A/N : Chapter 1 update! Akhirnya… ga nyangka juga bisa buat. Semua ini berkat beta readerku yang terbaik, tersayang, tercantik, ter… apa ya? Udahlah! Nah, disini Naruto memulai petualangannya. Ah! Aku juga mengucapkan beribu-ribu terima kasih pada yang telah berbaik hati untuk mereview. Kata-kata kalian akan selalu terkenang dalam jiwaku (lebay, cuy).

Disclaimer : Naruto belongs to Sasuke –digeplak- maksudnya Masashi Kishimoto-sensei yang terhormat –tunduk-

Main Pairing : SasukexNaruto

Rated : still T

Genre : Drama/Supernatural/Romance/Sci-fi/Thriller in later chapter/Mystery

WARNING : Shonen-ai/YAOI, OOC, and AU.

...

Summary :

Ia berkata, bahwa semua jalan yang kupilih akan berakhir pada kehancuran… namun jika jalan yang kupilih adalah tak pantang menyerah, hal apa yang 'kan terjadi padaku?

...

BLACK SQUADRON

Chapter 1 : The Beginning of Everything

Naruto duduk di ranjangnya yang keras dengan kedua kaki yang terlipat ke belakang. Jendela kamarnya yang terus mengalirkan angin dingin musim gugur dibiarkan terbuka—menerpa tirai warna jeruk yang menutupi setengah jendelanya, juga menyapu wajah Naruto yang sedang memejamkan kedua matanya. Dalam keheningan yang tercipta ketika hari beranjak mendekati tengah malam, dan kamar yang lampunya telah diredupkan, kemudian cahaya remang-remang yang samar-samar memasuki kamarnya dari luar sana—membuat wajahnya yang sedang berkonsentrasi pada sesuatu terlihat. Tajam, dengan dahi yang berkerut dan ujung alis yang naik.

Ia akhirnya mendesah. Menghembuskan udara penuh kegalauan dari paru-parunya. Kemudian, masih dalam konsentrasinya yang begitu intens, ia berkata dengan suara berbisik:

"Shion, aku memanggilmu…"

Tak beberapa lama, di hadapannya muncul cahaya keunguan dengan pendar kemerahan. Kilaunya bagai bintang yang berkelap-kelip kala awan tak menyelimuti langit malam. Namun, bola cahaya itu tak sekedar adanya, melainkan bertambah dengan kabut keemasan yang berputar-putar mengelilinginya. Sejenak kemudian, kabut keemasan itu tampak menyatu dengan inti dari cahaya ungu kemerahan tadi—memadat, dan menjadikannya tampak solid. Bola cahaya yang bersatu itu kemudian runtuh dan menjadi bagai serbuk debu yang berkilau. Hanya saja alih-alih menjadi kotoran dan sampah, serbuk itu perlahan menunjukan sebuah sosok manusia. Sesosok gadis dengan rambut pirang panjang dan berbalut baju miko. Kedua matanya terpejam—seperti Naruto, hanya saja ia duduk dengan kedua kaki yang menyilang santai.

Gadis itu akhirnya menunjukan warna kedua bola matanya yang merah jambu keunguan—yang sampai tadi masih tertutup oleh kelopak matanya. Gadis bernama Shion itu.

"Naruto," panggil Shion dengan ekspresi keras yang terhias di wajahnya.

Mendengar panggilan Shion, Naruto membuka kedua matanya perlahan. Matanya yang sejernih air sungai dan seindah langit di musim panas tampak penuh dengan berbagai perasaan, ia memandang lurus kearahnya. Kemudian, meski hanya dari pandangan mata Naruto terhadapnya, Shion bisa dengan baik menangkap maksud Naruto, juga segala hal yang sedang dipikirkannya saat ini.

"Shion, aku…" mulai Naruto berbisik, nyaris tanpa suara. Tetapi, nada khawatir dalam suaranya tak bisa disembunyikannya, melainkan tersurat tanpa cela.

"Aku tahu."

"Kenapa kau…"

"Kau tak perlu menanyakan hal itu," sergah Shion tak sabar. "Lagipula ini di mana?" tanyanya ketika menyadari ada banyak perbedaan yang jelas terlihat dari saat terakhirnya dipanggil dulu.

Naruto menghela nafas panjang, mencoba menahan diri dengan baik. Kemudian ia berkata,

"Central Area, distrik Hinagiku."

