Halo.. para pengemar Sasusaku, lost kiseki kini telah kembali setelah author meliburkan diri cukup panjang..

semoga masih ada yang sayang dan menantikan kelanjutan cerita ini ya..


Lost Kiseki

Langkah Kembali

Character by Masashi Kishimoto / Story Oyoy30


Waktu terasa sangat cepat berlalu bagi Sakura. Rasa nyeri akibat bedah kecil yang dilakukannya bulan yang lalu memang tidak terasa lagi, tapi entah mengapa jauh dilubuk hatinya yang terdalam terdapat perasaan nyeri lain yang mungkin tidak akan bisa hilang.

Terbayang kembali ke waktu sebulan lalu. Ketika Sakura tersadar dari pengaruh obat bius ia tidak menjumpai siapapun didalam ruangannya. Nyonya Uchiha yang terasa samar di ingitannya itu juga tidak ada begitu juga dengan dokter yang menanganinya. Hanya ada secarik kertas ucapan terimakasih yang singkat yang didapatinya terletak disamping ranjang pasien yang tengah ditidurinya.

Setelah merasa cukup kuat Sakura memutuskan untuk mengganti pakaiannya dan pulang. Dikamar mandi saat mengganti baju, Sakura mendapati terdapat bekas jahitan kecil dikedua sisi pingganggnya. Sekarang ia mengerti darimana asal rassa nyeri yang tadi ia rasakan ketika berjalan.

Sakura memegang bekas luka itu penasaran. Sejujurnya ia tidak tahu bagaimna cara sel telurnya diambil dan proses selanjutnya. Ia terlalu pusing kemarin-kemarin untuk memikirkannya termasuk konsekuensi yang harus ia dapatkan dengan mengambil tindakan tersebut.

Buru-buru Sakura memakai bajunya, ia menjadi sangat penasaran dan memutuskan akan singgah ke warnet didekat apartemennya nanti untuk mencari tahu.


'Huhhh' Sakura menghela nafasnya panjang dalam upaya meringankan beban dihatinya. Sempat melamun sebentar Sakura melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Tidak banyak yang ia kerjakan, ia hanya perlu menyusun barang-barang apartemennya yang memang sedikit masuk kedalam koper dan kardus. Ia akan pindah.

Sejujurnya hati dan perasaan gadis cantik bernama Sakura enggan untuk melakukan semua ini, tapi ia harus. Ini semua sudah kesepakatan dan tertulis didalam surat perjanjian yang telah ia tandatangani bersama sepasang suami istri, Itachi dan Hinako Uchiha. Disurat itu dikatakan banyak hal, termasuk kepergiannya yang harus meninggalkan Konoha ke kota lain. Sakura akan dikuliahkan, diberi tunjangan hidup dan diberi tempat tinggal yang layak ditempat yang baru sebagai kompensasi atas pendonoran sel telurnya.

Seharusnya Sakura senang dengan semua itu. Tapi bagaimana bisa ia bahagia jika gadis itu harus meninggalkan kota kelahirannya, sahabatnya dan semua kenangan akan keluarganaya ada di Konoha.

Sakura baru saja menutup kotak kardus yang terakhir ketika ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Jantung Sakura sempat berhenti berdetak beberapa detik ketika melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Ia menjadi sangat gugup sebelum mengangkat telfonnya, "Ha-halo, tuan Uchiha?"

"Hemm, aku hanya ingin memberitahumu hasil pemerisaan USG istriku padamu," Deg! Jantung Sakura sekali lagi kehilangan ritmenya mentanti apa yang akan dikatakan Itachi selanjutnya, "Salah satu zigot yang ditanam dirahimnya mampu bertahan dan berhasil menjadi janin. Kami akan mempunyai anak."

Tes! Air mata Sakura jatuh begitu saja, perasaannya benar-benar kacau. Turut bahagia untuk pasangan itu bercampur dengan rasa sedihnya dengan kenyataan bahwa itu tandanya ia harus meninggalkan Konoha. "Se-selamat tuan..,"

"Orang suruhanku akan datang besok pagi ketempatmu, kuharap kau telah bersiap-siap. Untuk urusan kuliah dan tempat tinggalmu yang baru dia yang akan mengurus semuanya. Aku akan menepati janjiku seperti yang tertera dalam surat itu, jadi aku berharap kau juga melakukan hal yang sama."

"Baik tuan Uchiha, saya juga akan menepati isi surat perjanjian itu." cicit Sakura berat hati.

"Ingat, jangan pernah mencari tau anak itu karena kau tidak ada hubungannya Itu adalah anak istriku karena dialah yang mengandungnya."

"Saya menegrti tuan..,"

"Baguslah kalau kau mengerti. Aku berharap setelah ini kita tidak pernah bertemu kembali!" setelah berkata begitu Uchiha Itachi segera memutuskan sambungan teleponnya tanpa memberikan Sakura kesempatan untuk berbicara lebih lanjut.

Sakura meletakan ponselnya sembarangan dan bangkit berdiri. Ia mulai menyusuri satu persatu ruangan di apartemennya itu. Mencoba memasukan setiap sudut tempat itu kedalam memori otaknya, mengingat setiap kenangan yang tergores didinding.


Masih didaerah pinggiran kota terdapat sebuah perumahan yang cukup asri. Perumahan ini tidak seperti deretan rumah mewah di kawan elit pusat kota, hanya rumah-rumah kecil dan sederhana yang berjajar dalam komplek ini.

Sakura melangkahkan kakinya masuk melewati pagar sebuah rumah dengan halaman yang sangat asri. Ini adalah rumah satu-satunya keluarga yang ia punya di Konoha. Walaupun tidak memiliki hubungan darah Sakura telah mereka anggap sebagai anak sendiri, apalagi putri keluarga ini adalah sahabat baiknya.

