...

Chapter 2 mencari tahu tentang dunia baru...

...

"Kalian berdua. Tadi itu luar biasa." Ujar momonga yang menyambut aura dan mare yang baru saja selesai pertarungan pemanasan melawan Primal fire elemental itu dengan hangat.

"Terima kasih banyak, sudah lama saya tak pemanasan seperti ini." ujar aura yang basah keringat karena semangat dalam pertarungan latihan itu.

"Hn, sepertinya kalian juga haus." Ujar momonga sebelum mengeluarkan sebuah teko perak(unlimited kettle) dari pocket dimensionnya disertai dua buah gelas kaca bening yang dia berikan kepada aura dan mare. Dan kemudian mengisi kedua gelas itu dengan air dari teko sebelumnya sampai penuh yang membuat kedua dark elf itu tercengang.

"Minumlah." Ujar momonga yang direspon kedua dark elf itu dengan saling memandang satu sama lainnya sebelum meminum habis air yang diberikan momonga itu.

"Huaa segarnya." Desah puas kedua dark elf itu dengan wajah bahagia.

"Begitu ya? Baguslah." Ujar momonga yang sesungguhnya juga tak begitu sering minum dengan itu karena statusnya sebagai undead yang tak memerlukan makan dan minum. Dia memiliki item ini hanya sebagai hiburan/koleksi saja dan jarang mengunakannya.

Jadi ini adalah pertama kali dia mengunakan item water potnya dan ia merasa lega kalau itu bisa berguna...

"Saya pikir, momonga-sama itu adalah orang yang sangat menakutkan." Ujar aura mengutarakan pemikirannya yang memecah lamunan momonga.

"Hm? Begitu? Aku bisa jadi menakutkan jika itu memang yang kalian inginkan." Ujar momonga dengan santainya yang langsung ditolak oleh kedua dark elf itu.

"Tidak, tidak, anda yang sekarang jauh lebih baik. Kami suka dengan anda yang sekarang." Ujar aura dengan polosnya yang diikuti anggukan kepala mare berulang-ulang.

"Begitu ya?" gumam momonga dengan datar sebelum menyadari kedatangan seseorang melalui gate.

"Oh? Jadi aku yang pertama ya?" gumam seorang gadis cantik berambut perak dengan kulit pucat dan mata merah yang mengenakan gaun hitam ala eropa kuno yang membawa payung yang berwarna serasi dengan pakaiannya.

Ya, dia adalah shalltear bloodfallen. Penjaga lantai satu, dua dan tiga, dan juga NPC ciptaan peroroncino teman baik momonga, seorang true vampire. Bisa dibilang dia adalah salah satu NPC terkuat jika dihitung berdasarkan skill dan kekuatan tempurnya.

Yang sayangnya kepribadiannya itu agak...

"Ah, tuanku." Teriak shalltear dengan tiba-tiba yang mengejutkan momonga saat melihat true vampire itu tiba-tiba melepaskan payung yang sedang dipakainya itu (yang berubah menjadi ratusan kalelawar saat menyentuh tanah) dan berlari kearahnya untuk bisa memeluk tuan tercintanya itu. "Satu-satunya lelaki tercintaku yang tak bisa aku kuasai!" gumamnya sambil memeluk erat momonga dengan penuh kerinduan dan cinta.

(==")

Yang direspon sweatdrop oleh momonga sama yang tak bisa berkutik ataupun bicara dalam situasinya sekarang.

"Shalltear. Apa kau tak bisa menahan dirimu sedikit?"

Setidaknya sampai pertolongan dalam bentuk protes oleh aura datang.

"Oh, si cebol. Kau ada disini ya?" tanya shalltear yang akhirnya melepaskan pegangannya dari momonga dan menoleh kearah aura dengan tatapan merendahkan yang terlihat jelas. "Kau pasti sangat kerepotan ya mare? Memiliki kakak yang kepalanya agak bermasalah sepertinya." Tambah shalltear yang membuat aura semakin kesal karenanya.

"Dada palsu."

"Ha!?"

