.

…I hate when someone hurt because my self…

.

"Hei Healice, kau tahu tidak?"

Healice yang sedang sibuk dengan rotinya langsung menoleh ke sang kekasih. Ia memberi isyarat kepada sang empunya manik hazel untuk melanjutkan perkataannya karena mulutnya sudah penuh dengan roti.

"Menurutku Fang itu adalah sosok yang keren, tampan, dan baik. Dia hanya terlalu malu untuk menunjukkan sifatnya yang terakhir."

"Oh…," Healice menelan santapannya. "Darimana kau tahu kalau dia baik?" tanya Healice asal. Ia tidak terlalu tertarik dengan obrolan si lawan bicara. Ia lebih sibuk memikirkan betapa enaknya roti yang dibelinya di kantin tadi.

"Ah, itu…"

Healice menaikkan satu alisnya bingung. 'Ada apa dengan Boboiboy?' tanyanya dalam hati.

"…dia memiliki puluhan penggemar, namun tidak memilih satu pun dari mereka. Dan hebatnya lagi adalah tidak ada satu pun dari para penggemar itu yang tersakiti dengan sikap dingin Fang."

"Benarkah?" Healice memiringkan kepalanya menatap Boboiboy. Beberapa saat kemudian ia kembali menatap lurus ke depan. "Aku jadi penasaran~"

KRIIING KRIIING

"Ah, waktu istirahat sudah habis!" Healice bangkit dari duduknya dan memutar badannya 180 derajat demi memandang Boboiboy. "Ayo kita ke—"

Healice terdiam dan mengamati Boboiboy yang tengah melamun. Bukan sikap Boboiboy yang membuat Healice bingung, melainkan ketika wajah Boboiboy mendadak memerah.

Satu hal yang diyakini oleh Healice pasti adalah Boboiboy seperti itu bukan karena dirinya atau pun bukan karena dia sedang sakit.

.

…so I do what I can do…

.

Healice terbangun dari lamunannya saat sebuah tepukan pelan mendarat di pundak kanannya. Sontak ia menoleh ke seamping. "Yaya?"

Yaya menyilangkan kedua tangannya sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Dari tadi kau melamun terus, apa ada masalah?" tanyanya prihatin.

Ah, temannya yang satu ini memang selalu ada ketika dibutuhkan. Tidak seperti orang-orang yang hanya datang saat membutuhkan.

Healice tersenyum sedikit. "Kau yakin mau mendengarkan?"

"Eh? Memangnya kenapa?" Yaya duduk disamping Healice lalu menopang kepala dengan tangan kanannya.

"Ini tentang Boboiboy..."

"Ah...," Yaya tersenyum canggung. "Benarkah?"

Ekspresi Yaya yang seketika berubah drastis cukup membuktikan kalau ia sedikit atau mungkin sangat tidak senang dengan apa yang baru diucapkan oleh Healice. Tetapi Healice tidak mau menyalahkan dirinya. Toh, Yaya yang memaksanya.

Tidak seperti apa yang diduga oleh Healice, Yaya justru menghidupi kembali percakapan setelah beberapa detik keheningan melanda. "Memangnya dia melakukan apa?"

Healice menengok, terperangah. "Ka-kau mau mendengar?"

Yaya mengangguk cepat.

.

...but someone is hurt because of me...

.

"Oh... jadi begitu ya...," Yaya menunduk begitu Healice selesai dengan ceritanya. "Ternyata Boboiboy memang seperti itu..."

Healice terdiam. Ia tidak berani mau menjawab omongan Yaya karena ia sendiri masih bingung dengan maksudnya.

Lamunan Healice terjawab setelah Yaya menengok ke arahnya. "Hei Healice, mau kuberitahu sesuatu?"

"Boleh, apa?"

"Boboiboy mungkin... adalah...," ucapan Yaya terputus. Mungkin dia sekarang tengah mengumpulkan segenap keberanian. "...seorang gay."

Healice terkejut bukan main. Pasalnya ia tidak pernah menyangka akan ada seorang gay di dunia ini. Oke, ralat. Ia tidak pernah menyangka kalau akan memiliki seorang teman gay.

