Chapter 2

Revealing The Seifert

Baru dua hari menjabat sebagai murid kelas 3-E, tapi semangat Karma langsung sirna seketika. Pasalnya ia baru saja pupus harapan begitu mengetahui bahwa Nagisa, seseorang yang ia anggap sebagai Seifert, ternyata bermarga Shiota, bukan Katari. Orang tuanya bercerai, dan ia ikut ibunya yang bermarga Shiota. Sedangkan ayahnya bermarga Gori. Informasi itu Karma dapat dari hasil menyelundup ke bagian berkas-berkas murid di ruang guru. Penyelundupan itupun tidak tanggung tanggung, dengan mode animagusmya Karma masuk dan menggeladah dengan sepenuh hati. Karma lupa bahwa mode seperti itu tidak dapat bertahan lama serta membuatnya cepat lelah. Mengingatnya saja membuat badan Karma menjadi lebih berat. Belum lagi kelas hari ini adalah olah raga, sepintas ide membolos sedikit menggoda Karma jika saja ia tidak dipanggil Isogai untuk buru-buru turun ke lapangan. Karma hanya bisa melangkah gotai tanpa ada niatan untuk mendengarkan apa yang akan Karasuma sensei ajarkan.

Disinilah Karma, duduk menekuk lutut di barisan paling kanan sambil tak acuh mendengarkan pelajaran Karasuma sensei. Disebelahnya ada Kurahashi yang sepertinya sibuk memperhatikan serangga aneh di bawah kakinya, yang ia percaya sebagai undur-undur, sejenis kumbang kecil yang jalannya mundur atau apalah itu, Karma sungguh tidak peduli. Dibelakang Karma ada Maehara, sedang bergumam tidak jelas, sedikit membuat telinga Karma iritasi, karena tiap kali kalimat yang terdengar adalah seperti 'mungkin rambut merah sedang tren', 'aku harus belajar menyeringai', atau 'pasti dia pakai susuk'. Dan didepannya, oh, dialah seseorang yang baru saja mematahkan harapan Karma, tanpa perlu berbuat apa-apa. Duduk memunggungi Karma dengan rambut cerahnya yang diikat tinggi seperti biasanya, membuat Karma ingin sekali meremas kedua twin-tails itu sambil berteriak 'Kau benar benar menyebalkan, Nagisa!'

Oke. Stop Karma. Kau mulai gila.

Nagisa tidak salah apa-apa. Karma saja yang terlalu berekspektasi lebih bahwa Nagisa adalah seorang Seifert. Well, dari segi fisik Nagisa memang terlihat memiliki jiwa-jiwa seorang yang dianggap 'suci'. Seperti mata yang memancarkan aura meneduhkan, suaranya yang ceria dan menenangkan, kulit putih susunya, rambutnya yang halus jika dibelai—

Oh Karma, apa yang kau lakukan? Berfantasi tentang Nagisa?

Karma mencoba fokus dengan penjelasan Karasuma sensei. Ia sekilas mendengar beberapa teman sekelasnya menceritakan pengalaman mereka berubah menjadi animagus. Ketika giliran sampai di Nakamura Rio, gadis blonde bermata sipit itu bicara.

"Saat liburan aku mencoba berubah wujud menjadi animagusku. Dan voila! Aku berubah menjadi seekor cheetah."

Kemudian sama halnya seperti Karma, beberapa murid terlihat kagum dengan pengakuan Nakamura.

Sepertinya ini sedang membahas tentang animagus, pikir Karma.

Kemudian disusul dengan cerita Isogai yang katanya pernah melihat pantulan cerminnya berupa kuda hitam, Kanzaki yang pernah satu kali berubah menjadi rusa betina-yang membuat Sugino baper dipojokan-, dan Itona yang memang sudah stabil dengan animagusnya, seekor bunglon. Tiba-tiba tangan Sugaya terangkat, hendak menanyakan sesuatu.

"Sensei, apa kita bisa mengubah jenis animagus kita sendiri?"

Sejenak guru berperawakan roti sobek itu berpikir, kemudian beliau menjawab, "Bisa."

"Benarkah?"

"Ya, tapi dengan catatan orang tuamu memiliki jenis animagus yang berbeda. Tapi kemungkinan berhasilnya tidak besar, karena itu membutuhkan metode khusus dan akan sedikit mengubah kepribadianmu."

"Ah—begitu ya."

"Memang apa animagusmu? Kenapa kau ingin mengubahnya?"

"Err—masalah itu .. sebenarnya aku tidak begitu suka dengan animagusku," Sugaya sedikit salah tingkah, membuat yang lain penasaran.

"Hey Sugaya, jangan bilang animagusmu adalah .. kecoak?" Okajima menatap horror teman rambut peraknya itu.

"Bu-bukan! Tapi animagusku—kukang."

Tiga detik berlalu dengan keheningan memproses ucapan Sugaya, dan setelahnya terdengar gelak tawa dari semua temannya, bahkan Karasuma sensei sendiri setengah mati mencegah tawanya keluar, namun tidak dengan bahunya yg bergetar.

