Warn!

GS!Jimin


Malam telah tiba. Seperti biasa, Yoongi memasuki rumahnya, mengganti pantofel mengkilap yang seharian dia gunakan di kantor dengan sendal rumah. Tubuhnya terasa pegal dan lelah. Namun ketika langkahnya yang semakin jauh memasuki rumah kemudian menemukan gadis kecilnya terlihat asik mengerjakan sesuatu di ruang tengah, membuat senyum Yoongi terkembang tanpa perintah.

"Hai." Yoongi menyapa secara pelan. Meletakkan dengan hati-hati tas dan jas kantornya agar tak terlalu mengejutkan gadis kecilnya.

Namun gadis itu terlihat terperenjat sebelum tersenyum ramah menyambut Yoongi. Sepertinya ia benar-benar asik dengan dunianya sendiri sehingga tak menyadari kepulangan Yoongi.

"Daddy!" Gadis itu berteriak sebelum melempar pensil yang sedari tadi dia pegang kemudian melompat ke pangkuan Yoongi yang sudah duduk di sofa.

"I Miss you Dad!" Ujarnya seraya mengusakkan hidungnya pada perpotongan leher Yoongi.

Yoongi terkekeh. Menepuk pelan punggung gadis kecilnya sebelum memberi jarak diantara mereka.

"Kau sedang mengerjakan apa? Kenapa terlihat asik sekali sampai tak menyadari kepulanganku eoh?"

Kali ini gadis itu terkekeh kemudian melingkarkan lengannya pada leher Yoongi. Seolah tak mau berjauh sedikitpun darinya.

"Hanya tugas, Dad."

"Tugas?" Ada nada seperti tak percaya dari nada bicara Yoongi. Tugas apa yang dikerjakan gadis kecilnya hingga tak menyadari kehadirannya. Namun setelahnya Yoongi hanya terkekeh memaklumi.

Lama terdiam, Yoongi memegangi pinggang gadis kecilnya seolah takut terlepas. Sedangkan gadis kecilnya yang bernama Min Jimin itu masih bergelayut manja pada Yoongi. Yoongi suka momen seperti ini. Aroma buah-buahan dari shampoo Jimin menjadi aromaterapi tersendiri baginya. Karena lelah yang Yoongi rasakan setelah seharian di kantor terasa hilang jika dia sudah menikmati momen seperti ini dengan Jiminnya.

Jimin tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menegakkan tubuhnya, sehingga dengan terpaksa hidung Yoongi kehilangan wangi yang membuatnya candu.

"Dad.." Jimin memulai dengan ragu. Raut wajahnya juga berkata demikian. Yoongi menyerngit melihat reaksi gadis kecilnya ini.

"Ya, sayang?"

Yoongi menunggu, namun Jimin tak kunjung mengubah mimik wajahnya. Sesekali ia melirik wajah Yoongi kemudian mengalihkannya. Begitu terus hingga membuat Yoongi gemas sendiri. Apalagi Yoongi dapat menangkap rona merah pada kedua belah pipi chubby gadis kecilnya.

"Hei, bicaralah, Jimin-ah. Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Kata Yoongi pelan. Yoongi hafal betul dengan sikap gadis kecilnya. Pasti Jimin ingin mengatakan sesuatu tapi ia sendiri malu.

Bibir gemuk kemerahan gadis itu bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu. Tapi kemudian ia kembali bungkam dan kepalanya menunduk.

Yoongi ingin bersuara lagi agar gadisnya percaya padanya, sebelum—

"Te—teman teman kelasku bercerita.. bahwa—bahwa.. mereka mendapatkan menstruasi pertamanya. I—itu..itu apa, Dad? Mereka juga menanyakan itu padaku, apa aku sudah mendapatkan menstruasi pertamaku? Kata mereka jika aku tidak mengerti tanya saja pada Eomma. Aku tak punya Eomma, aku hanya punya Daddy. Jadi aku harus menjawab apa, Dad?"

Seketika Yoongi membatu. Lebih tepatnya ia kikuk. Otaknya langsung loading, namun sayang sedang buffering.

Pertanyaan Jimin entah kenapa membuat ia kehilangan kata-katanya. Terkesan horor pula untuk dijawab.

Yoongi menegakkan tubuhnya. Jimin menatapnya sembari menunggu jawaban dari Yoongi.

Yoongi gelagapan. Ia ingin menjawab, tapi ia tak tahu harus menjawab apa. Menstruasi itu adalah...

Bibir Yoongi bergerak, kemudian kepalanya meneleng ke kanan, matanya juga berkedip beberapa kali. Ia tak tahu harus memulai dari mana.

Sial. Kenapa Yoongi tak pernah berpikir sejauh itu jika nanti gadis kecilnya akan bertanya seperti ini padanya. Benar, Jimin adalah gadisnya yang sebentar lagi akan memasuki fase dewasanya. Ini baru pertanyaan, lalu bagaimana nanti Yoongi menjawab jika tiba-tiba Jimin berteriak karena celananya ada bercak merah?

Apa tepat jika ia yang memberi tahu? Oh, otak jenius Yoongi terasa buntu.

Mungkin Yoongi akan meminta saran dari rekan kantornya, Seokjin misalnya, yang sepertinya lebih pengalaman masalah ini. Apalagi putri Seokjin juga sudah berada dibangku kuliah, Jungkook namanya. Dan sebagai ayah tunggal, mungkin Seokjin sudah melewati pertanyaan ini, bukan?

Ya, mungkin Yoongi takkan menjawab pertanyaan Jimin kali ini. Jawaban ditunda.

END

thank you for all review fav+fol nya :*