Author : Baiklah! Kita mulai chapter 3 nya. Maaf, ya kakak-kakak sekalian, aku ga bisa update cepet.
Naruto : Emang kenapa?
Author : Soalnya butuh waktu dua hari buat mbayangin chapter 3, butuh tiga hari buat bikin draft ceritanya n butuh dua hari buat nulisnya.
Sasuke : Author payah soalnya.
Naruto : Iya.
Author : Kejam! Nah… dimulai saja ceritanya, kali ini Shion muncul lagi di awal chapter bersama Konan yang sama sekali tak muncul di chapter kemaren. Haaah… inilah kebodohan Author, padahal ia termasuk tokoh yang penting. Si Naru malah justru ga muncul sampai akhir-akhir chapter 2. Nah… dimulai saja, kamera, rolling and action!
Main Pairing : SasukexNaruto
Disclaimer : Me! –berharap, terus ditendang sama Kishimoto sensei, padahal cuma berharap-
Genre : Sama kaya kemaren lah.
Warning : Sama saja yang pasti Yaoi, OOC ma AU!
BLACK SQUADRON
Chapter 3 : Thank you
11.52 PM, 29 November 112nd Esther Century
Delapan menit menjelang tengah malam.
Shion menatap ruangan tempatnya berada sekarang. Cukup luas, dengan hanya tiga buah sofa keras dan lemari kecil yang tampak mengelilingi sebuah meja persegi dari kayu. Meja itu berada di tengah ruangan, sehingga ketiga sofa yang mengelilinginya dengan saling berhimpitan memberi cukup banyak ruang kosong hingga batas dinding. Tak ada perabotan yang digunakan untuk mengurangi kekosongan itu—karena sekalipun keluarga pemilik rumah itu ingin, mereka tak bisa melakukannya. Dan di atas lemari yang biasanya digunakan untuk menyimpan 3D Record, terdapat sebuah monitor televisi kecil yang terlihat usang.
"Haah…" desahnya menghela nafas. Saat ini ia berdiri di dekat jendela yang tertutup tirai putih—jendela sebesar pintu yang biasa dipakai untuk ke beranda. Ia sedikit menyingkap tirainya, hanya untuk memperhatikan pemandangan malam dari tempat yang cukup tinggi seperti apartemen keluarga Uzumaki ini, yang mau tak mau kini ditempatinya juga. Dilayangkannya pandangannya ke langit luas yang penuh dengan bintang, juga bulan yang terus bersinar. Ia melihatnya sejenak, kemudian melepaskan tangannya dari ujung tirai agar jendela itu kembali tertutup.
Dengan satu lagi helaan nafas panjang, Shion beranjak pergi dari tempatnya berada sekarang, ke sebuah sofa yang menghadap monitor televisi. Ia duduk dengan wajah yang terlihat menunggu dengan sabar—yang dipaksakannya—salah seorang dari dua orang anggota keluarga Uzumaki yang sampai kini masih sibuk dengan tidurnya masing-masing. Gadis pirang itu kemudian beralih menatap jam yang tergantung cukup tinggi di dinding di hadapannya.
"Jam satu dini hari. Sudah waktunya kau terbangun Konan." Bisiknya ringan. Tak bakal ada seorang pun manusia yang mendengar perkataannya sekarang. Sejenak kemudian, ia mendengar suara pintu dibuka, dan kembali ditutup. Lalu ia mendengar derap langkah yang nyaris hilang di belakang ruang tamu tempatnya sekarang duduk—ruang keluarga.
Tanpa menunggu waktu lama, Shion segera bangkit berdiri dan beranjak ke ruang keluarga—yang sebenarnya lebih tepat berfungsi sebagai ruang makan, karena hanya ada sebuah meja panjang cukup tinggi dan dua buah kursi lipat. Ia menatap ruangan itu dari sebuah pintu yang menghubungkan keduanya, di hadapannya terlihat kamar Konan yang tertutup. Ia menoleh ke arah kanannya, dan mendapati sebuah kamar dengan tulisan 'Naruto's Room' yang tergantung di daun pintunya.
Kemudian, Shion membandingkan kedua ruangan yang sekarang ini dan yang sebelumnya. Terdapat jauh perbedaan, karena lebih kecil, tentu saja. Ia pun berbalik, menghadap satu lagi ruangan, hanya saja menyala terang. Ia beranjak mendekati ruangan itu, yang bisa juga disebut dapur. Dengan sebuah tempat cuci piring yang berhadapan dengan tempat kompor dan lemari es, lalu sebuah meja kecil untuk meracik bumbu dan berbagai keperluan memasak lainnya. Microwave-nya terletak di sisi yang sama dengan lemari es, bersebelahan langsung dengan kompor. Dan ada juga sebuah lemari yang digunakan untuk menyimpan piring, gelas atau barang pecah belah lain yang berkaitan dengan urusan memasak.
