jangan ganggu aku lagi! Karena kau, semua orang kini bersikap sok baik padaku," ujar Sehun menumpahkan seluruh kekesalannya. Dan dia langsung mendengus saat Jongin justru tersenyum kearahnya. Apanya yang lucu? Itu menyebalkan, kau tahu?
"Sudah sewajarnya kan?"
"Mereka pikir mereka itu siapa? Orang-orang dengan otak bebal itu pasti menginginkan sesuatu dariku."
"Hey..."
Sehun membelalak terkejut saat Jongin justru mendorongnya, hingga kini dia terperangkap antara dinding pembatas jalan dan Jongin sendiri. "Kau mau apa?! Lepaskan aku, brengsek!"
"Sssh... diamlah atau kucium disini!"
Sehun dibuat terdiam lagi kali ini, dia mengalihkan pandangannya ke samping karena enggan menatap Jongin. Namja ini pasti akan menggunakan hipnotis bodohnya lagi.
"Kau punya teman?"
"Bukan urusanmu!"
"Mau kucium lagi, eoh?"
"Iya, punya. Puas kau?!"
Sehun merengut tidak suka saat melihat Jongin yang tersenyum terlihat puas, sebelum dia kembali mengalihkan pandangannya lagi ke arah lain.
"Siapa?"
"Kau tidak akan kenal," jawabnya ketus dan terdiam beberapa saat sebelum kembali melanjutkan. "Xiumin-hyung, Jongdae-hyung, Suho-hyung, banyak deh pokoknya. Mereka teman Luhan-hyung juga."
"Sama seperti teman Luhan-hyungmu itu, mereka semua juga ingin berteman denganmu. Apa salahnya memiliki teman banyak? Itu justru lebih baik. Kau tidak akan makan sendirian lagi di kantin."
"Aku tidak masalah dengan itu. Sudah lepaskan! Aku mau pulang!" Sehun mendorong dada Jongin keras, sangat keras hingga membuat Jongin hampir terjengkang ke belakang. Lalu namja milky skin itu lari sekuat tenaga meninggalkan Jongin yang hanya menghela napas sambil tersenyum kecil melihatnya.
.
.
.
Sial! Sial! Sial! Dia belum mengambil piring ibunya sejak kemarin. Ini sudah menjelang malam, dan dia yakin si namja-sesat-kelebihan-hormon itu pasti sedang merencanakan sesuatu. Dilihat dari lampu depan yang mati dan suasana rumah yang juga gelap.
Dengan langkah pelan, Sehun memasuki halaman depan rumah itu dan berdiri diam di depan pintu. Tangannya terangkat ragu mengetuk pintu itu beberapa kali. Dia hanya merasa ini terlalu konyol untuk berkunjung malam-malam begini, bukannya takut yang membukakan pintu itu sosok lain dengan jubah putih dan rambut hitam panjang dengan wajah mengerikan.
Beberapa menit berdiri disana, tidak ada yang menyahut. Sehun mengeraskan ketukannya di pintu yang lama kelamaan berubah menjadi gedoran keras dengan tali kesabaran yang sudah putus.
"BUKA PINTUNYA, IDIOT!" teriaknya ganas masih menggedor-gedor pintu itu dengan kasar.
Dan pintu akhirnya terbuka, menampilkan sosok Jongin yang hanya memakai kaos putih kusut dengan celana belelnya, wajahnya juga terlihat sekali baru bangun tidur. Gembel sekali orang ini! sinis Sehun dalam hati.
"Kau belum mengembalikan piringku!" ujarnya sambil menadahkan tangannya meminta Jongin cepat-cepat mengembalikan piringnya.
Dahinya mengernyit saat melihat Jongin justru hanya mengacak rambutnya sendiri sambil menguap sekali, terlihat masih mengantuk. Masih mengenakan kemeja sekolahnya yang jadi acak-acakan dengan kancing terbuka.
Feromon overload!
Mungkin kalau seorang gadis yang melihat ini, maka bisa dipastikan gadis itu akan berteriak 'KYAAAA~ SO SMEXY!' sebelum jatuh pingsan.
