Chapter 4
Shattered Past
Pagi itu suasana Akademi Kunugigaoka terasa biasa saja, namun tidak dengan ruang guru yang terdengar beberapa seruan keras dari tiga guru fenomenal kelas 3.
"Bolos kelas seharian!"
"Keluar masuk Akademi tanpa ijin!"
"Tiba-tiba datang dengan luka-luka seperti itu, sebenarnya apa yang telah kau lakukan, Akabane-san?!"
Kira-kira seperti itulah kalimat yang diserukan oleh Korosensei, Irina-sensei, dan Karasuma-sensei yang tidak habis pikir dengan tingkah Karma.
Bayangkan saja, seharian tanpa kabar, diduga ia keluar dari akademi tanpa ijin, dan esoknya ia ditemukan sedang menyusup ke kamarnya sebelum ketahuan oleh Karasuma-sensei dengan luka di sekujur tubuhnya. Sepertinya detensi semalaman tidak akan cukup untuk menjadikannya jera. Ketiga guru itu hanya bisa menatap geram melihat siswanya hanya duduk dengan mata kosong dan diam tak bergeming.
"Maafkan saya, sensei."
Hanya itu saja yang keluar dari mulut Karma, sama sekali tidak menjawab pertanyaan gurunya.
"Kau tahu kan maaf saja tidak cukup, Akabane-san."
Kali ini guru cantik yang membalas perkataan lelaki surai merah.
"Saya siap dihukum kok."
"Kami ingin tahu alasanmu melakukan hal seperti itu, Karma-kun."
"BISAKAH KALIAN BERHENTI BERTANYA?!"
Tiba-tiba Karma bangkit, berteriak dengan setengah mengaktifkan mode animagusnya, yang berarti mata merah dan gigi taring tajam serta secara tersirat merapalkan mantra hipnotis pada ketiga gurunya.
"Baik, Akabane-san. Malam ini kau kuberikan detensi skors selama sehari dan membersihkan perpustakaan selama 1 jam, tanpa menggunakan mode animagus."
"Setelah itu kerjakan semua PR dari kami, kumpulkan besok pagi."
Karasuma-sensei dan Irina-sensei berbicara kepada Karma seperti robot, pertanda hipnotis Karma berhasil.
"Baik, aku permisi dulu, Sensei."
Sepeninggal Karma, ruangan itu kembali normal dengan Irina-sensei dan Karasuma-sensei yang sedikit linglung, namun tidak dengan Korosensei yang sedari tadi tidak terpengaruh dengan hipnotis Karma.
"Nurufufufu, Karma-kun menarik sekali, ya."
Sesampainya Karma di kamarnya kali pertama yang ia lakukan adalah merebahkan diri pada pulau kapuk. Matanya menerawang jauh pada langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali pada kejadian yang ia alami kemarin. Ingin rasanya lelaki bersurai merah itu tidak mempercayai apa yang terjadi kemarin, namun kenyataan begitu menampar Karma hingga ia tak bisa berkata apa-apa—
Langkahnya ia percepat, tubuhnya bergesekkan dengan ranting pepohonan. Ia tak peduli dengan ranting-ranting yang mulai menggores kasar permukaan kulitnya. Tujuannya hanya satu, memastikan bahwa mimpinya tidak benar. Begitu Karma tiba di sebuah hutan yang dingin dan mencekam, ia sejenak berhenti untuk memandangi Hutan Aoikigahara, tempat terjadinya tragedi purnama berdarah, tempat tinggalnya dulu. Ia mencoba memasuki area itu hingga kakinya menginjak sesuatu yang keras, sebuah kalung.
Ini—kalung Libra.
Buru-buru tangannya meraih benda berbentuk kalung dengan sebuah kayu bulat berbentuk simbol libra sebagai bandulnya itu.
Masih tersisa mantra Libra, tapi kemana dia? Kenapa ia meninggalkan kalung ini disini?
Ssshhh—
Tiba-tiba kalung itu mengeluarkan asap putih hingga akhirnya membentuk sebuah siluet seekor serigala. Lebih tepatnya siluet Libra.
