Yaa, satu persatu aku berusaha mengapdet utang-utang yang menumpuk...=,=a
setidaknya waktu senggang begini aku sudah memanfaatkannya sebaik mungkin, bukan? Haha...
just read this! ^^d
****If Two Worlds Meet****
.
.
.
BLEACH © TITE KUBO
.
.
If Two Worlds Meet © kazuka-ichirunatsu23
.
- Chapter 4 -
Brak!
Renji --tak mempedulikan sopan santun dan rasa hormat pada Soutaichou-- membuka gerbang besar penutup tempat rapat para kapten itu.
"Ada apa? Abarai-san?" Yamamoto membalikkan badannya, berdiri menopang pada tongkat cokelatnya.
"Boleh saya mengusulkan diri untuk mengawasi Kota Karakura?"
Yamamoto diam sebentar. Sementara Renji masih membungkuk dalam, berharap keinginannya terkabulkan tanpa berlelet-lelet.
"Aku melimpahkan wewenang untuk memilih shinigami yang bertugas pada Kyouraku dan Juushiro. Kau salah tempat jika minta kepadaku saat ini."
"Jadi...." Renji mengangkat kepalanya.
"Pergilah." Yamamoto berbalik.
"Ba-baik. Terima kasih, maaf mengganggu, Soutaichou...." Renji bergegas keluar.
Renji berlari pergi. Tak dipedulikannya tubuhnya yang sedang kelelahan itu.
"Eh?"
Ia sadar akan sesuatu. Kenapa ia jadi mau berjuang seperti ini hanya untuk satu nama? Tatsuki? Hei, gadis itu siapanya?
Ah, sudahlah. Bukan waktunya untuk beradu argumen dalam hati sendiri. Lebih baik mewujudkan niatnya sedari tadi. Apalah itu, niatnya baik kan? Untuk menolong, setidaknya.
xxx
Divisi 8.
"Kyouraku-taichouu!!" Renji berteriak tanpa peduli sekitar, melambaikan tangannya pada Kyouraku dan Juushiro yang sedang duduk di beranda kantor utama Divisi 8.
"He?" Kyouraku menoleh. Di tangannya ada selembar kertas yang penuh dengan tulisan dan coretan tak karuan.
"Hosh... Bo-boleh saya minta usul?"
"Ya?" Kyouraku masih mencoret-coret kertas itu.
"Saya mau ikut pergi ke Karakura. Masih ada kesempatan kan?"
Kyouraku berdecak. "Sayangnya, Abarai-san, aku sudah menentukan kedelapan shinigami yang akan pergi. Kami hanya memilih delapan orang karena beberapa shinigami lain harus turut menjaga Soul Society. Delapan orang cukup, karena kalau terlalu banyak akan merepotkan kita disini."
"Siapa saja yang anda pilih?"
"Hmm... Soi Fon beserta fukutaichou-nya, Izuru Kira dari divisi 3, Isane dan Hanatarou Yamada untuk membantu pengobatan, yang keenam Ikkaku, lalu Yumichika, serta fukutaichou divisi 10, Rangiku-san."
"Bisakah saya menggantikan Kira?"
"Abarai-san, kupikir kau sedang ingin beristirahat disini saja, kudengar kau berbicara soal itu waktu bersama Hinamori-chan sesudah rapat...." Kyouraku menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Tidak, sekarang tidak lagi. Ada seseorang yang ingin saya tolong!!" jawab Renji antusias.
Ups! Sepertinya ini akan berbuntut panjang.
"Ha? Abarai-kun? Ada yang ingin kau tolong?" Nanao angkat bicara, mendekatkan kacamata oval itu tepat ke depan matanya.
"Err~ i-itu...."
"Yang jelas Ichigo tak mungkin kan? Rukia-chan juga. Apa gadis berkekuatan penyembuh itu?" Kyouraku berusaha menebak.
"Bisa dibunuh si Quincy jika saya bertindak aneh pada gadis itu..." Renji menghindar.
Ketiga orang itu menatapnya curiga, seolah mengatakan siapakah-gerangan-itu?
"Ah, sudahlah, Kyouraku-taichou, Ukitake-taichou, Nanao-san, tidak perlu mempermasalahkan siapa orangnya. Yang penting, bolehkah saya ikut?"
Juushiro mengangkat bahu, dan berisyarat pada Kyouraku.
"Sepertinya tidak bisa, Abarai-san. Kau mungkin akan lebih baik untuk berjaga di sekitar sini menemani taichou-mu."
