"A-apa… alasanmu berubah?"
"Aku.. berubah?"
Baekhyun menghela nafasnya, lelah. Apakah Chanyeol terlalu bodoh untuk tak menyadari perubahan dirinya sendiri? Ataukah dengan sengaja ia berbalik bertanya karena tak tahu harus menjawab apa?
"Kau berubah, Chan."
"Tidak, aku tak berubah"
Masih dengan jawaban yang sama. Baekhyun sukses besar dibuatnya sakit setengah mati. Dengan perlahan, ia menyingkap syal yang digunakannya, lalu setengah dari kemeja yang digunakannya. Menampakkan leher hingga bahu Baekhyun yang tadinya mulus, kini dipenuhi tanda, yang tentunya Chanyeol sendiri tahu dari siapa.
"Kau bahkan hanya terdiam saat aku ingin diperkosa begini"
Chanyeol berusaha menahan tangannya mati-matian. Sungguh, ia sama sekali tak berniat untuk mendiami Baekhyun begini. Tapi ini demi kebaikan Baekhyun, demi kebaikan mereka bersama.
"Kau bodoh, Chan. Aku hampir mati diperkosa dan kau hanya menatapnya dan menyuruh orang lain untuk menyelamatkanku"
Baekhyun mulai meneteskan air matanya. Kristal bening itu keluar tanpa diduganya, membuat Chanyeol semakin sulit mengontrol dirinya sendiri.
"Tak apa, tapi aku bahkan lebih memilih mati diperkosa daripada mengetahui satu fakta bahwa kau lebih memilih untuk menonton pemerkosaan didepanmu lalu menghubungi orang lain untuk menolongku. Aku lebih memilih kau tidak menghubungi Sehun saat itu, bahkan jika aku diperkosa, aku akan mencoba menerima semua itu. Toh kau saja tak mempedulikan a—"
Chanyeol menahan bibir Baekhyun, menutupnya dengan kedua bibirnya. Sementara Baekhyun hanya terdiam menerima perlakuan Chanyeol. Sungguh, ini diluar dugaannya. Chanyeol benar-benar tak dapat mengontrol dirinya dan ini sangat mengganggu rencananya.
Chanyeol melepaskan ciumannya saat menyadari bahwa Baekhyun hampir saja kehabisan nafasnya. Ia pun menopang wajah Baekhyun dengan kedua tangannya. Pria jangkung itu tersenyum kecil sambil mengelus pipi Baekhyun yang sialnya semakin bertambah menggemaskan setiap harinya.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu sebelumnya kalau aku akan terus melindungimu?"
Baekhyun hanya terdiam, bingung harus menjawab apa.
"Kau tahu kunci sebuah hubungan?"
"Kepercayaan"
Chanyeol mengangguk, lalu mengelus surai coklat milik Baekhyun. Pria jangkung itu pun mendudukkan dirinya dan Baekhyun ke sebuah sofa yang tak jauh dari tempat mereka berada.
"Apa kau percaya padaku?"
Baekhyun mengangguk.
"Kalau begitu cukup jalani saja. Jika kita memang ditakdirkan bersama, kita pasti akan dipertemukan dikehidupan yang selanjutnya. Jika tidak, cukup kenang masa-masa indah kita berdua. Cukup dikenang, jangan terlalu berharap, Baek"
Sejujurnya, Baekhyun masih belum puas dengan jawaban Chanyeol. Pertanyaan yang selama ini hinggap dikepalanya adalah… apa alasan Chanyeol menjauh darinya?
Baekhyun hanya menghela nafasnya sambil menahan dirinya untuk menanyakan hal itu. Chanyeol tak pernah mengungkitnya, jadi ia pikir ini adalah privasi Chanyeol. Mungkin saja ini masalah keluarga Chanyeol, jadi Baekhyun tak diperbolehkan untuk mengetahuinya.
Tapi tetap saja Baekhyun penasaran.
"Wah, ternyata masih berani juga. Mesra sekali ya"
Chanyeol membulatkan matanya saat menyadari siapa sosok yang dengan tiba-tiba masuk ke dalam apartemennya.
Bagaimana dia tahu jika Baekhyun ada di sini?
Habislah riwayat Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
Title:
Our Struggle (Chanbaek)
Main Cast:
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Support Cast:
Oh Sehun
Kim Jongin
Do Kyungsoo
(cast bisa bertambah sewaktu-waktu)
Rating:
M
Genre:
Romance, Drama, Hurt/Comfort, Angst
Disclaimer:
Fanfict ini dibuat berdasarkan keisengan semata. Kalo misalnya ada kesamaan, aku minta maaf karna aku sama sekali gapunya niat buat mirip-miripin sama punya orang hehe. Semoga suka dan Happy Reading~~!
Summary:
Rumah adalah kerinduan masing-masing orang yang jauh dari keluarga. Namun, pengusiran Baekhyun dari rumahnya sendiri sudah berhasil membuat Baekhyun benci dengan rumah. Dan ketika ia kembali untuk Chanyeol, masihkah kekasihnya itu memiliki perasaan yang sama dengannya? Tapi kenapa rasanya sesakit ini? (CHANBAEK/BAEKYEOL)
Notes:
-Beberapa part yang di italic adalah flashback.
-Maaf atas beberapa kesalahan kata, ejaan, etc.
-Author notes dipart terakhir tolong dibaca, gamsahabnida.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
Sesungguhnya, Sehun merasakan kejanggalan saat mengingat raut wajah Chanyeol yang sulit diartikan. Ia yakin, Chanyeol benar-benar sedang dalam masalah. Belum lagi tentang –mantan- sahabatnya, Kai. Sehun benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa Kai melakukan hal setega itu? Setahunya, Kai bukanlah orang yang egois. Well, mungkin sebelum mengenal Baekhyun. Mengabaikan rasa penasarannya tentang Chanyeol, Sehun pun berusaha mengingat perkataan Kai. Yang tentunya ia harapkan dapat membantunya menyatukan kedua pria –bodoh- itu.
