A/N:Rencananya ini adalah bagian akhir dari cerita ini. Yaah, bisa dibilang ini epiloguenya. Tapi karena satu dan lain hal, jadi saya memilih mengubah sedikit cerita ini. Selamat menikmati…

CHAPTER III

3 tahun telah berlalu dari kejadian itu. Sakura sekarang telah berubah total. Sakura yang dulu selalu ceria, tertawa, dan murah senyum, sekarang sudah tidak pernah melakukannya lagi. Sakura yang sekarang adalah Sakura yang pendiam, pemurung, suka menyendiri, dan yang paling mencolok, sekarang dia menjadi seorang yang dingin. Dia bahkan tidak lagi senang berkumpul bersama teman-temannya. Mereka sudah pernah mencoba menghibur Sakura dan berakhir dengan Sakura pergi meninggalakn mereka tanpa pamit.

Selama satu minggu pertama setelah kejadian itu, Sakura terus menangis dan mengurung dirinya di kamar. Ia bahakn tidak mau makan sampai teman-temannya datang dan membantunya. Tapi sudah terlambat, tubuh Sakura sudah terlalu lemah, ia pun akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Selama di rumah sakit pun Sakura tidak berubah. Dia tetap tidak mau banyak bicara pada teman-temannya. Dia lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya. Setelah dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit, Sakura kembali dalam kehidupannya seperti biasa. Tapi, bukan seperti yang teman-temannya harapkan. Padahal, mereka sempat mencoba meyakinkan Sakura kalau ia tidak boleh seperti ini terus. Keluarganya tidak akan senang jika melihat Sakura hidup seperti ini. Tapi Sakura seperti tidak memperhatikan apapun yang diucapkan oleh teman-temannya. Ia tetap menjadi Sakura yang suka menyendiri.

Tiga bulan setelahnya, teman-teman Sakura mengadakan acara reuni. Untuk acara rauni ini, mereka akan pergi berlibur selama 3 hari 2 malam. Acara ini akan diikuti oleh seluruh anak-anak angkatan Sakura dan juga beberapa guru mereka. Tapi sayangnya, ia tidak datang pada saat acara reuni itu. Teman-temannya mencoba menghubunginya berulang kali. Walaupun Sakura sudah jarang bergaul dengan teman-temannya seperti dulu, tapi ia masih mau mengangkat telapon dari temannya. Karena itu, mereka merasa khawatir dan memutuskan untuk menghampiri Sakura di rumahnya. Mungkin ia akan mau mengubah pikirannya jika teman-temannya datang langsung untuk menjemputnya. Tapi sayang, mereka kembali ke sakolah tanpa Sakura. Guru-guru pun merasa kasihan dengan tingkah laku Sakura yang berubah drastis. Mereka tadinya juga sudah mencoba untuk mengembalikan Sakura lagi seperti dulu. Tapi sayangnya, mereka tidak sanggup, maka dari itu mereka menyerahkan masalah ini pada teman-temannya.

"Apa yang sedang Sakura lakukan ya?" Tanya TenTen dengan sedih.

"Kalau saja dia ada disini…." Lanjut Ino dengan sedih.

"Kalau saja…" sambung Naruto sambil berjalan menghampiri kedua temannya itu bersama Hinata.

Diantara mereka semua, Ino dan Naruto adalah orang yang paling dekat dengan Sakura. Ino sudah mengenal Sakura dan Kayako sejak mereka masih kecil. Bahkan sebelum mereka masuk sekolah. Sementara Naruto, ia adalah teman pertama Sakura dan Kayako di sekolah. Naruto sudah seperti saudara kandung bagi Sakura dan Kayako. Ia selalu menjaga dan membantu mereka, walauoun terkadang ia suka berbuat jahil. Terutama pada Kayako. Mereka sering bergantian berbuat jahil satu sama lain.

"Bagaimana kalau sepulang acara perpisahan ini, kita menjenguk Sakura?" ajak Hinata.

