Disclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine. I'm sure you've known it.

Warning : Membosankan. FemAtem&Seth. Tidak nyambung. OOC.


JULY 2019

THE FIRST MEETING


"Yugi Mutou?" tanya seorang pria berambut pirang pada seorang lelaki remaja, dan menyeringai. Remaja itu hanya mengangguk. Pria pirang yang adalah guru itu terdiam sesaat sebelum menjerit dan melompat senang, seperti baru saja melihat sesuatu yang menarik. "Kau masuk ke kelasku," katanya, nyengir lebar.

'Great, I get this gay as an advisor. I'm so unlucky...' batin Yugi. Dia memutar bola matanya penuh perasaan sebal. 'Why did I come to this place anyway? Oh yeah, socializing. What a troublesome thing to do.'

"Ayo, Yugi-kun. Kelas akan dimulai segera," kata guru itu sambil mengedipkan sebelah mata kepada Yugi yang langsung merinding.

Bulu kuduk Yugi berdiri. 'This will be hell...' pikirnya, merinding.


"Atem! Bakalan ada murid baru!" seru teman sekelas Atem, Risa, dengan gembira.

"Dan dia benar-benar hot!!" tambah Misa, kembaran Risa.

Atem hanya menatap datar ke arah mereka. Here they go again... batin Atem, memutar bola matanya. Kegilaan anak kembar ini pada lelaki tak akan pernah berhenti. Hello? Memangnya kenapa kalau murid baru itu cakep atau tidak? Dia tidak peduli.

Pintu kelas terbuka, terlihat Reynard-sensei – atau Rai, begitulah para murid memanggilnya – masuk ke dalam dengan gembira, sepertinya moodnya sedang bagus, dia nyengir lebar. Atem memutar bola matanya lagi saat melihat pakaian yang dikenakan guru tersebut, baju ala bangsawan zaman dulu dengan renda dan berwarna serba putih. Memangnya sekarang ini zaman apa? Abad pertengahan?

Para siswi terkesiap ketika melihat seorang lelaki remaja berjalan di belakang Rai. Atem melirik sekilas murid baru yang berdiri di depan kelas itu, bertopang dagu. Memang benar apa yang dikatakan si kembar, lelaki itu punya tampang. Atem menaikkan sebelah alis. Bagaimana rambutnya bisa seperti songoku seperti itu? Memakai gel, kah? Warna rambutnya sama seperti dirinya. Tubuhnya tinggi dan proporsional. Warna kulitnya putih pucat, sangat pucat, apa anak itu tidak pernah kena sinar matahari? Dan juga matanya berwarna violet yang indah. Atem menutup kedua matanya, mendengus dan tersenyum sinis. Heh, mirip sekali dengan lelaki yang ada di mimpinya.

Tunggu...

Atem tersentak, dia langsung menoleh, mengamati lelaki yang berdiri di samping guru mereka, kedua matanya lebar. 'Apa maksudnya ini?!!' seru Atem dalam hati. Dia mengerjap, dan kembali melihat lelaki itu. Ternyata memang persis sekali dengan lelaki yang dia lihat di dalam mimpinya. Kedua matanya menatap tak percaya.

"Oke, anak-anak. Ini teman baru kalian, Yugi Mutou. Dia pindahan dari Transilvania. Perkenalkan dirimu, Yugi-kun."

Yugi melirik dingin ke arah Rai. "Tidak," jawabnya singkat, padat, dan sangat jelas. Membuat guru gokil itu jongkok di pojokan, cemberut.

"Yugi?" Sebuah suara menyadarkan Atem dari keterkejutannya. Gadis itu menoleh ke arah suara dan mendapati Joey terpaku menatap murid baru itu dengan tatapan tak percaya.

"Joey." gumam Yugi samar.

Kebingungan semakin melanda Atem. Joey mengenal lelaki itu?

"So, it's really you?" tanya Joey, tiba-tiba menggunakan bahasa inggris.

"Joey, why are you here?" Yugi menatap Joey tanpa ekspresi. Atem menaikkan sebelah alisnya, 'Dingin banget, sih, dia.' batinnya, tak senang.

"I should ask that to you!! Where have you been all this time?! I've been looking for you everywhere, but I never found you. "

"That's not your business, Joey."

"What do you mean-" ucapan Joey terpotong oleh suara tepukan tangan Rai. Rai tersenyum gembira, membuat Atem merinding.

"Ah... jadi kalian saling kenal, ya?" kata Rai. "Apa hubungan kalian?"