Masih sambil memfokuskan diri ke arah jalanan, Sehun spontan menginjak rem mobilnya lalu membulatkan matanya.
"Aku mempunyai kekasih. Ah, bukan. Calon kekasih lebih tepatnya. Ia mencintai seseorang yang kubenci. Dan aku tidak akan segan merebutnya dari orang kurang ajar itu."
Terimakasih untuk ingatannya yang kembali.
.
.
.
.
Sore yang indah dibandingkan sore-sore sebelumnya. Di mana langit yang semakin gelap, awan menutupi matahari yang bahkan belum saatnya untuk meninggalkan tempatnya. Suara petir yang menyambar-nyambar, seakan-akan menjadi melodi yang memiliki irama tak menentu. Tak berapa lama kemudian, butiran air mulai membasahi dedaunan, lalu mengalir ke batang, kemudian turun ke tanah. Semakin lama semakin deras, membuat siapapun akan berlari ke dalam rumah, atau menyelamatkan pakaiannya yang ternoda oleh butiran-butiran air itu.
Tapi menurut Baekhyun, semua ini sangat menyenangkan.
Pria manis bersurai coklat itu bahkan telah menganggap hujan seperti sahabatnya sendiri. Di mana ia akan merasa tenang hanya dengan mendengar suaranya, dan merasakan dinginnya tubuh saat diterpa air hujan.
Baekhyun pernah melihat disebuah situs, kecintaan terhadap hujan adalah sebuah gangguan kejiwaan. Tapi, siapa peduli? Toh, jiwanya akan lebih terganggu tanpa adanya butiran-butiran air ini. Baekhyun bahkan berpikir bahwa ia hampir gila, sebelum tetesan air membasahi tubuhnya. Rasanya menenangkan.
Pria mungil itu menutup kedua matanya, wajahnya menghadap langit. Ia menghela nafasnya, mencoba melupakan sejenak masalah dan keganjilan yang dirasakan hatinya. Tapi nihil, Baekhyun malah mengeluarkan kristal bening dari kedua pelupuk matanya.
Ingin rasanya ia melupakan sejenak semua masalahnya, tapi yang ada malah rasa sesak yang kian memenuhi rongga dadanya.
"Chanyeol… hiks"
Tak pernah terbayangkan oleh Baekhyun jika Chanyeol akan mengusirnya. Ini sangat sangat sangat sakit. Baekhyun terus menangis sesenggukan dibawah derasnya aliran hujan, sebelum ia merasa hujan tiba-tiba berhenti. Pria mungil itu pun membuka matanya dan terkejut saat menyadari siapa pelaku yang mengganggu malam indahnya bersama air hujan.
"C-Chan?" lirih Baekhyun, hampir tak terdengar.
"Kau ini masih sama saja. Ayo masuk, jangan membuatku khawatir begini,"
Demi derasnya air hujan, Baekhyun yakin Chanyeol sedang menahan tangis sekarang. Nada bergetar yang didengarnya sudah membuatnya yakin bahwa pria dihadapannya sedang tidak baik-baik saja.
Baekhyun membulatkan matanya saat menyadari Chanyeol yang mulai basah terkena air hujan. Payung yang dibawa olehnya ternyata hanya cukup menampung satu orang, dan dengan sengaja Chanyeol memberikannya pada Baekhyun. Dengan cepat, Baekhyun segera memeluk Chanyeol, membuat pria jangkung dipelukannya hanya mampu terdiam. Pria yang lebih kecil sengaja menjatuhkan payung yang Chanyeol bawa, membuat keduanya yang tadinya basah kini menjadi semakin basah.
Biar saja seperti ini, biarkan perasaan mereka masing-masing menghangat. Sebentar saja.
Chanyeol melepaskan pelukan Baekhyun, menuntun pria mungil itu untuk masuk ke dalam rumahnya dengan tangan mereka yang masih saling bertautan.
Setelahnya, Chanyeol pun mengangkat Baekhyun ala bridal style, membuat Baekhyun semakin menyipitkan matanya karena terkena cahaya lampu. Pria jangkung itu pun menurunkan Baekhyun dari gendongannya secara perlahan, kemudian mengecupi wajah pria mungil itu. Tak ada satu inchi pun yang lolos dari bibirnya.
Baekhyun mendesah tertahan, sementara Chanyeol mulai menggerayangi kaus dalam Baekhyun, kecupannya turun perlahan ke leher mulus Baekhyun, membuat beberapa tanda di sana.
"Tolong, lakukan saja Chan.. jangan berhenti"
"Eunghh,"
Pria yang lebih mungil hanya menutup kedua matanya, menikmati segala perlakuan Chanyeol yang sejujurnya sangat ia rindukan selama kepergiannya. Tangan Baekhyun melingkar di leher Chanyeol, sesekali menekan kepala pria diatasnya.
Tangan Chanyeol mulai berani masuk ke celana milik Baekhyun, mengelus milik pria mungil itu, dan sesekali tersenyum saat melihat Baekhyun yang hanya mampu mendesah nikmat. Pria mungil bersurai coklat itu pun menarik surai Chanyeol, mengarahkan bibir mungilnya ke bibir tebal milik Chanyeol. Kemudian bibir keduanya menyatu kembali, masih dengan tangan Chanyeol yang menyentuh bagian bawah Baekhyun dan tangan Baekhyun yang melingkar dileher Chanyeol.
