Chapter 7:
Canggung.
Itulah yang Sakura rasakan jika sekarang bertemu Sasuke. Gadis itu terlalu bingung dengan apa yang terjadi. Kejadian saat Naruko menciumnya, Sasuke datang dan Sasuke memeluknya dan membisikan – akh! Memikirkannya tanpa sadar pipi gadis berambut pinky itu memerah.
'apa yang terjadi denganku?' gadis itu menepuk-nepuk kedua pipinya, emeraldnya memandangan pantulan dirinya di cermin kamarnya.
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tadi berkata kasar pada Naruko? Kenapa aku memerah saat Sasuke memelukku? Apa yang terjadi!? Are.. wakanai yoo!" gumam Sakura frustasi.
'tok... tok.. tok'
"Ha'i?" seru Sakura.
"Sakura, ini aku!" seru Sasuke dari luar kamar Sakura. Emerald Sakura membulat, gadis itu mengenggam erat baju depannya dan wajahnya kembali memerah.
Yappari, ada yang salah denganku!
"A-ada apa!?" seru Sakura. Duh, dirinya sekarang malah salah tingkah.
"Boleh aku masuk? Ada yang ingin ku katakan padamu." Sakura segera berlari ke arah pintu kamarnya, namun gadis itu hanya berdiri di dekat pintu tanpa niat membukanya.
"M-memangnya ada apa? Katakan saja dari sana?" ucap Sakura.
"Tidak bisa. Ini penting, cepatlah." Kata Sasuke tidak sabaran. Sakura membukakan pintu kamarnya sambil mengembungkan pipi. Sasuke hanya terkekeh kecil, lalu masuk ke kamar gadis itu.
"Dakara.. apa yang ingin kau bicarakan." Kata Sakura. Pandangan mata Sasuke berubah, lelaki itu mendekat ke arah Sakura.
"A-apa yang kau lakukan?" kata Sakura. Sasuke mendekat dan mengungkung Sakura antara dirinya dan dinding kamar gadis itu.
"Ho-hoyy! Menyingkir-" ucap Sakura. Sasuke tetap diam, entah kenapa tenaga Sakura hilang kemana, diri gadis itu entah kenapa menjadi tidak berdaya di depan lelaki raven itu.
"Apa.. kau sudah memikirkannya?" gumam Sasuke di dekat telinga Sakura. Wajah Sakura memerah, gadis itu merasa menelan ludahnya saja tidak mampu saat Sasuke berbisik.
"Me-memikirkan apa m-maksudmu.." kata Sakura tergagap. Sasuke tersenyum miring, lalu di peluknya tubuh gadis berambut musim semi itu membuat gadis itu semakin berdetak tak menentu.
"Memikirkan..-" Sakura menelan ludah, menunggu kelanjutkan kata dari lelaki raven itu.
".. Watashi no Kimochi." Dan Wajah Sakura'pun kembali memerah.
.
.
"Ohayou, Sakura." Sapa Temari saat gadis berambut pink itu memasuki ruang kelas.
"O-ohayo." Sapa Sakura balik.
"Bagaimana persiapanmu? Sebentar malam kan bakal pentas." Tanya Temari.
"Yah, semuanya siap." Kata Sakura.
"Kalau dengan Sasuke?" tanya Temari.
"Ent-"
'Grep'
"Aku juga sudah siap, kok. Bukan begitu'kan, Saku?" ucap seseorang dengan suara menggoda di telinga Sakura. Gadis berambut pink itu kembali merinding saat mengetahui pemilik suara itu.
"J-jangan sok Akrab, kau!" seru Sakura sambil mendorong Sasuke menjauh. Sasuke men'ck'ria lalu tersenyum miring.
"Hahaha.. baiklah kalau begitu. Aku urus yang lain dulu, jaa naa, Saku." Ucap Temari. Sakura mengangguk dan menatap Temari yang melangkah menjauh.
"Daijobu ka, Saku?" tanya Sasuke dengan pandangan serius yang membuat Sakura meneguk ludah gugup.