Ia menghentikan langkahnya yang tanpa suara di belakang sosok seorang gadis berambut biru tergerai yang mengenakan piyama satin biru tua. Gadis itu memunggunginya dan terlihat serius mengaduk sesuatu sehingga tak ada yang menyadari kehadiran orang lain selain dirinya.
"Konan, aku harus bicara padamu." Kata Shion tiba-tiba, mengesampingkan adanya rasa terkejut dalam diri gadis itu—Konan—ketika dikagetkan dari belakang.
Konan nyaris menumpahkan isi gelas yang diaduknya kalau saja ia tak memiliki reflek yang bagus. Ia pun menghentikan kegiatannya, dan berbalik menghadap Shion yang menatapnya dengan pandangan menusuk. Tajam, dan dingin yang tersurat jelas.
"Shion…" ucap Konan menggumamkan nama Shion. "A… bukankah kau muncul jika hanya dipanggil Naruto?" lanjutnya setelah sejenak berpikir. Ia merasa kehadiran Shion di saat seperti ini tak mungkin nyata. Walau dari dulu ia selalu mengetahui keberadaan Shion yang tersembunyi, paling tidak setelah keberadaan Naruto menjadi bagian dari hidupnya.
"Dia sedang tidur. Lagipula aku tak harus dipanggil olehnya kalau hanya untuk datang." Jawab Shion menjelaskan. "Yang lebih penting, aku datang untuk mengatakan sesuatu padamu." Tambahnya cepat, Konan mengangguk tanda menerti maksud Shion.
"Saat ini sudah akhir November, sebulan lewat setelah ulang tahun Naruto yang kelima belas. Waktumu kurang dari setahun untuk mengatakan kebenaran pada Naruto." Ujar Shion memulai. Konan mengerinyitkan dahinya, kemudian menunduk.
"Aku tahu…" gumam Konan tak jelas, pada Shion sekaligus pada dirinya sendiri.
"Kau juga harus memilih." Shion membuang muka ketika mengatakannya. Tak terlalu mempedulikan Konan. "Katakan kebenaran demi kebaikannya atau tak mengatakan apapun demi kebahagiaannya." Kata Shion lagi diiringi dengusan sesal. "Kalau kau terlambat, satu dari jiwanya itu akan mengambil alih. Sementara itu, bumi sudah mulai merespon dan segera memulai pergerakannya. Apalagi langit terus-terusan terluka dan menumpahkan air matanya. Semua itu adalah petunjuk yang terlalu jelas untuk mengetahui kehadiran Naruto." Tambahnya sedikit menerangkan. Ia mengucapkannya dengan suara berbisik.
Konan langsung menatap Shion begitu kata-kata gadis itu tadi tertangkap telinganya, yang kemudian memprosesnya dengan cepat. Menangkapnya sebagai peringatan dan pertanda.
"Tu… tunggu, apa itu semua sebuah kepastian? Bukankah ramalan hanya menangkap sedikit saja sebuah peristiwa di masa depan?" Tanya Konan masih tak percaya pada apa yang dikatakan Shion.
"Cih, ini bukan ramalan! Aku memastikannya dari masa lalu hidupku seratus tahun lalu!" bentaknya tertahan. Ia tahu benar suaranya dengan volume yang lebih keras akan membangunkan Naruto.
Konan terdiam. Ia memandang kosong lantai dipijaknya.
"Kau yang memiliki kewajiban untuk mengatakannya pada Naruto, bukan aku. Lalu, kalau kau segitu gelisahnya, lebih baik kau tak katakan apapun untuk sementara. Dan sayang sekali kopinya kalau tak diminum." Ucap Shion mengakhiri keperluannya dengan Konan. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
Shion segera lenyap setelah sebelumnya cahaya emas keunguan berpendar dari tubuhnya. Konan sendiri jatuh terduduk dengan lemas.
"Bagaimana caranya untuk mengutarakan hal sepenting itu? Aku tak ingin menambah bebannya…" gumam Konan dalam keheningan malam. Ia tertunduk dengan bertumpu pada tangan kirinya—membiarkan helaian rambutnya menutupi wajahnya.
Desir angin membelai lembut rambut Naruto yang terlihat semakin indah kala cahaya mentari menerpanya. Ia menengadahkan kepalanya sambil terus berjalan—menatap melampaui langit pagi yang cerah tanpa awan. Ia berhenti di depan sebuah gang kecil, lalu bersandar santai di mulut gang tersebut. Kedua matanya ia pejamkan sejenak dan nafasnya yang sedikit memburu coba diaturnya. Setelah cukup tenang, ia memijit-mijit pelipisnya karena pening yang tak tertahankan. Lelaki itu melakukannya tanpa sedikitpun membuka matanya. Ia berusaha—setidaknya mencoba untuk menghilangkan berbagai bayangan mengerikan yang selalu menghantuinya di manapun, kapanpun. Sejak malam kemarin lusa yang membuatnya sedikit paranoid pada semua hal yang berhubungan dengan darah, juga mayat.