Chanyeol merasa sangat panas. Sudah lama ia tak melakukan hal ini dan tentu saja ini membuatnya lebih cepat terangsang. Dengan cepat, Chanyeol segera membuka celana milik Baekhyun, dan melepaskan pakaian dalam milik pria mungil itu. Perlahan, ia membuka kancing Baekhyun satu persatu, membuat dada Baekhyun terekspos begitu saja dan memancingnya untuk segera memasuki pria dihadapannya.
Chanyeol tersenyum memandangi tubuh indah Baekhyun yang anehnya tak pernah berubah keindahannya. Ia pun mengernyit heran saat menyadari raut wajah kesal milik Baekhyun.
"Kenapa, Baek?"
"Kau tak adil!"
"Kenapa?"
"Aku sudah sepenuhnya naked dan kau bahkan masih berpakaian lengkap!"
Baekhyun mengerucut lucu, sementara Chanyeol tertawa kecil dibuatnya.
"Kalau begitu bukakan milikku"
Yang lebih mungil mengangguk, kemudian mulai melakukan apa yang diperintah oleh Chanyeol. Sebelumnya, ia mengelus milik Chanyeol dari luar, menggigitnya, membuat sang empunya mendesah tertahan. Baekhyun terkikik melihatnya.
"Kau membangunkan singa tidur, eoh?"
Dengan cepat, Chanyeol segera menyingkirkan pakaian yang menutupi tubuhnya. Hingga tak tersisa sehelai benang pun diantara mereka.
Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun, kemudian mengecup bibir pria mungil itu dengan lembut. Jari-jarinya mulai diarahkan ke depan lubang anal Baekhyun, namun tangannya ditahan oleh pria mungil itu.
"Langsung saja. Aku sudah sangat merindukan adik kecilmu"
"Adik kecil katamu?"
"Oh ya, adik jumboku. Aku merindukanmu"
Baekhyun tersenyum penuh arti yang disambut oleh senyuman puas milik Chanyeol.
"Katakan jika ini terasa sakit,"
Chanyeol menyesakkan miliknya perlahan, sedikit kagum karena milik Baekhyun masih sama sempitnya. Atau bahkan bertambah sempit?
Baekhyun menutup matanya sambil menahan sakit yang semakin menjadi-jadi. Tak tega menatap wajah kesakitan Baekhyun, Chanyeol pun menghentikan sejenak kegiatannya. Sungguh, ia pun amat tersiksa.
"Aku akan menghentikannya. Maafkan aku, Baek"
Pria yang berada di bawah membuka matanya perlahan, lalu tersenyum teduh kemudian mengelus pipi Chanyeol.
"Lanjutkan saja, Chan. Aku merindukan ini semua"
Chanyeol mengangguk, "Kau bisa melampiaskannya padaku,"
Perlahan, Chanyeol kembali melanjutkan kegiatannya. Pria jangkung itu meraup bibir Baekhyun, mencoba mengalihkan rasa sakit yang dirasakan Baekhyun. Sementara Baekhyun kembali menutup matanya, membalas lumatan Chanyeol, sambil menarik rambut pria jangkung dihadapannya. Sesekali menekan jari-jarinya pada leher milik Chanyeol, meninggalkan beberapa goresan di sana. Sampai pada akhirnya…
Jleb
"Ahhh"
Chanyeol mengerang nikmat. Sudah sejak lama ia merindukan lubang anal milik Baekhyun yang hanya dapat digantikan dengan permainan solonya. Kini, ia benar-benar dapat merasakan 'surganya'. Lubang anal Baekhyun yang entah mengapa semakin sempit, kini menjepit miliknya. Membuat Chanyeol tak tahan dan segera menggoyangkan pinggulnya.
"Eunghh"
Tak dapat dipungkiri, rasa sakit itu masih saja ada. Namun, Baekhyun mencoba mengalihkannya. Apalagi ketika bibir Chanyeol yang mulai turun ke leher jenjangnya, meninggalkan bercak-bercak kemerahan yang ia yakini pasti akan sangat terlihat esok hari.
"Ahh Channnh!"
Baekhyun semakin menekan kepala Chanyeol saat milik Chanyeol sudah mencapai titik ternikmatnya. Saat-saat inilah yang Baekhyun sukai, membuatnya ingin terus menerus dihajar oleh penis jumbo Chanyeol.
Sementara Chanyeol hanya tersenyum puas saat menyadari miliknya sudah mencapai titik ternikmat milik Baekhyun. Ia pun menghujam lubang anal Baekhyun semakin cepat, yang tentunya membuat pria dibawahnya mendesah nikmat.
"CHANNHHH AHHH NGHH"
"Terus, Baek. Sebut namaku ahh"
"CHANNHH YEOLLHH LEBIHH CEPAATHH"
"Baiklah jika itu yang kau inginkan Baek"
Chanyeol semakin mempercepat gerakannya, membuat desahan Baekhyun semakin keras. Ini begitu nikmat, dan Chanyeol tak ingin menghentikan semua ini.
"Akuhhh duluannhh"
"Tunggu ahh Baek"
Crot
"Ckck, terlalu cepat"
Baekhyun sudah terkulai lemas, sementara Chanyeol masih semangat menghujam lubang anal Baekhyun dengan kasar. Pria jangkung itu pun mencoba memancing kembali pria mungil dibawahnya. Digenggamnya milik Baekhyun, kemudian ia melakukan handjob pada penis mungil Baekhyun—yang dalam genggamannya sampai tidak terlihat lagi. Tak hanya itu, Chanyeol melakukan gerakan in-out-nya sambil menciumi tengkuk Baekhyun, membuat sang empunya lebih bebas untuk mendesah. Dan tentunya, usaha Chanyeol berhasil.