"T-tentu saja aku dalam keadaan yang baik. Haha, aku mau ke melihat Teman-teman yang lain dulu. Ah, jaa!" dengan secepat kilat gadis itu meninggalkan Sasuke yang memandang gadis itu dengan seringai kecil.
.
.
"Sakura? Kau sudah datang. Ohayou." Sapa Ino.
"Uh, oh. Yups! Ohayou, Ino." Balas Sakura.
"Sakura?" Sakura berbalik saat seseorang yang di belakangnya memanggil namanya.
"K-karin..? dan.. Naruko?" ucap Sakura. Karin tersenyum ramah namun tidak dengan Naruko yang enggan menatap Sakura, pilar di kelas itu mungkin lebih menarik untuk di tatap Naruko.
"Hari ini ramai sekali ya." Ucap Karin sambil memandang semua teman-teman sekelas mereka tampak sibuk dengan dekorasi dan segala macam untuk Acara Sekolah.
"Umh, ya, semuanya tampak sibuk dan bersemangat." Kata Sakura menambahkan. Emerald gadis itu memandang ke arah Naruko yang masih enggan menatapnya. Gadis musim semi itu menyinggung senyum kecil.
"Ya'kan, Naruko?" ucap Sakura kepada Naruko. Blue Shappier gadis itu terbelak, dan menatap terkejut ke arah Sakura. Tangan Naruko mengepal saat melihat Sakura yang tersenyum kepadanya. "Kenapa.." gumam Naruko sambil menunduk. Sakura menatap Naruko yang bergumam sesuatu. Gadis berambut pirang itu mengangkat kepadanya, sepasang Emerald Sakura dan Ruby milik Karin terbelak melihat Shappier itu menatap mereka dengan berlinang air mata. Naruko melangkah mundur ke belakang.
"Saku-kun! Aku tidak akan kalah!" seru Naruko lalu berlari menjauh meninggalkan Karin dan Sakura. Karin menatap Sakura sedih.
"Sakura.. aku tahu kok. Dan Aku minta maaf." Ucap Karin lalu melangkah menjauh meninggalkan Sakura. Gadis berambut musim semi itu memandang ke arah Karin dengan pandangan kosong lalu berlalu dari kelas itu.
.
.
"Sasuke-kun!" seru Ino kepada Sasuke yang sedang asik bersantai di tangga menuju atap. Sasuke memandang Ino yang terlihat ngos-ngosan.
"Apa?" tanya Sasuke.
"Hah.. hah.. Apa kau melihat Sakura? Tiga jam lagi acara dramanya.. Dan nanti aku tidak ada waktu lagi untuk mendanannya, mumpung sekarang aku lagi kosong sekalian saja aku mengcover dirinya agar sesuai dengan bajunya. Aku butuh Sakura Sekarang. Apa kau melihatnya?" jelas Ino tidak sabaran. Sasuke mendengus.
"Bukankah tadi dia bersama mu ke kelas?" ucap Sasuke.
"Umh, ia tadi. Tapi, setelahnya aku meninggalkannya karena tadi dia sedang berbicara dengan Karin dan Naruko. Uh, anak itu kemana sih. Ya sudah ya! Oh ya, kalau kau melihatnya segera kasi tau aku!" ucap Ino lalu meninggalkan Sasuke yang mematung.
"Sakura.. Naruko dan Karin.." gumam Sasuke. Tersadar, lelaki berambut raven itu segera berlari mencari keberadaan gadis itu.
'Tidak! Sakura.. Onegai! Naruko-teme!' geram Sasuke dalam hati. Sasuke menulikan pekikan beberapa gadis yang melihatnya yang berlari dengan sangat serius. Keringat membanjir rambut dan dahi pemuda itu, kancing baju atas terlepas satu. Pemandangan yang sedap untuk para gadis.
'Sakura.. Sakura.. Sakura..'
.
.
"Ne.. Naruko. Apa maksudmu 'tidak akan kalah', hm?" tanya Karin pada Naruko. Keduanya sedang duduk di atas atap sekolah.
"Aku.. Tidak akan menyerah melepaskan Saku-kun begitu saja.. Aku.. Aku.. Aku mencintai Saku-kun.. uh.. hiks.. hikss.." Karin menatap Naruko yang mulai terisak.
