Author mau minta maaf ya baru bisa update, semoga kalian menikmati chapter yang singkat ini.
Warning: typo, EYD berantakan, OOC..
Lost Kiseki
Satu Langkah Pasti
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Ini sudah memasuki hari kesepuluh semenjak nyonya Uchiha yang baru Sakura ketahui bernama Hinako dari sebuah koran pagi itu menghampirinya. Dan selama sepuluh hari ini juga pikiran Sakura masih saja diganggu dengan permintaan tidak masuk akal dari wanita itu yang membuat Sakura tidak berkonsentarsi dalam pekerjaannya dan kerap kali dimarahi oleh atasannya baik itu di toko obat ataupun di bar tempat ia bekerja.
Selama sepuluh hari ini Hinako juga telah beberapa kali menghampiri Sakura dan mencoba untuk mengajaknya untuk berbicara kembali, namun untungnya selama itu pula toko obat tempatnya bekerja cukup sibuk. Dan nyonya Uchiha itu tidak pernah menghampirinya jika ia sedang berada di bar pada malam harinya.
Hinako yang masih mendatangi Sakura sebenarnya bukan tanpa alasan. Pasalnya semenjak ia mengutarakan keinginannya pertama kali, saat itu Sakura sama sekali belum memberikan jawaban. Gadis bersurai pink itu hanya terdiam menatapnya terkejut dengan kedua bola mata yang hampir keluar. Sakura tidak mengatakan apapun kepadanya sehingga membuat Hinako masih menaruh harapan besar kepadanya. Menurut Hinako akan jauh lebih mudah bila pada saat itu Sakura langsung meneriakinya sebagai perempuan gila yang terobsesi memiliki anak dari pada digantung oleh perasaan penasaran seperti saat ini.
Sakura sendiri belum bisa memberikan keputusan yang tepat apakah ia akan menolak membantu pasangan Uchiha itu atau dengan sukarela memberikan sel telurnya begitu saja kepada mereka. Gadis bermata emerald itu benar-benar bingung. Satu sisi hatinya tidak rela jikalau sel telurnya yang berharga akan menjadi anak orang lain, namun disatu sisi lainnya hati nurani terus mendorongnya untuk memberikan bantuan kepada orang yang sedang kesusahan dan memerlukan pertolongan darinya. Sakura terus saja menghindar, ia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan sekalipun ia sangat ingin membantu.
"Hei Sakura, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ino si gadis penjual bunga yang merupakan sahabatnya ketika melihat Sakura tengah duduk termenung diemperan depan toko obat.
Sakura hanya mendongakan kepalanya menatap Ino yang berdiri di depannya. Mata sayunya seakan berkata kalau gadis itu sedang tidak memikirkan apapun. Sakura menggeserkan duduknya mendekati Shiro anak anjing keluarga Yamanaka yang sedang dirantai didepan toko bunga itu untuk diajak bermain.
"Sakura, jangan mengabaikanku!" protes Ino kepada sahabatnya itu yang tampak sedang menghindarinya, "Aku tahu kau sedang banyak pikiran, beberapa hari ini kau tampak sering sekali melamun dan tidak konsentarsi. Ayo, ceritakan padaku!"
"Aku hanya kelelahan Ino karena kurang istirahat," saut Sakura yang kini tengah membelakangi Ino sambil menggendong anjing kecil itu sebagai tamengnya. Sakura tidak sepenuhnya bohong, ia memang benar kurang tidur akibat terus memikirkan permintaan Hinako. Namun Sakura tidak berani menatap mata aquimare Ino, takut sahabatnya itu mengetahui dilemanya saat ini.
"Sakura….," panggil Ino kembali.
"Ino, aku sudah bilang hanya kelelahan saja!" jawab Sakura tidak sabar dengan masih tidak melihat kearah lawan bicaranya.
"Bukan itu gadis berjidat lebar!" balas Ino dengan sama tidak sabarnya, "tapi sepertinya orang-orang ini sedang mencarimu!"
Sakura melirik sedikit dari sudut matanya untuk melihat siapa orang-orang yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Alangkah terkejutnya gadis ini sehingga dengan refleks melepas Shiro si anjing lucu dari dekapannya dan merapikan pakaiannya dengan gugup.
Didepannya kini terdapat orang-orang berpakaian formal lengkap dengan sepatu pantofel serta jas hitam. Badan orang-orang ini tinggi tegap, dibalik kaca mata hitam yang mereka pakai juga Sakura dapat merasakan bahwa dirinya sedang menatapnya dengan tajam. Hal-hal seperti ini biasanya gadis itu lihat dalam adegan film mafia yang sering ia tonton dan cemoh. Namun melihat langsung seperti ini membuatnya ketakutan.
"Nona Haruno apakah anda memiliki waktu luang sebentar? Tuan Itachi ingin berbicara dengan anda." Salah seorang dari lelaki berjas itu mengutarakan maksud mereka, namun Sakura tidak mengenal siapa yang mereka maksud untuk berbicara dengannya itu refleks mundur selangkah kebelakang tubuh Ino.
Ino yang melihat sahabatnya itu sedikit ketakutan langsung mengambil inisiatif membentengi Sakura dengan membentangkan kedua tangannya seolah menghalangi para pria itu mendekati sahabatnya. "Maaf tuan-tuan sepertinya teman saya ketakutan dan tidak mengenal orang yang anda maksud!"
Pria yang tadi berbicara membungkukan badannya meminta maaf, "kami tidak bermaksud membuat anda ketakutan nona Haruno, kami meminta maaf. Tapi tuan Uchiha Itachi benar-benar ingin berbicara dengan anda, beliau sudah menunggu didalam mobil."
"Uchiha?" Ino mengernyitkan dahinya bingung, sepertinya nama tersebut kelihatan tidak asing ditelinganya tapi ia tidak ingat pernah mendengarnya dimana.
"Hey Sakura, apakah kau mengenal siapa yang mereka maksud ini?" Ino menolehkan kepalanya kearah belakang merujuk ke sahabatnya yang kini tampak sedikit lebih rileks setelah mendengar nama Uchiha tadi. Setelah melihat angukan kepala yang meng'iyakan dari Sakura, Ino menurunkan kedua lengannya yang tadi ia bentangkan.
Salah seorang pria berjas lainnya langsung berinisiatif membukakan pintu mobil yang terparkir didekat trotoar pertokoan itu, "Silahkan nona, tuan Itachi sudah menunggu didalam."
Sakura masih ragu melangkahkan kakinya untuk mendekati mobil itu, ia melirik kearah Ino untuk diberi keyakinan. Ino yang diberi tatapan seperti itu langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kamera. Gadis bersurai pirang itu segera membidik satu persatu wajah orang-orang berjas hitam tersebut serta plat mobil yang akan dinaiki Sakura.
