chapter.1

maaf ya kalau updatenya lama dan masih banyak tulisan yang berantakan. author sedikit sibuk jadi tidak sempat edit. but, over all, selamat membaca :)


Lost Kiseki

Langkah Besar Pertama

Naruto by Masashi Kishimoto


Sebuah mobil Mercedes Benz CLA-Class berwarna putih susu membelah jalan raya dengan perlahan. Kedua insan didalamnya tampak larut dengan pemikiran mereka masing-masing. Si pengendara yang merupakan sang suami sesekali melirik kesebelahnya, dimana dikursi penumpang itu sang istri sedang menangis terisak.

Pada saat lampu lalu lintas berwarna merah mobil itu terhenti. Hinako yang mengarahkan pandangannya ke jendela semakin terisak tangis lebih keras. Tepat disebelah mobil mereka terdapat sebuah mobil keluarga yang terbuka jendelanya. Ia dapat melihat sebuah keluarga yang sedang berbahagia karena tawa anak-anaknya, apalagi perempuan yang duduk didepan tampak sedang mengandung. Melihat itu semua membuat Hinako menjadi semakin terluka dan kecewa pada dirinya.

"Itachi..," sang suami yang dipanggil lirih mengalihkan pandangan sepenuhnya kearah sang istri. Masih disela tangis yang berusa ditahan Hinako menyampaikan apa yang ada didalam pikirannya saat ini, "bercerailah denganku, carilah perempuan lain yang bisa memberikan keturunan."

TIINNNNNN…. Suara keras klason segera menggema di jalanan itu. Itachi memukul kemudi dan menekan klakson dengan sangat keras untuk melampiaskan amarahnya karena ucapan sang istri.

"Berhentilah berbicara omong kosong seperti itu Hinako. Aku tidak akan pernah bercerai denganmu dan mencari perempuan lain. Tidak akan pernah!" geram Itachi sambil menatap tajam mata istrinya yang berlinag air mata kepedihan. Karena sejujurnya hati perempuan itu pun merasa perih mengucapkan hal tersebut.


Sebulan berlalu begitu saja semenjak vonis menyakitkan di rumah sakit itu. Semuanya tampak biasa saja, pasangan suami istri itu tampak menjalani harinya dengan normal seolah-olah tidak ada apa-apa sebelumnya. Didepan keluarga dan kolega kerja mereka sangat pintar bersandiwara menutup luka. Hinako masih bisa tertawa dan mengobrol ceria bersama mertuanya sambil menikmati teh pagi mereka.

"Hina-chan, nanti siang saat kau pergi belanja tolong jangan lupa untuk membeli obat tradisional untuk Fukagu, aku sedang ada urusan," pinta sang mertua kepada menantu satu-satunya itu. Hinako mengangguk menyangupi perintah ibu mertuanya tersebut,"baiklah ibu."

Jam sudah menunjukan siang hari. Disinilah Hinako sekarang, didalam mobil yang mengarah menuju daerah pinggiran kota. Ia baru saja selesai belanja keperluan bulanan diantar oleh supir keluarga, dan kini seperti janjinya tadi pagi ia akan membeli obat untuk mertuanya. Toko obat tradisional yang ingin dikunjunginya itu terletak didaerah pinggiran dan sangat kecil. Walaupun kecil terhimpit oleh toko-toko lainnya di daerah pinggiran, toko obat tersebut cukup terkenal dengan racikan obat tradisionalnya yang berkhasiat.

Mobil yang ditumpangi Hinako berhenti diseberang jalan toko tersebut, tepat didepan sebuah kedai kopi kecil. Tatapan Hinako lurus kedepan kearah toko tersebut, sesekali ia melirik kearah kanan dan kirinya untuk memastikan kendaraan yang berlalu lalang sebelum menyebrang. Didaerah tersebut tidak terdapat lampu lalu lintas atau zebra cross untuk menyebrang seperti yang ada di kota, jadi ketika jalannan mulai lengang Hinako menyebrang.