Yugi melirik dingin ke arah guru tersebut. "Bukan urusanmu, banci."

Rai cemberut mendengar hal itu. "Mou... jahat! Baiklah, tempat dudukmu di..." Dia melihat sekeliling. "Lho? Disebelah Joey sudah terisi, ya?"

"Ya. Dan kalau kau berani-beraninya memindahkanku jauh dari budakku, kau mati." ancam Seth, mengeluarkan tatapan dan aura dingin yang mematikan, yang langsung dibantah Joey. "Hei! Gw bukan budak elo!!" bentak Joey.

Melihat tatapan Seth, Rai langsung bersimpuh dan bersujud sebanyak 10 kali sambil mengatakan, "Ampun, Ratuku! Tolong jangan bunuh hamba!!" Air mata bercucuran seperti air terjun.

Semua murid di kelas sweatdrop.

Setelah beberapa tangisan, ancaman, dan permintaan ampun, akhirnya Rai berdiri. Senyuman kembali terlihat di wajahnya. "Ok, deh... kalau begitu Yugi-kun duduk di sebelah Atem-chan." Dia bertepuk tangan.

Mata Atem melebar, tubuhnya kaku. Tunggu! Disebelahnya?!! Tolong katakan kalau itu hanya bercanda!

Yugi berjalan ke arah gadis yang sedang dalam status syok itu, dan kemudian duduk di bangku sebelahnya, menghiraukan Atem. Lelaki itu melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya, pandangannya dingin menusuk, kebekuan terlihat di kedua mata violetnya.

Apa-apan cowok ini? Apa dia membencinya? Dia tidak melakukan apapun, kenapa lelaki itu sangat dingin padanya? Atem bertanya-tanya melihat tatapan Yugi. Dia kembali memperhatikan Rai yang mulai mengajar. Atem menutup kedua matanya, kesal. Ugh... perasaannya jadi tidak enak, lebih baik hiraukan saja lelaki aneh itu.

Waktu berlalu, Yugi masih tidak berbicara dengan siapa pun. Semakin lama Atem menjadi penasaran, dan juga semakin sebal. Dia menahan diri untuk tidak memukul meja dan melabrak anak baru itu.

Suara bel terdengar sangat indah di telinganya, bagai lonceng penyelamat yang berdentang. Dia menghela nafas lega, memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, dan berjalan menuju kelas berikutnya. Dia sedikit tidak suka sekolah yang memakai sistem Amerika ini, dimana para murid terus berpindah kelas. Sangat merepotkan. Dia lebih suka sekolah Jepang yang terus berada di satu kelas.

Kelas berikutnya adalah seni rupa, salah satu dari tiga pelajaran favoritnya. Dia duduk di bangkunya, dan langsung mengerang ketika melihat Yugi duduk di bangku sebelahnya. Kenapa cowok itu mendapat kelas yang sama, sih?!! Semakin lama dia semakin merinding bila berada di dekatnya, memberinya perasaan tidak enak.

Guru memberi tugas untuk menggambar sketsa seseorang, bisa dari dunia nyata maupun imajinasi. Atem menimbang-nimbang, memikirkan apa yang akan dia gambar ketika sekelebat ingatan terlintas di kepalanya. Ingatan tentang mimpi yang akhir-akhir ini menghantuinya. Mimpi di mana lelaki yang mirip Yugi itu berdiri di ujung tebing yang dingin, menatap bulan purnama yang menyinarinya.

Tangannya mulai bergerak, membuat goresan pensil di buku sketsanya. Garis demi garis dia goreskan dengan lembut, membentuk suatu pemandangan. Mata dan pikirannya terfokus pada gambarnya, yang kemudian selesai dalam waktu 40 menit.

Setelah gambarnya selesai, dia menyadari sesuatu, dan berkeringat dingin. Dia lupa kalau lelaki di mimpinya duduk tepat di sampingnya. Bagaimana jika lelaki itu melihatnya? Apa dia akan menganggapnya sebagai seorang stalker? Oh my God! Dia melirik ke samping dan helaan nafas keluar dari mulutnya ketika melihat Yugi terlalu larut dalam pekerjaannya.

Atem menaikkan sebelah alisnya. Apa yang dia gambar sampai terlihat serius begitu? Dia menempelkan telunjuknya di pipi. Ngintip sedikit nggak masalah, kan? Dia perlahan bergeser, mencoba mengintip gambar Yugi. Baru sekilas dia melihatnya, Yugi menutup buku sketsanya dan menatap dingin ke arahnya.