Seperti tahu akan kedatangan Sakura, tiba-tiba saja pintu rumah terbuka tanpa sempat Sakura mengetuknya. Shiro, anjing kecil keluarga ini juga kini sudah bergelanyut manja di kakinya.

"Ah, Sakura ayo masuk," ajak sang nyonya rumah yang langsung diikuti Sakura, "bibi rindu sekali padamu, kita menjadi jarang bertemu semenjak toko obat itu tutup."

"Iya bibi maafkan aku, seharusnya aku sering mengunjungi bibi kesini ataupun toko bunga."

"Memang seharusnya begitu. Apalagi kau akan pergi meninggalkan kota ini, jadi sudah sewajarnya kau menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluargamu."

Sakura tersenyum perih mendengarnya. Apa yang dikatakan oleh nyonya Yamanaka itu benar adanya, seharusnya ia memanfaatkan waktu lalu bersama keluarga baik hati ini bukannya menghindari mereka. Sebenarnya gadis bersurai pink itu kemarin punya alasan tersendiri kenapa menghindar, selain karena takut tidak bisa menjaga rahasia ia juga tidak mau menambah kenagan manis di Konoha.

"Sudahlah istriku, Sakura pasti sibuk mempersiapkan kuliahnya sehingga ia tidak sempat kemari," kepala keluarga Inoichi Yamanaka yang sepertinya baru dari belakang datang memotong pembicaraan kedua perempuan itu.

"Sekarang naiklah keatas, Ino pasti sudah menunggumu," suruh Inoichi seraya mendudukan diri disofa ruang keluarga. Sakura hanya menganggukan kepala kemudian berlalu kelantai atas rumah itu.

Sakura menahan nafasnya sebelum mengetuk pintu kamar Ino Yamanaka. Setelah melakukan beberapa kali ketukan Sakura masih belum mendapat respon apapun dari si empunya kamar.

"Ino, ini aku Sakura," ucap Sakura masih sembari mengetuk pintu. Tapi gadis itu masih tidak mendapat tanggapan, suara dari dalam kamar cukup hening.

Sebenarnya pintu kamar itu tidak dikunci, bahkan pintunya juga tidak tertutup dengan rapat dan masih menyisakan celah kecil. Biasanya Sakura tidak perlu permisi sampai mengetuk pintu jika mengunjungi sahabatnya ini. namun kali ini ia sedikit ragu untuk melakukan hal yang sama, ia tidak mau mengambil resiko kalau sahabatnya itu semkain marah kepadanya.

Sakura tahu kalau Ino pantas marah dengannya. Bagaimana tidak, ia juga akan melakukan hal yang sama jika sahabatnya melakukan tindakan yang sama. Menyimpan rahasia, tidak mau berbagi cerita, menjaga jarak dan tiba-tiba mengatakan kalau ia akan pindah keluar kota.

Sepasang sahabat itu sudah terbiasa saling mengumpat satu sama lain sebagai candaan, tapi Sakura tidak pernah menyangka akan mendengar Ino akan mengumpat kasar dengan pandangan marah seperti beberapa hari lalu. Gadis bersurai pirang itu begitu merasa kesal ketika Sakura tiba-tiba saja mengatakan akan melanjutkan studi kedokterannya diluar kota.

Sakura meletakan tangannya di gagang pintu, ia berusaha meyakinkan dirinya. Ini adalah malam terakhirnya di kota ini dan ia tidak mau menyianyiakan waktu yang singkat ini dengan masih bertengkar degan sahabatnya. Waktu sangat berharga saat ini, "Ino, aku masuk ya."

Gadis berambut pirang itu tampak tengah meringkuk diatas tempat tidurnya ketika Sakura masuk. Bahunya tampak sedikit bergetar, walaupun tanpa suara Sakura tahu persis sahabatnya itu tengah meredam tangisnya. Hati Sakura terasa tercubit, ia dengan segera menghampiri tubuh sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat, "Ino maafkan aku, jangan marah lagi padaku."

Ino dengan cepat melepas pelukan Sakura dari tubuhnya, kemudian ia memukuli gadis berambut pink itu dengan bantalnya, "Aku marah padamu! Sahabat seperti apa dirimu itu yang tega meninggalkan aku?!"

Sakura tidak mengelak dari pukulan Ino, itu sama sekali tidak sakit dibandingkan bagaimana nanti sakitnya ia menahan rasa rindunya kepada sahabatnya ini. "Ino percayalah aku sama sekali tidak ada niat meninggalkanmu, aku hanya tidak bisa menolak kesempatan baik yang datang padaku ini."

Ino telah menghentikan pukulannya dan kini tengah memandang Sakura membuat gadis itu menatap balik kepadanya, "Aku tahu kau masih marah padaku, tapi aku tidak bisa menolak ini Ino. Kau tahu aku sangat ingin menjadi dokter."

Tiba-tiba saja Ino menarik Sakura kedalam pelukannya dengan erat seraya memukul-mukul punggung Sakura dengan pelan, "Kau tahu aku tidak bisa marah padamu, aku hanya kecewa! Seharusnya kau bercerita mengenai beasiswa ini lebih awal sehingga aku bisa mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari!"

"Maafkan aku Ino," hanya itu yang sanggup dikeluarkan bibir Sakura. kini kedua gadis itu tengah sibuk menangis sambil berpelukan.


Sakura menatap ponselnya beberapa kali untuk mengecek waktu. Ia kini tengah menunggu orang yang disuruh oleh Itachi untuk menjemputnya. Sesekali gadis itu menguap untuk menahan kantuknya. Bagaimana tidak, semalaman ia menghabiskan waktu dengan sahabatnya Ino. Mereka berdua menangis dan bercerita hingga pagi menjelang.