"Ophiocus, jika kau menemukan kalung ini, itu berarti aku telah masuk dalam kelompok merledolf. Maafkan aku, tapi aku sungguh tidak berdaya melawan mereka semua. Kekuatan mereka sudah berlipat ganda semenjak albadolf masuk dalam kawanan. Walaupun aku ketua albadolf, namun sebelas banding satu tetap bukanlah perbandingan yang seimbang—"
Karma tercekat mendengarnya. Mimpinya semalam benar. Libra telah bergabung dangan kawanan merledolf.
"—Purnama sudah hampir dekat. Yang terpenting sekarang adalah kau harus bisa menemukan seifert itu. Katakanlah yang sebenarnya. Bawa dia ke gua di tengah hutan tempat tinggal merledolf dan seimbangkanlah kami sekali lagi. Dan ingat, jika kau bertemu denganku, jangan pernah kau terusik dengan omonganku, karena aku sedang dalam pengaruh merledolf. Sekarang pergilah, tuntaskan misimu."
Karma benar-benar takut. Jika tak ada albadolf lagi dalam lykaios, bisa-bisa keseimbangan bisa hancur. Belum lagi Libra, yang menurut Karma adalah lykaios terbaik diantara yang lain, sudah diklaim oleh merledolf. Ia takut bahwa lambat laun dirinya juga akan terpengaruh dengan keadaan itu, bahwa sedikit demi sedikit kebaikan dalam dirinya akan pudar, dan diganti dengan niat jahat.
Ah—ini benar-benar gawat.
Karma berusaha memejamkan matanya. Tubuhnya butuh istirahat setelah perjalanannya menuju Hutan Aokigahara. Saat ia tidak bisa menahan kantuknya lagi, pikirannya mengulang momen-momen ketika ia bertemu dengan Libra.
"Hey, pemuda, kau tersesat?"
Seekor serigala? Berbicara?
"Mari, biar kutunjukkan jalan keluar hutan ini."
"Tu-tunggu!"
Kemudian serigala putih itu berbalik kearah pemuda.
"Aku tidak ingin kembali. Aku ingin—mati."
Sejenak serigala itu tertegun dengan kalimat si pemuda, namun detik berikutnya ia terkekeh dan membalas, "Heh, mati katamu? Ini belum saatnya, nak."
"Keluargaku—semuanya sudah meninggalkanku. Aku sudah tak punya apapun disini, untuk apa aku terus hidup?"
Untuk pertama kalinya si pemuda dengan jelas melihat mata serigala yang sedang terfokus padanya. Warnanya bukan emas maupun merah, tapi—violet?
"Nak, maaf aku tak bisa mengabulkan permintaanmu. Tapi aku bisa memberikanmu kehidupan yang lain—"
Sesaat mata pemuda tersebut berkilat semangat.
"—Maukah kau jadi rubydolf?"
Nagisa selesai mengerjakan PRnya. Lelaki kecil itu kini tengah membereskan peralatan tulis dan bersiap untuk tidur. Namun ketika tubuhnya berbalik, ia dengan jelas melihat Karma tiba-tiba muncul di kamarnya, padahal jelas-jelas Nagisa sudah mengunci pintu.
"Ya Tuhan! Karma-kun! Da-darimana kau bisa masuk? K-kau terluka?"
"Itu bisa dijawab nanti. Sekarang, aku ingin bicara dengan Seifert, animagusmu."
"A-apa? Seifert? Karma-kun, bahkan aku belum bisa berubah wujud utuh dalam mode animagus, dan aku juga belum tahu wujud animagusku apa—"
"Mungkin aku bisa sedikit memberikan dorongan."
"Do-dorongan? Apa maksu—mmph!"
Lagi. kedua bibir itu menyatu kembali. Namun kali ini Karma lebih agresif dan Nagisa yang semakin meronta. Bukan Karma namanya jika ia kalah dalam pertarungan ini. Entah sudah berapa kali ciuman yang dilancarkan oleh surai merah itu hingga akhirnya Nagisa pasrah dan berhenti meronta.
Kumpulan asap tipis keluar dari tubuh Nagisa dan menyelubungi mereka berdua. Pada tubuh Karma, asap itu perlahan menutup luka-luka akibat perjalanannya menuju hutan tadi. Reaksi asap khas seifert itu juga menyebabkan tubuh Karma kembali mendapatkan energinya. Bagi Karma, asap itu membuat Nagisa semakin terlihat menggairahkan.
