Naruto © Masashi Kishimoto

(I don't take any profit by publishing this fict)

AR/Fanon

Threeshots

SasuHina

Decided


-Chapter II-

Kegiatan pertama yang Hinata lakukan ketika baru saja bangun tidur adalah membuka pintu kamar secara perlahan untuk sekadar menengok sesosok pria yang tertidur di sofa. Perut berlapis t-shirt putih itu tampak kembang-kempis mengikuti irama napas. Usai bercakap-cakap singkat semalam, setelah candaan Sasuke (yang amat jarang sang pria lemparkan pada orang lain), Hinata pamit ke kamarnya untuk tidur. Namun, jujur saja, dia baru benar-benar bisa terlelap selang empat jam kemudian. Otaknya kembali memutar kalimat yang Sasuke perdengarkan, yang selalu sukses menuai corak merah di pipinya. Naruto saja belum pernah menujukan candaan seperti itu padanya. Tentu saja Hinata menjadi panik bukan kepalang.

"Atau kau memilih agar kita tidur di ranjang yang sama?"

Wanita kepala dua itu menggelengkan kepala berkali-kali, berusaha mengusir ucapan Sasuke. Dia bukan lagi remaja. Dia telah berkeluarga, bahkan memiliki dua orang anak. Ini bukan waktunya untuk bernostalgia dengan perasaan merah jambu a la remaja. Ada misi yang harus mereka berdua selesaikan dan oleh karenanya mereka berdua pergi ke dimensi ini.

Semalam, Sasuke memberikan beberapa lembar uang untuk Hinata, setidaknya uang tersebut, sang pria bilang, cukup untuk makan mereka berdua selama dua hari. Hinata tak tahu apa-apa soal dimensi ini dan Sasuke telah mewanti-wanti agar sang wanita berhati-hati. Dengan kata lain, Hinata tidak boleh bertindak sembrono.

Meskipun tak enak hati, Hinata tak ingin dia dan Sasuke melewatkan sarapan, maka dari itu, Hinata menghampiri sang pria raven untuk mengguncangkan tubuhnya.

"Sasuke-kun, bangunlah."

Bukan pria yang sulit bangun, mata oniks pun terlihat.

"Aku minta maaf karena membangunkanmu, tapi kita sama sekali tidak memiliki persediaan makanan apa pun."

Mata Sasuke melirik sosok Hinata yang membungkuk di sisinya. Terdiam sejenak, sang pria akhirnya beranjak duduk, memegangi pelipisnya. Rasa pusing dan lelah masih kentara terasa. Namun, apa boleh buat, dia tidak menyediakan makanan apa pun saat terakhir kali berkunjung ke dimensi ini beberapa waktu yang lalu. Mengerti arah pembicaraan Hinata, sang pria buka suara.

"Setelah mandi, aku akan menemanimu ke pusat perbelanjaan."


Dimensi ini sedikit banyak mengingatkan Hinata pada kota yang bersebelahan dengan Desa Konoha. Bangunan pencakar langit, kereta yang lalu lalang di atas mata, manusia yang sibuk hilir-mudik, gadget yang tak tanggal dalam genggaman tangan. Perbedaan mencolok di sini adalah tak ada eksistensi ninja yang melompat dari gedung ke gedung. Sasuke bergumam beberapa hal, sependengaran Hinata. Soal beberapa toko yang telah berganti nama atau soal jalanan yang dijadikan bangunan. Ruang hijau di sana semakin berkurang, tergantikan dengan padatnya gedung-gedung menjulang. Beberapa kali dia dan Hinata harus berputar arah ketika pusat perbelanjaan yang dituju rupanya sudah tidak beroperasi semenjak satu tahun lalu dan kini dibuka pusat perbelanjaan baru yang cukup jauh dari lokasi. Semaraknya jalanan dengan pengunjung pun membuat Hinata beberapa kali kehilangan arah, tak menemukan sosok Sasuke di dekatnya.

'Ini bagian dari peran suami-istri.' Hinata meyakinkan dirinya sendiri ketika Sasuke dan dirinya bergandengan tangan, menghindari kejadian Hinata tersesat terulang kembali.

Saat itulah, Hinata memikirkan beberapa hal. Dia dan Naruto bergandengan tangan beberapa kali saja. Masih bisa dihitung dengan jemari. pria itu seringkali memilih berjalan mendahuluinya dan Hinata akan mengikuti beberapa di belakang. Jika ada acara khusus, barulah dirinya berjalan di sisi Naruto. Itu pun masih minus bergandengan tangan. Hinata sadar, telapak tangannya mulai berkeringat lantaran tak terbiasa bergandengan tangan dengan lawan jenis. Namun, Hinata sadar, keringat ini bukan berasal dari pori-pori kulitnya semata, melainkan dari kulit Sasuke.

