~RajiFict 12th Episodes~

Eiji: Minna nyaa~! Selamat datang dan selamat mendengarkan RajiFict! Mari kita buka season pertama di Siang ini!

~Opening: Tezuka Kunimitsu - Otoko no Bigaku~

Eiji: Mou, minna-minna de, genki desu ka? Jaa, mari kita panggilkan leader RajiFict yang tengah berulang tahun siang ini~! Yey! Aiko-sensei douzo~ Nyaa~! XD

Aiko: Aih~ Doumo ne, Eiji-senpai~~ Hiks... Watashi no tanjoubi wo oboeteru ga honto ni shiawase datta no ni...

Eiji: Iie, senpai. Sore ja nani mo nai yo~ Jaa, Otanjoubi omedechaa~~!

Aiko: Mou ichido, arigatou ne. Honto, arigatou.

Eiji: Dakara, kyo wa tokubetsu na hi, INTERVIEW SESSION ga arimasu.

Aiko: Hai'. Sou datta, minna. Etto, Eiji-senpai, kyo no GUEST ga donna kata n' desu ka?

Eiji: Ano hito wa himitsu desu yo~ XD

Aiko: Hidoi ne... Jaa, REVIEW SESSION ga hajimemashoo ne?

Eiji: Iku yo~

~Opening again~

Aiko: Hai', senpai... douzo.

Eiji: Hajime wa Karin-san yori. Kochi douzo.

Aiko: Hai', arigatou.

"Ah, jadi malu~~ saya gak pantes dikagumi~ *anak urakan soalnya* Arigatou ne, untuk Review-nya..."

Eiji: Sugi wa, Himeureka-san kara. Douzo.

Aiko: Kyaa~! Ure-chan yoriii~! XD Yomimasu.

"Of course donk, saya inget Ure-chan~
Emang iya, banyak banget yang ganteng, tapi pada labil semua *digorok*
Makasii banyak udah membaca cerita saya, selanjutnya pasti saya kasih tauk. Heheh... arigatou!"

Eiji: Sandaime wa, Kriezt-san kara.

Aiko: EBUSET! PANJANG BENER! *keluar logat betawinya*
Oke, langsung kita jawab aja~ XD

"Kriezt-san... ati-ati aje ama emak mertuanye Bunta. Oke? Jadi sstt~~
Untuk endingnya masih sangat rahasia. Yang jelas, saya ingin membebaskan Bunta pada akhirnya dan membahagiakannya bersama Seiichi. Itu tujuan pasti saya. Saya sangat berterima kasih dengan adanya reviu yang panjang sangat ini. Doumo arigatou!"

Eiji: Arigatou nyaa~~! Sugi wa, Aoyagi-san kara.

Aiko: Yuu-senpaaaii~! X3

"Ah, gak juga. Saya pun masih belajar heheheheh... Kita pun sama-sama berjuang ne?
Ah, kebetulan kemarin kan momentnya lebaran. Nah, jadi pas banget suasana hati saya. Kebetulan juga Kiri-senpai yang merequest minta married story. Jadilah! Voila!
Akan saya lanjutkan! Ganbarimasu~!" XD

Eiji: Dakara, sensei. Isshokenmei ne?

Aiko: Hai' sou da. Jaa, sugi de kudasai~

Eiji: Godaime wa, applecoffeecake-san kara. Douzo!

Aiko: Hai', yomita yo~

"Untuk endingnya, saya pun inginnya hepi ending. OK? tunggu aja~
Hohoho... inginnya Seiichi ingin saya bunuh. *ditabok ybs*
Saya gak punya ide buat lanjutin fic D1 nyaa~~ Gomen~~ (T^T)V"

Eiji: Nakanai yo,

Aiko: Gomenne. Hai', sugi desu!

Eiji: Furejahimitsu-san kara~! Douzo~~

Aiko: Acha-saan~~! XD Kotae yo~

"Hohoho... itu memang hobi saya~~ Wkwkwkwkwk *dibantai Konomi-sensei. Hai', akan saya lanjutkan, segera!"

Eiji: Tsudzun'de yukou ne?

Aiko: Sou datta. Hai... Sugi wa donna kata yori n' desu ka?

Eiji: Hai', Kiriyama-san kara.

Aiko: Dari requestor nih~ Heheh... Yomimasu yo ne?

"Daijoubu, senpai~ Yang penting review. Heheheh...
Hai, mari kita balas.
Yup! Sanako = Sanada versi cewek. Bayangkan saja... *ditebas katana*
Ah, gak juga. Saya masih belajar menrangkai kata-kata kok... Heheheh... *maklum, orangnya gombal... atau malah gembel?*

Ah. Gomenne~ karena keterbatasan dana, saya gak beli oleh-oleh tuh~ *dicabik-cabik Senpai*"

Eiji: Sensei mo hidoi da yo. Boku ni donna koto wa kaimasen deshita ne?

Aiko: Gomen~ Gomen~ Nai ga okane mo honto ni yarashii desho ne~ Sugi de kuadasi, senpai~

Eiji: Hai, Hachidaime kara, Aoryuu-san kara.

Aiko: Aoi-senpai kara.

"Sanako siapa? Tuh~~~ Tuuh~~" *nunjuk-nujuk sanada* *digeprak golok*
Hai', arigatou atas review nya~"

Eiji: Hai', saigo de~~~ Yuiri-san nyaaa~~!

Aiko: Yui-senpai... Hiks... Gomenne... Saya bener-bener gak bisa. Tapi kalo ada perfect-pair, akan saya berikan kepada senpai. Do'akan aja cepet dapet ilham. Heheh... Gomenne~
Biar saja. Jadikanlah Yukimura lelaki sejati! (kali ini aja... *ditabokin Yuki)

Eiji: Hai'! Dekichaa ne?

Aiko: Sonna ne? Hai. Sugi wa, nan SESSION desu ka?
[Selanjutnya, sessi apa?]

Eiji: INTERVIEW SESSION de gozaimasu.
[Sesi Interview]

Aiko: Dare ni omottechauno?
[Siapa yang akan mengisinya?]

