"Aku tahu ini situasi genting, tapi tak bisakah kau menunggu sampai besok? Ini sudah malam, dan besok libur, apa kau tidak bisa menahan semalam saja?"

"Menunggu sampai besok? Kau gila? Bisa-bisa merledolf sudah berhasil membantai semua animagus."

"Kau berlebihan, Serigala. Ini memang hampir purnama, tapi darimana merledolf memiliki kekuatan untuk membantai selain dari purnama? Dengar, kita beraksi besok malam, kusiapkan segala perlengkapannya hari ini. Walaupun aku kuat tapi aku sedang dalam tubuh Nagisa, baru saja ia mengerjakan semua PR nya dan tubuh ini butuh istirahat."

"Ck, selain cerewet, kau juga tukang tawar juga ya, berbakat sekali kau jadi pedagang daging."

"Hey serigala jelek, jangan sampai aku mencabik-cabik daging mu yang busuk untuk kudagang nanti ya."

"Hoo jadi benar kau seorang pedagang? Dengar, kita harus bergegas malam ini, sebelum semua berakhir. Bawa pedang rubymu. Jam 10 kita bergerak. Aku tidak mau mendengar komplain darimu."

"Memangnya siapa kau—eh, apa?"

Seperti orang linglung, perkataan seifert segera terputus tiba-tiba, membuat Karma menaikkan alis kebingungan.

"Kau kenapa?"

Dengan berat hati seifert itu berkata lagi, "Baiklah."

Mata ular itu mengontak Karma kembali, melanjutkan pembicaraan tadi.

"Tadi Nagisa bilang, turuti saja kemauan Karma, Ia bilang tidak apa-apa."

"Hah? Jadi Nagisa mendengar pembicaraan kita?"

Kemudian Seifert itu menatap Karma agak terkejut, sebelum ia menyunggingkan senyum mengejek.

"Kau bodoh ya? Ini tubuh Nagisa, tentu saja Nagisa mendengar semuanya."

Chapter 5
EXECUTION

"Hey, jadi kita mau kemana?"

"Hutan"

"Hutan apa?"

"Ck, kau berisik sekali sih? Hutan Aokigahara, bukankah kau ingat betul satu-satunya hutan yang hanya dihuni lykaios? Kau pernah menyeimbangkan mereka dulu, ingat?"

"Jika kau jenius, harusnya kau tau bahwa itu sudah terjadi hampir beribu tahun lalu, dan mana mungkin aku bisa mengingatnya dengan jelas."

"Hah, kupikir Seifert itu keren dan tanpa kelemahan sedikitpun, ternyata dia bisa pikun juga."

"Apa kau bilang?"

"Ah? Tidak, itu suara jangkrik."

"Huh dasar serigala sialan, aku heran kenapa Nagisa bisa menyukainya."

"Apa kau bilang?"

"Hah? Tidak, itu tadi suara jangkrik. Puas?"

Karma kesal ucapannya digunakan balik oleh seifert. Ia memutuskan untuk menganti topik lain, "Jadi, dimana pedang rubynya? Jangan bilang ketinggalan."

"Tentu saja tidak, pedang ruby adalah pedang yang fleksibel, ia bisa kupanggil dan kuhilangkan semauku. Jadi aku tidak perlu repot repot membawanya."

"Baiklah, jadi jangan sampai saat situasi genting kau malah kabur dengan modus pedangmu ketinggalan."

"Kau tahu serigala, rasanya aku ingin mengulang tragedi purnama berdarah hanya untuk melihat kau mati membusuk."

Tibalah mereka di Hutan Aokigahara. Hutan dengan aura lebih mencekam dari kali terakhir Karma datang. perlahan kaki mereka melangkah masuk kedalam kegelapan hutan itu. Hingga tibalah mereka di sebuah gua, tempat yang Karma yakini adalah persembunyian merledolf.

"Hei serigala merah, berubahlah, dan panggil mereka ke mari. Aku tidak bisa masuk dalam gua sekecil ini."