"Argh," Renji mendesah. "Sudahlah. Terima kasih," katanya berlalu pergi.
"Eh, tapi Kyouraku-taichou, kapan mereka akan pergi ke Karakura?" Renji berbalik sebentar.
"Mungkin malam ini juga. Mengantisipasi penyerangan hollow yang tidak diketahui."
"Oh, baik. Terima kasih," Renji melambaikan tangannya pada Kyouraku lagi. Ah, untuk kesekian kalinya, mereka bertigalah orang yang menggelengkan kepala karena tingkah Renji yang semakin membesarkan tanda tanya di kepala mereka.
xxx
Renji berlari tanpa ragu. Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke gerbang Senkai. Sudahlah, hukuman dari Byakuya nanti saja dipikirkan. Yang penting ia bisa melindungi seseorang di bawah sana.
Ah, Renji tak habis pikir. Kenapa ia bisa sepeduli ini? Padahal rasanya... Tatsuki hanyalah gadis tomboy yang baru dikenalnya, dan asal tahu saja, Renji mengakui dalam hatinya kalau tipenya bukanlah seperti Tatsuki yang seolah meragukan takdirnya sebagai wanita itu.
"Eh, tunggu, Rokubantai fukutaichou!!" cegah seorang shinigami penjaga gerbang.
"Apa?!" Renji terpaksa menghentikan langkahnya.
"Anda mau kemana?"
"Hei, itu bukan urusanmu! Sudah, biarkan aku lewat!"
"Tapi sepengetahuan saya, yang boleh keluar di malam ini cuma delapan orang shinigami yang ditunjuk Kyouraku-taichou dan Ukitake-taichou. Shinigami lain diperintahkan untuk tetap berada di Seiretei untu menerima perintah pengamanan dari Soutaichou."
"Ah, sudahlah, masa bodoh! Ada seseorang yang ingin kutolong disana!"
"Tapi anda tidak mendapat izin untuk pergi."
"Sudah. Aku tidak akan lama. Cepat, persilahkan aku, atau kau akan merasakan bankaiku," Renji mengancam. Ia rasa itulah yang paling tepat untuk saat ini.
"Ba-baiklah. Silahkan...." shinigami itu menciut, dan membuka jalan yang tadi ia tutupi dengan tubuhnya.
"Oke, terima kasih!" Renji menyeringai. Dengan hitungan detik tubuhnya telah hilang ditelan cahaya silau yang bersumber dari gerbang itu.
xxx
"Tatsuki-chaann!!" Orihime mengetuk pintu bercat biru tua itu.
"Ya~!" Tatsuki bangkit dari tempat tidur, meletakkan sapu tangan putih yang ia gunakan untuk mengompres memar di lengannya.
Tampak setelah pintu itu terbuka Orihime dengan senyumnya, ditambah dengan sebungkus besar. Mungkin makanan.
"Wah, kau repot-repot seperti ini...." Tatsuki menggaruk belakang kepalanya.
"Tak apa, Tatsuki-chan. Kau sudah baikan?"
"Ehm... Beginilah adanya. Silahkan masuk!"
"Oh, maaf, aku tidak bisa lama. Ishida-kun menungguku untuk menemaninya pergi ke toko buku. Maaf ya...."
"Ah, tidak apa-apa. Kau menengokku sebentar saja aku senang."
"Baik, ini, terimalah," Orihime menyerahkan bungkusan yang masih berada di tangannya.
"Ya, terima kasih banyak, Orihime."
"Aku pulang dulu, Tatsuki-chan. Istirahat ya, semoga cepat sembuh," Orihime melambaikan tangannya.
"Ya. Hati-hati, Orihime. Bersenang-senanglah dengan Ishida!" Tatsuki membalas lambaian tangan itu.
Bruk!!
Tatsuki membanting pintu itu sesukanya. Lantas melemparkan dirinya ke tempat tidur dengan sprei yang sudah kusut dan berantakan itu.
"Ah, bosan..." katanya membolak-balik posisi tubuhnya, memutar jangkauan pandangannya kesana kemari, mungkin ada hal yang bisa digunakan untuk membunuh kebosanannya.
"Yo! Kau baik-baik saja?"
Tatsuki menoleh ke sumber suara.
"HUAA!!!" Tatsuki melemparkan bantal besar ke wajah yang terlihat jelas di depan jendela kamarnya.
"Aw!" Hei, bodoh, ini aku, Renji!!"