Meski bukan tipikal orang yang senang mencampuri urusan orang lain, yang bukan haknya, Hinata sedikit banyak mengetahui bahwa Sasuke pun tentunya tidak terlalu sering berkomunikasi intens dengan sang istri. Jangankan bergandengan tangan, bertemu pun amat jarang. Jika kembali ke Konoha, Sasuke akan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor Hokage, begitulah penuturan Naruto tentang Sasuke yang diketahuinya.

"Semalam, aku bertemu dengan Sasuke. Dia menitipkan permintaan maaf pada Sakura melalui diriku." Hinata terkenang ucapan suaminya sendiri.

Jauh, jauh di lubuk Hinata, ada beberapa pertanyaan yang dia coba hindari. Perihal, kenapa Sasuke bisa menikah dengan Sakura ketika bagi Hinata sendiri, Sasuke terlihat seperti pria yang tak akan keberatan sekalipun menjadi perjaka seumur hidupnya. Di sisi lain, Hinata bahkan sering mempertanyakan kenapa Naruto melamarnya. Sejak menyukai sang pria, Hinata tahu siapa wanita yang Naruto sukai dan wanita itu bukanlah dirinya. Proses lamaran dan pernikahan mereka terjadi sebelum Sasuke dan Sakura menikah, maka tidak ada alasan bagi Naruto untuk menyerah dalam memperjuangkan Sakura. Mereka berdua bisa saja menikah andai Naruto tak melamar dirinya. Jika Naruto melamar Sakura, terlepas dari jawaban sang Haruno sendiri, Sasuke jelas tak akan menikahi Sakura.

Apakah ini berarti Naruto sungguh-sungguh mencintainya? Apakah perasaan Naruto pada Sakura berubah sehingga akhirnya Naruto memilih melamar Hinata?

Wanita bermata lavandula tak mengerti pasti. Tak juga berusaha mengorek kebenaran. Dia kalut. Dia kalut dengan penjelasan Naruto yang sesungguhnya, alasan kenapa mereka berdua bisa merajut tali rumah tangga. Di samping itu, Naruto juga memberikan kesan mandiri, tipikal pria yang bisa hidup tanpa istri.

"Hinata?"

Hinata tak sadar bahwa Sasuke telah menghentikan langkah, membuat tangannya menarik tangan Sasuke.

"Kau menggenggam tanganku sangat erat."

Kontan saja Hinata melepaskan lima jemarinya dari jemari Sasuke. Bisa-bisanya dia memikirkan sesuatu sampai tidak sadar bahwa dia telah meremas jemari Sasuke.

Uchiha tampak menghela napas. Namun, pria itu tidak berkomentar lebih jauh, hanya menyamakan jarak dengan sang wanita dan menarik pergelangan tangannya.


Sebelum sampai ke lokasi pusat perbelanjaan, ada beberapa toko yang menyita perhatian Hinata. Toko yang menyuguhkan makanan manis dengan bentuk menarik. Salah satu toko yang Hinata pilih untuk disinggahi adalah toko taiyaki dengan bentuk menyerupai karakter animasi.

"Jika bukan berbentuk ikan, aku rasa nama makanan itu bukan lagi 'taiyaki'." Sasuke berseloroh sembari melanjutkan perjalanan.

"Naruto tidak pernah mengajakmu berjalan-jalan, Hinata?"

Kunyahan Hinata terinterupsi. Apakah sepanjang jalan tadi Sasuke pun memikirkan hubungan dirinya dan Naruto sama seperti dia yang memikirkan hubungan Sasuke dan Sakura?

"Beberapa tahun lalu, sebelum Himawari lahir, kami pergi ke pantai bersama."

"Itu sudah lama sekali."

Hinata tertawa kecil. Rasanya, Sasuke tidak berhak berkomentar demikian ketika Hinata sendiri menyangsikan bahwa sang pria pernah mengajak keluarganya bertamasya barang sekali saja. Namun, tentu saja Hinata tidak mengatakan hal tersebut terus terang.

Keduanya terus berjalan, menelusuri bangunan yang dituju, mencari beberapa buah, sayuran, daging, dan beras untuk makan dua hari. Uang yang tersisa digunakan keduanya untuk sarapan di luar, mencicipi rasa yang asing di lidang dari sajian egg waffle dan matcha latte. Hinata sibuk mengagumi penyajian dua hidangan tersebut ketika Sasuke memilih menyantap sarapannya dalam diam. Ya, bacon dan telur mata sapi serta kopi bukanlah sajian buruk di pagi hari bagi perutnya. Ini lebih baik ketimbang sarapan semasa mengembara beberapa kali di dimensinya sendiri. Hewan liar yang dibakar dan air sungai. Hanya itu.