Dua kata yang dilontarkan aura langsung membuat shalltear kehilangan kepercayaan dirinya yang sebelumnya dan menutupi dadanya dengan kedua tangannya dengan terkejut.

"Sepertinya benar ya? Jadi karena itulah kau repot-repot datang kesini lewat gate. Dada palsumu itu pasti akan jatuh jika kau terburu-buru datang kesini kan?" ujar aura yang kini membalik meja dengan mudahnya.

"Berisik! Kau sendiri malah tak punya bukan!?" teriak balik shalltear mencoba membalikan keadaan dengan menyinggung figur aura yang malah tak memiliki dada sama sekali meskipun dia seorang perempuan.

"Aku kan masih berusia 76 tahun, tapi kau itu kan undead. pasti berat ya sudah tidak bisa tumbuh lagi? Kenapa kau tidak terima kenyataan pahit itu saja sekarang? Puh." ujar aura yang tersenyum menang yang membuat shalltear semakin naik darah.

"Beraninya! Kau harus berpikir dahulu sebelum berbicara dasar bodoh!" geram shalltear yang naik darah dan langsung berlari kearah aura dengan kesal tanpa memperdulikan keberadaan pemimpin agung mereka, momonga yang memandang kangen kearah mereka berdua.

Kangen sekali...

Peroroncino yang menciptakan shalltear, dan Bukubuku chagama yang menciptakan aura dan mare adalah kakak adik didunia nyata. Dan dulu mereka juga sering bertengkar seperti ini.

Sungguh sebuah kenangan yang indah...

"Ribut sekali."

Gumam suara berat seorang pria memecah lamunan momonga. Menoleh kearah sumber suara momonga dapat melihat dengan jelas sosok seperti sosok raksasa yang tampak seperti monster serangga persilangan mantis dan semut yang mengunakan armor serangga putih kebiruan dengan empat tangan dan enam mata biru bulat yang membawa kapak besar yang sewarna dengan dirinya.

Ya, dia adalah Cocytus, penjaga lantai ke lima, seorang penguna elemen es sang "Ice ruler". Baik konsep desain dan kepribadiannya diatur seperti layaknya seorang ksatria.

"Si cebol ini sudah menghinaku!" ujar shalltear dengan mata menyeramkan dan api dikedua tangannya yang sepertinya siap perang kapan saja.

"Itu kenyataan!" bantah aura yang juga sudah siap melawan balik dengan cambuknya.

PRAANG!

"Cukup sampai disitu!" teriak momonga bersamaan dengan bagian bawah kapak Cocytus yang dibenturkan ketanah yang dengan mudahnya membekukan lantai dalam sekejap. Dan ditambah dengan teriakan momonga yang dibarengi aura hitam(desperation aura level I ) disekitarnya langsung dengan mudah menghentikan pertengkaran antara shalltear dan aura itu.

"Shalltear, aura. Bercandanya cukup sampai disini." Ujar momonga dengan suara tegas yang langsung direspon dengan permintaan maaf oleh shalltear,dan aura secara bersamaan.

"Maafkan kami!" ujar mereka berdua yang langsung membungkukan diri meminta maaf kepada pemimpin mutlak mereka.

"Kau sudah datang ya? Cocytus?" tanya momonga kepada cocytus yang kini berdiri tepat tak jauh dari aura, mare dan shalltear itu.

"Sebagai ksatria, saya memiliki kewajiban untuk segera menjawab panggilan anda secepatnya." Jawab cocytus dengan dalam dibarengi gas dingin yang sesekali keluar dari mulutnya.

"Hum, kerja bagus." Ujar momonga yang merasa puas dengan jawaban cocytus itu.

"Semuanya, maaf sudah membuat kalian menunggu." Ujar suara baru dari arah lain yang menarik perhatian momonga.

Melihat kearah sumber suara itu, momonga mendapati albedo bersama seorang pria tinggi berjas garis-garis dengan ekor seperti seekor skorpio atau sejenisnya. Seorang pria atau NPC yang sangat dikenal momonga itu yang berjalan dibelakang albedo itu.