Baekhyun kembali 'bangun'.
"Yeahhh Channnhhh"
"Baekhhh"
"Ahh aku bisa gilahhh. Terushh lebih cepathhh ohh"
"Ohh kenapa tambah sempit saja ahh"
Peluh membasahi kedua pria yang sedang saling menghangatkan tersebut. Namun, belum ada tanda-tanda Chanyeol yang akan mencapai klimaksnya.
"Akuhh keluarhh. AHHH"
Bukan, itu bukan Chanyeol. Itu—lagi-lagi- Baekhyun.
"Kenapa kau terlalu cepat, Baek?"
"Kau saja yang terlalu lama!"
Chanyeol mengeluarkan miliknya, kemudian membalikkan tubuh Baekhyun.
"Doggy?"
"Bukan. 71"
Baekhyun sedikit berfikir saat membayangkan bagaimana posisi 71, sebelum akhirnya menyadari kalau 71 dan doggy itu sama saja.
"Sama saja!"
Pria yang lebih mungil membuat posisi menunggingnya, menampilkan lubang analnya yang tentunya sangat menggoda.
Tanpa aba-aba, Chanyeol segera memasukkan miliknya ke dalam lubang anal Baekhyun. Membuat Baekhyun kembali mendesah kesakitan.
"Uh, baru saja kumasukkan, ternyata masih saja sempit. Maafkan aku"
"Tak apa. Lanjutkan, jangan menunda klimaksmu!"
Chanyeol kembali menggerakkan pinggulnya, sementara Baekhyun hanya menahan nikmat sambil menggigit bibir bawah miliknya.
"Ahhh disanahh"
Seolah sudah sangat hafal letak titik ternikmat milik Baekhyun, Chanyeol dengan cepat menemukannya. Kemudian kembali menggerakkan miliknya dengan kasar. Tentu saja, siapa yang mau bermain lembut dan menyiksa diri sendiri? Asal kalian tahu, mereka benci bermain lembut.
"Ahhh Chanhhh ohhh"
"Baek ahh ini nikmat"
"Gerakkan terushhh Chanhhh"
"Jangan ahh menjepitnya kau ahh menyiksaku ahhh"
"Milikmuhhh yang terlaluhh besarhh"
Semakin dekat dengan klimaksnya, Chanyeol semakin mempercepat gerakannya, sesekali memukul bokong milik Baekhyun.
"Baekhhh akuhh—"
"Akuhh juga Channhhh"
CROTT
Baekhyun klimaks untuk ketiga kalinya, sedangkan Chanyeol baru saja mencapai klimaks pertamanya. Chanyeol menahan posisi mereka, begitupun Baekhyun, membiarkan seluruh sperma milik Chanyeol memenuhi Baekhyun.
Setelahnya, Chanyeol mengambil posisi disamping Baekhyun yang juga sedang berbaring. Nafas keduanya terengah-engah, kemudian saling menatap satu sama lain sembari melemparkan senyumnya masing-masing.
"Terimakasih, Baek"
"Aku juga berterimakasih. Terimakasih telah menungguku"
"Maafkan aku karena membiarkanmu pergi"
Baekhyun tersenyum kecil, sambil menahan air matanya yang mulai mendesak untuk keluar. Ia pun memalingkan wajahnya, kemudian mengenakan kembali pakaiannya, disusul oleh Chanyeol.
"Aku—"
"BAEKHYUN!"
Baekhyun menoleh ke arah pintu, kemudian membulatkan matanya.
"KAU DENGAN—, AH KAU! BUKANKAH SUDAH KUKATAKAN UNTUK TAK MENEMUI ANAKKU LAGI? DAN APA YANG BARU SAJA KALIAN LAKUKAN? AISH, MENJIJIKKAN!"
"Eomma, aku—"
"AKU TAK PERNAH MEMILIKI ANAK YANG MENYIMPANG"
"Ahjumma, aku minta maaf."
"TAK ADA GUNANYA MEMINTA MAAF!"
"Tapi eomma aku mencintai Chanyeol."
"PERSETAN DENGAN CINTA. INI AIB, MEMALUKAN!"
Baekhyun semakin membulatkan matanya, kemudian jatuh terduduk, tak menyangka ibunya mengatakan hal seperti itu padanya. Butiran kristal mulai memenuhi pelupuk matanya. Tak berapa lama kemudian, butiran-butiran itu mulai keluar dari persembunyiannya.
"Ahjumma—"
"Kau diam saja! Kau yang merusak masa depan anakku!"
"Ahjumma boleh membenciku. Tapi tolong jangan membenci Baekhyun."
Chanyeol merendahkan tubuhnya, menyamakan tingginya dengan Baekhyun, kemudian memeluknya.
"Baekhyun hanya butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya, dari ahjumma dan ahjussi"
Chanyeol mencium kening Baekhyun, lalu mengecup puncak kepalanya. "Kau lihat? Dia menyukai hal seperti ini. Ahjumma seharusnya mengerti betapa kesepian Baekhyun saat ahjumma dan ahjussi tak ada di rumah."
"Kau tahu apa soal—"
"Tentu aku tahu, banyak. Bahkan lebih banyak dari yang ahjumma tahu"
Chanyeol menuntun Baekhyun untuk berdiri, kemudian merangkul pundak Baekhyun.
"Sayangi Baekhyun, ahjumma"
Nyonya Byun hanya terdiam, berusaha memproses kata-kata yang diucapkan Chanyeol. Kemudian wanita itu tersenyum miring.
"Tapi aku butuh satu syarat"
"Apa itu?"