Pada saat yang bersamaan dari arah berlawanan seorang gadis Nampak sedikit berlari melewatinya. Ketika sampai di bibir trotoar depan toko obat itu ia menolehkan kepalanya melihat gadis tadi yang kini tengah membantu seorang nenek tua untuk menyebrang. Hinako menyadari bahwa nenek itu tadi berdiri disampingnya tampak takut-takut untuk mengikutinya menyebrang, mungkin gadis tadi melihat hal tersebut dan berinisiatif membantu.

"Nah, sekarang sudah sampai," ucap gadis itu dengan ceria kepada si nenek ketika mereka mencapai bibir trotoar yang sama dengan Hinako. Nenek tua itu segera mengucap terimakasih atas pertolongan gadis itu dan mendoakannya yang dibalas dengan senyuman hangat dari si gadis.

"permisi nyonya, apakah anda ingin membeli obat?" tanya gadis itu kepada Hinako yang sedikit melamun sehingga ia tidak menyadari gadis yang diperhatikannya tadi telah masuk kedalam toko kecil itu. Hinako juga baru menyadari bahwa gadis tersebut merupakan pegawai di toko tersebut.


Cahaya kuning kemerahan masuk melalui dinding kaca sebuah gedung tinggi perkantoran. Di sebuah ruangan di lantai sepuluh tampak sang CEO tengah memandangi matahari yang terbenam dari balik dari dinding kaca itu. Itachi yang sedang larut dalam pikirannya dibuat terkejut oleh kedatangan sahabatnya di depan meja kerjanya.

"apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Shisui langsung kepada Itachi yang tampaknya sedang memikirkan masalah pelik.

Itachi dan Shisui sudah saling mengenal semenjak kecil, keluarga mereka merupakan keturunan bangsawan yang sama. Mereka dulu sering bertemu saat ada acara-acara keluarga, umur mereka yang sepantaran menjadikan keduanya menjadi cepat akrab dan berteman baik. Ketika memasuki usia sekolah mereka juga disekolahkan ditempat yang sama sehingga menjadikan mereka sahabat. Terlalu lama bersama menjadikan mereka begitu mengenal satu sama lain, sehingga pada saat ini pun Shisui mengetahui ada yang sedang disembunyikan oleh sahabatnya itu.

Itachi mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum menatap Shisui yang duduk besila di kursi didepannya. "Hinako tidak bisa hamil…,"

Perkataan Itachi sontak membuat Shisui terkejut, ia juga turut merasakan beban yang kini tengah dirasakan sahabatnya itu. Ini merupakan masalah yang berat, untuk memberikan dukungan Shisui meminta Itachi untuk menceritakan semuanya agar rasa sesak dihati sahabatnya itu sedikit terangkat. Itachi pun tanpa ragu mencurahkan keluh kesahnya kepada Shisui dia merasa tidak ada gunanya menutupi apaun dari pria itu.

"aku heran denganmu, kenapa kau tidak setuju dengan proses bayi tabung itu saja?" Shisui mencoba memberikan pendapatnya atas cerita Itachi yang telah didengarnya.

"kau tidak akan mengerti. Membuahi indung telur perempuan lain sama halnya dengan selingkuh," bantah Itachi.

Shisui mendesah berat mendengarnya, "Kau benar-benar tidak masuk akal. Kau tidak perlu sex, cukup mencari pendonor saja, semua prosesnya didalam laboratorium."

"lagipula yang akan mengandung bayi itu istrimu, Hinako. Tidakah kau memikirkan kebahagiannya?" Shisui diam sejenak untuk mengamati raut wajah sahabatnya itu, "walaupun bayi iktu bukan dari sel telurnya, tapi istrimu pasti akan bahagia bisa mengandung."


Suara bising yang sedang dilantunkan oleh seorang Disc Jockey memenuhi seluruh ruangan luas ini. Suasana riuh orang-orang yang menari mengikuti hentakan music sama sekali tidak mengganggu seorang pria yang telah menegak bergelas-gelas minuman beralchol tinggi didepannya. Itachi, pria itu tampak sangat kacau saat ini.