"Auranya buruk." Komentarnya langsung.

"Bukannya tak ada yang baik bagimu?" Tanya Naruto yang sudah terbiasa dengan komentar Shion barusan. Dari nada suara yang diucapkannya, bisa dipastikan ia muak mendengarnya.

Shion mendengus kesal.

"Memang! Tak ada nada yang baik bagiku, selamanya. Tapi seharusnya kaulah yang paling tahu mengenai tempat ini. Kota ini terlalu buruk." Jawab Shion dengan suara keras. Membuat Naruto terlonjak. Ia segera menempelkan telunjuk kanannya ke bibirnya sendiri, mencoba untuk member isyarat pada Shion agar tak mengeluarkan suara terlalu keras. Karena tentu saja Naruto tak ingin mengganggu tidur Nee-channya. Apalagi dianggap gila oleh tetangganya karena teriak-teriak sendiri malam hari.

Sejenak gadis itu menatap Naruto, kemudian mengangguk sekali tanda mengerti.

"Lalu, apa yang kau inginkan?" Tanya Shion langsung. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya dengan Naruto. Dan keinginannya itu membuat kelegaan merasuki hati Naruto.

"Bisakah kau katakan padaku mengenai apa yang 'kan terjadi di sini?"

Shion jelas mengerti maksud di balik kata-kata Naruto yang baru saja diucapkannya, dan pengertian itu membuatnya kesal sehingga berdecak.

"Baiklah." Kata Shion setelah sebelumnya kembali menutup kedua kelopak matanya. Kini, giliran Shion yang berkonsentrasi pada sesuatu—pada objek yang tak mungkin tersentuh oleh ilmu pengetahuan dari zaman manapun, sebuah untaian peristiwa dari rangkaian takdir yang tak jelas pasti atau tidaknya, yaitu masa depan.

Dahinya kemudian berkerut, mencoba melihat melampaui kemampuan yang bisa didapat manusia.

Setelah waktu yang dihabiskannya untuk melihat berakhir, Shion membuka kedua matanya. Dan apa yang dibawanya kini dari pengelihatan yang dimilikinya, akan menentukan langkah yang diambil Naruto pada akhirnya. Menyerah kalah kemudian lari, atau berjalan menyongsong masalah serta bahaya dengan kemungkinan terburuk baginya adalah mati.

Shion mendesah ketika matanya bertemu lagi dengan Naruto. Ia pun memulainya,

"Sulit… biasanya aku akan memberikan pilihan untuk lari padamu. Tapi dalam bayangan yang kulihat, kau akan merasa tersiksa karenanya. Apapun yang kau pilih pada akhirnya akan kembali pada akhir yang tak sesuai dengan harapanmu. Lagipula…" Shion tak melanjutkan kata-katanya, membuat bingung Naruto dengan kalimat yang menggantung seperti itu.

"Lagipula?" Tanya Naruto akhirnya ketika keheningan yang terjadi lama tak menunjukan tanda-tanda akan berakhir.

Mendengar pertanyaan Naruto, Shion bergumam tak jelas pada dirinya sendiri. Setengah mengabaikan Naruto. Tapi toh ia tak bisa selamanya seperti itu. Selain karena apa yang dilihatnya adalah keinginan Naruto untuk mengetahuinya, ia tak bisa terus berada dalam sosok nyatanya. Akhirnya Shion mengambil keputusan untuk menatap mata Naruto—melihat seberapa besar kesungguhan yang tersirat disana. Dan memutuskan akan diberitahukannya atau tidak setelah nantinya ia mendapat kepastian emosi yang memenuhi hati Naruto.

Mereka berdua pun saling menatap. Dalam keheningan yang menyesakkan dada—berusaha mencari emosi yang disembunyikan di balik masing-masing sososknya. Namun, baik Naruto maupun Shion sendiri, tak ada seorang pun dari mereka yang berhasil menyingkap memori serta keinginan yang terpendam hanya dari matanya saja. Yang berhasil mereka tangkap adalah keteguhan dari mata Naruto dan keragu-raguan dari mata Shion—tak lebih dari perasaan yang mendominasi sosok mereka.

Shion merasa kalah, jadi ia mendesah.

"Lagipula… pilihanmu akan menjadi tempat bergantung orang-orang di sekitarmu, juga dunia yang selama ini menopangmu."