Hinata dan Sasuke meneruskan perjalanan ke beberapa toko, menemani sang 'suami' mencari pekerjaan. Beruntung, ada sebuah toko 24 jam yang bersedia mempekerjakan Sasuke dengan bayaran 200 yen per jam. Hinata sendiri memilih untuk tidak bekerja. Dia tidak akan mengendurkan pengawasan kendatipun hanya berdiam diri di rumah. Waktu luangnya akan dia habiskan untuk mencari keberadaan buah chakra dan sang buronan.

Sasuke membekali Hinata dengan ponsel, sesuatu yang sudah tidak asing bagi Hinata. ponsel itu didapat cuma-cuma. Memang tak secanggih teknologi ponsel yang seharusnya sudah ada di zaman itu. Namun, dengan fasilitas email dan kamera belakang, Hinata rasa dia harus tetap bersyukur dengan pemberian Sasuke.


Seharian ini, aktivitas keduanya hanyalah berbincang dengan tetangga yang penasaran dengan rupa pendatang baru di apartemen mereka. Rupa Sasuke yang bagi sebagian penghuni tak asing, membuat sang pria hanya tinggal mengenalkan Hinata saja.

"Jadi kau sudah menikah? Sayang sekali, padahal aku ingin menjodohkanmu dengan keponakanku, Sasuke-kun."

"Kalian pasangan yang serasi."

"Bola matamu indah sekali, Hinata-chan."

Perkenalan yang memakan waktu kurang lebih tiga jam itu menyisakan beberapa makanan antaran dari beberapa tetangga. Umeboshi, unagi, dan kare. Hinata memasak sup miso, telur, dan salad sebagai hidangan lainnya. Tak lupa, nasi.

Ini aneh. Sebelum misi ini, mereka hanya berinteraksi singkat. Hinata hanya seringkali memberitahu Sasuke di mana Naruto berada karena hanya itulah alasan mereka berinteraksi. Itulah kenapa, rasanya aneh ketika dua orang yang tak dekat tiba-tiba saja bisa melewatkan beberapa saat bersama tanpa terlalu kaku. Mereka masih bisa mengobrol, membicarakan teknik ninja dari klan mereka berasal, memuji doujutsu unik masing-masing. Hyuuga dengan anugerah byakugan-nya dan Uchiha dengan anugerah sharingan-nya. Sasuke bilang, byakugan sesungguhnya lebih kuat dari byakugan, maka dari itu, Kaguya memiliki byakugan. Byakugan adalah jurus mata tertua dalam sejarah ninja. Namun, di eranya atau di era sebelumnya, pengendali sejati byakugan seolah berkurang drastis. Tak banyak anggota klan Hyuuga yang bisa menguasai byakugan secara total, menjadikan byakugan sekadar jurus mata yang sanggup menembus objek dan melihat aliran chakra saja.

Di sela obrolan, ada saatnya Hinata menyodorkan Sasuke kecap asin atau wasabi. Ada saatnya Sasuke pergi sebentar ke dapur untuk mengisi gelas Hinata yang sudah kosong. Santap bersama mereka entah bagaimana terasa sangat spesial di hati Hinata. Dia yang selama menikah kehilangan banyak kesempatan untuk bisa menyantap makanan satu meja dengan Naruto menganggap makan bersama adalah hal yang istimewa, yang baginya terasa begitu langka dan karena langka itulah, Hinata rasa, momen seperti ini akan melekat dalam benaknya.

Tanpa sadar, selintas, ada pengandaian yang muncul. Seandainya saja Sasuke adalah suaminya, akankah dia lebih bahagia? Akankah Sasuke meninggalkannya untuk mengembara? Jika dia adalah istri Sasuke, akankah sang pria mengajaknya?


Keduanya mencuci perabotan kotor berdua. Sasuke berdiri di sisi kanan Hinata, mengusap piring dan gelas yang Hinata cuci dengan kain sebelum menaruhnya di rak. Hinata terkadang mencuri pandang pada pria di sisinya. Hinata tak bisa melihat wajah Sasuke dengan jelas karena terhalang rambut sang pria dari samping. Seingat Hinata, Sakura pernah mengeluhkan sikap malas Sasuke ketika ada di rumah.

"Dia hanya tidur di sofa seharian atau pergi berjalan-jalan mengelilingi desa. Selebihnya, dia akan menetap di kantor Hokage. Itulah yang Sasuke lakukan saat pulang ke Konoha."

