"Tidak! Pokoknya kau tidak boleh membunuh bayiku!" teriak Luhan histeris sambil beringsut mundur menjauhi Suho dan Sehun. "Dan kau Sehun ini adalah bayimu bagaimana bisa kau berkata seperti itu!"
"Ck, aku tidak pernah menginginkan ada bayi diperutmu," decih Sehun.
Luhan menatap Sehun dengan tatapan tak percaya. "Kau—benar-benar brengsek!"
"Ya—memang begitulah aku. Yang kuinginkan hanyalah tubuhmu, aku tidak pernah bermaksud menanamkan benih diperutmu itu." Sehun berkata santai sambil menatap Luhan dengan pandangan meremehkan. Luhan berlinangan air mata, perasaannya campur aduk antara sedih, marah, dan kecewa.
"Kalau begitu bunuh saja gadis itu sekalian—" kata Kris yang tiba-tiba sudah berada di antara mereka.
Air mata Luhan mengalir semakin deras karena ketakutan mendengar perkataan Kris.
"Jangan hyung, aku masih ingin menikmati tubuhnya, bunuh bayinya saja." Sehun berkata lagi. Suho menatap pemuda yang lebih muda darinya itu dengan tatapan tidak percaya.
"Bagaimana bisa kau sekejam itu? Bagaimanapun juga itu bayimu! Kau—benar-benar tidak punya perasaan!" hardik Suho.
"Aku memang tidak punya perasaan, karena aku sudah mati dan aku vampire." Sehun berkata enteng sambil meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Luhan yang hatinya tengah hancur berkeping-keping.
"Kumohon—jangan bunuh anak ini, dia tidak berdosa, kami yang berdosa," rintih Luhan sambil berlutut di depan Suho.
Suho iba melihat keadaan Luhan, ia melirik Kris sekilas meminta pendapat tapi namja berambut pirang itu hanya mengedikkan bahunya dan berlalu meninggalkan mereka.
"Tapi Luhan-ssi, kau tahu adanya bayi itu bisa membahayakan keluarga kami. Dan juga membahayakan dirimu sendiri. Jika sampai para tetua vampire tahu kita semua bisa dihukum, bahkan mungkin dibunuh." Suho berusaha memberikan penjelasan seraya menyuruh Luhan untuk berhenti berlutut.
"Ap-apa tidak ada cara lain?" tanya Luhan sambil terus terisak dan memegangi perutnya.
Suho menggeleng lemah dengan raut wajah prihatin.
"Kalau begitu bunuh aku juga!" teriak Luhan. "Bunuh aku sekarang juga Suho-ssi!"
"Tenang Luhan, kumohon tenang."
"Bagaimana aku bisa tenang kalau ada orang yang berniat membunuh anakku?" teriak Luhan kalap.
"Bahkan ayahnya saja tidak menginginkan anak itu, dan bayi itu adalah monster, dia itu vampire. Kau mau melahirkan bayi vampire?" Suho terus berusaha memberikan penjelasan. Isak tangis Luhan semakin keras. Ia tidak mau memiliki bayi monster tapi ia juga tidak tega membunuh bayi malang yang tidak tahu apa-apa itu.
"Tapi dia berhak untuk hidup. Dia sudah tumbuh disini dan dia berhak untuk melihat dunia ini," kata Luhan lagi sambil mengelus perutnya.
Suho menatap Luhan prihatin. "Tapi Luhan-ssi—"
"Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu membunuh anakku, tidak akan pernah!" kata Luhan sambil melempar tatapan tajamnya apda Suho. Setelah itu ia berlari menuju kamarnya dan menutup pintu dengan keras lalu segera menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Malam harinya Luhan tak kunjung keluar dari kamar. Gadis itu meringkuk dikamarnya seharian sambil menangis. Ia terlalu takut untuk keluar kamar—takut mereka akan membunuh bayi dalam perutnya.
Sementara itu para namja keluarga vampire tengah berada di meja makan. Suho menatap kursi kosong yang biasanya ditempati Luhan, ia khawatir dengan keadaan gadis itu.