Masih teringat dibenaknya bagaimana keluarga Yamanaka melepasnya tadi pagi. Ia mendapat banyak wejangan dari ayah dan ibu Ino, seperti mengantarkan anak mereka sendiri yang ingin merantau. Usapan lembut dan kecupan ringan yang bersarang dikepalanya juga membuatnya sangat terharu. Ino bahkan sampai iri melihat sikap kedua orangtuanya itu.

Dan untuk Ino, mereka berdua berusaha sekuat mungkin agar tidak menangis lagi setelah berjanji sebelumnya untuk terus saling member kabar satu sama lain.

'ting tong' suara bel apartemen membuyarkan lamunan Sakura, ia dengan segera berlari kearah pintu untuk membukanya.

"Nona Haruno, apakah anda sudah siap?" tanya seorang wanita berpakaian formal yang kini tengah berdiri didepan pintu apartemennya. Wanita itu lantas menyuruh kedua pria yang ikut bersamanya masuk untuk mengangku barang bawaan Sakura ketika mendapat anggukan dari gadis itu.

"Kita akan ke stasiun, kita akan ke Otogakure menggunakan shinkansen. Tuan Itachi tidak mau apa yang dilakukannya mudah terlacak jika menggunakan pesawat. Setelah sampai disana aku yang akan mengurus segal administasi dan keuanganmu." Jelas perempuan itu panjang tanpaSakura perlu bertanya.

Setelah memastikan urusan di Konoha telah selesai maka mereka berangkat menuju Otogakure. Selama berada didalam mobil menuju stasiun Sakura terus memandang gedung-gedung dan jalan Konoha, menyimpannya dalam ingatan. Begitu juga ketika berada didalam kereta ia terus memandang keluar jendela hingga kota Konoha tidak terlihat lagi.

"Selamat tinggal Konoha," ucap Sakura dalam hati. Kini ia siap untuk menjalani hidupnya yang baru.


Enam tahun Kemudian.

'tok..tok..' Seorang dokter perempuan mengetuk pintu perlahan sebelum memasuki ruangan pimpinan Rumah Sakit Umum Otogakure, "Permisi apakah anda memanggil saya?"

"Masuklah, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu," pinta dokter kepala rumah sakit itu mempesilahkan.

"Kau seorang dokter muda yang berbakat," puji Orochimaru setelah dokter perempuan itu duduk dihadapannya, "Walaupun baru sebentar bekerja disini kau sudah membuatku terkesan dengan kemampuan dan dedikasimu untuk menolong orang lain".

"Terimaksih atas pujian anda -sama, itu semua berkat bimbingan anda."

"Hm. Melihat kinerjamu setahun belakangan ini membuatku ingin memberikan hadiah padamu Sakura." Dahi lebar perempuan bersurai pink itu sedikit berkerut, seolah bertanya. "Seorang sahabatku memiliki rumah sakit yang cukup besar dan terkenal. Beberapa bulan ini rumah sakit itu semakin sibuk dan membutuhkan tenaga medis, sehingga aku merekomendasikanmu untuk bekerja disana."

"Saya hanyalah dokter muda yang baru lulus, saya merasa tidak pantas. Masih banyak dokter senior yang sudah memiliki pengalaman dan kemampuan jauh diatas saya Orocimaru-sama."

"Aku kira menjadi dokter bukan hanya sekedar kemampuan dan pengalaman, tetapi ada niat untuk membantu dan menyelamatkan nyawa orang lain tanpa membeda-bedakan. Aku melihat itu ada padamu Sakura sehingga aku memilihmu."

"Tapi…,"

"Rumah sakit itu berada dikota besar dan mewah. Kekurangan tenaga medis pasti membuat mereka mendahulukan siapa saja yang berani membayar mahal. Orang-orang yang membutuhkan bantuan dan kebaikan hatimu pasti lebih banyak disana, jadi pergilah tolong mereka."

Hati Sakura terasa tercubit mendengar apa yang dikatakan dokter pembimbingnya itu. Dokter berkulit pucat itu dengan jelas mengetahui alasan mengapa Sakura mengambil dokter sebagai pekerjaannya.

"Kalau saya boleh tahu, dimana letak rumah sakit yang anda maksud Orocimaru-sama?"

"Senju General Hospital, Konoha. Salah satu rumah sakit terbesar dinegara ini, kau pasti sudah mendengarnya apalagi kau berasal dari sana."

Jantung Sakura seakan berhenti mendengarnya. Sekalipun hati nuraninya ingin ia tidak akan bisa menerima tawaran dokter kepalanya itu. Kami-sama ia telah berjanji tidak akan pernah menginjakan kaki dikota itu lagi.

Walaupun sudah lama berlalu, Sakura tidak suka mengingkari janjinya. Semenjak Sakura bekerja dan mampu membiayai kehidupannya dengan layak, memang keluarga Uchiha telah berhenti memberikan uang kepadanya. Tapi itu sama sekali bukan alasan Sakura untuk gampang mengingkari kesepakatannya dengan keluarga itu, apalagi semua biaya yang harus Sakura keluarkan selama kuliah telah ditanggung mereka. Dan sebagai bonus Sakura juga mendapatkan sebuah rumah minimalis atas namanya dikota ini.

"Maafkan saya saya tidak bisa menerima tawaran anda, saya tidak dapat kembali ke Konoha," cicit Sakura tak enak hati menolak karena sang pembimbing sudah berbaik hati menawarkan kesempatan bagus padanya.

"Jangan langsung menolak seperti itu, aku tidak tahu apa alasanmu kenapa harus menolak hal baik ini hanya karena mempunyai kenangan buruk di Konoha," Orocimaru tampak tidak suka dengan respon yang diberikan Sakura.

