Chapter II
Cast : Baekhyun x Chanyeol
Feliz
•••
Chanyeol dan Baekhyun mulai tumbuh besar bersama. Entah kenapa sejak Chanyeol selalu berada disampingnya, Baekhyun menjadi bergantung pada Chanyeol. Jika Baekhyun kesusahan dalam mengerjakan PR sekolahnya, ia langsung berlari ke rumah sebelah, rumah Chanyeol meminta bantuan. Disekolah Ia juga masih setia duduk dibangku sebelah Chanyeol. Waktu istrahat juga ia habiskan bermain dengan Chanyeol. Pagi hari pun, dengan senyum riangnya ia akan duduk disamping Chanyeol menikmati sarapan buatan Nyonya Park. Baekhyun kecil seperti bagian dari keluarga Chanyeol.
Nyonya Park juga sudah menganggap Baekhyun seperti putrinya. Bahkan kasih sayangnya sama besarnya terhadap Chanyeol. Ia akan dengan senang hati membuatkan muffin atau cheese cake kesukaan Baekhyun. Ia juga tak merasa direpotkan membuat dua bekal di pagi hari untuk Chanyeol dan Baekhyun dengan menu yang berbeda. Pun saat Tuan Byun mendadak keluar kota karena urusan pekerjaan, Nyonya Park dengan senang hati membawa Baekhyun tidur dirumahmya, sudah ada kamar khusus untuk Baekhyun. Dongeng pengantar tidur juga selalu menjadi pengiring menjemput mimpi Baekhyun ketika pelukan Nyonya Park begitu hangat membuatnya sangat nyaman, hingga Baekhyun memiliki panggilan khusus untuk Nyonya Park, Mommy Chan. Baekhyun kecil sungguh merasa Bahagia.
•
Chanyeol merubah Baekhyun yang dulunya cengeng menjadi gadis kecil yang periang. Sudah tak ada lagi Baekhyun yang penakut. Chanyeol begitu peduli pada Baekhyun, sekecil apapun itu Chanyeol akan memperhatikan Baekhyun. Chanyeol lebih tau tentang Baekhyun melebihi Baekhyun sendiri. Hingga Chanyeol merasa tak keberatan jika Baekhyun merengek manja padanya. Semua berjalan baik-baik saja dan menyenangkan sampai saat ini. Namun tidak untuk beberapa hari ini, Chanyeol merajuk.
"Sayang, makanlah sedikit saja. Aaaa buka mulutmu Chanyeol!" Itu sudah kesekian kalinya Nyonya Park penuh kesabaran meminta putra kesayangannya untuk makan. "Ayolah sayang, kau harus minum obat. Aaaa.."
Namun Chanyeol bergeming.
Ia tak berselera.
Tenggorokannya kering, makanan terasa pahit, badannya demam.
Chanyeol sakit.
Bocah laki laki yang sudah duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu sebenarnya tak masalah dengan sakit yang dideritanya. Chanyeol pernah sakit sebelumnya, tak hanya satu dua kali saja, ini masalah kecil saja. Tapi kali berbeda, Bocah itu merasa hatinya gundah dan kesal setengah mati.
"Chanyeol harus cepat sembuh. Apa besok Chanyeol tak ingin melihat pertunjukan Baekhyun?" pinta Nyonya Park.
Seperti diingatkan lagi yang menjadi sumber masalahnya, Bibir tebal Chanyeol semakin cemberut.
"Ibu~" Bocah tinggi itu merengek tak suka dengan terpaksa membuka mulutnya dan sesendok makan penuh masuk dalam mulutnya. Sungguh Chanyeol tak ingin datang ke acara akhir tahunan sekolahnya. Tapi Chanyeol bisa apa? ia sudah berjanji pada Baekhyun untuk melihat drama pertunjukan yang diperankannya.
Satu bulan yang lalu Chanyeol antusias menyambut acara tersebut. Dimana kelasnya ditunjuk untuk menampilkan drama. Snow White judul yang dipilih wali kelasnya, peran diambil secara undian. Baekhyun berteriak senang ketika gulungan kertas yang dibukanya bertulis putri salju. Chanyeol yang melihatnya seketika memeluk tubuh mungil Baekhyun. "Kau lihat! aku yang jadi pangerannya." Katanya riang seraya menunjukkan kertas bertoreh tinta pangeran.
