Before Wedding Day
Cast : Baekhyun Chanyeol
Summary : "Memangnya Baekhyun mau menikah dengan siapa lagi kalau bukan dengan Chanyeol"
…
Baekhyun mungkin harus berfikir ulang, apakah ia harus melanjutkan pernikahannya atau membatalkannya? Umurnya mendekati 25 tahun, sudah cukup matang untuk membina sebuah keluarga baru.
Dua bulan yang lalu ia masih seperti tidak percaya? Seorang eksekutif muda yang telah dikencaninya selama satu tahun menyematkan cincin berlian di jari manis lentiknya, sebuah lamaran yang taunya itu membuat dirinya semalam suntuk mata sipitnya enggan terpejam. Esoknya ia masih tersenyum sepanjang hari seperti orang yang hilang kewarasannya namun semu merah di pipinya menunjukkan bahwa ia belum gila. Yeah, Baekhyun sangat bahagia.
Namun sekarang benar Baekhyun bisa saja gila jika saja seseorang yang dihubunginya tidak segera menjawab panggilannya--
"Yak! Kenapa lama sekali menjawabnya?"
Sudah jelas bukan, Baekhyun jengkel sekali.
('Maaf sayang aku ada meeting, satu jam lagi aku hubungi')
"Tunggu--
Pip --panggilan diputus.
"Park Idiot sialan!"
Cekikian terdengar disampingnya, mata sipitnya melirik tajam. "Aku jadi berpikir apakah Park benar akan menikahimu?"
"Diamlah Kyungsoo!" Baekhyun mengacak rambutnya frustasi berlalu meninggalkan sahabatnya yang makin terbahak.
Kyungsoo menghentikan tawanya, Itu berlebihan lalu ia menyusul Baekhyun di kamarnya.
"Baek ayolah! Aku bahkan sudah meminta izin pada bos untuk pulang cepat memenuhi permintaanmu untuk mengecek undangan. Lantas kenapa kau jadi merajuk seperti ini?
Baekhyun benar seperti anak kecil. Wajahnya di benamkan dibantal lalu kakinya bergerak menghentak kasur.
"Kau seharusnya mengerti calom suamimu seorang CEO perusahaan terbesar di Korea. Ya jadi dia sangat sibuk dan belum ada waktu--
"Dua minggu lagi kyungie~ bukan dua bulan lagi. Aku hanya ingin dia menyempatkan satu jam untuk fitting gaun pernikahan kami." Baekhyun duduk menyila menatap lesu Kyungsoo. "Kau benar, mungkin aku harus mempertanyakan keseriusannya lagi." lalu tangan kecilnya segera menepis bulir beningnya yang hendak jatuh.
Enam puluh menit berlalu, Kyungsoo menatap puas benda silver persegi panjang bertali pita gold bertulis tinta kombinasi emas dan hitam dengan hiasan bunga kering yang tertata apik. Lima ratus undangan siap disebar sedang pemilik undangan sibuk bermain game diponselnya. Kyungsoo harus mempertanyakan ulang berapa umur Baekhyun, dia benar merajuk seperti anak kecil.
Baekhyun tidak berminat, ia hanya melirik sekilas, bahkan bibirnya masih bertahan dengan kerucutannya.
"Sebenarnya siapa yang mau menikah? kenapa aku jadi yang repot." gerutu Kyungsoo seraya melanjutkan pembagian undangan sesuai tabel tempat tinggal penerima undangan di bantu pihak WO.
Cukup lelah menghitung lima ratus undangan Kyungsoo memutuskan mengisi perut. lahsimpulnyataptap pesanannya sedang Baekhyun hanya mengaduk-ngaduk jus stroberinya tak berminat meminumnya, pun sama cheesecakenya ia anggurkan.
"Ayolah Baek, cepat habiskan makananmu? Jongin sudah menungguku diapartemen."
"Kau memesankan Cheesecake. Kau sungguh ingin membuatku gendut dan membuat gaun pernikahanku tidak muat ditubuhku."
Demi Tuhan, Kyungsoo benar harus mengisi ulang kesabarannya.
"Baek dengarkan! Jika Park Chanyeol tidak menjawab panggilanmu karena sibuk, seharusnya kau bisa lebih mengerti dia C-E-O P-A-R-K Corp. Baekhyun, dengan setumpuk agenda setiap harinya atau jika kau kurang bersabar kau bisa langsung mendatangi kantornya, cukup bilang Chanyeol bisakah kau sempatkan waktu untuk pernika--
Atensi Kyungsoo beralih pada ponselnya di meja kafe yang kembali bergetar. "Lihat Jongin sudah menghubungi lagi. Aku bahkan mengabaikan dia dari tadi hanya untukmu." Ia menunjukkan ponselnya tepat di wajah Baekhyun.
"Kyungja-yah~ Maaf."
Lalu Baekhyun memilih tetap di kafe setelah memaksa Kyungsoo untuk pulang terlebih dulu.