"Kau bodoh, Seifert? Jika aku masuk bisa-bisa merledolf akan bertambah menjadi tiga belas ekor! Lagipula kenapa kau tidak berubah wujud menjadi ular saja? Wujudmu lebih mudah masuk kedalam daripada aku."

"Tidak mau, aku curiga kalau ternyata ini semua adalah rencana busukmu untuk membohongiku."

"Kau ini—"

"Wah wah wah, lihat siapa yang datang."

Adu mulut Karma dan Seifert terputus ketika beberapa ekor merledolf keluar dari pesembunyiannya, membuat Karma mengubah mode manusianya menjadi setengah rubydolf.

"Taurus."

Seekor serigala hitam terbesar dari yang lain berjalan mendekat ke arah mereka. Matanya merah menyala, dengan beberapa luka mengerikan di sekujur wajah dan tubuhnya. Menambah kesan mengerikan bagi siapapun yang melihat merledolf itu.

"Lama tidak melihat wujud manusiamu, Opiochus. Kukira kau sudah mati entah bagaimana, tapi untung saja Libra memberitahuku, jadi aku dengan sabar menunggumu disini."

Taurus menggerling ke sebelah kirinya, dimana ada merledolf yang dulunya menjadi ketua para albadolf, Libra.

"Cih, berani-beraninya kau—"

"Well, kita akhiri basa-basinya. Taurus, hajar dia."

Karma tahu sekarang Libra adalah merledolf, hanya saja tidak menyangka bahwa Libra akan mengatakan hal itu padanya. Dan disaat genting seperti ini, dimana si seifert sialan itu? Kenapa Karma tidak sadar dengan hilangnya dia.

Karma, berubahlah.

Ini—suara Nagisa? Dalam pikirannya?

Berubahlah, dan pergi ke sungai dekat lembah.

Karma langsung mengubah dirinya menjadi rubydolf. Ia berlari sekencang mungkin menghindari serangan merledolf.

Kau dimana, Nagisa? Dan Seifert?

Kami sedang bersembunyi, Karma. Kami akan kalah melawan mereka disana. Maka dari itu pancing mereka ke arah sungai.

Begitu sampai di sungai, ia berhenti mendadak karena ternyata aliran sungai itu sangat deras.

Sekarang apa, Nagisa?

Lompatlah.

Hah? Kau yakin, Nagisa? Sungai ini deras sekali!

Aku akan membantumu, jadi lompatlah, Karma.

Merasa terdesak antara harus melompat atau diserang oleh merledolf yang makin mendekat, Karma mengambil posisi dan mulai melompat. Entah kenapa, ia merasa bahwa ada sesuatu ya membuatnya lebih ringan dan mampu melompati sungai deras itu. Ketika Karma sampai pada tepi lain sungai, para merledolf mendadak berhenti dan menatap Karma dari sana.

"Kau pintar sekali, Opiochus. Menghindari kami dengan menyebrangi sungai ini."

Karma ingat kalau merledolf takut dengan air, tapi ia tahu hanya menghindarinya tidak akan menghasilkan apa-apa.

Nagisa, dimana si Seifert itu? Rencanamu tidak hanya sampai disini saja kan?

Tidak ada balasan.

Sialan, disaat seperti ini—

Zrash!

Tiba tiba muncul dari dalam sungai, seekor ular putih bermata kuning menyala muncul dan menghentikan aliran sungai deras itu. Bulan mendadak muncul dari persembunyiannya, menampilkan seluruh tubuhnya utuh dengan warna senada dengan mata sang ular.

"Seifert—"

"Kau masih mengingatku, eh? Aku saja hampir lupa dengan kalian."

"Tak kusangka menggiring kalian akan jadi semudah ini, tahu begitu lebih baik aku mengulur waktu hingga rubydolf tercabik-cabik dulu, ya."

Sialan kau ular jelek.

"Jangan kau pikir kau bisa menyeimbangkan kami lagi, ular busuk! Sudah saatnya merledolf berkuasa! Aku tidak akan pernah-"

Srrett!

