Author : Yei! Banzai! Akhirnya Chap 2 selesai juga! Ampe pegel-pegel en pinggang pada encokkan. Di sini akhirnya Sasu ketemu sama Naru! Heran deh, kenapa ga dari chap 1 aja? Jawabannya tentu karena aku ga bisa mikir gimana enaknya mereka ketemuan.

Sasuke : Bego loe! Terus kenapa Aniki gue ma banci kaleng –yang fansnya Deidara, sorry dori strawberry deh- itu yang muncul di akhir cerita Chap 1, hah? Pake mesra-mesraan lagi!

Author : Oh… itu namanya OPP. Other Pairing Promotion. Sejenis iklan gitu deh~!

Sasuke : Tapi, di sini gue bakalan ketemu Naruto 'kan?

Naruto : Iya! Masa dari kemaren gue ga ketemu ma Sasuke?

Author : Sekarang ketemu kok! Gue janji deh! Sumpah! Oh ya, kemaren ada yang nanya kalo kapan SasuNaru ketemuan, nah sekarang dah ketemu. Terus ga pernah bayangin Konan jadi kakaknya Naruto? Aku juga ga pernah. Baru akhir-akhir ini aja. Hehe… cuma Author yang maksa peran kakak diambil Konan. Terus banyak misterinya? Iya sih… soalnya bingung mau nulis apapan. Nah, terima kasih saya ucapkan pada Reviewer semua yang sudah memberi review dan meluangkan waktu untuk melakukannya. Pengorbanan itu selalu membuatku berbahagia. Dan juga untuk Beta Readerku yang sudah selalu meminjamkan laptopnya (ya ampun miskin amat) ia selalu sabar menungguku menyelesaikannya. Baiklah! Ayo kita mulai!

Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto-sensei

Rating : T to M (penekanan pada huruf T)

Genre : Action/Drama/SUPERNATURAL/Thriller/Sci-fi/Romance/Friendship/dan lain sebagainya.

WARNING : Shonen-Ai/Yaoi , AU, OOC, Ga jelas, sedikit mengungkap tentang cenayang.

Summary :

Apakah ini maksud kata-kata Shion? Akankah aku akan mati di sini? Ah… andai benar begitu, aku tak ingin Nee-chan menderita karenaku.


BLACK SQUADRON

Chapter 2 : The Night that Full Fear

Kegelapan menyelimuti kala rona di tepi cakrawala terhapus. Tergantikan oleh langit malam yang keindahannya tertutupi tirai awan kelabu—yang tanpa berbasa-basi turunkan bulir-bulir air ke atas bumi. Membasahi semua benda yang berdiri kokoh di wilayah bayangan awan hujan, juga manusia. Tetapi kebanyakan orang memilih berlindung di bawah bangunan beratap atau sesuatu yang bisa melindungi mereka dari air hasil kondensasi itu. Hanya beberapa orang yang memilih untuk tetap berdiri di bawah hujan, tanpa benar-benar memperdulikan pentingnya menjaga tubuh. Karena, mereka sendiri memiliki hal yang jauh lebih penting daripada sekedar bernafas tanpa sesak keesokan harinya.

"Shikamaru, kau tahu di mana Itachi-san dan Deidara-san?" Tanya seseorang berambut kecoklatan pendek yang agak berantakan dengan tato segitiga merah di kedua pipinya. Jubah hitamnya sudah basah oleh air hujan yang bukannya mereda justru bertambah deras. Ia bertanya pada seorang temannya sambil berdiri di tepian atap gedung, yang bisa dibilang sebagai base camp bagi dirinya dan teman-temannya.