Ralat lagi. Bukan seorang teman, melainkan mantan kekasih seorang gay. Mantan kekasih, berarti ia pernah memiliki hubungan spesial dengan seorang gay yang biasa di-cap orang sebagai sampah masyarakat karena mencintai sesama jenis.

Awalnya ia kira Boboiboy bukan benar-benar mencintai Fang. Melainkan hanya cinta dalam bentuk kekaguman. Tetapi untuk kali ini, ia sungguh tak menyangka. Seharusnya Healice sudah mengerti saat Fang bercerita tadi pagi.

Salahkanlah kepada Healice yang kurang sigap menangkap keadaan.

"Kau percaya itu?" Yaya kembali menunduk. "Sikapnya terkadang aneh di depan Fang. Aku telah megamatinya. Karena-"

"Kau menyukai Boboiboy, benar? Bahkan sampai mengikutinya?"

Yaya semakin menunduk. Sebuah senyuman masam terukir di wajahnya. "Ya, kau benar. Tetapi saat aku menyadari kalau dia itu seorang gay, aku berusaha menjauhinya dan membencinya."

"Tetapi kau tidak bisa," Healice menunduk. "Karena kau mencintainya dan dia tidak bisa menyadari sikapmu yang berubah karena dia lebih fokus kepada...," Healice menggigit bibir bawahnya. Seolah enggan untuk menyebut nama orang itu. "...Fang."

Setetes air mata berhasil lolos dari bendungan kelopak mata gadis berhijab merah muda. "Dan lagi, apa kau tahu bahwa Boboiboy telah berusaha kembali normal namun gagal?"

Healice membelalakkan matanya sebelum menengok ke arah Yaya dengan ekspresi terkejut. "Maksudmu?"

"Dia memintamu sebagai kekasihnya demi bisa melupakan Fang..."

Healice merasa nyawanya berhenti saat itu juga.

"...namun kau malah menginjak dan melempar jauh niatnya itu."

.

...without I know it...

.

Derap langkah kaki sang gadis dengan hijab merah mudanya untungnya tidak terlalu menarik perhatian sekitar. Lagipula suara langkah kakinya tidak terlalu memberi efek kepada suasana ramai setelah bel istirahat.

Tangannya mengepal, namun sedari tadi ia sudah berusaha menyabarkan diri. Bukan, ia tidak sedang marah. Ia hanya sedang mencoba untuk tidak menangis saat bertemu dengan-'nya'. Ya, dengan-'nya'.

Si pemakai topi dino berwarna jingga.

Betapa beruntungnya dia saat mendapati orang yang dicari tengah sendirian di kelas, melamun memandang keluar jendela. Mungkin teman-temannya sedang mencari santapan di kantin atau sekedar berkeliling sekolah menghilangkan penat. Entahlah. Ia tidak peduli.

"Bo-Boboiboy?" dia berdiri di ambang pintu, menatap dengan penuh mata berkaca si objek yang dicari.

Boboiboy tersentak dan segera menoleh. Ia tersenyum. "Yaya? Masuklah. Kelas sedang sepi kok."

Diberikan izin tentu saja Yaya masuk tanpa ragu. Kecuali ragu tentang apa yang akan ia ucapkan selanjutnya. Boboiboy menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, mengizinkan Yaya duduk disana.

"Boleh aku bicara denganmu sebentar?"

.

...so I tried to be with him for a short time...

.

Healice memijat-mijat pelipisnya berulang kali. Dia sungguh merasa pusing saat Yaya bilang kalau ia akan menemui Boboiboy untuk meluruskannya. Apakah Yaya tidak tahu kalau meluruskan seseorang itu tidak semudah mengedipkan mata?

Karena sudah lelah dengan kegiatannya yang tidak bermanfaat itu, ia memilih untuk melirik sekitar. Semoga saja tidak ada yang melihat sikap bodohnya tadi.

Ia seketika salah tingkah karena ternyata kelas sedang ramai dan semua mata tertuju kepadanya. Bahkan sampai ada yang menahan tawa. Oh, dan juga ada yang menatapnya khawatir. Mungkin orang itu mengiranya sedang sakit. Tetapi untungnya tidak ada yang sampai menariknya ke UKS.