Itachi merupakan seorang pria yang hidupnya teratur, kunjungannya ke bar dapat dihitung dengan jari dan itupun dilakukannya karena melakukan pertemuan bisnis dengan bebrapa klien. Ia tidak pernah meminum alcohol sebanyak ini sebelumnya, apalagi disebuah diskotik murahan seperti ini. dia seorang bangsawan yang kaya, ia hanya mendatangi bar-bar eksklusif di hotel-hotel mewah.

Hanya untuk hari ini ia melakukan pengecualian, selepas dari kantor tadi ia langsung mengiring mobil mewahnya kedaerah pinggiran. Ia membutuhkan suasana seperti saat ini, begitu gaduh dan tak beraturan seperti suasana hatinya sekarang.

Samar-samar Itachi memperhatikan seorang gadis yang bekerja sebagai pegawa idi bar tersebut. Ia memejamkan matanya sejenak untuk mengusir pengaruh alcohol dan memperjelas penglihatannya. Itachi tidak tahu apa yang mampu menarik perhatiannya kepada gadis itu, entah karena penampilannya atau karena sikap gadis itu yang terlihat tegas saat seorang pria tua mabuk menggodanya. Yang pasti gadis iu seperti menyihirnya hingga melupakan masalahnya.


Hari ini Hinako kembali mendatangi pertokoan di pinggiran kota untuk membali obat tradisional untuk ayah mertuanya. Obat yang dibelinya bulan lalu telah habis, oleh karena itu ibu mertuanya meminta tolong padanya.

"apakah ada yang bisa saya bantu nyonya?" gadis pegawai toko itu bertanya ramah kepada Hinako sambil tersenyum. Hinako segera memberikan kertas daftar ramuan obat tradisional yang diperlukannya kepada gadis itu, "sebentar nyonya akan saya ambilkan obatnya, silahkan tunggu sebentar."

Hinako hanya diam saja, ia dari tadi terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu yang sedang sibuk mengambil ramuan obat dari rak yang stu ke rak lainnya. Melihat senyum lembut gadis itu tadi entah mengapa membuat hatinya begitu nyaman seolah-olah membantu mengobati luka yang dia pendam dua bulan terakhir ini.

"Nah, ini ramuan obat pesanan anda nyonya, semuanya 2700 yen," Hinako terkesip ketika gadis itu menyodorkan bungkusan obat dihadapannya. Hinako segera mengeluarkan dompet dari dalam tasnya dan menyodorkan tiga lembar uang seribu yen, "kau ambil saja kembaliannya, terima kasih."

Langkah kaki Hinako yang ingin berlalu dari toko obat itu segera terhenti karena dihadang oleh tubuh yang berojigi didepannya. Gadis pegawai tadi ternyata segera berlari ke hadapannya dan membungkuk sambil menyodorkan tiga lembar seratus yen padanya.

"maaf kan saya nyonya, bukan bermaksud lancang tapi saya tidak bisa menerima uang kembalian ini." Hinako dibuat tertegun olehnya, gadis itu tampak merasa serba salah.

"Terima kasih atas kebaikan nyonya tapi sekali lagi saya minta maaf tidak bisa menerimanya," maka akhirnya Hinako pun mengambil kembali uang kembalian itu dan berlalu pergi. Dari sudut matanya ia masih melihat gadis itu berojigi beberapa kali kepadanya sambil mengucapkan permintaan maaf.

Setelah sampai diseberang jalan, supir keluarga Uchiha segera membukakan pintu untuk si nyonya muda. Tapi bukannya masuk kedalam mobil, Hinako malah melangkahkan kakinya ke dalam kedai kopi yang ada disana. Ia sengaja mengambil posisi meja yang berada didekat jendela kaca sehingga ia dapat memandang keseberang, kearah toko obat tradisional yang kecil itu. Sebentar saja, ia ingin memperhatikan gadis itu sebentar lagi saja.