"Tapi jangan membuatku kaget seperti itu, tahu!! Muncul tiba-tiba dengan tidak elit seperti itu!!"
"Iya, iya, maaf!!" Renji melompat masuk, dan menyandarkan punggungnya ke tembok.
"Mau apa kau kesini?" Tatsuki membongkar laci mejanya, mencari sesuatu.
"Ada sesuatu yang harus kukabarkan padamu."
"Apa? Hei, untung saja orang tuaku sedang keluar kota, kalau tidak kau mungkin bisa dimarahi oleh mereka karena masuk seenaknya ke kamar anak perempuannya."
"Heh, memangnya mereka bisa melihatku? Haha, lagipula, memangnya kau benar perempuan?"
Bruggh!!
Sebuah bantal yang besar lagi-lagi terlempar dan tepat mengenai wajah Renji.
"Sudah. Aku ingin keluar. Plester lukaku habis," Tatsuki tak menggubris Renji, dan dengan cuek mengambil jaket serta menutup pintu kamarnya.
xxx
Tatsuki menggeram untuk ke sekian kalinya. Jika ia tidak memerlukan isi dari bungkusan yang dibawanya itu, mungkin dari tadi sudah ia lempar ke seseorang yang 'menguntit'nya tersebut.
"Bisakah kau tidak menguntitku lagi, hah?!!"
Renji menatapnya sinis. "Kau masih belum tahu kabar terbaru dari Soul Society, tomboy."
"Berhenti memanggilku seperti itu! Aku punya nama, T-a-t-s-u-k-i!!" Tatsuki mengeja namanya satu persatu, dengan penekanan di setiap alfabetnya, beserta volume yang ditinggikan.
"Iya, iya, aku paham!" Renji membalasnya dengan menutup kuping.
"Cih," Tatsuki membelokkan arah jalannya, ke tepi sungai. Yang telah sepi dan beberapa kunang-kunang yang telah langka mengisi gelap disana dengan cahaya kuning emasnya.
Tatsuki memandang jauh ke langit. Gelap, tidak ada bulan, bintang. Sepi, mungkin mendung. Ia kemudian duduk disitu. Renji yang heran, tanpa sadar ikut duduk di sampingnya.
"Hei, boleh aku tanya lagi padamu?"
"Apa?" Renji menoleh.
"Menurutmu, Ichigo itu tipe laki-laki yang suka memainkan wanita bukan?"
Dahi Renji mengerut, "Ichigo lagi?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku ingin tahu. Tidak boleh?"
"Rasanya, dari kemarin-kemarin, jika bertemu denganku yang kau bicarakan pasti Ichigo, Ichigo dan Ichigo terus. Kau suka dengan Ichigo.
Blush... Wajah Tatsuki berubah merah.
"Me-memangnya tidak boleh?"
"Oh, jadi benar kau suka dengannya?"
Tatsuki menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan di atas lututnya. "Dulu, kurasa. Entah sekarang. Aku adalah temannya sejak kecil, sejak lama aku tertarik dengannya, namun ia tak pernah sekalipun melihat padaku. Padahal aku sudah peduli dengannya, berusaha menunjukkan perhatianku, tapi dia sekarang memilih Rukia yang bahkan baru saja dikenalnya, jauh dengan diriku...."
Renji tertegun. Sekilas ia dengar sesugukan di suara yang lirih itu.
"Tatsuki?"
"Ya?" Tatsuki mengangkat kepalanya. Tampak matanya yang sedikit memerah.
"Sudahlah, tidak apa. Menangislah sesukamu," Renji tersenyum, "Keluarkanlah apa yang ada dalam hatimu. Aku siap mendengarkan."
"Yang benar? Apa aku tidak merepotkanmu dengan curahan hatiku yang aneh begini?"
"Benar. Terserah kau. Daripada kau pendam dalam hati, lebih baik kau keluarkan sebelum kau stres...."
Tatsuki menyeka pipinya. "Haha. Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkan sisi ini pada siapapun. Aku harus kuat."
"Sekuat-kuatnya wanita pasti ada sisi rapuhnya, Tatsuki."
Tatsuki menerawang ke langit.
"Aku menyukainya, sejak dulu. Sejak ibunya meninggal, aku berusaha peduli dengannya. Awalnya aku hanya melihat dia sebagai laki-laki manja yang cengeng. Tapi, lama-lama aku seolah tak bisa melihatnya sebagai teman biasa lagi. Aku jadi... tertarik...."
