Disclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine and I'm sure you've known it.
Warning : Ngaco, membosankan, hiperbola, OOC, dan... ehem... FemSeth.
Langit gelap, malam telah tiba, seperti apa yang terus terulang setiap hari. Dan sama seperti sebelumnya, tidak ada hal aneh yang terjadi. Cahaya Tsukuyomi menyinari tanah yang gelap. Angin dingin berhembus, membuat dedaunan pepohonan bergoyang seakan sedang menari. Malam terlihat begitu tenang, tetapi juga terasa angker.
Jauh merasuk ke dalam hutan, seseorang berdiri di ujung jurang. Lelaki berambut gelap dengan poni pirang, sama seperti dirinya. Lelaki itu memakai jubah berwarna hitam panjang sampai ujung kaki. Awan yang menutupi bulan perlahan menyingkir karena tertiup angin, membuat sinarnya memperjelas wajah lelaki itu, memperjelas ciri-cirinya. Kedua mata berwarna violet yang memikat itu terlihat jauh, tatapannya tersirat rasa sepi, kesedihan, dan penderitaan. Terlihat sangat menyakitkan.
Pandangannya beralih ke bulan purnama, dengan mata yang mengandung arti, walau tak seorang pun tahu apa yang dipikirkannya. Dia terasa seperti bukan manusia, begitu di luar jangkauan. Misterius, tapi juga berkharisma. Terus menatap rembulan dalam waktu yang lama, dengan kesedihan memenuhi wajahnya. Senyum lirih tersungging di bibirnya.
JUNE 2019
THE DREAM
Kedua mata berwarna crimson tersentak terbuka. Mimpi itu lagi. Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa yang dia lakukan di sana? Kenapa lelaki itu begitu sedih setiap kali dia memimpikannya? Dan kenapa dia merasa bahwa lelaki itu bukanlah manusia? Pertanyaan-pertanyaan berputar di dalam pikiran gadis yang perlahan terbangun duduk di atas ranjangnya. Akhir-akhir ini dia selalu mendapat mimpi yang aneh itu. Lelaki dalam mimpinya terlihat sangat kesepian, dan juga... menakutkan.
Dia memindahkan pandangannya menuju jendela yang terbuka. Angin malam terasa menusuk kulitnya yang gelap. Dia mengangkat sebelah alis. Aneh, batinnya bingung, rasanya aku sudah menutup jendela. Dia berjalan limbung ke arah jendela yang terbuka lebar itu.
Dia berdiri di jendela itu. Angin lembut menyibakkan rambut panjangnya yang memiliki tiga warna. Malam begitu gelap, tak ada bintang yang terlihat, hanya bulan purnama yang terlihat mencolok di tengah kekosongan langit malam. matanya bergerak menyelidiki sekelilingnya. Para satpam patroli seperti biasanya, tak ada yang menarik. Dia sendiri lagi, sama seperti hari-hari sebelumnya. Orangtuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka untuk memperhatikannya. Walau dia telah terbiasa, tapi tetap saja terasa menyebalkan.
Atem Bakura, tinggal di rumah yang besar dan luas ini bersama dengan orangtua, kakak, dan para pembantu serta satpam yang dipekerjakan oleh mereka. Pamannya pun tinggal di sini, sebelum beliau meninggal. Tidak ada yang mengetahui bagaimana beliau meninggal. Ada yang mengatakan bahwa beliau meninggal karena kanker darah. Dia bisa mengingat saat-saat ketika mendengar pamannya meninggal, dia terus menangis selama beberapa hari. Pamannya sangat baik padanya, begitu juga kakaknya, Ryo Bakura. Dan dia sangat mencintai mereka berdua.
Dia sangat menyukai malam ini, angin yang lembut membuatnya sempurna. Desahan keluar dari mulutnya. Dinginnya malam ini benar-benar menggambarkan emosi yang melanda dirinya saat ini; kesepian. Seperti bulan purnama di langit sana, sendirian menyinari gelapnya bumi, tanpa adanya bintang yang menemaninya.