'ck!' Itachi berdecak kesal sambil mengemudikan Mercedes-nya keaerah sebuah bar yang beberapahari lalu dikunjunginya. Namun kali ini tujuannya adalah menjemput sang adik kesayangannya yang tengah tidak sadarkan diri.

Itachi baru saja ingin terlelap tidur dalam pelukan istrinya ketika ponselnya berbunyi menganggu. Ia segera mengangkatnya saat melihat id Uchiha Sasuke yang menghubunginya. Namun bukan suara adiknya yang menyahut bentakan protes yang dikeluarkannya, hanya seorang bartender malang yang mengatakan kalu adiknya itu sedang mabuk berat dan tak sadarkan diri di diskotiknya.

Begitu sampai di tempat yang dituju, Itachi segera masuk mencari keberadaan adiknya yang mabuk itu. Dari kejauhan tampak seorang bartender yang melambaikan tangan memanggilnya seakan tahu bahwa dia adalah kakak dari lelaki bodoh yang sedang tergeletak dimeja bar.

"Sasuke, cepat bangun!" tegur Itachi dengan suara keras kepada adiknya itu ketika sampai disampingnya. Malam belum begitu larut, tapi suasana di diskotik ini sudah sangat berisik dan cukup ramai.

Sasuke yang tampak sedikit sadar terbangun melirik kakaknya itu, ia berdiri dengan sempoyongan dengan menunjuk jari telunjuknya kearah kakaknya "Itachi-nii..hik..kaukah itu?"

Itachi belum menjawab ketika tubuh Sasuke limbung karena telah kehilangan kesadarannya kembali. Uchiha sulung itu segera mengumpat ke adiknya tersebut dan segera membopongnya dengan merangkulkan sebelah lengan Sasuke ke pudaknya.

Hatinya dongkol melihat adiknya yang mempunyai hobby ke tempat seperti ini dan meneguk alcohol bersama teman-temannya, padahal si bungsu sama sekali tidak kuat minum. Adiknya yang mabuk biasanya akan diantar pulang dengantemannya itu, tapi hari ini adiknya hanya sendirian. Entah kemana para teman sialan itu.

Dengan sedikit kesulitan Itachi menyeret badan Sasuke yang lebih besar darinya. Tiba-tiba saja lengan adiknya yang satu lagi dipegang oleh seseorang.

"tuan ijinkan saya membantu anda, anda tampak kesusahan membopong tuan ini," tawar orang itu kepada Itachi yang sedikit terkesip dan tanpa menunggu jawaban orang itu ikut memapah tubuh berat Sasuke keluar dari bar menuju mobil Itachi.

Seorang petugas parkir di bar itu juga turut membantu membukakan pintu mobil ketika melihat kedua orang itu kesusahan. Dengan kasar Itachi segera menghempaskan tubuh Sasuke yang sedang bergumam tidak jelas ke kursi belakang mobil.

"berhentilah bergumam, sebelum aku menaruhmu di bagasi mobil!" bentak Itachi kepada sasuke, yang ajaibnya langsung terdiam.

Setelah menutup pintu Itachi berbalik menatap siapa gerangan yang membantunya itu. "Apakah dia baik-baik saja tuan?"

Itachi hanya mengangguk menanggapi, ia tidak menyangka bahwa yang membantunya adalah gadis pegawai bar yang tempo hari terus ia perhatikan. Gadis itu tidak memakai pakaian kerjanya, hanya menggunakan celana jeans dan kemeja yang warnanya telah pudar serta tas yang berselempang dibahunya. Tampaknya jam kerja gadis itu telah selesai.

"Masuklah, aku akan mengantarmu pulang sebagai ucapan terima kasih."

Gadis itu tersentak kaget mendengar tawaran Itachi, ia segera mengangkat dan mengibaskan kedua tangannya tidak lupa kepalanya juga ikut menggeleng.

"Ah..tidak, tidak tuan. Terimakasih banyak atas tawarannya tapi saya hanya berniat membantu."

"kalau begitu terimalah ini," Itachi mengeluarkan sejumlah uang pada gadis itu, "ambilah untuk ongkos naik taksi, ini sudah malam."

