I Always Be With You

Disclaimer : of course Masashi Kishimoto.

Pair : SasuNaru

Rated : T

Genre : romantic maybe?

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ!Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC, gaje, berantakan, amburadul, dll, dkk, dst.

Author Notes : Karena keteledoran a.k.a kecerobohan saya, ini menjadi fic twoshot. Padahal niatnya sih oneshot. Maaf, maaf.. Tapi fic ini dilanjutkan bukan dengan terpaksa, karena saya memang ada ide untuk chapter kedua ini. Saya akan ulang warning di atas ya, biar ga ada reader yang 'nyasar' : DON'T LIKE DON'T READ.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

Lelaki dengan rambut keperakan itu terus memperhatikan cucunya yang sibuk memindahkan barang-barang dari mobil pick up yang terparkir di depan rumah sederhananya. Setelah acara 'angkut-mengangkut' itu selesai, Naruto, cucu dari lelaki itu, duduk diatas tatami di ruang tamu yang juga merangkap ruang keluarga.

"Kau yakin ingin tinggal di gubukku ini, Naruto?" tanya Jiraiya, ojiisan-nya.

"Ya. Gubuk ini jauh lebih 'hangat' dari rumahku," jawab Naruto sembari tersenyum manis, membuat kakeknya ikut tersenyum.

Jiraiya cukup terkejut ketika minggu lalu Naruto datang mengujunginya dan meminta izin untuk ikut tinggal di kediamannya yang mungil ini. Dia sudah mendengar kabar kalau orang tua Naruto sudah setuju untuk bercerai. Walaupun samar, Jiraiya dapat melihat guncangan mental yang dialami 'rubah' kecilnya.

"Kau mau langsung membereskan kamarmu?" tanya Jiraiya sembari bangun dari duduknya.

"Nanti saja. Sasuke akan kemari sepulang sekolah dan membantuku. Aku tidak sanggup kalau harus membereskannya sendiri~ "

Jiraiya tersenyum geli melihat Naruto yang sudah kelelahan dan berbaring di atas tatami. Dia lalu melangkah menuju dapur dan mempersiapkan makan siang. Sejak istrinya meninggal, Jiraiya tinggal dan mengurusi dirinya sendiri. Sejujurnya dia amat senang ketika Naruto mengutarakan keinginannya untuk tinggal bersama kakek tersayangnya.

"Hubunganmu dan pemuda Uchiha itu baik-baik saja, Naruto?" tanya Jiraiya dari dapur yang jaraknya tak begitu jauh dari ruang keluarga dimana Naruto berada.

"Ya~ Masih tetap seperti dulu."

"Kalian ini. Apa tidak bisa menghentikan pertengkaran kekanakan macam itu?" Jiraiya menggelengkan kepala.

"Maaf, ojiisan, itu sudah jadi ciri khas kami," Naruto menunjukkan cengiran lebarnya.

"Terserah kalian saja. Aku memang tak mengerti jalan pikiran anak muda jaman sekarang," Jiraiya menghela nafas pasrah.

Naruto tertawa mendengar komentar ojiisan-nya. Lelaki pirang itu sempat ragu ketika hendak memperkenalkan Sasuke kepada ojiisan-nya itu, namun ternyata Jiraiya tidak mempermasalahkan ke'khusus'an hubungannya dan Sasuke, walaupun Jiraiya sempat berkata kalau Naruto harus berhati-hati dengan Sasuke. Ojiisan yang over protective nampaknya.

.

"Kau memang baik, Teme," ucap Naruto setelah menghabiskan ramen yang dibawakan Sasuke.

"Hn. Tadi kebetulan aku ingat kalau di daerah ini tidak ada kedai ramen, jadi aku mampir sebentar ke Ichiraku," Sasuke duduk di atas tempat tidur Naruto yang sudah rapi.

Mereka baru saja menyelesaikan tugas membereskan dan menata kamar tidur Naruto yang baru. Sasuke memperhatikan Naruto yang tengah meneguk jus jeruknya.

"Kenapa, Teme? Kau mau?" Naruto menyodorkan gelas di tangannya.

"Tidak."

"Lalu?"