"Yah, itu benar. Apalagi, saat kita pulang nanti, tepat 3 bulan kematian mereka. Dia pasti akan sangat sedih."

"Baiklah. Kau benar, dia pasti sedih, dan kita harus ada bersamanya walaupun dia bersikap dingin pada kita. Mungkin nanti dia akan mau lebih terbuka pda kita." Sambung Ino.

"Ya. Aku akan memberitahukan yang lain." Kata TenTen sambil berjalan untuk menghampiri dan menberitahu rencana ini pada teman-teman mereka yang lain.

xxxxxxxxxxx Sakura P.O.V xxxxxxxxxxx

Hari ini, tepat 3 bulan sejak hari itu. Hari dimana semua anggota keluargaku dibunuh oleh para perampok itu. Aku sungguh tidak bisa memaafkan mereka. Tidak bisa. Walaupun akhirnya mereka sudah mendapat hukuman yang setimpal, tapi tetap saja aku tidak merasa bahagia. Mereka sudah membunuh semua orang yang aku sayangi. Mereka juga membunuh orang yang sangat aku cintai. adalah cinta sejati pertamaku. Dan yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan adalah, Sano terbunuh dua hari menjelang hari peringatan 6 bulan kami resmi pacaran. Cincin yang ia berikan adalah satu-satunya barang yang selalu mengingatkanku padanya.

Kenapa semua ini harus terjadi padaku?

Berulang kali pertanyaan itu menghantui otakku. Kenapa? Memikirkan itu semua membuatku menjadi sedih. Aku pun akhirnya membuat sebuah keputusan. Keputusan yang juga akan membuatku sedih. Karena takut merasa kehilangan orang yang penting dalam hidupku, aku memutuskan, lebih baik aku yang menarik diri sebelum semuanya terlambat. Aku tidak siap jika suatu hari nanti aku juga harus menghadapI kenyataan untuk kehilangan mereka. Karena itu, aku memutuskan untuk tinggal dirumah dari pada pergi ke acara perpisahan itu.

Sewaktu di rumah sakit, aku hampir mengubah pikiranku. Aku hampir saja memutuskan untuk mencoba membiarkan mereka menghiburku. Mungkin mereka bisa membantuku untuk menemukan kembali alasan untuk tersenym dan ceria seperti diriku yang dulu. Tidak hanya itu, yang lebih penting adalah alas an untuk terus hidup. Tapi aku membatalkan niatku itu ketika mendengar Naruto berkata,

"Kita akan selalu bersama."

Kata-kata itu adalah kata-kata yang pernah diucapkan Sano padaku ketika ia terbangun ketakutan dari mempi burukku. Kata-kata yang membuatku bisa sedikit melupakan ketakutanku. Tapi, kenyataan berkata lain. Malah lebih buruk. Tidak hanya Sano, tapi semua anggota keluargaku. Ayah, Ibu, Kayako, juga Sano. Nama terakhir yang kuingat membuatku menangis. Lagi.

xxxxxxxxxxx End of Sakura P.O.V xxxxxxxxxxx

Sakura duduk menangis di kamarnya. Ia duduk sambil memeluk lututnya dengan erat dan mengubur kepalanya dalam-dalam di sebuah bantal kecil yang ia letakan di atas lututnya. Sesekali, ia berteriak. Beteriak dengan keras untuk meringankan kesedihannya dan mencoba untuk berhenti menangis. Tapi ia gagal. Air matanya terus mengalir keluar dari matanya. Sakura mengangkat kepalanya dan melihat ke sekeliling kamarnya. Ketika pandangannya sampai pada sebuah kotak besar berwarna hitam, ia berdiri. Ia berjalan menghampiri kotak itu dan membukannya sambil berjalan keluar kamarnya.