"Mendokusei… tadi sudah kuminta Sasuke untuk mencari mereka berdua , karena aku yakin jika Itachi-san dan Deidara-san dibiarkan berdua saja, mereka takkan ikut misi kali ini." Ujar Shikamaru bosan. Jelas terdengar dari nada suaranya, bahwa ia tak bersemangat sama sekali. Kemudian dari langit yang gelap, ia melayangkan pandangan ke arah temannya dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. "Kiba, seandainya kita berdua yang menghilang, apakah mereka akan mengirimkan orang untuk mencari kita?" tanyanya pada temannya yang bernama Kiba sambil mengedikkan kepala ke arah anggota Black Squadron yang bergabung dalam kelompok besar yang sedang bercengkrama—atau bergosip.

Rona wajah Kiba tampak, sekalipun agak sulit terlihat karena gelap. Tetapi Kiba sendiri merasakan wajahnya mulai panas, bahkan tubuhnya. Dan jantungnya berdegup kencang seiring dengan disadarinya maksud Shikamaru. Lalu ia memalingkan wajahnya dari tatapan sahabatnya itu, yang sekarang sedang menunggu jawaban Kiba.

"Mana kutahu!" serunya dengan suara serak. Ia berusaha memusatkan pengelihatannya pada jalan yang sesak oleh kendaraan yang macet di bawah sana—mencoba mengabaikan keberadaan Shikamaru yang tertawa geli melihat reaksi Kiba. Tentu saja tak bisa, karena wajahnya semakin memerah setiap detiknya. Terlebih ketika dirasakannya jemari Shikamaru yang hangat di telapak tangannya.

Kiba langsung berpaling kembali, dan terkejut oleh tindakan tiba-tiba Shikamaru yang menggenggam tangannya.

"Aku tak ingin jika semua ini berakhir hanya dengan kata sahabat." Ucap Shikamaru tanpa memandang Kiba, ia hanya menatap kedua tangannya yang menggenggam erat tangan Kiba—mencari kehangatan yang sejak waktu ia sampai di atap gedung bertingkat dua puluh itu tak didapatnya.

Kiba berusaha untuk menarik tangannya, tapi dihalangi oleh eratnya genggaman Shikamaru padanya, juga tatapannya pada Kiba yang menanti jawabannya. Ia pun menelan ludah, rona wajahnya tak hanya menyebar di tulang pipinya, tetapi seluruh wajahnya hingga batas rambut. Ia juga sudah tak bisa mengandalikan debaran jantunganya yang sangat keras, juga cepat. Perutnya melilit saking gugupnya dan bibirnya bergetar karena tak tahu apa yang harus dikatakannhya. Tapi jauh di dalam hatinya, ia sungguh bahagia, dan kebahagiaannya itu terpancar dari kerlingan matanya pada Shikamaru.

"Shi… Shika, aku…"

"Kalian berdua, jangan mesra-mesraan gitu dong. Haaah… kalau begini caranya, cewek-cewek di dunia bakal tak punya suami. Padahal Itachi-san sudah begitu, masa kalian juga?" ujar seorang cewek berambut merah jambu pendek. Matanya hijau bak permata emerald. Dan ia mengenakan jubah hitam yang merupakan seragam khusus kelompok Black Squadron. Nada bicaranya merupakan campuran antara mengingatkan dan keluhan.

Shikamaru dan Kiba jelas terkejut. Mereka berdua saling melepaskan sentuhannya di masing-masing tangan. Dan juga, tak bisa Shikamaru pungkiri bahwa kekecewaan menyeruak dalam dadanya. Meski kelegaan juga menyertainya sedikit, karena ia tak harus mendengar jawaban Kiba saat itu juga—yang mungkin berupa penolakan.

"Sakura…" desah Kiba sembari berusaha menenangkan dirinya sendiri yang masih gugup.

"Bercanda, silahkan teruskan mesra-mesraannya. Tapi lebih baik kalian lupakan hal itu dulu, kata Neji, ia melihat anak yang saat ini terjebak dalam masalah masuk ke wilayah menara barat. Di sana 'kan ada labirinnya." Jelas Sakura sedikit khawatir. Ia pun beranjak kembali ke kelompok yang lebih besar lagi, tempat penyusunan strategi penyelamatan selama ketua dan wakilnya belum datang.