Ia buru-buru melangkah keluar kelas dengan pipi yang sudah terasa panas. Malu pasti dirasanya. Jadi, ia memutuskan untuk pergi menuju tempat yang sepi. Contohnya adalah perpustakaan, tempat yang mainstream bagi orang yang sedang banyak pikiran seperti dirinya.

"Biarlah urusan Yaya dengan Boboiboy, aku mau menenangkan diri dulu," ucapnya yang tentu ditujukan kepada diri sendiri.

Iris safir yang bersembunyi dibalik lensa kacamatanya mulai menelaah setiap judul buku yang tersusun rapi di rak. Tidak perlu waktu lama untuk menemukan buku yang pas. Sebuah buku sejarah sudah cukup baginya. Alasan kenapa ia memilih buku itu adalah sekedar iseng. Padahal ia sebenarnya tidak terlalu menyukai sejarah.

Healice lalu duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia. Diletakkannya buku itu diatas meja dan ia mulai membacanya dengan tangan kanan menopang pipi kanan. Pada detik-detik awal ia mungkin masih mampu membaca, namun ketika sudah mulai agak lama, ia menjadi mengantuk.

"Hoaaam...," ia menguap saat sudah mencapai halaman ke-28. Membaca sejarah memang membosankan.

"Aku rindu wangi rambutmu."

Healice terkejut. Rasa kantuknya hilang bertepatan dengan ia merasa rambutnya ditarik halus dari belakang. Tanpa basa-basi lagi, ia cepat menengok ke belakang.

Sang empunya surai biru gelap tengah menciumi aroma rambutnya dengan mata tertutup. Beberapa saat kemudian, barulah dia membuka mata dan tersenyum lembut.

"Healice."

"F-Fang...?"

Hening.

Kedua iris mata yang saling mencintai satu sama lain masih terpaku, tidak mau melirik ke arah lain. Terfokus kepada orang yang dicintai. Butuh waktu bagi Healice untuk menyadari keadaan.

"FANG!" ia langsung berdiri, membuat Fang kehilangan keseimbangan dan terjatuh diatas lantai. Sementara itu, Healice masih dengan mata terbelalaknya terus menatap Fang -tanpa niat menolongnya sedikitpun.

"Ugh...," Fang meringis kesakitan sebelum memandang Healice. "Jangan bergerak secara tiba-tiba! Itu mengagetkan, kau tahu."

"Apa yang kau lakukan?!"

"Menemuimu."

"Boboiboy adalah kekasihmu, bukan aku."

"Tapi aku tidak mau mengaggapnya seperti itu."

"...pergi."

"Kalau aku tidak mau?"

"Kubilang pergi!" Healice menatap tajam Fang. Matanya mulai berkaca-kaca. Entah, setiap kali ia mengobrol dengan pemuda yang satu ini, air matanya selalu ingin keluar tanpa sebab.

Atau dia yang tidak mengetahui sebabnya?

"Tidak," Fang berdiri. "Aku ingin minta maaf kepadamu."

Healice menunduk dan diam seribu bahasa.

"Kabulkan satu permohonanku."

Fang terperangah. Ia senang karena Healice akan memaafkannya, meski dengan sebuah syarat. Fang tentu akan mewujudkannya, asalkan itu tidak membuat Healice dan dirinya jauh.

"Apa itu?"

"Berhentilah baik kepadaku."

"Eh?"

Sebulir kristal bening menuruni paras si gadis bersurai cokelat. "Karena kau yang terlalu baik, aku jadi menyukaimu."

Kali ini, Fang yang diam seribu bahasa.

"Oleh karena itu-"

"Tidak," Fang dengan cepat memotong ucapan Healice. "Lagipula, aku ini bukanlah orang yang baik. Ada banyak orang yang tersakiti karenaku."

Healice tidak mau membalas. Ia sibuk dengan puluhan tetes air mata yang membasahi pipinya. Fang yang menyadarinya langsung memajukan tangannya dan menghapus air mata Healice.

