Maafkan author yang baru bisa update sekarang dan membuat readers menunggu lama kelanjutannya..

Lost Kiseki

Selangkah lebih dekat

Disclaimer Naruto by Masashi Kishimoto


Satu persatatu lembar kertas yang berada di tangannya, ia teliti dengan baik. Itachi, cukup merasa puas dengan hasil kerja orang suruhannya tempo hari. Hari dimana ia dan sang istri dibuat terpana oleh seorang gadis yang portofolionya kini sedang ia baca dengan seksama.

Malam itu seusai mengamati aktifitas sang gadis seharian dari balik jendela café, pasangan Uchiha tersebut telah mengambil kesepakatan untuk meminta bantuan gadis tersebut untuk menyelesaikan masalah mereka. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Itachi segera menghubungi orang kepercayaannya untuk menggali semua informasi mengenai gadis tersebut. Sulung Uchiha itu tidak ingin gegabah ia harus tahu latar belakang gadis tersebut, ia tidak ingin calon anaknya kelak bukan berasal dari keluarga yang baik. Selain itu ia juga harus mengetahui sesuatu yang dapat meyakinkan gadis itu untuk menerima tawaran mereka kalau saja gadis itu menolaknya.

Itachi kembali memperhatikan lembar kertas yang menempelkan foto gadis bersurai pink yang dibawahnya tertera data pribadi gadis tersebut.

Haruno Sakura. Itachi sedikit menyungingkan senyumnya, ia merasa nama tersebut sangat mencerminkan diri gadis itu yang mempunyai surai rambut dengan warna yang sama seperti bunga itu.

Seketika senyum kecil Itachi itu menghilang, dan digantikan dengan tatapan simpati. Tidak banyak yang tahu bahwa CEO Uchiha ini sebenarnya memiliki hati yang lembut, didikan sang ayah untuk menjadi seorang pemimpin semenjak ia kecil membuat pribadinya dingin dimata orang-orang. Ia merasa terhenyuk, gadis ceria yang ia lihat ternyata memiliki kehidupan yang sangat sulit. Gadis itu hanya hidup sebatang kara didunia yang luas ini.

Itachi membaca lebih detail lagi mengenai kehidupan gadis yang bernama Sakura itu.

Saat menjelang kelulusan SMA kedua orangtua Sakura mengadakan perjalanan liburan ke sebuah desa pemandian air panas. Gadis tersebut tidak ikut lantaran harus mengikuti les persiapan masuk universitas. Dan disaat itulah kehidupan gadis tersebut berubah karena bus yang dikendarai orangtuanya mengalami kecelakaan dan orangtuanya tewas seketika. Sakura hanyalah anak tunggal, begitu juga kedua orangtuanya sehingga ia tidak mempunyai paman atau bibi. Kakek dan neneknya juga sudah lama meninggal dunia dan menyisakan ia hidup seorang diri dengan peningalan orangtuanya.

Keluarga Sakura bukan berasal dari keluarga yang kaya, mereka hanyalah orang biasa yang hidup pas-pasan. Harta yang mereka miliki hanyalah sebuah apartemen kecil dan sedikit kumuh didaerah pinggiran kota, uang yang ditinggalkan juga tidak banyak dan hanya mampu membiiayai uang muka kuliahnya saja.

'ceklek' suara pintu ruangan yang dibuka membuat perhatian Itachi pada lembar kertas itu teralihkan. Pria itu tersenyum senang ketika melihat siapa yang datang. Hinako, istrinya memasuki ruangan dengan membawa kantongan yang berisi boks makanan. Itachi segera melirik jam pada pergelangan tangannya yang telah menunjukan waktu istirahat makan siang. Mungkin pikirannya begitu terlarut sehingga tidak menyadari telah membaca berkas gadis tadi terlalu lama.

"Apakah aku mengganggumu?" tanya Hinako kepada suaminya tersebut yang masih memegang sekumpulan kertas, "tampaknya kau sedang sibuk."

Itachi segera menggelengkan kepalanya, "kau sama sekali tidak menggangguku, aku hanya sedang membaca ini," ucap Itachi kemudian mengulurkan kertas-kertas ditangannya kearah sang istri.