Tiga puluh menit sudah Baekhyun bertahan di kursinya, sudah hampir pukul sembilan malam. Ia sudah memutuskan untuk mendatangi Chanyeol besok di kantor. Ia menimbang apakah ia harus memberitahu kedatangannya besok lewat pesan, belum sempat terkirim suara yang lama tak terdengar menginterupsi.
"Lama tidak berjumpa Baekhyun."
Cinta pertamanya
Oh Sehun.
Lantas ponselnya ia matikan.
Seharian wajah itu bertekuk masam, akhirnya senyum simpulnya kembali menghias paras cantiknya. Ia membawa langkah kecilnya beriringan dengan lelaki yang dulu pernah mengisi penuh ruang di hatinya.
"Kau tak berubah Baekhyun. Cantik."
Taunya itu mencipta desiran halus nan semu merah di pipinya
"Bagaimana kabarmu?"
"Buruk." Sehun menangkap bahu Baekhyun untuk menatapnya. Lantas lelaki itu merunduk mensejajarkan wajahnya "Aku berharap setelah kembali dari London bisa mengulang lagi semuanya denganmu. Sialnya koran pagi yang ku baca minggu lalu memberitau kau akan menggelar pernikahan di hotel berbintang milik Park Chanyeol calon suamimu. Park Chanyeol, si murid baru sekaligus temanku di bangku sekolah menengah yang membuatku menangis karena menggeser posisi peringkat pertamaku."
Baekhyun mendorong pelan dada Sehun. "Tapi sekarang Chanyeol tidak menggeser posisimu Oh Sehun. Kau sendiri yang pergi meninggalkanku ke London untuk mendapatkan gelar master kedokteranmu. Dan Chanyeol tiba-tiba datang membawa sejuta kebahagian. Wanita bodoh mana yang bisa menolaknya? Bukan begitu Dokter Oh?"
Sehun berdecak dan tak menyahuti, ia menarik tangan si mungil melanjutkan langkahnya, genggamannya ia ayunkan ke depan ke belakang berulang lalu sampai berhenti pada bangku taman.
"Jadi bagaimana pertemuanmu dengan Park?"
"Aku memakai setelan terbaik malam itu, aku benar menyiapkannya dengan baik. Selain karena itu adalah wawancara untuk berita utama di Star magazine tapi juga aku akan berhadapan langsung dengan sosok yang karirnya tengah melesat di dunia bisnisnya. Aku hanya berharap berita yang ku buat akan memuaskan, Namun siapa yang menyangka seminggu setelahnya asistennya datang dan memberikan undangan jamuan makan malam."
"Dan kau pasti berteriak histeris sambil meloncat-loncat di atas kasur."
Baekhyun mengangguk, sedetik kemudian tawa nyaring terdengar dari keduanya.
Sehun masih sama. Sehun yang mengetahui semua tentang Baekhyun melebihi diri Baekhyun sendiri. Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk mereka habiskan bersama mulai dari saling mengenal sampai berbagi kasih.
Sehun melepas coatnya, membungkus tubuh mungil disampingnya, ia tahu wanita itu masih sama, tidak menyukai dingin. "Bagaimana jika kita habiskan sisa malam ini bersama?"
Baekhyun tengah menimbang.
"Untuk terakhir kalinya Baekhyun."
Sosok tinggi menjulang dengan paras rupawan tanpa celah itu, melepas kacamatanya lalu memijit pangkal hidungnya. Arloji mewahnya menunjuk angka sembilan. Setumpuk berkas yang niatnya akan ia lembur sekarang ia abaikan. Pria itu memang pekerja keras dengan otak cemerlangnya hingga menjadi sosok yang dielukan karena kesuksesannya.
Ponselnya yang baru ia lemparkan di meja kembali ia raih dan berusaha menghubungi nomor yang sama, Byun Baekhyun calon istrinya. Sayang nomor itu tidak bisa dihubungi. Ia tahu Baekhyun pasti merajuk karena Chanyeol sadar ia memang mengabaikan Baekhyun. Chanyeol bisa bersabar. Namun emosi akhirnya meledak kala--
"Tuan, tiga puluh menit yang lalu Nona Baekhyun keluar dari kafe dengan seorang pria, mereka berjalan kearah taman. Sekitar tiga puluh menit mereka duduk di taman lalu sekarang keduanya tengah menaiki taxi dan Jongdae masih mengikuti arah taxi itu." Tuan Jang memberikan ponselnya memperlihatkan foto hasil bidikan Jongdae.
Jangan lupakan kekuasaan Park Chanyeol. Baekhyun saja yang luput menyadarinya.
"Paman Jang. Tolong siapkan mobil cepat!"
Langit hitam sedikit bertabur bintang itu menjadi pemandangan Sehun menikmati malamnya bersama Baekhyun. Tiupan angin malam Sungai Han benar membuat keduanya duduk diatas rerumputan saling berhimpitan. Jangan berfikir macam-macam. Pinggiran Sungai Han adalah tempat favorit mereka.
Dulu.
Keduanya hanya berbincang mengenai hal-hal lucu yang pernah mereka lakukan dulu mengisi hari-hari di bangku kuliah. Senyum manis Baekhyun masih sama kala itu menjadi teman ceritanya. Senyum itu masih sama membuat desiran di hatinya. Senyum itu masih sama membuat Sehun sering lupa kendali dan mengikis jarak wajahnya
Namun sebuah telunjuk lentik mendorong keningnya.