Sasuke terdiam beberapa saat, sementara Naruto kembali menengguk isi gelasnya yang tinggal separuh. Setelah Namikaze dihadapannya menghabiskan isi gelasnya, barulah Sasuke berkata.

"Apa kau tidak mau pergi ke pengadilan? Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum persidangan dimulai."

"Tidak perlu. Lagipula untuk apa aku kesana? Kehadiranku disana tidak akan merubah apapun, 'Suke," balas Naruto sembari tersenyum pahit.

"Setidaknya kau mencoba untuk mempertahankan apa yang menurutmu berharga, Naruto."

"Kalian yang aku miliki sekaranglah yang berharga. Saat ini aku hanya ingin berada diantara orang-orang yang menyayangiku. Itu sudah lebih dari cukup," ucap Naruto sembari menatap mata onyx kekasihnya.

Sasuke tersenyum tipis dan menggenggam tangan tan Naruto, mencoba mengalirkan ketegaran dan kekuatan yang dia miliki untuk orang yang dicintainya itu.

# # #

Lelaki itu meremas rambut pirangnya dan sedikit menjambaknya karena frustasi.

"Sialaaann!" teriaknya di atap sekolah.

Naruto tak perlu khawatir, karena dia yakin kalau semua murid dan staf pengajar sudah pulang sejak tiga jam yang lalu. Matahari mulai tenggelam dan menyisakan sedikit cahaya oranye indah di langit yang berubah gelap.

"Kukira semuanya sudah selelsai, tapi ternyata.. Mereka itu apa-apaan sih? Untuk apa memperebutkanku di pengadilan segala? Aaaargh!" raungnya putus asa.

Siang tadi, masing-masing pengacara dari orang tuanya menelpon dan meminta kesediaan Naruto untuk datang ke pengadilan dalam rangka perebutan hak asuh. Naruto sungguh tak mengerti maksud kedua orang tuanya melakukan tindakan untuk memperebutkannya seperti itu. Apa mereka pikir dia adalah anak TK yang tak bisa menentukan pilihannya?

"Damn it!" rutuknya.

"Seorang siswa sepertimu tak pantas mengucapkan kata-kata semacam itu, Naruto," ucap seseorang diambang pintu.

Naruto segera mengarahkan pandangannya ke sumber suara dan mendapati seorang pria paruh baya dengan lengan kemeja yang dilipat sesiku. Perlahan lelaki itu, Umino Iruka, berjalan mendekati muridnya yang duduk di lantai atap.

"Apa yang kau lakukan disini? Hari mulai petang," ucapnya.

"Hanya mengeluarkan semua kekesalan yang mulai menumpuk dan mengotori pikiranku. Sensei sendiri?" Naruto balik bertanya.

"Aku hanya sedang memeriksa ruangan, memastikan kalau tak ada lagi siswa yang masih di gedung ini. Tapi ternyata aku menemukanmu."

Naruto mengarahkan pandangannya ke langit yang mulai gelap. Udara pun mulai berubah dingin karena malam mulai menjelang. Iruka menatap muridnya itu dan tersenyum getir. Dia sudah mendengar kabar tentang perceraian orang tua Naruto. Kabar itu bahkan menjadi gosip dan desas-desus heboh di sekolah ini, mengingat keluarga Namikaze adalah keluarga yang terpandang. Sebenarnya sejak Naruto bercerita padanya tentang hubungan kekeluargaan yang mulai renggang di kediaman Namikaze, Iruka sudah dapat merasakan kekacauan di dalam hati Namikaze muda itu.

"Sebaiknya kau cepat turun dan pulang, sebelum Jiraiya-sama datang kemari dan menyeretmu," ucap Iruka.

.

"Aku akan maju, ojiisan.." ucap Naruto ketika mereka baru saja selesai makan malam.

"Apa kau yakin dengan keputusanmu? Akan lebih baik jika kau tinggal dengan salah satu dari orang tuamu, Naruto," balas Jiraiya.

"Aku tak bisa memilih salah satu diantara mereka, ojiisan. Mungkin dengan jalan yang aku pilih ini, aku bisa menjadi sedikit lebih dewasa dan bertanggung jawab. Aku tak mau bergantung pada orang lain lagi.. aku lelah dikecewakan.."