Hinako menaikan sebelah alisnya tidak mengerti namun tetap mengambil kertas tersebut dari suaminya. Saat Hinako mulai membaca, Itachi berinisatif untuk mengeluarkan boks makanan dari dalam kantung .

Itachi juga sesekali melirik istrinya itu, meneliti reaksi pada wajah Hinako yang tengah membaca portofolio gadis pilihan mereka. Pada awalnya Hinako tampak tersenyum kemudian berubah menjadi sendu, persis seperti apa yang dilakukannya tadi. Namun kini raut pada wajah Hinako berubah lagi menampilkan senyum kepuasan.

"Ia adalah gadis yang baik dan juga pintar" komentar Hinako setelah selesai membaca kertas-kertas tersebut.

"Hn?" tanya Itachi ambigu yang tengah menikmati makan siang yang telah dibawakan sang istri.

"Sakura, ia sangat terkenal dilingkungan tempat tinggalnya sebagai gadis baik-baik dan bekerja keras. Ia selalu bersikap ramah, dan dikenal sebagai gadis yang cerdas karena selalu juara saat sekolah dulu" jelas Hinako kepada Itachi yang sebenarnya juga telah mengetahui hal tersebut dari orang suruhannya.

"ia juga berhasil masuk ke universitas kedokteran Konoha dengan nilai terbaik dan mendapatkan beasiswa, tapi kenapa kini gadis itu berhenti kuliah?" tanya Hinako penasaran kepada Itachi, Karena didalam portofolio tersebut tidak dicantumkan alasannya.

"ia harus bekerja paruh waktu untuk menunjang hidupnya, tidak dapat mebagi waktu dengan belajar mengakibatkan nilainya menjadi turun," jelas Itachi berdasarkan penjelasan yang tadi juga ikut disampaikan suruhannya, " sehingga pada akhir semester ketiga beasiswanya dicabut oleh pihak kampus dan ia tidak mampu membiayai kelanjutannya."

"siapa yang tidak mampu?" suara lain tiba-tiba saja mengintrupsi percakapan pasangan itu. Dibalik pintu ruangan kantor Itachi yang terbuka sedikit kini muncul seorang laki-laki tampan berambut raven lainnya yang lebih muda, Uchiha Sasuke.

"apa yang sedang kalian bicarakan? Tampaknya serius sekali sehingga wajah kakak yang mulai keriput itu terlihat kaku," tanya Sasuke seraya sedikit menggoda kakak kesayangannya itu.

"bukan apa-apa Sasuke-kun," Hinako segera mengambil alih untuk menjawab walaupun suaranya tampak bergetar karena sedikit gugup takut kalau saja adik iparnya mengerti akan pembicaraannya tadi dengan sang suami.

Sasuke menaikan kedua pundaknya acuh, tidak mau melanjutkan bertanya seakan menerima jawaban Hinako.

"apakah Sasuke-kun sudah makan siang? Makanlah dulu berdua dengan Itachi-kun, aku membawakan banyak bekal untuknya" suruh Hinako kepada iparnya itu setelah melihat gelengan kepala dari Sasuke yang menyatakan kalau ia belum makan.

Sasuke segera tersenyum cerah dan menghampiri meja kerja kakaknya yang sudah dipenuhi dengan box makanan itu. Itachi hanya berdecak kesal karena rencana makan siangnya bersama sang istri dikacaukan oleh kehadiran tiba-tiba adiknya.

"kalau begitu aku pulang dulu, kalian berdua nikmatilah" pamit Hinako kepada kedua kakak beradik Uchiha tersebut. Sasuke yang sudah asik makan hanya menganggukan kepalanya.

"aku akan mengantarmu ke mobil," tawar Itachi kepada istrinya. Tanpa menunggu jawaban ia segera bangkit dari kursi singasananya.

"Heh adik kecil," tegur Itachi kepada adiknya itu sambil mengetukan jari telunjuk dan tengahnya kedahi Uchiha bungsu tersebut, agar adiknya itu mendongakan kepalanya dari makanan. Mata Sasuke memandang bertanya karena kakaknya itu menganggu ia melahap makan siangnya, "kuingatkan jangan coba untuk menghabiskan semua makanan itu karena Hinako memasakannya untukku, bukan untuk mengisi perut kelaparanmu itu!"