Mendengar rangkaian kata yang tak bisa dipercaya Naruto dari Shion, membuatnya mengungkapkan perasaan tak mengerti dengan alis kirinya yang naik ke atas.

"Baka—maksudku ya, pilihanmu bisa menghancurkan atau menyelamatkan dunia!" seru Shion tertahan. Naruto benar-benar membuat gadis itu hilang kendali.

"Itu 'kan tak mungkin!" argumen Naruto menepis langsung kata-kata Shion yang lebih sederhana.

"Aku mengatakan apa yang kulihat!" kata Shion tak mau kalah. Ia benci mengakui orang lain. Meski di sudut hatinya ia berpendapat, tentang kemungkinan yang mendekat nol persen untuk Naruto mengalami apa yang dilihatnya.

"Cih!" decak Naruto mengalah. Baginya, berdebat dengan seorang wanita adalah hal terburuk—ia tak pernah punya kesempatan untuk menang selama lima belas tahun hidupnya menjadi adik Konan.

"Lalu, satu lagi."

Kata-kata Shion barusan membuatnya tersadar dari lamunan akan semua kenangannya yang selalu menghalah ketika Konan menang dalam adu opini dan berargumentasi.

"Apa?"

Shion menunggu sejenak. "Kota ini hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur. Lebih baik kau pikir saja alasan kenapa itu terjadi. Terlebih semua itu berkaitan dengan pilihanmu nantinya." Ujarnya setengah tak peduli.

"Tunggu, kau tak memberitahuku?" Tanya Naruto gusar.

"Tidak. Karena ini masalah hati. Makanya menyerah saja!" tawar Shion pada Naruto. Ia berpendapat bahwa menyerah adalah pilihan tepat.

"Masa depan bisa diubah 'kan?"

"Iya tapi kau…"

"Kalau begitu, akan kucoba." Potong Naruto dengan mata yang penuh tekad. Rambut pirang pendeknya yang berantakan kembali dipermainkan angin yang masuk melalui jendela.

"Terserah kau lah!" kata Shion penuh emosi. Ia sungguh tak ingin Naruto menantang kematian, tapi ia berharap pada orang yang salah. Sosoknya kemudian kembali menjadi kabut dan debu, serta inti cahaya ungu kemerahan sebelum akhirnya menghilang. Menyisakan Naruto yang hanya bisa menebak-nebak masa depannya—dan Konan dengan rambut tergerai dan menggunakan piama ungunya yang masih bersandar pada pintu kamar Naruto. Sedari tadi ia telah terbangun dan menguping pembicaraan adiknya. Setelah semuanya selesai, seulas senyum terlihat di wajahnya.

"Setidaknya kau mau berusaha, Naruto. Tetapi alangkah baiknya jika kau tak terlalu memaksakan diri. Aku tak ingin kehilangan hal yang berharga lagi." Bisiknya pada diri sendiri dengan wajah yang teduh dan hangat. Ia pun beranjak kembali ke kamarnya seiring dengan suara Naruto yang menyerah dan memutuskan untuk tidur.


"Naruto!" seru Konan dari beranda apartemennya yang sekaligus berfungsi sebagai tempat untuk menjemur pakaian. Ia pikir cuacanya tak terlalu buruk—karena tak hujan, meski langit tetap kalabu. Dan saat ini pakaiannya sudah kering.

"Ya?" balas Naruto sambil menutup buku yang sadang dibacanya di kamarnya yang berbalut nuansa jeruk. Dilemparnya buku itu ke meja belajar yang terletak di samping tempat tidur yang bersebelahan langsung dengan dinding yang berjendela. Lemari berada di sisi yang berbeda dengan tempat tidur dan meja belajarnya, tetapi saling berhadapan. Di dekat pintu kamarnya berjajar rak penuh buku dan di lantai kamarnya masih berserakan kardus yang berisi barang-barangnya yang belum dibereskan.

Naruto menghela nafas panjang. Ia segera keluar dan menutup pintu kamarnya sembarangan. Melewati ruang keluarga dan ruang tamu, kemudian sampailah dia di beranda—yang penuh dengan cucian kering. Konan baru saja akan mengangkatnya.

"Ada apa?" Tanya Naruto tak sabar.

Konan mendengar suara Naruto yang secara tak langsung memintanya untuk cepat mengatakan maksudnya. Membuatnya tersenyum lembut seperti seorang ibu yang sedang menghadapi anaknya.