Perbedaan antara dia dan bulan... mudah saja. Bulan dikagumi begitu banyak orang, sementara dia, tak seorang pun menginginkan dirinya, atau begitulah yang dia pikirkan. Dia terus menatap bulan itu, entah mengapa sangat menenangkan. Mungkin ini maksud orang-orang katakan mengenai kekuatan bulan yang misterius.
Sekilas gambaran tentang mimpi yang dialaminya tersirat di pikirannya. Mimpi itu juga diterangi bulan. Siapapun lelaki itu, sepertinya melihat bulan yang sama dengan dirinya lihat – walau dia tidak tahu di mana lelaki itu berada. Hal itu membuatnya merasa sangat dekat dengannya. Memang aneh, tetapi secercah kebahagiaan melewatinya. Bisa jadi lelaki itu sama sepertinya? Kesepian dan sendiri? Akankah dia bertemu dengannya? Kenapa dia merasa seperti ini, merasa bahagia ketika mengetahui bahwa lelaki itu menatap bulan yang sama dengan yang dia lihat? Perasaan macam apa ini? Ini... aneh. Dia ingin bertemu dengannya.
Angin berhembus menyapu kulitnya. Seharusnya dingin, tetapi angin ini terasa hangat, benar-benar aneh. Hanya dengan memikirkan lelaki itu saja membuatnya merasa seperti ini, terbungkus oleh kehangatan. Dia menjitak kepalanya sendiri. Dia benar-benar aneh malam ini, menyesallah dia karena menonton drama jadul sebelum tidur. Dia melihat sekilas ke arah jam, jarum menunjukkan pukul 12.30 malam. Dia harus segera tidur jika tidak ingin terlambat sekolah besok. Meninggalkan jendela tetap terbuka, dia naik ke ranjangnya dan perlahan tertidur.
###
Gadis itu tersentak terbangun. Tubuhnya dibanjiri keringat dingin, nafasnya memburu, gemetar dengan kepala yang terasa berat. Dia tidak tahu apa yang merasukinya. Dia bermimpi buruk, sangat menakutkan. Dia masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Mimpi itu sangat mengerikan...
Angin berhembus menyapu wajahnya, sementara dia melihat bintang dari atap. Senyuman lebar terlihat di bibirnya. Suasana begitu tenang, sampai tiba-tiba bintang-bintang tertutup awan gelap, dan bulan purnama menjadi berwarna merah seakan terlumuri oleh darah.
Sesosok bayangan melompat di hadapannya, membelakangi bulan merah. Kedua mata gadis itu melebar ketika bahwa yang ada di hadapannya adalah lelaki yang selalu menghantui mimpinya. Dia mengamatinya seksama. Lelaki itu berbeda, terlihat begitu... bernafsu.
Atem menatap matanya dan apa yang dia lihat membuatnya syok. Iris berwarna scarlet yang cantik bercampur dengan ungu muda dan ribuan bayangan berbeda dari warna yang sama, tercampur ke dalam sepasang mata mempesona yang biasanya berwarna violet.
Lelaki itu kemudian berlari melewatinya, membantai seluruh orang di rumah. Dia terbelalak syok melihat itu semua, tubuhnya tak bisa digerakkan. Dia menjerit sekerasnya, memecah keheningan di dalam rumah yang gelap itu.
Sepasang mata merah darah teralih menuju dirinya, menatap penuh nafsu. Tubuh kaku kakaknya yang dia cengkeram, dia lempar seperti seonggok sampah. Lelaki itu berjalan perlahan ke arahnya. Senyuman licik penuh nafsu tersungging.
Dia menjulurkan tangannya pada gadis yang terbelalak syok, mengelus pipinya dengan buku jarinya secara perlahan, lalu memegang dagunya, mengadahkannya seperti ingin mata gadis itu menatap matanya. Menikmati apa yang dilihatnya, rasa takut dari sepasang mata crimson gadis itu. Dia menyeringai, memperlihatkan taring putih yang tajam.
Perlahan, dia menundukkan kepalanya. Wajahnya semakin mendekati wajah gadis itu. Ekspresi Atem semakin syok ketika merasakan bibir lelaki itu menempel di bibirnya, membuka mulutnya, memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya. Sebelah tangan mencengkeram pinggangnya, sementara yang sebelahnya lagi menekan kedua tangan gadis itu di atas kepala.