"Pimpinan dokter di rumah sakit itu adalah teman baikku, dan aku sudah berjanji padanya untuk mengirimkan lulusan terbaik untuk membantunya," lanjut Orochimaru ketika melihat Sakura hendak memberikan argument penolakan lainnya, "Aku tidak akan mengecewakannya, jadi aku berharap kau juga melakukan hal yang sama terhadapku."

Orochimaru kemudian mengeluarkan beberapa kertas dari dalam map yang bertumpuk di meja kerjanya, ia tampak sedang menuliskan sesuatu di beberapa kertas itu dan kemudian menandatanganinya sebelum memberikan stempel.

"Sebagai atasanmu, aku memerintahkanmu untuk melakukan dinas di Senju General Hospital Konoha selama enam bulan," printah Orochimaru sambil menyerahkan lebaran kertas yang merupakan surat penugasan. Pria tua ini tampaknya tidak suka dibantah, "sekarang keluarlah dan berkemas."

Sakura kini hanya bisa menutup mulutnya dengan rapat, menahan untuk tidak berdebat hanya karena masalah pribadinya. Surat tugas yang ada ditangannya tampak mulai kusut karena digenggam terlalu erat oleh Sakura. 'Oh Tuhan, bagaimna caranya agar aku tidak bertemu dengan keluarga itu?!'


Suasana salah satu rumah mewah dan besar disebuah perumahan elit kota Konoha kini telah berubah jauh dari belasan tahun lalu. Aura kekuasaan dan kemewahan yang begitu dominan didalam rumah itu kini telah memudar karena berbaur dengan keceriaan dan kebahagiaan yang dibawa oleh keajaiban lima tahun belakangan ini.

Kaki-kaki mungil sumber keajaiban dirumah itu tampak sedang berlari-lari menyusuri setiap ruangan dirumah itu, diiringi dengan suara tawa kecil yang begitu nyaring. Tuan besar keluarga di rumah itu yang sangat menjunjung tinggi ketenangan dan keteraturan, untuk kesekian kalinya membuat orang-orang terkejut karena membiarkan istananya terlihat gaduh dengan mainan yang berserakan hampir disemua ruangan rumah itu.

"Kiseki! Ibu bilang jangan berlari," teriak Hinako menasehati putra tercintanya yang tengah lari dari kejarannya hanya karena tidak mau disuruh mandi. Bocah lelaki berumur lima tahun itu tampak keras kepala tidak menurut pada ibunya dan terus mengelak dari tangkapan ibunya, Kiseki terus berlari kesana kemari sambil tertawa-tawa.

"Lihat dia, bocah itu menganggap Hinako sedang bermain dengannya," komentar Fugaku Uchiha kepada istrinya Mikoto yang baru saja datang membawakan secangkir teh herbal untuk suaminya.

Mikoto hanya tersenyum menanggapi komentar suaminya itu dan ikut duduk disebelah suaminya diatas sofa ruang keluarga. Kini keduanya tampak sedang menikmati hari-hari tua mereka, melihat cucu yang telah lama mereka nantikan tampak bergembira berlari dirumah besar itu.

"Aku bahagia," celetuk Mikoto kepada suaminya yang hanya dibalas dengan gumaman, "Putra kecilku akan pulang dan rumah ini akan semakin ramai."

"Hm, katakana padanya aku tidak bisa ikut. Rapat direksi dilakukan hari ini." Mikoto mengangguk mengerti, ia akan menjelaskan sebaik mungkin kepada putra bungsunya itu nanti agar tidak merasa dinomorduakan oleh sang ayah.

"Kiseki, kalau kau tidak berhenti berlari dan tak mau mandi, ibu dan nenek akan meninggalkanmu dirumah." Ancam Hinako kepada putranya yang sangat aktif itu, ia sudah lelah bermain kejar-kejaran dengan bocah lima tahun penuh energy itu.

Kiseki menghentikan langkah kecilnya dan menatap ibunya seakan bertanya sebelum mengeluarkan jawaban pintarnya, "ibu pergi saja dengan nenek, Kiseki nanti akan ikut dengan ayah dan kakek ke kantor."

Fugaku yang mendengarnya tertawa. Bagi Kiseki kantor tempat ayah dan kakeknya bekerja merupakan tempat bermain. Salahkan Fugaku yang kerap sekali membawa cucunya itu kekantor.

"Oh ya? Ayah kira kau ingin bertemu dengan paman Sasuke," tanya Itachi yang baru saja turun dari lantai atas kemudian langsung menggendong putranya itu. mendengar nama pamannya disebutklan membuat Kiseki menjadi lebih riang lagi.

Kiseki maupun Sasuke sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya ia hanya mengetahui rupa pamannya itu dari foto keluarga. Sasuke melanjutkan kuliahnya diluar negri ketika Kiseki masih berada didalam kandungan dan ia sama sekali belum pernah pulang ketanah air. Walaupun begitu Kiseki seperti memiliki hubungan khusus dengan pamannya itu. Berterimakasihlah kepada ayahnya yang selalu bercerita tentang pamannya itu sebagai dongeng penghantar tidurnya.

"Memangnya ibu dan nenek akan bertemu paman Sasuke?" tanya Kiseki kepada ayahnya dengan pandangan berbinar.

"Ke bandara, pamanmu itu akan datang hari ini. kalau kau tidak mau mandi, ibu tidak akan mengajakmu," Hinako mengambil alih untuk menjawab pertanyaan anaknya itu.

"Apakah disana ada banyak pesawat?" tanya Kiseki antusias yang dibalas oleh anggukan kepala Itachi, "Berarti paman Sasuke naik pesawat? Apakah Kiseki juga nanti bisa naik pesawat? Ayah kenapa pesawat bisa terbang?"