Sasuke tidak semalas itu. Selama beberapa jam yang dia lewatkan dengan Sasuke, kata malas tak pernah muncul untuk melabeli gerak-gerik sang pria. Sasuke cekatan. Mau beranjak untuk bersiap-siap ke pusat perbelanjaan, mencari pekerjaan, mengenalkan Hinata ke tetangga, membantunya memotong sayuran, dan kini, pria yang sama berada di sisinya untuk mengeringkan perabotan yang habis dicuci. Apakah karena akting belaka, sang pria bersemangat menghayati peran sebagai suami?


Seperti tujuan awal, keduanya tentu tidak hanya berperan selayaknya suami-istri, mereka memiliki misi untuk mencari buronan yang telah membawa lari buah chakra. Membelah malam dengan dua langkah mereka, Sasuke dan Hinata menelusuri jalanan Tokyo yang bisa lengang juga. Paling tidak, pinggiran Tokyo ini hanya dilalui oleh beberapa pelajar yang baru pulang, pemabuk, dan beberapa berandalan. Suara lolongan anjing terdengar dari kejauhan, seakan menjadi pertanda bahwa sesuatu akan terjadi. Hinata mengerling, mendapati sharingan Sasuke telah aktif. Tak mau ketinggalan, Hinata pun mengaktikan byakugan dan menelisir sekelilingnya. Tak ada hal mencurigakan. Tak ada penemuan chakra atau apa pun itu. Buah chakra tentu tidak akan lolos dari radar sharingan-rinnegan Sasuke atau byakugan Hinata. Chakra sebesar itu pasti mudah untuk dilacak.

Baru saja hendak melontarkan tanya, Sasuke dan Hinata terkesiap mendapati adanya chakra yang sangat kuat, yang entah bagaimana tidak bisa mereka ketahui di mana.

"Sasuke-kun, menyingkir!"

Sulur chakra tiba-tiba muncul dari belakang, ujungnya yang runcing nyaris menusuk tubuh Sasuke dan Hinata andai saja Hinata tidak menjadikan tubuhnya. Sasuke terperangah. Tubuh Hinata terangkat ke atas, mengikuti sulur yang menggeliat bak cacing raksasa. Inilah kenapa sang pria mengatakan bahwa byakugan jauh lebih kuat dari rinnegan atau sharingan. Byakugan bisa melihat 360 derajat tanpa titik buta. Persoalan jurus mata yang bisa memindahkan objek ke dimensi lain, byakugan pun juaranya. Beberapa musuh mereka terdahulu, Kaguya, Momoshiki, dan Kinshiki hanya memiliki byakugan dan mereka bisa berpindah dimensi sesuka hati. Hanya perkara siapa yang bisa mendalami jurus mata tersebut. Sayangnya, Hinata bukan salah satu di antara mereka yang bisa mengaktifkan byakugan secara sempurna. Bukan pula Hiashi, Hanabi, atau Neji.

Era Hyuuga sebagai pengendali byakugan yang sempurna hanya tinggal kenangan.

"HINATA!"

Sasuke tak tunggu lama untuk memotong sulur tersebut dengan pedangnya. sulur tersebut terjatuh dan bergerak mundur dengan cepat. Sasuke bisa saja berlari mengejar sulur tersebut untuk mengetahui sumber lokasinya. Namun, ada Hinata yang harus lebih dia perhitungkan. Kondisi sang wanita yang kini terengah-engah dengan luka. ada pun sulur yang sebelumnya dipotong Sasuke dan menembus tubuh Hinata menghilang, tak lagi teraliri chakra.

Meski awalnya bimbang, Sasuke pada akhirnya memilih membopong Hinata dan membawa sang wanita ke kediaman. Bukannya tak ingin mengobati Hinata dengan membawa sang wanita ke rumah sakit atau klinik, mereka pasti akan mempersulit misi keduanya. Mereka pasti akan menghujani dia dengan pertanyaan "siapa pelaku yang melakukannya?" atau "dengan senjata apa dia melukai Hinata?" ketika Sasuke tentu saja tak bisa secara gamblang memberitahukan perihal buah chakra dan dimensi ninja.

Sang Uchiha beruntung, dia pernah mempelajari ilmu medis dari Sakura sehingga bisa menyalurkan chakra untuk mengobati Hinata. Meski sang pria akui, dia tidak kompeten dalam hal medis dan butuh waktu kurang lebih empat jam untuk menutup luka Hinata, setidaknya, kini kondisi Hinata membaik. Napas sang wanita mulai teratur dan kini dia bisa membuka kelopak matanya.