Ya, dia adalah Demiurge. Penjaga lantai ke tujuh, dan juga merupaka iblis yang dirancang untuk menjadi pemimpin NPC disaat Nazarick berada dalam posisi bertahan. Seorang iblis yang lihai dan cerdas.

Sang iblis penjara tanpa batas...

"Baiklah semuanya. Waktunya ritual kesetiaan untuk pemimpin agung kita." Ujar Albedo yang berdiri didepan para penjaga lantai yang sudah berkumpul didepan momonga itu.

"Penjaga lantai satu, dua dan tiga, Shaltear bloodfallen. Membungkuk dihadapan anda."

"Penjaga lantai kelima, Cocytus. Membungkuk dihadapan anda."

"Penjaga lantai keenam, Aura bella fiora."

"Penjaga lantai yang sama, Mare bello fiore."

"Membungkuk dihadapan anda."

"Penjaga lantai ketujuh, Demiurge. Membungkuk dihadapan anda."

"Pemimpin para penjaga, Albedo. Membungkuk dihadapan anda."

"Selain pejaga lantai keempat Gargantua, dan penjaga lantai kedelapan Victim. Seluruh penjaga telah berkumpul dan membungkuk dihadapan anda. Tolong limpahkan seluruh perintah anda kepada kami, wahai pemimpin agung. Kami mempersembahkan seluruh kesetiaan kami kepada anda" Ujar Albedo mengakhiri ritual kesetiaan yang direspon oleh mata merah yang menyala dan aura hitam yang kuat oleh Momonga.

"Angkatlah kepala kalian para penjaga." Ujar momonga memberikan izin pada para penjaga yang tengah berlutut dihadapannya itu untuk mengangkat kepalanya.

"Kalian semua sudah berkumpul disini. Kuucapkan terima kasih." Mulai momonga dengan sedikit gugup karena jujur ini pertama kalinya dia memimpin orang lain.

Yah, biasanya memang dia yang memimpin mereka namun pada saat itu mereka masih belum bisa berbicara, mempunyai keinginan sendiri, dan bergerak sesuka hati seperti sekarang ini, yang dimana itulah yang membuat momonga sedikit gugup sekarang ini.

Tapi dia harus tetap memimpin mereka layaknya seorang pemimpin yang layak untuk Nazarick ini...

"Ucapan terima kasih anda menjadi sia-sia. Kami semua telah bersumpah setia kepada momonga sama. Justru momonga samalah sendiri yang akan menemukan kekurangan dalam diri kami. Namun, kami bersumpah bahwa kami akan terus bekerja keras dan berusaha memenuhi harapan para pemimpin yang telah menciptakan kami."

"Kami bersumpah!"

Ujar albedo mengutarakan perasaannya dan sumpahnya yang sangat menjunjung tinggi momonga dan kesetiaan kepada para petinggi Nazarick itu yang diikuti para penjaga yang lain yang membuat momonga kagum karenanya.

"Mengagumkan, wahai para penjaga lantai!" ujar momonga dengan kagum sambil mengangkat kedua tangannya untuk mengekspresikan kekagumannya akan kesetian para penjaga itu. "Aku yakin kalian akan mampu melaksanakan semua tugas kalian tanpa kegagalan." Tambahnya dengan penuh keyakinan dan kepercayaan yang menghasilkan senyum lega dari para penjaga yang sangat senang saat mendengar perkataan itu.

"Baiklah. Sekarang ini makam Nazarick ini tengah dihadapkan situasi aneh. Aku sudah memerintahkan sebas untuk melihat keadaan luar, tapi..." gumam momonga sebelum menyadari kedatangan sebas disampingnya.

...

"Dataran rumput yang luas?" gumam momonga mengulang perkataan sebas itu.

"Ya, ini benar-benar sangat berbeda dari rawa yang biasanya ada disekitar wilayah Nazarick. Saya tidak melihat tanda-tanda bangunan, manusia, ataupun monster dalam radius satu kilometer. Yang ada hanyalah dataran rumput yang luas dan hijau. " Ujar sebas menjelaskan dengan rinci semua hasil pengamatannya dari luar.