Renji serius mendengarkan.
"Tapi, aku tak pernah mengatakan ini padanya, takut hubungan kami jadi tidak sebaik biasanya. Tapi aku jadi terlambat. Ia terlanjur melabuhkan hati dan cinta sejatinya untuk Rukia-san."
Renji hanya menarik ujung bibirnya sedikit, tersenyum tipis. "Jadi sekarang maumu apa?"
Tatsuki mengangkat bahu, "Entah. Aku juga tidak mengerti. Aku mungkin masih mengharapkannya, namun dia sepertinya tak bisa lagi berpaling dari Rukia-san. Mungkin aku cuma perlu waktu untuk melupakannya. Tapi bagaimana bisa kalau dia terus-terusan berada di dekatku?!"
Renji tak menanggapi. Ia masih tersenyum seperti beberapa saat yang lalu, dan menerawang. Tak tahu juga apa yang sedang ia pikirkan.
"Aku mengerti, karena aku juga sama sepertimu."
"Sama? Memangnya...."
"Ya. Rukia. Dia juga teman kecilku. Kami senasib, sama-sama sebatang kara dan selalu bersama di semua suasana. Hingga keluarga Kuchiki membawanya, dan sekarang, Ichigo mengambilnya. Bahkan aku sebagai teman kecilnya pun tidak pernah diliriknya kecuali sebagai seorang kakak. Nah, ditambah lagi, mereka sering bersama di hadapanku. Bagaimana? Kita sama. Orang yang kita sukai sama-sama bersatu, dan tertinggallah kita meratapi mereka."
Tatsuki diam, tertegun. Tak dapat berkata-kata. Ia merasa ada sebuah...
... Keunikan yang entah mengapa terasa begitu keren.
"Kau juga suka Rukia ya?"
"Kurasa begitu. Tapi tak tahu sekarang, mungkin aku sudah sedikit merelakannya. Mungkin dia lebih berbahagia dengan orang yang ia cintai dan mencintainya. Daripada aku memaksakan diriku, mungkin aku bukan yang terbaik untuknya."
"Orihime juga menyukai Ichigo, dulu. Bahkan dia sempat menyatakan perasaannya dulu. Tapi Ichigo menolaknya. Untunglah ia bisa melupakannya dengan cepat karena ada Ishida... Cuma tinggal diriku yang masih terpaku di tempat yang salah."
"Sudahlah. Lupakan. Bagaimana kau mau melupakannya jika ternyata kau tak berhenti mengingatnya?"
"Bagaimana aku bisa lupa? Setiap hari bertemu, melihat wajahnya, senyumnya, semuanya."
"Hei, sudah," Renji mengulurkan tangannya, menyeka air mata yang masih menuruni pipi Tatsuki. "Sekarang lebih baik kau pulang, tidak baik malam-malam begini kau di luar."
"Baiklah," Tatsuki berdiri, mengibaskan patahan rumput yang melengketi celananya. "Terlalu cengeng juga tidak boleh. Masa' hanya karena Ichigo aku sampai berubah menjadi rapuh? Haha...."
"Nah, bagus...."
"Ee... Ngomong-ngomong, kau belum bilang padaku soal kedatanganmu ke sini. Memangnya ada apa?"
"Hn, itu... Ada hollow yang kemungkinan berlevel tinggi yang menembus dimensi dari dunianya ke kota yang penuh dengan orang bereiatsu tinggi ini. Makanya, beberapa shinigami ada yang ditugaskan untuk menjaga Karakura untuk menghindari korban hollow yang merasa terancam itu."
"Aku juga temasuk?" Tatsuki menunjuk dirinya.
"Ya. Kau termasuk orang dengan reiatsu tinggi yang kemungkinan terkena serangan seperti beberapa hari yang lalu."
"Begitu... Eh, tapi terima kasih ya...."
"Terima kasih untuk apa?"
"Hnn... Untuk menyelamatkanku tadi, dan kau mau kesini untuk ikut menyelamatkan Karakura...."
"Ya. Sama-sama. Bukan hal yang besar."
"Ada berapa shinigami yang akan datang kesini?"
Renji tertawa kecil, "Sebenarnya delapan. Tapi aku diam-diam datang."
"He? Diam-diam? Memangnya delapan tidak cukup?"
"Err, itu... Sudah, jangan dibahas lagi!" Renji memalingkan wajahnya. Sepertinya lidahnya salah menyebutkan kata, hal yang belum ia mengerti, kenapa dengan senang hati dan suka rela ia malah mau diam-diam hanya karena gadis ini?!