Dalam sekejab, ular itu sudah melilit sebagian tubuh Taurus, dengan mulut terbuka dan memperlihatkan sebagian dari pedang ruby.

"Jangan sampai aku menjadikanmu albadolf, Taurus. Atau lebih parah, anjing kampung?"

"Taurus, sudahlah. Percuma kita melakukan perlawanan, lebih baik akhiri saja ini semua. Bukankah kita adalah Lykaios, animagus tersuci dari semuamya?"

Salah satu merledolf, Cancer, menyatakan pendapatnya, kemudian dibalas pendapat yang sama dengan lainnya.

"Jadi, apa kalian setuju jika aku menyeimbangkan kalian lagi?"

Hampir semua mengangguk, tersisa Taurus.

"Well, Taurus?"

"Terserah kau sajalah."

Kemudian Seifert melepas Taurus, dan memulai ritual keseimbangannya. Ia menempelkan pedang ruby pada setiap dada merledolf. Setengah dari para merledolf kembali lagi menjadi albadolf, dan setengahnya tetap menjadi merledolf, namun dengan hati yang lebih bersih dari segala nafsu kekuasaan.

"Seifert, Katari-sama."

Seifert itu menoleh, mendapati Libra yang telah menjadi albadolf membungkuk hormat padanya.

"Terima kasih, telah menyeimbangkan kami lagi."

"Sama-sama, Libra, Asano-kun."

"Apa yang bisa kami berikan untuk membalas jasamu?"

Seifert itu menoleh ke sisi lain sungai yang kini telah mengalir seperti semula, tempat Karma berdiri.

"Kau tahu kan jika aku sangat membenci ketidakseimbangan?"

Sedikit bingung, namun Libra menjawab, "Ya?"

"Dan kau tahu kan jika aku juga sangat membenci pada hal-hal yang berpotensi untuk merusak keseimbangan?"

Sekarang albadolf bermata violet itu mengetahui maksud pembicaraan Seifert, sambil melirik ke arah Karma ia menjawab, "Oh—ya. Jadi?"

"ijinkan aku memusnahkan rubydolf, lagi."

Dan hal terakhir yang Karma ingat adalah Seifert menghunuskan pedang ruby yang menembus jantungnya sambil berkata, "Jaga Nagisa, Serigala Merah."

Karma terbangun dari tidurnya. Ia mendapati terbaring di sebuah ruangan bernuansa putih gading.

Ah, aku sudah mati ya?

Karena seingat Karma, tidak ada yang menyelamatkannya setelah ia ditikam pedang ruby. Jadi ini mungkin semacam delusinya di alam baka.

"Heh, kupikir surga itu penuh dengan taman dan sungai."

"Ini kamar asramaku, Karma. Bukan surga."

Karma segera menoleh kearah samping. Mendapati seseorang berambut biru tergerai yang memakai kaos putih agak kebesaran, Nagisa.

"Na-Nagisa?"

"Syukurlah kau sudah sadar, Karma."

Katanya dengan senyum lega.

Ini—delusi kan?

"Kupikir kau akan terbangun lebih lama lagi, mengingat Seifert sepertinya menghunuskan pedang terlalu dalam padamu."

Eh? Tu-tunggu—

"Atau bahkan, kau tidak akan pernah bangu—"

"Tunggu dulu, Nagisa!"

Nagisa agak terkejut karena Karma sedikit berteriak padanya.

"Jadi, aku—belum mati?"

"Te-tentu saja, Karma. Sekarang kau bahkan sudah sadar."

"Bukankah tadi malam si ular itu mencapkan pedang padaku? Kenapa aku tidak mati?"

"Oh, itu—" Nagisa tampak berpikir untuk mengatakan kalimat yang pas untuk diucapkan, sedikit membuat Karma gemas melihatnya.