Eiji: Anata no suki na hito.
[Orang yang sensei sukai,]

Aiko: *blush* Da... Dare?
[Si... Siapa?]

Eiji: Tezuka Kunimitsu de gozaimasu! Buchou~! Koko de agete yukou!
[Ia adalah Tezuka Kunimitsu! Buchou~! Silahkan kemari!]

Aiko: Kyaaa~! Buchoouu~! XD

Tezuka: Hai', minna. Konnichiwa.

Eiji: Honto wa natsukashii na deatta n' dasu kedo ne?
[Pertemuan yang mengharukan ne?] *cuih!*

Aiko: Buchou wo INTERVIEW-suru ga honto ni ureshikatta to omotte.
[Mewawancarai Buchou itu akan sungguh menyenangkan,]

Tezuka: Iie, anata koto wo hanashimasu. Boku ga nai yo,
[Tidak. Ini berbicara tentang diri sensei. Bukan saya,]

Aiko: HEE? Honto ka? Boku wo...
[HEE? Sungguh kah? Aku akan di...]

Eiji: Sou datta ne? Jaa, Buchou douzo.
[Begitu ya? Jaa, Buchou, silahkan.]

Aiko: Aiih~~ Hazukashii da yo ne~
[Aiih~~ Malunyaaa~~ :"]

Tezuka: Hai', mazu no QUESTION ga... "Itsu kara, Aiko-sensei ga TENIPURI wo suki ni narimashita ka?"
[Yak! Pertanyaan pertama... "Sejak kapan Aiko-sensei menyukai TENIPURI?"]

Aiko: Ano... sore wa... obotenai yo. Demo... Yaa... sukoshi ni kono 3 nen de gozaimasu.
[Um... Itu... aku tidak mengingatnya. Tapi... Yaa... dalam waktu tiga tahun ini setidaknya,]

Eiji: Sou ka. Ano, sensei~ Dare wo honto ni suki da? Uso janee yo~
[Begitu... Oh, sensei~ Siapa yang kau sukai (dalam TENIPURI) Jangan bohong ya~]

Aiko: Etto! Chotto ne~ Atashi ga hazukashii naru kedo,
[Tunggu! Malu niihh~!]

Tezuka: Daijoubu, Kotaeta dake de.
[Tidak apa~ Jawablah.]

Aiko: Mou, hajime ni TENIPURI wo shirimashita ga... Buchou wo suki datta. Ano toki wa atashi honto ni megane-otoko wo suki natta.
[Pertama kali tau TENIPURI... Saya langsung menyukai Buchou. Waktu itu saya sangat menyukai laki-laki berkacamata...]

Tezuka: Na... Naze?

Aiko: Shiranai yo. Demo, nando mo sonna otoko wo mitsumiteta ga hitotsu no kangaemasu wa 'kakkoii na otoko~'
[Gak tau juga. Tapi, setiap kali ngeliat laki-laki seperti itu, saya langsung berpikir 'kerennya cowok ini']

Tezuka: So... So datt yo... Hai', saigo no QUESTION ga... "Nani ga kanjimasu ga, TENIPURI wo shirimashita? skuni narimashita?"
[apa yang disarasakan setelah mengetahui TENIPURI? Menyukai TENIPURI?]

Aiko: Sore ga honto ni... tanoshiikatan' desu ga... Takusan no tomodachi ni narimasu.
[Sungguh menyenangkan, dan mempunyai banyak teman,]

Eiji: Jaa, INTERVIEW SESSION ga owarimasu! Arigatou ne, sensei~ buchou~

Aiko: Doumo~

Eiji: Dakara, RajiFict to iu koto de.

Tezuka: Fanfic ga otanoshimi ni kudasai!

Aiko: Sugi no FanFict ni mata aimasho!

Eiji-Aiko-Tezuka: Minna, Jaa nee~

~Closing: Yukimura Seiichi - Dahlia~

~OoOoOoOoO~~OoOoOoOoO~~OoOoOoOoO~

Title: Bitter and Sweet (Part2—Sweet)

Writer: Takigawa Aiko XD

Disclaimer: Opah Konomi yang begitu ingin saya berikan buket bunga sebesar itu~~ XD *nunjuk scene DL7th*

Theme Song: HY - 366 Nichi

Current mood: Ayo kooo~!

Note: Last chapter

Warning: Bahasa lebay~

OTANOSHIMI NI KUDASAI~!

~OoOoOoOoO~~OoOoOoOoO~~OoOoOoOoO~


Malam menjelang. Sinar mentari berganti dengan tarian angin dingin.
Bunta dilanda rasa kalut yang amat sangat. Disaat-saat seperti ini, ia ingin sekali berada di sisi Seiichi. Mendampinginya, dan berbagi rasa.

Diliriknya jam—sudah jam 8 malam. Akhirnya Bunta memutuskan untuk menelpon ponsel sang suami yang diyakini-nya satu-satunya hal yang menghubungkan Niigata-Kanagawamereka.

"Ya, Bun-chan, ada apa?" terdengar jawab Seiichi dari seberang dengan suara yang parau.
"Sei... chan?" perasaan itu kini memenuhi rongga dadanya.
"Kenapa Bunta sayang?" semakin Bunta mendengarnya, semakin besar perasaanya ingin bertemu dengan Seiichi.
"Ah, tidak... Sei-chan sudah tidur ya?"
"U-hum..."
"Ah! Maafkan aku. Aku pasti mengganggu istirahatmu,"
"Tidak. Tidak. Aku memang sangat ingin mendengar suara-mu..."

Seketika, Bunta melupakan tujuan utama-nya perihal beasiswa yang diterimanya.

"... Kenapa Bun-chan pulang tiba-tiba? Padahal, lama kita tidak bertemu, loh..."
Suara Bunta tercekat, airmata mulai menggenangi sudut matanya—ia tak tahu harus berbicara dusta atau jujur.
"Tidak. Saat itu, aku hanya terburu-buru untuk pulang saja. Rumah kita tidak ada yang menjaga,"

Dan Bunta memilih dusta...