Shikamaru segera mengikuti Sakura, meninggalkan Kiba yang masih menepuk-nepuk dadanya yang sesak, karena jantungnya masih berdebar di luar kendali.

Kiba pun datang ke kelompok yang sedang asik beropini serta menyarankan strategi, setelah dirasakannya ia mulai bisa berpikir jernih. Ia berdiri agak jauh dari lingkaran yang berpusat pada orang bernama Neji dan Shikamaru. Ia sengaja berdiri jauh dari Shikamaru, hanya agar dadanya tak lagi bergemuruh ketika saling bertatapan.


"Aniki," kata Sasuke memanggil Aniki-nya yang berlari melompati pagar lebih di depannya. Sementara Deidara berada di belakang Sasuke.

"Apa?" Tanya Itachi melirik ke belakang, dan mendapati Otouto-nya berhenti tepat di atas pagar.

Melihat Otouto-nya berhenti, Itachi pun ikut berhenti. Ia kembali melompat dan berdiri di samping Sasuke. Dan Deidara yang jauh tertinggal juga ikut berhenti sejenak, lalu berjalan ke arah mereka.

"Kita sudah cukup terlambat, bagaimana kalau sekarang kita langsung ke tempat yang di awasi anggota lain? Nanti biar Shikamaru yang putuskan strategi pembagian kelompoknya." Saran Sasuke sembari melihat arlojinya.

"Kurasa itu ide yang bagus. Deidara!" kata Itachi diakhiri panggilannya terhadap Deidara. Membuat Deidara yang berjalan mendekati mereka dengan santai, beranjak menjadi lebih cepat.

"Ya?" tanyanya begitu sampai di sebelah Itachi.

"Tolong hubungi Neji, dan katakan di mana posisi anak yang mereka awasi."

"Ok."

Deidara segera meraih hand phone-nya dan mencari nomor telpon yang diperintahkan Itachi untuk dihubungi. Beberapa saat kemudian suara di seberang terdengar di telinganya, nadanya suaranya sedikit bercampur dengan kelegaan, juga deras hujan yang masih turun.

"Neji, kau tahu di mana posisi targetnya, un?" Tanya Deidara langsung.

"Tahu, tapi untuk apa?" kata Neji berbalik tanya. Ia membutuhkan banyak waktu untuk mencerna pertanyaan Deidara, karena hujan yang juga datang di tempat orang diseberang telponnya itu menghalangi pendengarannya.

"Kami akan ke sana langsung. Bisakah kau katakan pada Shikamaru untuk membagi kelompok? Lalu katakan di mana posisinya, un." Ujar Deidara sedikit memerintah. Lagipula, ia tak melakukan hal yang salah, karena toh wakil ketua Black Squadron adalah dirinya.

"Baik. Kami ada di atap gedung San Real. Sekitar satu kilo meter arah timur target. Sejak lima belas menit lalu, ia terjebak di labirin menara barat Central Area." Jelas Neji. "Sekarang kelihatannya sudah sampai ke menaranya. Wakil ketua, kami akan segera ke sana begitu rencana sudah diputuskan." Lanjutnya cepat.

"Ya, lakukan saja. Jika target mengalami masalah atau apapun yang membahayakan nyawanya dan semua itu dikarenakan orang-orang seperti kita, lakukan apa pun yang bisa menyelamatkan nyawanya meski kami belum sampai, un." Kata Deidara memutuskan. Telponnya segera diputus begitu terdengar olehnya gumaman menyetujui dari Neji.

"Menara Saint Elliot, ya?" Tanya Sasuke menyebutkan nama resmi menara yang dimaksud.

"Ya." Jawab Dedara singkat.

"Kita harus ke sana secepatnya. Kalau sudah masuk labirin, orangbiasa bisa tersesat." Ucap Itachi sambil lalu. Ia segera beranjak pergi dengan cepat dan diikuti oleh otouto-nya serta Deidara.