"Hum, begitu ya. kerja bagus sebas." Ujar momonga sebelum kembali kepara penjaga.

"Seperti yang kalian dengar. Karena alasan tertentu, kini Nazarick telah dipindahkan kedataran tak dikenal dan tak diketahui. Oleh karena itu, pemimpin penjaga lantai Albedo dan pemimpin pertahanan Demiurge." Panggil momonnga kepada pemimpin para penjaga Albedo dan pemimpin bagian pertahanan Demiurge.

"Ya."

"Aku ingin kalian memperkuat sistem pertahanan kita dan membuat sistem informasi yang jauh lebih kuat." Ujar momonga memberi titah.

"Ya!" jawab sigap albedo dan demiurge dengan menyakinkan.

"Lalu mare." Panggil momonga kepada dark elf termuda mare. "Apa ada cara untuk menyembunyikan Nazarick dari luar?" tanya momonga kepada mare.

"Mu-mungkin sulit jika mengunakan sihir. Tapi, jika kita menutupi dinding luar dengan lumpur dan menyembuyikannya diantara pepohonan..." ujar mare mengutarakan pendapatnya sebelum dihentikan oleh aura negatif dari albedo.

"Mengotori dinding penuh kejayaan Nazarick dengan lumpur?" geram albedo dengan aura negatif disekitarnya yang merasa tak pantas sama sekali dinding Nazarick yang agung itu dikotori dengan lumpur yang membuat mare jadi gugup karenanya.

"Albedo, jangan menyela pembicaraanku." Potong momonga yang menghentikan kemarahan albedo dalam sekejap.

"Ya, maafkan saya. Momonga sama."

"Hum." Gumam momonga sebelum kembali kemare. "Apa kita bisa menyembuyikan diri dengan menutupi dinding dengan lumpur dan menumbuhkan pepohonan disekitar nazarick?" tanya momonga kepada mare.

"Ya, jika anda mengizinkannya. Tapi..." gumam mare yang merasa ada yang kurang dengan semua itu.

"Akan terlihat gundukan tanah dan hutan yang tak wajar ya?" gumam momonga yang seakan bisa membaca pemikiran dark elf muda itu yang dijawab anggukan kecil oleh mare.

"Ya." Jawab mare dengan lesu.

"Sebas. Apa ada hutan dan bukit lain terlihat disekitar wilayah kita?" tanya momonga kepada sebas yang berlutut disampingnya itu.

"Tidak, untuk bukit sayangnya tidak. Tapi untuk pepohonan, ada beberapa namun saya tak bisa menyebutnya hutan karena jumlahnya yang sedikit." Ujar sebas menjawab pertanyaan momonga dengan sedikit kecewa.

"Begitu ya? Kalau begitu bagaimana jika kita buat saja beberapa?" tanya momonga memberi solusi.

"Hutan dan bukitnya?" tanya mare dengan polos.

"Ya, dengan begitu kita bisa tersamarkan dengan baik bukan? bagaiamana menurutmu sebas?" Ujar momonga menjawab pertanyaan mare dan juga menanyakan pendapat sebas yang sudah melihat area luar.

"Hai, saya yakin itu bisa menyamarkan dengan sempurna." Jawab sebas yang juga sependapat.

Dengan dibuatnya beberapa hutan dan bukit palsu disekitar, maka itu tentu akan memudahkan nazarick untuk menyamarkan diri diantaranya.

Karena itulah momonga menyarankan itu...

Namun yang terpenting adalah...

"Mare dapatkah kau melakukannya?" tanya momonga kepada mare. Ya, yang terpenting adalah mampu tidaknya mare melaksanakan rencana ini.

"Y-ya, jika anda menginginkannya, momonga sama." jawab mare yang awalnya sedikit gugup akan besarnya tugas yang diembankan padanya itu. Namun tak sedikitpun dia menunjukan ekspresi pesimis tak bisa melakukannya karena dia yakin bisa dan mampu memenuhi harapan pimpinan agungnya itu.