"maafkan saya tuan, saya tidak bisa menerimanya. Bantuan saya tidak ada apa-apanya, saya tulus."

Tanpa menunggu reaksi Itachi, gadis itu segera menunduk berpamitan, "terimakasih, saya pergi dulu," kemudian pergi meninggalkan tuan Uchiha yang masih memegang sejumlah uang di uluran tangannya.

Semenjak kejadian malam itu entah mengapa Itachi selalu menyempatkan dirinya hampir disetiap malam sehabis pulang kerja untuk ke bar di pinggiran kota itu. Beberapa kali ia juga melihat Sasuke datang ketempat itu bersama temannya, tapi ia cukup beruntung karena adiknya itu terlalu sibuk dengan dunianya sehingga tidak melihatnya.

Ia akan duduk di meja paling pojok tanpa memesan apapun, lelaki Uchiha ini hanya duduk tenang sambil memperhatikan seluruh tingkah laku gadis yang menolongnya itu. Ia akan pulang jika jam kerja gadis tersebut telah selesai. Begitu seterusnya sampai berhari-hari yang tanpa sepengetahuannya membuat Istrinya Hinako menunggu dengan cemas di rumah mereka.


Hinako berjalan mondar mandir dengan gelisah didalam kamar pribadinya. Ia sedang menunggu kepulangan sang suami yang dirasanya beberapa hari ini selalu pulang terlambat hingga tengah malam. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak tenang takut suaminya itu berbuat yang tidak-tidak diluar sana.

Semenjak pagi tadi ia cemas seperti ini, pikirannya terus melayang-layang. Kebiasaannya yang dilakukannya beberapa hari belakangan ini juga tidak dilakukannya. Benar, belakangan ini Hinako sering sekali pergi meminum kopi di sebuah café kecil didaerah pinggiran. Ia akan duduk didekat jendela kaca sambil memandang kearah toko diseberangnya. Tepatnya kearah si gadis pegawai ceria yang sangat menarik dimatanya. Hinako juga sempat mempertanyakan kewarasan seksualitasnya, mengapa gadis itu tampak seperti magnet untuk menariknya.

'ceklek' suara pintu kamarnya yang terbuka segera menarik kesadarannya dari lamunannya yang mulai aneh. Sang suami tampak dengan pakaian kerjanya yang mulai kusut, "dari mana saja sehingga baru pulang jam segini?"

"Aku kerja," Itachi yang sedang melepaskan dasinya menjawab sekenanya tanpa melihat sang istri.

"Kau berbohong padaku Itachi!" bentak Hinako yang membuat Itachi memberikan perhatiannya, tidak biasanya istrinya itu bersuara keras apalagi memanggilnya tanpa embel-embel suffix-kun.

"Apa yang sedang kau bicarakan Hinako?"

"Kau berbohong! Kau mengatakan padaku tidak akan mencari perempuan lain," suara Hinako semakin keras, " kau juga mengatakan tidak akan menduakan aku yang tidak bisa memberikanmu keturunan ini!"

Itachi menatapnya dengan pandangan tajam, ia tidak tahu apa yang sedang merasuki istrinya itu.

"Aku menemukan noda lipstick selingkuhanmu di kemeja yang kau pakai semalam, aku juga mencium aroma alcohol dihampir semua pakaian yang kau pakai saat pulang larut seperti ini!"

Itachi mengurut pangkal hidungnya, ia bingung harus menjelaskan bagaimana tentang kesalah pahaman ini. memang benar ia berbohong dan pergi ke bar diam-diam beberapa hari ini, tapi demi apapu ia tidak akan pernah selingkuh. Noda lipstick di kemejanya itu hanya sebuah kesalahan ketika ia hendak pulang dari bar tadi malam dan secara tidak sengaja seorang perempuan mabuk menubruknya. Hanya itu, ia tidak menyangka hal tersebut dapat menimbulkan masalah seperti saat ini.