Naruto menatap sosok orang-orang yang tak dikenalnya dengan pandangan penuh kebencian. Lengan kirinya patah karena ditarik salah seorang diantaranya. Ia berlutut sembari mengerang kesakitan, tangannya masih ditarik hingga suara gemeretak tulang lengannya yang patah terdengar sangat keras. Sementara orang yang melakukannya tertawa begitu keras dengan suara yang nyaring dan melengking—yang juga diiringi dengan tawa kedua temannya yang terdengar ganjil dan mengerikan bagi telinga Naruto.

"Aniki, kita sudah mendapatkan mainan baru. Cewek itu mau diapakan?" Tanya salah seorang diantaranya sambil menunjuk kearah seorang gadis berambut hitam panjang yang tersungkur dengan dahi berdarah.

"Hm… benar juga. Kita sudah tak membutuhkannya." Kata orang yang merupakan aniki-nya. Rambutnya yang coklat jabrik agak panjang berbeda dengan kedua orang yang lainnya. Yang baru saja berbicara dengannya memiliki rambut pirang, dan yang menarik tangan Naruto memiliki warna rambut abu-abu gelap.

Ia berpikir sejenak, kemudian ia berseru pada kedua orang lainnya,

"Dibunuh saja, bagaimana?" sarannya gembira yang disambut dengan anggukan penuh semangat. Sementara Naruto yang mendengar, terhenyak tanpa berkata-kata. Ia memikirkan kata-kata pemimpin dari kelompok yang sekarang berencana menjadikannya maianan.

Kemudian, setelah Naruto berhasil mencerna apa yang akan dilakukan kedua orang selain orang yang menarik dan mengunci tangannya, ia berteriak.

"Hentikan!"

Mereka semua terdiam, sementara nafas Naruto mulai memburu. Ia jelas tak ingin melihat apa yang akan dilakukan kedua orang lainnyan itu. Ia juga sama sekali tak menginginkan cewek yang bahkan tak dikenalnya itu terbunuh tepat di depan matanya. Tapi salah satunya yang memiliki rambut pirang bergerak begitu cepat sehingga bagai kelebatan sesaat, ia sampai di sisi kanan Naruto dalam waktu kurang dari lima detik. Dan langsung menjambak rambut Naruto—bahkan sebelum Naruto menyadari kedatangannya.

"Lihatlah anak kecil!"serunya dengan suara keras di depan telinga Naruto.

Kemudian, dengan kedua matanya sendiri, Naruto melihat banyak pisau tiba-tiba muncul dan menghantam tubuh gadis tak berdaya itu, saat itu juga teriakan yang begitu keras keluar dari mulut gadis malang yang sekarang sudah tak bernyawa—teriakan yang lama sekaligus yang terakhir. Mencabik-cabik tubuhnya yang sudah terluka, mencipratkan begitu banyak darah ke orang yang terlihat senang melihat adegan itu, ketua mereka. Kelihatannya dialah orang yang mengendalikan puluhan pisau pendek itu, karena matanya begitu berkonsentrasi meski sambil tertawa. Pisau itu tak lantas berhenti setelah tubuh itu terluka sepenuhnya, karena sekarang benda-benda itu bertugas untuk memotong-motong tubuh gadis itu hingga tak berbentuk. Menciptakan lautan darah yang bersatu dengan air hujan yang turun dengan lebatnya.

Sementara tawa mereka mulai kembali nyaring, Naruto terpaku—melupakan rasa sakit yang dirasakannya di kedua tangannya, terutama tangan kirinya yang patah. Ia tak bisa melihat adegan itu lebih lama lagi, karena mentalnya tak sekuat itu. Lambungnya mendesaknya agar mengeluarkan apa yang dimakannya seharian ini begitu melihat darah yang tak terhingga banyaknya menyelimuti tubuh yang tak bisa di sebut lagi sebagai tubuh seorang manusia. Karena kepalanya tergeletak, tak menyatu lagi dengan lehernya. Sementara bagian tubuh yang lainnya terpotong-potong dalam bagian yang terlihat sama besar. Tapi Naruto tak diizinkan untuk menundukan wajah agar tak melihat—atau pun hanya untuk sekedar muntah. Akhirnya ia memilih untuk menutup kedua matanya, namun bayangan akan kejadian yang baru saja dilihatnya tak bisa terhapuskan dalam benaknya.