"Jauhi Baekhyun. Maka aku akan memberinya kasih sayang sebagai orangtua"
Chanyeol sedikit membulatkan matanya, sambil masih mencoba menetralisir perasaannya. Ia pikir, Nyonya Byun akan berkata hal seperti, "Baiklah, kalau begitu beri aku bantuan untuk menyayanginya. Cintai dia sepenuh hatimu" atau semacamnya.
Sungguh, tak sesuai harapannya. Hati Nyonya Byun benar-benar sekeras batu.
Pria jangkung itu pun tersenyum kecil, kemudian mengangguk. Baekhyun terkejut, lalu menoleh ke arah Chanyeol.
"Chan..?"
Chanyeol tersenyum, "Baik, jika itu yang membuat ahjumma menghargai Baekhyun. Aku akan melakukannya"
"Ingat. Jangan sekalipun aku melihatmu bersama anakku"
"Tentu, ahjumma"
Nyonya Byun kemudian berbalik, meninggalkan kedua pria yang sedang menahan sakit luar biasa.
Baekhyun hanya terdiam, berusaha mencerna perkataan kedua orang dihadapannya. Ia benar-benar tak habis fikir. Bagaimana bisa Chanyeol menuruti hal itu begitu saja?
Chanyeol menatap Baekhyun, kemudian mengecup kening pria mungil dihadapannya.
"Terimakasih. Terimakasih untuk segalanya. Jaga kesehatanmu,"
"Chanyeol…"
Baekhyun terisak, wajahnya memerah. Ia memeluk Chanyeol, yang kemudian dibalas pria jangkung itu sambil mengelus surai coklat milik Baekhyun.
"Aku akan terus melindungimu, Baek. Jika esok hari kau tidak melihatku, anggap saja sosok Park Chanyeol sudah mati. Tapi tenang saja, sekalipun Park Chanyeol sudah mati, tapi keinginannya untuk melindungi Byun Baekhyun tak akan pernah mati. Karena bagaimanapun, Chanyeol ditakdirkan untuk Baekhyun. Dan begitupun sebaliknya."
Baekhyun tersenyum, miris.
"Sekalipun mereka tak bisa bersama"
Seolah mengalami deja vu, Baekhyun mengeratkan pelukannya pada Chanyeol. Tak peduli jika bahu Chanyeol yang bergetar kini semakin basah oleh air mata.
Mereka hanya ingin menghabiskan saat-saat terakhir mereka bersama.
.
.
.
.
Satu hot frappucino menjadi teman sore Chanyeol saat sedang melamun begini. Di satu sisi, Chanyeol merasa apa yang dilakukannya sudah benar, mengingat Baekhyun yang selama ini tak mendapat perhatian dari kedua orangtuanya. Jadi, ia rasa memilih jalan ini bukanlah hal buruk. Namun, disisi lain Chanyeol merasa menjadi orang bodoh karena tak mempertahankan dirinya untuk tetap bersama Baekhyun. Kalau saja dia egois, mungkin kini ia sudah melarikan diri dan sedang bahagia bersama Baekhyun. Tapi ia harus berfikir panjang. Perusahaan ibunya sudah diujung tanduk dan jika Kai menyentuhnya sedikit saja, bisa saja perusahaan ibunya akan terjatuh. Chanyeol begitu hafal dengan ibunya yang mudah cemas, ia takut jika ibunya akan mengancam bunuh diri lagi.
"Jadi kau sudah menjauhinya?"
Chanyeol menutup matanya, lagi-lagi Baekhyun. Bisakah pertemuan Chanyeol dan Kai sekali saja tidak membahas Baekhyun? Chanyeol rasanya sesak sekali, terutama ketika mengingat bahwa ia telah memiliki kesepakatan dengan Ny. Byun perihal Baekhyun.
"Park?"
"Sudah, kau tenang saja. Baekhyun milikmu,"
Chanyeol tersenyum—memaksa. Oh, ayolah, bagaimana bisa Chanyeol mengatakan hal sebodoh itu? Ingin rasanya ia menghukum bibirnya saat itu. Namun ia teringat, kalau dirinya memang tak akan pernah bisa bersama dengan Baekhyun.
"Aku memegang ucapanmu, Park."
Chanyeol rasanya ingin mati saat itu juga.
.
.
.
.
Kyungsoo rasa, ia mengenal tempat ini. Namun entah mengapa, ia tak kunjung menemukan dimana kini ia berada. Hal yang terakhir diingatnya adalah ketika ia pergi menemui Baekhyun dan tidak menemui keberadaannya. Jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri.
"Kau sudah bangun?"
Pria bermata doe itu terkejut saat menyadari siapa sosok yang kini mendekatinya.
"Chanyeol?"
"Ya, Kyungsoo. Ini Chanyeol"
Kyungsoo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Dan apa tadi? Chanyeol mengetahui namanya?
"Aku menemukanmu tertidur di kursi taman. Cuaca mendingin jadi aku membawamu ke rumah. Jangan kaget"
"Bukankah kau tahu rumah Baekhyun?"
"Aku memiliki sedikit masalah dengan Ny. Byun"
"Masalah a—"
"—dan kau tak perlu mengetahui hal itu"
Pria yang lebih kecil hanya mengerutkan keningnya. Jangan-jangan masih sama seperti masalah yang dulu. Tapi, bukankah kemarin Chanyeol masih berani datang ke rumah? Kenapa sekarang tidak?
"Orang bilang, kau akan merasa sangat mencintai seseorang saat kehilangan dia"
"Hah?"
"Dan saat ia masih berada disekitarmu, kau tak menyadari kalau kau sangat mencintainya. Dan dengan bodohnya kau menyia-nyiakannya dan mencintai orang lain"
Sungguh, Kyungsoo merasa tak asing dengan perkataan yang baru saja Chanyeol ucapkan. Sebenarnya apa yang Chanyeol ketahui tentang dirinya? Kenapa hanya Kyungsoo yang tak mengingatnya?