"Dimana si cantik itu?" tanya Chanyeol memecah kesunyian.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kalian—" kata Suho tiba-tiba. Semua yang berada di meja makan menatapnya penasaran, kecuali Sehun dan Kris yang masih fokus pada makanannya.
"Apa itu hyung?" tanya Chen.
Suho mengambil nafas dan menghembuskannya pelan. "Luhan—dia hamil."
"Mwooo?" teriak Chen, Chanyeol dan Jongin bersamaan.
"Sehun bagaimana bisa kau—astaga—" Jongin mengusak rambutnya frustasi. Sehun hanya terdiam dan masih fokus mengiris daging di piringnya.
"Lalu bagaimana? Kalau Count Dracula mengetahui ini kita bisa tamat—dia akan mematahkan leher kita, kemudian membakar tubuh kita—andwae!" Chanyeol bermonolog sambil begidik ngeri.
"Dia sangat tidak menyukai vampire yang melanggar peraturan," kata Jongin sambil melirik Sehun dengan sebal.
"Ya—karena apalagi sampai berhubungan dengan manusia. Gawat kalau eksistensi kita di dunia ini diketahui oleh mereka," sambung Chen gusar. Ia juga merasa ketakutan jika pemimpin vampire yang terkenal kejam itu mengetahui adanya pelanggaran peraturan di rumah mereka.
"Bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur—" desah Suho lelah.
"Tapi bukankah kami sudah melarangmu menyentuh gadis itu? Kenapa kau masih saja melakukannya dasar bodoh!" teriak Jongin sambil menuding Sehun yang tak kunjung bereaksi.
"Kau tidak sadar kalau perbuatanmu bisa membahayakan kita semua!" imbuh Chen sambil berdiri dari duduknya dan menatap tajam Sehun.
Sehun akhirnya mendongakkan kepalanya dan berhenti mengiris daging di piringnya.
"Biarkan saja mereka membunuhku—"
"Apa maksudmu Sehun-ah?" Suho bertanya keheranan.
"Menjadi makhluk abadi itu membosankan. Aku rasa mati mungkin lebih menarik." Sehun berkata enteng sambil berlalu meninggalkan meja makan. Meninggalkan kelima saudaranya yang menatapnya tak percaya.
Suho menghela nafas panjang. Adiknya itu memang sering menceritakan keluh kesahnya mengenai ketidaksukaannya menjadi seorang penghisap darah. Ia ingin menjadi manusia biasa dengan denyut nadi dan aliran darah dalam tubuh yang hngat. Bukannya malah hidup dari menghisap darah orang lain.
"Heh, kenapa malah melamun? Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Suara Kris membuyarkan lamunan Suho.
"Haahh—aku sendiri juga bingung. Aku tidak tega untuk membunuh bayi itu apalagi membunuh Luhan. Jadi yang bisa kita lakukan adalah melindungi Sehun apabila Count Dracula ataupun utusannya datang untuk menghukumnya." Suho berkata lirih. Ia merasa itu satu-satunya yang dapat mereka lakukan.
Chen, Chanyeol dan Jongin menunjukkan ekspresi ngeri. Kris berjalan mendekati Suho dan menepuk bahunya pelan, sebagai tanda bahwa ia mendukung keputusan namja yang paling dewasa diantara mereka itu.
.
.
.
.
.
.
.
Suho merasa khawatir dengan keadaan Luhan, semenjak pagi ia sama sekali tidak keluar dari kamarnya untuk makan. Oleh karena itu Suho memutuskan untuk mengantar makanan ke kamar Luhan.
"Luhan-ssi—aku membawa makanan untukmu," kata Suho sambil mengetuk pintu kamar Luhan.
Luhan masih meringkuk di ranjangnya, matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Ia memegangi perutnya sejenak, sebenarnya ia merasa sangat lapar tapi ia takut jika keluar dari kamar mereka akan berbuat jahat padanya dan juga bayinya.