"Sakura kau tenang saja aku telah mendapatkan foto orang-orang ini, kalau saja mereka berbuat macam-macam padamu aku akan segera melaporkannya kepada polisi!" ujar Ino sambil mengancungkan ponselnya.
"kau juga bisa menghajar tuan Uchiha Itachi itu juga jika ia macam-macam denganmu, itu gunanya kita berlatih karate saat sekolah dulu!" Sakura menyungingkan sedikit senyumnya mendengar ucapan sahabatnya itu, satu sisi ia merasa lucu jika saja Ino tahu sadar siapa itu Uchiha ia tidak akan berkata seperti itu. Benar juga, apa yang perlu ditakutkannya jika ia seorang pemegang sabuk hitam karate? Maka dengan langkah yang lebih ringan Sakura menghampiri mobil itu dan masuk kedalamnya.
xxx
Didalam mobil itu Sakura melihat seorang pria dewasa yang sangat berkharisma tampak sedang sibuk menatap seberang jalan dari balik kaca jendela mobil. Pria berparas tampan dan berambut hitam yang sedikit panjang itu tidak mengalihkan tatapannya ketika Sakura masuk dan duduk disebelahnya.
Sakura menilai pria itu dengan seksama, ia yakin bahwa pria ini adalah suami dari wanita yang beberapa hari lalu menghampirinya dengan permintaan yang tidak masuk akal, "Maaf tuan, apa yang ingin anda bicarakan kepada saya?"
"Apakah kau ingin menjadi seorang dokter?" tanya Itachi tanpa menolehkan tatapannya dari jendela. Sakura yang ditanyai seperti itu sedikit bingung namun tetap menganggukan kepalanya dengan pelan. Itachi menyungingkan sedikit seringai samar ketika melihat respon Sakura dari pantulan bayngan di jendela kaca.
"Aku tidak akan berbasa-basi, istriku telah mengatakan kepadamu apa keinginan kami." Kini pandangan Itachi telah sepenuhnya diarahkan ke gadis bersurai pink yang duduk disampingnya. Pandangan matanya sangat tajam sehingga membuat Sakura ciut tidak berani menatap balik.
"Jika kau dapat membantu kami mendapatkan keturunan, aku akan membantumu untuk menjadi seorang dokter yang kau cita-citakan."
"Ba-bagaimana anda tahu saya ingin jadi dokter?" tanya Sakura penasaran. Ia sedikit memberanikan diri walaupun jari-jari kedua tangannya ia remas menahan kegugupan.
"Mudah saja bagiku untuk mendapat semua informasi tentang gadis sepertimu."
Sakura merasa dirinya sedikit bodoh untuk mengajukan pertanyaan tadi. Tentu saja bagi keluarga bangsawan kaya terhormat seperti Uchiha yang juga merupakan pemasok senjata perang negri ini dapat mendapatkan informasi apapun yang ia mau. Dengan relasi yang sangat banyak rahasia Negara ini saja bisa dengan mudah mereka dapatkan.
"Bukankah kau berkeinginan untuk menolong orang-orang dengan kemampuanmu? Lantas kenapa kau tidak menolong istriku untuk mempunyai anak? Aku akan membayarnya dengan menguliahkanmu di universitas kedokteran terbaik diluar negeri dan akses bekerja dirumah sakit ternama."
Sakura menatap Itachi tidak percaya, apakah pria ini sedang berusaha menyogoknya dengan iming-iming seperti itu agar ia mau memberikan sel telurnya? Ia tidak akan luluh dengan hal semacam itu apalagi ia sudah belajar untuk melupakan impainnya untuk menjadi dokter itu.
Seolah mengerti akan tatapan Sakura kepadanya Itachi melanjutkan tawarannya, "Menolong orang yang membutuhkan pertolongan dan mengedepankan keselamatan nyawa orang lain tanpa memikirkan biaya bukankah itu impianmu? Kukira kau tidak akan membiarkan orang lain seperti kakekmu. Ternyata aku salah menilaimu."
Sakura terkesip saat diingatkan kembali tentang kakeknya. Pikirannya kini melayang menuju empat tahun lalu disaat ia baru saja memasuki tahun pertama SMAnya. Saat itu kakek satu-satunya yang tinggal bersama keluarganya tiba-tiba saja harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami serangan jantung. Dokter yang menangani saat itu menganjurkan agar kakeknya harus segera dioperasi untuk menyelamatkan nyawanya.
Sayang operasi itu tidak dapat segera dilaksanakan karena pihak rumah sakit meminta pembayaran duapuluh persen biaya sebagai uang muka. Keluarga Sakura yang hidup dengan sederhana tidak mempunyai uang sebanyak itu dan kalang kabut harus meminjam kesana kemari namun biayanya juga masih belum cukup walaupun telah menguras semua uang tabungan keluarga mereka.
Masih jelas tergambar diingatan Sakura, dimana ia bersama ayah dan ibunya menangis memohon kepada pihak rumah sakit agar kakeknya dapat melakukan oprasi jantung itu lebih dahulu. Namun pihak rumah sakit tetap tidak mengijinkan karena tidak sesuai dengan prosedur hnaya karena biaya uang muka yang kurang. Bahkan saat itu ayah Sakura dengan sangat menyedihkan bersujut memohon kepada seorang dokter bedah jantung untuk menyelamatkan sang kakek namun tetap ditolak dengan alasan yang sama, biaya.
Akhirnya dengan seperti itu kakek Sakura pergi meninggalkan dunia tanpa sempat ditolong. Kejadian itu menimbulkan duka mendalam bagi keluarga Haruno. Dengan dipenuhi duka ayah Sakura menangis memohon agar kelak Sakura dapat menjadi seorang dokter yang berhati nurani agar dimasa depan Sakura dapat menyelamatkan nyawa seperti kakeknya dan menolong keluarga miskin seperti keluarganya.
Tanpa terasa air mata Sakura mengalir secara perlahan dikedua pipinya yang halus. Kenangan itu kembali membawa duka dihatinya. Gadis bermata emerald ini kini merasa bersalah karena telah melupakan harapan ayahnya itu.
"Aku akan membantumu, dan kau tidak perlu merasa bersalah kepada orangtuamu dan membuat mereka bangga." Ucap Itachi seakan-akan bisa membaca pikiran gadis yang tengah menagis itu.
"kau hanya perlu menyumbangkan sel telurmu yang paling sehat untuk ku buahi. Aku akan memberikan semuanya padamu, biaya kuliah, tempat tinggal, uang dan akses kedokteran. Kurasa ini pertukaran yang cukup adil."
Sakura menghapus airmatanya dengan kasar dan menggelengkan kepalanya tidak setuju. Ia merasa terhina. Bagaimana pria bangsawan ini bisa mempergunakan kelemahan dan dukanya sebagai senjata untuk mendapatkan tujuannya?