Pundak Healice bergetar saat diperlakukan seperti itu oleh Fang dan Fang tahu itu. Oleh karenanya, Fang lalu memegang pundak Healice dengan kedua tangannya.

"Healice, lihat aku."

Sang gadis menggeleng. Fang terpaksa menarik dagunya dan mendekatkan Healice ke dirinya sementara tangannya yang lain mulai melingkar di pinggang Healice. Langsung saja rasa panas mulai menjalar di wajah Healice.

"Aku tidak menyukai Boboiboy sedikitpun, aku hanya mencintaimu," ucap Fang sebelum mengecup Healice. Healice kaget bukan kepalang. Matanya terbelalak. Tidak seperti Fang yang sepertinya tidak peduli dengan sikap Healice.

.

...and then I will be with you forever...

.

Boboiboy berlari cepat menuju kelas Healice dengan diikuti Yaya dibelakangnya. Nafasnya memburu. Mungkin ia sedang kesal. Atau mungkin pula sedang panik tidak karuan.

"Healice!" ia membuka pintu kelas dengan kasar. Namun orang yang dicari ternyata tidak ada.

Boboiboy langsung melempar tatapan tajam ke salah seorang penghuni kelas. "Dimana dia?"

Orang itu seketika gelagapan. Tidak biasanya Boboiboy bertampang seperti itu. Jadi ia langsung menjawab, "A-aku tidak tahu. Ta-tapi mungkin ia ada di perpus-"

Tanpa mendengarkan jawaban lebih lanjut, Boboiboy langsung menuju perpustakaan. Yaya yang mengejar di belakangnya hanya mampu berharap supaya-

Pintu perpustakaan dibuka kasar oleh Boboiboy.

Didapatinya Fang dan Healice tengah berciuman.

Ribuan belati imajiner muncul dari ruang hampa dan mulai menusuki badan Boboiboy berulang kali. Saking tidak kuatnya, ia sampai bertekuk diatas lantai. Sementara Yaya sendiri tidak tahu harus apa, harapannya tidak terkabul dan ia tidak mau melihat Boboiboy bersedih.

Bahkan meski Boboiboy adalah seorang gay. Dan meski Boboiboy tidak menyukainya sedikitpun.

Suara pintu yang terbuka pasti menarik perhatian Fang dan Healice. Mereka cepat-cepat menyudahi acara mereka dan menengok ke arah pintu.

Healice sudah kesekian kalinya terperanjat. Tidak seperti Fang yang memasang tampang acuh tak acuh. Fang bukannya tidak peduli, melainkan ia ingin membantu Boboiboy bangkit dan meminta maaf kepadanya. Namun ia terpaksa seperti itu karena ia tidak mau menambah tumpukan masalah yang ada.

"Boboiboy...," Yaya sedikit membungkuk dan menepuk pundak Boboiboy pelan. "Katakan apa yang kau ingin katakan."

Sempat terjadi keheningan sebelum Boboiboy berdiri dan tersenyum miris seraya memandang Fang. "Hiduplah bahagia, Fang."

"Aku tidak akan mengganggumu meski aku akan sulit melupakanmu."

"Aku akan berusaha untuk berubah."

"Bersama Yaya disampingku."

.

...love you, Healice...

.

FIN!

.

A/N : ENDINGNYA GAJE SUMPAH DEH Orz INI MEMALUKAAAN! UDAH TELAT, ENDINGNYA GA MEMUASKAN PULAAA! Orz

- efek writerblock atau efek males ngetik atau efek laptop rusak atau efek kuota habis atau efek /udah-

OKE, OKE! AKU TAMBAHIN BANYAK OMAKE NIH- /cumaduadoang /dibakarramerame

.

( 1 )

.

Sudah lama semenjak kejadian di perpustakaan terjadi. Meski sudah hampir melupakan Fang, namun Boboiboy juga mulai mencintai Yaya sepenuhnya.

Hari ini entah atas takdir atau apa, Boboiboy dan Fang beserta kekasih mereka bertemu di taman setelah seminggu tidak berjumpa, efek libur panjang.

"Hai Yaya!" Healice melambai sembari tersenyum.

"Hai juga, Lice!"

Fang mengangkat tangan, "Yo, Boboiboy!"