Setelah berkata begitu pasangan Uchiha itu segera meninggalkan ruang kerja Itachi dengan diiringi tawa kecil dari Hinako. Perempuan itu sangat suka melihat tingkah suaminya yang menjadi kekanakan ketika berada disekitar Sasuke.

Sedangkan Sasuke yang ditinggal saat ini malah semakin semangat untuk menghabiskan semua makanan walaupun perutnya telah kenyang. Ia hanya ingin sedikit mengerjai kakaknya itu.

xxx

Pasangan Uchiha itu tampak berjalan dengan perlahan hingga sampai didepan pintu lift yang akan mengantarklan mereka kelantai dasar. Mereka berdua dari tadi hanya diam terkubur dalam pemikiran masing-masing sampai sang istri menyuarakan pikirannya.

"Itachi-kun, bagaimana kalau gadis itu tidak mau memberikan sel telurnya kepada kita?" tanya Hinako cemas.

'ting' pintu lift terbuka dan kedua manusia itu masuk kedalamnya dang membawa mereka kebawah. Didalam lift Hinako terus menatap suaminya yang masih terdiam tanpa niatan menjawab kecemasannya. Hingga mereka tiba dilantai dasarpun Itachi hanya memberikan respon dengan menggenggam tangan istrinya dan mengiringnya kedepan tempat mobil yang telah menunggu.

"Itachi?" tanya Hinako sekali lagi, berharap suaminya itu menghilangkan rasa cemas itu ketika mereka telah sampai didepan mobil.

"kau tidak perlu cemas," tegas Itachi meyakinkan sembari memgang kedua pundak istrinya untuk menyalurkan kekuatan, "kau hanya perlu menemui gadis itu dan mengatakan keinginan kita, selanjutnya biar orang suruhanku yang akan mengurusnya."

Hinako menganggukan kepalanya mengerti. Itachi segera melayangkan ciuman kepuncak kepala Hinako sebelum perempuan itu masuk kedalam mobil dan meninggalkan gedung perkantoran Uchiha Corporation.

xxx

Itachi memasuki ruang kerjanya dan mendapati Sasuke tengah tiduran disebuah sofa panjang diruangan itu. Box berisi makan siang yang dibawa Hinako untuknya telah tandas, habis tak bersisa.

"dasar anak nakal, bagaimana kau bisa tidak mendengarkan perkataan nii-san mu dan mengahbiskan semua makanan ini, hah?" gerutu Itachi. Wajar saja, ia baru memakan sedikit dan adiknya itu dengan kurang ajarnya menghabiskan seluruhnya ketika ditinggal sebentar.

"jangan salahkan aku, salahkan saja perutku yang kelaparan ini" elak Sasuke dengan suara yang di imut-imutkan yang membuat Itachi bertambah jengkel, "lagian nii-san pergi lama sekali, aku sampai bosan menunggumu."

"apa?" tanya Itachi tak percaya, ia hanya pergi sepuluh menit tapi tingkah adiknya seakan dibiarkan menunggu selama sepuluh jam. Sungguh kekanakan sekali.

"Sasuke, sekarang duduklah yang manis jangan tiduran seperti itu sehabis makan kalau tidak mau perutmu buncit," tegur Itachi membaut Sasuke segera bangkit duduk dan mengelus perutnya yang masih rata berkotak-kotak.

"kau itu sudah dewasa, umurmu saja hampir seperempat abad tapi tingkahmu seperti remaja" dikatai begitu bibir Sasuke segera mengerucut, ia hanya menunjukan sifat manjanya kepada sang kakak.

Itachi mengambil posisi duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan sofa yang diduduki oleh Sasuke. Ia memandang adiknya itu dengan raut wajah yang berubah serius, "Sasuke ada yang ingin nii-san sampaikan kepadamu."

Melihat ketajaman dimata kakaknya, membaut perasaan Sasuke khawatir. Ia tahu pasti ada yang tidak beres dan penting yang ingin disampaikan oleh Itachi.