Sekalipun ia harus melupakan harapan orangtuanya, Sakura yakin ayahnya pasti mengerti situasi ekonominya saat ini. Arwah ayahnya pasti bersabar menunggunya untuk mengumpulkan uang dahulu dan kemudian melanjutkan kuliah kedokterannya. Dan Sakura juga percaya bahwa ayahnya pasti menentang keras jika Sakura harus merelakan sel telurnya yang berharga demi ditukar sebagai biaya kuliah kedokteran.
Dengan meyakini itu Sakura akhirnya telah membuat keputusan yang sulit sekali ia ambil sepuluh hari belakangan ini. Sakura menatap Itachi dengan keyakinan teguh dan menjawab "Maafkan saya tuan Uchiha, saya tidak akan memberikan sel telur saya. Silahkan anda cari gadis lain, saya tidak bisa!"
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut dari Itachi, Sakura segera membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Dengan menyimpan sedikit rasa sopan santun Sakura membungkukan badannya hormat didepan mobil, "Maaf saya tidak bisa mengobrol lebih lama lagi, pemilik toko akan marah jika saya belum membuka tokonya."
Setelah mengatakan itu Sakura segera meninggalkan Itachi yang masih terdiam didalam mobil dan bergegas menghampiri Ino yang sedari tadi masih setia menunggu Sakura didepan toko bunga keluarganya.
"Sakura kenapa lama sekali? Apa yang kalian bicarakan didalam sana? Dan siapa itu Uchiha Itachi? Namanya terdengar tidak asing dan kenapa kau tidak pernah menceritakan tentang orang itu padaku?" Ino segera memberondong Sakura dengan berbagai macam pertanyaan.
"Aduh kau ini Ino, kenapa pertanyaanmu banyak sekali?" Sakura menanggapi sahabatnya yang tampak penasaran itu, "Aku akan menceritakannya nanti padamu, sekarang ayo bantu aku membuka toko obat sebelum kakek Jiraya datang dan memarahiku karena membiarkan pembelinya menunggu."
"Baiklah, tapi kau harus janji akan cerita nanti kepadaku!" ujar Ino kemudian mengikuti Sakura masuk kedalam toko untuk membantu Sakura merapikan rak-rak obat sebelum toko dibuka.
"Sakura, kenapa kakek mesum itu belum datang padahal sudah siang begini?" tanya Ino membuka kembali pembicaraan, gadis ini benar-benar tidak bisa diam.
"Entahlah Ino, mungkin kakek Jiraya kemarin malam pergi minum dengan sahabatnya dan ketiduran samapi sekarang."
"Maksudmu dengan dokter yang dia ceritakan sebagai cinta pertamanya itu?" tanya Ino yang dibalas dengan anggukan dari Sakura. kedua gadis itu tampak asik melakukan pekerjaannya, menyapu serta merapikan rak obat. Sampai suara nada dering Ino yang sangat berisik melantun dengan keras mengusik mereka.
"Halo ayah?" sapa Ino kepada orang diseberang sana yang meneleponnya, dan kemudian merepet "kenapa ayah belum datang ke toko kita? Sepertinya semua orang tua sedang bermalas-malasan, kakek Jiraya juga belum datang ketoko obat!"
"….."
"Apa?!" teriak Ino yang menarik perhatian Sakura.
Xxx
Dengan hati-hati salah seorang dari pengawalnya menghampiri sang tuan muda Uchiha yang masih terdiam didalam mobilnya. Tidak ada seorangpun yang berani mengusik keheningan pria itu, terlebih karena pria yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya baru saja ditolak permintaannya,"T-tuan, apakah kita sekarang balik ke kantor? Sekertaris anda baru saja menghubungi bahwa anda ada rapat sejam lagi."
"Aku tidak akan bergerak seinchi pun dari tempat ini sebelum mendapatkan apa yang kumau!" mendengar suara tegas Itachi membuat pengawalnya itu ciut dan berlalu pergi setelah mengangukan kepalanya tanda ia mengerti akan keinginan tuannya itu.
Itachi merupakan seorang pebisnis yang handal, ia memiliki insting yang tajam untuk meraih keuntungan bagi perusahaannya dan ia tidak akan pernah menyiakan kesempatan dan proyek yang dianggapnya menarik. Begitupula didalam kehidupannya, ia juga menggunakan prinsip yang sama dengan berbisnis.
Dari awal Itachi sudah memiliki insting yang tajam terhadap gadis bersurai merah muda yang ditidak sengaja ditemuinya di bar itu. Ia tahu bahwa suatu saat ia akan membutuhkan gadis itu dan memberikan keuntungan kepadanya, oleh sebab itu ia tidak akan semudah itu menerima penolakan gadis itu dan mencari perempuan lain. Terlebih lagi istrinya juga telah menyukai dan memilih gadis tersebut sebagai ibu calon anak merekaitachi tidak pernah gagal dalam mempertaruhkan bisnisnya, maka untuk kali ini ia juga tidak akan mau gagal mendapatkan keinginannya dalam mempertaruhkan kehidupan pernikahannya.
'Tok..tok..tok!' jendela kaca mobilnya diketuk keras, sehingga membuat Itachi memperhatikannya. Pria itu sedikit terkejut ketika mendapati bahwa orang yang mengetuk jendela mobilnya adalah orang yang sama dengan yang menolak tawarannya beberapa saat lalu. Kedua bola mata yang sehijau jamrud itu tampak mengabur karena dipenuhi oleh air mata.
xxx
"Apa?!" teriak Ino yang menarik perhatian Sakura.
"..…."
"A-ayah tidak berbohong kan?" tanya Ino kepada orang diseberang sana sambil mulai menangis, "Bagaimana ini semua dapat terjadi ayah?"
"…..," Air mata Ino semakin deras mengalir tat kala mendengar penjelasan dari ayahnya dari seberang sana.
Sakura yang melihat itu dibuat keheranan dan perasaanya juga mulai tak enak seperti ada hal buruk yang akan menghampirinya. "I-ino, apa yang sedang terjadi?"
Setelah mematikan sambungan telepon Ino langsung saja memeluk sakura dengan erat sambil terus menangis, "Ino katakana padaku ada apa ini? apa yang dikatan paman Inoichi kepadamu dan membuatmu menangis begini?"
"Sa-sakura ayah mengatakan kepadaku hiks.." Ino berusaha menyampaikan kabar yang diterimanya sambil terisak kepada sakura, "hiks.. ayah bilang bahwa.. hiks.. kakek Jiraya telah meninggal..hiks.."
Mendengar hal itu mendadak membuat tubuh Sakura kaku, ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana mungkin kakek tua itu meninggal begitu saja tanpa berkata apapun kepada mereka. Walaupun tidak ada hubungan darah, Sakura dan Ino telah mengangap Jiraya sebagai kakek kandung mereka. Lelaki tua itu sangat akrab dengan kedua gadis itu dan kerap memberikan cerita-cerita lucu dan mesum yang membuat mereka berdua tertawa.