Latihanpun dilaksanakan setiap tiga hari sekali setelah pulang sekolah. Chanyeol selalu bersemangat melihat Baekhyun memainkan perannya dengan baik. Pada dasarnya Baekhyun memang gemar dengan cerita dongeng. Kenapa? karena sesedih apapun ceritanya tapi selalu berakhir bahagia. Gadis kecil mana yang tak ingin menjadi seorang putri layaknya di kisah dongeng itu? Baekhyun bahkan selalu memimpikannya ketika Ayahnya selesai berdongeng sebagai pengantar tidurnya. Tidak ada kendala yang berarti dalam latihan tersebut, Baekhyun dan Chanyeol menyukai perannya masing-masing. Semua berjalan lancar hingga tepat tiga hari pertunjukan dilaksanakan Chanyeol jatuh sakit, kalau sudah begini diluar kendali Chanyeol.
Tubuh Chanyeol yang panas tinggi bersikeras pergi kesekolah. Tentu saja Nyonya Park tak mengijinkan. Oke tak masalah mungkin besok ia sudah sembuh pikir Chanyeol begitu. Lalu sore harinya Baekhyun datang. Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya sedih. Ia tak suka melihat Chanyeol sakit. Ia merasa kesepian disekolah meski Chanyeol bukan satu satunya teman yang dimilikinya. Hati kecilnya cemas, rasanya seperti ketika Ayahnya pulang bekerja dalam keadaan basah kuyup dan esoknya Ayahnya menggigil.
"Yeol-ah..Kau harus cepat sembuh!" tangan lentik Baekhyun mengelus lembut pipi pucat Chanyeol. "Kau tidak usah menghawatirkan pertunjukan itu. Oh Sehun sudah menggantikan peranmu. Yang penting sekarang kau harus sembuh. Aku tak suka melihatmu yang demam." sebutir kristal bening lolos dari mata sipit Baekhyun.
Bagai disambar petir di siang bolong. Ini buruk!
What???
Oh Sehun! Tidak mungkin. Menyebut namanya saja Chanyeol tidak suka. Chanyeol sering memergoki Sehun memperhatikan diam-diam Baekhyun. Bahkan terang terangngan lebih sering ketika Sehun ikut bergabung menikmati bekal makan siang dan memberikan sekotak kecil susu stroberinya pada Baekhyun.
Maka dari itu Chanyeol harus sembuh, besok dia harus sekolah. Sehun tidak boleh menggantikan perannya.
Namun-
Besoknya tubuh Chanyeol masih terkulai lemah di atas kasur empuknya. Ia mengeram kesal. Pupus sudah harapannya.
Hari yang dinantikan Baekhyun tiba. Lihatlah! Gadis mungil itu begitu berseri anggun dengan gaun biru langit panjang merekah dibagian bawahnya seperti kelopak bunga tulip. Rambut hitamnya dibuat bergelombang dan mahkota kecil tersemat manis di puncak kepalanya. Ia sedikit gugup. Namun Ayahnya menggenggam erat tangan kecilnya meyakinkan "Baekhyun, kau pasti bisa sayang. Ibumu pasti bahagia melihatmu. Figthing!!!"
Baekhyun menganggukan kepalanya semangat setelah kecepun dikening diberikan oleh Tuan Byun lalu Ia bersiap naik ke panggung bersama teman temannya dan pertunjukan di mulai.
.
Chanyeol terpukau kala maniknya pertama kali menangkap sosok anggun yang menjadi teman selamamya ini. Semua perasaan kesal yang ia timbun berhari-hari menguap begitu saja. Sedikit nyeri di kepalanya hilang entah kemana?
"Bu.. Itu Baekhyun kan?" tanyanya pada sang Ibu yang duduk di kursi penonton. Ia masih tak percaya itu Baekhyun. Biasanya Chanyeol hanya melihat Baekhyun yang seadanya dengan pakaian kaos dan celana pendek kecuali seragam sekolah.
"Memangnya siapa lagi kalau bukan Baekhyun?" Tanya Nyonya Park balik.
"Baekhyunku Cantik." gumamnya lirih.
