Sebelum kalian baca, baca keterangan dulu! Marry Me Now or NeverChapter 4 Disclaimer : Masashi Kishimoto Author : Ariza V. Hatsuki / Hatsuki Spring Keterangan : Jangan memakasa untuk meperpanjang cerita, karena Admin hanya me-post apa yang telah di post oleh penulis aslinya. Admin tidak mempunyai hak untuk mengubah jalan cerita dan sejenisnya. Jika ingin meminta perpanjangan cerita silahkan hubungin author yang bersangkutan didalam grub facebook NaruSasu (SasUke & FemSasu). Fanfic ini pertama kali di publis di grub facebook NaruSasu (SasUke & FemSasu) dan admin sudah meminta ijin pada Author aslinya untuk mempublikasikan fanfic ini di lewat akun ffn bersama. Fanfic akan update secara berkala. (ttd – Admin Yuki)

P.s Kalau mau bergabung ke grub silahkan . *plak* #promosi

Warning : YAOI containt, NaruSasu!

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

.

-FLASHBACK-

Sasuke menatap lurus kearah hamparan laut yang ada dihadapannya. Meski tubuhnya mulai menggigil akibat terpaan angin malam, tapi dirinya tetap berkeras ingin terus duduk dan menikmati waktunya saat ini.

Tanpa sadar seorang pemuda berbadan tegap, datang menghampiri dan memeluknya dari belakang.

"Kau kedinginan?"

tanpa menoleh pun, Sasuke tau kalau yang sedang memeluknya saat ini adalah Naruto, kekasihnya.

"Apa yang mengganggu fikiranmu, hm~?" bisikan tersebut terasa begitu menenangkan sedikit kegelisahan dihati Sasuke. Ya, sebenarnya yang membuatnya gundah saat ini adalah Naruto. Keputusan pemuda itu untuk melanjutkan studinya ke Inggris, meninggalkan Sasuke sendiri di Konoha. "Ada apa, hm? Apa yang kau fikirkan? Apa kau marah padaku, Suke?" pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dari mulut Naruto. Sikap diam Sasuke kali ini agak merisaukannya, karna biasanya, semarah apapun kekasih stoic-nya itu, dia tak pernah didiamkan selama berhari-hari begini. Jadi, mumpung waktu liburan mereka masih panjang, kali ini Naruto ingin berusaha membujuk sang raven agar berhenti marah padanya.

"haaah~ kenapa Inggris?" tak butuh penjelasan panjang bagi Naruto untuk mengerti apa yg dimaksud oleh pertanyaan Sasuke barusan.

Dengan sabar, Naruto kembali menjelaskan sambil terus memeluk tubuh dingin yang ada dalam dekapannya. "Seperti yang kau tau, ayahku berdarah Inggris. Beliau memintaku untuk menemaninya di sisa akhir hidupnya, yang mungkin sudah tidak lama lagi. Lalu, aku mendapatkan tawaran langka, melanjutkan studi S2 di Inggris. Ini adalah kesempatan emas buatku. Jika aku berhasil dan sukses, maka aku akan bisa melamarmu dihadapan seluruh anggota keluargamu, dengan senyum penuh kebanggaan." tangan mereka saling bertaut, seakan berusaha saling menguatkan.

Penjelasan itu cukup jelas dan logis. Namun, entah mengapa Sasuke merasakan akan adanya hal buruk yang menyertai kepergian Naruto nanti. Hal ini yang membuatnya tak rela ditinggal pergi oleh Naruto, meski hanya untuk dua tahun.

Sasuke menyentakkan tangan Naruto yang melingkari pinggangnya kemudian berdiri.
"terserahlah!"

Setelahnya ia pun pergi tanpa perduli tatapan pedih Naruto yang menatapi punggung Sasuke kala berlalu.

.

.

.

Seminggu kemudian, Naruto berangkat menuju Inggris. Kepergiannya diiringi oleh beberapa orang teman, namun sosok Sasuke sama sekali tak nampak diantara semua kerumunan yang ada.

Hal ini menjadi pukulan keras yang menghantamnya. Tapi Naruto tetap pergi dengan senyuman.

.

.

.

Dan sekarang ini, Naruto sedang berlari sekuat tenaga menuju kediaman Uchiha yang berjarak kurang lebih 19 KM dari Bandara Konoha.

Semua orang yang dilalui -ditabrak- olehnya, hanya bisa memekik dan mendumel. Kebanyakan diantara mereka malah berdecak kagum melihat kemampuan berlari Naruto yang luar biasa.

Disaat jarak itu hanya tinggal 4 KM lagi, ternyata Kami-sama masih saja mengirimkan ujian lainnya.

Disaat Naruto limbung karna kelelahan, kakinya tak sengaja menginjak kaki seorang preman kota.

"TEME..!"

.

.

.
To Be Continued