Tatsuki menyatukan kedua alisnya dalam satu gerakan. Tapi ia malas melanjutkan dengan kata-kata. Dan perjalanan itu pun menjadi senyap, sampai kembali pada rumah Tatsuki.
"Hei, sudah sampai di rumahku. Kau mau tidur dimana?"
"Aku punya kenalan. Setidaknya aku tidak mau ke tempat Ichigo. Sudah, kau segeralah tidur. Istirahat. Semoga lukamu cepat sembuh. Selamat malam."
"Ya, selamat malam. Hati-hati di jalan ya...."
Renji kembali, membalikkan diri menghadap Tatsuki.
"Eh?" herannya.
"Ups," Tatsuki menutup mulutnya. "Lupakan saja yang tadi. Anggap aku tidak bicara apa-apa."
Mereka bertatapan heran. Sejak di tepi sungai tadi, mereka seperti merasakan ada 'hal yang unik', yang entah kenapa meluncur begitu saja.
Hm, siapa tahu ini pertanda bukan?
xxx
Soul Society....
Byakuya berkeliling divisi 6. Tapi tak juga bisa menemukan apa yang dicarinya.
"Sedang apa, Byakuya?" Kyouraku yang sedang lewat di depan markas itu.
"Apa kau melihat Renji?"
"Uoh, Abarai-san?" Kyouraku menggaruk dagunya, yang mungkin sebenarnya tidak gatal. "Tadi malam dia datang kepadaku, meminta dirinya untuk ikut ke Karakura."
Byakuya diam.
"Ah, jangan-jangan dia pergi ke dunia nyata?!"
Byakuya tetap menjaga ekspresinya. Tapi sesaat kemudian, dia berbalik.
"Apa aku perlu menyuruh seseorang untuk menjemputnya paksa? Sepertinya dia kau butuhkan."
"Tidak perlu," Byakuya menjawab, tanpa mengubah arah tubuhnya. "Biarkan saja. Pasti ada hal penting yang menyebabkan dia pergi diam-diam."
Kyouraku melongo. Hei, seorang Byakuya mengatakan itu?
Tapi kapten divisi 8 itu hanya tertawa kecil. Lantas berlalu dan meninggalkan Byakuya yang juga menjauh.
xxx
Karakura, Minggu, 05.30 AM.
"Hmm... Tatsuki-chan, udaranya segar yaa~!" Orihime merentangkan tangannya lebar-lebar, dan membiarkan oksigen segar di pagi hari masuk sebanyak-banyaknya ke paru-parunya.
"Ah, ya, ya, segar," Tatsuki menjawab, tapi menoleh sebentar ke belakang. Fuh, tak ada makhluk itu, pikirnya.
"Tatsuki-chan kenapa? Sepertinya dari tadi kau kehilangan sesuatu?"
"E-eh? Kehilangan? Tidak kok!!"
"Tapi dari tadi kulihat kamu terus-terusan menoleh, ada yang kau cari?"
Tatsuki menggeleng cepat. "Sudahlah. Bukan hal besar. Lupakanlah."
"Ah, ya, ya, ya. Tapi, Tatsuki-chan, aku melihat, sepertinya akhir-akhir ini kau makin dekat dengan Abarai-kun ya?" Orihime duduk di sebuah bangku panjang. Berlari selama dua puluh menit ternyata cukup membuatnya lelah. Tatsuki mengikuti.
Wajah Tatsuki memerah, sedikit. Mungkin tak ada yang melihatnya. "A-apa? Memangnya kenapa?"
"Naah, kan! Wajah Tatsuki-chan merah!!"
"A-apanya?" Tatsuki pura-pura tidak tahu. Tapi hal itu cuma membuat semburat merah wajahnya semakin bertambah.
"Kau terlihat makin akrab dengannya. Ditambah lagi, kata Kurosaki-kun, dia rela membolos tiga hari ini dari divisinya hanya untuk melindungi seorang gadis yang baru dikenalnya yang bernama Tatsuki Arisawa...."
"U-ugh, 'Hime, sudahlah!! Tidak ada apa-apa diantara kami!"
"Kalau kau berkata hal macam-macam lagi, aku tak akan segan melaporkanmu pada si Quincy kacamata itu," suara berat terdengar dari belakang mereka.
"Aih, Abarai-kun, sejak kapan disitu?" Orihime terkejut.