Jiraiya menepuk pelan kepala cucunya dengan sayang. Sedih rasanya melihat cucu kesayangannya tertekan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah jalan yang harus dilalui Naruto.

"Lukukan apa yang menurutmu baik," tutur Jiraiya.

Setelah percakapan singkat mereka selelsai, Naruto beranjak menuju kamarnya. Lelaki berkulit tan itu langsung menyambar handphone oranye-nya yang tergeletak di atas tempat tidur, kemudian menekan tombol speed dial.

Sembari menunggu teleponnya diangkat, Naruto merebahkan diri diatas tempat tidurnya dan menatap langit-langit kamar yang polos.

"Halo? Ada apa, Dobe?" tanya Sasuke diseberang sana.

"Aku mau minta bantuanmu, Teme," jawab Naruto.

"Bantuan?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Iya~ Besok kita bolos yuk," ajak Naruto.

"Bolos? Untuk apa?"

"Kau.. bisa menemaniku ke pengadilan? Besok aku harus menghadiri sidang perebutan hak asuh yang diajukan orang tuaku," Naruto berkata dengan suara agak bergetar.

Sasuke terdiam beberapa saat. Bukan masalah baginya untuk membolos besok, tapi apa tidak apa-apa Naruto datang ke pengadilan? Bukankah sebelumnya Naruto menolak keras undangan untuk datang ke persidangan?

"Kau mau menemaniku tidak, Teme? Kalau tidak, aku bisa pergi sendiri," tanya Naruto.

"Hn, aku temani. Kau pergi jam berapa?"

"Kita bertemu di stasiun jam 10.00. Sampai bertemu besok, Teme," Naruto memutuskan sambungan telepon.

# # #

Naruto menjabat tangan hakim, jaksa dan pengacara yang ada di persidangan. Dia segera melangkah keluar dari ruangan tanpa sedikitpun menatap wajah kedua orang tuanya.

"Terimakasih atas bantuannya, paman," ucap Naruto pada seorang lelaki paruh baya yang tadi membelanya di pengadilan.

"Ya, sama-sama. Kau hebat bisa mengambil keputusan tegas seperti itu. Jarang ada pemuda sepertimu," balas si lelaki sembari menepuk bahu Naruto. "Nah, tugasku sudah selesai, aku pergi dulu. Kalau kau perlu bantuan, jangan sungkan menghubungiku."

Naruto mengangguk dan tersenyum. Lelaki itu melangkah dan meninggalkan sang Namikaze. Sebuah tepukan pelan mendarat di bahu Naruto, membuat si pemilik mata biru itu menoleh.

"Ada apa, 'Suke?" tanya Naruto.

"Apa tidak apa-apa kau mengambil keputusan itu?" Sasuke balik bertanya.

"Tidak apa-apa, percayalah padaku," Naruto tersenyum tulus.

Mereka hendak melangkah meninggalkan gedung pengadilan, namun ditahan oleh kedua orang tua Naruto, Uzumaki Kushina dan Namikaze Minato.

"Kau yakin dengan keputusanmu, Naruto?" tanya Minato.

"Ya, tousan. Aku merasa lebih baik tinggal bersama ojiisan. Aku tak bisa memilih salah satu diantara kalian," jawab Naruto yakin.

"Tapi kenapa kau juga menolak harta yang sudah menjadi hak-mu, nak?" kini Kushina yang bertanya.

"Aku tak membutuhkannya, kaasan.." Naruto menatap kedua orang tuanya secara bergantian, kemudian tersenyum lembut, "aku tidak membutuhkan uang itu. Aku hanya ingin kita tetap saling berhubungan, walaupun kaasan dan tousan tak lagi hidup bersama. Aku tetap anak kalian kan?" tanya Naruto kemudian.

Kushina memeluk putra semata wayangnya dengan erat, sementara Minato menepuk-nepuk kepala anaknya.

"Kau ini bicara apa? Kau tetap anakku," bisik Kushina.

"Kau tetap Namikaze dan Uzumaki, Naruto. Kami akan selalu bersedia menerimamu," tambah Minato.