"Anak ayah ini semangat sekali," balas Itachi bingung mau jawab pertanyaan yang mana dulu, "Simpan saja pertanyaanmu buat paman Sasuke, ia lebih pintar dari ayah."

"Nah sekarang kau mandi dulu, paman Sasuke tidak akan mau bertemu denganmu kalau Kiseki belum mandi," Hinako mengunakan kesempatan ini untuk membujuk anaknya itu mandi. Setelah melihat anggukan dari putranya itu ia segera mengambil ahli gendongan dari suaminya dan membawa bocah itu kelantai atas untuk mandi.


Terlepas dari beban sebuah janji, jauh dalam hati Sakura ia merasa begitu lega dan bahagia bisa menginjakan kaki di kota kelahirannya ini lagi. Sejam yang lalu pesawat yang ditumpanginya telah mendarat dengan mulus, kini ia tengah menunggu jemputan seorang lainnya yang menjadi alasan betapa ia bahagia bisa kembali ke Konoha. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya Ino yang berteriak heboh padanya minggu lalu ketika ia mengabari akan pindah sementara ke Konoha. Sahabat pirangnya itu telah berjanji akan menjemputnya kebandara dengan sebuket bunga. Tapi lihatlah kini malah ia malah masih harus menunggu, dan nona Yamanaka itu sedang berada dimana saat ini.

Sakura memtuskan membeli ice Americano disebuah café kecil disekitar ruang tunggu bandara itu. setelah menerima pesanannya Sakura kembali keluar dan menjelajahi bandara itu dengan tatapan takjub. Katakanlah ia kampungan, karena jujur saja ini untuk pertama kalinya ia berada dibandara, penerbangan tadi juga yang pertama.

Tanpa sadar Sakura telah berjalan cukup jauh karena ia kini tengah berada diterminal kedatangan internasional. Bangunan arsitektur pada terminal ini tampak lebih mewah lagi.

Sakura menutup matanya kemudian menghirup udara Konoha sebanyak-banyaknya untuk memenuhi ruang paru-parunya. Perempuan ini sangat merindukan udara hangat kota itu yang jauh berbeda dari Otogakure yang dingin. Setelah menghembuskan nafas dengan perlahan Sakura mengulangi kegiatannya itu, namun kedua tangannya kali ini ikut bergerak untuk memasok udara dalam paru-paru.

"Bruk!" Sakura segera membuka matanya dan berbalik badan ketika merasakan tangannya yang memegang gelas ice Americano mengenai seseorang. Ternyata dugaan Sakura benar, ice Americanonya kini telah tumpah mengenai setelan jas Armany seseorang.

Mata Sakura terbelalak ketika menyadari ia telah merusak setelan jas mahal. Ia buru-buru mengeluarkan sapu tangan dari tas selempangnya dan menyodorkan keorang itu, "Maafkan, saya tidak sengaja."

Pria yang ditabrak Sakura hanya menatap sapu tangan yang tersodor itu, kemudian menatap malas Sakura yang tengah membungkuk minta maaf. Dalam diam pria itu membuka setelan jasnya yang telah kotor oleh tumpahan kopi itu dan kemudian pergi meninggalkan Sakura dalam kebingungan.

Dahi lebar Sakura langsung mengkerut ketika ia yang tengah membungkuk melihat setelan jas mahal itu telah tergeletak dilantai tepat diujung sepatunya. Jas mahal iu dibuang begitu saja, seperti tak berharga. Sekilas Sakura seakan merasakan pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, tapi dimana ia lupa karena ia memang kerap kali ceroboh seperti ini.


"Nenek, kenapa paman Sasuke lama sekali?!" tanya Kiseki tidak sabaran kepada Mikoto. Keluarga Uchiha tengah menunggu kedatangan sibungsu didalam mobil mewah mereka yang terparkir didepan pintu kedatangan. Itachi dan Hinako tersenyum melihat antusias putra mereka yang ingin bertemu sang paman.

"Nah Kiseki-kun, coba lihat siapa yang disana itu." tunjuk sang nenek kearah orang-orang yang sedang keluar dari pintu kedatangan. Setelah menangkap sosok yang dimaksud sang nenek Kiseki langsung membuka pintu mobil dan berlari kencang menerobos orang-orang kearah pria tampan berambut raven.

"Kiseki!" Hinako yang melihat tidakan spontan putranya itu hanya bisa memekik dan segera mengikuti bocah itu keluar dari mobil. Putranya itu selalu membuatnya khawatir dengan sifatnya yang sungguh aktif.

Sasuke yang sedang berjalan santai tiba-tiba dikejutkan ketika bocah laki-lakiberambut hitam keunguan memeluk kakinya erat. Sasuke yang merasa risih oleh perlakuan anak yang tidak dikenalnya berusaha melepaskan diri, "Hei bocah, siapa kau? Menyingkirlah dari kakiku!"

Merasa sang paman tidak mengenalnya, bocah aktif itu mengangkat wajahnya menatap kedua onix Sasuke dengan mata berbinar, "Paman Sasuke, ini Kiseki!"

Sasuke kini mengerti bahwa bocah yang kini bergelanyut bagai koala pada kakinya adalah keponakannya. Sasuke yang memang pada dasarnya tidak begitu menyukai anak kecil masih tetap berusaha melepaskan diri dari pelukan maut Kiseki pada kakinya. Ia heran bocah itu mendapat kekuatan darimana untuk memeluknya serat ini, kalau tindakannya yang membuat Sasuke kesal sudah pasti menurun Itachi anikinya yang menyebalkan itu.

"Bocah lepaskan aku, kau memeluk kakiku terlalu erat!" protes Sasuke.