"Karin! Kau juga begitu'kan!? Kau juga mencintai Saku-kun'kan? Ayo! Kita jauhkan dia dari Uchiha-Teme itu! Saku-kun! Hiks.." Karin mengigit bibir bawahnya, menahan gojolak dalam hatinya.
Ne Sakura. Aku mencintaimu'
K-karin? Aku-
Aku yakin ini bukan perasaan kagum saja. Aku bukan menyukaimu. Aku mencintaimu!
Sepasang kelopak Karin terbuka. Gadis berambut scarlet itu berdiri dan menatap langit dengan tatapan tajam, seringai kecil terukir di bibirnya. Naruko menatap Karin yang tiba-tiba berdiri.
"Uh? K-karin?" panggil Naruko. Shappier Naruko membulat melihat Karin menyeringai. "Iko zee, Naruko. Kita harus menjemput Sakura."
.
.
"Sakura!" seru Sasuke saat memasuki ruang make up. Gadis berambut musim semi itu berbalik dan menatap ke arah Sasuke sambil tersenyum kecil.
"Ada apa?" tanya Sakura. Sasuke memandang Sakura diam lalu mendekat, kedua tangannya mencengkaram kedua bahu Sakura.
"Ekh!? K-kau! A-ada apa!? Le-lepas." Ucap Sakura.
"Kau. Dari mana saja hah!? Kau tadi bersama dengan kedua orang itu'kan? Apa yang kalian lakukan!?" cerocos Sasuke panjang lebar.
"Aku tadi dari kamar mandi, perutku sakit. Iya, tadi kami hanya bertemu di kelas lalu mereka pergi. Tidak ada yang kami lakukan." Ucap Sakura. Sasuke mendesah lega.
"Aku kha-"
"Sakura! Ayo! Ganti pakaianmu! Oh Sasuke, cepat. Aku harus menghiasmu juga. Sakura, ikuti Temari ya. Dia akan menunjukan bajumu! Sasuke ayo!" perkataan Sasuke terpotong dengan seruan Ino yang cempreng, gadis barbie itu segera menarik Sasuke menuju ruang make up. Sasuke berbalik dan tersenyum ke arah Sakura, dan Sakura hanya tersenyum kecil. Setelah Sasuke sudah tidak terlihat lagi, senyum gadis itu menghilang. "Dameda."
.
.
"Sasuke! Kau Keren dah!" puji Ino saat Sasuke keluar dari ruang ganti dan berpakaian pangeran. Sasuke melihat pantulan dirinya yang sudah terbalut pakaian ala Pangeran dalam cerita dongeng.
"Baiklah! Aku akan menemui Temari , kau tunggulah dulu." Ucap Ino lalu berlalu. Sasuke tidak begitu menggubris, pemuda itu menatap datar pantulan dirinya. Tak lama, pemuda itu mendengus dengan seringai keren miliknya, lalu bergumam sambil bersandar pada cermin. "Ck. Bagaimana'pun aku berpakaian, aku tetap saja tampan."
.
.
"Wah, banyak sekali yang datang." Ucap Ino saat melihat banyaknya murid-murid sekolah, murid-murid sekolah lain dan para manusia-manusia yang melihat festival sekolah datang mulai memenuhi tempat duduk untuk menonton drama.
"Ck, mendokusei." Ucap Shikamaru sambil menguap bosan.
"Harusnya kau senang ketua." Decih Ino saat mendengar komentar malas ketua kelas mereka.
"Mana Sasuke?" tanya Shikamaru.
"Dia ngotot untuk ikut dengan Temari karena ingin melihat Sakura. Haruskah aku menyusulnya sekarang?" kata Ino.
"Tidak usah deh. Katakan pada Kiba dan lainnya untuk bersiap, kita akan tampil 30 menit lagi." Titah Shikamaru bossy. Ino mendengus.
"Baik, Kaichou." Ucap Ino malas-malasan lalu berlalu dari situ. Shikamaru lalu kembali melihat sekeliling panggung. Onyx pemuda berambut nanas itu menyipit melihat dua buah objek yang mencurigakan.
"Naruko? Karin? Apa yang mereka lakukan?' pikir Shikamaru.