Lalu Naruto merasakan tarikan di tangannya mengendur, dan akhirnya terlepas. Membuatnya jatuh tersungkur karena tak ada tenaga yang mengalir ke tangan dan kakinya. Ia mencoba berspekulasi apakah pada akhirnya ia akan bernasib sama dengan gadis yang baru saja terbunuh itu. Dan semua prediksinya itu membuatnya memikirkan kembali kata-kata Shion semalam sebelumnya. Pikirannya kembali ke hari di mana dia mendapatkan ramalan tentang nasibnya. Duduk di atas ranjangnya dan dengan keras kepala memutuskan agar tetap berada di Central Area ini.

Apakah ini maksud kata-kata Shion? Akankah aku akan mati di sini? Ah… andai benar begitu, aku tak ingin Nee-chan menderita karenaku. Pikir Naruto setelah ingatan hari itu berakhir. Matanya yang setengah terbuka tergenang oleh air mata. Kemudian ia memejamkan kedua matanya, menanti hukuman atas kekeras kepalannya dengan ingatan yang dipenuhi oleh kenangannya bersama Nee-channya.

Tapi, entah mengapa rasa sakit yang harusnya diterimanya tak kunjung dirasakannya, yang ada justru teriakan dan ledakkan yang memekakan telinga. Jadi ia membuka matanya dan melihat dari sudut matanya.

Ia terkejut melihat sepasukan orang berjubah hitam bertarung dengan tiga orang yang sudah mencederainya, juga membunuh tanpa melihat sisi kemanusiaan yang tadi terpaksa dilihatnya. Gadis berambut merah jambu pendek meninju salah seorang dari mereka yang telah menjambak rambut Naruto dan membuatnya terpental jauh hingga ke sisi menara—bahkan membuat dindingnya retak melingkar. Pemimpin yang tadi mencabik-cabik tubuh gadis yang sekarang menjadi saksi bisu atas kebejatan mereka, terlihat kewalahan menghadapi seorang lelaki berambut pirang panjang yang entah bagaimana caranya membuat semua pisaunya meledak, mengeluarkan percikan api, asap dan suara yang menggelegar.

Naruto hanya terdiam menatap apa yang terjadi di hadapannya, ia ingin berteriak ketika salah satu dari tiga orang yang tadi menarik tangannya, kabur ke mulut labirin—berniat meninggalkan kedua saudaranya yang sedang bertarung. Tapi suaranya tak bisa dikeluarkannya, sebagai gantinya, ia meraih batu yang ada di dekatnya dan melemparnya kearah salah satu orang dari kelompok berjubah hitam yang bertarung. Naruto langsung bernafas lega begitu orang yang diinginkannya mengerti maksudnya beralih memandanganya. Ia pun mengedikkan kepala dan menunjuk ke arah orang yang berniat kabur.

Sejenak orang itu hanya memandang Naruto, meski mengetahui apa yang diinginkannya. Lalu ia berpaling dengan mata yang tajam berkonsentrasi.

Tiba-tiba, di sekitar penjahat berambut abu-abu itu muncul dinding api yang sangat tinggi, mengelilingi keseluruhan arena tempat bertempur, menghalangi siapapun untuk melarikan diri. Setelah itu, beberapa orang meringkusnya juga dua orang lainnya.

"Kau tak apa-apa?"

Naruto mendengar seseorang berucap padanya, ia mengadahkan kepalanya dan melihat salah seorang dari mereka—yang barusan dilempar batu olehnya. Orang itu tersenyum sekilas, kemudian kembali ke wajah datarnya. Sesaat kemudian, bayangan hitam menyamarkan pandangan Naruto, menariknya ke kedalaman kegelapan yang membenamkan kesadarannya. Kemudian ia tertidur dalam hiruk pikuk suara yang tak dikenalnya.