"apakah ini ada hubungannya dengan pembicaraan nii-san dengan Hinako nee-chan tadi?" Itachi kemudian menganggukan kepalanya menanggapi pertanyaan Sasuke tersebut.

xxx

Disisi lain pinggiran kota Konoha, sang nyonya muda Uchiha tampak memasuki toko kecil obat tradisional yang belakangan ini ia datangi.

"oh nyonya, apakah anda mau membeli obat lagi?" tanya seorang gadis pelayan toko tersebut dengan ramah kepada si nyonya muda. Gadis itu yang telah ia ketahui bernama Sakura tampak ceria seperti biasanya, tidak ada raut kesedihan dan kesepian dari matanya padahal gadis tersebut hanya hidup sebatang kara didunia ini.

"nyonya?" tegur Sakura membuat Hinako yang tengah memperhatikan gadis itu terkesip dan menatap Sakura dengan pandangan bertanya.

"apakah anda ingin membeli obat seperti biasa?" tanya Sakura sekali lagi, karena tampaknya si nyonya muda yang telah menjadi langganan di toko mereka tidak mendengarnya tadi lantaran sedang sibuk melamun.

Hinako menganggukan kepalanya, mendapat sinyal seperti itu segera membuat Sakura bergegas menyiapkan obat-obat itu. "Tunggu sebentar," pinta Sakura kemudian berjalan kebilik penyimpanan obat hingga tak terlihat. Beberapa saat kemudian gadis itu kembali dengan membawa botol obat ditangannya, "ini dia obat-obatnya nyonya, semuanya dua ribu yen."

Sakura tersenyum menerima sejumlah uang yang disodorkan oleh Hinako kepadanya, kali ini jumlahnya sesuai dengan tagihan obat itu. Semenjak kejadian tempo hari dimana Sakura dengan tegas menolak uang kembalian yang diberikan kepadanya, Hinako selalu memberikan uang pas untuk membayar obat yang dibelinya. Ia tidak mau menyinggung perasaan gadis tersebut.

"apakah ada lagi yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Sakura karena melihat Hinako yang masih belum beranjak pergi, terlebih lagi karena perempuan itu terus menatap Sakura dengan ragu.

"bisakah kita mengobrol sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," pinta Hinako yang membuat Sakura mengernyitkan dahinya yang lebar.

"maaf nyonya, tapi – " Sakura mencoba untuk menolak karena ia sedikit bingung dengan ajakan mendadak dari perempuan yang hanya dikenalnya sebagai pelanggan ditempatnya bekerja.

"kau bisa meminta ijin kepada pemilik toko dulu, lagi pula ini sudah waktunya istirahat makan siang," bujuk Hinako, "kita bisa makan siang bersama di café seberang jalan itu."

Sakura melihat jam yang tergantung di dinding toko itu, memang benar ini suadah waktunya ia istirahat apalagi saat ini perutnya tengah kelaparan karena tadi pagi tak sempat sarapan. Akhirnya dengan ragu Sakura mengiyakan ajakan nyonya Uchiha itu setelah mendapatkan ijin dari pemilik toko.

xxx

Kini kedua perempuan itu tengah duduk berhadapan dengan sebuah meja sebagai pembatas mereka. Makanan sudah tersaji dihadapan mereka, namun baru sedikit saja yang tersentuh. Hanya minuman Sakura saja yang hampir habis karena diminum terus menerus oleh gadis itu untuk menghilangkan kegugupannya.

Keduanya tampak kurang menikmati makan siang itu, yang satu karena tengah sibuk mengamati Sakura sambil menerka-nerka reaksi gadis itu nantinya. Sedangkan yang satunya lagi merasa salah tingkah karena terus diperhatikan oleh Hinako.

Setelah sekali lagi menyeruput minumannya Sakura berdeham untuk menetralkan suaranya, "ehm, apakah ada yang salah dengan saya nyonya?"

Hinako hanya tersenyum menanggapi rasa penasaran Sakura, yang membuat gadis itu semakin gugup saja. "kau bisa memangilku Uchiha-san, tidak perlu seformal itu. Lagi pula aku masih terlalu muda untuk dikatakan sebagai nyonya."

Sakura mengangguk, "baiklah Uchiha-san, kalau begitu, apa yang hendak anda bicarakan denganku?" tanya Sakura penasaran.