Atem berusaha memberontak, tetapi cengkeraman di tubuhnya semakin mengetat, membuatnya terkesiap sakit. Lelaki itu mundur, menatap mata berkabut gadis di tangannya, menundukkan kepalanya, membuat Atem bisa merasakan nafasnya di leher dan bahunya, sebelum...
Atem tak sanggup mengingatnya lagi. Benar-benar pemandangan yang mengerikan, dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia mencoba menenangkan diri, melirik ke arah jam. Helaan nafas keluar dari mulutnya, dia bangun 30 menit lebih awal dari biasanya. Dia beranjak dari ranjangnya, menggosok matanya setelah menguap lebar.
Kedua kakinya membawanya menuju kamar mandi yang berada di ujung kamarnya. Dia melakukan tugas rutinnya (gosok gigi, mandi, blah blah blah). Rambutnya dikuncir high-ponytail. Mengambil tasnya sebelum keluar kamar dan turun menuju ruang makan.
Ruang makan merupakan salah satu dari sekian banyaknya ruangan yang sia-sia, walau ruangan itu sangat indah. Meja panjang berselimutkan taplak putih yang cukup untuk 20 orang terletak di tengah ruangan. Sisi ruangan dihiasi lemari yang penuh dengan peralatan dari perak. Lampu kristal menggantung, menghiasi ruangan. Benar-benar keterlaluan untuk ruangan rumah yang hanya dihuni satu keluarga berisi empat orang. Bahkan para pembantu tidak diperbolehkan makan di sana.
Yah... inilah kehidupannya. Dia tidak bisa protes. Sebagai ganti kemewahan ini, orangtuanya tidak pernah memperhatikannya. Mereka seperti lupa padanya. Kecuali kakaknya, tentu saja. Orangtuanya sangat memperhatikan kakaknya. Atem bersyukur memiliki Ryo sebagai kakaknya. Kakak yang lebih tua empat tahun darinya itu sangat baik padanya.
Walau hampir semua orang menganggap bahwa dia beruntung tinggal di dalam segala kemewahan ini, jujur saja, dia sangat muak. Dia sangat ingin keluar dari tempat terkutuk ini.
Ke sekolah pun begitu, dia diantar dengan limusin. KE SEKOLAH!! BAYANGKAN! Cuma ke sekolah saja dia harus seperti selebritis hollywood yang mengunjungi premiere film. Dia bersikeras ingin ke sekolah jalan kaki, tetapi orangtuanya tidak pernah mau mendengarkannya, dan yang paling menyebalkan, kakaknya pun tidak setuju karena takut dia mungkin akan diculik. Dia tidak keberatan berangkat menggunakan mobil. Tapi, SETIDAKNYA, gitu loh! Dari semua jenis mobil yang ada di dunia ini, kenapa harus MOBIL yang INI?!!
Setelah beberapa umpatan, kutukan, dan segala sesuatu yang membuat supirnya memasang sekat, akhirnya dia tiba di depan gerbang sekolah dengan selamat sentosa. Dalam hati dia berharap dia diculik beneran saking kesalnya. Dia turun dari mobil, meregangkan tubuhnya, merasa lega. Sekolah adalah tempat terbaik, jauh lebih baik dibanding penjara-yang-disebut-rumah itu.
Dia masuk ke dalam kelas yang masih terbilang sepi, berjalan menuju mejanya, melihat seorang gadis berambut cokelat duduk di bangku di depan bangkunya. Dia tersenyum. "Pagi, Seth." salamnya.
Seth Kaiba, teman baiknya sejak masih sekolah dasar. Gadis yang sangat dingin, tetapi Atem tahu bahwa dia sangat peduli padanya. Dia merupakan salah satu teman yang paling Atem percayai. Dan beruntungnya, Seth adalah pewaris Kaiba Corporation, dan sepupu jauhnya, jadi orangtua Atem tidak mengomel sana-sini.
Seth melirik dingin. "Kau datang pagi hari ini, sepupu."
Atem meringis. "Mimpi buruk." erangnya, kepala menyuruk di kedua lengannya yang terlipat di atas meja. "Sampai sekarang pun masih terbayang. Aku benar-benar berharap bisa menghapus adegan itu dari pikiranku." lanjutnya merinding.