Tapi bagi Sehun sekarang ini Kim Jongin benar-benar terlihat seperti gembel jalanan. Tidak! Dia sedang tidak memerah saat ini jadi tolong jangan pandangi wajahnya terus atau dia akan melemparmu dengan batu.
"Oey!"
"Oh-hooaahm... masuk saja dan ambil di dapur!" setelah itu Jongin kembali masuk dan merebahkan diri di sofa, sedetik setelahnya namja itu kembali ngorok di tempat.
Sehun sekali lagi mendengus keras dan berjalan ke arah dapur yang sebelumnya ditunjuk Jongin. Dan─
Syit!
Apa ini yang disebut dapur? Peralatan yang kotor bertebaran, bekas-bekas makanan instan yang tercecer, dan... sesuatu yang terbang kearahnya─
"GYAAAAAAAH!"
Slip~
BRUUKK!
"AAAAAAARGH SIAPAPUN SINGKIRKAN MAKHLUK HINA KOTOR DAN PENUH DOSA INI DARI RAMBUTKU?!"
Sehun merasakan bulu kuduknya meremang saat makhluk yang dia bilang 'Hina, Kotor, dan Penuh Dosa' itu merayap dari kepalanya turun ke leher.
"KIM JONGIN BANGS*T! JONGIIIIN! AAAAAAARGH! AKU MATI AKU MATI AKU MATI!"
Sehun sudah kelabakan merasakan makhluk cokelat kecil mungil imut unyu- oops maksud saya si kecoa itu masuk ke bajunya dan berkelana sepanjang kulitnya menyebabkan sensasi geli dan ngeri.
"AAAAARGH?! JONGIN KEMARI KAU ATAU AKU KEBIRI KAU NANTI!"
"Uhh... ada apa─ Sehun? Kenapa berjongkok di lantai?" Jongin mengangkat alisnya melihat posisi Sehun yang mengenaskan di lantai.
"T-t-tolong aku..." Sehun menjulurkan tangan kanannya kearah Jongin dengan gemetaran, hampir tewas.
Jongin tambah bingung. Tolong? Seorang Oh Sehun minta tolong? Ada apa ini? Dia berjongkok di depan Sehun dan menepuk-nepuk kepala bersurai cokelat itu lembut. Dia ingin bertanya ada apa, sebelum si makhluk pembawa bencana keluar dari kerah baju Sehun dan merayap naik ke wajah yang sekarang sudah pucat pasi itu.
"GYAAAAAAAAAAHH!"
Bukan hanya Sehun yang berteriak, tapi Jongin juga ikut-ikutan teriak sambil mundur dari Sehun dengan wajah horror.
"K-k-kecoa!"
"J-Jongin... s-singkirkan makhluk ini!" Sehun semakin pucat melihat kecoa itu tepat bertengger di hidungnya.
"Oke, jangan bergerak!"
"K-kau mau apa dengan sapu itu hah?!"
"Aku akan menyingkarkannya jadi diam saja, oke?"
"Singkirkan benda itu brengsek!"
"Diam saja!"
"Jongin, jangan ayunkan!"
"..."
"JONGIN KAU BERNIAT MEMUKUL WAJAHKU HAH?!
Dan sepertinya si kecoa kaget akan teriakan itu dan malah terbang ke... kepala Jongin.
"..."
"..."
Krik!
"SEHUN SINGKIRKAN KECOA INI DARI KEPA─"
BUAAKK!
Oh Sehun ngos-ngosan masih memegang gagang teflon erat.
Dan akhirnya si kecoa menggelepar di lantai sekarat. Sepertinya bukan hanya kecoa saja yang sekarat, tapi Kim Jongin juga hampir tewas karna gagar otak.
Pertolongan pertama! Pertolongan pertama! CPR! CPR!
Tunggu-
Tidaaak! Dia tidak mau memberi napas buatan pada namja dekilan ini!
.
.
To Be Continue
.
.