"Pikirkan urusanmu sendiri," kata Yugi, dingin.

Atem menelan ludah. 'Oh, shit! Aku kepergok!!' batinnya. Dia menundukkan kepala. "Maaf." gumamnya, berusaha menghindarkan pandangannya darinya. Dia memeluk buku sketsanya erat, tidak ingin seorang pun melihat gambarnya. Kalau lelaki di sampingnya sampai melihatnya, dia celaka. Gadis itu baru mau membuat gambar yang lain ketika guru mendekatinya.

"Bakura-san, apa kau sudah menyelesaikan gambarmu?" tanya guru perempuan itu, matanya tertuju pada buku sketsa yang dipeluk Atem.

Atem tersenyum gugup. "Ah... belum, sensei. Sedikit lagi." Dalam hati dia mengernyit. Seumur-umur dia tidak pernah hebat dalam berbohong, jadi dia ragu jika guru akan tertipu.

"Coba lihat gambarmu."

Siswi itu memegang buku sketsanya lebih erat. "Tolong jangan, sensei. Gambarnya jelek. Memalukan." Dia membuat alasan lain. Dalam hati dia berharap agar gurunya tidak melihat gambarnya.

"Jangan merendah, Bakura-san. Aku tahu kau punya kemampuan dalam menggambar." Dia mengambil buku sketsa dari pelukan Atem, dan membukanya. Atem menelan ludah pucat. Oh, gee... game over.

Guru itu mengamati gambar Atem dengan serius dan hati-hati, kebingungan terlihat sebelum ekspresinya menjadi cerah. "Ini luar biasa, Bakura-san. Terlihat nyata. Dari mana kau mendapat gambaran semacam ini?" Dia tersenyum lebar sembari menaruh buku sketsa itu di meja Atem.

Atem tersenyum, dia sangat senang bila ada orang yang menyukai gambarnya. "Dari mimpi." jawabnya enteng. Dan dia tersentak menyadari sesuatu. Gambarnya! Gawat, bukunya masih terbuka!! Dia baru mau menutupnya, ketika menyadari bahwa Yugi menatap gambarnya. Kedua mata lelaki itu melebar, terlihat... syok? Tidak, bukan itu. Lebih tepatnya terlihat marah. Langsung saja Atem menutup bukunya.

Guru mereka menoleh ke arah Yugi. "Mutou-san, coba kulihat gambarmu."

Yugi menyerahkan buku sketsanya, tatapannya masih tertuju pada gadis di sampingnya. Membuat Atem merinding takut.

Gadis itu melirik ke arah gambar Yugi. Dia langsung tertarik. Gambar itu terlihat begitu... indah. Guru pun terlihat kagum. Gambar seorang wanita berambut panjang berwarna hitam dengan sedikit warna merah di ujungnya, rambutnya bergoyang mengikuti aliran angin. Wanita di gambar itu memakai gaun berwarna putih seperti gaun pengantin, terlihat elegan. Dia berdiri di bawah pohon, beberapa kelopak bunga sakura menempel di cadarnya, bunga-bunga dan kupu-kupu terlihat mengelilinginya. Sayangnya Yugi menggambar wanita itu dari belakang, wajahnya tidak terlihat. Efek dedaunan dan kelopak bunga yang gugur diterpa angin membuat gambar ini semakin indah, begitu menyentuh. Ini gambar paling indah yang pernah Atem lihat.

"Ini benar-benar bagus, kau punya kemampuan, Mutou-san." Bel berbunyi ketika guru mengatakan itu. "Bagi yang belum selesai, kumpulkan besok." lanjutnya, sebelum meraih tasnya dan keluar dari kelas.

Yugi beranjak pergi meninggalkan kelas, yang kemudian disusul Joey di belakangnya. Entah mengapa perasaan bersalah dan gelisah menyelimuti hati Atem. Mungkin dia harus minta maaf padanya.

"Sepupu?" Sebuah suara menyadarkannya dari lamunannya. Atem menoleh, mendapati Seth menatap bingung ke arahnya.

"Ya, Seth?" tanya Atem polos.

"Mau ke kantin?"

Atem menggigit bibir bawahnya. "Duluan aja. Gw ada urusan. Sori!" teriak Atem sambil lari keluar kelas, meninggalkan Seth yang bingung.

Dia berlari mencari Yugi, gerakannya terhenti ketika melihat Yugi duduk sendiri di bawah pohon, membaca buku. Atem menarik nafas sebelum mendekatinya.