Sebuah lengan mengapit lehernya, menariknya ke dada bidang di belakangnya. Atem menggerutu pelan sembari kedua tangannya mencengkeram lengan yang mengapitnya.
"Joey, sesak." gumamnya, sebelum menyikut pinggang orang di belakangnya.
Lelaki berambut pirang itu membungkuk, meringis memegangi pinggangnya yang sakit. "Pukulanmu tetap sakit, ya."
Joey Wheeler adalah teman baiknya juga, selain Seth. Atem belum lama mengenalnya, baru dua tahun, tetapi Joey benar-benar lelaki yang baik. Dan Atem sangat menyukai keceriannya.
Joey merangkul bahu gadis di sampingnya, cengiran lebar terlihat. "Aku dengar ada yang bermimpi buruk," godanya.
Kedua mata Atem tertutup, menyingkirkan lengan Joey dari bahunya. "Jangan ingatkan aku lagi, Joey. Mimpiku akhir-akhir ini benar-benar aneh." gerutunya, teringat kembali pada lelaki dalam mimpinya.
"Mimpi apa?" tanya Joey penasaran.
"Nggak bisa ingat jelas. Ada cowok yang mirip denganku muncul sekali-kali di dalam mimpiku."
Joey menatap takjub. "Hee...? Seseorang yang you kenal?"
Atem menggeleng. "Bukan, aku nggak pernah melihatnya sebelumnya. Dan tolong, jangan kambuh lagi dalam tata bahasamu, Joey."
"Sori, nggak sengaja." Joey menggaruk belakang kepalanya. Wajar saja, Joey baru pindah kemari dari Amerika dua tahun lalu, jadi cara bicaranya masih agak canggung.
"Mungkin itu semacam pertanda," kata Seth.
Atem menggerakkan bahu. "Entahlah."
Dia melihat Joey yang terlihat gelisah, sebelah alisnya terangkat. Apa dia melakukan sesuatu yang salah? Seth menyadari apa yang sepupunya lihat dan ikut menatap Joey.
"Apa?" tanya Joey, melihat Seth yang menatapnya.
Seth menggerakkan bahu, sebelum memfokuskan pandangannya menuju laptopnya. "Bukan apa-apa. Cuma aneh saja melihat orang bodoh kayak elo serius gitu."
Tatapan Joey menajam. "Teme..." geramnya.
Atem menghela nafas. Mereka mulai lagi... Apa mereka berdua tidak bosan begitu terus? Dia duduk di bangkunya, telunjuknya melonggarkan chokernya yang mengetat karena kepitan Joey tadi. Satu kancing seragam dia lepas. Apa nanti malam dia akan memimpikannya lagi? Dia sangat ingin bertemu dengan lelaki itu. Tapi, bagaimana kalau lelaki itu hanya ada dalam mimpinya saja? Pertanyaan demi pertanyaan muncul tanpa ada jawaban.
TBC...
A/N :
(Long silence)
Siiiiiiiiing....
Kaiba : (megap-megap, tatapan horor) (OoO)!! WHAT THE F*CKING HELL?!!!!!!!!!!
Atem&Kira : (ngakak terus sambil nunjuk Kaiba)
Author : (smirk)
Atem : (masih ngakak) Akhirnya ada yang satu kapal ma gw!! Syukur kepada Author!!
Author : (bows) Why, thank you.
Kaiba : (mencengkeram kerah Author. Ngamuk) Kau... kau...
Author : (stoic) Apa?
Kaiba : (menunduk geram) KENAPA GW JUGA DIJADIIN CEWEK!!!?
Author : (still stoic) Jangan menyalahkan saya. Salahkan author doujinshi "Millenium Kingdom" yang menggambarkanmu hampir seperti cewek. Saya jadi punya bayangan tentang bagaimana jika kau jadi cewek.
Kaiba : Tapi... tapi... (T_T)
Atem : (menepuk bahu Kaiba) Sudah... sudah... kita semua sama, kok. Pernah dijadiin cewek oleh Author.