"habiskan saja dulu makananmu baru kita bicara," tawar Hinako seraya memakan makanannya. Ia juga memutuskan untuk tidak memperhatikan Sakura lagi, karena tersadar bahwa gadis itu merasa tidak nyaman.

Akhirnya Sakura bisa melahap makan siangnya dengan tenang, dan menghabiskan hingga piringnya tampak licin. Hinako yang juga telah selesai kembali dibuat tersenyum karena melihat nafsu makan Sakura yang baik. Sakura sendiri tersenyum kikuk karena takut dikira rakus oleh perempuan didepannya itu.

"Kotaro, ibu bilang jangan berlari" sebuah suara mengalihkan tatapan kedua perempuan itu. Tampak seorang ibu muda yang tengah kesusahan mengikuti anak laki-lakinya yang langsung berlari ketika sampai di café itu.

Melihat pemandangan itu membuat senyum di wajah Hinako hilang seketika dan digantikan oleh raut kesedihan dan rasa iri yang mendalam dihatinya. Perubahan raut Hinako ternyata tidak luput dari mata Sakura, ia menjadi penasaran karenanya, "kenapa Uchiha-san sedih begitu?"

"kau lihat ibu dan anak disana itu," tanya Hinako merujuk ke perempuan tadi yang kini tengah asik menggelitiki anaknya, "bukankah mereka tampak sangat bahagia?"

Sakura mengangukan kepalanya pelan karena masih menyadari suara Hinako yang tersirat kepedihan dalam pertanyaan itu terlebih ketika melanjutkan kalimat selanjutnya, "Kau tahu Sakura, aku sangat iri kepada mereka."

"Melihat kebahagiaan ibu dan anak itu membuatku terlihat tidak pantas untuk disebut sebagai perempuan." Dahi lebar Sakura mengernyit dalam ketika mendengar pernyataan Hinako. Pandangan mata nyonya muda Uchiha itu tidak terlepas sejak tadi dari ibu dan anak kecil tadi, terlebih kepada bocah bernama Kotaro itu.

Hinako terus melanjutkan kalimat demi kalimat yang ia pendam dalam hatinya selama ini, "aku tidak tahu apa kesalahanku dimasa lalu sehingga Tuhan menghukumku dengan seperti ini. Sakura apakah aku terlihat seperti perempuan jahat, sehingga tidak pantas menjadi seorang ibu?"

Sakura mengelengkan kepala keras, "Tidak Uchiha-san, walaupun kita baru mengenal tapi saya yakin anda merupakan orang yang baik. Uchiha-san seharusnya tidak berkecil hati seperti itu."

"Lantas kenapa Tuhan tega membuatku mandul dan tidak bisa memiliki anak?" pertanyaan yang merupakan sebuah pernyataan menyedihkan itu membuat Sakura terkesip kaget dan merasa simpati kepada Hinako. Sebenarnya ia cukup bingung kenapa nyonya keluarga terpandang seperti Hinako menceritakan hal yang bisa dikatakan 'aib' kepada dirinya yang bukan siapa-siapa, tapi Sakura cukup senang karena ia dihargai sebagai tempat curhat Hinako.

Tangan Sakura segera terulur untuk menggenggam kedua tangan Hinako yang terkulai diatas meja. Sakura menggenggamnya dengan kuat seakan dapat memberikan tenaga kepada Hinako supaya dapat menghadapi masalahnya.

"Maafkan saya Uchiha-san, saya tidak tahu harus berkata apa. Tapi jika seandainya saya bisa membantu anda untuk menghilangkan perasaan sedih itu, pasti saya lakukan." Kata-kata itu disampaikan Sakura dengan perasaan yang begitu tulus.

Apa yang diucapkan oleh Sakura dapat dirasakan oleh Hinako bahwa gadis itu sungguh-sungguh mengatakannya, "sebenarnya Sakura, kau bisa saja membantuku keluar dari kutukan ini."

Mendengar hal itu membuat Sakura tampak bersemangat untuk membantu, "katakana padaku Uchiha-san apa yang harus saya lakukan?"