"Hei, Mutou-san." panggilnya ragu. Yugi menoleh ke arahnya, tatapannya dingin seakan mengatakan "Apa? Beri alasan yang bagus atau kau mati".

Atem membungkuk. "Maaf." Dia berusaha mengatakannya. Lanjut, Atem. "Seenaknya mengintip gambarmu. Aku tahu itu tidak sopan. Aku benar-benar minta maaf!"

Kesunyian menyeruak sesaat. "Nggak masalah." kata Yugi. Perasaan lega menyelimuti Atem. Jadi, dia tidak marah?

Atem menegakkan tubuhnya, sebelah alis terangkat. "Bukannya kau marah padaku?"

Lelaki itu terdiam menatap Atem, membuat gadis itu merasa tidak enak. Kenapa malah diam? Jangan-jangan memang marah.

"Oh, tentang gambarku itu..." lanjut Atem panik. "Bagaimana menjelaskannya, ya? Aku bukan stalker, lho." Dia menggaruk belakang kepalanya, gugup. "Seperti yang kukatakan sebelumnya pada sensei, itu gambaran dari mimpiku. Dan, uh... kebetulan saja lelaki itu mirip denganmu. Aku juga kaget waktu pertama kali melihatmu. Jadi, bukannya aku ini aneh atau apapun, lho! Aku tidak memata-mataimu jika kau berpikir begitu! Itu benar-benar kebetulan! Sumpah!" Keringat dingin mulai mengalir.

Suara kekehan terdengar, membuat Atem berhenti bicara. Dia melihat Yugi menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Atem menelengkan kepalanya bingung. Kenapa cowok ini malah ketawa? Apanya yang lucu?

"Kau aneh." kata Yugi tersenyum, dia berdiri dan beranjak pergi, meninggalkan Atem yang masih bingung.

TBC...

A/N : (Warning : Rated M. Please don't read it.)

Narator : (confetti dimana-mana) WELCOME TO REVIEW'S ROOM!!! (bows ala Kaito Kid) Greetings to you, Ladies and Gentleman!!

AH! AH! AH!! SHIN-SAMA, I CAN'T TAKE IT ANYMORE!! PLEASE!!

CTAS!!

SLAP!!

Tidak! Maaf saja, tapi lu udah ngebantah gw, you b*tch! Jadi, hukumannya...

AAAAAH!!! PLEASE, SHIN-SAMA!!

Jawab! Siapa tuanmu!!

AH! AH! AH!

SIAPA!!

AH!! SHIN-SAMA!! MY MASTER IS SHIN-SAMA!!

YEAH!!! I'M YOUR MASTER!! GIVE ME YOUR SCREAM, MY BEAUTIFUL B*TCH!!

AH! AH! AAAAH!! SHIN-SAMA!!!

Narator : (memasang alat kedap suara super) Yaelah... dari kemaren masih belum selesai aja. (tersenyum ke arah pembaca) Maaf, atas gangguannya. (bergumam kesal) Dasar siluman horny.

Kaiba&Kira : (berendam di kolam darah sendiri, nosebleed masih ngucur deres)

Narator : (melirik ke arah K kuadrat, bersungut-sungut) Kenapa, sih, gw dikelilingin orang-orang pervert? Menyebalkan. (Tersenyum ke arah readers) Baiklah, bagaimana jika kita hiraukan saja orang-orang mesum itu dan langsung ke review!

###

To ketsueki kira :

Narator : (bows) Terima kasih atas reviewnya. (membaca review, menaikkan sebelah alis) Busyet, dah!!

Iblis Kira : (menoleh dengan darah masih ngalir dari hidung) Apa?!

Narator : Nggak. Ini reviewnya, gila banget.

Iblis Kira : (mendekati Narator, membaca review) Anjrit!! Semua pertanyaannya bener-bener!!

Narator : Hm... untuk jawaban pertanyaannya... pertama, nanti juga kau tahu. Kedua, tidak tahu, tergantung mood Author. Ketiga, sama kayak yang pertama, nanti juga kau tahu. Keempat, itu spoiler. Kelima, tebak sendiri.

Iblis Kira : (tampang serius, gaya cool) Benar-benar nih orang. Yang ditanyain spoiler semua.

Narator : (melirik Kira) Cuci hidung loe dulu sebelum berlagak sok cool.

###

To Messiah Hikari :

Narator : (menjentikkan jari dan lima burung merpati keluar dari baju) Thank you very much!

