"Katakan apa benar kau bercinta dengannya?" amuk Suho geram sambil melotot tajam pada Sehun yang tengah duduk di sofa sambil mendengarkan musik melalui earphone-nya.

Para penghuni rumah yang lain yaitu Kris, Chen,Chanyeol dan Jongin yang berada satu ruangan dengan mereka hanya menjadi penonton setia perdebatan antara Suho dan Sehun.

"Siapa yang bilang?" tanya Sehun acuh.

"Jongin kemarin melewati kamarmu dan mendengar suara—yah kau tahu maksudku kan?" kata Suho masih dengan pelototan tajam pada Sehun.

"Memangnya apa salahnya sih? Jongin juga sering melakukannya kan—"

"Heh, aku memang melakukannya tapi saat mereka sudah mati. Sudah jadi mayat," gerutu Jongin.

Suho mendesah pelan. "Sehun-ah, kau tahu kan kita dilarang berhubungan dengan manusia. Kita hanya menganggap manusia sebagai mangsa. Titik."

"Ck, aku kan hanya ingin bermain-main dengannya saja—" decih Sehun sebal.

"Setahuku selama ini kau tidak pernah tertarik dengan gadis mangsa kita secantik apapun dia. Atau jangan-jangan uri Sehunnie jatuh cinta pada mangsa baru kita itu eh?" ledek Chanyeol sambil nyengir lebar.

"Jangan ngawur!" teriak Sehun sambil mendelik pada Chanyeol. "Aku hanya butuh pelampiasan nafsu saja," lanjutnya pelan.

"Kau kan bisa bermain dengan para vampire betina di luar sana, atau kalau mau merendahkan harga diri sedikit bisa bercinta dengan mayat seperti Jongin," saran Kris seraya menyeruput kopi di tangannya dengan gaya angkuh.

Jongin melotot. "Heh asal kau tahu tubuh manusia jauh lebih nikmat daripada tubuh dingin para vampire betina itu!"

"Walaupun mereka sudah mati?" celetuk Chen.

"Yah—kalau matinya belum lama tubuhnya masih hangat," jelas Jongin. "Apalagi kalau masih hidup pasti lebih nikmat, benar tidak Sehun-ah?"

Sehun hanya diam.

Suho menggeram marah. "Tetap saja kita tidak boleh berhubungan dengan manusia senikmat apapun itu! Kita harus mematuhi peraturan dunia kita!" tegasnya.

"Kau itu kolot sekali sih, sekali-sekali coba lah melanggar peraturan!" celetuk Kris santai.

Suho hanya memberikan deathglare-nya.

"Kumohon jangan diteruskan Sehun-ah, kau tahu betapa kejamnya tetua kan? Kalau ketahuan kita melanggar, dia bisa mematahkan kepala kita begitu saja," kata Suho sambil agak begidik membayangkan apa yang baru diucapkannya.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan tengah meringkuk dikamarnya. Ia frustasi memikirkan kemungkinan untuk keluar dari rumah vampire ini, sungguh ia ketakutan setengah mati. Ia juga masih tidak habis pikir kenapa ayahnya bisa mengorbankan dirinya seperti ini.

"Lebih baik aku mandi dulu untuk menyegarkan pikiran," gumamnya sambil berjalan dengan lesu ke kamar mandi.

Luhan membuka pintu kamar mandi, bermaksud mengisi air di bathtub tapi ternyata sudah ada orang mendahuluinya disana.

"Se-sehun?" cicit Luhan ketakutan saat melihat Sehun berbaring di bathtub dengan mata terpejam—masih berpakaian lengkap, sepertinya ia tidak peduli dengan bajunya yang basah kuyup karena air terisi separuh penuh.

"Ada apa?" tanya Sehun cuek, masih memejamkan matanya.

"Se-sedang apa kau disini?" cicit Luhan lagi sambil meremas ujung bajunya.

"Mandi tentu saja."

"Kenapa masih berpakaian lengkap?" tanya Luhan lagi berusaha memberanikan diri mendekat ke arah bathtub.

Sehun membuka matanya. "Ah—jadi kau ingin melihatku telanjang disini?"