"Ne, Sei-chan~ maafkan aku ya?" Bunta menjaga intonasi-nya—agar tak diketahui oleh sang suami kalau ia tengah menangis.
"Bagaimana aku bisa menyalahkan orang yang tengah menangis?"

—DEG!

Seiichi mengetahuinya.

"He? Apa maksud Sei-chan?" Bunta pura-pura mengingkarinya.
"Bun-chan kenapa? Kok sampai menangis? Ceritalah padaku..." pinta Seiichi.
Bunta hanya terdiam di ujung gagang teleponnya. Hatinya sakit memikirkan seluruh kejadian selama ini.
"Bun-chan sayang aku kan? Bun-chan akan membagi semuanya padaku kan?"

Namun kini, ia tengah tidak ingin membuat sang suami khawatir.

"Aku... aku terlalu kangen Sei-chan..." jawabnya terbata-bata.
"Aku juga kangen Bun-chan. Kita sama-sama saling merindukan, ne? Maka itu, jangan menangis lagi..."
"I... Iya..." Bunta masih menahan isakannya.
"Bun-chan kapan menjengukku lagi?"

Bunta langsung teringat ancaman Hiroko bahwa ia tak boleh menjenguk sang suami.

"Tapi..."
"Kenapa? Kaa-san ya?"
"Ung..."
"Kaa-san sudah pulang kok,"
"Lalu, bagaimana dengan gadis itu?"
"Sanako? Ia pun tak bisa selalu menemaniku di sini,"
"Jadi..."
"Aku ingin berduaan denganmu besok..."
"Aku... " Bunta bingung harus memberikan jawaban macam apa pada sang suami.
"Kenapa Bun-chan?"
"Ung... Baiklah. Besok, aku akan menemui Sei-chan..." akhirnya, Bunta mencoba menghapuskan ketakutannya terhadap ancaman sang Ibu mertua.
"Ne, Bun-chan..."
"Ya?"
"Aku mencintaimu..."

~OoOoOoOoO~

Esoknya Bunta memutuskan untuk membeli tiket kereta awal ke Niigata. Jauh. Memang. Tapi begitu membayangkan pertemuannya dengan sang suami, tidak ada lagi penghalang dalam langkahnya.

Dibelinya sebuket verbenna putih yang memiliki bahasa bunga "Berdo'alah untukku". Ditimangnya buket bunga tersebut sembari sesekali diciumi aroma wanginya yang tercampur embun pagi.

Bunta rela menaiki ratusan anak tangga menuju lantai 5, karena lift terdekat tengah rusak—dan harus mengitari bangunan rumah sakit untuk menemukan lift yang berfungsi.

Senandung kecil digumamkannya menuju ruang 6, walau nafasnya serasa tercekat karena anak tangga tersebut tak terkira jumlahnya.

"Sabarlah nak, hari ini, kita akan bertemu papa lagi," gumam Bunta pada anak yang tengah dikandungnya.

"Bunta?"

Bunta sontak menoleh pada suara yang memanggilnya sebelum langkahnya tiba dalam ruang 6. Dan sialnya, itu adalah Hiroko.

"Sedang apa kamu di sini?" dapat dipastikan wanita paruh baya ini mendekatinya dengan wajah yang... sinis.
"Bunta ingin menjenguk Seiichi, Kaa-san," jawabnya dengan sangat inosen. Tanpa tahun maksud yang tersembunyi dalam liarnya ilalang pagi.
"Kan sudah mama bilang, jangan jenguk Seiichi lagi. Kan ada kami di sini,"

Dan Bunta mengerti apa yang dimaksudkan dengan 'kami'—Ibu mertuanya dengan gadis yang bernama Sanako itu.

"Apa salahnya Bunta ingin menjenguk?" Bunta coba membenarkan diri sebagai seorang istri.
"Tidak perlu. Kau tinggal saja di rumah. Istirahat. Lagi pula, perjalanan Kanagawa-Niigata membutuhkan ongkos yang lumayan besar kan? Cobalah berhemat,"

Walau dengan kata-kata yang halus, tetap saja kalimat itu menorehkan luka di batin kecilnya.

"Baik, Bunta akan pulang. Tapi setidaknya, izinkan Bunta bertemu..."
"Mama bilang tidak perlu. Sekarang juga pulang,"

Ini rumah sakit—tempat yang terlalu sakral untuk menjadi arena perang mulut. Lagi, Bunta pulang tanpa bertemu sang suami.

"Bunta, pulang dulu, Kaa-san..."

~Sementara itu di Rumah Sakit Niigata~

"Seiichi, tidak kah kau bisa berhenti memperhatikan layar ponselmu?" pinta Hiroko kepada sang anak.
"Aku sedang menunggu telepon dari Bunta, Kaa-san," jawab Seiichi pendek. Cuek.

"Yukimura-sama, saatnya pemeriksaan," tiba-tiba seorang perawat datang membawa sebuah kursi roda—alat yang akan membawanya pergi keluar ruangan ini.

Dengan ogah-ogahan, Seiichi berusaha menuruni ranjang yang dibantu sang perawat bersama Hiroko.

Dan sesaat kemudian, ruangan hanya diisi oleh Ibu satu anak itu—Hiroko. Sendirian. Sejenak saja, kedua mata yang dilapisi lensa minus itu tertuju pada ponsel legam sang anak.
Diambilnya ponsel hitam metalik tersebut, dan dibuka flipnya dengan ujung jemarinya. Terlihatlah wallpaper foto sang anak bersama sang menantu—foto pernikahan mereka.

Ada perasaan kesal dalam hati wanita paruh baya ini. Di arahkannya pengaturan tersebut pada 'denial access'. Diketiknya nomor telepon rumah sang anak di Kanagawa.

Dengan begini, koneksi Bunta dengan Seiichi pun terputus tanpa perlu me-nonaktif-kan ponselnya—yang mungkin membuat Seiichi curiga.