"Tenang saja aku tidak akan berbuat macam-macam, aku hanya ingin mengantar makanan, kasihan bayimu kalau kau tidak makan," kata Suho seolah bisa membaca pikiran Luhan.
Akhirnya Luhan membukakan pintu untuk Suho dan menerima nampan berisi makanan yang disodorkan padanya sambil tersenyum masam. Lalu menutup kembali pintunya setelah Suho pamit pergi.
Luhan berbalik hendak duduk di ranjangnya saat ia melihat seseorang sudah mendahuluinya duduk di tepian ranjang. Sehun—namja itu tengah memandangnya dengan tatapan datar khasnya.
"Sedang apa kau disini?" tanya Luhan ketus.
Sehun menyeringai. "Sudah mulai berani berkata ketus padaku eh?"
"Keluar dari kamarku—SEKARANG!" teriak Luhan geram. Ia benar-benar muak dengan namja dihadapannya itu.
"Wow, bahkan sudah mulai berani meneriakiku." Sehun berkata sambil melangkah mendekati Luhan, membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
"Kau mau apa?" cicit Luhan sambil terus bergerak mundur.
Sehun menyeringai lagi. "Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu malam ini. Aku hanya ingin menasehatimu sebaiknya kau gugurkan kandunganmu jika kau masih ingin hidup."
"Lebih baik aku mati daripada harus membunuh anakku sendiri!" teriak Luhan berang sambil menatap tajam Sehun.
"Ck, kau ini keras kepala sekali. Baiklah, jika memang kau juga ingin mati aku tidak bisa melarangmu, padahal aku masih ingin menikmati tubuhmu—"
PLAK.
Luhan menampar pipi Sehun dengan sekuat tenaga. Ia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan namja menyebalkan itu.
"Kau— benar-benar tidak punya perasaan!" teriak Luhan sambil berlinangan air mata.
Sehun menatap mata Luhan yang dipenuhi air mata. Tatapan itu bukan tatapan penuh ketakutan seperti biasanya. Tatapan kali ini lebih menyiratkan kekecewaan dan kesedihan mendalam. Sehun tidak suka itu, karena itu membuatnya menjadi merasa—bersalah?
"Cih, aku memang tidak punya perasaan. Aku ini bukan manusia, dasar bodoh," kata Sehun sambil memalingkan wajahnya, ia tidak kuat jika harus menatap Luhan lebih lama lagi.
"Kalau kau mau menggugurkan kandunganmu, aku akan membiarkanmu pergi dari sini," lanjut Sehun.
Luhan menatap Sehun tak percaya sambil menyeka air matanya. "Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Kau tidak ingin dibunuh oleh pemimpimu itu sehingga kau ingin mengorbankan anakmu hah? Sebenarnya satu-satunya yang pantas mati disini adalah kau!" teriak Luhan kalap.
Sehun merasakan sakit teramat sangat dalam hatinya mendengar perkataan Luhan. Bahkan ia bukan manusia dan jantungnya tak lagi berdetak, tapi kenapa bisa ia merasa sakit seperti ini?
"Yah—terserah kau saja. Tapi pikirkan baik-baik saranku tadi sebelum kau menyesal," kata Sehun sebelum meninggalkan Luhan yang masih menatapnya dengan tatapan membunuh. Luhan segera membanting pintu kamarnya keras setelah Sehun melangkah keluar.
Keluar dari kamar Luhan, Sehun mendesah pelan. "Aku hanya tidak ingin membahayakanmu, dengan adanya bayi vampire di rahimmu para tetua pasti tidak akan segan untuk membunuhmu juga—" gumamnya pelan.
Aku—mengkhawatirkanmu.
.
.
.
.
.
.
Kehamilan Luhan baru memasuki minggu kedua, tapi perutnya sudah mulai terlihat membesar. Terlalu besar untuk usia kandungan yang masih dini. Suho dengan rajin memeriksa Luhan, dibandingkan dengan saudaranya yang lain—bahkan ayah dari bayi itu sendiri—Suho lah yang paling peduli.
