Sakura baru keluar dari kamar kedua putra nya dan dia di kaget kan dengan Pain yang sudah rapih dengan kemeja putih dan dasi duduk di kursi ruang makan. Rambut orange basah berantakan, kemeja putih yang sangat pas membungkus tubuh atletisnya membuat pria berrambut orange itu terlihat sangat menawan dan gagah, tapi sayang wajahnya tertekuk sebal. Sakura melirik jam dinding '07:03' tumben sekali. Biasanya pria berrambut orange itu berangkat kerja pukul '09:30' itu pun Sakura harus berusaha keras membangunkannya, menyiap kan pakain dan yang lain, kalo pagi hari Pain sangat manja. Melihat wajah Pain yang kusut Sakura tahu Pain dalam situasi hati yang buruk, sepertinya dia marah dengan kejadian tadi malam. Sakura mendekati Pain yang sedang mengoleskan selai ke roti. "Berangkat pagi." Pain meliriknya sekilas lalu bergumam tidak jelas. "Mau secangkir kopi?" Tawarnya dengan senyuman hangat.
Pain meletakkan roti yang baru dia gigit satu gigitan. "Tidak." Dia berkata dingin seraya mendorong kursi. Belum sempat dia berdiri dari kursinya dia di kagetkan dengan Sakura yang mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari dengan gerakan lembut. Pain tertegun.
"Ada selai di sudut bibir mu Anata." Sakura tertawa melihat wajah Pain yang kembali merajuk.
Menatap Sakura datar Pain berranjak pergi. "Aku sibuk" dia mengambil tas dan jasnya "Ada metting pagi." Lalu pergi begitu saja. Sakura menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Begitulah Pain, kalo ada mau nya dan tidak di turuti dia akan bersikap dingin dan sok sibuk di kantor. Luarnya boleh terlihat menakutkan dan tegas tapi di dalam dia tidak lebih dari seorang pria manja yang suka ngambek. Sakura tidak tahu kalau Pain hanya akan bersikap manja dan mudah ngambek hanya padanya, istrinya.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.
.
Menggenggam kemudi erat Pain mendengus kasar. Ugghh... Pagi ini dia tidak mendapatkan kecupan pagi, menyebalkan. Tapi kalo di ingat-ingat ini salahnya yang mengacuhkan Sakura tapi, siapa peduli. Tapi dia sangat peduli, bibir Sakura yang hangat, kenyal dan menggoda. Ughh... apa-apaan pikiran bodoh ini. Dia benar-benar kesal. Sakura meninggalkannya dan lebih memilih putra bungsunya yang menangis semalam. Menyebalkan. Pain melaju dengan kecepatan sedang meninggal perkarangan rumahnya yang cukup besar, beberapa pegawai seperti supir, tukang kebun dan satpam memberi salam saat berpapasan dengannya.
OoO
"Hai, sudah pulang." Sapa Sakura mendekati Pain yang baru pulang dari kantor. Mengambil alih tas kerja Pain dan membantu pria itu melepaskan jas kerjanya Sakura menggiring Pain keruang makan. Dia sudah menyiapkan makan malam yang cukup banyak malam ini dan tentunya sangat lezat.
"Aku tidak mau makan." Sakura menghentikan kegiatannya menarik kursi untuk Pain saat mendengar suara dingin pria itu dan melengos pergi begitu saja kearah kamar mereka.
"Kau yakin? Aku sudah memasak makanan kesukaanmu." Sakura mengekori Pain yang tampak acuh dengan ucapannya. "Baiklah kalau begitu." Hela Sakura putus asa. Dia meletakkan tas kantor Pain pada tempatnya dan menaruh jas pria itu ke keranjang pakaian kotor lalu pergi keluar kamar, memberitahu pelayan untuk membereskan meja makan.
Sakura menatap Pain yang tampak sibuk dengan laptopnya, atau pura-pura sibuk, di atas tempat tidur. Dia tahu bahwa Pain merupakan salah satu bos di perusahaan besar yang di bangun Pain bersama ke empat temannya. Deidara, Sasori, Hidan dan kakaknya, Nagato. Namun baru kali ini Sakura melihat Pain sesibuk ini. Biasanya pria itu santai-santai saja, seperti tidur di pangkuannya misalnya. "Anata, ini sudah malam apa tidak bisa di kerjakan besok?" tanyanya lembut.
Pain menggeleng. "Tidak."
Sakura menghela nafas melihat tingkah laku suaminya yang berbeda malam ini. "Memangnya itu sangat penting?" tanyanya lagi.
Pain menggaruk tengkuknya. Sebenarnya tidak penting sih, dia hanya pura-pura. "Ya. Sangat penting.
Sakura mendengus. Apa perlu dia melakukan 'itu' agar Pain berhenti bersikap acuh dan melupakan laptopnya. Sakura memutuskan untuk menghidupkan televisi dan duduk di samping Pain. Sambil sesekali memperhatikan wajah suaminya yang terlihat tidak serius mengerjakan pekerjaannya. Pain bahkan tidak menanyakan kedua putra mereka, semarah itu kah?
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Sakura menguap kemudian melirik jam dinding 12:31 dan melihat Pain yang sibuk dengan laptopnya, masih belum ada tanda-tanda untuk selesai. Sakura menghela nafas.
"Pain... Sudah malam kau tidak mengantuk? Anata, tidur yuk." ujarnya seraya mengelus rambut berantakan Pain lembut.
Pain tidak bergeming dan tetap berkonsentrasi pada layar laptonya. "Kau duluan saja." balas Pain singkat. Sakura mengerang frustasi. Lama-lama kesal juga di diamkan seperti ini. Mendengus pasrah Sakura berjalan ke arah lemari dekat tempat tidur lalu berbelok ke walk in closet dengan sesuatu di tangannya. Tidak ada cara lain.
Sakura mematut diri didepan cermin. Rambut merah muda basah berantakan dan kemeja putih polos Pain yang kebesaran, dengan tanpa bawahan (celana pants) yang membuatnya sexy sekaligus menantang. Menyeringai kecil lalu mengintip kearah tempat tidur, dimana Pain masih juga berkutat dengan laptopnya.
Sakura keluar dari Walk In The Closet dengan langkah lambat namun pasti. Dia menyisir rambut basahnya kebelakang dan terus berjalan mendekati Pain yang tampak masih belum sadar adanya sosok yang mendekat.
Clek!
Sakura mengunci pintu. Dengan malas Pain menengok kesumber suara, ekspresi malasnya hilang seketika melihat Sakura. Pain sampai harus menelan ludah berkali-kali menahan libidonya yang langsung naik.
#banyak kesalahan di Chap satu, terutama pada sumarry, yang akan saya perbaiki bila sudah ada waktu senggang.