~OoOoOoOoO~

Seperti malam-malam yang di hadapinya kemarin. Kegelisahan kembali menyelimuti hatinya sepulang dirinya dari Rumah Sakit Niigata. Bunta tak henti-hentinya berguling diatas kasur—gelisah. Ia berusaha menghubungi Seiichi melalui telepon rumahnya.
Namun anehnya malam ini, tak satupun panggilan darinya yang dijawab oleh sang suami—panggilan tidak aktif, menurut operator

"Ya tuhan... apa Sei-chan tertidur?" pikir Bunta sembari memberi jeda pada waktu untuk mempertemukannya dengan larut malam.

Jam sudah menunjukkan 10 malam. Sekali lagi Bunta mencoba menghubungi sang suami. Kembali ditekannya tombol 'redial'.

"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif..."

Bunta mengernyitkan dahinya. Apa Seiichi sengaja untuk tidak menerima telepon darinya? atau...

Bunta mondar-mandir menelanjangi seisi rumah dengan langkahnya. Resah dan gelisah mengisi relung hatinya yang sepi. Ia berusaha menyingkirkan pemikiran-pemikiran buruk tentang ditolaknya panggilan dirinya oleh sang suami. Juga perihal beasiswa yang harus diterimanya, ataukah dibuangnya...

いつしかあなたは会う事さえ拒んできて
[Sebelum aku mengetahuinya, kau sudah menolak untuk menemuiku...]

~Pertengahan Januari~

Sudah hampir seminggu sejak dirawatnya Seiichi di Rumah Sakit Niigata.
Dan sudah lima hari pula surat yang meminta konfirmasi dirinya untuk mengambil beasiswa itu berdatangan.
Bunta bingung. Tak dapat dirinya membuat keputusan sendirian.
Karena tidak ada hal lain yang dilakukannya di rumah, maka ia pun mencoba mendatangi almamater kampusnya.

"Masih seperti yang dulu," gumam Bunta.

Suasana Kampus yang rindang dengan payung-payung dedaunan hijau, cukup menenangkan hatinya.

"Maru-chan?" seseorang memanggil namanya ketika ia tengah mencumbu serpihan salju yang tersisa diujung kakinya.
Bunta mengenali orang itu—pria yang memanggil namanya.

Sejenak. Butuh beberapa detik dalam memori Bunta untuk menyusun ingatannya pada pemuda berambut perak tersebut. Calon ibu muda ini memicingkan matanya—berusaha kuat menyatukan ingatan dan penglihatannya.

"Masih ingat aku?" pemuda itu kini sudah berada 1 meter dihadapannya—begitu dekat.
"AH! Niou-kun!" Bunta menjerit kegirangan. bertemu dengan sahabat lama memang selalu membahagiakan.
Niou tertawa renyah. Begitu lucu melihat Bunta begitu excited.

"Apa kabar?" tanya Bunta.
"Baik. Kau sendiri?" Niou memegang kepala yang tertutupi rambut merah tersebut—masih lebih pendek 20 centi dari tubuh jangkungnya.
"Lumayan," jawab Bunta dengan senyumannya yang lebar.

Sejenak mereka saling mentertawai perubahan masing-masing. Dan Bunta, dapat terlarut dalam eforia bahagia, melupakan masalahnya sejenak.

"Tumben sekali kau ke kampus. Ada apa?" Di saat Bunta memutuskan keluar kampus begitu lulus, Niou masih saja melanjutkan studinya di fakultas yang berbeda.
"Ini..." Bunta menyerahkan amplop yang diterima pertama kalinya, "aku... datang karena ini..."

Niou meruncingkan alis kanannya—heran. Namun Ia memilih untuk membukanya daripada bertanya lebih lanjut.

"Kau... mendapatkan beasiswa ke New York?" Niou mulai menunjukkan wajah 'woot' nya.

Bunta hanya mengangguk. Sungguh, ini bukan 100 persen kebahagiaan untuknya.

"Selamat ya~"

Dan ia tidak butuh ucapan seperti itu.

"Kalau kau mau, ambil saja. Aku... tidak butuh," ujar Bunta begitu saja. Seakan, tidak begitu berharganya beasiswa dua tahun ke negeri orang tersebut.
"HEE?" dapat dipastikan jika Niou membelalak tak percaya dengan apa yang didengarnya, "sunguh kau tidak mau? Padahal kita berdua ikut ujian-nya kan?"
Bunta menggeleng pelan, "sekarang tidak. Aku tidak menginginkannya,"
"Kau pasti sedang ada masalah..." Niou memandang sahabatnya itu sedih. Iba.

"He? Apa maksudmu?" Bunta coba berkilah dari Niou.
"Kita bersahabat sedari awal kuliah, Maru-chan... Aku tahu seribu-satu mimik wajahmu dengan perasaanmu,"
Bunta memalingkan wajahnya sembari mengigit bibir bawahnya—bingung.
"Ne, ceritakanlah padaku..."

一人になると考えてしまう
[Aku pikir, aku sudah ditinggal sendirian...]

~Rumah Sakit Nigata, 02.00 p.m.~

"Perkembangan kesehatan Seiichi-kun, sudah membaik. Sembuh. Hari ini, anak anda diperkenankan untuk pulang,"

Seiichi mendapatkan izin untuk kembali pulang. Sudah 6hari dirinya dengan sabar menunggu waktu untuk bertemu sang istri.

"Kok, telepon rumah tidak diangkat ya?" keluh Seiichi sembari terus menghubungi Bunta melalui ponsel yang telah di sabotase sang Bunda.
"Untuk apa sih kau terus menghubungi istrimu itu?" tanya Hiroko sinis.
"Seiichi minta dijemput Bunta, kaa-san,"
"Aku pun bisa mengantarkanmu ke Kanagawa,"
"Tidak, ini aneh Kaa-san. telepon rumah sama sekali tidak diangkatnya. Sejak 5 hari yang lalu bahkan,"
"Sedang keluar jalan-jalan kali," tuduh Hiroko sembari membereskan barang-barang sang anak.

Seiichi hanya bisa mendesah pendek mendengar perkataan Ibunya itu. hatinya kini bimbang. Apa benar Bunta tengah bersenang-senang saat dirinya terkekang ditempat macam rumah sakit?

~Kanagawa 07.00 p.m.~

Pada akhirnya, Bunta menceritakan keresahannya selama ini. Memang teman curhat-lah yang selama ini dibutuhkannya—semenjak Seiichi mulai jarang di sisinya.