Hinata mengangguk, kembali tertidur di atas sofa dengan Sasuke yang duduk di bawah, bersandar di bagian depan sofa.


Suara isakan membuat sang pria Uchiha terjaga. Dia menoleh ke belakang, menyadari bahwa Hinata telah pindah ke kamar. Tentu mendengar isakan membuat hatinya tidak bisa tidak cemas. Dengan langkah cepat, sang pria menjangkau pintu kamar tempat Hinata berada. Suara isakan ini berasal dari dalam sana. Apakah luka sang wanita masih terasa sakit? Pikir sang pria. Uchiha muda menempelkan telinganya di pintu. Isakan itu terdengar begitu pilu. Tak bisa berdiam diri begitu saja, Sasuke mengetuk pintu kamar Hinata dengan tak sabar, menyuruh sang empunya membukakan pintu.

Pemandangan yang tampak pertama kali di ambang pintu adalah Hinata dengan mata yang merah dan kelopak yang sembab. Dalam jarak kurang dari satu meter, Sasuke bahkan masih bisa melihat bulir air mata itu mengalir lembut di pipi Hinata. Apakah wanita itu menangis sedari tadi?

"Ada apa?"

Hinata menggelengkan kepala.

"Hyuuga." Sasuke memberikan penekanan, memaksa Hinata buka mulut.

"Aku merasa Naruto-kun kejam karena memerintahkanku untuk menjalankan misi ini." Suara sang wanita terdengar gemetaran. "Dia tahu aku pernah mengenal Toneri, pria yang saat ini tinggal di bulan. Buah chakra ini hanya bisa aman jika disimpan Toneri, tapi pria itu tak juga muncul. Karena itu, kupikir, Naruto-kun sengaja menyuruhku menjalankan misi ini agar aku ada dalam bahaya sehingga Toneri datang menyelamatkanku dan mengambil buah tersebut."

Toneri? Sasuke berusaha mengingat nama itu. Nama pria yang memaksa ingin menikah dengan Hinata bertahun-tahun silam. Ya, pria yang mendiami bulan. Namun, bukan itu masalahnya. Tubuh Hinata sedang lelah dan dia terluka, dia butuh beristirahat atau dia akan semakin berada dalam bahaya.

"Kau harus tidur."

"Aku tidak bisa tidur, Sasuke-kun."

Helaan napas keluar dari mulut Sasuke. Ada jeda di antara mereka ketika Uchiha tengah berpikir dan Hinata memilih membisu. Ketika ada satu kalimat yang meluncur. Kalimat itu adalah kalimat jitu untuk menghentikan tangis Hinata.

"Aku akan menemanimu sampai kau tertidur."

"Sasuke-kun?"

"Semalam ini saja."

Jemari Hinata di kenop pintu mengeras. Lama, Hinata berpikir. Dia telah bersuami. Dia telah memiliki anak. Namun, mencoba menerka mana yang salah atau benar pun, pikiran Hinata tengah kusut. Dia tak lagi bisa berpikir apa pun. Tubuhnya lemas dan sakit. Memikirkan sang suami dan misi ini membuat kepalanya terasa pusing. Semua hal buruk seakan berbondong-bondong hendak memasuki pikirannya. Pemikiran bahwa mungkin saja di dimensinya, Naruto tengah berselingkuh dengan Sakura, mungkin saja Naruto ingin menjerumuskannya pada bahaya agar sang wanita tak lagi bisa kembali ke Konoha, atau mungkin pria kuning itu ingin menjodohkan Hinata dengan Toneri sehingga mereka berdua bisa tinggal di bulan bersama. Hinata tak tahu lagi, tak mau tahu lagi, dengan hal selanjutnya.

Wanita berambut indigo itu akhirnya mengangguk seraya membeokan ucapan sang Uchiha.

"Semalam ini saja."

Dengan itu, Sasuke melangkahkan kaki memasuki kamar Hinata.

To be continued


Next Chapter:

"Naruto menggunakan Hinata sebagai umpan untuk memancing Toneri keluar? Brengsek!"

"Naruto, apa perasaan cintamu padaku masih tersisa? Aku lelah dengan kehidupan rumah tanggaku yang seperti ini. Kadangkala aku berpikir, mungkin aku akan lebih bahagia jika bersamamu."

"Kau seharusnya menikah denganku dan tinggal di bulan, Hinata."

"Hinata tak akan kuserahkan padamu atau pada Naruto!"

"Bagaimana dengan Boruto dan Himawari? Bagaimana dengan Sarada?"


Happy birthday, Uchiha Sasuke!

—Thanks for reading!

(Grey Cho, 2017)