A/N: Hi..! Sorry kalo misalnya postnya ketunda, soalnya saya lagi ngurusin keperluan buat sekolah. Haha, nah, inilah chapter duanya …

CHAPTER II

"Aahh!"

Suara teriakan itu segera membangunkan Sano dari tidurnya.

'Sakura!' adalah kata pertama yang muncul di dalam kepalanya. Itu suaranya. Suara jeritan Sakura.

Iapun segera bangun dan berlari keluar kamarnya menuju kamar Sakura yang terletak tepat disebelah kamarnya sendiri. Raut wajahnya panik. Dengan segera ia mengetuk pintu kamar Sakura dengan pelan tapi cukup untuk bisa didengar oleh adik yamg merupakan sekaligus kekasihnya itu.

"Sakura!" panggilnya dengan cemas dari luar sambil terus mengetuk pintu.

'Sano,' Mendengar suara Sano, Sakura terlompat bangun dari tempat tidurnya dan berlari menuju pintu untuk membukanya. Begitu pintu itu terbuka, ia segera menghambur kedalam pelukan kakanya. Dengan erat lengannya dilingkarkan disekitar Sano. Wajahnya terkubur dalam kaus yang dikenakan putra tertua keluarga Haruno itu untuk tidur.

"Sakura, ada apa?" tanyanya dengan nada yang penuh kekhawatiran sambil mengusap lembut kepala Sakura. Sano makin khawatir karena Sakura tidak menjawabnya. Ia tetap menangis tersedu-sedu tanpa mau melepaskan pelukannya.

"Sakura… Sakura, dengarkan aku," ujarnya lembut. " Kau kenapa?" Sano mengulang lagi pertanyaannya sambil berjalan — sambil membopong adiknya yang masih menangis — masuk kedalam kamar Sakura dan duduk di atas tempat tidurnya. Dengan hati-hati, sakura ia dudukkan dipangkuannya.

"Mimpi buruk." Jawabnya sambil sesenggukan ditengah tangisannya. Sano menarik nafas dalam-dalam. Hal-hal mengerikan yang tadi memenuhi kepalanya tentang apa yang terjadi pada Sakura segera menghilang.

"Sshh.., tenanglah Sakura. Aku ada disini. Kau tidak perlu takut lagi. Apa kau mau menceritakan mimpimu padaku?" Sakura mengangguk dan menghentikan tangisnya.

"Dalam mimpiku, kita berdua sedang pergi jalan-jalan di taman. Tapi tiba-tiba, kau berhenti berjalan. Saat kutanya kenapa, kau hanya tersenyum lalu tiba-tiba kau pergi. Perlahan-lahan kau menghilang. Aku takut. Aku takut akan terjadi sesuatu." Tangisnya pecah lagi saat ia sampai pada bagian terakhir. Ia kembali memeluk Sano.

"Jangan takut Sakura. Aku akan selalu ada disampingmu. Kau tidak perlu takut. Apapun yang terjadi nanti, kita akan selalu bersama." Katanya sambil mengecup dengan lembut dahi Sakura.

Perlahan-lahan Sakura mulai tenang. Tangisnya pun sudah berhenti dan nafasnya menjadi stabil kembali. Sano memandangi Sakura, 'Ia sudah tidur.'

Dengan pelan, ia kembali membaringkan Sakura di tempat tidurnya. Setelah itu, ia kembali duduk disamping Sakura dan memutuskan untuk menemaninya tidur. Sesaat sebelum tidur, ia melihat jam yang ada di dinding, pukul 02.30. Setelah itu dia tidur sambil memegang tangan Sakura.

Sakura terbangun ketika jam alarmnya berbunyi. Saat ia bangun, ia merasakan ada seseorang disampingnya yang sedang menggegam tangannya. Dia melihat kesamping dan melihat Sano ,sedang tidur dengan tenang disampingnya.

Sakura duduk dan tersenyum. Ia tahu Sano adalah orang yang tepat baginya. Dia selalu ada disaat Sakura membutuhkannya dan, yang terpenting, dia tidak akan pernah meninggalkan Sakura sendiri.

"Sano, ayo bangun..." Dengan lembut, ia mengguncang pelan bahu laki-laki itu.