"Oh Sehun!"
Sehun terkekeh "Maaf Baekhyun. Bibirmu benar membuatku selalu lupa diri. Akh!"
Geplakan di kepala Sehun terima. "Chanyeol akan membunuhmu jika kau berani melakukannya."
"Ya ya ya"
Baekhyun lebih dulu berdiri, mengeratkan coat Sehun yang ia pakai. Sungguh tubuhnya sudah menggigil. Angin Sungai Han tak main-main dinginnya. Sehun mengerti lantas tak membuang waktu masuk kedalam taxi yang menunggu sejak tadi.
Baekhyun tidak menyadari ketika ia turun dari taxi dan melambaikan tangan pada Sehun sampai taxi itu menjauh ada Lelakinya yang menatapnya tajam di dalam mobil mewahnya. Baekhyun berbalik tepat Chanyeol membuka pintu mobilnya.
Mata sipitnya membulat namun tetap diam ditempat, mendengus memalingkan wajah hingga tangannya ditarik cukup kuat.
"Lepas Sialan!"
Chanyeol tak mengindahi, ia menarik tangan kecil itu kuat sampai pintu lift terbuka dan mendorong tubuh mungil itu ke dinding, melempar coat yang dipakai Baekhyun lalu menghimpitnya, meraup belah lunak itu tanpa ampun meski dadanya di dorong berkali-kali, Chanyeol tidak peduli. Pintu lift terbuka sampai di lantai 7 apartemen Baekhyun, ia melepas ciuman basahnya membiarkan Baekhyun bernafas kepayahan.
Oh tidak cukup sampai disitu ia mengangkat kaki Baekhyun untuk membelit pinggingnya. Lelaki itu bahkan sama sekali tidak kesulitan membawa Baekhyun dalam gendongannya masuk dalam apartemen tanpa melepas pertemuan bibir itu yang tak kalah gairahnya dengan sebelumnya sampai Baekhyun terlepar di ranjang.
Baekhyun yang merasa jengkel --padahal tadi ia menikmati ciuman basahnya --Baekhyun rindu-- mendorong sekuat tenaga lelakinya yang akan menindihnya, mengambil bantal dan memukulinya.
"Kau pikir aku mau melakukannya. Tidak! Cepat pergi atau aku akan berteriak sampai seluruh penghuni apartemen ini bangun."
"Baek--
"Keluar!"
Chanyeol kembali menarik tubuh itu, bukan menciumnya melainkan memeluknya lembut, elusan ia berikan pada rambut wangi stroberi itu. "Maafkan aku. Maaf…"
Lantas bulir bening itu mengalir membasahi kemeja putih di bagian dada Chanyeol.
"Besok kita harus fitting baju pengantin, jika kau memilih pekerjaanmu maka pernikahan dibatalkan dan aku akan menerima lamaran Oh Sehun."
Memangnya kapan Sehun melamar Baekhyun.
Itu hanya leluconnya.
"Baek--" Chanyeol menarik tubuh tanpa sehelai benangpun Baekhyun di atasnya. Membenarkan letak selimutnya untuk menutupi, Chanyeol tidak akan membiarkan tubuh mulus itu terlihat meski hanya seekor cicak merayap di dinding.
"Jangan bermain-main dengan mulut manismu." Chanyeol menyelipkan helaian rambut Baekhyun ke belakang telinga, manik hitamnya menatap paras cantik diatasnya dengan memuja. "Asal kau tahu. Aku sibuk karena semua agenda selama sebulan kedepan aku bereskan sekarang. Bukankah kau ingin bulan madu ke berbagai negara?"
"Huh?"
"Setalah mengucap janji di altar, aku mengambil cuti satu bulan hanya untuk bulan madu kita sayang." Chanyeol mengecup gemas wanitanya yang tengah memahami ucapannya.
"Benarkah?" Mata sipit itu berbinar hanya beberapa detik, lantas memukul dada telanjang lelakinya.
"Yak! Berhenti mempermainkan bokongku!"
Baekhyun menghentikan laju mobilnya tepat di pelataran rumah sederhana yang lama sekali tak ia kunjungi--karena kesibukannya. Sooyoung, bibinya yang merawatnya sedari kecil.
Ia memeluk bibinya erat yang menyambutnya hangat.
Lalu tanpa sungkan mengambil sendok mencicipi hidangan yang sudah disiapkan untuknya, sebelum memberikan kartu undangan cantik pada bibinya.
Sooyoung mengulum bibirnya menyembunyikan rasa bahagianya menahan untuk tidak berteriak histeris senang.
"Oh Jadi Baekhyun sungguh akan menikah dengan Park Chanyeol?"
"Memangnya Baekhyun akan menikah dengan siapa lagi kalau bukan dengan Chanyeol Bi!"
END
Ada yang merasa tidak asing dengan cerita ini. Ya inspirasi dari film lama Hari untuk amanda.. Maaf typonya. Review ditunggu .