"Pergilah ke supermarket—aku baru sadar kita tak punya persediaan bahan makanan untuk waktu seminggu dari hari ini. Bisakah kau membelikannya?" pinta Konan dengan suaranya yang lembut dan tenang.

"Baiklah." Jawab Naruto sembari memutar bola matanya.

"Uangnya ada di dompet kulit di kulkas. Daftarnya selalu sama—sudah kutulis di sana jika kau tak ingat." Tambahnya diakhiri senyuman singkat.

"Ok!"

Naruto segera bergegas ke dapur dan mengambil dompet. Sementara Konan melanjutkan pekerjaannya yang sedikit tertunda.

Kenapa Nee-chan menyimpan dompet di kulkas? Pikir Naruto sambil memegang dompet kulit hitam milik Nee-channya yang dingin.

Ia ingin segera pergi ke supermarket—namun melihat dirinya di dalam cermin yang hanya menggunakan kaus orange sederhana dan celana pendek warna coklat mengurungkan niatnya. Ia pun kembali ke kamarnya—mengambil sepotong sweater warna putih bertudung dan mengenakannya kemudian mengganti celana pendeknya dengan jins warna biru kusam. Ia melakukannya sambil bertanya pada dirinya sendiri mengenai alasan kenapa Nee-channya menyimpan dompet di kulkas. Tetapi ia tak menemukan jawabannya melainkan menemukan berbagai pertanyaan baru yang sejenis.

"Aku pergi dulu Nee-chan!" seru Naruto setelah berada di depan pintu apartemennya.

"Ya!" balas Konan yang sekarang sedang menyibukan diri untuk menyetrika pakaian yang sudah kering.


Konan membuka pintu kamar apartemennya—keluar, kemudian menutupnya kembali. Ia berjalan di sepanjang koridor lantai empat belas yang ditempatinya, hanya iseng-iseng saja kelihatannya. Lagipula tak ada lagi hal yang bisa dilakukannya selain menunggu otouto-nya itu kembali. Kemudian ketika ia melihat jam tangan yang dikenakannya di tangan kanan, ia mendengar seseorang menyapanya. Seorang wanita dengan rambut hitam panjang yang diikat kebelakang. Ia memakai baju terusan warna hitam di balik apronnya yang putih.

"Konnichiwa, Konan-chan!" sapanya diakhiri senyuman hangat. Membuat Konan membalasnya dengan tersenyum hangat dan ramah.

"Konnichiwa, Nara-san!" sapa Konan balik. Ia sedikit terkejut karena tak biasanya ia disapa. Tetapi, karena memang sudah memperkenalkan diri sejak hari pertama kepindahannya ke apartemen ini, dia bisa mengingatnya dengan baik nama-nama tetangganya.

"Ngomong-ngomong apa Naruto-chan sudah pulang? Tadi kulihat dia pergi keluar." Tanyanya sambil menatap langit-langit koridor.

"Belum, tapi kenapa?" Tanya Konan bingung.

"Ah! Tidak apa-apa hanya saja, aku khawatir padanya." Jawabnya masih memandang langit-langit.

"Kenapa?" Tanya Konan lagi.

"Ng… sebenarnya aku ingin bilang padamu sejak kemarin, tapi selalu ada kendala. Begini, di Central Area ini, distrik Hinagiku adalah pusatnya—tetapi bukan pemerintahan, melainkan pusat segala jenis tindakan kriminal. Banyak kelompok yang dibentuk dengan maksud jahat. Beberapa di antaranya bahkan merupakan Noryokusha." Ujarnya menjelaskan. Dahinya berkerut khawatir.

"Ah!"

"Aku takut terjadi seuatu pada Naruto, aku bermaksud memperingatkannya. Lagipula tempat ini berbahaya bagi anak sepertinya."

Konan membeku di tempatnya, terpaku pada apa yang didengarnya. Berbahaya bagi Naruto… kata-kata itu terus berulang dalam benaknya. Membuatnya menyalahkan diri sendiri bahkan mengutuk dirinya karena kelalaian yang bukan salahnya. Ia menyesal tak mencari tahu lebih banyak mengenai Central Area ini. Dan penyesalannya meciptakan genangan air di pelupuk matanya yang kemudian jatuh membasahi pipinya. Lalu angin yang berhembus suram membuat bunga mawar putih yang terhias dirambutnya terjatuh.