"Ahahaha Sugaya, aku tahu kau itu lemot, tapi tak kusangka animagusmu akan jadi kukang! Hahahaha," begitulah pendapat segelintir orang yang justru terlihat bahagia ketika mengetahui bahwa animagus Sugaya adalah kukang.

Karasuma sensei berdeham untuk mengembalikan wibawanya sebelum akhirnya beliau berkata, "Baiklah anak-anak, cukup. Pelajaran kali ini ada mengetahui apa animagus kalian. Akan kubuat menjadi dua kelompok, kelompok yang sudah bisa berubah menjadi animagus, dan kelompok yang belum. Untuk yang sudah berada sisi kiri, yang belum di sisi kanan."

Dalam hitungan 10 detik satu kelas yang tadinya menyatu kini terbelah menjadi dua bagian. Karma mendapati dirinya di bagian kanan, dikarenakan dua hal. Satu, ia malas menunjukkan animagusnya karena bagi orang orang serigala adalah hewan yang sangat langka keberadaanya, jadi dia akan terus pura-pura belum bisa berubah menjadi animagus. Dua, Nagisa berada di sisi kanan. Well, untuk poin kedua, memang Karma benar benar penasaran sebenarnya apa animagus lelaki berpuncak biru langit itu. Dan disinilah dia, membentuk kelompok kecil beranggotakan dua orang, dengan partner kelompok yang sudah sangat ia rencanakan sedari tadi, Nagisa.

"Sekarang dengarkan anak-anak. Kubuatkan kelompok kecil ini dengan tujuan tertentu. Anggap saja partner kelompokmu adalah sesuatu yang dapat mengancam hidupmu. Sesuatu yang tak dapat kau lawan dengan mode manusiamu. Saat itu alam bawah sadarmu akan terbangun dan memaksamu untuk berubah dalam bentuk animagus. Sekarang cobalah!"

"K-karma-kun .. mohon bantuannya, ya."

Sepintas raut takut terlihat di wajah Nagisa, yang entah mengapa membuat perut Karma agak bergejolak melihatnya.

Karma tidak mau membuang kesempatan ini, dia harus tau animagus Nagisa. Jadi, sedikit 'keusilan' mungkin bisa mewujudkan impian Karma.

"Tidak mau"

"Eh?"

Karma maju, mengurangi jaraknya pada Nagisa. Tangannya sudah mengepal, bersiap untuk mendarat di pipi kiri Nagisa, sebelum sebuah aura mencekam mengelilingi Karma.

Mata Nagisa mendadak terpejam, dan detik berikutnya, mata itu terbuka dengan wujud yang berbeda, berwarna hijau cerah degan pupil segaris, seperti ular.

Eh? Apa-apaan—"

Mata itu seolah olah memiliki sebilah pedang yang hendak menancapkan ujungnya ke jantung Karma, membuat ia secara refleks menjauh dan tanpa diduganya taring dan ekornya telah muncul tanpa sepengatahuannya.

Sayangnya, kejadian langka itu tak disaksikan oleh seluruh kelas, bahkan Karasuma sensei tengah sibuk menyelamatkan Kayano-yang sedang berubah menjadi cumi-cumi-dari sinar matahari, takut kulitnya melepuh. Namun tidak bagi Nakamura Rio, yang sedari tadi hanya bengong dan matanya tak sengaja tertuju pada pasangan Karma-Nagisa.

"Ekor Karma, kok .. merah?"

"Kayano-san, kau bisa istirahat dulu disini, aku akan mencoba mencari lotion yang bisa mengobati kulitmu yang melepuh."

Karasuma-sensei tengah mengobati kulit bagian lengan kiri Kayano akibat pelajaran tadi. Perlu diketaui, pelajaran Karasuma-sensei adalah olahraga, namun karena ini adalah akademi khusus untuk animagus, jadi jabatannya juga sekaligus menjadi pelatih para animagus di akademi ini. dan menjadi guru olahraga dan pelatih animagus tentunya memiliki tanggung jawab dua kali lebih besar disbanding guru lainnya, termasuk tanggung jawab jika ada murid yang mengalami kecelakaan seperti Kayano.

"Baik, Sensei."

"Anoo Sensei, bolehkah aku masuk?" Semburat biru muda tiba-tiba mencuat dari balik pintu, menampakkan seorang Shiota Nagisa dengan dua botol berisi air bening di tangannya.

"Ada keperluan apa kau kesini, Shiota-san?" Karasuma yang agak sedikit kaget melihat Nagisa mencoba bertanya pada laki-laki manis itu.

"Aku dengar Kayano-chan terluka, maka aku mencoba memberinya obat, ini."

Nagisa menyodorkan sebuah botol dan membuka tutupnya, sedangkan botol satunya ia letakkan di atas nakas ruang kesehatan.

"Ini adalah ramuan keluargaku. Aku sering memberikannya pada animagus yang sedang terluka. Cukup oleskan air ini ke bagian yang luka, maka luka itu akan sembuh."