Iblis Kira : (winner smirk) Gw kagak pernah, tuh.
Atem&Kaiba : (death glare at Kira)
Author : Di bawah ini adalah review dari anda.
###
To Messiah Hikari : Thank you for your review.
Author : Ya... femAtem lagi...
Atem : (sulk)
Author : Untuk fic uke-Atem... hm... saya tidak tahu kapan mempublishnya. Dan... untuk yang jadi semenya dia... kayaknya bakal si... Marik.
Atem : (menatap horor ke arah author) Kau... bercanda?
Author : (smirk) Yep.
Atem : (death glare) Candaan yang nggak lucu.
###
To ketsueki kira : Arigatou gozaimasu.
Author : Untuk "The Last Tears"... (sulk) Saya tidak tahu kapan update... saya tidak punya ide... ditambah lagi saya akhir-akhir ini tidak punya waktu...
Iblis Kira : Syukurin. Salah sendiri.
Author : (death glare)
Iblis Kira : (siul tanda pura-pura inosen)
###
To Death Angel : Terima kasih.
Author : Ah... ya... begitulah... maaf saya tidak bilang.
###
To Satia Vathi : Terima kasih banyak.
Kira, Atem, Kaiba : Wuoh... ternyata ada yang instingnya bagus!
Author : (nabok trio keparat) Tutup mulut. (menghadap pereview) Ah... saya akan melanjutkan fic ini karena syarat telah terpenuhi.
Kaiba : (menaikkan sebelah alis) Syarat?
Author : Dapat 5 review dan fic ini dilanjutkan. Tidak saya sangka akan mendapat lebih dari lima review. Jadi, saya akan melanjutkan fic ini.
Kaiba : (lupa kalau lagi marah) Hum...
###
To Ka Hime Shiseiten : Thank you.
Author : (mata lebar) Eh? Apa maksud anda? Saya memilih genre romance/horor, kok. (melihat daftar fic, terdiam) Ke-kenapa di sini ditulis humor?!
Trio keparat : Salah ngeklik, kali.
Author : Oh gee... (bows) Gomen...
###
To marianne vessalius : Sankyuu.
Author : (bows) Terima kasih telah menyetujui pendapat saya. (smirk at Atem)
Atem : (sulk with death glare) Kenapa semua orang suka bilang gw lebih pantes jadi cewek? GW INI COWOK TULEN, D*MN IT!!!!
Sisanya : (innocent face) Elo? Cowok tulen? Kayaknya gw salah denger.
Atem : (a very very very evil death glare)
(note : Kalau saja tatapan bisa membunuh...)
Iblis Kira : Hei, kapten. Dia mau minjem femAtem, tuh.
Atem : EMANG GW INI APA DIPINJEM-PINJEM!!? GW BUKAN BARANG!!
Author : (diam... tidak bergerak. Poni menutupi mata)
Trio keparat : (langsung mundur) Uh oh... Shin keluar...
Kaiba : (memasangkan wig rambut panjang dan mendorong Atem ke depan) Lu yang tangani.
Atem : Kenapa gw?!!
Kaiba&Kira : (sok polos) Karena Shin overprotective dan paling posesif ke versi ceweknya elo.
Atem : (glup)
Author (Shin): (melihat Atem, tersenyum) Ah... Atem-chan. Nggak gw sangka bisa ketemu elo di sini. (mendekati Atem, menengadahkan dagunya) Atem-chan yang manis... (mencium bibir Atem dengan keras dan passionate)
Kaiba&Kira : (Mata lebar, terkejut)
Atem : (membeku, terlalu syok untuk melakukan sesuatu)
###
Siiiiiiing....
Narator : (bows) Karena sesuatu, saya di sini menggantikan Author yang sedang sibuk. (sayup-sayup terdengar suara erangan, jeritan, dan berdebam dari balik pintu kamar sebelah. Kaiba dan Kira nosebleed sambil nguping di pintu) Ugh... not again... (menutup telinga) Maaf atas suara-suara mencurigakan ini. Sampai jumpa di chapter berikutnya. Dan please review if don't mind. Author sangat membutuhkan review anda.
...
....
.....
With... whatever you want,
#
Scarlet (Shin) Natsume.