.
.
"Will You Marry Me, Oh Haruno Sakura?" ucap Sasuke sambil berlutut di hadapan Sakura yang nampak cantik dengan gaun Cinderellanya. Sakura memandang Sasuke datar.
"Pergi sana." Ucap Sakura sambil meninggalkan Sasuke yang tetap terduduk. Kepala Pemuda itu menoleh melihat Sakura yang menjauh dan berjalan bersama-sama dengan Temari dan Ino.
"Ughh.. Dia terlalu kawaii." Gumam Sasuke dengan wajah memerah.
"Baiklah! Semuanya berkumpul!" seru Shikamaru.
"Sekarang waktunya kita untuk Tampil! Semua ayo berjuang!" ucap Shikamaru.
"Yosha!"
"Sakura.." panggil sabil menghampiri gadis berambut pink yang di sanggul setengah.
"Heh? Kenapa?" tanya Sakura. Lelaki berambut raven itu memandang Sakura diam.
"Uhh? Nani yo?" ucap Sakura risih saat pemuda itu hanya diam. Sasuke hanya terkekeh.
"Iie. Ganbatte ne! Aku menunggumu di panggung lalu-"
Cup
"Jaa, na!" ucap Sasuke setelah mencium pelan pipi gadis berambut pink itu.
"A..a..a.. Aho." Gumam Sakura dengan wajah memerah.
.
.
"Pangeran.. Aku sudah mengirim sms kepada semua putri untuk datang pesta untuk anda. Dengan begitu, kita dengan mudah mencari calon istri anda." Ucap Kiba sebagai pelayan Sasuke.
"Baka. Ini masih jaman surat, mana ada sms." Dengus Sasuke. Seluruh penonton tertawa dengan lawakan kecil antara Sasuke dan Kiba.
"YA ampun, gue lupa. Maafkan gue, Sasuke. Gue lupa naskahnya.." ucap Kiba, Penonton kembali tergelak, dan Sasuke hanya menepuk dahinya, frustasi dengan Kiba.
"Lupakan! Aku akan ke kota." Ucap Sasuke dengan gaya ala Pangeran.
"Aku akan siapkan kuda dan penjaga." Ucap Kiba yang akhirnya benar membaca naskahnya.
"Tidak perlu. Aku akan menyamar, jadi tidak ada yang tahu aku adalah pangeran." Kata Sasuke lalu berjalan menuju samping panggung lalu Tirai panggung tertutup untuk beberapa saat lalu terbuka menampilkan Sakura yang sedang membawa keranjang, settingnya dirinya sedang berbelanja di pasar. Gadis itu memakai jubah hitam dan tudung hitam untuk menutupi rambutnya pinkynya.
"Akhh.." Sakura yang sedang asik berjalan-jalan berhenti dan mencari sumber suara. Sakura berpura-pura kaget dan menghampiri pemuda yang ternyata Sasuke yang sedang meringis, bersandar pada properti pohon.
"Ah, kakek kenapa?" tanya Sakura. Sasuke mengadah dan menatap Sakura.
"Gue masih muda!" seru Sasuke.
"Kau berpakaian compang-camping ala gembel, dilihat manapun elo keliatan tua." Ucap Sakura tidak mau kalah. Penonton tertawa, Shikamaru menepuk jidatnya saat pembicaraan kedua pemain utama itu sudah melenceng dari yang seharusnya.
"Oy! Kembali ke script yang seharusnya!" ucap Shikamaru pelan dari samping panggung membuat Sakura dan Sasuke sadar. Keduanya berdehem lalu melanjutkan adegan.
"By the way, Apa anda terluka?" tanya Sakura lagi sok. Sasuke mendengus lalu melanjutkan peran sakitnya.
"Ya, sepertinya begitu.. Sangat sakit disini." Ucap Sasuke sambil menunjuk hatinya.
"Apa anda tertembak? Anda harus segera di obati." Para penonton terlihat serius melihat akting Sasuke dan Sakura.
"Ukh.. Tidak. Aku butuh obatku.. ugh.." ucap Sasuke sok kesakitan. Tanpa Sakura dan Penonton ketahui Sasuke menyeringai kecil.