Perasaan duka yang mendalam kini sekali lagi tengah dirasakan Sakura. Setelah kepergian kakeknya, kedua orangtuanya dan kini kakek tua yang berbaik hati menolongnya. Sambil menangis histeris Sakura kembali mengigat kenangannya bersama si pemilik toko obat tradisional tempatnya bekerja. Jiraya dengan senang hati menerima Sakura yang saat itu tidak memiliki pengalaman untuk bekerja bersamanya, kakek tua itu jugalah yang meminta kepada Nagato manajer bar tempatnya bekerja agar ia diterima dan dijaga dengan baik.
"Apa yanag terjadi dengan kakek Jiraya Ino?"
"Ayah bilang bahwa ia ditelepon oleh seseorang tetangga kakek Jiraya dan mengatakan bahwa kakek itu masuk rumah sakit karena penyakitnya kumat. Sahabat kakek yang biasa menanganinya sedang melakukan seminar diluar negeri dan dokter lain tidak mau melakukan tindakan karena alasan administrasi dan biaya. Hiks..hiks.." jelas Ino masih dengan isak tangisnya.
Sakura kembali seperti ditampar mendengarnya. Hal seperti ini terulang kembali didalam kehidupannya, padahal dahulu ia pernah bersumpah bahwa tidak akan mebiarkan keluarganya mengalami hal yang serupa lagi seperti kakeknya. Namun lihat kini apa yang kembali terulang? Keluarganya sekali lagi mengalami hal yang sama.
Tanpa berpikir lagi Sakura segera melepaskan pelukan Ino dan berlari kencang keluar toko tersebut. Matanya dengan liar mencari mobil mewah yang tadi sempat dimasukinya, setelah menemukan mobil itu masih terparkir disekitar situ Sakura segera bergegas berlari kearah sana.
Sesekali Sakura menabrak tubuh orang yang berjalan disekitarnya, ia juga hampir tersandung karena pandangannya tidak jelas ditutupi oleh derasnya air mata. Yang ingin ia lakukan hanya cepat sampai di mobil itu dan mengetuk jendelanya dengan keras.
"Nona apa yang sedang anda lakukan?" tanya seorang pengawal pria itu sambil menghalangi Sakura untuk terus mengetuk jendela mobil.
"Aku ingin berbicara dengan tuan Uchiha!" pinta Sakura dengan penuh air mata. Belum sempat sang pengawal menjawab jendela kaca mobil diturunkan setengah oleh Itachi dan memberikan kode kepada pengawalnya untuk membiarkan gadis itu masuk.
Sakura yang melihat itu segera membuka pintu mobil dan masuk sebelum dipersilahkan. "Tuan, jadikan aku seorang dokter! Aku akan memberikan sel telurku padamu!" pinta Sakura dengan tangis yang memilukan. Mulai saat ini tekat kuat Sakura sudah bulat dan ia akan mewujudkannya.
xxx
Insting Itachi sekali lagi telah terbukti, dan ia tidak pernah gagal mendapatkan keinginannya. Tuhan seolah-olah selalu berpihak kepadanya, tanpa ia bertindak lebih jauh Tuhan telah menunjukan jalannya. Gadis itu pada akhirnya datang sendiri untuk mengajukan diri. Setelah melakukan pembicaraan kesepakatan dengan gadis itu, kini yang perlu dilakukannya hanyalah melanjutkan proses selanjutnya untuk mendapatkan keturunan yang telah lama ia dambakan.
Itachi menekan beberapa tombol di layar ponselnya untuk menghubungi salah satu dokter kepercayaan keluarganya, "Dokter Kabuto, siapkan segala sesuatu yang diperlukan. Kami akan melakukan proses bayi tabung itu dan lusa aku akan membawa si pendonor untuk melakukan tes kesehatan."
Sang dokter yang dihubungi sesungguhnya sedikit terkejut mendapat telepon seperti itu dari tuan pewaris Uchiha itu. Pasalnya ini sudah berbulan dari terakhir kali mereka bertemu ataupun berbicara. Dokter itu sempat mengira bahwa usulannya terdahulu telah ditolak. Tapi tanpa berkomentar apapun sang dokter hanya menuruti keinginan Itachi dan mengatakan apa saja yang harus Itachi dan Hinako persiapkan untuk proses bayi tabung situ.
Setelah menutup panggilan ke Kabuto, sekali lagi Itachi menekan beberapa angka di ponselnya untuk menghubungi adik satu-satunya untuk meminta beberapa pertolongan.
"Baka aniki ada apa menelponku hah?!" tanya sang adik dari seberang sana. Raut wajah Itachi segera saja berubah rileks ketika mendengar suara adiknya terlebih lagi suara adiknya yang terdengar sangat kesal itu.
"ya, kau otouto kurang ajar! Bagaimana kau tidak memiliki sopan santun sedikitpun kepada anikimu?" komentar Itachi kepada adik kesayangannya itu.
"aniki apa yang kau ingin kau bicarakan? Aku sedang sibuk bermain game melawan si gigi hiu ini!" Itachi terkekeh sekilas ketika mendengar suara berisik diseberang sana yang Itachi terdengar seperti omelan dari teman adiknya yang dikatai bergigi hiu oleh Sasuke.
"Sasuke, kau sudah dewasa otouto. Saat aku seumuranmu aku telah menikah dan menjalankan bisnis ayah bukannya bermain game bersama temanku seharian."
"Tidak perlu menasehatiku, sekarang cepat katakana apa yang aniki inginkan!" jawab Sasuke kesal karena dikatai belum dewasa oleh kakaknya itu.
"Bisakah kau menjauh sebentar dari teman-temanmu? Aku ingin meminta tolong sesuatu kepadamu," pinta Itachi.
"Kenapa? Aku sedang asik bermain sekarang aniki. Lagian kalau mau minta tolong, minta saja kepada para bawahanmu yang banyak itu," tolak Sasuke ogah-ogahan.
"Sasuke….," suara dalam Itachi yang terdengar serius membuat Sasuke diseberang sana sedikit merinding dan refleks segera menuruti apa yang dikatakan kakaknya.
"Baiklah aku sudah menjauh sekarang, jadi katakana apa yang aniki minta tolong kepadaku?" tuntut sasuke tidak sabaran.
Sedikit menghela nafas Itachi menyampaikan maksudnya, "Dengarkan aniki baik-baik Sasuke, aku tidak akan meminta tolong hal seperti ini kepada orang lain, selain padamu. Aku mohon padamu tolong..…,"
Diseberang sana Sasuke bebrapa kali mengerjapkan matanya dan mengusap telinganya untuk meyakinkan apa yang tengah dia dengar bukan sesuatu yang gila.
xxx
Sakura menyusuri jalan dengan langkah gontai. Ia masih tidak percaya dengan kejadian yang telah terjadi kemarin siang. Si bangsawan Uchiha menghampirinya, kenangan pahit keluarganya, kematian kakek Jiraya yang mendadak, dan kegilaannya menuruti keinginan bangsawan Uchiha itu.