"Kata ayah Kiseki tidak boleh melepaskan paman Sasuke, sebelum paman membawaku melihat pesawat!" perempatan siku muncul dijidat Sasuke, ia baru saja mendarat di Konoha tapi kakaknya itu sudah jahil padanya bahkan sebelum wajah keriput kakaknya itu mencul dihadapannya.

"Kalau kau memegang kakiku seperti itu bagaimana bisa aku berjalan mengajakmu untuk melihat pesawat yang ada kakiku akan patah," mendengar itu kontan Kiseki langsung melepas pelukan mautnya kemudian mengelurkan kedua tangannya kearah Sasuke seakan minta digendong.

"Gendong Kiseki!" jerit bocah itu memaksa ketika melihat pamannya yang cuek tidak mengerti dengan keinginannya, "Gendong! Gendong!" jeritnya sambil melompat-lompat kearah Sasuke, yang membuat kepala pria dewasa itu pening melihat serta mendengar suara cemprengnya.

"Kiseki! Berhentilah membuat ibu khawatir!" suara Hinako mengintrupsi kelakuan anaknya yang sedang merengek minta gendong pada pamannya. Perempuan itu tampak sedikit panik karena sempat tidak melihat putranya diantara kerumunan orang-orang.

"Hai Sasuke, selamat datang kembali di Konoha," Hinako menyapa adik iparnya itu setelah merasa tenang bahwa putranya baik-baik saja. Sasuke hanya menganguk menanggapi kakak iparnya itu.

Sasuke melihat ibu dan kakaknya yang menyebalkan sedang berjalan kearah mereka, ia berinisiatif ingin menghampiri ibunya itu untuk memeluknya. Namun Sasuke kini tengah kembali terperangkap dalam kukungan Kiseki yang keinginannya tadi tidak diindahkan. Bocah lucu itu kembali bergelanyut dikaki Sasuke, menyebabkan pria itu susah berjalan. "Baka aniki, cepat lepaskan anakmu ini dariku!"


Hinako dan Itachi yang duduk didepan tersenyum melihat tingkah Kiseki yang sedang mendekati pamannya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang saat ini. Setelah tadi ia merengek untuk bisa melihat pesawat dengan pamannya kini ia kembali memborbardir pamannya itu dengan berbagai pertanyaan seperti yang diajukannya sebelumnya kepada Itachi. Walaupun sangat kesal Sasuke tetap meladeni sikap keponakannya itu.

Mikoto sendiri yang merasa tersingkirkan oleh cucunya memilih untuk memainkan smartphonenya. Padahal ia sangat merindukan putra bungsunya itu, namun apadaya cucunya yang manja telah meraih kekuasaan atas Sasuke. Nyonya besar Uchiha itu ikut menyungingkan senyumnya ketika membaca sebuah artikel media online yang tadi diam-diam meliput mereka dibandara. Dalam artikel itu dikatakan publik mungkin tidak akan percaya bahwa keluarga merka yang terkenal sangat formal bisa tertawa lepas didepan publik seperti yang telah tertangkap kamera.

Mikoto tidak mengingkari berita itu karena benar adanya. Keluarga mereka sangat menjunjung tinggi wibawa, dan tertawa ceria ditempat umum seperti itu adalah hal tabu sampai Kiseki terlahir ditengah-tengah mereka. Kehadiran anak itu sungguh bagaikan sebuah keajaiban sama seperti makna dari namanya.

Berita kehamilan Hinako saja sudah dianggap sebagai sebuah keajaiban setelah bertahun-tahun keluarga itu menantikan keturunan untuk mewarisi darah Uchiha. Dan hal yang paling mengejutkan adalah tidak pernah sejarahnya anak yang terlahir dikeluarga itu memiliki semangat dan keceriaan yang sangat tinggi seperti Kiseki. Bocah itu memang memiliki fisik dominan seperti para Uchiha lainnya sehingga tidak ada yang bisa mengingkari kalu ia memang berdarah Uchiha. Tapi sifatnya sungguh tidak menyerupai siapapun dari mereka semua, terlebih sifat manjanya yang mungkin bawaan atau karena dimanjakan oleh semua orang dikeluarga itu.

"Sasuke, ayah tidak bisa ikut menjemputmu karena ia sedang mengadakan rapat dengan para pemegang saham mengenai posisimu diperusahaan. Kemungkinan besar kau akan menangani proyek pengembangan senjata yang sedang diusulkan pemerintah pada perusahaan kita," Itachi membuka suara ketika keadaan mobil menjadi hening karena Kiseki telah berhenti berceloteh dan tampak mengantuk dipangkuan Sasuke.

"Hn. Kali ini pemerintah menginginkan proyek seperti apa?" tanya Sasuke menaggapi pembicaraan kakaknya. Hidup beberapa tahun diluar negeri membuatnya sedikit ketinggalan informasi. Yang ia tahu bahwa kini negaranya tengah bersitegang dengan perbedaan ideology dengan salah satu Negara tetangga sehingga memperbaruhi senjata menjadi prioritas dan sangat diperlukan bagi keduanya sebagai antisipasi bila terjadi genjatan senjata.

"Hush!" belum sempat Itachi menjelaskan lebih lanjut Mikoto menghentikannya, "Kau ini Itachi, putra kecil ibu baru saja pulang dan kenapa harus langsung membahas pekerjaan. Sasuke pasti lelah dan ingin beristirahat dulu."

Sasuke yang tidak suka dengan panggilan kecil ibunya itu mendengus, sedangkan Itachi sedikit merengut cemburu. Bukan karena perkataanya yang dipotong melainkan karena ibunya mendadak monomor duakannya, " Bu, aku juga putra kecilmu."

