Naruto © Masashi Kishimoto

(I don't take any profit by publishing this fict)

AR/Fanon

SasuHina

Decided

-Final Chapter-

Langkah kaki Uchiha membawanya masuk ke dalam ruangan tempat seorang gadis bermalam di apartemennya. Hinata melangkah terlebih dahulu, menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dalam posisi terduduk. Uchiha muda menyusulnya. Pria itu lalu berlutut di depan sosok Hinata, memandang dengan mata kepalanya sendiri ada jejak air mata di sana, ada kesedihan yang belum sirna dari sang wanita. Sasuke tak pernah belajar bagaimana caranya menjadi romantis. Dia tak tahu. Istrinya sendiri saja tak pernah mendapatkan perlakuan manis. Namun, kedua tangan sang pria bergerak sendiri, terulur ke depan meraih dua tangan Hinata. Telapak tangan bertemu telapak tangan. Lima pasang jemari saling bertemu dalam sentuhan ringan. Bibir Hinata bergetar, isakannya kian kencang.

Apakah ini realita? Sasuke memandanginya lurus. Pria yang dulu dia tolak sambil lalu. Dahulu Hinata pikir kejadian ketika sang pria menyatakan rasa cinta adalah ilusi. Hinata tak pernah peduli dengan pria di depannya ini. Tak peduli bahwa ketika dia dan Naruto menempelkan bibir satu sama lain, ada sepasang oniks yang menatap dalam diam. Setelahnya, dia menikah dengan Naruto dan tak lama kemudian tersiar kabar bahwa Sasuke melamar Sakura. Lebih dari cukup untuk meyakinkan bahwa pernyataan cinta Sasuke tak pernah ada.

Namun, Hinata keliru. Sirat yang Sasuke berikan padanya saat ini sanggup mematahkan semua argumennya tentang masa lalu. Kali ini, Hinata mulai meragukan dirinya dan mempertanyakan kenapa dia bisa mengindahkan seorang Sasuke. Mungkin saja dia akan lebih berbahagia jika bersama sang pria. Mungkin saja Sasuke yang mencintainya seorang akan memperlakukannya dengan baik.

"Perasaanku masih tetap sama seperti dulu, Hyuuga. Perasaanku tidak berubah dengan mudah."

Hinata memejamkan mata. Wanita itu tak ingin memikirkan apa pun lagi. Baginya, saat inilah yang terpenting. Maka wanita itu tak berkutik ketika Sasuke beranjak berdiri. Alih-alih menepis, Hinata merentangkan kedua tangannya, menangkup kedua uluran tangan Sasuke. Dalam pelukan yang erat, seakan tak ada hari esok, Hinata mengingat aroma Sasuke. Hinata mengingat sensasi ketika jemarinya bersentuhan dengan tengkuk sang pria, membuat Sasuke memprotes dalam ringisan sesaat. Namun, mereka tetap bertahan dalam posisi demikian hingga cukup lama. sampai Sasuke menarik Hinata ke tengah sisi ranjang, sementara dirinya sendiri ikut berbaring di sana, di sisi Hinata.

Tak ada hal melampaui batas yang keduanya lakukan. Sasuke hanya mendekap Hinata kala sang wanita terlelap dalam mimpi. Pria itu hanya meyakinkan sang wanita bahwa dirinya tidaklah sendirian menanggung beban. Bahwa dia akan terus berada di pihak Hinata.


"Tuan Hokage!" Naruto tengah membereskan—atau tidak, berkas-berkas yang ada di atas meja. Tangannya terlihat terampil memindahkan berkas, terlihat seperti tengah membereskan. Namun, tumpukan itu masih ada sejak tiga jam lalu, menandakan bahwa dia sebenarnya hanya menafkahi keisengan dengan memindahkan posisi berkas-berkas tersebut.

Ketika pemilik rambut merah jambu menampakkan batang hidup di pintu ruang kerjanya, sang Uzumaki mau tak mau melebarkan senyuman.

"Sakura-chan."