Sakura menegadahkan kepalanya menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Langit sangat redup seakan-akan akan turun hujan sebentar lagi sehingga membuat suasana sangat sunyi padahal waktu masih menunjukan pukul sembilan malam.
Sakura baru saja pulang dari bar tempat ia biasanya bekerja part time sebagai waiters. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja disana sehingga ia kini pulang lebih cepat dari biasanya. Tidak ada masalah yang menyebabkan ia harus berhenti dari bar itu, Nagato manajernya yang galak juga tadi berusaha mempertahankannya untuk tetap bekerja. Selain itu setelah kepergian kakek Jiraya toko obat juga akan ditutup hingga sahabatnya yang seorang ilmuan diluar kota mengambil alih sesuai dengan isi surat wasiat kakek itu. Padahal Sakura masih ingin sekali bekerja di toko obat itu nantinya. Tetapi kesepakatan tetaplah kesepakatan.
Kemarin siang ia telah bersepakat dengan Uchiha Itachi bahwa ia diwajibkan untuk keluar dari pekerjaanya sebagai waiters dan pelayan ditoko obat. Pria itu telah berjanji akan menangung biaya kehidupannya sampai ia diterima menjadi dokter nantinya. Ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi selama ia tetap memegang syarat yang telah diajukan.
Sambil terus melamun Sakura tidak sadar telah melangkahkan kakinya melewati sebuah taman yang sangat sepi disekitar apartemennya. Disaat malam hari Sakura akan memilih menghindari jalan lewat taman ini, ia akan memilih jalan yangsedikit lebih panjang namun ramai dilewati orang dan toko-toko.
Ketika telah sadar ditengah-tengah taman tersebut, Sakura segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju apartemennya yang gedungnya sudah mulai kelihatan. gadis perawan berumur Sembilanbelas tahun, dan faktor keamanan sangatlah penting.
Namun ketika langkah kakinya semakin meninggalkan taman tersebut ia sedikit mendengar suara-suara aneh. Sebenarnya suaranya sangat pelan dan tersamarkan oleh suara dedaunan yang ditiup angin, tetapi telinga Sakura yang sangat sensitif masih mampu mendengarnya. Mata Sakura langsung nyalang untuk mendeteksi keadaan sekitar dan pandangannya tertumpu kesebuah mobil sport mahal berwarna merah yang tengah terparkir disisi kiri taman.
Sakura yang jiwa dokternya sudah mulai keluar memberanikan dirinya untuk mendekat kearah mobil tersebut karena mendengar suara orang kesakitan dari arah sana. Terlebih lagi mobil mewah terparkir didaerah pinggiran seperti itu sangat mencurigakan sehingga membuat Sakura semakin penasaran.
Dengan perlahan-lahan Sakura telah sampai disamping mobil itu, rasa penasaran akan sumber suara kesakitan itu membuatnya berani untuk mengintip kedalam melalui kaca yang gelap itu. Seketika gadis berambut pink itu tersentak kaget dan berterian kencang.
"Kyaaaaaaaaaaaa!"
xxx
Beberapa saat sebelumnya tampak seorang pemuda yang sedikit mencurigakan dengan jaket hoodie, topi hitam dan juga masker keluar dari sebuah toko rental Dvd. Dengan buru-buru pemuda itu langsung memasuki mobilnya yang terparkir agak jauh dari toko itu karena tidak mau ketahuan walaupun ia sudah memakai penyamaran seperti itu.
Setelah memasuki mobilnya, dengan segera juga pemuda itu menancapkan gas untuk meninggalkan daerah itu. Ketika merasa cukup aman pemuda itu akhirnya menaggalkan maskernya agar bisa berbicara lebih jelas. Wajah tampannya kini terlihat sangat kesal, ia sedang mencoba menghubungi seseorang untuk ia maki-maki namun orang yang dituju sedang menonaktifkan ponselnya.
Masih sambil menyetir pemuda itu mencoba meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada sebuah kontak yang bernama 'baka aniki'. Rangkaian kata-kata kutukan segera ia layangkan kepada kakaknya yang sedikit gila menyuruhnya melakukan ini.
Sasuke Uchiha, pria dengan harga diri setinggi langit harus rela melakukan sebuah hal nista demi kakaknya yang gila. Ia tidak tahu diamana letak otak kakaknya itu ketika meminta tolong kepada dirinya untuk menyewa beberapa judul film yang katanya ingin ditonton bersama istri tercinta. Kalau saja Sasuke tahu film seperti apa ia tidak akan pernah sudi menerimanya. Dengan kata lain ia telah terjebak oleh sang kakak yah memeliki selera jahil yang aneh.
Masih terngiang dibenak Sasuke bagaimana tadi tatapan jahil penjaga toko rental Dvd itu ketika Sasuke menyebutkan sederet judul film yang ia cari. Penjaga toko itu seperti mengangapnya sebagai maniak mesum ketika memberikan tumpukan video yang disebutkannya tadi. Kami-sama, itu video porno! Sasuke rasanya ingin membakar semua video itu bersama dengan kakaknya Itachi yang keriput dan menyebalkan itu.
Kenapa kakaknya itu tidak bilang dari awal, kalau hal seperti ini Sasuke tidak perlu menjatuhkan harga dirinya ketempat ini. ia bisa saja meminjam koleksi video Suigetsu yang sering mereka tonton bersama didalam mobil sport mewah Sasuke bila sedang iseng. Katakanlah Sasuke tidak sealim penampilannnya.
Entah apa maksud Itachi menyuruh Sasuke mencari film seperti itu. Entah karena hanya ingin mengerjai sang adik atau memang ia sedang butuh referensi dalam hubungannya bersama sang istri. Sebenarnya si sulung Uchiha itu bisa dengan gampang mendapatkan hal seperti itu di internet, tapi otak jeniusnya hanya bekerja saat menjalankan bisnis saja, hal-hal semacam itu bernilai nol besar dalam kemampuan otaknya. Dan menyuruh asisten dan pegawainya untuk mencari hal seperti itu akan mencoreng martabatnya saja. Oleh sebab itu ia mengandalkan sang adik yang dunianya sedikit lebih liar.
Jadi disinilah Sasuke yang seperti kerbau dicucuk hidungnya untuk pertama kalinya menyewa film laknat seperti itu demi kakak yang paling ia cintai di dunia. Sasuke bisa jadi bahan tertawaan teman-temannya kalau sampai melakukan hal ini. Maka sibungsu Uchiha sedikit lega karena memiliki insting untuk menyamarkan identitasnya dan pergi kedaerah pinggiran untuk mengatisipasi agar tak seorangpun mengenalinya.