Perlahan-lahan sang Kakak membuka matanya. Saat ia berhasil membukanya, ia melihat Sakura tersenyum padanya. Ia pun ikut tersenyum. Dengan malas-malasan Sano melemparkan lengannya kesekeliling tubuh Sakura dan menariknya kembali ke tempat tidur hingga Sakura terbaring menyamping didalam pelukannya yang kokoh. Wajah gadis itu berhadapan dengan wajahnya sendiri, dan kepalanya bersandar pada lengannya. Sakura tertawa pelan. Merasa geli dengan tingkah kakaknya yang manja dan kekanak-kanakan.

'Manisnya…' batin gadis itu dalam hati.

"Kau sudah bangun rupanya. Bagaimana, kau sudah tidak takut lagi kan? Mimpi itu cuma bunga tidur, jadi tidak ada yang harus ditakutkan." Ujar Sano sambil mengecup ujung hidung adiknya.

"Iya." Jawab Sakura sambil mengangguk. Setelah beberapa menit mereka terdiam dalam keadaan yang sedemikian rupa — menikmati keberadaan satu sama lain sambil bermalas-malasan — mereka berdua bangkit dan beranjak dari tempat tidur Sakura. Sano menuju ke pintu dan Sakura menjuju ke meja kecil yang ada di seberang tampat tidurnya untuk menyisir rambutnya yang mencuat ke berbagai arah.

"Terima kasih, Sano." Kata gadis berambut pink itu sesaat sebelum kakaknya melangkah keluar dari kamar.

"Sama-sama Sakura." Jawabnya sambil tersenyum sebelum menutup pintu kamar Sakura.

Setelah Sano keluar, Sakura mengalihkan pandangannya ke cermin didepannya. Ia tersenyum. Sano benar, tidak ada yang perlu ia takutkan karena mereka akan terus bersama. Selamanya. Dengan itu, ia bangkit dari kursinya dan bersiap-siap untuk menghadapi hari barunya.

Hari ini, Sakura dan Kayako ada janji dengan teman-teman mereka untuk pergi jalan-jalan bersama. Ayahnya juga akan pulang lebih cepat. Sementara itu, Sano hari ini tidak ada jadwal untuk kuliah, jadi mungkin dia tinggal dirumah menemani ibunya.

'Hari ini akan menyenangkan.' Katanya dalam hati. Selain karena ia akan berjalan-jalan, hari Jumat adalah hari kesukaan Sakura karena itu berarti besok hari Sabtu. Pada hari Sabtu, sekolah Sakura dan Kayako libur, jadi dia bisa menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Terutama dengan Sano.

Dalam keluarga Haruno, Hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, adalah hari untuk kumpul keluarga. Untuk hari Jumat, mereka biasanya duduk sampai larut malam di ruang keluarga sambil menonton TV atau karaoke bersama. Sementara Hari Sabtu dan Minggu, biasanya mereka pergi jalan-jalan bersama. Baik bersama anggota keluarga lain atau tidak. Maka pada kesempatan itu, Sakura dan Sano bisa mencuri-curi kesempatan untuk bisa berdekatan. Entah duduk berhimpitan dengan tangan yang bergenggaman satu sama lain sambil menonton televisi, atau Sano yang tidur-tiduran sambil membaca majalah di sofa dengan kepalanya di pangkuan Sakura— biasanya sakura akan bermain dengan helai-helai rambut Sano yang lembut, seperti saat mengelus seekor kucing peliharaan.

Saat-saat seperti itu, adalah saat yang paling disukai dan dinanti-nantikan oleh anak tengah keluarga Haruno ini.

Sakura memasuki ruang makan dengan tersenyum seperti biasanya. Ketika ia memasuki ruang makan, semuanya sudah berkumpul.

"Pagi semuanya!" serunya dengan ceria sebelum duduk disebelah Sano. Sano yang melihat Sakura kembali ceria seperti biasanya pun menjadi ikut senang.

"Sakura, Kayako, hari ini kalian pulang jam berapa?"

"Ah, hari ini mungkin kami akan pulang terlambat Bu. Kami diundang ke acara ulang tahun teman kami. Memangnya ada apa Bu?" jawab Sakura sambil menyantap sarapannya.