Kaiba : (death glare) Jangan beraninya ketawa di atas penderitaan orang lain.

Narator : Lu juga suka tertawa di atas penderitaan orang lain. Lu gak berhak bilang gitu. (melempar handuk) Hapus dulu mimisan lu!

###

To Sweet lollipop :

Narator : (Kembang api muncul. Bows) Arigatou gozaimasu.

Kaiba : (death glare again) Gw nggak pervert, brengsek!!?

Narator : (Kalem) Terus, kenapa lu tetep ngupingin c Atem lagi diperkosa sama Shin? Udah gitu... (nunjuk laptop Kaiba) Kenapa lu ngeset kamera di dalem kamar itu?

Kaiba : (blushing hard. Speechless)

###

To marianne vessalius :

Narator : (bows) Terima kasih banyak. Dan maaf telah mengecewakan, tetapi sepertinya anda harus menunggu lebih lama untuk bisa meminjam FemAtem. Karena Atem-chan sedang diperkosa oleh kepribadian lain Author. Terima kasih.

Iblis Kira : Kalau nggak salah pereview yang ini umurnya lebih dari 20 tahun, kan?

Narator : Kalau nggak salah...

Kaiba : (di depan laptop) Menurut profilnya, dia berumur 21 tahun.

Narator : (menangguk. Menghadap Kira) Terus kenapa?

Iblis Kira : (menunjuk) Lalu, kenapa dia memanggil Author dengan sebutan "mbak"? Author, kan, di bawah 20 tahun.

Narator : (menampar mulut Kira)

Iblis Kira : (ngamuk) APA-APAAN, SIH, LU!!

Narator : (glare) Author memintaku untuk menghajar siapapun yang membocorkan informasi tentang dia tanpa seizinnya.

Iblis Kira : Kenapa lu tau-tau nurutin dia, hm?!!

Narator : Karena Author itu temen gw.

Kaiba : (melihat Narator diam-diam nyembunyiin segepok uang ke dalam baju bagian belakang. Sweatdrop) Udah disuap...

###

To Ka hime Shiseiten :

Narator : Thanx a lot. Dan ya, Author sengaja membuat chapternya tidak jelas. Dan ya juga, Atem 'tadinya' sangat 'berbunga-bunga' karena Kaiba jadi cewek.

Kaiba : HEI!!

###

To Death Angel :

Narator : Terima kasih, sayang. Dan (menunjuk marianne) Dia yang membuat Shin nongol.

###

To Satia Vathi :

Narator : Thanx, sobat. Sama, aku juga ngakak waktu ngeliat Kaiba-cewek. Kalau mau membayangkan Kaiba-cewek lebih jelas, coba anda membaca doujinshi scandalshipping "Millenium Kingdom". Author doujinshi itu membuat gambar Kaiba benar-benar seperti cewek. Atau kalau tidak, anda bisa memberitahu Author fb (jika punya) anda, dan author akan mentag gambar itu.

Iblis Kira : Gila... fb benar-benar merajai dunia.

Kaiba : Karena itu perusahaan gw sukses.

Narator&Kira : (terdiam menatap Kaiba. Sebelah alis terangkat)

###

To Dika the Reborned Kuriboh :

Narator : (melirik Kaiba) Lu mau ngebunuh siapa?

Kaiba : (memalingkan wajah) Bukan siapa-siapa.

Iblis Kira : (membaca review) Hei, dia tanya soal siapa yang jadi kakaknya Atem.

Narator : Yang jadi kakaknya Atem, ya… Kayaknya Ryo yang hikari… tapi nggak tau juga, sih. Terserah para pembaca.

Kaiba&Kira : (terdiam lama sebelum menggerakkan bahu)

###

Narator : (Bows) Terima kasih telah mau repot-repot membaca dan mereview fic Author yang tidak ada apa-apanya ini. Dan maaf karena Author tidak bisa menyambut anda, beliau sedang sibuk.

AH! AH!! AHAH!! MMM.... AH!! SHIN-SAMA!!!

OH YEAH!! KEEP GOING, BABY!!!

Narator : (urat mencuat) SIAPA YANG MEMATIKAN ALAT KEDAP SUARA!!! BAKAL GW CINCANG DIA!!! (ambil remot + nyalain alat kedap suara) Hh hh... dasar para orang bejat. (tersenyum) Please review if don't mind. Review anda sangat berarti bagi Author-berkepribadian-bejat itu.

...

....

.....

With a lot fiction scripts,

#

Narator.