Sesekali mata onix Sasuke melirik kantungan yang tergeletak dikursi penumpang sebelahnya. Oke, kalau boleh jujur sebenarnya si tsundare Sasuke ini sedikit penasaran dengan cerita vcd yang tadi ia sewa. Mau bagaimana lagi ia juga lelaki dewasa, terlebih ia sudah sering diracuni oleh sahabatnya yang paling kurang ajar Suigetsu dengan sering memutar film laknat seperti itu di vcd player mobil tercintanya ini.
Laju kendaraan Sasuke kini tengah melambat dijalanan, ia sedikit tidak konsentrasi menyetir karena dihantui oleh perang batin untuk memutar salah satu video laknat yang dari covernya telah membuat Sasuke penasaran.
Setelah meyakinkan diri bahwa ia tidak akan pernah bisa menonton hal seperti ini dirumah akhirnya Sasuke membelokan mobilnya kesebuah jalanan sepi. Sasuke memarkirkan mobilnya itu disekitaran taman sepi yang agak sedikit gelap dan tertutup. Ia tidak mau mengambil resiko bila nanti ada orang yang memergokinya sedang melakukan hal nista.
Ketika merasa cukup aman, Sasuke segera mengambil video laknat itu dan memutarnya di dvd player yang terdapat diatas dashboard mobilnya yang mewah. Dan beginilah Sasuke saat ini tengah menikmati tiap adegan yang tegah berputar, sambil sesekali mepermainkan gundukan yang tengah membuat celananya sesak.
Kedua mata Sasuke terlalu focus menatap kearah lcd sehingga ia tidak menyadari seseorang tengah mengintai kedalam mobilnya, hingga suara nyaring itu memecahkan konsentarsinya dan membuatnya kaget setengah mati.
"Kyaaaaaaaaaaaa!"
Sasuke terlonjak kaget dari duduknya ketika mendengar suara teriakan yang cukup nyaring dan mengelegar itu. Mata Sasuke segera bergerak cepat mencari sumber suara dan mendapati seseorang perempuan tengah menjerit-jerit panik disisi mobilnya. Tidak kalah paniknya Sasuke langsung mematikan tontonannya dan merapikan celananya sebelum keluar menghampiri perempuan itu.
"Hei nona, kumohon tenanglah," pinta Sasuke kepada perempuan yang masih heboh menjerit itu.
"Kyaaaa! Kyaaaa! Ada orang mesum! Kyaaa…!" Perempuan aneh tersebut berteriak-teriak sambil melompat-lompat sehingga membuat kepala Sasuke sakit mendengar dan melihatnya.
"Ada lela- eusshhhmm.." dengan tidak sabar Sasuke langsung membekap mulut perempuan itu agar tidak menjerit lagi dan menarik perhatian orang-orang. Bisa gawat urusannya kalau hal ini sampai tersebar dan ia bisa dibunuh ibunya kalau sampai ketauan menonton film porno di tempat umum.
"Holongg! Holoongghh! Ahu ahu hi hehirhoha!" perempuan tersebut terus saja mencoba berteriak sekeras-kerasnya walaupun mulutnya tengah dibekap oleh Sasuke. Badan perempuan itu juga telah dihimpit Sasuke ke badan mobilnya agar perempuan tersebut tidak bisa bergerak, tapi memang sepertinya perempuan tersebut memiliki tenaga badak sehingga membuat Sasuke kesulitan menahannya.
"nona tenanglah dan jangan berteriak, ini hanya salah paham!" mohon Sasuke namun sepertinya tak didengar perempuan itu karena panik dan terus memberontak.
"ARrrgghhh!" teriak Sasuke keras dan melepaskan bekapan tangannya dari mulut perempuan itu. Melihat adanya peluang perempuan itu segera mendorong tubuh Sasuke hingga jatuh.
xxxx
Apa yang tengah dilihat oleh kedua mata emerald Sakura yang masih suci membuat otaknya menjadi blank, yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah menjerit-jerit tidak jelas. Apalagi ketika melihat lelaki mesum itu turun dari mobilnya dan berjalan kearahnya membuatnya panik dan semakin keras untuk menjerit.
Otak pintar Sakura tampak tengah tersendat sehingga ia tidak mampu mencerna dengan baik apa yang tengah lelaki mesum itu katakana. Yang ia tahu lelaki itu akan berbuat jahat kepadanya sehingga Sakura makin menjerit terlebih ketika lelaki mesum itu membekap mulutnya dan mengukungnya. Ya Tuhan, ia mau diperkosa!
Mata bulat Sakura membesar karena panic, ia berusaha sekuat mungkin untuk berteriak meminta tolong dan melepaskan diri. Kini ia tengah merasa ketakutan dan menyesal. Seharusnya ia tadi tidak memilih melewati jalan ditaman yang sepi ini, atau setidaknya tidak mencari tahu asal suara aneh yang didengarnya tadi. Kami-sama ia tidak mau kehilangan keperawanannya dengan cara seperti ini!
Sakura yang sudah mulai dapat berpikir mencoba mencari cara untuk terlepas dari lelaki ini, walaupun kepanikan belum pergi darinya. Ia mengingat-ingat beberapa gerakan yang dapat ia peraktekan saat mengikuti karate waktu sekolah dulu. Namun yang ada hanya salah satu penyesalan lagi, mengapa ia dulu harus terbujuk rayuan Ino untuk membolos dan berhenti mengikuti latihan bela diri itu. lihatlah kini ia sama sekali tidak bisa menghajar lelaki mesum yang mencoba ingin memperkosanya ini.
Sepertinya Tuhan masih mengasihani Sakura sehingga memberikan ide untuk mengigit tangan yang tengah membekap mulutnya dengan sekeras mungkin dan mendorong lelaki itu hingga ia terbebas. Sakura segera meraih tas selempangnya yang tadi sempat terjatuh saat ia sibuk menjerit.
Melihat lelaki mesum itu tengah lengah n masih merasa sakit ditangannya, Sakura segera mengambil kesempatan ini untuk menghajar lelaki itu dengan tas sebagai senjatanya.
"Auu! Nona hentikan! Auu!" jerit lelaki itu kesakitan sambil berusaha melindungi diri dari gebukan tas Sakura yang membabibuta. Bagaimana tidak sakit, isi tas nya Sakura itu dipenuhi oleh benda-benda seperti sepatu wedges, tentengan kunci, powerbank dan tempat minum stainless.
"Rasakan ini lelaki mesum!" bentak Sakura sambil melayangkan pukulan tasnya, "ingin memperkosaku, hah?! Mati kau!"
"Nona, ampun!" buk.. buk..! Sakura terus memukulinya bagai orang kesetananan "Auggghh!"
"Ya! Berdarah!" teriak lelaki itu membuat pukulan selanjutnya terhenti melayang diudara. Sakura melihat lelaki itu tengah meringis memegangi pelipisnya yang berdarah hasil dari serangan Sakura.