"Baka aniki, apa kau tidak sadar sudah tua dan bukannya anak kecil lagi? Kau bahkan sudah beristri dan mempunyai anak!" Sasuke sedikit muak melihat tingkah kakaknya itu. mungkin kehadiran Kiseki juga berpengaruh kepada pembawaan kakaknya yang cool menjadi aneh begini.

Hinako terkikik kecil mendengar interaksi kakak-adik itu sebelum menyambung dengan perkataan yang menarik minat Mikoto, " Tapi bukankah Sasuke juga sudah cukup umur untuk memiliki istri dan anak?"

"Benar apa kata Hinako, kapan kau akan memperkenalkan perempuan sebagai calon istrimu kepada ibu? Apakah diluar negeri kau sudah memiliki kekasih? Seharusnya kau membawa pacarmu itu kesini!" seru Mikoto antusias.

"Bu, itu mustahil, Sasuke itu tidak menyukai perempuan, ibu jangan menaruh harapan padanya." seloroh Itachi dengan asal namun dapat membuat wanita paruh baya itu cukup terkejut.

"Sasuke, apakah kau itu homo?! Kami-sama putraku seorong gay!" teriak Mikoto histeris. Sasuke melotot menatap tajam ibunya yang mengambil kesimpulan tidak masuk akal itu. Bukan hanya pada ibunya tetapi juga kepada Itachi yang ngomong seenaknya dan juga kepada kakak iparnya yang mengangkat topik paling dihindarinya.

"Paman Sasuke, gay itu apa?" bahkan kini Sasuke juga ikut melotot pada bocah mengantuk yang ada dalam pangkuannya.


Sasuke meletakan sumpitnya diatas meja, kemudian melap mulutnya dengan serbet. Keluarga besar Uchiha sedang melakukan makan malam dan ia telah selesai. "Aku pergi dulu," pamit pemuda itu pada keluarganya.

Pemuda itu masih sedikit kesal karena sampai saat ini ibunya masih mengangapnya pria tidak normal. Jadi untuk melepaskan rasa kesalnya ia telah menghubungi teman-teman lamanya untuk bertemu dan menghabiskan malam seperti saat mereka masih kuliah bersama dulu. Bersenag-senang di bar langganan mereka.

Sasuke memarkir mobil sport merah Maybach Exelero kesayangnnnya dengan sempurna walaupun cukup lama tidak mengendarainya. Setelah menitipkan mobilnya pada petugas keamanan Sasuke memasuki bar dan mencari keberadaan ketiga temannya yang berjanji akan datang.

Dari tempatnya berdiri ia dapat melihat salah satu temannya yang bernama Suigetsu melambaikan tangannya, dan satu-satunya teman perempuannya tampak antusias menghampirinya.

"Sasuke-kun!" pekik perempuan berambut merah seraya memeluk erat tubuhnya, "Aku merindukanmu!"

"Karin lepaskan, kau mencekikku." Sasuke berusaha melepaskan kedua lengan Karin yang telah bergelayut di lehernya.

"Ini bukan mencekik Sasuke-kun, tapi bentuk rasa rinduku padamu yang tidak pernah kau hubungi," Karin tidak mengindahkan perkataan Sasuke dan semakin memeluk erat.

"Hei Karin, kau ini genit sekali jika ada sasuke! Kau suka padanya ya?" ucap Suigetsu yang melihat tingkah temannya itu, namun entah mengapa ucapan Suigetsu itu mampu melepaskan Sasuke dari kukungan tangan Karin yang kini telah beralih mencengkram kerah baju Suigetsu, "Apa maksudmu mengataiku genit hah?!"

"Biarkan saja mereka," ucap Juugo yang paling tenang diantara mereka kepada Sasuke, "Kau mau minum apa?"

Diam-diam Sasuke tersenyum kecil ditengah remangnya penerangan tempat hiburan itu. Sudah lama sekali rasanya semenjak terakhir kali ia menikmati suasana seperti ini, bersenang-senang di bar dan menghabiskan waktu dengan temannya yang berisik. Yah, walaupun selama kuliah diluar negri ia juga terjebak dengan Naruto temannya sedari kecil yang jauh lebih berisik dan menyabalkan. Dibandingkan bocah pirang itu, kegaduhan yang dilakukan Suigetsu dan Karin jauh lebih baik.

"Eh, Sasuke apakah kau percaya Karin bisa lulus kuliah kedokteran? Minggu depan ia akan memulai bekerja di senju general hospital," Suigetsu membuka pembicaraan, "Aku bahkan ragu ada pasien yang mau dirawat olehnya nanti."

"Sui, apa maksud perkataanmu Hah?! Aku ini calon dokter yang handal tentu mereka mau aku rawat," ucap Karin tidak terima.

"Yang ada pasien-pasien itu akan semakin menderita karena ditangani oleh tanganmu yang kasar dan hobi memukul itu!"

"Kau ini ingin aku pukul ya?!" Karin yang kesal tidak terima sudah bangkit dari tempat duduknya dan kembali mencengkram kerah baju Suigetsu namun sebelum pukulan melayang, pertengkaran mereka terhenti karena mendengar tawa Sasuke.

"Sasuke kau tertawa!" Karin menjadi heboh, pasalnya pria itu jarang sekali menampilkan ekspresi seperti itu.

"Sasuke, aku ini mau dihajar perempuan bertangan monster ini, kenapa kau mal tertawa? Ini tidak lucu!" protes Suigetsu.

"Hm? Bukan karena itu. Aku hanya merasa kalau kalian tidak pernah berubah walaupun sudah bertahun ku tinggalkan," jelas Sasuke, "Dan barusan Juugo baru saja mengatakan hal yang lucu kepadaku."

"Hei Juugo, apa yang kau katakana pada Sasuke sehingga ia tertawa ? aku tahu betul kalau kau itu sama sekali tidak memiliki humor dalam dirimu," tanya Suigetsu penasaran.