"Kau pasti sedang bertanya-tanya mengapa aku mengatakan hal itu. Atau kau bahkan sudah tahu, hm?"
Chanyeol tersenyum lalu mendekati wajah Kyungsoo, sementara Kyungsoo hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Tahu apa? Aku bahkan tak mengingat apapun tentang kita"
"Tentu, kau baru saja keluar dari rumah sakit—"
"—jiwa" tambah Chanyeol dalam hati.
Kyungsoo masih tak mengerti. Ia memang pernah mengingat kalau ia pernah dirawat di rumah sakit. Tapi sungguh, ia merasa seperti mengenal sosok Chanyeol, walaupun sesungguhnya ia tak tahu siapakah Chanyeol itu.
.
.
.
.
"Yeol, aku menyukai dia"
Chanyeol hanya terdiam saat menatap pria yang ditunjuk oleh pria bermata doe dihadapannya. Yang benar saja, dia terlalu bodoh atau apa. Sampai-sampai tak menyadari perasaan Chanyeol.
"Kau sangat dekat dengannya, bukan? Tolong sampaikan salamku padanya"
"Ya. Ayo pulang. Aku akan menyampaikannya saat ekstrakulikuler nanti, Soo"
Kyungsoo mengangguk girang sambil meraih tangan Chanyeol. Keduanya berjalan beriringan ditemani hangatnya mentari sore.
"Kyungsoo-ya"
"Ne?"
Chanyeol meraih kedua tangan Kyungsoo, menggenggamnya.
"Aku menyukaimu. Jadilah kekasihku"
Kyungsoo menggeleng, "Maafkan aku, Yeol. Aku menyukai Kai sunbaenim dan aku tak bisa memaksakan perasaanku padamu"
"Baiklah"
Chanyeol kembali melanjutkan perjalanannya, kemudian menghela nafasnya. Mungkin meraih Kyungsoo begitu sulit, Kyungsoo sulit bahkan tak dapat diraih. Jadi sebesar apapun usahanya, Chanyeol rasa tak akan berhasil.
"Kyungsoo, bagaimana jika aku pergi?"
Kyungsoo menoleh, lalu mengangkat sebelah alisnya.
"Bagaimana jika aku tak kembali?"
Tap
Kyungsoo menghentikan langkahnya, ia mulai menatap Chanyeol dengan tatapan herannya. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh Chanyeol?
"Aku tak mengerti dengan apa yang kau bicarakan, Yeol"
"Sudahlah lupakan saja. Toh, kau memang tak pernah mengerti"
"Aku sudah sangat mengerti tentangmu"
"Bohong"
"Tentu, aku sangat memahamimu, Yeol. Kau sahabat terbaikku"
Sahabat…
Satu kata, dengan beribu rasa yang menusuk ulu hati.
Tak apa, Chanyeol mengerti.
Chanyeol mengerti, seharusnya ia tak pernah memendam rasa ini pada Kyungsoo.
.
.
.
.
"Hyung, berhenti melamun"
"Aku tidak melamun"
Baekhyun menampilkan senyuman terpaksanya sambil menatap pria yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Mereka sedang menghabiskan sore hari bersama-sama, berniat untuk membuat Baekhyun melupakan masalahnya sejenak. Tapi nihil, sulit untuk membuat Baekhyun melupakan sosok Chanyeol.
"Hyung, apa kau tahu alasan mengapa Chanyeol hyung menghindarimu?"
"Karena orangtuaku tidak menyukainya?"
"Selain itu, apa kau tahu?"
Baekhyun menggeleng. Jujur saja, ia merasa ada yang aneh dengan sikap Chanyeol kepadanya yang semakin lama semakin membuat tanda tanya besar dikepala Baekhyun. Tentu saja Baekhyun tahu bahwa Chanyeol menghindarinya bukan tanpa alasan, mengingat bahwa Chanyeol yang sama sekali tidak memperjuangkan dirinya dihadapan kedua orangtuanya.
Itu sangatlah aneh bagi Baekhyun.
Dimana sosok Chanyeol yang pada awalnya adalah sosok pejuang yang tak akan pernah menyerah apabila sudah bertekad kuat. Baekhyun tahu itu, terutama ketika mengingat tentang cerita Chanyeol tentang cinta pertamanya yang baru dapat ia lupakan ketika dirinya bertemu dengan Baekhyun, sosok yang dapat membantunya melepaskan cinta pertamanya. Dari cerita Chanyeol saja, Baekhyun sudah tahu bahwa Chanyeol adalah sosok yang setia.
Dan tentunya ini juga hal yang membuat Baekhyun berfikiran aneh.
Bagaimana jika… Chanyeol ternyata telah menemukan kembali cinta pertamanya?
"ARGHHH"
Baekhyun mengacak rambutnya frustasi.
"Hyung, kau tak apa?"
"Tidak," Baekhyun tersenyum, memaksa.
Ini mungkin terdengar aneh, tapi Baekhyun sungguh penasaran dengan apa yang Sehun ketahui tentang Chanyeol dan masa lalunya. Tapi tentu saja itu hal yang wajar bagi seorang yang belum mengetahui masa lalu kekasihnya bukan?
"Sehun…"
"Ya, hyung?"
"Kumohon, jujurlah padaku"
Sehun mulai memfokuskan pandangannya pada Baekhyun, mendengarkan kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir mungil itu.
"Apa kau… mengetahui tentang masa lalu Chanyeol?"