Luhan merona dan memalingkan wajahnya mendengar perkataan vulgar Sehun. "Ti-tidak, bagaimana bisa kau berpikiran begitu?"

Sehun sepertinya tidak berniat untuk menanggapi, ia malah kembali memejamkan matanya.

"Sehun-ssi, bisa kau keluar dari sana? Aku juga mau mandi—" kata Luhan setelah mengumpulkan segenap keberaniannya.

"Kenapa tidak mandi bersama saja?" ucap Sehun santai.

"Eh? Ja-jangan bercanda—" Luhan mendadak gugup. "Lagipula memangnya kau tidak kedinginan?"

Sehun menegakkan dirinya, menimbulkan suara riak air dalam bathtub. "Kau mau menghangatkanku?" katanya sambil menarik tangan Luhan agar mendekat padanya.

"Ti-tidak, jangan!" Luhan berusaha melepaskan tangannya, menyadari tanda bahaya yang sebentar lagi menghampirinya.

"Well, rusa kecil sudah masuk ke dalam kandang serigala, tidak akan ada jalan keluar sayang." Sehun berkata seraya menarik tubuh Luhan masuk ke dalam bathtub.

"Sehun-ssi kumohon jangan," pinta Luhan memelas sambil terus meronta dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Sehun, menimbulkan suara kecipak riuh dalam bathtub.

Sehun hanya menyeringai, kemudian menyambar bibir Luhan yang sedari tadi tidak berhenti memohon padanya. Menahan tengkuk Luhan dengan sebelah tangannya agar gadis itu berhenti menggeleng-gelengkan kepalanya sementara tangannya yang lain mulai bergerilya meraba bagian depan tubuh sang gadis yang hanya berlapis kemeja tipis dan telah basah kuyup.

Luhan berusaha menepis tangan Sehun dan mendorong dada pemuda bertubuh tegap itu agar menjauh dari tubuhnya.

"Jangan, kumohon jangan," pinta Luhan memelas, ia tidak ingin kejadian kemarin terulang. Ia hanya ingin melakukan itu dengan orang yang dicintainya.

"Bukankan kemarin kau menikmatinya sayang?" bisik Sehun di telinga Luhan. Lalu ia mulai menjilat kecil telinga sang gadis.

Luhan menggeleng cepat. Tidak ia tidak menikmatinya dan tidak boleh menikmatinya. Ini salah.

Sehun mengabaikan semua penolakan Luhan, ia mulai menjilati leher gadis berambut keemasan itu dan menancapkan taring tajamnya disana.

"Ah—sakit," rengek Luhan sambil menetesakn air mata. Ia berusaha memberontak lagi.

"Jangan banyak bergerak atau rasa sakitnya akan bertambah," kata Sehun memperingatkan, lalu kembali menghisap leher Luhan yang telah berhenti berontak.

Setelah puas mengisi energinya dengan darah Luhan, Sehun memulai kembali aksinya menjilat dan mengecup setiap inci bagian tubuh yang telah diklaim sebagai miliknya itu. Ia menyingkirkan dengan paksa pakaian basah Luhan yang menurutnya mengganggu hingga gadis itu kini telanjang didepannya.

Luhan berusaha menutupi tubuhnya dari tatapan lapar Sehun sambil menangis sesenggukan. Ia sungguh ketakutan sekarang. Belum lagi lehernya yang terasa perih akibat gigitan Sehun tadi.

"Ah—sikap malu-malu dan berontakmu selalu membuatku bergairah sayang, aku suka itu," kata Sehun dengan nada suara yang sarat akan gairah. Ia sudah tidak tahan lagi untuk menyerang rusa kecil dihadapannya itu.

Luhan beringsut mundur tapi Sehun dengan cekatan mencengkeram kakinya dan membukanya lebar-lebar. Ia menyeringai sesaat sebelum menenggelamkan kepalanya pada selangkangan sang gadis.

"Eunghh—jangan—" Luhan berusaha mendorong kepala Sehun agar menjauh dari kewanitaannya. Kakinya menendang-nendang tak jelas tapi Sehun segera menahannya dengan tangan kekarnya.

Luhan tidak memiliki tenaga untuk melawan lagi. Badannya terasa lemas karena gerakan lidah Sehun yang begitu lihai menjilati bagian sensitifnya itu. Mati-matian ia berusaha agar tidak mendesah.