"Lukanya bisa disembuhkan, Hinata?" Tanya Itachi dengan nada suara khawatir, gadis bernama Hinata yang sekarang berada di samping Naruto hanya terpejam sejenak.

"Sepertinya, tulang lengan atas kirinya sudah menyatu, tapi…" jawabnya meragu. Ia memerhatikan lengan kiri Naruto yang masih diwarnai oleh lebam. Kemudian tangannya yang sedari tadi menyentuh hati-hati lengan Naruto mulai kembali mengeluarkan sinar biru kehijauan yang lembut. "Ah!" responnya ketika ia merasakan sesuatu yang di luar dugaannya.

"Ada apa?" Tanya Itachi kembali. Sekarang ia memerhatikan sosok Hinata yang dahinya berkerut.

Hinata terdiam, menatap langit kelabu yang tak lagi turunkan hujan. Ia memikirkan sesuatu sampai melupakan adanya pertanyaan yang diajukan padanya dan juga teman-temannya yang sekarang ikut mengerubungi tubuh Naruto. Mereka semua sekarang menatapnya, sedang Hinata sendiri tak menyadarinya. Ia terlalu terpaku pada apa yang baru saja dirasakannya, dan kelihatannya itu mempengaruhi pikirannya sekarang.

"Hinata!" seru Neji persis di dekat Hinata, menyadarkan gadis berambut indigo panjang itu akan kenyataan yang baru saja dilupakannya. Ia telah kembali dari mimpi yang baru saja merasukinya.

"Eh?"

"Kenapa kau ini? Lagipula bagaimana keadaan anak itu?" Tanya Neji menyuarakan kembali pertanyaan Itachi. Lelaki berambut coklat itu mencurigai ada sesuatu yang tak beres dari Hinata yang tiba-tiba terdiam dengan pandangan yang kosong tanpa arti.

"Mmm… Anak ini baik-baik saja. Tapi untuk ukuran patah tulang keluar yang dialaminya, ia sembuh lebih cepat dari orang normal lainnya." Ujarnya dengan wajah yang pucat. Kemudian ia melanjutkan, "Rasanya ia memiliki kemampuan regenerasi. Tapi jika seperti itu, pasti luka di pipinya sudah sembuh, ya?" lanjutnya diakhiri tawa yang aneh. Ia terlihat dibuat-buat ketika tawanya muncul. Dan ekspresi wajahnya yang terlihat berpikir serius ketika tawa kecilnya berakhir jelas membuat teman-temannya tak percaya.

"Ada apa sebenarnya?" Tanya Itachi lagi, mengulangi lagi kalimat yang tadi diucapkannya—yah, meski ditambah sedikit untuk memperjelas pertanyaannya, sekaligus menegaskan apa sebenarnya yang dimaksudkannya.

"Itu… anu…" —ia menyatukan kedua telunjuknya ketika ia mengatakannya— "Aku merasa kekuatanku terkuras…" katanya akhirnya dengan wajah menunduk, sedikit terkejut sekaligus tak mengerti apa yang baru saja dikatannya. Ia sendiri berharap bisa menggambarkannya lebih jelas, namun kata yang pertama dipikirkannya langsung disuarakannya begitu saja.

"Hah?" serempak semua orang meresponnya aneh. Mereka juga menatapnya bingung.


Naruto mengambang dalam lautan kegelapan yang begitu mempengaruhi pikirannya. Sesaat kemudian cahaya yang mulanya hanya setitik di dalam dunianya yang kosong bertambah menyilaukan, dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Rasa sakit yang membuatnya tertidur sejenak dalam pikiran bawah sadarnya perlahan menghilang, tergantikan oleh kehangatan yang berasal dari tangan kirinya. Ia mencoba membuka kedua matanya dan hanya kelebatan bayangan yang kabur yang dilihatnya. Kemudian ia juga sedikit mendengarkan suara-suara dari bayangan yang dilihatnya. Dan suara yang paling dekat dari telinganya menyadarkannya.