"Luhan-ssi, apa kau masih sering merasa mual?" tanya Suho pagi itu saat mereka tengah sarapan.
"Sebenarnya aku yang mual karena terus-menerus minum darah binatang—" sambar Jongin sebelum Luhan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Suho.
"Iya, kami butuh darah manusia hyung, kenapa hyung tidak mengizinkan kami meminum darahnya sedikit sa—"
"TIDAK BOLEH!" Kali ini Sehun yang menginterupsi perkataan Chen. Namja jangkung dengan kulit pucat itu baru saja bergabung dengan mereka di meja makan. "Bukankah sudah kubilang dia hanya milikku kalian tidak boleh menyentuhnya?"
Jongin dan Chen mendengus sebal.
Suho menghela nafas lelah. "Nanti akan kubeli mangsa lagi seperti biasanya."
"Yippieee, akhirnya darah manusia lagi!" sorak Chanyeol girang.
Luhan hanya menunduk takut mendengar pembicaraan mereka. Ya Tuhan, apakah nanti anakku juga akan menjadi seperti mereka?
"Luhan-ssi, kenapa kau hanya memandangi makananmu?" tanya Suho.
"Ehm—maaf tiba-tiba perutku terasa agak mual, lebih baik aku ke kamarku sekarang." Luhan beranjak dari meja makan diiringi tatapan heran dari para vampire.
Sehun mengikuti Luhan, ternyata gadis itu tidak menuju ke kamarnya namun ke halaman belakang. Gadis mungil itu duduk di kursi taman, pandangannya menerawang ke depan sambil sesekali mengelus perutnya yang mulai membesar itu.
"Nak, apakah kau tahu eomma sangat ingin pergi dari sini, bertemu dengan teman-teman eomma di luar sana. Disini mengerikan, eomma tidak mau kau tumbuh di tempat mengerikan ini," Luhan terus mengajak bicara bayi di perutnya sambil menitikkan air mata.
Sehun yang berdiri tak jauh dari Luhan mendengar semua yang yeoja itu katakan. Luhan tidak mengetahui keberadaan Sehun karena ia duduk membelakangi namja itu.
"Kalau ingin pergi segera gugurkan bayimu dan kau kuizinkan pergi, bukankah dulu aku pernah menawarkan itu padamu?"
Luhan terkesiap karena tiba-tiba Sehun berada di belakangnya. Yeoja itu segera menghapus sisa air mata di pipinya.
"Lebih baik aku membusuk di tempat ini daripada harus membunuh bayiku!" kata Luhan ketus.
"Kenapa sih kau begitu menginginkan bayi itu? Dia adalah monster dan mungkin saja membahayakanmu bodoh!" Sehun menjawab tak kalah ketus.
"Karena ini adalah anakku! Darah dagingku! Mana ada orang tua yang tega membunuh anaknya sendiri!" Luhan berteriak sambil menatap Sehun lekat.
"Mereka akan membunuhmu kalau kau mempertahankan bayi itu!" kata Sehun ngotot.
"Lalu apa pedulimu kalau aku mati? Apa pedulimu!" erang Luhan, air mata mengalir di wajah cantiknya.
"Baiklah, aku tidak peduli! Biarkan saja kita semua mati disini kalau itu memang maumu!" teriak Sehun sebelum ia meninggalkan Luhan dengan gontai dan masuk ke dalam rumah.
Luhan menangis sesenggukan.
"Bahkan dia yang menyebabkan semua ini, tapi dia juga yang ingin membuangmu. Bukankah appa-mu benar-benar orang yang kejam nak?"
.
.
.
.
.
.
.
"Sial! Benar-benar yeoja keras kepala! Aku hanya ingin dia selamat, biar aku dan bayi sialan itu saja yang mati. Tapi kenapa dia tidak mau mendengar ucapanku!" umpat Sehun sambil menendang sebuah pot porselen besar hingga hancur.