"Hey, kenapa kau menahan desahan seksimu?" goda Sehun sambil mendongakkan kepalanya sejenak, menatap wajah Luhan yang tengah menggigit bibirnya sambil memejamkan matanya. Ia tegah berusaha agar tidak ada desahan lolos dari bibir mungilnya.

Luhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak jelas.

Sehun merasa kesal karena Luhan tak kunjung mengeluarkan desahannya dan masih dengan prinsipnya untuk tidak menikmati perlakuan Sehun.

Pemuda berkulit pucat itu menjauhkan kepalanya dari kewanitaan Luhan kemudian ia menegakkan badannya dengan bertumpu pada lututnya. Ia menarik kepala Luhan agar tepat menghadap pada kejantananya yang sudah mulai menegak.

"Kulum!" perintahnya sambil menatap tajam pada Luhan, tapi gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras. Ia tidak mau melakukan hal semacam itu.

Karena kesal Sehun memegang dengan kuat pipi Luhan sehingga mulut kecil gadis itu terbuka dan langsung saja ia memasukkan kejantanan besarnya. Luhan membelalakkan matanya, ia merasa mual karena penis Sehun begitu besar dan begitu keras mengenai tenggorokannya.

"Wow—ternyata mulutmu juga nikmat sayang," desis Sehun sambil memaju mundurkan kejantanannya sementara tangannya menahan kepala Luhan yang berusaha berontak.

Setelah beberapa menit dan kini kejantanannya telah menegak sempurna, Sehun melepaskan penis kebanggaannya dari mulut Luhan lalu mendorong garis itu sehingga terlentang didepannya. Kembali ia membuka lebar paha mulus Luhan dan menusukkan kejantanannya dengan kasar di vagina sang gadis. Luhan menjerit karena rasa sakitnya masih sama seperti kemarin.

"Aku akan membuatmu mendesah nikmat, lihat saja," kata Sehun sambil mulai menusuk vagina Luhan dengan keras.

Luhan membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Sehun terus memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo cepat sambil meremas kedua dada sintal luhan yang bergerak-gerak seiring dengan gerakan pinggulnya.

Entah berapa kali Sehun sudah mengenai titik kenikmatannya. Muka Luhan sudah memerah sempurna menahan kenikmatan bertubi-tubi yang diberikan oleh pemuda diatasnya itu.

"Ahh—" akhirnya sebuah desahan lolos dari mulut Luhan. Sehun meneyringai penuh kemenangan.

"Sudahlah, kau tidak perlu malu-malu lagi untuk mendesah, aku suka suara desahanmu," bisik Sehun yang membuat Luhan memalingkan wajahnya sambil merona.

Sehun mempercepat tempo gerakannya, membuat suara pertemuan kulit mereka bertambah keras. Diiringi juga dengan suara desahan mereka yang semakin tidak beraturan.

"Sehun aku mau—aaahhhh—" Luhan mencapai puncak kenikmatannya. Tubuhnya melemas, ia memejamkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya. Sementara Sehun masih memompa kejantanannya dengan tempo yang lebih cepat tanpa mempedulikan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.

Selang beberapa menit Sehun masih setia membuat tubuh Luhan terhentak-hentak dan mengajak gadis itu berciuman panas sambil memainkan putting gadis itu. Luhan benar-benar terbuai oleh sentuhan Sehun, ia merasakan gairah ditubuhnya timbul lagi setelah orgasmenya barusan. Mereka berdua sekarang sama-sama terduduk dalam bathtub sambil terus menggerakkan pinggulnya berlawanan arah. Sehun menciumi leher dan dada Luhan serta meninggalkan banyak tanda cinta disana.

"Sayang, sepertinya sebentar lagi aku—"

"Aku juga—sebut namaku Sehun-ah—"

"Luhannie—"

"Sehunnie—"

"AHHH—"

Setelah meneriakkan nama mereka secara bersamaan, Sehun dan Luhan ambruk di dalam bathtub sempit itu. Luhan meletakkan kepalanya di dada bidang Sehun yang masih naik turun karena nafasnya yang tak beraturan. Sehun mengelus kepala Luhan dengan lembut.