"Jadi sebenarnya Seifert membenci keberadaan rubydolf, karena banyak masalah yang ditimbulkan jika rubydolf ada di tengah-tengah lykaios. Maka dari itu ia ingin memusnahkan rubydolf. Hanya rubydolfnya saja. Jadi dalam kata lain jiwa rubydolf dalam diri Karma musnah, tapi Karma sendiri masih hidup."

"Oh, begitu—" entah kenapa Karma merasa sangat senang mendengarnya. Ia dulu memang sempat ingin mengakhiri hidupnya saja, namun semenjak ia mengenal lykaios, dan Nagisa, ia membuang jauh-jauh keinginan itu. Tapi disisi lain, Karma sedikit sedih begitu mengetahui bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.

"Jadi, sekarang aku manusia, ya?"

"Eh? Benarkah? Bukankah waktu Karma bilang kalau Karma pernah bermimpi anjing siberian husky ya?"

"Tapi itu sudah lama sekali, Nagisa."

"Tetap saja kau masih animagus, Karma. Hanya saja bentuk animagusmu belum pernah kau coba. Selain itu—"

Karma melihat raut sendu dari wajah Nagisa, "Sepertinya Seifert meninggalkanku."

"Hah? Kenapa?"

"Kata ayahku, animagus seifert hanya akan muncul disaat-saat tertentu saja. Selebihnya dia hanya bersembunyi atau bahkan mencari tubuh lain di generasi selanjutnya. Tapi sampai sekarang, walau seifert sudah tidak muncul lagi, aku masih bisa menghasilkan obat penyembuh para animagus, jadi mungkin dia hanya bersembunyi saja mungkin ya, hehehe."

Karma tertegun, Nagisa jelas sekali sedang menyembunyikan kekhawatirannya jika Seifert meninggalkannya. Tiba-tiba sebuah ide melintas di otaknya.

"Hee, kau yakin masih bisa membuat obat penyembuh? Mana buktinya?"

"Eh? Tentu saja, ini bukti—"

Grebb!

Karma menarik dan mengunci Nagisa dalam pelukannya.

"Sepertinya obat itu kurang ampuh. Apa aku harus minum obat dari sumbernya langsung ya?"

Rona merah menjalar disekitar pipi mulus Nagisa, "Ka-karma, jangan sampai membuat Seifert marah karena ini—"

"Tapi kau menikmatinya kan, Nagisaku?"

Wajah Nagisa sudah merah padam bagai kepiting rebus.

"Lagipula," jemari Karma menyusup ke pipi Nagisa, kemudian membelai lembut rambutnya ya baru saja dikeramas.

"Bukankah ini bagus? Jadi seifert tidak perlu pergi dan repot-repot mencari generasi baru, karena kita akan mencoba membuatnya."

Kemudian Nagisa hanya bisa berdoa semoga obat penyembuhnya tidak hanya bisa menyembuhkan luka, tapi juga kissmark-kissmark yang diciptakan Karma.

Nagisa masuk ke dalam kelasnya. Setelah kemarin ia dan Karma melakukan bebagai banyak hal rasanya ia ingin menghindari Karma seharian. Jadi begitu pintu kelas ia buka, ia lagsung menuju tempat duduknya, dan mengabaikan Karma yang sedari tadi melihatnya dengan tatapan nakal, sedikit membuat Nagisa sesak napas. Kemudian lelaki bersuai biru itu melirik teman sebelahnya, Nakamura Rio, yang tengah asik menulis sesuatu di kertas.

"Sedang apa, Nakamura-san?"

Nagisa bertanya pada Nakamura, pasalnya ia tahu benar hari ini tidak ada PR, jadi tidak mungkin Nakamura sedang mengerjakan PRnya.

"Aku? Sedang menulis,"katanya santai sambil mencoba menempelkan kertas tulisannya dengan kertas dari buku kuno yang pernah ia sobek di perpustakaan dulu.

"Kenapa kau tempel dengan kertas itu?"

"Karena aku akan menambahkan sebuah kisah baru di buku itu. Judulnya adalah Roman Animagus, Kisah Cinta antara Seifert Terakhir dan Rubydolf."

END