Keduanya memutuskan berkeliling Konoha. Hingga kaki mereka terhenti untuk beristirahat sejenak di pinggir jalan, menduduki batang pohon yang tak cukup panjang, yang membuat keduanya duduk berdekatan. Sakura melirik wajah Naruto sesekali, menyadari bahwa sang pria tengah dilanda kerisauan. Apakah menugaskan sang istri pada sebuah misi cukup panjang membuatnya menyesal? Ataukah duduk bersamanya seperti yang membuat sang pria menjadi salah tingkah?

"Naruto," panggil Sakura. Wanita yang bekerja di rumah sakit itu mengayunkan kaki. Emerald-nya menelisik awan demi awan, mencari pemandangan menyegarkan. "Naruto, apakah perassaan cintamu padaku masih tersisa?"

"Aku …." Haruno yang kini menyandang nama "Uchiha" kini merunduk. Dia menjedakan ucapannya, memberikan luang bagi setarik napas panjang. "Aku lelah dengan kehidupan rumah tanggaku yang seperti ini. kadangkala aku berpikir, mungkin aku akan lebih bahagia jika bersamamu."

Naruto lantas menoleh kilat ke arah sang wanita, mencari setitik petunjuk bahwa wanita yang menjadi rekan satu timnya dalam kurun waktu amat lama itu tengah bergurau ria, mengajaknya sekadar bercanda, melepas kepenatan. Namun, bukanlah tawa jahil yang Naruto temukan dari wajah cantik ibu satu anak itu, melainkan senyuman getir, menguatkan kalimat yang sesaat tadi dia lontarkan, tentang penyesalan.

"Sasuke-kun selalu meninggalkanku. Dia meninggalkanku dan mengembara sesuka hati, seakan baginya, aku dan Sarada bukan siapa-siapa. Dengan alasan keselamatan, dia melarang kami berdua ikut serta, padahal aku dan Sarada tidak selemah yang dia duga dan dia bahkan tidak mau menjamin akan melindungi kami berdua dengan kekuatannya. Saat kembali ke rumah pun, dia akan menghabiskan waktu lebih lama bersamamu. Apakah rumah baginya bukanlah tempat dia tinggal bersamaku? Jika rumah adalah tempat hatinya merasa nyaman, di manakah rumah baginya? Terkadang aku memikirkan hal seperti ini dan merasa bersedih. Aku ingin mengulang waktu, memperbaiki setiap putusan yang kuambil saat masih muda. Aku ingin kembali ke masa saat kau belum berpaling dariku. Masa saat kau belum mempersunting Hinata."

"Sakura—"

"—Maaf karena aku sudah egois. Aku menolakmu dan kini datang untuk kembali memastikan perasaanmu, ketika kita berdua telah berkeluarga."

Naruto mengerutkan dahi. Pria yang kini menjadi orang satu di Konoha menghela napas. Pria itu tahu kronologi sesungguhnya kisah cinta rumit ini. Dahulu, Hinata menyukainya. Dia menyukai Sakura. Sakura menyukai Sasuke. Sasuke … Sasuke menyukai Hinata. Cinta segiempat yang lantas berakhir ketika Sasuke mendatangi kediamannya, melaporkan penolakan dari Hinata. Berucap dengan nada sinis bahwa Hinata akan sia-sia di tangan pria seperti Naruto dan tapi, Hinata tetap bersikeras mempertahankan Naruto. Kala itu, Naruto dan Sasuke masih menganggap saingan masing-masing. Sasuke menginginkan Hinata yang menyukai Naruto dan Naruto menginginkan Sakura yang menyukai Sasuke. Perasaan wanita yang mereka impikan begitu sulit berubah dan membuat mereka menyakiti hati masing-masing. Jika Sakura tidak bisa didapatkan, Naruto tidak akan menyerahkan Hinata pada Sasuke. Jika Hinata tidak bisa diperoleh, Sasuke akan mengklaim Sakura.

Tanpa keduanya sadar, apa yang mereka putuskan di masa muda mereka menuai penyesalan besar. Ketika sadar, mereka harus berusaha mencintai wanita yang tidak mereka cintai, bersenggama dengan dasar iba dan bukan cinta, membiarkan darah daging mereka lahir ke dunia ini karena kompetisi dan egoisme masa muda.

Bisakah mereka mengubah putusan mereka? Bisakah Naruto bersama Sakura dan Sasuke bersama Hinata?