Apa benar kata Chanyeol kalau aku jatuh cinta padamu?

.

.

.

.

.

.

.

Selama beberapa minggu Sehun dan Luhan terus bercinta—walaupun sama sekali tidak ada kata cinta terucap diantara mereka. Sehun benar-benar mengabaikan perkataan Suho dan Luhan benar-benar mengabaikan kewarasan otaknya. Mereka terlarut dalam gairah yang ada dalam diri mereka masing.

Semua berlangsung normal—mereka bisa menyembunyikan apa yang mereka lakukan dari semua orang—sampai di suatu pagi sesuatu terjadi.

"Hoooekk."

Luhan tampak sedang muntah-muntah di kamar mandi. Belakangan ia sering merasa pusing dan perutnya tidak enak.

Suho yang kebetulan melewati kamar Luhan merasa curiga mendengar suara orang muntah dan mengetuk pelan kamar Luhan.

"Luhan-ssi, apa kau baik-baik saja?" tanya Suho karena Luhan tak kunjung membuka pintunya.

"Aku tidak apa-apa Suho-ssi tenang saja," teriak Luhan dari dalam kamar mandi, tapi beberapa saat kemudian suara muntah terdengar lagi.

Suho kemudian membuka pintu kamar Luhan yang tidak terkunci dan menghampiri Luhan di kamar mandi, wajah gadis itu sangat pucat.

"Astaga kenapa kau muntah-muntah begini?" Suho terkejut saat melihat Luhan terus menerus mengeluarkan suara 'hoek' nya.

Luhan hanya menggeleng lemah.

Suho kemudian mendekat ke arah Luhan dan memegang perut gadis mungil itu. "Astaga Luhan-ssi, kau hamil?"

"Apa? Tidak mungkin!" teriak Luhan sambil membungkam mulutnya. Ia benar-benar terkejut.

"Tapi aku bisa merasakan pergerakan disini, kami bangsa vampire memiliki indera yang sangat peka. Aku bisa merasakan ada kehidupan di perutmu. Kau hamil," jelas Suho sambil memegang perut Luhan lagi. Sementara Luhan wajahnya semakin memucat.

"Kita harus membicarakan ini dengan Sehun," kata Suho berusaha setenang mungkin walaupun wajahnya menunjukkan kekhawatiran teramat sangat.

Luhan hanya bisa pasrah saat Suho menarik tangannya dan mengajaknya untuk bertemu dengan Sehun, membicarakan kehamilannya.

Seperti biasa Sehun tengah berada di ruang tengah, tiduran di sebuah sofa sambil mendengarkan musik melalui earphone kesayangannya.

"Sehun-ah, kenapa kau bisa seceroboh ini?" hardik Suho tanpa basa-basi pada Sehun, sementara Luhan hanya menunduk di belakangnya.

"Ada apa sih memangnya?" tanya Sehun seraya bangkit dari tidurnya.

"Luhan hamil!" teriak Suho. "Bukankan aku sudah melarangmu untuk menyentuhnya?" hardik Suho lagi sambil memijat pelipisnya.

Sehun hanya diam, ia malah memperhatikan Luhan dari atas sampai bawah. Luhan hanya menunduk sambil menggigit bibirnya.

"Sekarang apa yang akan kita lakukan? Kalau sampai tetua tahu kau memiliki hubungan dengan manusia kau bisa mati! Apalagi sampai membuatnya mengandung astaga!" Suho berkata sambil mondar mandir tidak jelas.

"Lalu kau mau aku berbuat apa?"

"Satu-satunya cara adalah membunuh bayi itu agar tidak ada bukti kau berhubungan dengan manusia," kata Suho yang membuat Luhan terbelalak tak percaya.

"Tidak kau tidak boleh membunuh bayiku!" teriak Luhan sambil memegangi perutnya.

"Lakukan saja—" tiba-tiba suara Sehun menginterupsi.

Luhan menatap Sehun tak percaya. "Apa yang kaubilang barusan?"

"Lakukan saja. Bunuh bayi itu."

.

.

.

.

.

.

.

Hehehe ceritanya malah jadi gaje begini? -_-

Maaf kalau NC nggak hot ToT

Mind to review? :)