"Obat? Apa obat itu? Akan aku carikan." Ucap Sakura.
"Tidak usah. Aku sudah sembuh." Ucap Sasuke.
"Hee? Bagaimana bisa?" tanya Sakura bingung.
"Dengan kau di sampingku saja itu sudah menyebuhkanku." Ucap Sasuke ngegombal. Para penonton tertawa dan Sakura memerah.
"Itu tidak ada dalam naskah." Ucap Sakura jengkel.
"Ada kok! Dalam naskahku." Ucap Sasuke menyela.
"Tidak ada."
"Ada. Gak percaya?" tanya Sasuke.
"Ia! Mana buktinya?" kata Sakura meminta bukti.
"Liat mataku, maka kau akan melihat naskah cinta kita." Ucap Sasuke sambil menatap Sakura.
'Buagh!'
"Upsss!" seru Sakura setelah sadar dia memukul Sasuke.
"Ittai!" seru Sasuke.
"Oh, pangeran~ Maafkan hambamu ini~~ Ah! Sudah jam 6 sore, hamba harus pulang!" ucap Sakura kembali menuju scrip naskah.
"T-tidak jangan pergi!" cegah Sasuke sambil memegangi pipinya yang masih memerah akibat pukulan Sakura.
"Ibuku akan marah padaku kalau aku tidak kembali sekarang." Ucap Sakura mulai berjalan menjauh.
'Hup!'
Dengan segera Sasuke melompat menangkap kaki kanan Sakura. Penonton sweatdrop melihat tingkah pangeran yang kelihatan seperti anak yang memohon ampun saat di usir keluar oleh ayahnya.
"Lepas, baka!" seru Sakura sambil melepaskan tangan Sasuke yang melingkar di kaki kanannya.
"Tidak! Jangan pergi!" ucap Sasuke.
"My God! Lepaskan, baka!" seru Sakura.
"Yosh! Dapat!" seru Sasuke tiba-tiba lalu melepaskan kaki Sakura.
"Hah?"
"Aku dapat sepatumu! Sepatumu berwarna merah, ini akan menjadi tutunan untukku pada dirimu. Sampai jumpa lagi, beibehh~" ucap Sasuke lalu berjalan menjauh, semua penonton sweatdrop, baru kali ini mereka menonton drama pangerannya yang mengambil paksa sepatu Cinderella, sedangkan Sakura terdiam lalu bergidik ngeri dengan nada Sasuke saat mengucapkan 'Beibehh~'
"Baka Otoko Ah, tidak! Kembalikan sepatuku! Itu mahaaallll!" seru Sakura membuat semua penonton lebih sweatdrop lalu tirai'pun tertutup. Kembali tirai merah pun terbuka, menampilkan Sakura yang sedang duduk memegang baju, di sebelahnya terdapat keranjang yang berisi baju-baju yang banyak.
"Cinderella!" seru Tenten yang berperan sebagai ibu tiri. Di belakangnya, Shion dan Tayuya mengikutinya dan mereka berperan sebagai Kakak-kakak Tiri Sakura.
"A-ada apa, Okaa-sama?" tanya Sakura dengan nada bergetar, dia berperan takut kepada Ibu tiri dan kakak-kakaknya.
"Nih! Cuci bajuku." Ucap Tayuya sambil melempar pakaiannya pada Sakura.
"Aku juga, Nih!" ucap Shion juga sambil melempar bajunya pada Sasuke.
"Kalau kau pulang cepat, pasti kau tidak akan mencuci baju." Ucap Tenten dengan nada sinis. Sakura terdiam sambil menatap mereka bertiga.
"Kami harus pergi ke pesta pangeran, dan kau harus jaga rumah." Perintah Tenten.
"A-aku ingin ikut okaa-sama." Pinta Sakura.
"What? What do you say? Ikut? Hah!? Enak aja." Ucap Shion sok inggris.
"Bener tuh! Kaa-sama, jangan ikutkan cinderella!" ucap Tayuya.