Kali ini gentian Hinako yang menggenggam kedua tangan Sakura dengan sangat erat, kedua matanya telah menatap mata emerald Sakura dengan penuh keseriusan serta permohonan, "berikanlah sel telurmu kepadaku!"

xxx

Sudah lebih dari sepuluh menit gadis berambut pink tersebut terus seperti ini. Ia tampak sedang melamun sehingga pekerjaannya sedikit terbengkalai. Kain lap untuk membersihkan meja-meja di bar sedari tadi hanya ia genggam, matanya melayang jauh dan tubuhnya terkaku tanpa melakukan pergerakan apapun.

Setiap kata dari percakapannya siang tadi dengan salahsatu anggota keluarga terpandang Negara ini terus saja terngiang ditelingga Sakura. Tak pernah terbesit sedikitpun dipikirannya orang kaya dan berpengaruh seperti Uchiha akan datang menghampirinya untuk meminta bantuan.

What the hell?! Bagaiman seorang gadis perawan yang belum genap berusia duapuluh tahun mampu memberikan keluarga terpandang itu seorang keturunan?

Jujur saja, rasa simpati yang dirasakan Sakura kepada nyonya muda Uchiha itu langsung menguap setengahnya diudara setelah mendengar wanita itu meminta sel telurnya. Kata sel telur itu sangat mempengaruhinya. Lihat saja sekarang gadis bersurai pink ini mampu mengeluarkan kata kasar. Sisi ketus yang dia simpan rapat semenjak kematian orangtuanya kini bangkit kembali.

Berciuman saja Sakura tidak pernah, dan sekarang ia diminta untuk memberikan anak. Apakah nyonya Uchiha itu tadi sudah gila membiarkan suaminya untuk membuahi sel telur perempuan lain a.k.a dirinya? Hinako memang mengatakan hal itu akan dilakukan dengan proses bayi tabung dan Sakura hanya perlu menyumbangkan sel telurnya saja, namun kepala Sakura terlalu pusing untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari wanita itu.

"Sakura, kalau kau terus melamun aku akan memecatmu!" Sakura tersentak dan kembali sadar ketika suara menggelegar sang manajer bar tempatnya bekerja itu menegurnya yang tengah melamun.

"Maafkan aku Nagato-san, jangan pecat aku. Aku akan bekerja lebih rajin," mohon Sakura sambil membungkukan badanya kepada sang menejer yang wajah tampannya penuh dengan tindikan itu.

"Kalau begitu tunjukan kepadaku, cepat bantu pelayan lainnya mengantarkan minuman. Para pelanggan sudah mulai ramai berdatangan" setelah mendengar perintah sang manajer Sakura segera bergegas melaksanakan tugasnya.

"Hei jelek, ketahuan melamun lagi?" tanya bartender yang bernama Sai kepada Sakura ketika gadis itu sampai ke meja bar pemesanan.

"aku sedang tidak mood mengobrol denganmu, sekarang mana minuman yang harus ku antarkan sebelum Nagato-san datang memarahiku lagi!" balas Sakura sedikit ketus karena pemuda itu sering sekali mengatainya jelek.

"ini antarkan ke meja nomer lima di ujung ruangan sana," perintah Sai seraya memberikan minuman pesanan kepada Sakura diatas nampan, "hati-hati jangan sampai kau melamun lagi dan menumpahkan semua minuman mahal ini."

Sakura segera saja mengangkat minuman tersebut tanpa memedulikan nasihat dari Sai. Sakura berjalan dengan cepat menuju meja yang ada dipojok ruangan, pikirannya masih dihantui oleh kejadian siang tadi namun ia berusaha keras menyingkirkannya.

Sakura yang kurang berkonsentrasi tidak sadar jika ada seorang yang bangkit berdiri dari duduknya dengan tiba-tiba ketika ia melintasi meja-meja disitu. Tabrakan tubuh keduanya tidak terelakan sehingga Sakura yang terdorong dengan refleks memegang apa saja yang bisa menyangga tubuhnya agar tidak terjatuh dengan memalukan didepan banyak orang.

"Hei! Apa yang telah kau lakukan?!" suara pekikan seorang wanita memasuki gendang telinga Sakura. gadis dengan mata emerald ini tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat sumber suara tersebut, jangankan itu ia tidak bergerak seincipun dari posisinya saat ini, sedang berlutut dengan menyanggakan tangannya kesesuatu serta kepala tertunduk kebawah.