Pria yang lebih tinggi mengerutkan keningnya, mencoba memahami kemana arah pembicaraan pria mungil yang menatapnya penasaran kini. Masa lalu Chanyeol? Orangtuanya? Teman lamanya? Sekolahnya? Atau… cinta per—
"Cinta pertamanya, maksudku"
Oh, benar.
Sehun tentu tahu benar siapa pria yang membuat Baekhyun bertanya-tanya kini. Tentu saja, Sehun telah menjadi teman Chanyeol sejak sekolah dasar, dan hal itu sudah cukup membuat Sehun mengetahui beberapa fakta tentang Chanyeol.
"Sehun?"
"E-eh… tidak hyung. Chanyeol hyung tak pernah bercerita tentang cinta pertamanya padaku"
Maaf, hyung…
Aku hanya tak ingin… melukaimu.
.
.
.
.
Andai saja Sehun diberi satu permintaan, maka ia akan meminta cintanya terbalas.
Ya, menyukai seseorang tanpa rasa yang sama dari orang yang disukai menjadi salah satu alasan mengapa seseorang benci jatuh cinta. Terlebih ketika sosok yang kau sukai terus berada disekitarmu, membuatmu jelas sulit untuk melupakannya. Maka memendam sendiri rasa cinta dalam waktu yang lama pun menjadi salah satu pilihan yang harus dijalani pria berkulit pucat yang kini sedang memandangi pujaan hatinya kini.
"Kenapa memandangku seperti itu? Hei, pertandingannya dimulai beberapa menit lagi,"
Sehun menggaruk kepalanya yang tak gatal, salah tingkah.
"Besok aku pulang, kau tak ingin mengatakan beberapa kata perpisahan mungkin?"
"Apa? Pulang?" beo Sehun.
Raut wajah Sehun berubah seketika, tak rela ditinggal oleh sang hyung. Sementara pria dihadapannya hanya mengangguk kecil.
"Aku sudah terlalu lama di sini. Ya, kecuali kalau kau mau bertaruh denganku"
"Bertaruh?" beo Sehun, lagi.
"Ya, bertaruh. Jika kau memenangkan pertandingannya, maka aku akan mengundur kepulanganku ke Busan sekitar seminggu lagi. Setelah itu tak ada pengunduran, aku juga masih bersekolah."
Tanpa berpikir panjang, Sehun segera mengangguk semangat.
"Tapi jika kau kalah, maka hyung akan pulang malam ini,"
Sehun sedikit berpikir, mengingat bahwa lawannya kali ini memang cukup sulit untuk dikalahkan. Namun, pria jangkung itu segera mengangguk semangat dan bertekad pada dirinya sendiri untuk memenangkan taruhan ini.
"Kau punya percaya diri yang baik,"
"Tentu"
Mereka kembali larut dengan pikiran masing-masing, sebelum kemudian Sehun membuka percakapan.
"Hyung, jika kau diberi satu permintaan, apa yang akan kau minta?"
"Satu?"
"Ya, satu,"
Pria mungil yang berada dihadapan Sehun kini hanya mengerutkan keningnya sambil berpikir.
"Aku ingin di halaman rumahku terdapat kebun stroberi"
Sehun tersenyum kecil, lalu mengacak rambut pria dihadapannya. "Kau hyung-ku tapi kau bahkan membuatku gemas melihatmu"
"Hei, aku bukan anak kecil"
"Yang menggemaskan tidak selalu anak kecil, Baekki hyung. Kau bahkan lebih imut daripada anak kecil sekalipun,"
"Aish!"
Baekhyun—pria yang sedaritadi memenuhi pikiran Sehun- hanya memukul lengan Sehun pelan. Sehun hanya tersenyum kecil, kemudian melirik jam miliknya.
"Kenapa waktu berjalan begitu cepat? Hyung, lihat saja. Aku akan memenangkan pertandingan ini untukmu."
Kemudian Sehun berlari untuk bersiap-siap, memastikan dirinya siap untuk memenangkan pertandingan kali ini.
.
.
.
.
Belum genap seminggu Chanyeol tak melihat sosok Baekhyun, rasanya ia ingin mati saja.
Baekhyun seolah-olah menjadi nafas Chanyeol, salah satu alasan hidup Chanyeol hingga saat ini. Maka dari itu, pilihan yang dipilihnya kali ini rasanya menjadi pilihan terberat yang dijalani seumur hidupnya. Meninggalkan Baekhyun sama saja dengan meninggalkan hal terindah dalam hidupnya. Melupakan Baekhyun sama saja dengan melupakan kenangan terindah dalam hidupnya. Mungkin hidupnya akan kembali terasa hampa, tanpa sang pujaan hati yang selalu menemaninya kala sedih dan senang. Mungkin ia harus kembali menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, tanpa ada kehadiran sosok yang dapat diajak untuk berbagi masalah bersama, tanpa sosok yang seharusnya pernah berdiri bersama dengannya didepan altar sambil mengucapkan beberapa kalimat ikatan untuk berjanji sehidup dan semati.
Mungkin seharusnya Chanyeol menyerah saja. Ya, menyerah pada keadaan, menyerah pada situasi buruk yang tak kunjung berakhir.
Slash
Untuk apa ia hidup jika alasan untuk bahagianya sebentar lagi akan mencintai orang lain?
Srrrr
Untuk apa ia hidup jika separuh nafasnya pun kini sulit untuk ia raih?
Slash
Bukankah lebih baik jika ia meninggalkan semuanya? Bukankah akan lebih baik jika semua terjadi tanpa ia ketahui?
Lagipula pada akhirnya ia tak akan bersama cintanya juga.
Srrrrr
"YAK! CHANYEOL!"
.
.
.
.