"Tentu saja, anak-anakku. Cinderella, kau tidak boleh ikut. Cuci baju, lalu cuci piring, mengepel lantai dan bersikan dapur dan ruang tamu!" ucap Tenten bossy. Sakura memasang wajah sedihnya.
"Baik, Okaa-sama."
"Bagus! Ayo pergi anak-anak." Ucap Tenten lalu melangkah pergi di ikuti oleh Shion dan Tayuya.
"Hiks! Kenapa harus terjadi padaku. Aku ingin ikut~" desah Sakura dengan nada sedih.
"Tralalal... Trilili~~ Oh, kau jangan menangis gadis cantik~" ucap Lee yang muncul dengan pakaian balet dan di pasang bandau pink di kepalanya. Pria bob itu berperan sebagai Ibu peri, serentak seluruh penonton tertawa ngakak begitu juga Sakura, Lee dengan baju Balet dengan wajah yang di make up menor dan lipstick yang tebal membuat tapilan Rock Lee sangat lucu.
"Oh, Apa yang terjadi padamu, gadis kecil?" tak memperdulikan Sakura yang tertawa, lee melanjutkan perannya. Sakura berdehem lalu kembali dalam dramanya.
"Aku sedih, ibu peri. Aku ingin pergi ke istana, untuk melihat pesta pangeran, namun ibu tiri dan kakak-kakak tiriku tidak mengijinkanku ikut, dan malah menyuruhku bekerja." Ucap Sakura dengan nada sedih.
"Jangan panggil aku ibu Peri, panggil Aku Peri Lily. Baiklah, aku akan menolongmu, karena kau berhati baik. Cralalala.. Jadilah bersih~" Lee mengucapkan mantra.
"Wahh! Arigato, Peri Lily!" seru Sakura senang. Para penonton terkekeh melihat gaya Lee saat menganyunkan tongkat mainan sihirnya.
"Cepatlah berpakaian cantik, Cinderella~ buatlah pangeran terpikat padamu~" ucap Lee.
"Baiklah! Arigato Peri Lily, aku sungguh berterimakasih!" ucap Sakura
"Ah, apa aku boleh bertanya kenapa kau ingin ke pesta pangeran? Kau terlihat bersemangat?" tanya Lee. Semua penonton terlihat penasaran saat Sakura menundukan kepalanya, tak lama serentak kaget saat Tangan kanan gadis itu mengepal ke atas.
"Aku Kelaparan! Jadi aku ingin makan di Istana! Aku pergi dulu!" ucap sang Cinderella membuat penonton, Lee dan Teman-temannya sweatdrop.
"Mereka semua gak ada yang benar. Chouji, turunkan tirainya." Ucap Shikamaru frustasi.
.
.
Drama berlanjut, tampak Sasuke dengan gagah dan tampan sedang berdiri di podium, beberapa gadis yang bertugas sebagai putri-putri dari negeri asing juga berdiri di panggung. Kiba tampak gagah menemani Sasuke, mumpung dia berperan sebagai Pelayan Pribadi Sasuke.
"Semua! Hari ini Pangeran Erick ( Di sini, Sasuke namanya Pangeran Erick) mengundang semua putri-putri datang pada pestanya tanpa sebab, tapi Pangeran ingin mencari pasangan hidupnya." Ucap Kiba.
"Kyaaa!"
"Aku mau!"
"Tidak! Denganku saja pangeran!"
"Denganku!"
"Tidak semudah itu! Aku ingin mencocokan sepatu ini dengan kalian. Aku akan menikahi, wanita yang sebenarnya pemilik sepatu ini." Ucap Sasuke.
"Itu sepatuku!"
"Itu milikku! Aku belum lama ini membelinya!"
"Aku!"
"Aku!"
"Milikku!"
"Diaam!" seru seseorang dari barisan belakang para gadis-gadis itu. Muncullah sosok Sakura yang terbalut gaun cantik yang membuat dirinya lebih mempesona, tak terlebih Sasuke yang menatapnya tanpa berkedip.
"Sialan, kau! Kau mengambil sepatuku, hanya untuk melelangnya pada gadis-gadis ini!" seru Sakura. Shikamaru dan yang lainnya yang berada di belakang panggung menepuk dahi pasrah, semua pemain sudah hilang kendali dalam drama ini, tak ada pilihan lain selain pasrah pada keadaan ini.