"aku tidak akan meminta maaf! Kau ingin memperkosaku!" teriak Sakura membela diri, padah lelaki itu tidak berkata apapun. Merasa cukup aman Sakura sedikit menjauh dan tas senjatanya masih ia pegang erat bersiap-siap jika lelaki mesum itu hanya berpura-pura lemah.
"ini hanya salah paham nona, aku bukan lelaki mesum seperti yang kau maksud," jelas lelaki itu, "dan aku sama sekali tidak ada niat untuk memperkosamu."
"Bohong! Aku melihatmu sedang menonton dan melakukan sesuatu didalam mobil! Dan kau juga membekapku!" tuduh Sakura masih belum percaya. Pipi Sakura sedikit merona merah karena teringat kejadian tadi ketika memergoki lelaki itu melakuakn hal nista.
"oke, aku mengaku salah kerena menonton hal seperti ditempat umum," pipi lelaki itu juga turut memerah malu atas tidakannya.
"Tapi nona, aku sama sekali tidak ada niat buruk padamu. Aku hanya membekapmu agar tidak memancing keributan orang-orang." Mata Sakura menyiratkan kalau ia belum sepenuhnya percaya akan ucapan lelaki itu.
"Namaku Sasuke, aku berasal dari keluarga terpandang. Aku bersumpah demi kehormatan keluargaku aku tidak ada niat memperkosamu nona. Ibuku akan membunuhku terlebih dahulu bila aku memiliki niat seperti itu." Sasuke sengaja tidak menyebutkan nama keluarganya, ia tidak mau kelakuannya tadi mencoreng martabat keluarganya yang tinggi itu. "kau bisa melaporkanku ke polisi kalau aku berbohong!
Sakura memutuskan mempercayai ucapan lelaki itu ketika mendengar orangtua lelaki itu dibawa-bawa. Ia yang anak yatim piatu jadi sedikit baper. "Baiklah aku percaya dengan ucpanmu, Sasuke."
Huhhff.. Sasuke menghela nafas lega, "terimakasih nona, kuharap tidak ada salah paham lagi diantara kita."
Melihat anggukan kepala persetujuan dari Sakura, tanpa mau repot-repot meminta maaf atau memperpanjang pembicaraan Sasuke segera berbalik meninggalkan Sakura dan memasuki mobilnya. Sakura hanya terkesip melihat tindakan Sasuke yang beralalu begitu saja.
Sasuke hanya menurunkan setengan kaca jendela mobilnya untuk memberikan kalimat yang membuat Sakura menyesal tidak menghajarnya habis-habisan.
"Hey nona bersyukurlah kepada Tuhan karena ia menciptakanmu wajah paspasan dan dada rata, itu membuatku sama sekali tidak berselera memperkosamu! HAhaha.." setelah tertawa mengejek Sasuke segera menutup kaca jendela mobilnya dan tancap gas untuk menghajar kakaknya dirumah.
"Ya! Lelaki mesum kurang ajar! Sini kau, aku akan menghabisimu sampai babak belur! Ya!" teriak Sakura mencak-mencak yang hanya bisa didengar oleh dedaunan pohon yang tertiup angin.
Xxxx
Itachi Uchiha sedang tersenyum serta sesekali kelepasan tertawa, sehingga membuat supir yang kini tengah membawanya pulang sedikit penasaran. Itachi baru saja pulang dari meeting perusahaan dan mengaktifkan ponselnya.
Ia sedikit heran melihat banyak sekali email dan pesan suara dari adiknya tercinta. Itachi membuka salah satu pesan adiknya yang kemungkinan saja penting karena memngiriminya pesan sebanyak itu. Kontan saja Itachi langsung tersenyum bebaca n mendengarkan semua pesan adiknya yang isinya kurang lebih sama, adiknya itu sedang jengkel dan merutuki dirinya.
Mengerjai Sasuke adalah hiburan yang sangat berharga bagi Itachi, ia tidak tahu smapai kapan akan melakukan hal ini. mungkin ketika mereka telah memiliki anak dan cucu, Itachi juga tidak bisa menjamin akan berhenti.
Anak? Cucu? Kini raut wajah bahagia Itachi telah hilang. Ia tidak tahu harus sampai kapan ia dan istrinya Hinako akan merasakan memiliki seorang anak, dokter kepercayaannya masih belum memberikan hasil dari tes yang mereka lakukan tempo hari.
Pucuk dicinta ulampun tiba, sepertinya ini pepatah yang tepat. Karena ponsel Itachi tengah berbunyi menandakan adanya panggilan masuk, disitu tertera nama dari dokter Kabuto.
Tanpa perlu berbasa basi Kaboto segera menyampaikan maksudnya begitu telfonya diangkat, " Tuan Itachi hasil pemeriksaanya semua sehat dan baik. Jika bisa besok datanglah besama si pendonor, kita akan melakukan proses ini secepat mungkin. Selamat malam."
Sama seperti tadi, tanpa basa-basi telefon juga segera diputuskan. Seolah-olah Kabuto mengetahui kalau Itachi menyetujuinya tanpa mendengar sepatah katapun keluar dari pria itu.
Xxxx
Ketiga anggota keluarga Uchiha tampak tengah turun keluar dari mobil. Mereka bertiga saat ini tengah berada diparkiran Senju General Hospital. Dua diantaranya berjalan mendahului menuju lobby rumah sakit meninggalkan si bungsu Sasuke dibelakangnya.
Setelah merasa jaraknya cukup aman Hinako berbisik ke suaminya, takut kedengaran oleh pemuda dibelakang mereka, "Anata, kenapa kau mengijinkan dia ikut dengan kita? Bagaimana kalau nanti ketahuan?"
"kau tenang saja, ia sepertinya memiliki urusan sendiri. Semua akan baik-baik saja." Namun jawaban Itachi sama sekali tidak membuat Hinako tenang, ia sangat takut kalau adik iparnya mengetahui tujuan mereka saat ini dan memberitahukan aib yang tengah disembunyikannya kepada sang mertua.
"Sasuke-kun, apa yang ingin kau lakukan dirumah sakit ini?" tanya Hinako seolah penasaran padahal ia hanya ingin memastikan Sasuke agar tidak membututi mereka.
"apa kakak ipar tidak melihat luka ini?" tunjuk Sasuke kearah pelipisnya yang terluka dan bengkak, "aku ingin memeriksa luka yang diakibatkan perempuan badak itu, dan memastikan ini tidak berakibat serius."
Hinako kini bisa bernafas lega. Kini ia ingin sedikit menggoda adik iparnya itu, "aku dengar dari Itachi, perempuan itu memukulmu kemarin karena kau ingin menciumnya ya?"
Mata Sasuke mendelik kesal kerah kakaknya yang kini berjalan sendiri didepan mereka, dan mengumpat "Baka Aniki!"
"Sssttt!" salah satu perawat yang kebetulan berpapasan dengan mereka menegur Sasuke dengan kerasa, "tuan ini rumah sakit! Jadi jangan berteriak!"