Pemimpin nan agung dari Great Tomb Nazarick...

"Hum. Terakhir, aku akan memberi sebuah pertanyaan kalian. Pertama shalltear, menurutmu aku ini orang yang seperti apa?" tanya momonga kepada vampire wanita yang tengah berlutut dihadapannya itu.

"Sebuah perwujudan dari keindahan. Sungguh, tak ada didunia ini yang mampu menandingi keindahan anda." Jawab shalltear dengan penuh kekaguman dan cinta yang membuat momonga hanya bisa sweatdrop karenanya.

Indah? Dirinya yang kebanyakan terdiri dari tulang belulang ini? pasti ada yang salah dengan otak vampire yang satu ini.(==")

Tapi kesampingkan itu dulu, momonga melanjutkan sesi pertanyaannya ke yang berikutnya, karena ini penting baginya untuk mengetahui seperti apakah dirinya dimata para penjaga lantai.

"Cocytus." Ujar momonga yang beralih ke ksatria serangga raksasa biru yang penjaga lantai kelima, cocytus.

"Keberadaan yang jauh lebih kuat dari kami para penjaga, dan tak ada satupun yang bisa menandinginya. Seseorang yang sangatlah pantas untuk menjadi penguasa mutlak dari Great Tomb Nazarick." Jawab cocytus tanpa ragu yang entah kenapa sudah diduga oleh momonga bahwa ia akan berkata seperti itu jika dilihat dari settingnya sebagai seorang ksatria.

"Hum, Aura." Ujar momonga yang kini beralih ke dark elf yang tertua aura.

"Seseorang yang penuh pengampunan dan kasih sayang." Jawab aura dengan terus terang dan tanpa sedikitpun keraguan.

"Mare." Ujar momonga yang kini beralih ke dark elf muda, Mare.

"Se –seseorang yang sangatlah baik hati." Jawab mare dengan tatapan penuh kekaguman.

"Demiurge." Ujar momonga yang kini beralih ke sang iblis jenius dan juga pemimpin dari pertahanan Nazarick.

"Seseorang yang bijaksana. Anda mampu mengambil tindakan dengan cepat dan efisien. Sungguh pantas jika disebut sebagai seseorang yang tak terduga." Jawab demiurge sang iblis jenius tanpa sedikitpun keraguan.

"Sebas." Ujar momonga yang kini beralih ke kepala pelayan yang ada disampingnya.

"Anda adalah orang yang dipenuhi dengan kemurahan hati tak terbatas yang tidak pernah meninggalkan kami sampai akhir." Jawab sebas sang kepala pelayan yang dipenuhi rasa kesetiaan dan patuh pada momonga.

"Dan yang terakhir albedo." Ujar momonga yang kini beralih keorang terakhir dan merupakan yang paling tak bisa ditebak olehnya karena unsur "cinta" yang tak sengaja dia tambahkan pada settingnya sebelum ini(yah,meskipun itu iseng doang sih.).

"Penguasa dengan tingkatan tertinggi, dan juga tuan mutlak bagi kami semua. Dan yang terpenting adalah orang yang sangat kucintai!" jawab albedo yang sesuai dengan dugaan momonga. Namun tetap saja mengejutkan baginya untuk mendengarkan seorang wanita menyatakan cintanya dengan lantang seperti itu.

"Be-begitu ya?" gumam momonga dengan terkejut dan sedikit kehilangan karakter saat mendengar pernyataan albedo itu.

"Uhum. Baiklah, aku kurang lebih sudah mengerti apa yang kalian pikirkan akan diriku. Dan sekarang kembalilah melanjutkan pekerjaan kalian dengan baik atas namaku.(Tentu! Momonga sama!)" Ujar momonga sebelum pergi dengan teleport kilatnya dalam sekejap.

...

Lorong menuju kamar momonga...

...

"Haa... lelahnya." desah lelah momonga yang saat ini tengah bertumpu dengan satu tangan ketembok.