"Uhuk!"
Kedua tangan Naruto menutupi mulutnya yang nyaris saja mengeluarkan makanannya pagi ini, ketika diingatnya saat-saat penyiksaan tanpa moral yang terpaksa dilihatnya. Tetapi sebelum Naruto sempat memuntahkannya, ia sudah kembali mampu menenangkan diri. Ia pun bernafas lega—mengeluarkan bermacam emosi yang tersimpan di setiap bagian dadanya.
Naruto kemudian menatap sekitarnya, dan tak banyak yang bisa dilihat. Hanya jalanan yang nyaris kosong, trotoar yang tidak terlalu ramai, dan deretan toko serta outlet di kanan kiri jalan yang menawarkan berbagai barang dan jasa. Ia menghela nafas panjang sembari dilihatnya jam tangan digital di tangan kanannya yang membentuk angka tujuh lebih sepuluh.
Ia menggumamkan sesuatu yang tak jelas terdengar, menarik nafas untuk mendapatkan sebanyak mungkin udara segar, kemudian menghembuskannya keras-keras dari mulut. Sesaat, ia menatap lurus dengan tajam, lalu beranjak meneruskan perjalannya ke sekolah barunya. Dengan diiringi oleh angin yang lebih kencang berhembus.
Naruto's POV
Kudekap tubuhku sendiri karena dingin dari angin yang berhembus mulai menyebar keseluruh bagian diriku. Kemeja putih serta blazer hitam lengan panjang yang menjadi seragamku tak cukup hangat untuk kupakai. Pada kenyataannya pun jika kupakai jaket tetap tak akan hangat juga, tapi setidaknya itu jauh lebih baik. Hanya saja Nee-chan baru saja mencuci jaket orange kemerahan kesukaanku itu, sehingga berharap kering pagi ini jelas tak akan bisa. Dan kenyataan itu adalah satu bagian dari berbagai kesialan yang akan menimpaku hari ini. Pasti!
Aaah! Semua kesialan itu membuatku muak! Dikejar-kejar tiga orang pendosa payah, dihajar Nee-chan setelah sebelumnya ia menangis di pundakku hanya gara-gara lupa membeli garam, lalu saat ini terjebak dalam kedinginan yang menyedihkan.
"Cih." Decakku kesal. Aku tak ingin memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi ketika aku berada di sini. Namun sekalipun aku mencoba untuk bertahan dan tidak menjadi gugup sendiri, imajinasiku tak bisa dihentikan. Menjadikan hatiku seperti korban yang tercabik-cabik oleh mimpi masa depan yang sama sekali tak indah.
Di tengah lamunanku, aku mulai menyadari bahwa ini semua adalah salahku sendiri. Ya, aku adalah penyebabnya. Biang persoalan hidup yang selalu membawa bencana—begitulah kata mereka. Meski aku sendiri selalu menyangkal dan Nee-chan membelaku mati-matian. Lalu, setelah tanpa ku sadari sekalipun, saat itu Tou-san kami meninggal. Karena pembelaannya pada diriku yang penuh dosa. Menciptakan mendung di hati Nee-chan yang tak akan pernah terhapuskan meski aku sendiri yang meminta. Kemudian kejadian naas itu menjadi titik balik sekaligus awal bagi diri kami sendiri, juga keputusanku yang menganggap diriku adalah bahaya bagi orang lain—juga diriku sendiri sebagai pemilik sejatinya.
Menyedihkan, saat-saat gelap di mana diriku masih berharap dibuang olehnya agar tak menjadi malapetaka rupanya masih berlanjut. Saat ini, di dalam hatiku sendiri tumbuh perasaan benci pada diri sendiri. Sekalipun bertumpuk pada rasa sayangku padanya—sebuah perasaan yang hadir saat kita memiliki keluarga. Satu-satunya orang di dunia ini yang menjadi tempatku kembali. Tapi, aku sama sekali tak tau anggapan Nee-chan terhadapku. Apakah yang dilihatnya dariku sama dengan yang dilihatku darinya, ataukah hal lain seperti sesuatu yang tak memiliki harga serta lebih rendah daripada sampah.
End of Naruto's POV
Seorang laki-laki berambut hitam agak panjang berkulit putih pucat dan rambut yang diikat kebelakang menatap Naruto dari atap sebuah outlet. Matanya yang hitam seperti batu obsidian yang telah diasah memandang dengan sorot mata penuh arti—dan rasa penasaranlah yang paling mendominasi. Ia pun melihat berkeliling, memastikan tak ada yang memperhatikannya. Kemudian dia beranjak ke tepian atap, dan hanya dengan satu lompatan ringan, ia sudah turun sampai ke trotoar. Mendarat mulus dengan indah tanpa sekalipun kehilangan keseimbangan.
"Fuh…" desahnya sembari membenarkan letak syal merah yang dipakainya. Lalu ia berjalan santai dengan kedua tangan yang menyusup masuk ke saku celananya—tak bisa dipungkirinya ia pun merasa kedinginan. Tapi, suhu yang turun itu tak mengurangi niatnya untuk terus mengawasi Naruto, karena matanya yang tajam masih tak melepaskan sosok laki-laki berambut pirang jabrik itu. Dan, satu hal yang cukup mengagetkannya sejak saat ia mengikuti Naruto, adalah sebuah fakta bahwa dirinya satu perguruan dengan Naruto. Tertanda dari blazer hitam yang sama persis dengan yang dikenakannya. Fakta yang cukup merepotkan karena perguruan bukanlah menjadi tempatnya bertemu pertama kali. Tetap sebuah tempat sekeramat menara Saint Elliot lah—yang jelas tak akan dilupakan siapa pun yang mengalaminya— yang menjadi saksi atas peristiwa yang membuat kelompoknya ikut turun tangan.
Ia menatap Naruto tajam, dan mengikutinya hingga sekolah yang menjadi tempat tujuan masing-masing hari ini terlihat.
Perhatian lelaki itu teralihkan oleh suara dering hand phone dari saku kemejanya—sementara Naruto tetap bergeming dalam pikirannya, bergulat dengan bagian lain dirinya yang memiliki spekulasi berbeda.
Lelaki itu mengambil hand phone dari sakunya dengan tangan kanannya—tangan kirinya tetap aman di saku celananya—dan melihat display-nya sejenak. Ia tersenyum separuh ketika melihat nama yang tertera di sana : Deidara My Darling calling…
Pandangan matanya menjadi lembut seiring dengan ditekannya tombol terima dari hand phone-nya.
"Halo." Katanya memulai pembicaraan. Samar-samar ia bisa menebak apa yang diucapkan orang yang meneleponnya, Deidara.
"Itachi! Kau meninggalkanku un!" seru Deidara langsung setelah kata pertama yang diucapkan kekasihnya, Itachi, terdengar.
"Aku sedang mengawasi seseorang Deidara." Kata Itachi menanggapi kemarahan Deidara yang begitu nyata terdengar dari suaranya dengan diakhiri oleh senyuman hangat.
"Siapa? Apa yang begitu pentingnya sehingga kau meninggalkanku un?" Tanya Deidara tajam. Kecemburuan jelas terpancar dari suaranya.
"Bukannya aku sering meninggalkanmu sendirian di apartemenku Deidara? Dan orang yang kuawasi, berkaitan dengan hal ganjil yang dirasakan Hinata ketika menyembuhkannya. Aku curiga dia adalah noryokusha seperti kita!" ucap Itachi menjelaskan, mengatasi rasa cemburu Deidara.
Deidara terdiam sejenak, kata pertama yang diucapkan Itachi padanya membuat kedua pipinya merona merah. Tetapi ia bisa mencerna ucapan Itachi yang berikutnya dengan baik. Ingatannya melayang di hari berhujan kemarin lusa di mana ia 'meledakan' senjata orang berambut coklat jabrik panjang yang tak dikenalinya. Lalu ia juga mengingat seorang anak laki-laki yang memiliki usia tak jauh berbeda dengan dirinya, anak dengan rambut pirang, kulik kecoklatan dan mata biru—sedikit ada persamaan fisik dengan dirinya.
"Terus kenapa dengan anak itu un?" tanyanya akhirnya.
"Aku meminta Shikamaru untuk mengawasinya kemarin karena ia satu kompleks apartemen dengannya. Tapi tak ada tanda-tanda ia memiliki kekuatan. Jadi aku yang ambil alih." Jawab Itachi lagi dengan penjelasan yang tak luput diucapkannya.
"Tapi, tapi! Kau tak bilang mau mengawasi un!" kilah Deidara tak ingin menyerah, ia berkata dengan suara yang menyerupai teriakan.
"Kau ini, stop to screaming in front of my ear Dei. We're meet in the school after the bell rings. But, after you take a bath and put some clothes on, of course. I love you." Ujarnya diakhiri dengan kalimat yang sedikit menggoda. Ia lalu mematikan hand phone-nya dengan cepat, mengembalikannya ke saku kemeja, dan kembali mencari sosok Naruto yang menghilang karena pengawasannya teralih.
Sementara itu Deidara yang mendengarnya langsung membanting hand phone-nya ke bantal dengan wajah yang merah padam. Ia bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar,
"Kenapa kau tau aku bahkan belum berpakaian?"
Sasuke's POV
Ingatanku dengan anak lelaki bernama Naruto itu tak bisa terhapuskan meski hanya sekejap, selalu terbayang dalam benakku dengan senyuman manisku dan tatapan matanya yang penuh kejujuran. Tak ada kebohongan atau suatu keinginan tersembunyi lainnya, tetapi sebuah mata yang memancarkan kemurnian. Aura lembut darinya entah kenapa menarikku untuk semakin mendekatinya. Dan aku yakin efek yang sama pasti akan dirasakan orang lain jika berada di dekatnya. Dan aroma tubuhnya sungguh membuatku nyaris hilang kendali—seandainya saat itu tak dihalangi oleh sebersit bayangan Aniki yang memintaku untuk cepat mengantarkannya pulang dan kembali ke markas.
Aku mengacak rambutku sejenak dengan kedua tanganku, kemudian menjatuhkannya ke meja bangkuku yang datar. Kubiarkan kepalaku rebah dengan berbantal lengan. Kututup kelopak mataku yang berat oleh kantuk, aku tak bisa tidur lagi semalaman karena otakku terus mengingatnya. Lalu dalam ingatan yang selalu berulang itu, aku, jauh di dalam hatiku, menginginkan hal yang lebih darinya. Membuatku terperosok dalam sesal karena tak menyentuhnya lebih jauh.
Aku tak pernah percaya terhadap 'cinta pada pandangan pertama' yang disebut-sebut Aniki berkali-kali dalam hidupku sejak aku kecil, tapi aku tak pernah menyangka bahwa di sini lah aku, terjebak dalam buaian perasaan sesak yang tak kunjung hilang dari dada karena tak bertemu dengannya.
"Uh…" desahku lemah. Aku berpikir akan menemuinya di apartemennya itu, aku toh sudah tau tempatnya juga. Tapi hatiku memperingatkanku tentang apakah yang akan terjadi dengan diriku seandainya tindakanku berdasarkan kenekatanku nantinya. Kemudian, dalam pekerjaan manapun yang dikenali olehku, melibatkan perasaan hanya akan memperparah saja. Sungguh dilema besar yang menakutkan. Tetapi di tempat seluas Central Area, tak mungkin 'kan aku dengan mudahnya bertemu anak itu. Apa aku harus bergantung kepada keberuntungan? Jelas tidak! Aku tetap tak akan pernah mempercayai hal-hal semacam itu. Terutama pada takdir dan kehendak dewa.
Tetapi aku tak lagi memiliki cara untuk bertemu dengannya. Aniki melarangku untuk menemuinya, itu ganjil sekali menurutku. Seperti tak ada larangan lainnya saja. Kemudian ia malah meminta Shikamaru untuk mengawasinya kemarin—ia memintanya setelah memastikan keberadaanku tidak ada di sekitarnya. Hanya saja bodoh sekali kalau menganggap aku tak mendengarnya, karena aku selalu memiliki cara untuk mendapatkan semua informasi yang kuperlukan. Bukan dengan cara mengancam, tapi akan kulakukan sekarang setelah bel pelajaran terakhir berbunyi, pada Shikamaru tentunya.
Rencana yang kususun nyaris selesai ketika seseorang membangunkanku. Ia menepuk-nepuk bahuku sedikit keras, seolah aku benar-benar tertidur. Yah, aku memang bermaksud tidur sebenarnya, sebelum rencana yang baru saja kususun terpikirkan. Lalu aku bisa mendengar orang yang menggangguku itu berkata,
"Sasuke, Sasuke! Bangun!"
Aku mengerjap sesaat, dan menatapnya tanpa mengubah posisiku. Sudah kuduga dari suaranya yang keras dan kasar, terutama dari caranya membangunkanku, bahwa ia adalah orang yang duduk di depan mejaku. Lelaki dengan tato segitiga merah di kedua pipinya. Ia duduk dengan ekspresi yang sedikitnya berada dalam kekhawatiran. Membuatku tak mengerti saja. Kiba—ada apa dengannya? Shikamaru yang duduk di sebelahnya juga. Ada apa sebenarnya.
"Bangun, lalu lihatlah orang yang berada di depan kelas." Katanya lagi sambil menujukan arah depan dengan ujung jarinya, aku mendengus kesal.
Kutatap mengikuti arah yang ditunjukannya. Kupikir, di sana hanya ada guru konyol berambut putih yang dalam setiap penampilannya selalu mengenakan masker dan eyepatch. Tapi ternyata aku salah, di sebelahnya berdiri seorang anak lelaki yang selama ini selalu mengusik pikiranku, dengan matanya yang seindah langit biru dan rambutnya yang secerah mentari. Ia sedang bersiap memperkenalkan diri, yang kemudian disambut dengan sorakan ricuh seluruh keras. Aku terkesiap memandangnya dan kedua orang yang duduk di depan mejaku, Shikamaru dan Kiba, memandangnya dengan tatapan tajam yang menyelidik. Seakan kehadirannya adalah suatu kesalahan. Sementara hatiku merasakan nostalgia yang ku nantikan.
"Aku Uzumaki Naruto, pindahan dari Eidn South Area Junior High School. Salam kenal semuanya!" —ia tersenyum sangat manis setelah mengatakannya— "Semoga kita bisa selalu berteman!" ucapnya nyengir. Aku menangkap nada yang terlampau menyedihkan dari suaranya di kalimat yang terakhir. Dan, apa maksudnya 'bisa selalu berteman'? Apa ia merasa tak bisa lagi berteman nantinya? Atau ada sesuatu yang membuatnya merasa mengucapkan 'bisa berteman' saja adalah kebohongan? Karena aku mengenali pandangan matanya itu. Kejujuran…Hei! Ia mendekati kursiku! Apa sensei sialan itu menyuruhnya duduk di sebelahku?
Ia tersentak sejenak setelah mengamati raut wajahku dari jarak dua meja. Air mukanya menyiratkan pengenalan, yang kemudian diikuti oleh matanya yang membulat. Ia hendak mengatakan sesuatu, dan Kiba serta Shikamaru terlihat berusaha menghentikannya—mereka berdua nyaris bangkit dari kursinya. Tetapi ia mengatupkan kembali mulutnya, dan tersenyum tulus padaku. Ia pun segera beranjak mendekati kursiku yang berada di deretan paling belakang, kemudian duduk setelah melempar ringan tas ransel hitamnya. Aku berusaha mengacuhkannya, tak peduli padanya. Tapi aku selalu merasakan tatapanya yang entah mengapa menggangguku. Jadi aku hanya melirik Shikamaru yang kembali tenang, ia pasti masih waspada karena ia tak langsung tertidur padahal pelajaran sudah dimulai. Lalu matanya yang hitam seperti berusaha mengirimkan pesan padaku. Pesan atas kehati-hatian dalam bertindak atau berbicara, karena seluruh hal yang berhubungan dengan Black Squadron adalah rahasia. Terutama identitas anggota.
Aku tak tahan lagi, terlebih kehadirannya adalah hal yang selama dua hari terakhir selalu kunantikan. Akhirnya aku menatapnya yang sedang menatapku juga.
"Hai, Uchiha Sasuke!" ucapnya semangat dengan suara berbisik. Ia merasa jika pelajaran pastilah seharusnya tenang, tapi tidak di sini. Di kelas ini, jika pelajaran ilmu sejarah, pasti tak ada yang mendengarkan. Kebanyakan memilih untuk berdiskusi dengan teman atau apalah. Aku saja sampai bosan. Tapi permasalahannya adalah sekarang, ia sedang menatapku, menanti jawaban.
"Hai." Jawabku, ia tersenyum senang. Kemudian berkata,
"Pasti takdir ya, kita bertemu lagi di sini." Kata-katanya membuatku memikirkan kembali persepsiku terhadap segala yang tak terlihat oleh mata dan tampak tak logis. Tapi aku benci mengakuinya. Membuatku menjadi terdiam.
"Aku tak percaya takdir."
Ia kaget mendengarnya, tapi sejenak kemudian ia kembali membenahi ekspresi wajahnya.
"Kelak, kau akan menyesal jika tak mempercayainya." Ujarnya diakhiri senyum yang terpaksa. Aku yang menatapnya merasa ia tak memandangku, melainkan sesuatu yang terbilang rahasia dan membuatku tak bisa menyentuhnya. Masa lalu? Ya, mungkin itu. Pandangan matanya yang menerawang sama persis dengan yang kulihat ketika seseorang sedang mengingat-ingat kembali hal yang terlupakan.
"Cih, terserah kau lah!" setelah kata itu terucap, ia beringsut menjauhiku. Kami berdua sama-sama saling mengacuhkan sampai bel pelajaran selesai berbunyi. Aku tak tahu bagaimana hatinya, yang jelas hatiku sakit dan tercabik oleh kalimatku sendiri.
Setelah pelajaran berganti berkali-kali tanpa kusadari pun, baik aku atau Naruto urung untuk memulai kembali pembicaraan. Ia juga sibuk melayani pertanyaan yang diajukan, bukan hanya dari teman-teman sekelas, tapi juga anak-anak dari kelas lain yang sudah mendengar berita kepindahan seseorang. Ia menjawabnya satu persatu dengan wajahnya yang ceria, aku tak mempermasalahkan itu, lagipula aku sedikit menikmati keceriaannya. Tapi aku kecewa karena bukan aku yang membuatnya tertawa selebar itu. Kemudian yang membuatku makin penasaran adalah dirinya yang terlambat bereaksi ketika ditanya sesuatu tentang hidupnya dulu. Seperti berusaha untuk memikirkan sesuatu terlebih dahulu, dan mempertimbangkan apakah akan dikatakan atau tidak.
Yang tidak ikut berpartisipasi untuk menanyakan sesuatu hanya kami, orang-orang yang pernah bertemu dengannya, di waktu dan tempat yang sama sekali tak tepat. Padahal, jika pertemuannya tak semenyedihkan itu, pasti kami bisa lebih dekat lagi.
"Sasuke, hati-hati. Jangan terbawa emosi." Kata Shikamaru mengingatkan ketika sekolah berakhir. Ia kelihatannya tahu tentang perasaanku yang agak berbeda pada Naruto. Namun aku menanggapinya dengan tidak peduli. Ia langsung pulang begitu saja bersama Kiba yang merasa menyesal karena tak bisa menyapanya.
Siang sudah beranjak pergi ketika aku masih duduk di lantai kelas, diantara dua meja yang memungkinkanku bisa bersandar sembari menengadah menatap surya. Hanya terlihat berkas sinarnya saja, tapi itu sudah cukup untukku hari ini. Dan, memang inilah tujuanku setiap hari. Duduk dan menunggu malam datang—memikirkan hal-hal yang telah lalu dalam benakku, termasuk semua kenanganku tentang Naruto yang semakin melekat dalam benakku, semakin merenggut kejernihan pikiranku. Kehadiran dirinya adalah perangkap yang kuciptakan sendiri untuk bertindak tak wajar. Dan perangkap itu sukses membuatku terdiam ketika melihatnya dan terkesima oleh setiap kata-katanya.
Aku menarik nafas panjang, mendesah ketika kuhembuskan pelan-pelan.
"Sasuke? Sedang apa kau disini?"
Aku terkejut mendengar kata-kata yang bergema di telingaku, dengan suara yang familiar, yang selalu membuat benakku terus mengingat dan mengulang kejadian ketika ia bersuara.
"Ah." Aku tak sanggup mengatakan apapun, dan ia menatapku bingung—Naruto. Tapi kemudian ia tersenyum, seakan sudah menantikan pertemuan kami kembali. Seperti sebelumnya, aku tak mempermaslahkan dirinya, tapi senyumnya kali ini membuatku semakin ingin merasakannya. Matanya yang juga bagai lautan membuatku tenggelam semakin dalam, membimbingku pada perasaan yang semakin kuat mengekangku.
"Sasuke?"
"Hn?"
"Aku bertanya kenapa kau ada di sini?" tanyanya mengulang. Sadar bahwa aku tak menjawabnya.
"Bukan urusanmu." Jawabku langsung. Aku tak ingin Naruto tahu hobiku yang memalukan, setidaknya jangan dia kalaupun nantinya diketahui orang-orang juga.
Ia mengerucutkan bibirnya. Kemudian kembali bertanya seakan pertanyaannya barusan sudah lewat, "Kelihatannya aku tak diterima olehmu. Apa aku masih bisa berada di sini? Kalau tidak, aku pulang saja." ia segera beranjak pergi, dan aku menghentikannya dengan meraih pergelangan tangannya. Berhubung aku masih duduk sedang ia berdiri.
"Aku tak bilang aku tidak menerimamu 'kan?" ucapku cepat, mengerikan rasanya memikirkan kemungkinan yang sesuai dengan kata-kata yang diucapnya. Aku sama sekali tak ingin dirinya pergi dariku. Apalagi hanya karena aku tak mengijinkannya mendekatiku, walau hatiku merasa ada banyak hal yang bisa membuatnya pergi. Karena sikapku yang buruk padanya, juga merupakan faktor yang sangat kuat. Tetapi ia di sini, duduk di dekatku sambil menatapku. Dan aku mendesah, kuputuskan mengisi kekosongan diantara kami dengan pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku ketika kutatap dirinya yang tak bisa mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya.
"Kenapa reaksimu begitu," tanyaku berhenti sejenak—mengamati reaksinya. "Saat teman-teman bertanya soal dirimu yang dulu?" lanjutku mengamati matanya yang mengungkapkan keterkejutan.
Ia memejamkan matanya ketika melihatku menatapnya tajam. "Kurasa itu masuk kategori hal yang privasi." Katanya setelah membuka kedua matanya. Aku tak suka melihat matanya sekarang. Begitu sering kulihat matanya penuh kejujuran, tapi ini… ia menatapku dengan matanya yang kesedihan adalah unsur terbesar yang mendominasi. Aku memutuskan untuk tak lagi menanyakan hal itu padanya.
"Bagaimana caranya aku berterima kasih?" ucapnya berusaha mengalihkan perhatianku dari masa lalu dirinya. Aku cukup terkejut, dan ekspresiku tak berubah seperti sebelumnya juga.
"Untuk?" kataku balik bertanya.
"Pertolonganmu padaku malam itu. Aku masih belum melupakannya." Ujarnya menjelaskan setelah sebelumnya menghela nafas.
"Ck! Aku tak butuh itu Dobe."
Ia terdiam. "Aku merasa harus membalasnya baka Teme!" serunya tak mau kalah. Aku semakin ingin menyentuhnya dengan kedua tanganku ketika ia bersikeras seperti itu. Tak tau kah bahwa yang kuinginkan adalah dirimu, Naruto?
"Baiklah," kataku akhirnya. "Kemarikan kedua tanganmu."
Ia menurut tanpa tau apa yang ku inginkan, dengan tatapan bingung.
Kusentuh kedua tangannya yang terulur, kugenggam dan kutautkan. Ia masih tak bereaksi apapun. Aku kemudian melanjutkannya dengan menjalin kedua jari-jemari tangan kami, merasakan kehangatan yang mengalir sampai dadaku, membuatku berdebar. Kupejamkan kedua mataku, meresapi lebih jauh sampai tanganku yang selalu dingin ini memiliki suhu yang sama dengan tangannya yang kecoklatan. Aku mendesah, dan ia pun merasakan desahan nafasku di tangannya, yang kemudian ditanggapi dengan pertanyaan.
"Sasuke? Apa yang kau lakukan?"
Aku menatap wajahnya yang kini dihiasi oleh semburat merah tipis, nyaris tak terlihat berhubung mentari masih memancarkan cahaya kemerahan. Kemudian aku tersenyum dan berkata,
"Diamlah, Dobe. Hal ini yang ku inginkan. Tak masalah bukan?"
Ia tak menjawab, tapi juga tak mengangguk tanda menyetujui.
Aku melanjutkannya, semakin meremas kedua tangannya. Semakin merasakan kehangatannya. Kudekatkan tubuhku sampai nafasnya bisa kurasakan, wajahnya hanya beberapa mili dari wajahku. Kemudian aku melepaskan sentuhanku padanya, memandangnya sejenak. Suatu kesalahan, karena wajahnya yangg menatapku bingung membuatku tak bisa berpikir jernih.
Kurengkuh tubuhnya tanpa persetujuan darinya sama sekali, aku tak menyesali perbuatanku padanya meski konsekuensi yang kuambil adalah kebenciannya. Tapi ia tak berkata apa-apa. Membuatku sedikit tersanjung, apakah ini berarti ia menepati janji untuk diam? Rasanya bukan, dan semoga saja begitu.
Aku merasakan desah nafasnya di telingaku, aku medengar degup jantungnya—yang seperti diriku— tak beraturan. Ah… bolehkah sedikit saja kuberharap kau memiliki hati yang sama dengan diriku, Naruto?
Rengkuhan yang panjang itu tak ingin kuakhiri selamanya, aku justru berharap waktu berhenti. Aku berharap jika nanti aku mati, aku dipeluknya seperti ini. Walau jelas semua itu tak mungkin. Kehadiranku bisa merubah dirinya, aku tahu itu. tapi aku tak bisa melepasnya, aku tak bisa memikirkan semuanya, semua hal yang benar. Yang kupikirkan hanya dia seorang, hanya dia…
Aku mendorong dirinya hingga tubuhku menindih tubuhnya. Lantai yang dingin bagai sebuah alas yang bagus untuk meghangatkan tubuhnya, dan aku memeluknya semakin erat. Membuatnya mengerang, entah karena alasan yang mana. Kemudian aku menatap wajahnya, ia menatapku marah.
Merasa hal ini akan berakhir dengan cepat, aku mengambil tindakan. Kusentuh dagunya dengan tangan kananku, kemudian kutarik wajahnya agar mendekat kewajahku. Saat ini, ia pasti bisa merasakan nafasku yang tak teratur. Tapi aku tak mengindahkan hal itu, karena aku langsung mengecup bibirnya.
To be Continued
Author : Akhirnya selesai juga… tanganku sampai nyeri. Pokoknya dah selesai!
Sasuke : Apanya yang selesai? Masa di cut sampai adegan ciuman?
Naruto : Sasuke! Kenapa main cium sembarangan?
Sasuke : Aku cuma nurutin naskahnya kok. Lagipula, kau pasti suka.
Naruto : -blushing-
Author : Terserah kalian deh. Nah, sampai di sini dulu deh, sampai jumpa di chapter depan! RnR, yah?