Pria berambut kuning itu tahu benar bahwa Sasuke menyukai Hinata dan kini, tengah menguji sang pria dengan mengirimkannya pada misi bersama sang istri. Akankah sesuatu terjadi di sana? Akankah waktu bisa bergulung kembali?

Lamunan Naruto buyar tatkala telapak tangan dingin milik Sakura menyentuh pipinya.

"Di depanmu hanya ada aku. Haruno Sakura. Anggaplah aku masih sama dengan aku yang dulu, saat aku belum mengubah margaku menjadi "Uchiha"."

Jarak bibir keduanya amat dekat, begitu dekat. Naruto bisa merasakan kepulan napas dari celah bibir Sakura yang menerpa bibirnya sendiri. Terasa hangat, kontras dengan kulit Sakura yang begitu dingin.

"Sakura-chan …."


Kesejukan dini hari, membuat Hinata memperlihatkan lavandula-nya. Wanita itu memalingkan wajah, melihat tirai jendela tipis berwarna putih yang berkibar diterpa angin dari jendela yang tak tertutup rapat. Mentari mulai meninggi. Gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti pepohonan yang menjadi celah sinar mentari menerobosnya. Wanita itu menyesap aroma pagi. Aroma yang dilantunkan sang embun pada beberapa daun di balkon. Aroma yang disantunkan bunga-bunga kepada mentari. Salam dari alam untuk sang pagi.

Ketika ranjang terasa berdenyut sekali, Hinata sadar satu sosok di sisinya pun tengah beranjak duduk, memandangi pemandangan yang tengah dia pandangi pula. Dua lengan Sasuke melingkar di depan leher Hinata. Ada salam yang dibisikkannya, melalui napas hangat meski di pagi yang cukup dingin. Ketika Hinata menoleh, bibir Sasuke menyambut bibirnya. Kecupan berlangsung singkat. Sasuke lantas mendaratkan bibirnya di lain tempat, mengecup pipi, dahi, dan dua kelopak mata Hinata. Sampai akhirnya, bibir Hinata kembali menjadi tempat berlabuh bagi bibir Sasuke. Sang pria mengulum bibir kemerahan itu dalam ciuman yang lama dan dalam. Hinata tak menolaknya. Wanita itu justru menikmati sentuhan yang Sasuke berikan pada bibirnya. Saliva terjatuh dari bibir masing-masing ketika Sasuke menarik kepala ke belakang, melepaskan diri dari ciuman paginya.

Ada rasa ragu untuk memandang wajah Hinata. Bagaimanapun, dia mengecup sang wanita tnapa permisi. Pria itu tak dapat menahan urgensi untuk tidak memeluk dan mencium Hinata. hinata ada wanita yang dia dambakan dan melihat wanita dambaannya melewatkan pagi satu ranjang dengannya, tentu saja Sasuke tak lagi bisa mengontrol diri. Ketika sang Uchiha telah mempersiapkan diri untuk melihat wajah kesal Hinata atau yang terburuk—pukulan di pipi—Sasuke justru mendapati pipi Hinata yang merona merah disertai senyuman tertahan. Wanita itu melirik ke samping, malu-malu untuk memandang Sasuke.

Tak ingin ada urgensi lain yang melebihi barusan, Sasuke mengacak rambut indigo Hinata sembari bergegas bangkit dari sana. Dia harus segera pergi dari ruangan ini atau instingnya sebagai lelaki akan bekerja di luar kendali.

Ketika pintu berdebam, Hinata baru bisa melemaskan otot tubuhnya, membuatnya kini menyentuh bibirnya sendiri. Basah dan hangat. Aroma Sasuke mengingatkannya pada petrikor, aroma yang selalu sukses membuatnya merasa tenang. Namun, Hinata sadar, ada kenyataan yang menantinya di dimensi lain, dimensi miliknya.

Dia adalah seorang ibu dari dua orang anak. Kenyataan itu tidak bisa Hinata abaikan begitu saja.

"Bagaimana dengan Boruto dan Himawari? Bagaimana dengan Sarada?" Hinata merasa bimbang.