Tangan Nagisa mencoba mengoleskannya pada bagian luka Kayano, dan selama beberapa detik kemudian, luka tersebut perlahan menutup dan kulitnya kembali menyatu seperti sedia kala. Hal ini tentu membuat Karasuma-sensei dan Kayano kaget dan takjub.

"Nagisa, ini keren sekali!"

"Bagaimana kau bisa membuat ramuan itu, Shiota-san?"

"Sewaktu bulan purnama, aku dan ayahku sering mencoba datang ke sebuah mata air dekat rumah dan mencoba membuat ramuan itu. Caranya hanya dengan menggigit ujung pedang merah yang dimiliki ayahku dan mencelupkan pedang itu ke dalam mata air. Mata air itu akan berwarna kemerah-merahan dan kemudian bening lagi. Air itu kemudian bisa dijadikan sebagai penyembuh para animagus."

"Eh benarkah? Ini hebat!"

"Uh—begitu, ya?"

"Baiklah, dengan begini luka Kayano-san bisa sembuh dalam waktu dekat. Terima kasih, Shiota-san."

"I-iya, sama-sama, Sensei."

Ketika konversasi antara Karasuma-sensei, Kayano, dan Nagisa itu selesai, diam-diam Karma mendengarkan dari luar ruangan. Dalam hati pemuda bersurai merah itu berkata, "Bulan Purnama, Pedang Merah, Ramuan Penyembuh—Well, masih ada harapan, ya?"

Karma tengah memasuki kamar asramanya ketika ia menemukan Nagisa sedang berjalan menuju kamarnya sendiri.

Ini kesempatan untuk mengetahuinya, pikir Karma.

Ia buru-buru mengikuti si biru langit itu hingga saat tangan mungil itu hendak membuka kenop pintunya, suara berat khas Karma menginterupsi kegiatan Nagisa.

"Hai, Nagisa."

Karma melihat tubuh kecil itu sedikit terlonjak ketika ia menyapanya. Detik kemudian Nagisa mencoba membalikkan badan dan mata biru itu sedikit membulat melihat Karma.

"Oh hai, Karma. Aku tidak mendegarmu datang. Ada yang bisa kubantu?"

Karma mencoba memperhatikan Nagisa, sedikit mengulur waktu sementara otaknya berpikir untuk mencari kalimat yang pas untuk dilontarkan pada Nagisa. Sebenarnya ia ingin sekali langsung menanyakan apakah Nagisa seorang Seifert atau bukan, namun ia memiliki keyakinan bahwa Nagisa bahkan tidak tahu apa itu Seifert. Dilihat dari pembicaraannya dengan Karasuma-sensei dan Kayano di ruang kesehatan, ia yakin Nagisa tidak tahu apa-apa.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu."

Lawan bicaranya kini mulai kebingungan dengan arah pembicaraan Karma, kepalanya ia miringkan ke samping dengan sangat imutnya, mencoba meminta penjelasan lebih, membuat sesuatu dalam diri Karma bergejolak, lagi.

"Tentang?"

Tiba-tiba seperti ada tarikan magnet diantara mereka. Karma semakin mendorong tubuhnya mendekati Nagisa. Ia mencoba menghimpit Nagisa hingga punggung kecil itu sukses bersentuhan dengan pintu. Sejauh ini hanya ada satu cara yang terlintas dalam benak Karma untuk membuktikan bahwa Nagisa adalah Seifert.

Mendesaknya.

Namun ia tidak menyangka bahwa tubuhnya akan kehilangan kontrol ketika jarak mereka hanya tinggal sejengkal, tanpa komando bibir Karma lancang melumat lembut bibir Nagisa, membuat surai biru itu terlonjak dan tanpa disangka, ia menggigit bibir bawah Karma.

"Aw!"

Tubuh Karma yang masih syok dengan kejadian barusan segera didorong kuat oleh Nagisa. Karma yang masih setia memegang bibir bawahnya kini tengah memandang wajah Nagisa yang merah memadam dan terlihat entahlah—terluka? Sebelum sempat Karma mengatakan bahwa kejadian barusan adalah bukan atas kemauannya, Nagisa sudah membuka pintunya dan menutup keras-keras.

"Nagisa—"

"Pergilah."

Detik kemudian Karma kembali masuk ke dalam kamarnya dengan luka berbentuk dua titik kecil di bibir bawahnya, serta tubuh yang sehat dan bugar.

Kalau dipikir-pikir, nama ayah Nagisa itu sedikit ambigu juga, bukankah kanji Go bisa dibaca Kata juga, ya? Jadi—Katari?

Karma kembali menyentuh bibirnya, kali ini dengan dengan sedikit jilatan, dan mata yang berubah dalam mode rubydolfnya, "Manis sekali, Nagisa."

Nb: kanji ayah Nagisa dalam fic ini dinamai dengan 語り, yang bisa dibaca Gori atau Katari, kayaknya sih. Namanya juga fanfic, ngablu dikit tak apalah hehehe XD