"Maru-chan~ maafkan aku... aku mengerti kesedihanmu... tapi... aku hanya tidak tahu apa solusi yang harus diberikan..." Niou menggenggam kedua tangan sahabatnya—menyemangatinya untuk tidak menyerah.
"Ne, tidak apa-apa..." Bunta menghapus titik-titik air mata yang mulai tergambar di sudut matanya, "aku hanya butuh tempat curhat,"

Niou tersenyum sedih. Miris hatinya melihat senyum sang sahabat hilang dari wajah tembemnya.

"Saa, mari kita pulang. Sudah malam," Niou menggeret kunci mobil yang ditaruhnya diatas meja.
"Ah! Iya! Aku akan kehabisan tiket kereta!" pekik Bunta panik.
"Tidak usah. Aku yang akan mengantarmu sampai rumah,"
"Tapi..."
"Ayolaahh~~ Sudah lama kita tidak bertemu," senyum Niou, "lagi pula, tenang saja, aku tidak akan macam-macam denganmu~" goda Niou.
"NI-OU~! BUKAN ITU MAKSUDKU~!" DX

~Disaat yang sama~

"Tuh kan, sudah mama duga istrimu tidak ada di rumah," cibir Hiroko saat mereka turun dari taxi yang mengantarkan mereka ke rumah dari stasiun.
Seiichi hanya terdiam. Di hatinya mulai tumbuh seribu curiga terhadap sang istri.

"Lihat saja, Ia pasti pulang malam dengan seorang cowok ke rumah. Pasti,"

Seiichi terus terdiam. Diabaikannya sang Bunda yang tengah sibuk meletakkan barang bawaannya.

"Mama pulang dulu. Masih ada urusan lain. Kau, istirahatlah," Hiroko memberesi dirinya untuk kembali pergi, "dan... jangan terlalu banyak berharap dengan istrimu itu,"

今はただあなたあなたの事だけで
[Sekarang pun tentang dirimu, hanya dirimu...]

Jam menunjukkan pukul 8 ketika mobil Niou tida di hadapan rumah Bunta.

"Ne~ terima kasih sudah mengantarkanku pulang," ucap Bunta melalui jendela seberang tempat duduk Niou.
"Bukan apa-apa. Lain kali, berceritalah padaku jika ada masalah. Kali ini, aku pasti akan membantumu,"
"Terima kasih atas kebaikanmu,"
"Saa ne, selamat malam~"
"Hati-hati ya..."

Bunta melambaikan tangannya pada figur mobil hitam yang menghilang di pekatnya malam yang berhiaskan lampu seadanya.

"Bun-chan?" seribu satu perasaan menari dalam hatinya begitu melihat apa yang seperti Ibunya katakan padanya—Bunta pulang dengan seorang laki-laki lain.

Bunta langsung menoleh pada suara yang begitu dikenalinya. Pada panggilan yang hanya dimilikki satu orang—Seiichi.

"Sei-chan?" Bunta menatap tak percaya kepada sang suami yang tengah berdiri di muka rumah mereka. Inikah ilusi atau... fatamorgana perasaannya?

Bunta meniti langkah mendekati sang suami. Disentuhnya lengan baju sang suami. Ya, ia dapat merasakan serat-serat kain yang mencumbu ujung jemarinya. Seiichi dihadapannya bukanlah ilusi.

"Tadi siapa?" tanya Seiichi dengan nada curiga. Ia langsung bertanya tanpa sempat menanyakan kabar 7 hari sang istri yang ditinggalkannya.
"Tadi itu teman kuliahku," jawab Bunta ragu. Seperti bukan Seiichi jika didengar dari nada bicaranya.

Seiichi agak berbeda malam ini.

"Jadi dia yang menyebabkanmu 6 hari tidak datang menjengukku?"

Bunta sontak mengangkat pandangannya menatap mata sang suami—mencari alasan mengapa sang suami menjadi begitu dingin malam ini.

"Maksudmu?" Bunta benar-benar tak mengerti.
"Aku menunggumu di rumah sakit! 7hari tanpa kedatanganmu itu rasanya sangat sepi. Tapi kenapa kau menghabiskan 7 hari dengan dia?"
Bunta terhenyak dengan perkataan sang suami, "baru hari ini aku bertemu dengannya! Dan aku sama denganmu! Tak bisa bertemu..." dari intonasi tinggi diawal kalimat, Bunta merendahkan suaranya—menahan isak tangis. Tak percaya Seiichi memvonisnya berselingkuh walau tak secara langsung. Ingin sekali ia menyampaikan apa yang terjadi saat ia kembali ke Rumah Sakit Niigata—saat Hiroko mengusir dirinya mentah-mentah. Namun seperti ada isyarat untuk tidak menyeret sang Ibu mertua masuk kedalam pertengkaran mereka malam ini. Takut-takut hanya membesarkan masalah saja.

Dan karenanya, ini menjadi sangat menyesakkan, dan menyakitkan.

"Sudahlah, lebih baik kau masuk ke dalam. Semakin dingin di luar," Seiichi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia menghentikan pertengkaran begitu saja—meninggalkan Bunta yang belum tuntas.
Namun ini serasa Bunta enggan masuk. Ia ingin menyelesaikan semuanya sekarang.
"Masuklah. Aku ingin mengunci pintunya,"

Bunta pun terpaksa masuk kedalam rumah mungil mereka.

Semalaman itu, Seiichi hanya berdiam diri terhadap sang istri. Bunta yang sedari tadi ingin menghujaninya dengan macam-macam pertanyaan, kini hanya bisa memendamnya dalam hati. Bahkan curahan kasih sayang yang hendak dilimpahkannya pun tertahan.

Ini semua karena atmosfir aneh diantara mereka.

Setelah selesai membereskan dapur, Bunta melangkahkan kakinya ke dalam kamar tidur. Dilihatnya Seiichi yang sudah tertidur—tidak seperti biasanya yang selalu menungguinya untuk tidur bersama.