Jika dia memilih Sasuke sekarang, akan ada orang-orang yang tersakiti. Sakura, Sarada, dan dua buah hatinya, juga suaminya. Namun, bukankah sejak awal dia yang memilih merebut Naruto? Dia tak memikirkan rasa suka Naruto pada Sakura dan terus memaksakan perasaannya sendiri. Hinata tahu benar, Naruto mempertanyakan kenapa dia menolak pernyataan cinta Sasuke.

"Aku hanya mencintaimu, Naruto-kun."

Apanya yang "hanya" mencintai Naruto? Hinata merasa dirinya menggelikan. Setelah sesumbar mempertahankan Naruto, dia membiarkan Sasuke menjamah bibirnya. Setelah berkeluarga, dia membiarkan dirinya berada satu kamar dengan pria lain. Namun, bukankah dia tak akan berada dalam posisi seperti ini bersama Sasuke jika Naruto tidak memberikannya tugas kemari? Rasanya, seperti sang suami tengah menjodohkannya dengan Sasuke, meyakinkan Hinata bahwa belum terlambat untuk menyadari siapa yang sesungguhnya ada di hatinya.

Hinata tidak bekerja di mana pun, bukankah dia wanita yang tepat untuk menemani pengembara seperti Sasuke? Sakura bekerja di rumah sakit yang tak jauh dari kantor hokage, bukankah posisinya begitu strategis untuk bisa terus mengunjungi sang pemimpin desa? Bukankah mereka telah cocok satu sama lain? Jika saat itu dia menerima Sasuke, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang tengah terjadi saat ini?

Hyuuga-Uzumaki mengimajinasikan dirinya tengah berpetualang bersama Sasuke dalam perjalanan tanpa akhir, terus mengembara ke berbagai belahan dunia dan dimensi.


Sasuke meninju tiang dengan tangan kosong. Langit seketika menjadi gelap gulita. Buronan itu telah benar-benar membangkitkan buah chakra itu. Penduduk tertidur, mereka kehilangan kesadarannya. Namun, Sasuke masih bisa memastikan bahwa mereka benar-benar tertidur. Mendapati kondisi yang tiba-tiba memburuk, Sasuke dan Hinata terpaksa harus berpencar mengevakuasi penduduk ke tempat aman sebelum berkonfrontasi dengan sang buronan. Siapa namanya? Kishou? Kanou? Entahlah. Sasuke tak berminat mengingat nama orang yang akan segera dia habisi.

Pria bermata rinnegan-sharingan itu mengingat jelas ucapan Hinata dan membeokannya. Merasa tak terima bahwa Naruto memperalat istrinya sendiri. Sasuke tahu kebodohan Naruto. Namun, tak menyangka bahwa Naruto sebodoh ini.

"Naruto menggunakan Hinata sebagai umpan untuk memancing Toneri keluar? Brengsek!"

Uzumaki itu lebih seperti orang licik di mata sang pria. Sang Nanadaime tahu bahwa dia tak akan bisa memanggil Toneri keluar setelah membatalkan resepsi pernikahan Toneri dan Hinata (bukan berarti Sasuke sendiri mengizinkannya). Kini, dia bermaksud melibatkan istrinya sendiir dalam bahaya tanpa kehadirannya untuk menarik Toneri keluar. Hal ini pasti masuk ke dalam perhitungan Naruto.

"Sial!" Sasuke hanya bisa mengumpat. Berharap Hinata di lain lokasi baik-baik saja.


"T-Toneri-kun?" Hinata tersungkur ketika sosok Toneri mendorong tubuhnya. Bukan tanpa maksud, Toneri berusaha menghindarkan Hinata dari tombak-tombak yang melesat. Hinata kini berada di padang rerumputan di pinggiran kota. Berada di dekat gudang yang disinyalir sebagai tempat persembunyian sang buronan.

Ketika melihat aliran chakra luar biasa besar muncul dari dalam sana, Hinata semakin yakin. Namun, wanita itu terlalu ceroboh dengan mendekat ke arah gudang. Ketika gudang itu meledak dan melesatkan banyak tombak, Hinata yang tak bisa berhindar memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menghalau tombak.

Di sinilah dia, tersungkur dengan Toneri di sisinya.

"Jangan bertindak ceroboh, Hinata."

"Aku tahu itu." Hinata kembali bangkit, memasang kuda-kuda bertarung.