"Hinako, aku tidak berbohong padamu. Aku tidak selingkuh ataupun mencari perempuan lain untuk menggantikanmu," Itachi mencoba meyakinka kepada istrinya itu. Ketika ia hendak memegang tangan istrinya, Hinako segera menepisnya namun dengan sigap Itachi memegang kedua pergelangan Hinako agar istrinya itu menatapnya walaupun dengan pandangan curiga.

"Tidak, aku tidak percaya. Aku tahu kau sedang tertarik dengan perempuan lain, aku mendengarmu saat berbicara ditelepon dengan Shisui. Kau selalu pergi ke Bar hanya untuk melihat perempuan itu!" Itachi cukup terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka pembicaraannya tempo hari dengan sahabatnya itu di dengar oleh Hinako.

Memang benar beberapa hari lau, Itachi yang bingung dengan perasaannya yang tiba-tiba saja tertarik dengan seorang gadis memutuskan curhat kepada Shisui. Ditambah lagi hubungannya yang sedikit merengang dengan Hinako yang selalu terlihat murung jika berduaan saja dengannya. Istrinya itu selalu saja teringat akan kekurangan dalam dirinya yang tidak bisa menghasilkan sel telur setiap kali melihat wajah Itachi.

"aku tahu, perempuan di Bar itu yang kau pilih untuk mengandung anakmu kan?!" hiks, suara tangis Hinako semakin keras seiringan dengan emosinya, "silahkan, tapi ceraikan aku!"

Jujur, belakangan ini ia juga memikirkan seorang bayi mungil setipa melihat gadis di Bar itu. Tapi Itachi berani bersumpah kalau perasaannya itu tidak ada kaitannya dengan cinta. Cintanya sudah habis hanya ke istrinya saat ini, "Percayalah padaku, aku hanya mencintaimu Hinako. Aku tidak akan pernah mau bercerai!"

Hinako menggelengkan kepalanya tidak percaya. " Baiklah kalau kau tidak percaya padaku, aku akan membuktikannya padamu kalau aku sama sekali tidak pernah memikirkan untuk menghianatiku."

"Besok malam bersiaplah, aku akan membawamu ketempat itu. Biar kau yang melihatnya sendiri kalau aku tidak melakukan hal buruk seperti yang kau pikirkan disana."

"untuk apa? Aku tidak akan mau bertemu dengan perempuan jalangmu itu?!"

"Hinako! Gadis itu bukan perempuan seperti itu!" tanpa sadar Itachi membentak istrinya itu.

"Hiks.. kau membelanya? Hiks.. kau membelanya?" Hinako tidak percaya, air matanya semakin deras mengalir.

"Hinako…," Itachi melembutkan suaranya, "ini tidak seperti yang kau pikirkan."

"kalau begitu katakana padaku apa yang seharusnya aku pikirkan!"

Itachi memejamkan matanya sejenak untuk mengambil nafas, "dengarkan aku, kau memang benar kalau selama ini aku sering pergi ke Bar karena seorang gadis."

"dengarkan aku dulu," pinta Itachi ketika Hinako ingin memulai aksi marahnya, "aku sama sekali tidak menemui gadis itu, hanya mengamatinya dari jauh. Kau bisa bertanya kepada orang-orang di Bar itu."

"lalu untuk apa kau mengamati gadis itu kalau bukan karena kau jatuh cinta padanya?"

Itachi menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan pendapat istrinya itu. " kau benar lagi ketika mengatakan bahwa aku memilih gadis itu untuk memberikan Uchiha keturunan, tapi aku tidak ingin gadis itu yang mengandung anakku. Hanya kau yang boleh, hanya kau yang kuinginkan menjadi ibu anakku."

Hinako menjadi bingung dengan pernyataan suaminya itu, "apa maksudmu?"

"Aku telah memikirkannya, tentang bayi tabung itu" mata Hinako membulat tidak percaya, pasalnya suaminya itu tampak begitu keras tidak setuju.

"Aku tidak tahu apa yang menarik dari gadis itu saat pertama melihatnya, tapi pikiranku selalu mengatakan padaku bahwa gadis itu merupakan orang yang tepat untuk memberikan sel telur untuk anak kita."