Baekhyun tersenyum saat Sehun berhasil memenangkan pertandingan. Dengan bangga, Sehun menoleh ke arah Baekhyun sambil mengacungkan jempolnya, yang lalu dibalas dengan senyuman manis milik Baekhyun. Baekhyun pun memberi isyarat pada Sehun bahwa ia akan pergi ke toilet sebentar.
Seusai menuntaskan hasratnya, Baekhyun pun keluar dari toilet. Tak ingin berlama-lama, pria mungil itu sedikit berlari.
BRUGH
"M-maafkan aku"
Baekhyun membulatkan matanya saat menyadari genangan air yang terbentuk karenanya. Dengan takut, pria mungil itu mengangkat kepalanya perlahan, mendapati tatapan seorang pria jangkung yang tampaknya asing, sedang menatap horror kepadanya—entah memang menatap horror atau hanya perasaan Baekhyun saja.
Pria jangkung yang lumayan—ehm- tampan, dengan kening bercucuran keringat. Oh, jangan lupakan lengan basahnya, dan juga bibirnya yang terbuka sedang mengatur nafasnya, menambah kesan seksi pada pria yang beberapa waktu lalu baru saja tanpa disengaja ditabrak oleh Baekhyun.
"Kau baru saja menjatuhkan minumku"
Baekhyun bergegas mengambil botol air minum yang terjatuh yang tentunya tak lagi terisi. Kemudian ia berlari menjauhi pria jangkung itu sambil membawa botol kosong tersebut, tanpa menghiraukan panggilan pria tersebut. Tak berapa lama kemudian, Baekhyun kembali dengan membawa botol kosong yang kini telah terisi penuh, kemudian menyodorkannya pada pria jangkung yang kini menatapnya heran.
"Terimakasih telah mengisinya kembali. Kukira kau salah satu penggemarku yang gemar mengambil botol kosong bekas bibirku,"
Pria yang lebih mungil menyatukan alisnya, heran. "Percaya dirimu cukup tinggi. Tapi maaf, aku hanya memenuhi permintaan maafku,"
"Ya, tapi kau cukup lucu. Jadi—"
Baekhyun menoleh, sementara pria jangkung dihadapannya hanya menyodorkan tangan kanannya.
"Park Chanyeol, kapten tim basket. Aku memang baru saja kalah, tapi percayalah ini hanyalah… uhm, ini bukan hari keberuntunganku,"
Chanyeol tersenyum menampakkan gigi ratanya, membuat Baekhyun tertawa tertahan, namun ia tetap menyodorkan tangannya, menyambut tangan milik Chanyeol.
"Byun Baekhyun, bukan siswa di sini atau dikota ini. Aku hanyalah siswa dari kota Busan yang sedang berlibur."
Chanyeol sedikit mendecak saat mengetahui bahwa pria dihadapannya bukanlah dari kota Seoul—entah kenapa ia sendiri pun tak tahu.
"Hanya mengunjungi sekolah ini? Atau memang ada seseorang yang kau kenal di sini?" tanya Chanyeol.
"Oh Sehun, anak dari teman eomma-ku. Kau mengenalnya?"
"Dia sahabatku."
Baekhyun mengangguk paham, namun kemudian ia kembali membuka mulut saat teringat sesuatu—
"Oh ya, bicara tentang Sehun, tadi dia bermain sangat baik."
Sepertinya Chanyeol mulai bisa membaca pikirannya.
"Entah faktor apa, tapi Sehun sedaritadi benar-benar sangat berkonsentrasi."
Baekhyun tertawa kecil saat mengingat taruhan yang ditawarkannya pada Sehun. "Aku baru saja bertaruh dengannya."
"Benarkah? Taruhan seperti apa?"
"Jika ia memenangkan pertandingan, maka aku akan berada disini lebih lama. Namun jika ia kalah, aku akan pulang malam ini."
Chanyeol mengangguk mengerti, sementara Baekhyun tersenyum kecil.
"Dia anak yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, namun ia dapat membuktikannya padaku dengan memenangkan pertandingan ini."
Chanyeol mengangguk, lagi. Tentunya Chanyeol sudah tahu bagaimana Sehun. Namun ada suatu hal yang sedikit mengganggu pikirannya saat ini. Entah kenapa, Chanyeol sangat yakin akan hal ini. Ia sungguh yakin kemenangan Sehun kali ini bukan tanpa alasan, tentunya alasan khusus yang hanya Sehun sendiri yang tahu. Chanyeol pun cukup mengerti tentang karakter Sehun yang notabene adalah sahabatnya sendiri. Ia yakin, benar-benar yakin, Sehun menyukai Baekhyun.
Dan mulai detik ini, Sehun secara tidak langsung menjadi saingannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Hayoooo, flashback udah pada ketahuan sedikit demi sedikit. Udah pada dapet nggak gambarannya? Atau emang kurang ngefeel? Kkkk. Terus Chanyeolnya kenapa tuh? Author juga penasaran nih. Hayo, ada yang bisa tebak?
Btw mianhae kalo malah jadi kaya sinetron banget wkwk, aku cuma ngikutin alur yang ada di otak dan tiba-tiba muncul begini(?).
Maaaaaf late update bangett, soalnya author lagi sibuk-sibuknya ujian-tugas-ujian-tugas. Dan seminggu menuju UN, wish me luck, readersnim, hehe.
Masih ada yang niat baca enggak nih? Atau jangan-jangan pada bosen, capek nunggu? Yah, jangan dong ya? I'm sorry, aku usahain part selanjutnya bakal update asap!
So, as always, I need your review, readers-deul. Butuh banget review sebagai semangat biar bisa update chapter selanjutnya as soon as possible. I promise you!
Gamsahabnida!
Xoxo.