Pria berambut terang mengamati wajah sang wanita, merasa kagum karena keberanian wanita tersebut tak juga luntur meski kini dia telah menjadi seorang ibu.

Setengah berguyon, Toneri meloloskan kata. "Kau seharusnya tinggal denganku di bulan, Hinata—"

"—Hinata tak akan kuserahkan padamu atau Naruto."

Toneri dan Hinata sontak menoleh, memandang Sasuke dengan napas memburu. Pria itu sepertinya bergegas kemari usai merasakan pusat chakra di sini. Di depan ketiganya, sosok pria bertudung mengangkat tangan, mengatur pergerakan tombak yang mengarah mengikuti mereka. Tanpa aba-aba, ketiganya berlari menyerang sosok tersebut, buronan yang telah menggunakan buah chakra untuk kepentingannya sendiri.


"Maafkan aku, Sakura-chan. Aku telah memutuskan untuk tetap bersama Hinata." Naruto menghalangi bibir Sakura dengan telapak tangannya. Benar. Dia tidak bisa melakukan hal seperti ini. Dia tak dapat mengkhianati Hinata. Meski tak dapat dipungkiri bahwa sebagian hatinya masih ada untuk sang wanita, Hinata adalah istrinya. Wanita yang telah bersamanya dalam asam-garam berumah tangga. Tak semudah itu bisa mengacaukan janji pernikahan baginya. Jalan ninjanya kini bertambah satu, mempertahankan hubugan rumah tangganya. Dia ingin percaya pada Sasuke dan Hinata, bahwa keduanya tak akan menjalin apa pun di belakangnya. Dia ingin percaya, Hinata memilihnya dan akan selalu seperti itu.

Sakura terkikik. Meski merasa kecewa karena Naruto menolak tawaran langka darinya, Haruno-Uchiha merasa senang. Naruto tak semudah itu digoda. Pria itu tumbuh menjadi pria yang baik, ayah yang baik, dan suami yang luar biasa.

"Kau sekarang menjadi pria yang setia, ya." Puji sang ninja medis secara tulus. Pemilik rambut gulali itu lantas beranjak, dia mengedipkan sebelah mata.

"Aku juga tidak akan kalah! Aku telah memutuskan akan menunjukkan kesetiaanku pada Sasuke-kun!" Dia berujar sebelum berjalan pergi, mengiringi langkah dengan senandung.

Uzumaki menarik napas, merasa puas karena dia bisa menahan diri untuk tidak terayu, apalagi yang merayunya bukan sembarang wanita. Jika dia tidaklah setia, entah bagaimana skenario berjalan saat ini, entah adegan seperti apa yang sudah dia parktikkan. Beruntung, akal sehat Naruto kini semakin tangguh. Sosok Hinata yang menyambutnya dengan piring berisi makanan selalu terbayang. Wajah sang wanita ketika membangunkannya penuh kasih. Sosok wanita yang menemani hari-harinya tanpa meminta lebih. Wajah sang wanita ketika menggenggam tangannya di pelaminan, mengajak sang suami bertemu tamu undangan.

Jika ditanya sosok Hinata seperti apa yang sekarang terbayang di pikiran Naruto? Adalah sosok Hinata yang tengah berdiri sembari menangkupkan tangan dalam posisi berdoa yang kini mengisi benak Naruto. Hinata yang menutup mata kala berdoa itu merupakan sosok Hinata yang paling Naruto sukai, terlebih ketika sang pria mendengar namanya yang disebut.

Ah, dia merindukan Hinata. Naruto menangkupkan tangan, berdoa seperti bayangan Hinata di pikirannya.

Dia harap, istrinya segera kembali tanpa luka. Semoga saja.


Hinata terjerembab ke belakang. Menyerahkan sang buronan pada dua orang pria, Hinata kini harus menumpas bawahan sang buronan, seperti Zetsu hitam-putih di masa perang dahulu kala. Seolah tak ada habisnya, sosok-sosok mirip tanah liat itu muncul dari tanah dan bangkit kembali setelah dihabisi. Jaraknya dan Sasuke kini kian dekat. Tanpa ragu, Hinata semakin sigap mengalahkan banyak makhluk aneh tersebut.