"Aku tidak mengatakan humor apapun," bela Juugo yang merasa tidak mengatakan hal lucu apapun, ia sendiri bingung kenapa Sasuke tertawa.

"Sebenarnya apa yang dikatakan Juugo?" tanya Karin semakin penasaran dengan hal apa yang membuat pujaan hatinya itu bisa tertawa.

"Juugo mengatakan kalau kau Suigetsu dan Karin itu dijodohkan dan telah bertunangan," Sasuke mulai tertawa kecil lagi, "bukankah itu terdengar sangat konyol?"

Melihat reaksi kedua orang itu yang terdiam kaku seketika membuat Sasuke yakin kalau itu ternyata bukan candaan Juugo semata, "Jadi itu benar?"

"Juuuugo! Kenapa kau mengatakannya kepada Sasuke? Kau mau mati ya?! Sini ku hajar kau!" Karin langsung menyerbu lelaki berbadan besar itu.

"Hahaha," tawa Suigetsu terpaksa, "Sasuke mana mungkin aku bertunangan dengan Karin, aku tidak akan mau dijodohkan dengan perempuan sekasar dia." Suigetsu terus menerus menjelaskan kepada Sasuke kalau itu bohong yang sebenarnya tidak perlu karena sudah terlihat sekali kalau mereka berdua mencoba mengelak.


Sambil bersiul-siul Sasuke melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Ia baru saja pulang setelah berjam-jam menghabiskan waktu dengan temannya di bar, bahkan waktu menunjukan pukul dua pagi.

Saat menuju kamar ia melewati kamar Kiseki yang pintunya setengah terbuka. Tadinya ia hanya ingin menutup pintu itu namun entah dorongan dari mana menyuruhnya untuk masuk sebentar melihat anak itu. Sasuke sedikit terkejut ketika mendapati Hinako yang sepertinya tertidur disamping Kiseki, buku cerita bergambar yang terbuka masih berada dalam genggaman perempuan itu.

Dengan perlahan Sasuke melangkah mendekat kesamping tempat tidur untuk melihat Kiseki yang sedang tertidur nyenyak. Tangan Sasuke dengan sangat pelan mengelus puncak kepala Kiseki yang berwarna biru gelap yang sedikit keunguan itu, rambut bocah itu sangat halus sama seperti rambut ibunya. Sasuke juga mengamati kelopak mata Kiseki yang terpejam itu, bulu matanya tebal dan panjang yang entah diwariskan dari siapa karena baik ayah dan ibunya tidak memiliki garis mata seperti itu. Namun jika kelopak mata itu terbuka akan menampilkan bola mata hitam yang jelas diwariskan dari Uchiha.

Setelah puas memandangi Kiseki, entah kenapa kini tatapan Sasuke beralih ke wajah cantik Hinako yang sedang tertidur pula situ. Sasuke sedikit tersenyum ketika melihat guratan di pelipis Hinako yang bergerak-gerak, seakan siempunya sedang sadar tengah diperhatikan.

Sebelum membuat kedua orang itu terganggu dan terbangun, Sasuke memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun sebelum beranjak pergi ia menyempatkan untuk mencium kening Kiseki sekilas dan juga mencium kening Hinako, namun kali ini lebih lama dan dalam.

Dan tanpa Sasuke sadari ia baaru saja mengores luka seseorang yang tengah berdiri kaku menatap kejadian itu dari balik daun pintu yang menyembunyikan kehadirannya.

TBC


Author Note :

Terimakasih buat teman-teman yang masih setia menatikan fiction ini dan dengan setia memberikan review. Maaf baru bisa update sekarang ya..

Nah author akan menjelaskan sedikit mengenai fiction ini..

Jadi di chapter ini sudah terjawabkan kalau sakura tidak hamil anaknya itachi. Yang hamil tetap hinako dan sakura hanya menyumbangkan sel telurnya. Di dunia kedokteran ada proses cara bayi tabung seperti ini, author lupa apa istilahnya. Biasanya digunakan untuk ibu yang tidak memiliki kualitas sel telur yang baik namun rahimnya cukup kuat maka butuh sel telur dari perempuan lain. Sel telur diambil langsung dari ovarium pendonor yang kemudian akan dibuahi oleh sperma. Dan ketika telah berhasil dibuahi dan menjadi zigot tersebut akan ditanam kerahim si ibu yang ingin mengandung. Dan soal kenapa si pria harus menonton film 'xxx' itu agar hormone untuk menghasilkan spermanya cepat atau bisa dibilang bermasturbasi tanpa harus melakukan pembedahan pada pria. Kira-kira penjelasannya begitulah, kalau kurang jelas bisa cari informasinya melalui internet ya..

Nah kemudian konflik dan pairnya udah mulai terlihat kan? semoga tidak terlalu mengecewakan para readers.

Author sebenarnya masih sedikit bingung dalam menentukan genre. Author pengen membuat cerita yang sedih tapi sepertinya belum bisa dan masih belajar mencoba. Menurut para readers bagaimana?

Untuk masalah rate-nya juga, saat ini author mau mencoba main aman di rate-T. Tapi tidak tahu kedepannya bagaimnana, kemungkinan akan berubah.

Untuk masalah typo dan kesalahan kata lainnya, author juga mau sekali lagi meminta maaf.. author juga penggemar korea, dan terkadang nulis fiction korea jadi maafkan author bila ada yang nyempil..

Maaf author tidak bisa balas review satu persatu jadi author rangkum aja semuanya ya.. always special thanks for zarachan, DaunIlalangKuning, MisaSapi3, Lukyta-Chan, Jamurlumutan462, devanichi, Laifa, Saisah, Guest, bicha bhicuchan uchiha, Hyuugadevit-Cherry, ririsakura,