Kini Sasuke menjadi semakin kesal karena perawat yang tidak mengenalnya sebagai salah satu pewaris saham rumah sakit itu.
"Sebaiknya aku pergi memeriksakan lukaku saja," keluh Sasuke kepada Hinako dan meninggalkan kakak iparnya yang sedang cekikikan itu kearah yang berlawananan.
xxx
Rumah sakit siang ini tampak cukup ramai, padah sudah hampir memasuki jam makan siang. Sakura tampak tengah mondar mandir melewati lorong-lorong rumah sakit yang cukup luas dan besar ini. Dengan seksama Sakura memperhatikan papan petunjuk arah ataupun papan nama ruangan yang dilewatinya.
Obstetrik ginekologi, sedari tadi Sakura mencari ruangan klinik itu. Ia telah memutar dari tadi, bisa dikatakan ia tengah tersesat. Sebenarnya ia tadi telah sampai di bagian klinik itu dibantu oleh seorang petugas keamanan rumah sakit. Sakura yang pada dasarnya memiliki cita-cita menjadi dokter dan impian bekerja dirumah sakit sebesar Senju General Hospital membuatnya penasaran dan ingin menjelajahi tempat itu.
Baru saja ia ingin melanjutkan pencariannya, Sakura seperti melihat seseorang yang tampak familiar dimatanya. Cukup lama ia memperhatikan orang tersebut sehingga ia cukup yakin dan memutuskan untuk menghapiri.
"Hey! Sasuke silelaki mesum, sedang apa kau disini?" sapa Sakura ke seseorang yang tangah duduk menunggu sambil sibuk bermain game di ponselnya.
Sasuke yang tengah disapa sedikit terkejut, ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan perempuan mengerikan yang telah menghajarnya semalam ditempat ini. sasuke ingin membalas perkataan Sakura dangan mengatainya perempuan badak, namun mengurungkannya karena melihat tatapan jengkel dimata Sakura. Dan apa itu yang digengaman perempuan itu? Sebuah tas. Sasuke tidak mau lagi berurusan dengan tas maut Sakura yang kita tidak tahu kali ini isinya ada benda berbahaya apa saja.
"Berobat," jawab Sasuke singkat kemudian melanjutkan kegiatannya tadi.
"Bagus sekali, kau memang tampak perlu berobat untuk mengobati penyakit mesum dikepalamu itu," sindir Sakura.
"Dengar ya nona aku tidak mau berdebat denganmu, ini rumah sakit." Sasuke berusaha memendam rasa jengkelnya, ia tidak mau terpropokasi oleh Sakura dan mempermalukan harga dirinya didepan orang banyak seperti ini.
"Seharusnya anda berterimakasih karena aku tidak menuntutmu yang telah berbuat kasar kepadaku hingga terluka seperti ini," Sasuke menunjukan luka di pelipisnya yang membengkak itu.
"Enak saja! Seharusnya lelaki mesum sepertimu yang harus berterimakasih karena saat ini tidak menghajarmu yang telah mengataiku semalam," balas Sakura tidak terima.
Sasuke sangat berterima kasih karena seorang perawat memanggil namanya dan juga seorang petugas keamanan yang menegur gadis yang masih belum diketahui Sasuke bernama Sakura. Sebelum pergi mengikuti sang perawat Sasuke menunjukan serangai liciknya kepada Sakura, ia bersyukur kalau perempuan itu pasti akan diusir oleh petugas keamanan karena suaranya yang berisik.
Setelah Sasuke hilang dari pandangan Sakura, gadis itu mengalihkan perhatiannya ke petugas keamanan yang tadi menegurnya, "ada apa pak?"
"Apakah anda nona Sakura?" yang dijawab dengan anggukan kepala, "silahkan ikuti saya, tadi dokter Kabuto meminta saya untuk mencari anda."
Sakura kenal siapa itu dokter Kabuto, mereka telah berkenalan dipertemuan sebelumnya saat melakukan tes kesehatan oleh sebab itu ia mengikuti petugas keamanan tersebut.
xxx
Disinilah Sakura berada, diruangan yang serba putih tengah berbaring diatas kasur praktek dokter Kabuto. Dokter itu baru saja menyuntikan obat bius kepadanya sehingga membuat matanya mulai mengantuk. Dengan pandangan yang mulai buram ia masih melihat sang nyonya Uchiha tengah menemaninya dari balik dinding kaca yang memisahkan mereka. Mata perempuan itu terlihat cemas serta menaruh harapan besar kepada Sakura.
Sakura berusaha melihat kesisi lain ruangan namun ia tidak melihat sang tuan Uchiha muda itu. Sakura hanya berpikir kalau lelaki itu juga tengah melakukan hal yang sama sepertinya saat ini diruangan yang lain.
Sebelum Sakura benar-benar jatuh tertidur, ia masih sempat meyakini kalau apa yang dilakukannya saat ini adalah hal yang baik. Ia akan melanjutkan menjadi seorang dokter seperti harapan mendiang keluarganya dan ia kini telah membantu sepasang keluarga yang membutuhkan.
xxx
Diruangan yang lain masih dibagian Obstetrik ginekologi, seorang pria dewasa bermata onix dan berambut sehitam jelaga tengah menatap serius kelayar yang menampilkan adegan dewasa. Kedua telinga pria itu tertutup hadphone yang menyalurkan suara-suara erotis.
Yang diinginkan pria itu saat ini hanyalah untuk menuntaskan hasratnya sambil berharap bahwa bibitnya berhasil menjadi keturunan Uchiha yang membangakan.
TBC
Author Note:
Halo semuanya, maaf ya baru bisa update.. kemaren semangat menulis author sedang menghilang entah kemana..
Maaf tidak sempat edit dan berantakan ya, author udah gak sabar publish supaya yang menatikan fic ini tidak semakin lama menunggu.. *authorlebaycarialasan
Bagaimana SasuSakunya, udah lumayan kan? Mulai chap depan porsi mereka udah lebih besar lho.. konflik dan pertanyaan yang belum terjawab jga akan hadir di chap depan lho.. Semoga chapter ini bisa memuaskan para readers sekalian.
Seperti biasa banya terimaksih buat kalian yang sudah meninggalkan jejak follow, favorite dan reviews: echaNM, ririsakura, Hyuugadevit-Cherry, Saisah, kakikuda, MisaSapi3, QRen, DaunIlalangKuning, raizel's wife..
Jangan lupa untuk review ya.. author gak akan pernah ngelarang kalian kok ^_^
Ibarat kata kalian itu bisa kasi ide keauthor yg sedang buntu, ngoreksi kesalah atau seperti polisi yang ngawasin agar author tidak menyimpang dengan menulis karya orang..
Terakhir buat kalian yang menjalankan, SELAMAT BERPUASA! Semoga puasanya lancar ya teman-teman.. Semangat!