Kaki Hinata berderap menuju titik berdirinya Sasuke dan Toneri. Dia ingin turut serta, mengalahkan sang buronan. Lavandula lalu membulat.

Sebuah tombak melaju ke arah Sasuke. Sang pria sendiri tengah bertarung dengan sang buronan, bersama Toneri, sampai tidak menyadari bahwa tombak itu mengarah padanya. Hinata tanpa pikir panjang bergegas menjangkau jarak dengan Sasuke, memasang tubuhnya di depan punggung Sasuke.

"Aku telah memutuskan untuk melindungimu."

Tombak menemukan targetnya. Ketika suara daging terkoyak dan cipratan darah mengenai punggungnya, Sasuke terbelalak.

"Hinata." Sasuke terbata, dia berbalik untuk mendapati Hinata menghadapnya, dengan senyuman … dan darah segar yang mengalir dari mulut.

Di antara kesadaran yang mulai menipis, Hinata mengedarkan pikiran, kenapa rasanya situasi ini begitu familiar sampai membuatnya merasa déjà vu? Kembali ke masa peperangan, Hinata sadar, posisi inilah yang Neji perlihatkan di akhir hayatnya. Sama-sama tertancap tombak di dada untuk melindungi seseorang yang istimewa. Apakah tatapan nyalang Sasuke sama dengan tatapan yang dia perlihatkan pada Neji dahulu? Apakah rasa sakit ini yang dirasakan Neji ketika melindunginya dengan mempertaruhkan nyawa? Apakah rasa tidak menyesal inilah yang mengisi lubuk hati Neji ketika melihat Hinata selamat dari terjangan tombak? Apakah rasa lega ini yang sepupunya rasakan tatkala melihat Hinata selamat? Hinata kini merasakan hal serupa, darinya kepada Sasuke.

Layaknya tengah menirukan Neji, Hinata menyentuhkan tangannya di pipi Sasuke.

"Maafkan aku. Kurasa, i-ini adalah karma karena—ukh—aku berniat mengkhianati Naruto."

Uchiha melihat sosok Hinata terjatuh ke dadanya. Wanita yang ingin dia lindungi. Wanita yang dia cintai. Wanita yang selama ini menguatkan dirinya dengan senyumannya. Wanita yang juga mampu membuatnya patah hati. Hyuuga Hinata.

"Hinata …?"

"Sa-Sasuke-kun, a-aku mencintaimu. S-sampaikan juga permintaan maafku pada N-Nauto-kun, Boruto, d-dan Himawa—ri."

Tak ada lagi suara napas yang Hinata perdengarkan, membuat Sasuke berteriak kencang. pria itu berusaha mengalirkan chakra, tapi dia bukanlah ninja medis di sini. Toneri hendak menjangkau sang wanita, berharap bisa menutup luka di dada Hinata. Namun, bahkan untuk penghuni bulan dan pria yang sedarah dengan Kaguya, Toneri tak bergeming. Pria itu menelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa Hinata tidak tertolong.

"Apakah ini kesalahanku?" Sasuke bertanya, lebih kepada sang angin. Namun, Toneri ada di sana. telinganya tidak tuli. Ketimbang menunggu angin yang bisu untuk menjawab, Toneri memutuskan mewakilkan sang angin.

"Ini bukanlah kesalahan siapa pun. Hinata yang menggerakkan tubuhnya sendiri untuk melindungimu. Itu berarti, baginya, nyawamu lebih berharga daripada nyawanya sendiri."

Toneri mengarahkan bola matanya pada Sasuke, tapi tak dapat melihat ekspresi sang pria. Rambut panjang sepundaknya menghalangi. Usai membaringkan Hinata dan menitipkannya pada Toneri, Sasuke memunggungi dua sosok di belakangnya. Seakan chakra-nya tidak terbatas, Sasuke mengeluarkan segala jurusnya, memusnahkan sang buronan yang menggunakan buah chakra sekehendak hati.

Pria bulan itu ingin bertarung bersama Sasuke, membalaskan dendam Hinata. Namun, dia tidak mungkin meninggalkan jasad sang wanita sendirian. Pria itu merundukkan kepala, memandangi wajah Hinata yang kaku.