"Apa kalian tidak bisa pulang lebih cepat?"

"Memangnya kenapa Bu?" Tanya Kayako

"Tidak apa-apa. Ibu hanya ingin kalian pulang lebih cepat." Kata Ibu. Semuanya memperhatikan Ibu. Tidak biasanya Ibu melarang anak-anaknya jika mereka ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka tanpa alasan yang jelas.

"Ya, tidak apa-apa lah kalau kalian tidak bisa." Sambung Ibu lagi dengan tersenyum. Dan ini membuat semuanya melanjutkan sarapan dengan tenang.

"Daah Ibu"

"Daah Sakura, Kayako" kata Ibu sambil tersenyum pada kedua anaknya yang hendak berangkat sekolah.

"Sakura"

"Ada apa Kayako?"

"Aku tidak bisa ikut denganmu. Badanku sepertinya kurang sehat, jadi aku harus istirahat. Kau tidak apa-apa kan jika kau harus pergi sendiri?"

"Ya. Tidak apa-apa. Oh iya, kudengar kau terpilih untuk nominasi pemain terbaik se-Jepang ya? Tanyanya dengan gembira. Jawaban yang didapat oleh Sakura hanyalah Kayako yang mengangguk dan tersenyum. Senyum Sakura pun melebar lalu dia memeluk Kayako.

"Selamat yaa…" katanya sambil tersenyum lebar.

"Sakura, Kayako, ayo kita berangkat!" seru TenTen — sahabat sekaligus tetanga mereka —sambil menghampiri kedua gadis kembar tersebut.

"Maaf TenTen, tapi aku tidak bisa ikut. Aku kurang sehat."

"Yah, tapi baiklah. Nanti aku akan memberi tahu Ino mengenai hal ini." Katanya sambil tersenyum pada Kayako.

"Daah Kayako, cepat sembuh yaa" seru kedua remaja itu dengan bersamaan. Kayako hanya melambaikan tangannya pada mereka berdua, lalu bersiap-siap pulang ke rumah.

Malam itu, di Jepang terjadi badai. Sepulang dari ulang tahun Ino, Sakura yang diantar oleh teman baiknya, Naruto, bersama pacarnya Hinata, berhenti di toko kue yang terdekat untuk membelikan kue yang akan diberikan Sakura pada Kayako dan Sano.

Mobil mereka berjalan dengan pelan dan hati-hati. Malam itu sangat gelap juga ada badai. Sesampainya di depan rumah Sakura, mobil pun berhenti dan Sakura segera keluar karena tidak sabar untuk memberikan hadiahnya pada kedua saudaranya itu. Setelah melambaikan tangan pada Naruto dan Hinata, Sakura membalikan badannya dan berjalan memasuki rumahnya. Keadaannya sangat tenang, rumahnya pun gelap.

'Mungkin mereka sudah tidur karena mama mini ada badai.' Pikir Sakura dalam hati. Dengan perlahan dia meraih tangan pintu rumahnya dan membukanya. Apa yang dilihat didepannya membuatnya gemetaran dan lemas.

Didepannya, Ayahnya terbaring di lantai dengan berlumuran darah yang keluar dari perutnya. Sakura berlari kearah Ayahnya sambil menangis. Ia berlutut disamping Ayahnya dan menempelkan telinganya di dada ayahnya. Ia mendengar dengan seksama ada atau tidaknya suara detak jantung. Sayangnya tidak ada. Air matanya terus mengalir tiada henti. Ayahnya, Ayah yang sangat disayanginya sudah meninggal. Berdiri dari tempat Ayahnya, ia menuju saklar lampu. Begitu lampu menyala, ia berteriak,

"IBUU!!"

Tepat di depan kakinya, Ibunya terbaring dengan kondisi yang sama dengan Ayanhya, tidak bernyawa. Ia berlutut dan memeluk Ibunya sambil menangis. "Apa yang terjadi?! Kayako?! Sano?!" teriaknya dengan pelan sambil berusaha menahan tangisnya.