Hee—kau menikmatinya, Nagisa?
Kemudian Karma menaikkan levelnya, kini lidahnya tengah terjulur dan memaksa masuk untuk menjelajahi milik Nagisa, namun terhenti ketika sebuah tangan kecil terangkat dan menampar Karma hingga ia jatuh tersungkur.
"Beraninya kau menyetuh Nagisa, serigala kotor!"
Masih dalam wujud manusianya, namun kini mata dan gigi Nagisa tengah berubah seperti ular, ditambah dengan aura mencekam yang jujur membuat Karma merinding.
"Heh, kau tahu aku rubydolf ya?"
"Tentu saja. Walaupun kau masih dalam wujud manusia tapi kau tidak bisa menyembunyikan aura busukmu itu. Wujud manusiamu juga sama busuknya."
"Tapi kelihatannya Nagisa menyukai kebusukkanku, tuh."
Mata seifert itu memincing, "Dia masih telalu polos untuk ini, dan kau telah menodainya. Pasti ada niat jahat dibalik ini semua—"
"Whoaa tunggu dulu, memang aku memiliki tujuan khusus. Tapi percayalah, tujuanku baik. Aku meminta bantuanmu untuk memperbaiki keseimbangan lykaios. Saat ini, semua lykaios dikuasai oleh merledolf. Aku membutuhkanmu untuk mengembalikan albadolf kembali. Untuk itu aku mandekati Nagisa, agar bisa bicara denganmu."
Sang seifert terus memincingkan matanya kembali, pertanda ia belum sepenuhnya percaya dengan omongan Karma. Namun ketika ia tidak menemukan suatu kebohongan dalam kalimat pemuda surai merah itu, akhirnya ia membuka mulut.
"Benar-benar licik kau ini, mempermainkan hati seseorang untuk tujuan lain. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Nagisa saat tahu ia hanya sebagai pancinganmu saja. Kau pikir aku akan membantumu, hah?"
"Tak kusangka seifert itu cerewet sekali, ya? Kalau kau tidak mau membantu kami hanya karena aku mempermainkan Nagisa, terserah! Aku sudah mencoba bicara denganmu, jadi jangan salahkan aku jika keadaan mulai memburuk karena keseimbangan lykaios, dan kau yang menjadi satu-satunya penyelamat mendadak keras kepala tidak mau membantu."
"Cih, seekor serigala sepertimu bisa memperingatkanku? Dengar ya, apapun yang terjadi pada Nagisa adalah tanggung jawabku, jadi aku tidak mau dia menderita karena seseorang sepertimu!"
Hah, dasar animagus super protektif.
Saat Karma bergumam, sepertinya seifert itu mengetahuinya, ia mendelik dan melanjutkan kalimatnya.
"Aku akan membantumu, asal kau mau meminta maaf pada Nagisa setelah ini. dan aku juga tidak mau Nagisa berada dekat dengan rubydolf, jadi setelah ini, jauhi Nagisa. Janji?"
Entah kenapa mendengarnya hati Karma mencelos.
Belum apa-apa sudah ditolak.
Namun ia tetap memasang wajah tenang dan membalas pertanyaan seifert.
"Aku janji."
Haaaai aku kembali lagi setelah sekian lama menghilaaang *emang ada yg nyariin?/gubrak
Aku mau jawab pertanyaan dari Jellychoco:
Dibilang ada referensi, cuma berupa sekelumit urban legend yg pernah iseng-osengoseng(?) aku baca, tapi kalo dibilang ngarang sendiri juga banyak istilah yang aku ambil dari beberapa pop culture dibeberapa daerah timur atau barat. Yang jelas sih pertama kali muncul ide ini waktu baca urban legend Black Cadejo, coba search aja di mbahgoog, terus tadinya ide itu gak buat fandom AnKyou, tapi waktu itu entah kenapa pas banget lagi mantengin Karma, dan langsung deh diputuskan Karma jadi tokoh utama ide ceritaku. Yaaa, lebih kurang begitulaah.
Tinggal 1 chapter lagi, semoga aku bisa apdet cepet, tunggu kisah Karma mencari cinta(?) berikutnyaa~