"Aku masih ingat saat aku nyaris menikahimu dulu, Hinata. Dahulu hingga saat ini, kau adalah wanita teristimewa bagiku. Selamat tidur."

Sepasang mata sang pria lantas beralih pada pria yang kini hendak berhadapan dengan musuh di seberang sana. Sosok yang masih bisa bertarung meski Toneri tahu, hatinya telah hancur.


Beberapa buah chakra yang berserak dipungut Toneri. Meski ingin ikut menangani pemakaman Hinata, Toneri sadar mengurus buah chakra itu adalah hal terpenting. Bukankah Hinata mengorbankan nyawa juga untuk buah ini? Agar buah ini tidak jatuh ke tangan yang salah.

"Apa yang akan kaulakukan setelah ini?" Toneri bertanya pada sosok yang tengah membopong Hinata.

Sasuke terus memandangi wajah terlelap Hinata, seolah tengah membawa seorang putri tidur abadi. Pria itu tersenyum pedih. Dia telah memutuskan untuk membumikan Hinata di sini, di dimensi lain ini. Jawaban itu tak bisa dia lontarkan, lidahnya terasa begitu kelu, seolah suaranya hilang bersamaan dengan jiwa Hinata.

Angkasa yang semula gelap ditutup awan kelabu, kini kembali menyalakan sinarnya. Celah-celah cahaya mentari terjatuh ke rerumputan, memperlihatkan lingkaran-lingkaran cahaya di bawah sana. Salah satu celah cahaya terjatuh ke wajah Hinata. Entah cahaya telah menipu mata sang Uchiha ataukah apa yang dia saksikan benar adanya. Namun, sosok Hinata terlihat seperti tengah menyunggingkan senyuman. Senyuman yang tampak begitu damai, seakan jika Hinata hanyalah tertidur, Sasuke tak berani membangunkan saking damainya senyuman tersebut. Sasuke menyesap aroma Hinata sekali lagi.

Aroma yang selalu sama. Lavender. Wangi sekali, berpadu dengan wewangian rumput di sekitarnya.


Sasuke hidup dengan merenggut beban Hinata, membiarkan sang wanita kini terbebas dari permasalahannya di dunia. Pria itu merahasiakan kematian Hinata dan kembali dengan membawa kabar baik buatannya. Dia menggunakan sisa chakra yang dia miliki untuk menciptakan ilusi tsukuyomi. Dengan ini, orang di Konoha akan seolah-olah melihat Hinata. Bagi mereka, Hinata masih hidup dan ikut pulang bersama Sasuke. Hanya dia seorang yang tak bisa melihat Hinata. Hanya dia seorang tak termakan ilusinya sendiri. Ketika melihat Boruto dan Himawari mendekap sosok yang tak bisa dilihatnya, Sasuke ingin menguraikan air mata. Dia menipu semua orang di dimensi ini, menyembunyikan realita bahwa Hinata telah tiada. Kebohongan yang hanya akan terungkap jika dia mati nanti dan pengaruh tsukuyomi sirna.

Semenjak itu, pria berambut raven selalu menyempatkan diri pergi ke satu dimensi, mengunjungi nisan seseorang yang tak diketahui namanya. Nisan tak bernama dengan bunga-bunga segar yang selalu diganti secara rutin olehnya. Ketika seorang pendeta menanyakan nama sosok yang menghuni nisan tersebut, Sasuke menjawabnya dengan nada pilu.

"Hyuuga Hinata. Namanya Hyuuga Hinata."

Uchiha memandang sekumpulan awan di atas sana. Dia berharap, jika kelak kembali dilahirkan, dia bisa tetap mengingat sosok Hinata. Paling tidak, hatinya tahu ke mana dia harus tunduk. Lain kali, dia akan mengejar Hinata dan tidak membiarkan wanita tersebut menjatuhkan pilihan ke lain hati. Sasuke telah memutuskannya. Karena itulah, Sasuke memutuskan untuk hidup dengan memikul kebohongan ini. Inilah yang sang pria putuskan untuk sisa hidupnya.

"Aku telah memutuskan untuk menjalani hidup seperti ini, Hyuuga Hinata."

Decided

Fin


Thanks for reading!

(Grey Cho, 2017)