Tidak mendengar jawaban apa pun, membuat Sakura menjadi lebih panik. Ia takut melihat kemungkinan keadaan kedua saudaranya itu jika nanti ia menemukan mereka. Ia takut kehilangan mereka. Perlahan-lahan, Sakura berjalan menyusuri ruangan lainnya sambil menangis dan berharap Ia akan menemukan Sano dan Kayako dalam keadaan yang baik. Tepat ketika Sakura sampai didepan tangga yang menuju ke lantai berikutnya dimana kamarnya dan kamar kedua orang tua dan saudaranya berada, dia berhenti,

"KAYAKO !!" teriaknya dengan ketakutan. Ia mencoba membangunkan Kayako, tapi sayang, Kayako sudah meninggal. Ia memiliki luka memar diwajahnya dan kepalanya berdarah. Tangis Sakura pun makin tak bisa dihentikan. Dengan berat hati, ia berdiri untuk mencari anggota terakhir dikeluarganya yang juga sangat berarti baginya, Sano.

Ingatan Sakura tentang kata-kata Sano tadi pagi dan mimpi buruknya kembali berputar-putar di kepalanya dan membuatnya pusing. Tiba-tiba,

"Sa…kura…"

Sakura merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak.

'Tidak…' bisiknya dalam hati. 'Jangan… jangan dia... Jangan ambil dia juga, Tuhan,'

Dengan tubuh bergetar hebat penuh rasa takut, ia membalikan badan kearah datangnya suara itu. Apa yang dilihatnya membuatnya hancur. Sano terbaring dilantai dengan luka tusukan di perutnya yang sangat dalam. Sakura segera berlari dan jatuh berlutut disamping Sano.

"Sano!! Bertahanlah! Aku akan memanggil ambulans… tunggu sebentar, kumohon…" katanya sambil terisak dan mencoba menelpon ambulans. Didalam hati ia terus menjeritkan hal yang sama. Berulang-ulang, berkali-kali. Terus menerus seperti mantra. 'Jangan ambil Sano juga.'

"Sudahlah… Sakura… Mungkin ini sudah waktunya bagiku…"

"Hentikan! Jangan bicara lagi. Aku sudah kehilangan Ayah, Ibu, dan Kayako, dan aku tidak mau kehilanganmu juga…" air mata terus meleleh dipipi Sakura. Pemandangan didepannya sungguh menyayat hati. Ia merasa sangat tidak berguna, begitu lemah. Ia hanya bisa jatuh terduduk disamping kakaknya yang tengah meregang nyawa. Memandang dengan buram karena matanya yang penuh air mata, kepada wajah kakaknya yang tersandar tak berdaya di pangkuannya.

"Sakura…sudahlah… penglihatanku sudah mulai menurun.., sebentar lagi. Aku bertahan supaya aku bisa bertemu denganmu dan," ia berhenti sambil mencoba meraih sesuatu. Sementara Sakura terus menangis. "aku ingin memberikanmu ini…" lanjutnya lagi sambil meraih tangan Sakura. Dengan kekuatan terakhirnya, Sano memakaikan sebuah cincin di jari manis Sakura sebelum mengucapkan kata-kata terakhirnya yang membuat hati Sakura semakin hancur.

"Sakura… Aku… akan tetap… mencintaimu, untuk selamanya…" Sano terbatuk dan darah mengucur keluar dari mulutnya.

"Selamanya…" bisiknya lemah sambil tersenyum kecil. Dengan itu, Sano pun akhirnya pergi meninggalkan Sakura.

Sakura hanya terduduk lemas disamping Sano sambil menangis. Dengan erat dipeluknya dada kakaknya sembari menangis histeris. Diteriakkannya nama kakak yang paling ia cintai itu, tapi semua sudah terlambat. Ia telah pergi meninggalkan dirinya. Hatinya hancur lebur dan tak akan ada yang bisa memperaikinya. Hidupnya pun rasanya sudah tidak berarti lagi karena ia telah kehilangan semuanya. Orang tua, adik, kakak serta cinta sejatinya yang pertama.

Hanya satu baris kalimat kesepian yang terbentuk di dalam kepalanya.

Lalu untuk apa ia hidup sendirian?

A/N: Inilah chapter dua. Sekali lagi, Ruth, thx berat ..! Oh iya, saya juga mau bilang trima kasih sama yang udh review. Ada kejutan lho nanti , Jangan lupa review yaa…