Air mata Hinako telah berhenti mungkin terlalu terkejut atau karena mulai percaya dengan ucapan Itachi.

"Percayalah gadis itu perempuan baik, aku telah mengamatinya selama ini sehingga membuat kita bertengkar seperti ini. Aku juga telah menyuruh orang untuk mencari tahu tentang latar belakang kehidupan gadis itu."

"Tapi Itachi-kun, aku juga telah memilih kandidat lain untuk masalah ini."

Mengangguk mengerti Itachi meminta istrinya itu untuk memperkenalkannya dengan perempuan yang dipilih istrinya itu sehingga mereka dapat memilih siapa yang terbaik diantara keduanya untuk memberikan mereka anak.

"Kalau begitu ikutlah denganku besok siang untuk mengamatinya," pinta Hinako kepada sang suami.


Sesuai janji yang telah mereka sepakati semalam, siang ini Hinako dan Itachi pergi mengunjungi kedai kopi kecil yang belakangan menjadi langanan Hinako untuk mengamati gadis pegawai yang bekerja diseberang jalan.

Mereka telah duduk selama limabelas menit di meja dekat jendela, namun si gadis belum menunjukan dirinya. Itachi memperhatikan Hinako duduk dengan gelisah. Bagaimana tidak, ini merupakan suatu langkah besar yang baru mereka ambil bersama untuk mewujudkan harapan memiliki anak. Tapi si gadis yang dipilih sang istri sampai saat ini belum muncul dan menambah kegelisahan Hinako karena takut gadis itu tidak masuk kerja.

Pasangan Uchiha it terus saja memerhatikan keseberang jalan, ketika anjing kecil yang diplihara oleh toko bunga disebelah toko obat yang tengah mereka amati menggonggong riang seperti ingin menyambut seseorang. Ekor anjing berbulu lebat itu bergoyang cepat seakan tidak sabar menunggu apa yang dia nantikan.

Mata Itachi membuka lebar tidak percaya dengan apa yang ia lihat diseberang sana. Ia kemudian mengalihkan tatapannya kearah sang istri yang duduk di depannya dengan tersenyum lebar. Gadis yang dinantikan kedatangannya tampak sedang berlari kearah toko obat tradisonal tersebut. Masih tampak dengan nafas yang terengah-engah si gadis langsung saja menggendong anjing kecil yang tampak semangat menyambut kedatangannya.

"Itachi-kun gadis ceria itu yang aku pilih, bagaimana menurutmu?" tanya Hinako kepada suaminya tanpa mengalihkan tatapannya dari gadis diseberang jalan itu.

'Hahaha' tawa Itachi yang garing tertutup oleh tawa Hinako yang renyah. Keduanya tertawa karena hal yang berbeda. Sang suami sedang menertawakan suatu kebetulan yang sangat tepat diseberang sana. Sedangkan sang istri tengah tertawa karena tingkah lucu si gadis yang tampak kerepotan melap bajunya yang sepertinya terkena kencing anjing kecil yang telah diturunkan.

Gadis itu, gadis ceria bersurai merah jambu dengan bola mata emerald yang berbinar.

"Aku tidak tahu ini bahwa ini sudah takdir tapi gadis itu merupakan perempuan yang sama yang ada di Bar," Ucapan Itachi berhasil menarik perhatian Hinako menatap suaminya dengan terperangah.

TBC


Author Note:

Hai..hai…Bagaimana dengan chapter pertama ini? aku harap ceritanya tidak terlalu membosankan ya.. disini sasusaku-nya belum muncul jadi harap bersabar sedikit ya..

Author akan terus belajar untuk membuat cerita semenarik mungkin yang akan disukai oleh para pembaca..

Jadi jangan berhenti untuk memberikan masukan dan juga kritiknya untuk author ya..

Tidak bisa berkata lebih banyak lagi selain terima kasih telah membaca :)

Special thanks buat yang udah review prolog kemarin : dina haruno, Kiki Kim, kakikuda, piguin, sagyun, Hyuugadevit-Chery