"Cinderella! Apa yang kau lakukan disini!?" seru Tenten.
"Maaf Okaa-sama, aku harus bertemu dengan orang yang sudah mencuri sepatuku." Penonton sweatdrop. Entah kenapa alur romance berubah bukan pangeran dan Putri tapi Maling sepatu dan pemilik sepatu.
"Hah!?"
"Akhirnya kau datang, putri pencuri." Ucap Sasuke sambil menuruni podium, melangkah menuju ke arah Sakura.
"Pencuri? Apa yang aku curi. Seharusnya kau itu yang di katakan pencuri." Ucap Sakura berkacak pinggang.
"Tentu saja kau pencuri. Pencuri Hatiku!" gombalan Sasuke kembali lagi. Sakura mendengus.
"Baiklah! Dengan ini Cinderella binti Haruno Sakura, kau telah resmi menjadi calon Istriku! Kiba, sebarkan ini pada dunia!" seru Sasuke, semua bertepuk tangan dengan akhir bahagia ini. Entahlah ini bisa di sebut akhir yang bahagia.
"Ano, Pangeran. Aku tidak ada nomor telepon Dunia." Ucap Kiba polos.
"Bodo!"
.
.
"Hari ini! Aku akan mengumumkan, Cinderella akan menjadi calon Istriku!" seru sang pangeran. Semua bertepuk tangan dan Sakura hanya senyum-senyum, di paksa karena harus terlihat bahagia.
"TAK BOLEH!" Suara itu terdengar, bersamaan setelah itu, lampu dalam ruangan itu mati. Semua seketika panik, tak terlebih di atas panggung.
"Sakura! Sakura!" Sasuke berseru panik, Shikamaru dan yang lain segera mengecek tombol listrik, namun Kegelapan itu berhenti selama 10 detik dan lampu'pun menyala.
"Sak-"
"Gheeeeeeeeeeeee!?" seluruh berseru kaget, Sasuke mematung. Dihadapan mereka..
.
.
.
Karin dengan pakaian ala Pangeran mencium bibir Sakura di depan semua orang yang menonton drama itu.
.
.
.
TBC
.
.
A-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-!?
GOMENNASAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!
Sasha tau, dengan minta maaf aja gak cukup.
Maaf, Sasha lambat update!
Maaf Sasha gak bisa nepatin janji buat selesai bulan Februari! Sasha gak nyangka bakal banyak pekerjaan yang tiba-tiba. Karena persiapan pesta pernikahan Paman Sasha, Sasha di tugasin ngetik bermacam-macam entah apa namanya.
Maaf banget, trus selama 3 bulan ( 3 bulan Sasha PSG ), sasha gak bisa ngetik FIC, bisa di bilang karena Sasha tinggal bareng teman-teman sekelas, Sasha gak mau ada yang tau kalau Sasha penulis Fanfic, pasti mereka bakal searching sana sini, Apa lagi Fic Sasha banyak rated M =,= Makanya sasha gak pernah ngetik, sasha takut ketahuan! Maafkan Sasha!
Tapi, Sasha bakal tebus itu semua sekarang!
Fic ini akan selesai dua Chapter lagi, dan bakal update setiap akhir pekan!
Yosha! Maaf sasha gak bisa balas review dulu, Sasha aja ngetik ini Cuma dikit-dikit ke warnet! Maaf ya, tapi Sasha selalu baca review kalian! Hontouni arigato!
.
.
Makasih buat yang masih setia nunggu kelanjutan fic ini, Ahh! Sasha merasa bersalah banget!
Maafin Sasha! Hontouni gomennasai!
Ah, baiklah. Karena waktunya udah mepet, Sasha selesai aja dulu bacotannya disini!
Ah, kalau ada yang mau nambah-nambah adegan pingin seperti ini atau itu, bisa komen kok. Di kritik juga boleh, hati Sasha bakal siap! Asal jangan Flame, kokoro ini masih belum siap heheheheh..
Ok! Sampai jumpa di Chap selanjutnya!
RnR please!?
Sasha Kakkoi Chan