Ia duduk di kursi di ruang keluarga. Ia meletakan kotak itu dipangkuannya dan memandangi kotak itu. Kotak itu berisi segala barang-barang yang bisa mengingatkannya pada keluarganya. Memandangi kotak itu seakan membuatnya kembali mengingat semua kejadian indah yang pernah terjadi dalam keluarganya. Seolah-olah kejadian itu baru saja terjadinya kemarin, semua ingatan yang berulang kali ia coba lupakan itu kembali datang dalam pikirannya. Putus asa, Sakura mencoba memejamkan matanya. Ia berharap saat matanya terbuka nanti, semua keluarganya sedang duduk bersamanya. Walaupun tahu kalau itu tidak mungkin terjadi, Sakura tetap melakukannya. Dan benar saja, saat ia membuka matanya, ia melihat sekelilingnya. Sendirian. Ia hanya sendirian. Mereka benar-benar sudah pergi. Tangis Sakura kembali pecah.

Setelah sekian lama duduk dan memandangi barang-barang di kotak itu, Sakura memutuskan untuk menonton film faforit keluarganya. Saat sedang menonton pun, Sakura tetap mengingat mereka. Tapi kali ini dia tidak menangis. Mungkin dia sudah lelah menangis terus. Jadi ia hanya duduk dan berpikir. Mengingat semuanya. Kegiatannya itu terhenti saat ia mendengar suara ketukan di pintu.

"Sakura"

Mendengar itu suara Ino, ia berdiri dari tempat duduknya dan melangkah kea rah pintu. Ketika pintu terbuka, tampak berdiri semua teman-temannya. Sakura memandangi mereka satu per satu sejenak. Ino, Naruto Shikamaru, Hinata, TenTen, dan Neji. Teman-temannya tampak agak terlalu terkejut melihat Sakura. Matanya bengkak. Lebih bengkak dari biasanya. Tidak diragukan lagi, ia pasti sudah menangis dalam waktu yang sangat lama.

"Hai Sakura. Kau baik-baik saja kan?" Tanya Ino dengan cemas. Sakura tidak menjawab. Ia hanya tersenyum pada mereka sebelum mempersilakan mereka masuk ke rumahnya.

Selama di rumah Sakura, mereka berusaha menghibur Sakura dan yah, mereka sedikit berhasil. Sakura terlihat sedikit lebih santai dari pada biasanya. Tanpa terasa, hari sudah malam dan mereka pun akhirnya pulang ke rumah msing-masing meninggalkan Sakura, Ino, Naruto, dan Hinata, yang memutuskan untuk bermalam di rumah Sakura.

Ketika semuanya sudah masuk di dalam kamar mereka masing-masing, Sakura masih tinggal di ruang tamu. Ia duduk sambil memandangi cincin yang diberikan Sano padanya dan sesekali ia melirik jam dinding. Tak lama kemudian jam dinding itu berdentang dan membuat Sakura memalingkan perhatiannya pada jam itu. Pukul 23. 3 bulan lalu, pukul 23.00, ia menemukan semua orang yang sangat dicintainya terbaring tak bernyawa di rumahnya sendiri. Sakura menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

Sesampainya di kamar, Sakura langsung duduk di tempat tidur seperti biasanya. Ia duduk dalam kegelapan kamarnya dengan tenang tanpa melakukan apapun. Ini sudah menjadi kebiasaanya selama 3 bulan belakangan.

Sementara itu, Ino dan Hinata yang sudah masuk kamar terlebih dahulu masih belum tidur. Mereka berdua sedang duduk sambil berkonsentrasi dengan pikirannya masing-masing. Walaupun sebenarnya apa yang ada dalam pikiran mereka saat itu sama, Sakura. Ketika mendengar suara pintu kamar terbuka dan tertutup mereka memutuskan untuk melihat apakah Sakura sudah masuk kamarnya atau belum. Pelan-pelan Ino membuka pintu, setelah memastikan tidak ada orang, Ino melangkah keluar diikuti oleh Hinata. Mereka melangkah ke arah kamar Sakura dan berhenti di depannya. Tidak terdengar suara apapun dalam kamarnya itu selama beberapa menit. Tapi, lama-kelamaan, terdengar suara. Suara isakan tangis kecil. Mereka memandang satu sama lain.