Boboiboy menepuk keras pundak Fang. "Yo, Fang!"

Lalu Healice dan Yaya mulai bergosip ria. Lain ceritanya dengan Fang dan Boboiboy yang justru adu mulut, seperti sedia kala.

"Fansgirl-ku makin banyak," ucap Fang dengan senyuman angkuh di wajahnya.

"Nilai matematika-ku membaik!"

Fang menggeleng kurang yakin. "Hanya 'membaik'. Bukannya 'lebih baik' dariku."

Boboiboy mulai geram. "Yang jelas aku lebih baik darimu!"

"Oh ya?"

"Tentu saja!"

"Aku lebih tinggi darimu."

"Peduli?"

Fang mengepalkan tangan dan meninju udara. "Kau menyebalkan!"

"Kau lebih menyebalkan!"

"Grr! Aku lebih tampan!"

"Aku lebih cantik!"

Hening.

"Ups..."

"Pfffft- BWAHHAHAHA!" secara serempak, semuanya tertawa. Kecuali Boboiboy tentunya.

.

( 2 )

.

Istirahat sekolah kali ini dihabiskan Fang dan Boboiboy dengan mencabuti rumput taman yang ditutup dengan acara minum soda bersama. Tadi pagi, mereka berjumpa dan membahas tentang ujian matematika yang diadakan kemarin. Awalnya tak terjadi apa-apa sampai mereka mulai berdebat dan lupa waktu dan voila, mereka telat masuk.

Sembari minum soda dan berjalan menuju kelas, Fang dan Boboiboy memutuskan untuk bercerita-cerita. Entah tentang apa.

"Oh ya Boboiboy, kau masih ingat tentang malam itu? Saat kau mengecup-"

Boboiboy langsung menyumpal mulut Fang dengan botol soda. "Diam kau bodoh! Jangan ungkit kejadian itu!"

"Tapi jangan menyumpal mulutku juga, sialan!" Fang melempar botol soda itu jauh-jauh.

"Salahmu sendiri."

"Kembali ke topik. Rasanya kau bilang ada 3 alasan ya. Tetapi kau hanya memberi tahu 2 alasan saja."

Boboiboy berusaha mengingat-ingat. Benar juga. Ia hanya memberi tahu 2 alasan kepada Fang.

"Oh itu... kau yakin mau mendengarnya?"

"Tentu."

Maka mulailah Boboiboy bercerita dengan diawali tangan mengadah keatas dan bergerak setengah lingkaran (?) ala kartun anak yang disiarkan di M*NC TV.

Boboiboy yang saat itu masih resmi menjadi kekasih Healice, diajak oleh sang gadis berkacamata untuk bertemu ayahnya. Alasannya hanya untuk kenalan sekaligus belajar bersama.

Begitu sampai rumah, Boboiboy dan ayah Healice duduk di ruang tamu sementara Healice pergi ke dapur untuk menyiapkan teh.

Ternyata sampai Healice kembali, tidak ada perbincangan yang terjadi. Sejak awal, ayahnya terus menatap intens Boboiboy dari atas ke bawah berulang kali.

"Jadi ini kekasihmu?" tanya sang ayah pada akhirnya.

Healice mengangguk mantap.

"Kenapa..."

"Eh?" Boboiboy dan Healice sama-sama bingung saat sang ayah menundukkan kepala dan mengeluarkan aura suram.

"Kenapa... KENAPA ANAKKU LESBI?! TUHAN, APA DOSA HAMBAMU INI SAMPAI ANAK HAMBA MENCINTAI SESAMA JENIS?!" sang ayah meratap seolah baru saja dihukum menjadi batu akibat durhaka kepada orangtua. Lalu sang ayah duduk di pojok ruangan sembari berkomat-kamit membaca, 'anakku lesbi anakku lesbi'.

Untuk kali ini, Healice langsung menangkap keadaan.

"AYAH! DIA INI LAKI-LAKI! LAKI-LAKI!"

"Pffffft- BWAHAHAHAHAHA!" Fang tak kuasa menahan tawanya yang langsung dihadiahi jitakan maut dari Boboiboy.