Seorang lelaki berambut pirang panjang menatap langit senja yang warnanya merah bagaikan darah. Senyumnya mengembang tanpa disadarinya, membuatnya tampak seperti putri dalam dongeng yang terpukau pada keindahan alam yang luar biasa. Tetapi senyumnya berubah menjadi seringaian tajam mengerikan—kelihatannya ia tak merasa bahwa senja itu indah. Yang dibayangkannya adalah adanya tempat yang berlumuran darah seperti senja yang dilihatnya.

"Kau mengerikan Deidara." Ungkap seseorang di belakangnya yang sedari tadi memperhatikan lelaki bernama Deidara itu.

"Ap—!" serunya marah. Matanya membulat ketika mengetahui siapa yang sedari tadi ada di belakangnya. Dan pipinya merona malu karena sedari tadi ia diamati oleh seseorang, tapi ia sendiri tak menyadarinya. Apalagi ketika ia tahu bahwa orang yang melihatnya adalah orang yang paling dicintainya.

"Itachi…" kata Deidara tertunduk. Ia tak tahu harus bagaimana menunjukan reaksinya yang baginya memalukan.

Itachi tersenyum lembut melihat reaksi Deidara yang menurutnya justru manis. Matanya yang hitam pekat memantulkan bayangan Deidara yang masih tertunduk. Dan rambutnya yang sama hitamnya seperti matanya diterpa oleh angin yang menyelinap melalui celah-celah ventilasi. Ia pun beranjak mendekati Deidara dan menempatkan kedua tangannya di pinggang rampingnya. Itachi menekan lembut wajah Deidara ke dadanya yang memberikan kenyamanan pada Deidara.

"Deidara…" bisik Itachi di telinga Deidara.

"Ah!" erang Deidara ketika kekasihnya itu menggigit telinganya. Tapi ia sama sekali tak merasa jengah, justru kenikmatan yang mulai menyebar dan merasuki tubuhnya dan jantungnya mulai berdebar keras. "I… Itachi!" kata Deidara sembari mendorong tubuh Itachi menjauh. Ia sadar benar di mana tempatnya berada sekarang—dan tak ingin melanjutkannya lebih jauh.

"Kenapa?" Tanya Itachi protes.

"Bu… bukan saat yang tepat, un…" kata Deidara terputus-putus, nafasnya terengah-engah.

"Benar."

Seseorang berkata pada mereka berdua dengan tiba-tiba. Membuat Deidara terhenyak dan jantungnya berdebar lebih keras. Pipinya merona lebih merah dari sebelumnya karena ada yang melihatnya saat bermesraan—ia pun kembali tertunduk. Sementara itu Itachi menganggapnnya sebagai sebuah gangguan dan hendak menyuruh orang yang memergokinya pergi, sampai dia tahu siapa orang yang mengganggunya.

"Ada tugas, seorang pengawas melihat adannya kejahatan yang mungkin terjadi. Tapi tergantung korbannya juga." Katanya tenang. Tak merasa aneh melihat kedua sejoli itu saling memadu cinta. Lagipula dari wajahnya yang datar, ia terlihat seperti orang yang terbiasa melihatnya.

"Sasuke." Sapa Itachi kepada adiknya yang hampir-hampir mirip dengannya. Hanya lebih muda dengan aura yang sama sekali berbeda. Lebih tak bersahabat dan kasar.

"Apa anggota yang lain sudah siap, un?" Tanya Deidara diiringi nafas yang lega pada Sasuke—lega karena yang memergokinya adalah adik kekasihnya sendiri. Paling tidak itu masih lebih baik dari pada orang lainnya.

"Cuma tinggal kalian saja. Semua anggota Black Squadron yang lain sudah siap di distrik Hinagiku dekat Tenth Street." Jawab Sasuke cepat.

"Kalau begitu, sebaiknya kita cepat bergerak." Perintah Itachi pada mereka berdua.

To Be Continued...


A/N : Huaaah! Akhirnya bisa bernafas lega juga. Setelah akhirnya bisa menyelesaikan Chapter 1. Di sini tokoh utamanya ketemu aja belum… payahnya diriku. Tapi ga apa-apalah. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Dan apa yang ada di depan mata yang seharusnya diperhatikan. Ngomong-ngomong Shion itu mistis banget, ya? Aku sendiri juga ga tau sebenarnya dia itu apaan dihajar pake jampi-jampi ma Shion— Nah udah dulu sampai di sini, Ciao!

R

E

V

I

E

W