"Mungkin lelah," pikir Bunta menyingkirkan prasangka-prasangka buruk dari jalinan akal sehatnya.

Seharusnya terasa hangat.
Seharusnya terasa menyenangkan.

Seharusnya...

でもこの涙が答えでしょう?
[Tapi airmata ini adalah jawabannya, bukan?]

Bunta bangun di pagi yang cerah. Cukup hangat untuk ukuran musim dingin. Pagi yang biasa. Wangi salju yang mendingin, dan sapaan angin pagi yang membuat gorden kamar mereka menari. Meliuk-liuk manja dengan sinar matahari. Namun ada satu kejanggalan yang didapati oleh Bunta—Seiichi tidak lagi ada di sisinya seperti malam tadi.

Tanpa melakukan upacara bangun pagi—nguap dan ngulet, Bunta langsung berlari menuruni anak tangga menuju dapur. Dan yang dilihatnya hanyalah piring dengan remah roti panggang yang hangus, dan sisa kopi dicangkir sang suami—Upacara sarapan telah usai tanpa dirinya dan seiichi pergi entah kemana.

Bunta hanya bisa melangkah gontai menghampiri meja makan yang telah sepi itu. Didapatinya secarik kertas tengah yang ditindih oleh cangkir kopi krem tersebut.

"Aku akan ada di Chiba—rumah sang mertua—hari ini, untuk menenangkan diri..."

Bunta kalut. Baru kali ini Seiichi 'melarikan diri' dengan masalah yang belum usai. Seribu satu kemungkinan buruk menghiasi pemikirannya. Sampai akhirnya ia mengambil pikiran terpendeknya—lari menuju stasiun untuk menyusul sang suami yang dikiranya belum terlalu lama.

Dengan pakaian tidur, dan uang seadanya, ia menaiki taksi untuk sampai ke stasiun. begitu melelahkan saat langkahnya harus berlomba dengan waktu.

'Yokohama-Chiba 08.30 a.m.'

Dilihatnya table-schedule yang terpampang begitu ia memasuki stasiun.
Segera ia menuju veron yang akan mengantarkan sang suami ke Chiba. Namun tidak ditemukannya sosok berambut biru ikal Seiichi dalam waktu yang kian menghilang ini.

Putus asa. Bunta coba menelpon ponsel sang suami menggunakan telepon umum yang kebetulan ada didekatnya—. Dengan beberapa recehan yang tersisa, ia memasukkan koin-koin tersebut dan menekan tombol angka-angka yang menghubungkan dirinya dengan Seiichi.

~Sementara itu, di salah satu sudut stasiun~

Seiichi tengah menunggu keberangkatan kereta. Bosan. Berkali-kali dilihatnya jam yang menunjukkan waktu Kanagawa.

—DRRTT~ DRRTT~

Lalu ponselnya menjawab keheningan stasiun pagi ini.

"Ya, dengan Seiichi,"

Dan kali ini mereka terhubung.

"Seiichi, ini aku..." jawab Bunta dengan nafas yang tersisa.
"Bunta?" ia tak lagi memanggil sang istri dengan ucapan sayangnya.
"Sei-chan, mengapa kau pergi dari rumah?"

Sejenak terdengar hening diantara mereka—Seiichi terdiam.

"Aku ingin menangkan diriku dulu,"
"Tanpa menyelesaikan masalah diantara kita?"
"Inilah yang terbaik untuk saat ini,"
"Tapi..."
"Tolong, biarkan aku sendiri untuk beberapa saat ini..."
Dan sambungan diantara mereka pun terputus.

Bunta hanya bisa bersandar pasrah. Perlahan kakiknya tak terlalu kuat untuk menopang berat tubuhnya. Ia terkulai di bawah box telepon.

Ingin sekali menangis rasanya...

叶いもしないこの願い あなたがまた私を好きになる
[Harapanku takkan terkabul kalau kau akan mencintaiku lagi...]

"Aku memutuskan untuk kuliah ke New York," ujar Bunta yang disambut 'HEE' panjang Niou.
"Tanpa persetujuan dari suami-mu? Ini gila,"
"Kemungkinan besar kita akan bercerai,"

Pernyataan terakhir Bunta membuat satu tegukan kopi pagi Niou muncrat dan mewarnai meja kafe.

"Atas dasar apa kau mengatakan hal itu?" Niou mengelap mulutnya dengan tissue yang selamat dari semburan kopi hitamnya.
"Secara logika saja. Mertuaku sangat membenci diriku, dan kini, Seiichi milikki satu-satunya telah dipengaruhi olehnya," ujar Bunta sedih.
"Nee, sekarang kau memiliki aku yang siap mendengarkan ceritamu," Niou menepuk-nepuk bahu kecil Bunta.

Sejenak Bunta melirik sahabatnya itu.

"Kau memang pengertian," senyum kecilnya mengembang. "Mohon bantuannya ya, untuk mengantarkan ku ke New York,"

~Awal Februari~

Adalah waktu yang ditetapkan pihak universitas untuk mengirim Bunta ke salah satu Universitas terkemuka di New York.

"Hee? Kau ingin pergi ke New York?" ujar Fujiko kaget saat tetangganya ini—Bunta—menitipkan kunci rumah pada dirinya.
"Iya, aku akan kuliah di sana," Bunta tersenyum miris, "mungkin takkan kembali untukwaktu yang lama.
"Lalu, bagaimana dengan suami-mu...?"

Bunta melepas nafas berat, "kami sedang bertengkar. Dan... aku tak mengerti akan seperti apa jadinya..."
"Nee... nee... pasti berat ya," Fujiko tak bertanya lebih lanjut—takut membebani Bunta.
"Jaa, kalau Sei-chan pulang ke sini, tolong berikan ia kunci ini, dan katakan jika aku pergi ke New York,"
"Baiklah. Kalau begitu... hati-hati... Cepatlah pulang ya,"
Bunta mengangguk.

~Chiba hari yang sama~

Sudah 3 hari sejak perpisahan mereka. Sesungguhnya Seiichi pun merasa berat untuk meninggalkan sang istri. Namun kenyataan dihadapan matanya malam itu, membuat pikirannya kusut. Ia butuh penenangan diri.