Chanyeol mulai menikmati pertunjukan itu. Lengkungan manis di bibir menghias wajah tampannya. Hatinya berubah khawatir kala melihat Baekhyun tak sadarkan diri setelah menggigit apel beracun dari nenek sihir.
Dan Chanyeol mulai resah dengan adegan selanjutnya dimana sosok pangeran mulai muncul. Jantungnya dag dig dug duarrr!!! seperti drum mulai dipukul keras. Sungguh Chanyeol tidak ingin melihat pertunjukan lebih lanjut.
"Bu.. Apakah Ibu akan memaafkanku ketika aku melakukan kesalahan?" bisiknya tiba-tiba pada Nyonya Park.
"Huh?" Sang ibu bingung.
"Tolong maafkan aku ya Bu!" Pintanya pada sang Ibu. Chanyeol berdiri dan melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari deret bangku penonton dan maju ke depan. Nyonya Park menatapnya belum mengerti.
Lima langkah kakinya menapak tangga naik ke panggung. Di dekatinya sosok pangeran yang berdiri di samping peti kaca dimana Baekhyun terbaring memejamkan mata.
"Minggir kau Oh Sehun!" Chanyeol menarik ke belakang tangan Sehun. Belum selesai keterkejutan Sehun akan kemunculan tiba-tiba sosok yang tak ada dalam cerita pertunjukan itu. Chanyeol sudah mengecupkan bibir tebalnya dengan bibir tipis Baekhyun. "Bangun Cantik!" Bisiknya lirih setelahnya.
Baekhyun membuka kelopak matanya lebar dan bangun terduduk.
Hening seketika.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat detik.
Lima de-
HAHAHAHAA...HAHAHAHAAAA...
Well, aula itu dipenuhi gema tawa seluruh penonton.
Bahkan ada yang tertawa sampai menitikkan air matanya sambil memegang perut melihat kejadian lima detik berlalu itu. Menurut mereka itu lucu. Tapi tidak untuk Baekhyun.
Dan Chanyeol hanya menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal sama sekali.
Oh Sehun? jangan di tanya lagi dia cemberut.
Tuan Byun tersenyum geli. Kedua telapak tangan Nyonya Park menutupi wajahnya malu.
Pertunjukkan itu selesai, ditutup dengan tepuk tangan penonton.
...
Baekhyun mengurung dirinya di kamar bersembunyi di balik selimut bercorak Winnie the pooh. Isakannya lirih terdengar. Tuan Byun membujuknya keluar untuk menemui Chanyeol yang sudah menunggu tiga jam lamanya. Namun Baekhyun bersikeras tidak mau. Sungguh ia benci pada Chanyeol saat ini.
"Sayang, Kasihan Chanyeol. Dia juga menangis menunggumu." Bujuk Tuan Byun lagi.
"Jadi ayah tidak kasihan padaku! Chanyeol menghancurkan pertunjukanku Ayah!" Teriak Baekhyun dari dalam selimut.
"Hei, siapa bilang? tadi bagus sekali, buktinya semua bertepuk tangan dengan pertunjukanmu. Sudah jangan marah lagi. Temui Chanyeol, Mommy Chan juga menunggumu ingin minta maaf." Mendengar Ibu chanyeol disebut, Baekhyun menyibakkan selimutnya membuang egonya dan menemui Chanyeol. Gadis itu sungguh menyayangi Ibu Chanyeol.
Mata sipit Baekhyun melihat Nyonya Park yang duduk disofa dengan Chanyeol disampingnya, tangan lembutnya mengelus punggung putranya menenangkan. Senyum keibuan Nyonya Park menghilangkan kesal dihati Baekhyun. Ditariknya tangan Baekhyun untuk duduk disampingnya. "Baekhyun. Mommy ingin minta maaf atas perlakuan Chanyeol yang tidak sopan terhadapmu Nak! Mommy juga akan menghukum Chanyeol atas perbuatannya itu. Sungguh, Mommy tidak mendidik Chanyeol untuk menjadi anak yang nakal."
"Mom.. Baekhyun tidak apa-apa kok." Gadis itu memeluk Nyonya Park erat. Namun matanya menatap tajam Chanyeol di depannya.
.