Apa-apaan Penilaian mereka itu?

Tak wajar...

Terlalu tinggi.

Untuk dirinya yang merupakan pria paruh baya yang anti sosial dan jarang berkumpul dengan orang lain. Pandangan mereka itu terlalu tinggi dan tak masuk akal.

Terutama albedo...

Sekarang dia benar-benar merasa bersalah karena mengubah settingnya itu dan menodai peninggalan Tabula Smaragdina, teman baiknya itu.

Namun tetap saja pandangan dan penilaian mereka itu...

"Mereka tak seriuskan?" gumam momonga dengan rasa tak percaya diikuti dengan mata merahnya yang menyala.

...

Skip time...

...

Sudah tiga bulan berlalu semenjak keanehan di Nazarick. Semua berjalan lancar. Rencana penyembuyian nazarick yang dikerjakan oleh mare dan pencarian informasi oleh Demiurge, semuanya. Terutama laporan akan informasi yang dikumpulkan Demiurge...

Sungguh luar biasa...

Seperti yang diharapkan dari Demiurge sebagai iblis pertahanan dan salah satu penjaga lantai dengan kecerdasan tertinggi. Dia benar-benar melebihi harapannya akan informasi yang dia kumpulkan.

Dan dari semua laporan dan percobaannya selama tiga bulan ini momonga menyadari beberapa hal penting...

Pertama, dia tetap tak bisa mengunakan senjata diluar dari kelas yang diambilnya karena beberapa alasan. Tak peduli seberapa besar kekuatan fisik yang dimilikinya sebagai seorang player level 100, dia tetap tak bisa mengunakan senjata diluar class yang diambilnya, seperti pedang dan semacamnya.

Namun fungsi dari item dan skill masih tetaplah normal dan berfungsi sebagaimana mestinya...

Kedua, dia dan nazarick sepertinya terdampar didunia yang cukup merepotkan. Dimana disini terdapat ras-ras supranatural seperti iblis, malaikat, malaikat jatuh, naga dan yang lainnya, yang awalnya dia kira hanyalah ada dalam novel, manga atau mitos.

Dan untuk info tambahan. Saat ini mereka berada di sebuah wilayah atau dataran tak berpenghuni atau terjamah yang ada di underworld yang sepertinya terbagi menjadi beberapa bagian karena beberapa alasan...

Ketiga, dunia tempat mereka terdampar ini terbagi menjadi tiga dunia. Underworld, dunia manusia, dan surga. Dimana dia masih buta mengenai dunia manusia, dan surga...

Keempat, sihir sudah menjadi hal lumrah dan biasa disini, diunderworld. Meskipun dia belum bisa memastikan akan sihir didunia manusia dan surga. Tapi sepertinya dia bisa memastikan surga sama dengan underworld, dimana sihir lumrah disana...

Dan bicara tentang surga, apa itu sama dengan surga yang ada dibuku-buku agama, novel dan manga yang pernah dia baca?

Yah, meski dia tidak terlalu percaya agama dan dewa...

Tapi dia rasa tak ada buruknya sesekali berkunjung kesana.

Tapi tidak untuk sekarang, karena masih banyak hal yang harus dia lakukan sekarang ini. Seperti mencoba hal baru yang saat ini sedang dia coba di ruang kerjanyan ini didampingi sebas.

"Hm..." gumam momonga sambil mengerakan tangannya perlahan didepan sebuah cermin yang tak menampakan bayangannya itu, melainkan menampakan pemandangan luar yang jauh dari nazarick(remote viewing lens).

Dengan ini memungkinkan dia untuk melihat keadaan luar dari dalam nazarick, dan mungkin ia akan memberikan kepada demiurge, pandora actor dan albedo juga untuk memudahkan mereka mengawasi nazarick.

Dia memiliki banyak soalnya...

Clink!

"Oh!"

Suara terdengar dari cermin itu saat mendeteksi sosok makhluk hidup tertangkap dalam radarnya saat momonga tengah mencari secara acak sosok makhluk hidup didekat radius 10 mil lebih dari nazarick ini...