"Dia menangis," bisik Hinata.

"Ya, dia menangis. Tapi setidaknya kita sempat membuatnya sedikit melupakan kejadian itu tadi walaupun pada akhirnya ia masih tetap menangis. Itu wajar," sambung Ino sambil memandangi foto keluarga yang sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri sebelum berbalik dan melihat Hinata.

"Tapi itu wajar. Kalau aku ada di posisinya, aku juga mungkin akan merasakan hal yang sama." Sambungnya sebelum mereka kembali ke kamar mereka.

9 bulan sudah berlalu sejak terakhir kali Sakura bertemu dangan teman-temannya. Atau 1 tahun telah berlalu sejak kematian keluarganya. Sakura akhirnya mau kembali keluar rumah dan berbicara dengan teman-temannya lagi. Teman-temannya sangat senang melihat kemajuan Sakura. Usaha keras mereka selama ini ternyata tidak sia-sia. Mereka tidak pernah lelah mencoba dan berusaha untuk mengembalikan Sakura seperti semula. Walaupun dia belum kembali tersenyum seperti biasanya, tapi mereka tetap senang dan bahagia. Setidaknya, Sakura sekarang mau beraktifitas diluar rumah.

'Lama-lama, ia pasti bisa melupakan semuanya dan kembali menjadi seperti Sakura yang dulu.' Itulah yang ada dalm pikiran mereka dan juga harapan mereka ketika melihat Sakura saat ia terlihat memasuki Universitas.

Sakura sekarang kuliah di Konoha University jurusan Management bersama Naruto dan Neji. Selain kuliah, Sakura juga harus meneruskan bisnis ayahnya. Mengambil alih kepemimpinan ayahnya dengan pengetahuannya yang belum terlalu banyak membuatnya harus menghadapi beberapa kesulitan. Untungnya Sakura anak yang pintar dan cepat belajar. Selain itu, dia juga dibantu oleh beberapa orang kepercayaan ayahnya dulu dan juga kuasa hokum ayahnya dalam mengurus semuanya.

Yah, sepertinya semua akan berjalan dengan baik.

Memasuki tahun kedua setelah kematian keluarganya, Sakura perlahan-lahan bisa kembali seperti semula. Ia lembali seperti Sakura yang dulu. Sakura yang ceria, ramah, dan menyenangkan seperti dulu. Hal-hal yang sempat tidak ia lakukan selama beberapa bulan belakangan karena masih diliputi rasa sedih dan kesepian serta kehilangan orang-orang yang selama ini dicintainya mulai kembali ia lakukan. Bisa dibilang, memasuki tahun kedua hidup barunya ini, Sakura akhirnya memutuskan untuk mengubur kesedihan itu dalam-dalam dan kembali pada kehidupannya yang dulu. Dengan dibantu oleh teman-temannya, Sakura kembali seperti biasa.

Sakura merasa sangat senang. Sangat senang. Ia merasa bebannya terangkat ketika ia sedang berada nersama teman-temannya. Kejadian mengerikan itu terasa tidak pernah terjadi dalam kehidupannya.

Tidak hanya Sakura, teman-temannya pun merasa senang. Usaha mereka selama ini akhirnya berhasil. Tadimya mereka sempat hampir putus asa. Tapi suatu hari, dalam acara ulang tahun Ino, Sakura membuat keputusan penting dalam hidupnya yang membuat semua orang bahagia.