"Hey, kalau mau memecahkan sesuatu carilah yang lebih murah!" omel Suho yang kini sudah berada di samping Sehun.
Sehun hanya memandang Suho dengan tatapan datarnya.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Suho dengan nada tenang. Ia tahu betul suasana hati dongsaengnya itu sedang tidak baik.
Sehun mendesah lelah. "Aku hanya mengkhawatirkannya hyung—"
"Kau mencintainya?"
Sehun terkesiap. "Ti-tidak, aku kan hanya bilang mengkhawatirkannya bukan mencintainya—"
"Tidak perlu menutupi perasaanmu, kau tidak akan bisa berbohong kepadaku," kata Suho sambil merangkul bahu namja yang lebih tinggi darinya itu.
"Dia membenciku hyung, aku membuat hidupnya hancur seperti ini, aku tidak pantas mencintainya," ungkap Sehun akhirnya.
"Kalau kau mencintainya kenapa kau ingin membunuh anak kalian?"
"Anak itu membahayakan jiwanya hyung, gara-gara anak itu dia bisa dibunuh oleh para tetua. Aku tidak ingin itu terjadi, kalau ada yang harus dihukum itu adalah aku. Dia sama sekali tidak bersalah," kata Sehun sambil menunduk sedih.
Suho memandang Sehun prihatin. "Tidak akan ada yang terbunuh disini, kami semua akan melindungi kalian, dengan berbagai cara," katanya mantap.
.
.
.
.
.
.
.
Jongin tengah duduk di ruang tamu, Suho menyuruhnya berjaga karena tetua vampire dan anak buahnya bisa saja datang sewaktu-waktu jika mereka telah mengendus kabar hubungan Sehun dengan seorang manusia. Namja berkulit tan itu nyaris tertidur dalam posisi duduknya ketika bel rumah mereka berbunyi.
Jongin terkesiap dan panik seketika. Takut kalau-kalau benar tetua kejam mereka yang datang dan menghukum mereka semua hari itu juga. Dengan hati-hati ia mengintip melalui jendela, mencari tahu siapa yang datang.
Ternyata dugaannya meleset, sesosok gadis mungil bermata bulat-lah yang ada didepan pintu mereka.
Jongin mendesah lega dan membuka pintu. Bukannya menyapa, dengan tidak sopannya ia malah memandangi gadis itu dari atas ke bawah .
"Ehm—maaf apakah saya bisa bertemu dengan Luhan?" yeoja itu berusaha tetap sopan walaupun tatapan namja didepannya ini membuatnya risih.
"Kau tahu? Kau sangat cantik dan tubuhmu juga indah," kata Jongin sambil terus mengamati yeoja di depannya dengan tatapan lapar.
"Tolong jaga omongan anda!" bentak yeoja itu sambil menatap tajam Jongin.
Jongin menyeringai. "Wow, kau galak juga ternyata, aku jadi ingin mencium bibirmu yang menggoda itu—"
PLAK.
Satu tamparan mendarat di pipi Jongin.
Bukannya marah seringaian di wajah Jongin malah makin lebar. Dengan gerakan tiba-tiba ia menggendong tubuh mungil gadis yang baru saja ditemuinya itu.
"Kita lanjutkan di kamar saja sayang," bisik Jongin di telinga yeoja yang tengah meronta-ronta itu.
"LEPASKAN! LUHAN TOLONG AKU! LUHAAAAN!" teriak gadis itu sambil terus berusaha turun dari gendongan Jongin. Tapi sayangnya namja itu berlipat-lipat lebih kuat dari dirinya yang bertubuh mungil.
Luhan yang masih berada di halaman belakang sayup-sayup mendengar suara yang dikenalnya, suara sahabat dekatnya.
"Kyungsoo?"
.
.
.
.
.
.
.
Karena ini bulannya Kaisoo jadi aku masukin Kaisoo deh disini XD
#HappyKyungsooDay
#HappyKaisooDay
#HappyJonginDay
Thankiess yang udah berpartisipasi review, follow sama favorite hehehe
Love you all~