Plok!plok!plok!

"Hebat sekali momonga sama. Untuk menemukan keberadaan mahluk hidup lain dalam waktu sesingkat ini." Puji sebas yang berdiri disampingnya itu dengan kagum.

"Tidak, ini bukanlah sesuatu yang besar." ujar momonga dengan tenang sambil menolehkan kepalanya/tengkoranya kearah sebas. "Dan sebas. Maaf, kau jadi harus menemaniku melakukan ini." lanjut momonga dengan sedikit merasa bersalah membuat sebas menemaninya dalam percobaan sederhana dan isengnya ini.

"Apa yang anda katakan momonga sama? Sudah merupakan tugas saya sebagai kepala pelayan untuk tetap berada disamping tuannya dan memenuhi segala perintah anda. Untuk itulah touch me sama menciptakan pelayan sepertiku." Ujar sebas dengan tenang dan cool.

"Begitu ya." Gumam momonga sebelum mengembalikan perhatiannya kearah cermin didepannya kembali. "Sekarang, ayo kita lihat apa yang dilakukan orang-orang ini didekat nazarick ini." gumam momonga dengan mata merah menyala saat melihat kedalam cermin itu.

...

Ditempat yang dilihat melalui cermin oleh momonga...

...

"Hah, hah, hah." Seakan kehabisan nafas yang terus dia pacu, seorang gadis kecil berambut merah berlari sekuat tenaga dari kejaran beberapa malaikat jatuh yang entah kenapa mengejarnya.

Awalnya dia hanya ingin bermain sendirian saja tanpa diikuti penjaga ataupun pengasuhnya. Namun sekarang saat dia tengah asik bermain dihutan seorang diri tak sengaja dirinya bertemu dengan beberapa malaikat jatuh liar yang tiba-tiba mengejar dan ingin membunuhnya.

Karena itulah dia berlari...

Dia tahu keberadaannya sebagai adik dari salah satu maou itu bisa membuatnya menjadi incaran pihak-pihak yang masih menentang perjanjian gencatan senjata tiga fraksi itu.

Ibunya yang bilang padanya, kalau dia perlu berhati-hati diluar sana dan memerlukan penjagaan pengawal...

Namun dirinya yang saat itu masih hanya berpikir polos dan hanya ingin bermain sendirian tanpa pengawal itu membuatnya mengabaikan peringatan ibunya dan membuatnya berada dalam situasi sekarang ini...

"MATI KAU ! ADIK LUCIFER!" teriak salah satu malaikat jatuh yang mengejarnya itu sambil melemparkan tombak cahaya yang mengores lengan kanannya sedikit.

"Ughh..." sakit, terasa menyakitkan goresan senjata cahaya itu bagi dirinya yang merupakan iblis itu.

Tapi itu tak cukup untuk membuatnya jatuh...

Setidaknya tidak untuk saat ini.

"Tousan kaa san..." desah gadis itu dengan lemah sambil terus berlari untuk hidupnya itu.

Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia terlalu jauh untuk meminta bantuan, atau terlalu lemah untuk mencoba melawan. Jadi apa yang bisa dia lakukan?

Tak sempat menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Gadis berambut merah itu tersandung dahan pohon dan jatuh karenanya dan juga faktor staminanya yang sudah mulai habis.

Itulah akhir dari dirinya...

Akhir dari Rias Gremory...

Atau setidaknya begitulah pikir adik perempuan Sirzech Lucifer ini...

...

Dengan momonga...

...

"Apa yang akan kita lakukan momonga sama?" tanya sebas kepada momonga yang sejak tadi hanya terdiam melihat gadis berambut merah itu aka Rias melalui cerminnya itu.

"Biarkan saja dia. Tak ada untungnya bagi kita menolongnya." Ujar momonga dengan begitu dingin dan tanpa belas kasih saat mengatakan hal itu.

"Dimengerti." Jawab sebas dengan sedikit rasa kecewa terdengar dari cara berbicaranya yang tak terlewatkan oleh momonga entah kenapa yang bisa merasakan kekecewaan sebas yang tak terucap itu.