"Hei! Dia sudah sadar! Bagaimana keadaanmu?"

Naruto tak membalas tanya yang diutarakan orang yang tak dikenalnya. Ia hanya menatap mereka semua dengan tatapan mata yang sayu. Lalu memori-memori dari pengalaman yang baru saja dialaminya menderu bagai gelombang besar tanpa adanya sebuah penghalang, membuat kepalanya sakit luar biasa. Dan dari keseluruhan ingatan yang masuk ke kesadarannya, ia mengingat satu yang terburuk.

Ia lalu bangkit dari tidurnya dengan cepat, melupakan pening yang dirasakannya.

"Aw!" serunya ketika ia sudah sepenuhnya duduk. Kemudian ia menelungkupkan kepalanya kekedua tangannya yang bersiap memangkunya.

"Hei! Kau masih terluka tahu!" teriak salah satu diantara mereka yang paling dekat dengan dengannya.

Naruto tak menghiraukannya, ia justru menatap berkeliling—melampaui tubuh-tubuh yang berkeliling menghalanginya.

"Apa yang kau cari, sih?"

"Belanjaan yang tadi kubeli." Jawab Naruto tanpa sekalipun menatap penanyanya.


Sasuke mengantarkan Naruto tanpa pernah menatap sosok orang yang diantarnya. Matanya terus memandang ke depan, menuntun Naruto yang sama sekali tak mengerti wilayah Central Area yang sekarang menjadi rumahnya. Hati Sasuke dongkol dan dalam diam ia mengutuk Itachi, Aniki-nya itu. Tentu saja kerena pekerjaan tambahan yang mengharuskannya mengantarkan anak tak dikenalnya itu kembali ke rumahnya, ke tempat yang aman baginya. Ia sudah menolaknya mati-matian, tapi ia tak bisa melawan perintah dari ketua kelompok tempatnya bergabung itu. Terlebih elakannya itu justru akan membuatnya tak lagi dipandang seperti laki-laki yang cool oleh semua temannya.

"Hei, terima kasih, ya!" kata Naruto memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti mereka sejak memulai perjalanan bersama. Hati Sasuke mencelos dan berpaling menatapnya.

Kemudian, yang dilihat Sasuke adalah wajah Naruto yang lembut dengan senyuman indah bagai malaikat yang tersungging di bibirnya. Pemuda itu membuatnya terdiam tanpa kata. Dan cengiran manis yang terungkap dari wajah Naruto membuat hatinya tersentuh, dan jiwanya meraung—meminta lebih.

"Kenapa kau menatapku begitu?" Tanya naruto yang merasa tatapan Sasuke aneh. Ia memalingkan wajah karena merasa tak enak dipandangi seintens itu.

"Tidak." jawab Sasuke yang juga mengalihkan pandangannya. Mencoba menahan hasrat liar yang sekarang telah menguasai hati serta sebagian pikirannya.

"Oh ya, penjahat-penjahat itu kalian apakan?"

Sasuke diam sejenak. Ia mengingat-ingat kembali apa yang dilakukan kakaknya pada mereka. Kemudian ketika akan menerangkan apa yang terjadi sebenarnya, ia juga teringat ketika kekasih sesame jenis kakaknya—Deidara—mengatakan sesuatu seperti: "Jangan bicara macam-macam. Dia orang awam, Sasuke." Kata-kata yang membuat Sasuke mendengus kesal. Dan lagi yang paling membuatnya kesal adalah penggunaan namanya di akhir kalimat, yang membuat kata itu berkesan hanya untuk dirinya seorang.

"Entahlah. Aku bukan orang yang menangani mereka."