"Kau mau makan siang?" tawar Hiroko pada sang anak yang tengah menatap langit biru melalui beranda rumah.
Seiichi hanya menggeleng pelan—tanda penolakan.
Ditimang-timang ponsel hitamnya. Ternyata Bunta sama sekali tak menghubunginya.

Tergerak hatinya untuk menelpon sang istri duluan. Ia pun mulai mencari nomor telepon rumahnya melalui kontak person yang tersimpan dalam ponselnya.

Setelah dicoba menghubungi, namun sama seperti hari itu—tak terhubung. Aneh. Ia pun iseng-iseng membuka pengaturan panggilannya dan secara tidak sengaja, ditemukannya nomor telepon rumahnya di list 'denial access'

Seiichi terperanjat. Inilah penyebab utama mengapa Bunta dan dirinya tak terhubung. Ia bingung mengapa nomor penghubung dirinya dengan Bunta itu bisa sampai masuk denial access?

Tanpa menjawab kecurigaan yang sesungguhnya telah ditanamkan pada ang Bunda, Seiichi bergegas keluar rumah. Pulang. Tak mempedulikan teriakan Hiroko yang berkali-kali menanyakan arah tujuannya ke luar rumah.

Hari ini pun, ia ingin menyelesaikan semuanya.

~OoOoOoOoO~

"Hanya segini saja?" tanya Niou setibanya mereka di terminal keberangkatan internasonal.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Ini terlalu..." dilihatnya hanya satu tas besar berisi baju-baju Bunta saja, "...sedikit,"

Bunta tertawa menanggapi pernyataan sahabatnya itu.

"Sudahlah, ayo kita ke ruang tunggu,"

~OoOoOoOoO~

"Kuliah? Ke New York?" pekik Seiichi ketika Fujiko membeberkan alasan Bunta menghilang dari rumah mereka setelah dirinya menggeber 2 jam perjalanan Chiba-Kanagawa.
"Iya, dan ia... menyerahkan ini padaku..." Fujiko mengulurkan sebuah kunci rumah dan sebentuk lipatan kertas putih, "hanya itu..."

Denagn tergesa-gesa, dibukanya kertas yang Seiichi klaim itu adalah surat.

"Sei-chan...

Maaf jika aku tidak menyambut kepulanganmu kali ini. Aku... memutuskan untuk mengambil beasiswa ke New York. Beasiswa yang telah mempertemukan kita, dan kini memisahkan kita.

Satu hal yang inginku kau ketahui, aku selalu ingin bertemu dirimu dirumah sakit. Setiap hari. Pulang-pergi pun akan kujalani. Namun Ibumuselalu melarangku. Selalu menghalangi kita. Itulah fakta yang kupendam selama ini, Sei-chan.

Untuk itu, tak sekali pun aku pernah mengkhianatimu karena kau adalah satu-satunya laki-laki yang mengisi hatiku. Niou hanya sahabat. Ia tak bisa dan tidak sepadan untuk menggantikanmu di sisiku.

Aku terima apapun keputusanmu...

Istrimu,
Bunta

P.S. Sei-chan, selamat, kau sudah menjadi papah. Semoga kali ini ia lahir dengan selamat..."

戻れないと知ってても 繋がっていたくて
[Tidak dapat kembali pun tak apa, aku hanya ingin kita saling terhubung...]

Jika ia seorang wanita, Seiichi ingin menangis sejadi-jadinya. Namun itu hanya menghabiskan waktunya.

"Kapan Bunta berangkat?"
"Baru saja pagi ini,"

Tanpa pamit—terlebih mengucapkan 'terima kasih atas informasinya', Seiichi melesat memacu langkahnya ke air-port. Kali ini, ia yangharus melangkahi waktu.

~Narita Airport~

Bunta terduduk diam memandangi sekitarnya. Sendiri. Niou tengah membelikannya beberapa makanan kecil untuk sekedar pembunuh sepi dan bosan menunggu waktu keberangkatan.

Langit hari ini begitu biru. Mengingatkannya pada sang suami yang memiliki rambut dengan warna yang sama—namun lebih gelap.

"Lama menunggu ya?" Niou membuyarkan kenangan yang tengah dijalin Bunta di kanvas langit biru tersebut.
"Ah, tidak," Bunta tanpa ragu menerima segelas kopi dingin yang disodorkan pemuda berambut perak itu.
"Ne, keberangkatan 30 menit lagi,"
"Yah, apa boleh buat..."

今日もあなたに会いたい
[Hari inipun aku ingin bertemu denganmu...]

"Maaf, kapan penerbangan ke New York akan take-off?" tanya Seiichi pada Receptionist yang langsung ditemuinya begitu melangkahkan kaki di terminal keberangkatan Internasional.
"Yang terakhir sudah berangkat 2 jam lalu," jelas si receptionist.

Seiichi sudah menunduk pasrah. Jantungnya terlalu cepat memompa, dan kengataan melumpuhkan syarafnya, "ada penerbangan dalam waktu dekat ini?"
"Oh, ada. akan take-off sekitar 15 menit lagi,"

"Bunta kumohon, apapun yang terjadi, tunggu aku..."

~OoOoOoOoO~

"Penerbangan ke New York akan take-off dalam waktu 15 menit lagi. Para penumpang dipersilahkan ke gerbang pemeriksaan untuk menaiki pesawat. Flight to New York will be take-off in..."

Terdengan announcement yang menandakan Bunta untuk berpisah pada Kanagawa.

"Saa, aku pergi dulu," Bunta menoleh pada sahabatnya itu.
"Hati-hati ya,"

-Saat itu Seiichi-

Ia putus asa. Announcement telah berkumandang (adzan kale~) namun ia belum menemukan sang istri—wanita berambut merah itu.
Dikitarinya ruang tunggu penerbangan ke NewYork. Namun ia tak menemukannya.

Bunta bangkit menjinjing tas nya, "terima kasih atas bantuannya selama ini,"

"Aku pergi dulu,"

"BUNTA!"

Bunta langsung menoleh pada suara yang memanggilnya.