Bukan berarti kemarahan Baekhyun hilang setelah kepergian Nyonya Park. Ia masih enggan berbicara dengan Chanyeol. Bahkan ia duduk di sofa menyuguhkan punggungnya untuk diacak bicara Chanyeol.
"Baek, aku minta maaf ya." Entah sudah berapa kali kata maaf itu terlontar.
"Baekhyun maafkan aku!"
"Baek~" Chanyeol pindah duduk menghadap Baekhyun. Namun Baekhyun berbalik memunggunginya lagi. Itu juga sudah kesekian kalinya.
"Tolong maafkan aku Baekhyun. Mengertilah aku hanya tidak suka Sehun akan menciummu."
"Baek, Maaf..."
"Baekhyun~"
"Aku minta maaf. Sungguh aku menyesal."
Dan telinga Baekhyun terasa panas mendengarnya. Baik, ia menyerah.
"Chanyeol kau merusak pertunjukanku."
"Maka dari itu aku minta maaf Baek. "
"Chanyeol apa karena jatuh sakit kau melupakan satu hal?"
"Memangnya apa yang ku lupakan?" Tanya balik Chanyeol tidak mengerti.
"Adegan ciuman itu tidak ada. Kau bahkan sudah melakukan di latihan berkali-kali. Hanya ada kecupan di sini!" Baekhyun menunjuk puncak kepalanya.
Chanyeol membeo.
Demi Tuhan! Chanyeol lupa.
Jangan salahkan Chanyeol, karena kepalanya hanya diisi ketidaksukaan perannya digantikan Sehun.
.
Seperti sebelum-belumnya Chanyeol menawarkan jari kelingkingnya membuat kesepakatan agar Baekhyun tak marah lagi padanya.
"Apa yang harus kulakukan agar kau tak marah lagi padaku?" Chanyeol memohon.
"Sungguh kau akan mengabulkannya?"
"Jangan meragukanku."
"Baiklah aku ingin anak gajah seperti di kebun binatang yang bulan lalu kita kunjungi."
"APA?" Serius Chanyeol terkejut. Untuk apa juga anak gajah? Mau dipelihara dimana?
"Mereka lucu~" rengek Baekhyun.
"Bukannya aku tidak mau Baek. Selain harganya pasti mahal tapi jelas tidak diperbolehkan, mereka dilindungi."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya tapi ia membenarkan Chanyeol. "Baiklah, kalau begitu anjing pudel saja. Aku melihatnya di iklan tadi malam, sangat menggemaskan."
Kau yang lebih menggemaskan Baek -batin Chanyeol.
"Kau bisa menunggunya sampai minggu depan kan?" pinta Chanyeol.
"Tapi janji?"
"Iya."
Kedua jari manis itu pun kembali terjalin. Mereka tersenyum berpelukan, melupakan insiden memalukan yang telah lewat. Oh tidak bisa! ciuman itu kenangan manis yang tidak mungkin dilupakan.
•
Tengah malam Chanyeol mengendap ngendap di rumahnya sendiri. Dapur adalah tujuannya, sebuah pisau tajam ia ambil dan di bawanya ke kamar.
"Pink, Maafkan aku ya~" Dengan berat hati Chanyeol membelah perut celengan babi yang terbuat dari plastik. Koin-koin recehan terjatuh dan jarinya mengeluarkan semua uang lembaran. "Demi Baekhyun! Dia ingin Audry."
Bahkan Baekhyun sudah memberikan nama untuk calon anjing pudelnya.
Setelah menghitung semua uangnya. Chanyeol mengambil plaster besar dalam laci meja belajarnya. Dan perut celengan babi itu ia tambal. "Kau tenang saja pink, aku akan mengisimu lagi sampai penuh untuk kebun stroberi." katanya dengan senyum lebar.
Akhirnya Chanyeol bisa tidur nyenyak untuk malam ini, setelah empat malam sebelumnya dilalui dengan mimpi buruk.
Tuh kan! Janji Chanyeol tidak main-main.
•Fin/tbc•
Minta review yang banyak ya.. biar jadi tbc.
Bolehkah aku bertanya? Karena masih baru di ffn aku bingung. Kenapa akun aku bisanya di buka lewat aplikasi ffn saja. Kalau lewat web gak bisa. kadang hilang akunku. makasih.