Mata Sakura yang menatap kebawah melihat bahwa didepannya terdapat bagian bawah celana jeans dan sepasang sepatu Berluti Rapieces Reprises yang merupakan salah satu sepatu laki-laki termahal didunia. Kini sepatu mahal yang harganya melebihi 1800 dolar amerika itu telah kotor terkena tumpahan minuman yang tadi ia bawa. Sakura memang bukan pengila fashion sehingga tahu brand ternama seperti iyu, tapi salahkan sahabatnya si gadis penjual bunga yang sangat menggilai fashion dan sepatu ini pernah ia lihat di salah satu katalognya. Sakura tidak bisa membayangkan bila orang yang ditabraknya ini meminta ganti rugi, seluruh gajinya tidak akan sanggup membayar sepatu laki-laki itu.

Laki-laki? Hah, bukannya tadi yang berteriak kepadanya itu seorang perempuan?

"Hei! Kubilang apa yang sedang kau lakukan?!" suara teriakan perempuan sekali lagi memasuki telinga Sakura. Dengan takut-takut Sakura memberanikan diri untuk menatap orang yang kini tengah ia tabrak. Wajahnya mendongak dan mendapati sepasang onix hitam tengah menatapnya dengan tajam, seorang pria tampan dengan garis rahang yang tegas. Tapi bukan pria itu yang berteriak kepadanya melainkan seorang perempuan berambut merah yang ada disamping pria itu.

"Kau tidak mendengarkanku ya?! Singkirkan tanganmu dari Sasuke-kun!" perintah perempuan berambut merah itu dengan frustasi kepada Sakura.

Sakura yang diperintahkan seperti itu kini menatap tangannya yang tengah berpegangan kepada sesuatu atau lebih tepatnya seseorang pria yang berdiri menjulang didepannya. Wajah putih Sakura seketika memerah padam hingga ketelinga, serta dengan cepat menyingkirkan tangannya yang sedari tadi tengah bertengger tepat dibawah pinggang pemuda itu yang tengah menggelembung.

Sakura segera bangkit berdiri dan membungkukan badannya sembilan puluh derajat berkali-kali sambil meminta maaf. Sakura menahan rona malu di wajahnya dengan mati-matian, ia tidak berani menatap laki-laki itu, terlebih karena perempuan berambut merah it uterus saja memarahinya dan kedua pria lainnya yang merupakan teman pemuda yang ditabraknya tengah asik menertawakannya.

Tanpa berkata sepatahpun laki-laki yang ditabraknya itu berlalu begitu saja meninggalkan Sakura yang masih saja membungkuk maaf. Setelah pria itu dan temannya pergi Sakura segera membereskan kekacauan yang dibuatnya. Sai yang melihat itu semua dari balik meja bartender hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah rekan kerjanya yang kini berlari menuju kamar mandi pegawai.

Sakura terus saja mencuci tangannya dengan sabun di westafel kamar mandi. Ia juga terus saja bergumam bahwa tangannya kini telah kotor dan tidak perawan lagi. Walaupun tidak sengaja tetapi tangannya telah menyentuh kemaluan seorang laki-laki.

Sakura memandang dirinya didalam cermin, rona merah masih belum meninggalkan wajahnya. Dan kini mulutnya tengah sibuk berkomat kamit merutuki kebodohan dirinya sendiri.

Xxx

Suara kekehan tawa masih saja mengisi mobil sport merah Maybach Exelero yang tengah menyusuri jalanan kota Konoha. Perempatan siku terus saja bermunculan dikepala siempunya mobil, sesekali ia mengeluarkan umpatan kecil kepada salah satu temannya yang begitu bersemangat menertawakan kejadian ia alami di bar tadi.

"Sasuke, hati-hatilah menyetir" Juugo salah satu sahabat pria itu yang duduk di kursi depan bersamanya tengah menigatkannya. Juugo sedikit khawatir akan keselamatan mereka saat ini lantaran Sasuke sejak tadi terlihat tidak stabil menyetir. Terkadang pria bersurai raven itu akan menginjag gas dalam dan mendadak merem. Kedua orang lainnya yang duduk di bangku belakang tentu tidak menyadarinya, karena si perempuan berambut merah yang bernama Karin serta pria berambut putih bernama Suigetsu kini tengah asik berdebat.