Betapa terkejutnya Ia menemukan sosok Seiichi dibelakang nya sejauh 20 meter.
Bunta shock. Terdiam. Entah ia harus bahagia, ataukah...
Entahlah. Yang dihadapannya kini Seiichi yang mencintainya atau tidak.

"BUNTA JANGAN PERGI!" Teriak Seiichi lagi. Sontak seluruh penumpang yang hendak ke gerbang pemeriksaan, menoleh padanya.
Namun Bunta tak peduli. Saat ini hanya kata-kata itu yang ingin sekali di dengarnya.

Bunta tersenyum menahan tangis. Dan Seiichi membuka kedua tangannya lebar-lebar~OoOoOoOoO~mengijinkan Bunta kembali masuk dalam pelukannya.

Tanpa peduli apapun lagi, Bunta langsung berlari menuju sang suami—tempatnya berpulang.

Sesungguhnya, sejak langkah pertama yang diambilnya, Bunta sudah merasakan sakit pada perutnya. Namun itu tidak sebanding dengan apa yang dirasakannya saat melihat sang suami ada dihadapannya.

Dan dengan satu langkah terakhir, Bunta langsung jatuh dalam pangkuan sang suami.

"Bun-chan?" Seiichi menampakkan wajah kesedihannya. Dilihatnya wakah sang istri yang begitu pucat, "kau... tidak apa-apa?" tanya Seiichi panik. Sepanik-paniknya.
"Aku baik-baik saja kok..." Bunta menyusun kata-katanya dalam nafas yang semakin pendek, "melihatmu yang sekarang... aku baik-baik saja,"

Sesaat kemudian, Bunta terkulai dalam pelukan Seiichi.

"Bun-chan?"

~OoOoOoOoO~

"Sayangnya, hanya ada tumor jinak yang tumbuh vili korionnya, indung telur," jelas sang dokter di saat Bunta tengah diperiksa.

Bunta langsung dilarikan ke klinik terdekat begitu Seiichi melihat darah mengalir mewarnai rok putih yang dipakai sang istri.

"Tidak ada... janin?" tanya Seiichi tak percaya.
"Ada, namun ia gagal berkembang karena tumor yang ada,"

Seiichi menunduk pasrah. Kenyataan ini sangat menyakitkan.

"Mola Hydratidosa. Kasus kehamilan yang gagal pada 15 persen wanita produktif di Amerika, dan 20 persen wanita produktif di Dunia,"

"Dapatkah di sembuhkan?" Seiichi meminta secercah harapan.
"Bisa. Dengan mengangkat rahimnya,"

Dan itu jawaban terburuk.

"Jika tidak, maka ia akan terus kehilangan darah setiap kali mengandung, karena tidak memungkinkannya janin berkembang dalam rahim,"

Seiichi tak dapat menggambarkan penderitaan sang istri selama ini. Ia pasti sangat menderita.

"Pikirkanlah itu baik-baik,"

恋がこんなに苦しいなんて
[Mengapa cinta ini begitu menyakitkan?]

Bunta terbangun dengan langit-langit putih diatas kepalanya.
Begitu blur dengan pandangannya sekarang.
Sebelum ia mem-flashback apa kejadiannya, Bunta sudah mendapati sang suami tertidur di sisinya. Menggenggam tangannya.

"Bun-chan?" Seiichi langsung memanggil sang istri begitu kesadarannya pulih.

Dapat terlihat airmata yang telah kering menghiasi pipi sang suami—Seiichi menangis untuknya.

"Sei-chan..." suara Bunta melemah. Ia hanya mampu berbicara melalui tatapan matanya pada sang suami.
"Ya, kenapa Bun-chan?" Seiichi semakin menggenggam erat kedua tangan sang istri.
"Dingin..." Bunta menggigit bibir bawahnya untuk menghentikan gemeletuk giginya.
"Aku di sini, Bun-chan, berjuanglah..."

Nafas Bunta semakin tak beraturan. Dan itu membuat Seiichi panik.

"Bun-chan, maafkan aku... maafkan aku..." Seiichi terus menciumi tangan sang istri yang ada dalam genggamannya.
"Tidak... aku yang meminta maaf..." Bunta mengalirkan secercah cahaya bening dari kedua matanya—ia menangis, "maafkan aku yang tidak sempurna untukmu..."
Seiichi menggelengkan kepalanya, "tidak... Bunta itu terlalu sempurna untukku..."

Bunta tersenyum miris. Bahagianya ia bersama sang suami di saat-saat seperti ini.

"Sei-chan... Aku sangat mencintaimu... Terima kasih selalu di sisiku... sekali lagi... maafkan aku..."

Dan sesaat kemudian detektor jantung menunjukkan sebuah garis lurus. Dan airmata terakhir pun menetes...

恋がこんなに悲しいなんて
[Mengapa cinta ini begitu menyedihkan?]

Seiichi memandang langit biru diatas kepalanya.

"Bun-chan... langit hari ini begitu biru ya?" diletakkannya Lily putih kesukaan sang istri di atas nisannya...

あなたは私の中の忘れられぬ人 全て捧げた人
[Kau adalah seseorang dalam diriku. Orang yang tak terlupakan. Orang yang kuberikan segalanya...]

~OoOoOoOoO~~Owari~~OoOoOoOoO~

Aiko no Koto:

Minna, nyaa~! Atashi ga dekita! Fyuuhh~~ Akhirnya ilmu kedokteran saya sedikit terpakai. Heheh.

Bagaimanakah ceritanya? Maaf kalo jelek, karena saya pun berlomba dengan waktu dalam membuatnya. Heheheh

Mengenai hari ini, saya mengucapkan banyak terima kasih pada pembaca yang telah mengingat ulang tahun saya. Arigatou so much, aku sayang kalian. Tapi maaf, saya masih amatiran. heheh... Sampai sini pun saya masih berusaha. Maka itu

MOHON BANTUANNYA!

Selamat dinikmati, dan... Happy Reading~

P.S. Sanako = Sanada, Hiroko = Hiroshi (well, kenyataan memang gak menyenangkan sih~)

~aikocchan