"Oh…" jawab Naruto sedikit kecewa. Namun kekecewaan itu hanya sedikit, karena keberadaan orang yang telah menyelamatkannya, membuatnya merasa aman. Meski bukan hanya Sasuke seorang yang menyelamatkannya. "Siapa namamu?" Tanya Naruto lagi, masih dengan wajah polos tanpa dosa yang sudah tentu membuat Sasuke yang melihatnya terkesima.

"Sasuke, kau?" jawabnya tanpa sekalipun berkedip ketika memandang Naruto yang sekarang tersenyum.

"Aku—" belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Sasuke telah mendorongnya ke tembok dinding sebuah kantor kecil yang berada dekat dengan apartemen tempat tinggal Naruto. "—Naruto."

Sasuke menghimpit tubuh Naruto ke dinding, memaksanya untuk menjatuhkan belanjaannya untuk yang kedua kalinya. Tangan kanan Sasuke mengalungi leher Naruto, sementara tangan kirinya memeluk pinggang Naruto dengan lembut. Dan sementara ia mendekatkan bibirnya di telinga Naruto, Naruto sendiri mencoba mendorong tubuh Sasuke agar menjauh dari tubuhnya.

"He-hei! Apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto dengan suara keras, namun Sasuke tak memerdulikannya. Lalu di tengah Naruto yang berontak melepaskan diri, ia berkata,

"Jangan pernah pasang wajah seperti itu, dobe. Kau membuatku Ich liebe dich sekarang."

Sasuke mencium kening Naruto sekejap setelah diungkapkannya kata-kata yang sekarang membuat Naruto bingung, ia semakin tak mengerti dengan perubahan perlakukan Sasuke yang begitu cepat. Dan itu membuatnya setengah tak menyadari kecupan yang dilayangkan Sasuke sesaat lalu.

"Dari sini kau bisa pulang sendiri 'kan?" Sasuke mengatakannya tanpa mengubah posisinya yang memeluk Naruto. "Kalau begitu sampai jumpa." Lanjutnya datar, ia kemudian melepaskan pelukan eratnya dari tubuh Naruto. Lalu ia beranjak pergi dengan berlari kearah di mana dirinya serta Naruto datang tadi. Dan jubahnya yang hitam dalam kelamnya bayangan gedung serta kegelapan malam membuatnya menghilang. Meninggalkan Naruto yang masih tak mengerti serta kantung belanjaannya yang tergeletak di samping kakinya.

To be Continued…


BEHIND THE SCENE

Author : Haha… yang merasa ini fic romantis, maafkan daku yang membuatnya menjadi sadis. Nah, Sasuke dah ketemu sama Naruto 'kan? Udah puas 'kan loe Sasuke?

Sasuke : Ya, dah ketemu si ketemu, tapi kenapa cuma begitu doang. Adegannya banyak yang ga jelas lagi.

Author : Itu sengaja gua skip. Repot cuy bikinnya. Banyak banget lagi! Ga kaya pendahulunya.

Sasuke : Memang apaan pendahulunya itu? Lagipula ya… kesadisan tau. Pembaca mana mau baca yang tubuhnya nyampe dipotong-potong. Ya 'kan Naru?

Naruto : Haha… iya juga sih.

Author : SasuNaru kejam!

Naruto : Terserah dong… lagi pula kenapa gue dibuat ga jantan gitu? Harusnya gue bisa ngalahin mereka tau! Pake rasengan ma bunshin no jutsu!

Author : Ini 'kan fic, dan ini AU, Alternatife Universe! Loe 'kan uke. Memang harusnya lemah tau! –di rasen shuriken-

Sasuke : Udah lah Naruto, biarin aja dia, kita mesra-mesraan lagi.

Naruto : Ok!

Author : -Berdarah-darah- Terserah kalian deh. Tapi untuk pembaca sekalian, saya mohon tuk reviewnya ya? Sebagai suatu alasan kuat bagi diriku untuk melanjutkan kisah cinta mereka yang baru saja dimulai? Dan juga mohon bimbingannya pada Senior terhormat serta para pembaca semua.