Hari itu, di acara ulang tahun Ino, mereka meragukan kedatangan Sakura. Melihat keadaan Sakura ketika mereka memberikan undangan itu seminggu sebelum acara ulang tahun tersebut. Tapi dugaanmereka terbukti salah. Malam itu, Sakura datang ke acara ulang tahun Ino dengan senyum diwajahnya. Senyum yang selama ini hilang dan tidak pernah terpasang diwajahnya. Melihat kedatangan Sakura, teman-temannya menjadi senang. Apalagi ketika mereka melihat wajah tersenyum Sakura. Mereka merasa sangat senang. Sakura bahkan tinggal sampai acara itu selesai sehingga hanya tersisa beberapa orang yaitu Sakura, Hinata, Naruto, Shikamaru, Neji, dan TenTen. Ketika tamu-tamu mulai kembali ke rumah mereka masing-masing, mereka menduga Sakura juga akan pulang, tapi ternyata tidak. Ia tetap berada di acara itu.

"Semuanya, terimakasih …" kata Ino dengan bahagia pada teman-temannya.

Mereka sekarang duduk melingkar di ruang tamu rumah Ino. Entah kenapa, ruangan tiba-tiba menjadi sangat tenang. Tidak ada satupun yang berbicara, sampai,

"Teman-teman, terima kasih." Suara Sakura mengagetkan mereka. Dengan seketika mereka melihat dengan sedikit bingung kearahnya. Menyadari reaksi teman-temannya, Sakura tersenyum sebelum melanjutkan lagi.

"Terima kasih karena selama ini kalian sudah mau membantuku. Membantuku agar bisa melupakan semuanya. Terima kasih." Lanjut Sakura lagi dan diakhiri dengan tersenyum lebar pada teman-temannya.

"Sama-sama Sakura. Tidak ada yang bisa membuat kami menjadi lebih senang selain melihatmu kembali seperti dulu." Kata Ino sambil memeluk sahabatnya itu.

Setelah merasa cukup bersenang-senang, pada akhirnya waktu juga yang memisahkan mereka.

"Baiklah, kami pulang dulu." Seru Sakura, Hinata, Naruto, Neji dan TenTen secara bersamaan pada Ino dan Shikamaru.

"Terimaksih yaa !" seru Ino dengan senang dari depan gerbang rumahnya bersama Shikamaru disampingnya.

"Daahh…"

Malam itu mereka semua jelas akan tidur dengan senyum lebar diwajah mereka semua. Senyum karena semua yang terjadi pada hari itu. Pesta yang menyenangkan dan, kembalinya teman mereka.

Setelah pesta ulang tahun Ino, semuanya berjalan seperti biasanya dan membuat semua orang senang. Mereka bahagia karena akhirnya Sakura kembali menemukan kebahagiaannya lagi. Semuanya berjalan dengan baik. Bahkan, mungkin bisa dikategorikan sempurna. Sakura tidak lagi tenggelam dalam kesedihannya setiap hari. Mereka tidak lagi perlu memaksanya jika mereka ingin mengajaknya pergi. Dan yang terpenting ia tidak lagi terlihat menangis di depan mereka jika mereka berkunjung ke rumahnya. Ya, sempurna.

Tapi, bukankah di dunia ini tidak ada yang sempurna?

Ya. Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Mungkin di depan teman-temannya Sakura sudah kembali menjadi Sakura yang mereka kenal dulu. Tapi ketika ia kembali ke rumahnya, mimpi buruk pun kembali dimulai.

Ketika ia memasuki rumahnya, semua memori yang sudah ia kubnur dalam-dalam itu kembali berputar-putar di kepalanya. Semuanya terlihat dengan jelas. Dan keadaan ini membuat Sakura jadi semakin menderita. Memang keberadaan teman-temannya bisa membantu Sakura untuk melupakan semuanya. Tapi terkadang ia masih berpikir, apakah keadaan seperti ini adalah keadaan yang ia inginkan?

Jawabannya tidak.

A/N : Naah, bagaimana pendapat kalian?? Saya juga butuh ide karena saya bingung dengan akhir cerita ini. Jadi kalau ada yang mau kasih masukan kasih aja. Trus, buat yang berikutnya ngga janji deh keluar dalam waktu dekat.