My Hot Butler Author : Kyuufi No Kitsune Declaimer : Masashi Kishimoto Keterangan : Jangan memakasa untuk meperpanjang cerita, karena Admin hanya me-post apa yang telah di post oleh penulis aslinya. Admin tidak mempunyai hak untuk mengubah jalan cerita dan sejenisnya. Jika ingin meminta perpanjangan cerita silahkan hubungin author yang bersangkutan didalam grub facebook NaruSasu (SasUke & FemSasu). Fanfic ini pertama kali di publis di grub facebook NaruSasu (SasUke & FemSasu) dan admin sudah meminta ijin pada Author aslinya untuk mempublikasikan fanfic ini di lewat akun ffn bersama. Fanfic akan update secara berkala. (ttd – Admin Yuki) P.s Kalau mau bergabung ke grub silahkan . *plak* #promosi Warning : YAOI containt, NaruSasu! DON'T LIKE, DON'T READ! . . Chapter 3 . Di dalam mobil, Naruto terkekeh kecil. Andai ia bisa melihat ekspresi wajah Sasuke setelah ia mencium dahinya tadi, mungkin Sasuke akan terlihat sangat menggemaskan. Menatap kedepan dengan tangan yang memegang stir mobil, Naruto sedikit tersentak saat mendengar getaran pada ponsel pintarnya. "Moshi-moshi." setelahnya, ia mengangkat panggilan itu dengan tangan kanan, berucap sopan saat tahu bahwa yang menghubunginya adalah Tuan Besar. '...' Alis Naruto mengernyit sedikit mendengar jawaban di seberang sana, ia yakin ini adalah pembicaraan yang serius. "Ha'i. Saya mengerti saya akan segera ke sana Tuan." balas Naruto sebelum menutup panggilan. Dengan gerakan bak seorang ahli, Naruto memutar laju mobil merahnya yang sebelumnya kearah Rumah sang tuan muda kini menuju tempat pertemuan yang telah di sepakati. . . . Beberapa menit setelah melakukan perjalanan yang 'mulus' dan 'menyenangkan' Naruto pun segera turun dari mobil yang ia tumpang menuju bangunan besar di depannya. "Permisi nona, Saya ingin bertemu dengan Uchiha Fugaku-sama." ucap Naruto dengan senyum Charming-nya. Sang resepsionis wanita itu tampak menunduk dengan wajah memerah, namun tak lama ia mendongak dengan alis mengkerut. "Tapi beliau sedang tidak dapat di ganggu, lalu kenapa k-" "Maaf sebelumnya, saya memiliki urusan penting dengan beliau." seolah tau apa yang akan di katakan sang resepsionis dengan surai merah muda, Naruto mengatakan dengan sopan dan tegas. "Baiklah, Fugaku-sama ada di ruangannya." ucapnya kemudian. "Terimakasih-" ucap Naruto tersenyum. "Sakura-chan" lanjutnya sebelum berbalik. . . . Di kelas Sasuke masih saja menelungkupkan wajahnya diatas meja, bunyi bel istirahat sudah terdengar beberapa saat lalu, namun ia masih malas untuk beranjak. "Oii.. Aku melihatmu tadi pagi." Ucap kawan seperjuangannya, Gaara. "Kau beruntung sekali bisa mendapatkan ciumannya." lanjut Gaara lagi. Bukan hal aneh baginya jika melihat Gaara mulai seperti ini, apa lagi sekarang kelas sedang sepi. Ia memang tahu jika Gaara menyukai butler seksinya itu, dan ia tidak suka. "Berhenti melakukan itu Gaara, menjijikkan." ucap Sasuke pedas. Ia memandang Gaara sebelum mendecit sebal. "Oooo.. Lihat ini. Tuan muda cemburu, eh?" sekarang datang lagi kawannya yang satu, Kiba namanya, entah bagaimana Sasuke bisa berteman dengan orang seberisik Kiba. "Tutup mulutmu Inuzuka." ucapnya lagi, sebal sekali rasanya mendengar teman-temannya ini menggodanya, bahkan ia merasa pipinya memanas sampai telinga. "Hoamm.. Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta Uchiha." datang lagi satu pengganggu di depannya, si rusa pemalas. "Yak berhenti menggodaku." ujarnya berteriak, ugh OOC sekali. ia beruntung temannya yang satu lagi, Neji. Tidak seperti teman teman lainnya yang suka menggodanya. Andai sahabat-sahabatnya ini memiliki sifat seperti Neji, mungkin hidupnya akan tentram, damai dan sentosa. "Huahahaha.. Tak ku sangka Uzumaki-san seberani itu." Dafuck, Sasuke menarik ucapannya saat mengatakan jika Neji adalah sahabat terbaiknya, ia bahkan lebih parah dari yang lain. . . . "Tak ku sangka dia mulai bergerak." ucap Naruto. "Ya, ini memang di luar dugaan." balas suara berat di seberangnya. Fugaku, tampak memijit pelipisnya pening. "Begitu ?" beo Naruto, ia juga nampak memikirkan suatu hal. "Ya, ku harap kau segera melakukan tugasmu dengan baik Naruto." ucap Fugaku dengan ekspresi serius. Naruto memutar matanya bosan. "Aku tau paman. Kau tak harus mengucapkannya berulang kali. Oh ya, hentikan ekspresimu itu, kau terlihat semakin tua saja. Dasar FathCom." ejek Naruto membuat kedutan tampak di dahi Fugaku. "Dasar bocah kurang ajar, apa kau tak tau sopan santun hah!" ucap Fugaku meledak sebelum mengeluarkan pistol dari laci meja kerjanya. "Wow.. Wow.. Paman.. Kau memang niat sekali ya! Hei, kau tak seharusnya menyimpan pistol di kantor seperti ini." ucap Naruto mundur dengan tangan keatas tanda menyerah, namun seringai tampak barmain di bibir merahnya. "Tentu saja untuk berjaga-jaga jika ada seorang 'penjahat' sepertimu Gaki-kuso." ucap Fugaku sembil menurunkan pistolnya, yeah tidak mungkin ia menarik pelatuk pistol di kantor kan ? Ia juga lupa memberi peredam suara. Mungkin lain kali ia bisa mendapat kesempatan menembak anak sahabatnya itu. "Che.. Kau lebih jahat dariku, paman." balas Naruto kembali duduk di sofa yang berada di ruangan Fugaku, entah kemana sopan santunnya menghilang. Sejak masuk ruang pamannya ini dia memang mulai kumat. "Sekarang serius paman, Jangan main-main terus." ucap Naruto dengan wajah serius, ia memandang Fugaku dengan tatapan tajam seolah memperingati kalau ini bukan saatnya bermain. 'Dasar bocah sialan, memang siapa yang dari tadi main-main brengsek?!" Fugaku mengumpat dalam hati. Ia memandang Naruto murka, tak yakin jika bocah sialan di depannya ini memiliki posisi tinggi dalam organisasi. "Baiklah, aku akan memulai rencana dalam seminggu ini." ucap Naruto serius. TBC