"..."

Memandang kearah sebas sesaat seperti momonga melihat bayangan teman baiknya touch me dibelakang sebas yang membuatnya sedikit teringat akan masa lalunya.

Touch san..."

#Flashback...

"Ayo rebut poinnya!"

"Tinggal dua poin lagi aku bisa ganti kelas!"

"Cepat habisi dia!"

Itulah kata-kata yang diucapkan para pembully game disaat momonga masih baru dalam permainnya ini dan masih merupakan player level rendah.

"Jadi beginikah akhirnya." Batin momonga dengan kecewa. Tak peduli didunia nyata ataupun digame, dia selalu berakhir menjadi target empuk para pembully dan itu takkan berubah.

Kenyataan memang menyakitkan...

Dunia nyata dan game sama saja.

Semua menyebalkan dan kejam...

Tak berperasaan...

"Dasar aneh."

"Kau menjijikan." Ujar para player pembully itu yang bermaksud mengakhiri momonga yang sudah tak berdaya itu sebelum sebuah sebuah tebasan pedang yang beruntun mengalahkan mereka satu persatu dengan mudahnya.

Tercengang, momonga hanya bisa tercengang melihat kearah penyelamatnya yang berwujud ksatria berjirah putih dengan syal merah yang mengalahkan para pembully itu dengan mudahnya.

"Kenapa...kenapa kau menyelamatkan player yang tak kau kenal sepertiku?" tanya momonga dengan penasaran.

"MENYELAMATKAN SESEORANG YANG SEDANG TERKENA MASALAH ITU ADALAH HAL WAJAR! HAHAHA!" ujar ksatria putih itu sambil memasang pose hero diikuti tulisan "pembela keadilan telah tiba" dibelakangnya yang membuat momonga sweatdrop karenanya.

# End flashback...

"Humphuhahahahaha!" tertawa. momonga tertawa seorang diri saat mengingat kejadian itu yang merupakan saat pertama kali dirinya bertemu touch me yang juga merupakan awal mula berdirinya nazarick ini yang membuat sebas yang ada disampingnya itu kebingungan karenanya.

Sudah lama sekali rasanya semenjak saat itu...

Waktu itu dia juga tertawa seperti ini bukan? saat touch me memasang pose itu dia juga tertawa terbahak-bahak seperti ini juga bukan?

Dia masih mengingatnya dengan sangat jelas seakan terukir permanen dalam hati dan pikirannya itu.

"Ada apa momonga sama?" tanya sebas yang khawatir dengan keadaan tuannya itu yang tiba-tiba tertawa sendiri seperti itu.

"Tidak, bukan apa-apa sebas." Jawab momonga yang sudah kembali tenang.

Bagaimanapun ada akhirnya dia harus menguji kekuatannya didunia ini bukan? dan dia merasa bukanlah hal yang buruk menolong gadis itu sebagai permulaan...

"Sebas, aku akan pergi menolong gadis itu. Naikkanlah level pertahanan nazarick kelevel tertinggi dan juga beritahu albedo untuk menyusulku dengan persenjataan lengkap." Ujar momonga yang beranjak berdiri dari kursinya kepada sebas.

"Baik!" jawab sebas dengan cepat sambil membungkukan badannya.

"Dan juga persiapkan beberapa pasukan dengan kemampuan stealth untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tak terduga." Tambah momonga sebelum melihat kembali kearah cermin yang menampakan gadis berambut merah itu yang kini sudah terpojok oleh para malaikat jatuh itu.

"Laksanakan." Jawab sebas sebelum keluar ruangan melaksanakan semua perintah momonga itu.

"Touch san, aku akan membayar hutang budiku padamu." Gumam momonga dalam batinnya sebelum mengambil Staff Of Ainz Ooal Gown dari pocket dimennsinya.

"Gate!" gumam momonga sambil mengangkat Staff Of Ainz Ooal Gown dan membuka portal gate dengan sihirnya.

...

End chapter 2...

...

0ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo0