Author : Baiklah… dimulai saja ceritanya!

Sasuke : Udah apdetnya lama, cuma itu aja komennya? Lagian terlalu banyak misteri tau!

Naruto : Iya, aku aja sampai ga tau diriku sendiri.

Author : -kabur- tapi, ya… semua misteri itu akan di jelaskan mulai chapter ke 5 sampai seterusnya. Jadi disini masih belum. Harap bersabar sejenak.

Naruto : Masa bodo! Kenapa juga fic ini makin gaje?

Author : Aku sulit untuk menulis yang tidak tak jelas. Jujur, aku sungguh berada dalam ketakutan setiap kali menulis cerita ini. Aku tak pernah percaya diri pada diriku yang masih memiliki cacat dan stigma dalam menulis sebuah karya. Dan ketakutan itu terus menghantui hatiku, merasuk dalam setiap jengkal tubuhku… Loh! Kok jadi berpuisi ria begini? Yah gapapa lah…

Sasuke : Puisi jelek juga! Ga memiliki keindahan sama sekali! Naruto jauh lebih indah dari pada itu.

Naruto : -blushing-

Author : Keee~keja~kejamnya! –nangis deh-

Author : aku ucapkan terima kasih buat yang review, balasannya ada di bawah. Haaah… segala pengorbanan kalian tak akan pernah kulu… -digetok Sasuke-

Sasuke : dasar ga kreatif! Dari chap 1, 2, masa ungkapan terima kasihnya itu terus?

Naruto : Emangnya di Chap 3 enggak?

Sasuke : Author bleguk ini lupa nulisnya. Jadi ga berkah 'kan?

Author : Abis… buru-buru sih. I'm really busy –yeah sok English- Aku ga tau kata-kata yang lainnya! Jadi lebih baik segera dimulai saja!


Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei-sama (?)

Genre : Drama/Spiritual/Romance/Thriller/Sci-fi (maybe)/Action.

Main Pairing : SasukeXNaruto. Meski aku sendiri pengin NarutoXSasuke, sih.

WARNING : BL/ Shonen-Ai/ YAOI, OOC, AU, Aneh, Gaje.

Summary : Bagai tertarik emosi yang biasanya selalu kualami, kali ini aku menyerah pada hasrat yang kusesali berada dalam diriku.


BLACK SQUADRON

Chapter 4 : Daydream

Naruto's POV

Tubuhnya memeluk erat tubuhku, sentuhannya bisa kurasakan semakin kuat merasuki hatiku. Bibirnya yang lembut menyatu dengan bibirku, tanpa bisa kuhentikan. Pelukannya tak bisa kulepaskan, walau kucoba untuk meronta sekuat-kuatnya. Pikiranku seakan tertutupi oleh kabut, padahal aku yakin aku sedang tersadar. Dan jelas sekali aku merasakannya bertindak di luar batas! Lalu, kenapa juga aku tak menghentikannya? Seperti bahwa semua ini adalah hal yang selalu kunantikan sejak dulu. Tetapi, meski hari ini bukanlah awal pertemuanku dengannya, aku tak cukup mengenalnya dengan baik. Kemudian hal seperti ini jelas bukan hal yang umumnya dilakukan oleh kedua orang yang baru saling mengenal, apalagi jika keduanya sesama laki-laki!

Aku mencoba berteriak dan membuka mulutku, ketika kurasakan ciumannya semakin dalam dan melumat bibirku. Lalu kurasakan lidahnya memasuki rongga mulutku, seakan diriku berada dalam kuasanya. Dan memang benar, karena bergerak saja aku tak sanggup. Uh! Hentikan! Tak bisakah ia merasakan keinginanku yang bermaksud mengakhiri semuanya. Lagipula, benarkah semua ini adalah sesuatu yang diinginkannya sebagai tanda terima kasih dariku? Aku tak percaya, setidaknya aku memikirkan alasan lain yang lebih logis. Namun tak ada yang lain selain kenyataan bahwa mungkin dirikulah yang dinginkannya. Narsis sekali. Dan aku berharap bahwa alasan itu adalah sebuah kesalahan, dan ia hanya bercanda dengan mempermainkanku.

"Naruto!" samar-samar aku mendengar suara seseorang memanggil namaku, dan aku kenal betul suara itu.

Aku kembali berontak, berusaha menghentikan Sasuke yang masih berada dalam posisinya. Kulayangkan tangan kananku ke wajahnya, berusaha menjauhkan dirinya dariku. Namun, tanganku beralih mengalungi lehernya ketika pelukannya semakin erat. Bagai tertarik emosi yang biasanya selalu kualami, kali ini aku menyerah pada hasrat yang kusesali berada dalam diriku. Juga padanya yang telah menarik semua cela itu keluar. Hanya saja saat ini ada seseorang yang memanggilku, dan aku tak ingin ia melihatku dengan pandangannya yang agak terlalu skeptis serta protektif! Karena ia pasti melihatku dan memberiku cap tak normal saat itu juga, lalu berusaha menjaukanku dari Sasuke. Karena ia selalu berpendapat, semua orang yang berada di sekitarku adalah penyebabku berubah, dan selalu anti terhadap mereka. Nee-chan! Kau tahu? Kehadiranmu saat ini menjadi juru selamat bagiku, sekaligus dewa kematian yang bersiap dengan scythe-nya di depan leherku serta Sasuke.

"Naruto!" suara itu semakin keras terdengar, semakin mendekati ke tempat kami berada. Aku semakin panik dibuatnya, apalagi Sasuke tak kunjung membenahi posisi kami.

Akhirnya, aku tak tahan lagi. Selain nafasku sudah tak tersisa dalam dadaku, kedatangan Nee-chan membuatku sedikit takut. Kudorong tubuh Sasuke agar menjauh dariku, dan dirinya terkejut dengan mata yang sedikit terbelalak. Aku sendiri masih sibuk berkutat dengan alasan kedatangan Nee-chan ke tingkat junior seperti saat ini—alih-alih melupakan rasa manis yang masih ada di bibirku, juga sesak yang kurasakan ketika jantungku berdebar dengan keras. Kemudian aku menyadari alasan kedatangannya setelah mengingat kembali kejadian pagi ini, di mana Nee-chan berpesan agar aku pulang bersamanya.

"Menjauh dariku, Teme!" seruku dengan suara berbisik. Ia menuruti permintaanku, walau dengan enggan. "Aku di sini Nee-chan!" teriakku begitu Sasuke menyingkir dari tubuhku dan duduk di sampingku tanpa memandang wajahku. Aku sedikit kesal dengan tingkahnya barusan dan berpikir untuk menghajarnya, namun aku sama saja bunuh diri. Karena ia lebih kuat dariku, dan lagi, sedikit ada penyesalan dalam diriku ketika aku melepas sentuhannya.

Aku masih menatapnya ketika Nee-chan membuka pintu kelasku dan melongok dari koridor, ia memanggil namaku lagi. Mungkin untuk memastikan suaraku tadi berasal dari kelas ini, bukan dari khayalannya.

"Naruto?" panggil Nee-chan dengan suara lembut.

"Ya. Aku di sini. Tunggu sebentar." Kataku mendongak menatapnya. Kemudian beralih menatap Sasuke yang menggenggam tanganku, mungkin bisa disebut meremas karena aku merasakan perih di telapak tanganku.

"Tak bisakah," kata Sasuke menggantung, ia masih tak menatapku. "Tak bisakah kau di sini lebih lama lagi?" tanyanya setelah menunggu beberapa saat.

Kupandangi tanganku yang terbungkus oleh tangannya yang mendadak kembali dingin. Kemudian aku berkata, berbisik lebih tepatnya,

"Aku harus pulang. Lalu, kau tahu Teme?" ujarku diakhiri sebuah tanya. Ia berpaling menatapku, akhirnya.

Kami saling bertatapan, sejenak saja mungkin. Tapi bagiku detik yang berlalu terasa sangat lambat, aku tak menyukainya. Kurasa tak perlu kujelaskan alasannya, karena aku meyakini bahwa alasan itu akan berbalik ke pendapatku tentang dirinya. Menyedihkan… aku sungguh tak ingin terjebak terlalu lama dalam kelas ini—dalam matanya yang gelap. Tapi semua ini adalah penantian yang kususun sendiri. Juga kata-kata yang akan kuungkapkan padanya sesaat lagi.

Aku menghela nafas lambat-lambat sebelum memulainya.

"Kau itu menyebalkan!" ucapku berbisik sambil menjambak sedikit rambutnya dengan tangan kiriku, ia meringis menahan sakit. "Kau tahu tidak? Alasanku mengajak bicara adalah agar kita berbaikan, sedikitnya bagiku aku berharap begitu. Aku sama sekali tak ingin punya musuh! Dan sikapmu di kelas sungguh menyebalkan, tadi juga! Padahal aku sudah menahan diri untuk tak bertanya mengenai kejadian malam itu." kataku cepat, tak peduli apakah ia mengerti atau tidak, karena ekspresinya yang sangat datar itu membuatku bingung. Lalu kulanjutkan kembali setelah kulepaskan tanganku dari rambutnya yang hitam, "Tadinya aku berharap bisa menjadi temanmu."

Tak bisa kusembunyikan perasaan sedihku begitu kata itu terucap, dan ia menyadarinya. Aku mulai merasa dia adalah orang yang paling tidak, sedikit memahami diriku, selain Nee-chan. Tapi aku takut ketika ia menyerangku, aku sama sekali tak tahu apa yang benar-benar diinginkannya. Aku tak mengerti apa yang berada dalam pikirannya. Walau berarti bohong jika kubilang aku membencinya dengan perlakuannya terhadapku. Tapi itu juga tak bisa dibenarkan. Meski dipaksakan juga untuk membenarkan artinya.

Ia memejamkan kedua matanya, menunduk menatap lantai tanpa melepaskan tangan kananku yang masih digenggamnya. Kemudian ia tersenyum sekilas—tak benar-benar bisa kulihat karena tertutup rambut, sebenarnya—tapi cukup untuk membuatku sedikit merona dan dadaku bergemuruh. Namun cepat-cepat kuperbaiki ekspresiku yang memalukan.

"Kau selalu bisa menjadi temanku. Tentu saja tidak ada kata 'akhir' untuk itu. Lalu, aku berterima kasih kalau kau bersedia tutup mulut mengenai kejadian itu. " ucapnya diiringi tatapan matanya yang lembut ke dalam mataku yang berwarna biru. Kuyakini ia sedang menguji dirinya sendiri tentang kebenaran diriku yang kurahasiakan. Ia jelas menyadari adanya ketakutan akan sebuah kata bernama 'teman' yang selalu kusuarakan. Saat ini maupun dalam perkenalan dengan seluruh kelas pagi tadi. Tapi ia tak menanyakannya padaku mengenai hal seperti itu, membuatku merasa tenang. Padahal aku cukup terkejut mendengar pertanyaannya tentang diriku yang dulu, karena ia tak menanyakannya dengan lebih sepesifik, melainkan dalam artian yang lebih luas lagi. Seakan menanyakan 'aku' yang sesungguhnya. 'Aku'—diriku yang selalu kusembunyikan.

"Terima kasih." Kataku lagi. Kali ini lebih tulus ketimbang saat ia menyelamatkanku kemari dulu bersama kelompoknya. Mungkin karena dirinya yang memberi kehangatan dalam pandangannya padaku. Meski aku selalu menyangkalnya berhubung ia selalu dingin kapan pun dan di mana pun. Hanya saja pengertiannya melebihi orang luar lain seperti sebuah hadiah yang lama tak kudapatkan. Kemudian aku kembali berucap,

"Kurasa kau akan menyesal nantinya karena kata-kata itu tak cocok untukku."

Ia terdiam sejenak, mungkin mencari sebuah arti dalam ucapanku, yang kusembunyikan ketika berbicara dengan orang lain. Lalu ia mengerinyit dan mendengus, begitu didapatnya macam-macam arti dari kataku yang telah dianalisisnya. Kurasa ia membenci semua maksud yang hendak kuungkapkan, walau pada akhirnya sama sekali tak terucap. Dan hanya tersisa sebuah aura ganjil karena terpotongnya sebuah kalimat yang melukiskan perasaanku yang sesungguhnya.

"Aku akan selalu menunggu saat di mana diriku menyesal." Tantangnya serius, menatap tajam mataku.

"Terserah kau saja, tapi lepaskan tanganku. Aku harus pulang. Lagipula kejadian saat itu sudah cukup membuatku berhati-hati." Kataku mengakhiri, ia melepas tanganku. Dan bisa kurasakan sedikit rasa sepi menyertainya. Sepertinya baik dirinya maupun aku merasakannnya. Tapi aku tak tahu seberapa besarnya ketika dibandingkan. Namun aku akan memendamnya dalam-dalam. Lalu melupakannya jikalau aku mampu untuk tetap berdiri sendiri nantinya.

End of Naruto's POV

Naruto berjalan santai di dekat kakaknya yang sedang memikirkan banyak hal dalam kepalanya. Sebentar-sebentar, masing-masing dari mereka menghindar dari orang-orang yang berlalu lalang—tanpa memperdulikan sekitarnya. Terkadang mereka memulai pembicaraan, namun segera diakhiri karena pertanyaannya hanya bisa dijawab oleh satu atau dua kata. Tetapi dalam keheningan di antara mereka, tak lagi diinginkan untuk diakhiri karena sebuah kata. Bagi mereka, saat ini adalah waktu yang bagus untuk memikirkan masalah sendiri. Sampai akhirnya Naruto mengurungkan niatnya untuk diam saja begitu sebuah permasalahan muncul dalam benaknya dan tak bisa diselesaikannya seorang diri.

"Nee-chan," panggilnya diikuti oleh tarikannya pada blazer hitam yang dikenakan Konan.

Konan segera kembali dari dunianya yang penuh pertanyaan dan menantikan jawaban. Ia memandang Naruto penuh tanya.

"Kau tahu artinya ich liebe dich? Kayaknya sih begitu, aku lupa." Ucap Naruto sambil berusaha mengingat apa yang dikatakan Sasuke saat pertama kali bertemu dengannya—yang berujung pada detak jantung yang menyesakkan dadanya juga kedua pipinya yang merona.

Konan memproses apa yang didengarnya dengan cepat, namun bukannya jawaban dari pertanyaan Naruto yang dikatakannya melainkan ekspresi terkejut serta wajah yang merona merah jambu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya—berusaha tetap santai dan tenang. Ia menarik nafas panjang, kemudian menghelanya ketika dirinya akan berucap,

"Dari mana kau tahu kata itu? Itu 'kan bahasa Jerman."

"Ng, aku tahu dari seorang temanku. Aku malah baru tau kalau itu bahasa Jerman." Ucap Naruto singkat. Ia tak mengerti mengapa Nee-channya merona aneh saat ditanyakannya kata itu. Namun diabaikannya karena ia lebih ingin mengetahui artinya dibanding reaksi orang yang mendengarnya.

"Baka! Itu 'kan bahasa peninggalan salah satu dari lima malaikat yang diutus ke bumi ini. Masa tak tahu?" Konan bertanya tak percaya, nyaris melupakan pertanyaan Naruto tadi. Ia lebih memilih menerangkan sejarah pada adiknya yang malas belajar itu. Tentunya ia tak bosan-bosannya menerangkan semua itu berkali-kali meski hari libur sedang dijalani.

"Aku tak peduli itu! Yang mengingatkanku, bukankah sekarang sudah seharusnya Nee-chan menerangkan artinya padaku?" ujar Naruto tak sabar diakhiri kerucutan bibir yang menandakan ia kesal.

Konan meragu sejenak, rona merah jambu kembali terhias di kedua pipinya. Namun ia tak bisa menundanya lagi, karena Naruto akan terus mengejarnya jika anak lelaki itu tak mendapatkan apa yang benar-benar diinginkannya. Terutama bila hal itu membuatnya penasaran hingga bertanya pada orang lain.

"A… artinya… mmm," Konan melirik Naruto, memperhatikan wajah Naruto yang bingung. "A… aku mencintaimu…" lanjut Konan lirih namun bisa didengar oleh telinga Naruto. Juga beberapa orang dari jarak satu meter di sekeliling mereka.

Naruto terdiam, ia terpaku dalam keramaian jalan—tak peduli bahwa beberapa orang di sekitarnya mengira ia sedang mendapat pengakuan cinta dari Konan. Yang jelas saja tidak mungkin karena gadis berambut biru itu adalah Nee-channya, yang berarti kakak perempuannya. Mereka tak tahu apa-apa, tapi wajah Naruto yang bersemu merah seakan membenarkan bahwa prediksi asal-asalan yang berasal dari ketidak tahuan itu adalah kenyataan. Meski kebenaran aslinya dikarenakan ingatannya yang melayang pada malam hari kemarin lusa, di mana pernyataan cinta itu terucap dari bibir Sasuke.

Ia mati-matian membantahnya di dalam hatinya sendiri, menampik memori atas kata cinta yang terucap. Berbagai prediksi Naruto lontarkan pada dirinya yang lain, mencoba menemukan alasan lain dari kejadian malam itu. Seperti misalnya Sasuke sedang mempermainkannya—seperti apa yang diprediksinya saat Sasuke menciumnya tadi. Tapi ia menyadari, bahwa tak mungkin sebuah ungkapan seindah itu keluar hanya untuk mempermainkan. Apalagi jika yang mengutarakannya adalah seorang Sasuke Uchiha. Bahkan jika hanya untuk bercanda, kata 'aku mencintaimu' itu terlalu kelewatan.

Konan yang melihat Naruto begitu bingung, hanya tersenyum tipis. Ia tahu benar apa yang dipikirkan Naruto sekarang. Tapi sama seperti Naruto yang meragukan adanya pertemanan abadi, membuatnya beralih tersenyum kecut memikirkan apa yang terjadi di masa depan setelah hari ini berakhir.

"Naru…" panggil Konan pada Naruto yang menunduk dengan wajah masih merona. Naruto kemudian menatapnya beraksi.

"Kau tahu 'kan? Lebih baik jangan terlibat." Ungkap Konan mengingatkan. Memandang mata Naruto lurus tanpa berkedip. Menegaskan banyak langkah dan resiko yang lebih besar ketika nantinya Naruto melanggar apa yang menjadi ketetapan dan perjanjian diantara kedua kakak-adik itu.

"Aku mengerti." Naruto berbohong, membuat satu-satunya keluarga yang dimilikinya yang berada di hadapannya menghela nafas.

"Aku hanya tak ingin kita pergi karena alasan yang sama seperti yang lalu-lalu." Ucap Konan murung.

Naruto terdiam menatap Nee-channya yang masih merenungi semua kejadian yang menghantui mereka setiap kali mencoba untuk memulai hidup baru di kota yang baru. Karena dari berbagai pengalaman yang dialaminya, ia berpandapat semua kenangan itu akan berulang kembali dan mengikuti mereka ke manapun mereka pergi. Tetapi, ia beralih menatap ke arah sebelah kanannya, yang merupakan sebuah gang sempit yang gelap dan berdinding tinggi karena dua toko yang membatasinya berlantai lima. Gang itu hanya sebuah jalan buntu, namun bukan itu yang membuatnya terpaku dengan wajah kosong. Melainkan pemandangan yang terlihat di dinding yang menjadi batas akhir dari jalan itu.

"Yuk, Naruto."

Konan mengajak Naruto untuk melanjutkan kembali perjalanan pulang mereka. Tanpa mengetahui bahwa adiknya itu masih tetap berdiri di depan gang tempat mereka sempat berhenti tadi. Orang-orang di sekitar mereka pun tak memperdulikannya, atau berusaha tak memperhatikannya.

Setelah Konan berjalan sesaat, ia merasa Naruto tak mengikutinya, sehingga ia memutar tubuhnya. Dan benar saja, ia tak menemukan Naruto di sisinya seperti pulang sekolah tadi. Jadi ia kembali menyusuri jalan yang sudah dilaluinya, dan menemukan Naruto yang masih berdiri dengan mulut yang terkatup dan mata yang menatap lurus ke depan. Mulanya, ia bingung dengan apa yang terjadi dengan Naruto, dan beranjak mendekati adiknya itu dengan pandangan mata khawatir. Ia kemudian beralih menatap apa yang ditatap adiknya, kemudian ikut membeku melihat keseluruhan dari apa yang dilihatanya.

Ia melihat sesosok wanita dengan rambut hitam panjang bersandar pada dinding. Mulutnya membuka dan mengeluarkan darah, hingga menetes di kerah bajunya yang putih. Bajunya tercabik-cabik beserta tubuhnya yang juga menjadi cacat. Pisau kecil tertancap di kedua pergelangan tangannya, dan sebuah katana pendek menusuk tepat di jantungnya. Darah menggenang di seluruh tubuhnya sampai sekelilingnya menjadi lautan merah. Samar-samar, Konan serta Naruto yang menatapnya mengenali wajah dari wanita itu—walau sudah terlalu berbeda karena emosi yang tertinggal saat akhir dari hidupnya datang. Tapi mereka tahu persis, bahwa wanita itu adalah tetangga mereka. Yang selalu mengenakan apron putih ketika mereka berdua sedang lewat di depan apartemennya, Nara Yoshino.

"AAH!" teriak Konan panjang, menyadarkan orang-orang di sekelilingnya dari ketidak pedulian. Sementara Naruto tak lagi menatap mayat ibu teman sekelasnya itu. Yang dilihatnya adalah sebuah lingkaran dari huruf-huruf graffiti yang berwarna merah, yang tengahnya diisi sebuah segitiga yang menghadap ke atas dan ke bawah. Di tengah lingkaran itu, terdapat lagi sebuah tulisan yang mulanya tak dimengerti oleh Naruto, seperti tulisan yang melingkari segitiga itu. Namun, sesaat kemudian berbagai kata dalam bahasa yang diketahuinya terbentuk dalam benaknya. Menjadi jelas seiring dengan semakin lamanya waktu yang digunakannya untuk memperhatikan.

'Principio del fin queremos comenzara desde el marde sangre.'

The meaning from English language : 'from begin to the end what we want will start from blood bath.'

Shikamaru terhenyak memandangi jenazah ibunya yang masih berada di ruang identifikasi mayat ketika mentari telah tergelincir dan tergantikan oleh suramnya sang malam. Bersama teman-teman sekelompoknya yang berada di sekelilingnya yang juga ikut untuk membuatnya tabah. Suara-suara teriakan dan jerit tangis muncul dari orang-orang yang merupakan sanak saudara juga kerabatnya. Sementara Shikamaru sendiri berdiri tegar menatap ibu yang sangat disayanginya. Tak ada air mata, sekalipun hanya seberkas saja di kedua matanya. Mungkin tidak sekarang, karena jika ia sudah merasa benar-benar siap, ia akan menangis yang mungkin lebih keras dari keluarganya yang lain. Karena saat ini, yang jauh lebih penting bagi dirinya adalah mengetahui detil dari kejadian mengenaskan yang disebut pembunuhan. Terutama jika kasus itu menimpa ibunya sendiri.

"Shikamaru?" tanya Kiba bingung. Ia menyadari perubahan air muka Shikamaru yang drastis, karena saat ini wajahnya berubah mengeras dengan tatapan mata tajam. Anak berambut kecoklatan jabrik itu semakin bingung ketika teman terdekatnya itu berbalik pergi. Meninggalkannya, beserta teman-teman lain yang ikut meratapi, ayahnya yang memandang kosong, serta keluarganya yang diliputi kesedihan mendalam.

"Aku tidak tahu tentang apa yang dilihat Otouto-ku sebelumnya!" seru Konan dengan suara serak. Wajahnya pucat memandangi seorang pria dengan beberapa luka melintang di wajahnya serta kain hitam yang diikatkan untuk menutupi bagian atas kulit kepalanya. Dalam hatinya yang terdalam, ia menyesali pernyataannya tentang waktu Naruto yang tak sengaja ditinggalnya. Karena saat itu, jika tak ada bukti yang cukup jelas mengenai siapa pelaku sebenarnya—atau paling tidak sebuah petunjuk—maka Naruto lah yang akan didakwa bersalah.

"Kalau begitu, biarkan aku menginterogasi adikmu." Ujarnya memberi pilihan pada Konan, yang lalu disambut sebuah bentakan dan pukulan keras di meja.

"Tidak! Tak akan kubiarkan kau menyentuh Otouto-ku! Lagipula dalam keadaan shock seperti itu, ia hanya akan semakin tertekan!" teriaknya keras.

Mereka berdua kembali berdebat, tak memperdulikan orang-orang di sekitar mereka yang menutup kedua telinga karena suara yang ditimbulkan. Juga Naruto yang terdiam di ujung ruangan dengan duduk sambil menatap lantai ruangan yang gelap. Ia masih tak bisa bicara, bahkan bernafas pun rasanya sulit bagi dirinya. Memorinya terus berulang seperti apa yang dialaminya pertama kali beberapa malam lalu. Karena kejadiannya hampir sama seperti saat ini, di mana langit senja yang merah menjadi latar dari lautan darah yang akan dilihatnya. Sesaat kemudian, tubuhnya seperti ditekan dan nafasnya kian tak teratur. Tubuhnya perlahan menjadi panas, hingga wajahnya menjadi pucat.

"Brak!"

Suara pintu yang dibuka dengan keras terdengar, seperti dengan sengaja dibanting untuk melenyapkan debat diantara Konan dan kepala departemen pertahanan yang berusaha menguak informasi dari Naruto. Kemudian suara derap langkah tak sabar saling bersahutan, tentu saja diiringi oleh banyak orang berjubah hitam yang memaksa masuk kedalam ruang interogasi. Mereka tampak mengacuhkan Konan yang sedari tadi terus saja berteriak. Karena perhatian semuanya teralih oleh sosok Naruto yang kini menjadi target Shikamaru—salah satu anggota mereka.

Sementara Naruto berusaha menahan sesak yang ia rasakan, Shikamaru sudah berdiri di dekatnya. Pandangan matanya tak berubah, namun sedikit berbeda—sarat akan kemarahan.

"Kau,"

Nada tak bersahabat terdengar meski hanya satu kata yang terucap. Naruto medongak memandangnya, heran dengan aura permusuhan yang dirasakannya. Ia sedikit terkejut melihat Shikamaru, namun keterkejutan itu tersembunyikan oleh dadanya yang mendadak merasakan sakit. Jantungnya ia rasakan seperti tercengkram, dan paru-parunya seakan tercabik-cabik. Memaksanya untuk menekan dadanya sendiri, mencengkram kemejanya dan berusaha untuk mengatur nafasnya. Tapi rasa sakit itu tak kunjung mereda, justru semakin bertambah tatkala semakin banyak udara yang dihirupnya.

Shikamaru tak memperdulikan wajah Naruto yang semakin memucat. Ia malah mencengkram kerah kemeja Naruto dan menariknya agar berdiri sejajar dengannya. Konan hendak menghentikannya ketika ia rasakan kakinya tak kunjung bisa ia langkahkan. Gadis itu justru merasa ketakutan, dan dalam hatinya ia memaki dirinya yang tak sanggup menghentikan semuanya lalu menyelamatkan adiknya. Kemudian, salah satu dari lelaki berjubah hitam—Sasuke—berniat melangkah ke arah Shikamaru dan Naruto, sebelum akhirnya ia dihentikan oleh kakaknya yang berada di barisan terdepan. Ia membisikan sesuatu di telinga Sasuke, yang menyebabkannya tak lagi berniat untuk menghentikannya. Namun, sama seperti Konan, ia merasa bersalah dan mengutuk takdir yang menimpanya.

"Katakan! Katakan apa yang kau lihat!" seru Shikamaru menatap lekat-lekat mata Naruto. Mencari-cari jawaban yang mungkin tercipta dan terbentuk dari irisnya yang sebiru permata lapis lazuli. Tetapi ia tak menemukan apa-apa. Ia juga tak memperhatikan sinar mata Naruto yang mulai meredup, walau ia menyadari ada yang berbeda dari Naruto saat di sekolah tadi dan saat ia melihatnya kini. Namun seperti orang yang digelapkan pengelihatannya oleh kemarahan, ia mengacuhkannya. Sampai ketika Shikamaru hendak berteriak kembali, ia menyadari sesuatu yang basah menetes di punggung tangannya yang masih mencengkram kerah leher Naruto.

Cairan itu terus menetes, mengalihkan pandangan Shikamaru dari mata Naruto. Dan ia terkejut menyadari warna gelap yang berpendar kemerahan di bawah cahaya lampu ruangan. Darah. Yang sampai kini masih menetes dari mulut Naruto, membuat Shikamaru saat itu juga melepaskan cengkramannya. Alisnya berkerut.

Seketika, Naruto bersimpuh dengan kedua tangannya menutupi mulutnya, ia terbatuk hebat. Mengeluarkan lebih banyak darah dari mulutnya. Tapi itu tak cukup untuk menghentikan alirannya, karena lewat celah-celah jemarinya, darah itu bisa menemukan jalannya. Dengan darah yang terus mengalir, Naruto menjadi semakin lemah. Ia pun tersungkur dengan keadaannya yang bersimbah darahnya sendiri.

"Naruto!" Konan segera berlari ke arah Naruto, melupakan perasaan takutnya. Ia menabrak beberapa orang yang menghalangi jalannya, kemudian memeluk Naruto yang sudah terkapar. Matanya tergenang oleh air mata pertanda kesedihan. Meratap pada adiknya yang kini bernafas dengan tak beraturan dan detak jantungnya yang cepat. Konan saat itu menyadari, jika semua ini tak ditangani dengan cepat, mungkin saja keberadaan Naruto akan berakhir saat itu juga.

"Akhirnya terjadi juga 'kan?" gumam Shion nyaris tak bersuara. Ia menatap menerawang langit berbintang dari beranda apartemen yang ditempati oleh Konan, juga Naruto. Wajahnya diliputi perasaan bersalah, terutama ketika ia semakin menyadari awan hitam mulai menutupi langit. Bersiap menurunkan hujan kembali ke tanah yang penuh tanda akan keburukan para manusia yang hidup di atasnya.

To Be Continued…


Author : Nah, akhirnya selesai juga. Tanganku masih kena kram otot nih, sial!

Sasuke : Siapa yang tanya? Itu hukuman karma gara-gara ga selesai-selesai 'kan?

Author : Masih tetep jahat ya, kau itu.

Sasuke : Aslinya memang 'kan?

Naruto : Udah ah, bales repiu aja.

Author : Yawdah, eh ngomong-ngomong kenapa Naru ampe muntah darah?

Naruto : 'Kan loe yang bikin ceritanya! Kenapa tanya gue! Lagian gue cuma akting menurut naskah!

Author : Iya, iya.

From Opening :

To Kagami Aika : Teruskan? Udah kok.

To aMiciZia Vi miRacOli : He? Tadinya aku pengin si Sasu jadi kakaknya. Tapi diganti jadi Konan. Salam fujoshi juga. Namamu sulit ditulis nih.

To AkatsukiImaginaryBlue : Kyaaaa! Aku dipeluk! Senangnya… boleh kok.

To Fusae 'LeeBumYeHyun' Deguchi : (Ga salah tulis 'kan?) Ya aku juga baru kali itu mbayangin.

From Chapter 1 :

To Kagami Aika : Nah, udah ketemuan. Suka ga?

To Namikaze lin-chan : Itachi memang ero. Ya dia muncul juga cuma buat menghancurkan suasana Romantis yang susah payah dibangun si Itachi.

From Chapter 2 :

To Zizi Kirihara Hibiki 69 : Apdet kilat? Ga bisa.

To NhiaChayang : Yes udah ketemu. Sampe nge-skip banyak adegan. ToT

To Kagami Aika : Eh? Kurang? Di chap kemaren dah banyak belum? Gentian buat adegan yang lainnya sih. Eh? Miss typo? Tentu saja ada. Aku tetap tak bisa lepas dari kutukan itu.

To Myaachan : Yah maklum, masih baru –berdalih-

Sasuke : Yang bener aja? Masa ga ngapa-ngapain? Naruto itu yaaa, akan aku begini dan begitukan nantinya. Hahahaha!

To AkatsukiImaginaryBlue : Gimana caranya biar tambah greget? Mereka bertemu aja baru sekali. (Baka Author sih)

To Namikaze lin-chan : Orang-orang sadis itu! aku lupa bilang kalo mereka itu tiga penjahat yang muncul di Naruto movie 3! Haaah… mental nenek-kakek pikun sih. BS itu semacam kelompok rahasia yang bakalan terkuak entah di chap berapa –dihajar- Hinata? 'kan dia punya semacam… itu loh. Di chap 2 sedikit disinggung kok. Tapi muncul lagi di chap 5 nanti.

To . disini : Aku ga bisa Apdet kilaaaaaat! Hiks-hiks! Seandainya tuhan mengizinkan, maka aku pun akan lebih senang.

To Riri-chan : Kenapa? Karena menarik. Ich liebe dich, udah dijelasin di chap 4 ini.

From Chapter 3 :

To Lawliet-light : Kyaaaaa! –blushing- Aku tersanjung… baru kali ini aku merasa berdebar-debar juga! (emangnya kenapa?)

To NhiaChayang : Udah.

Author : Nah, membalas review dah selesai. Terima kasih aku ucapkan pada kalian yang rela membuang waktu dan tenaga untuk sekedar menulis saja.

PS : Penerjemahan bahasa, atau lebih tepatnya penggunaan bahasa yang aneh-aneh seperti di atas, tidak dijamin kebenaran kosa kata mau pun grammar-nya! Hyah! Author cuma tau bahasa Indonesia, bahasa Inggris sedikit, terus sedikit sekali bahasa jawa, jadi harap dimaklumi.

Mind to review, please?