"Suigetsu, ini semua salahmu!" tuding Karin ke pria bergigi runcing itu.

"kenapa menjadi kesalahanku? Kau jangan mengada-ada Karin!" balas Suigetsu ke perempuan berkacamata itu tidak terima.

"kalau saja kau tidak berdiri tiba-tiba dan menabrak perempuan sialan itu tadi, ia tidak akan menyentuh Sasuke-kun!"

"aku tidak berdiri tiba-tiba, berhentilah menyalahkanku hanya karena kau iri dengan gadis itu!"

"aku tidak iri kepadanya! Apa yang harus aku irikan dari pelayan bar sepertinya?!"

"karena pelayan bar seperti gadis itu yang ternyata lebih dahulu berhasil menyentuh bagian pribadi Sasuke! Akuilah kalau kau kalah Karin!"

"Ya, Kau!" Karin segera menyerang Suigetsu dengan jambakan mautnya sehingga suasana di kursi belakang terlihat sangat gaduh. Makian terus diucapkan Karin dengan suara cemprengnya. Suara yang berisik itu membuat Sasuke kesal dan pusing.

"Kalian berdua diamlah!" teriak Sasuke yang sudah tidak tahan kepada kedua orang tukang gaduh itu, "kalau kalian mengeluarkan sepatah kata saja aku akan menurunkan kalian ditengah jalan!"

Kedua orang itu langsung terdiam mendengar ancaman Sasuke. Sedangkan Juugo hanya tersenyum simpul melihatnya. Pria berambut coklat ini cukup tahu bukan suara berisik Sui-Karin yang mengusik Sasuke, terlebih lagi karena sebenarnya mereka sudah cukup terbiasa mendengar perdebatan kedua orang itu.

Uchiha Sasuke saat ini sebenarnya tengah mati-matian memendam perasaan malunya kepada diri sendiri karena membiarkan seorang gadis asing menyentuhnya, terlebih ketika tepat di daerah selangkangnnya.

TBC


Author Note:

Haloooo… maaf ya karena baru bisa update chap barunya sekarang.. kemaren author sedang mengalami fase yang namanya kehilangan bakat menulis.. tapi puji Tuhan akhirnya semangat dan ide menulis akhirnya telah kembali sehingga bisa melanjutkan cerita ini.. yeeeee!

Nah, author ingin menjelaskan sedikit tentang fanfic ini.. cerita ini mengusung pair SASUSAKU dan dibumbui dengan konflik ke pria/wanita lain nantinya. Siapa dengan siapa itu masih menajdi rahasia..

Hubungan sasusaku di chapter-chapter awal memang belum terlihat, dikarenakan masih berupa penghantar menuju awal mulanya hubungan keduanya nantinya. Di chapter depan juga keduanya belum terikat namun akan lebih sering muncul. Mungkin setelahnya sasusaku akan menghiasi seluruh cerita ini.

Ohh iya cerita ini murni terinspirasi dari pikiran author sendiri, tidak ada niat mengikuti cerita orang lain. Cuma karena mungkin themanya rada pasaran jadi terlihat mirip kali ya… oh iya ini juga benar2 berbeda dari filim india cori2 cupke2 itu, kalau gak diingetin review dari DaunIlalngKuning author juga gak ingat ama itu film. Author bocorinya inti ceritanya bukan di sel telur melainkan di "Lost Kiseki" sama seperti judulnya..

Author juga mau minta maaf kalau chapnya masih terlalu singkat dan masih bertebaran typo serta EYD yg tidak sesuai. Author tidak sempat edit..

Always special thanks buat kamu yang udah Follow, Favorit dan Review..

choco light, Hyuugadevit-Chery, Bang Kise Ganteng, Kiki Kim, piguin, ririsakura, kakikuda, Saisah, carnations, echaNM, love yourself, DaunIlalngKuning, NishiMala, Nindy584, Haruno Yumi,

love you all :3