"Sejak kalian membicarakanku," jawabnya santai. Kemudian menggigit sepotong roti --entah dari mana laki-laki itu mendapatkannya.
Tatsuki menggeleng-geleng. Orihime tertawa kecil.
"Sampai kapan kau akan terus menjaga Tatsuki-chan, Abarai-kun?"
"Mana aku tahu," Renji mengangkat bahunya, "Tapi sepertinya hollow itu sudah berkurang banyak. Kemana ya?"
"Malah bertanya dengan kami. Itu kan tugasmu, nanas," Tatsuki cuek.
"Kalau begitu ya sudahlah. Sepertinya teman-teman yang lain telah selesai menyingkirkan hollow tak berguna itu di Garganta. Aku pulang saja ya..."
"Eh, tunggu!" cegah Tatsuki.
"Kalau hollow itu muncul lagi bagaimana denganku?"
"Tenang saja. Rukia dan Ichigo akan membantumu. Lagipula, Quincy dan sahabatmu ini pasti tak akan tinggal diam."
"Ah, terserahlah. Pulang saja kalau kau mau. Dan bersiap dimarahi atasanmu ketika kau tiba. Ingat, sudah berapa hari kau membolos!"
"Iya, iya. Aku tahu. Sudah, ja ne!" Renji menjwauh, melambaikan tangannya sekilas.
Tatsuki memalingkan wajahnya cuek. Orihime tersenyum kecil.
xxx
Suara jejak langkah terdengar buru-buru malam itu. Derap yang terdengar dari sentuhan sepatu kets dengan aspal yang sunyi itu begitu meresonansikan rasa takut.
Tatsuki menoleh ke kiri-kanan. Salahnya sendiri malam ini terlalu asyik bermain karate sampai larut seperti ini.
Aura menakutkan terasa oleh tengkuknya. Seram. Atau mungkin hanya dirinya yang terlalu takut sampai menganggap semuanya adalah menakutkan.
Srek!
Srett!!
Suara-suara sekilas lewat itu menambah ketakutan Tatsuki. Ia melihat sekeliling. Tidak ada apa-apa. Ia semakin menambah kecepatan jalannya. Tapi rumahnya masih jauh, dan terpaksa harus melalui jalan ini sendirian.
"Ah, gawat. Renji tak ada! Bagaimana ini?! Kalau ada hollow aku minta tolong pada siapa?!!" paniknya dalam hati.
Crakk!!
Tatsuki menutup matanya, dan berteriak; "Siapapun, tolong akuu~!!"
- To Be Continued -
.
Sempat kayak main kucing-kucingan juga sama adikku. Soalnya dia beralasan pengen liat tema lappie ini, yang membuat saia harus selalu menunda ketikan.. huff....
dan beberapa bagian di fic ini sempat mengalami beberapa kali penghapusan dan ketik ulang karena kurang matangnya ide saia. Tapi akhirnya bisa selesai...
Mungkin ini akan tamat di beberapa chapter lagi, InsyaAllah gak sampe sepuluh. Takut reader pada bosan.
Dan, bales review dulu:
Dilia males log in : terima kasih~ (_ _) haha, lebih panjang sesuai porsi ide dan alurnya. Saia takut kalau kepanjangan banyak yang bosan, saia pikir, lebih baik bikin sekuelnya daripada panjang dan tambah melenceng.... hoho...
Namie Amalia : ya~ saia kan hobi crackpair, tapi crackpair yang ngepas dan cocok gituu... hehe~
Mayonakano Shadow Girl : he, udah keliatan kan? nyonyo~
ichirukiluna gituloh : weh, biasa review duluan baru baca ya? hoho, gapapa, gapapa... gimana?
Ruki_ya : nah, udah kejawab kan? ^^a
Sora Chand : yo, terima kasih, ini udah kuapdet~
Lauren-chan d-animefreak : nah, syukur deh kalo udah kerasa. Ya, ini, apdetnyaa~!
CursedCrystal :haha, saia emang hobi nyelip-nyelipin pair lain.. xDD
BlackWhite Feathers : yaa~ ini lanjutannyaaa~
Yumemiru Reirin : Seperti yang saia bilang, saia pehobi nyelipin pair! khukhukhu... *gaje*
ichironami : gapapa, gapapa... semoga kau juga tertular pair ini.. amin!! *lah?* -dicekik massa-
Oke, selesai. Terima kasih~
.
.
r-e-v-i-e-w-?