Naruto membalas pelukan kaasan-nya dan menatap mata biru tousan-nya. Sedikit banyak dia bersyukur karena kedua orang tuanya bisa menerima keputusannya untuk tinggal bersama Jiraiya dan menghibahkan seluruh uang yang dia dapatkan dari perceraian orang tuanya ke yayasan-yayasan amal.

.

Naruto merebahkan diri diatas rumput yang hijau sambil menikmati langit yang bertaburan bintang. Sayang bulan tak muncul hari ini, padahal dia sangat ingin melihatnya.

"Apa kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu itu, Dobe?"

"Tidak akan, Teme. Aku sudah memikirkannya baik-baik."

"Apa tidak terlalu berlebihan? Kau sampai menolak uang yang sudah mereka siapkan untuk semua keperluanmu. Lalu bagaimana dengan biaya hidup dan biaya sekolahmu nanti?"

Naruto menatap Sasuke dari sudut matanya. Walaupun samar, dia bisa melihat kekhawatiran dari pemilik mata onyx itu.

"Aku akan mulai bekerja sambilan di Ichiraku. Aku sudah diterima untuk bekerja disana mulai minggu depan," tutur Naruto.

"Kau bekerja? Di Ichiraku?" Sasuke membulatkan mata tak percaya.

"Aku kan harus menghidupi diriku sendiri. Aku tak mungkin membebani ojiisan. Bisa tinggal bersamanya saja sudah beruntung."

Sasuke mengikuti arah pandangan Naruto ke langit yang cukup gelap. Dia lalu menghela nafas panjang. Naruto tak mungkin merubah keputusannya, dia tahu itu. Maka, dia harus mulai membiasakan diri dengan kehidupan baru kekasihnya.

"Aku tak suka ini," desahnya.

"Apa?" tanya Naruto tak mengerti.

"Aku tak suka ini, Dobe. Pekerjaanmu itu akan mengurangi waktumu bersamaku tahu," dengus Sasuke kesal.

"Kau bisa ikut bekerja di Ichiraku kalau mau terus bersamaku, Teme," usul Naruto disertai cengiran.

"Tidak, terimakasih," tolak Sasuke.

"Oh, ayolah, 'Suke. Bekerja tidak seburuk itu kok," rajuk Naruto.

"Aku tidak mempermasalahkan pekerjaannya, Dobe. Tapi aku tak bisa membayangkan kalau fansgirl-ku mengerumuni Ichiraku seharian hanya karena aku bekerja disana."

Naruto melepaskan tawanya. Lucu juga kalau membayangkan Ichiraku yang penuh sesak hanya karena ulah fansgirl Sasuke yang berjibun itu. Naruto lalu meraih tangan Sasuke dan menggenggamnya erat. Sasuke membalas genggaman itu dan tersenyum tipis.

"Aku yakin kau akan baik-baik saja dengan hidup barumu nanti," ucap Sasuke.

"Aku akan selalu baik-baik saja selama aku berada di dekat orang-orang yang menyayangiku, khususnya kau, 'Suke.."

End

Author Notes : Maafkan saya~ Gara-gara setengah dari fic ini menghilang, saya jadi terpaksa membuat alur baru yang menyimpang dari alur yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk balasan review:

The dark blue : sejujuenya ini memang oneshot, tapi saya teledor, hehee.. Mereka udah jadian kok X3

cHizu drarryo : ma- maaf baru update. Ini juga nekad update, padahal lagi UAS,hehee.. Makasih review-nya..

niichan : hahh. Kau kan tahu sendiri, aku itu memang payah di bagian ending. Ck. Hei, cepat selesaikan semua urusanmu itu, awal bulan Juli kita mulai garap itu fic. Awas kalau lupa! *ngacungin golok*. Ah ya, buruan buat akun, supaya ga jadi anonymous reviewer lagi!

NhiaChayang : iya, saya author baru~ Salam kenal ya,, Humor? Euh, itu bukan bidang saya, tapi kapan-kapan saya coba deh. Thanks for review..

Yufa Ichibi's : typo memang sudah menjadi bagian fic saya, senpai *plak*. Iya~ semoga ide saya untuk pair ini selalu ada,,

UchihaUzumaki SasuNarusafira : thank you..